PERTEMUAN I
PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP EVALUASI
PENDIDIKAN
A. Pengertian Evaluasi Pendidikan
Ada tiga istilah yang dalam
penggunaannya seringkali tumpang tindih (overlap), yaitu Penilaian, pengukuran
dan Evaluasi. Hal ini dapat dipahami karena ketiga istilah tersebut memiliki
saling keterkaitan.
1. Evaluasi
(evaluation)
-
Gronlund: Evaluasi adalah suatu
proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan, sampai
sejauhmana tujuan atau program telah tercapai.
-
Wrighstone dkk: Evaluasi
pendidikan adalah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah
tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan dalam kurikulum.
-
Ja’ali: Evaluasi adalah proses menilai sesuatu
berdasarkan kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan yang selanjutnya diikuti
dengan pengambilan keputusan atas obyek yang dievaluasi
2. Penilaian (Assessment) berarti menilai
sesuatu. Menilai itu sendiri berarti mengambil keputusan terhadap sesuatu
dengan mengacu pada ukuran tertentu, seperti menilai baik, atau buruk, sehat
atau sakit, pandai atau bodoh, tinggi atau rendah, dan sebagainya. Jadi proses
penilaian merupakan suatu tindakan untuk menentukan nilai suatu obyek dan dapat
dilakukan berdasarkan hasil pengukuran atau dapat dipengaruhi oleh hasil
pengukuran. Jadi dalam penilaian kriteria yang diberikan bersifat kualitatif.
3. Pengukuran (Measurement) adalah suatu
kegiatan yang dilakukan untuk mengukur dalam arti memberi angka terhadap
sesuatu obyek pengukuran. Jadi dalam pengukuran, kriteria yang diberikan
bersifat kuantitatif.
Berdasarkan penjelasan dari
ketiga istilah tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa di antara ketiganya
memiliki keterkaitan satu sama lain, di mana pengukuran dan penilaian
merupakan rangkaian dari kegiatan evaluasi, karena untuk dapat memutusakan
apakah proses belajar mengajar itu berhasil atau tidak, dibutuhkan data tentang
berapa persen siswa yang memperoleh nilai A, B, atau C, sedangkan nilai A, B,
atau C dapat diperoleh dengan melakukan kegiatan pengukuran berupa ulangan atau
tes.
PEBANDINGAN ANTARA PENGUKURAN,
PENILAIANDAN EVAUASI
|
|
Pengukuran
|
Penilaian
|
Evaluasi
|
|
Kriteria
|
85
|
Sangat baik
|
Lulus
|
|
Setelah kita mengadakan tes, maka akan menghasil data berapa orang
siswa yang mendapatkan angka 80-100, 68-79, 56—67, dst. Setelah itu kita
nilai berapa orang yang mendapatkan nilai A (sangat baik), B (baik), C
(cukup), atau D (kurang), kemudian kita bandingkan dengan target yang sudah
kita tetapkan tentang kriteria keberhasilan kita dalam megajar. Hasil
perbandingan itu menghasilkan satu kesimpulan yang memutuskan apakan kita
mengajar berhasil atau tidak, sehingga perlu diulang atau tidak dan mana ynag
harus diperbaiki untuk proses mengajar berikutnya (hasil evaluasi).
|
|||
Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan evaluasi
selalu mencakup kegiatan pengukuran dan penilaian, sedangkan dalam kegiatan
pengukuran belum tentu dilanjutkan sampai pada tingkat penilaian dan evaluasi.
Tetapi harus diingat bahwa kegiatan pengukuran tanpa dilanjutkan dengan
kegiatan evaluasi tidaklah berarti apa-apa, sedangkan evaluasi dilakukan tanpa
melalui proses pengukuran itu tidak akan valid dan reliabel (terpercaya).
Ada 3 aspek yang dapat disimpulkan
dari kegiatan evaluasi pendidikan:
1. Kegiatan evaluasi merupakan suatu proses yang sistematis. Ini berarti
bahwa evaluasi merupakan kegiatan yang terencana dan dilakukan secara
berkesinambungan dan terus menerus.
2. Dalam kegiatan evaluasi diperlukan informasi atau data yang menyangkut
obyek yang sedang di evaluasi, yaitu informasi data yang diperoleh dari
kegiatan pengukuran dan penilaian.
3. Setiap kegiatan evaluasi, khususnya evaluasi pengajaran tidak dapat
dilepaskan dari tujuan-tujuan pengajaran yang hendak dicapai, karena setiap
kegiatan evaluasi memerlukan kriteria tertentu sebagai acuan dalam menentukan
batas ketercapaian obyek yang dinilai.
B. Ruang Lingkup Evalusi Pendidikan
Ada 3 aspek yang menjadi
obyek evaluasi dalam pendidikan, yaitu:
1.
Input;
adalah bahan mentah yang dimasukan ke dalam transformasi. Bahan mentah yang
dimaksud adalah siswa yang baru akan memasuki sekolah, di mana segala sesuatu
yang berkaitan dengan keadaannya harus dinilai terlebih dahulu. Input
pendidikan bukanlah benda mati, tetapi manusia yang sudah memiliki potensi
dasar yang berbeda (heterogen).
2.
Transformator: mesin yang bertugas mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi, atau
merubah input menjadi output. Dalam hal ini, sekolah sebagai tempat merubah
anak didik (input) menjadi anak terdidik (output). Unsur-unsur yang
terdapat dalam transformasi adalah:
a.
Manusia
-
Guru
-
Kepala Sekolah
-
Staf administrasi dan kebersihan
b.
Non Manusia
-
Kurikulum
-
Metodologi pembelajaran dan
pendidikan
-
Sarana dan prasarana sekolah
-
Lingkungan sekolah
-
Kondisi alam
-
Sistem administrasi, dll yang
berpegaruh secara tidak langsung terhadap proses pembelajara dan pendidikan.
3.
Transformator: mesin yang bertugas mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi, atau
merubah input menjadi output. Dalam hal ini, sekolah sebagai tempat merubah
anak didik (input) menjadi anak terdidik (output). Unsur-unsur yang
terdapat dalam transformasi adalah:
a.
Manusia
-
Guru
-
Kepala Sekolah
-
Staf administrasi dan kebersihan
b.
Non Manusia
-
Kurikulum
-
Metodologi pembelajaran dan
pendidikan
-
Sarana dan prasarana sekolah
-
Lingkungan sekolah
-
Kondisi alam
-
Sistem administrasi, dll yang
berpegaruh secara tidak langsung terhadap proses pembelajara dan pendidikan.
PERTEMUAN II & III
FUNGSI DAN TUJUAN EVALUASI
PENDIDIKAN
A. Fungsi Evaluasi Pendidikan
1.
Alat untuk mengetahui tercapai
tidaknya tujuan instruksional, oleh karenanya maka alat penilaian (soal) harus
mengacu pada rumusan2 tujuan instruksional.
2. Sebagai umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar, baik untuk
siswa maupun untuk guru.
3. Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada pihak-pihak
yang berkepentingan, khususnya kepada orang tua siswa dan kepada pihak-pihak
lain sebagai stakeholders.
4. Bahan masukan bagi kegiatan bimbingan dan penyuluhan, sehingga dapat
dibuat diagnosis mengenai kelemahan2 dan kekuatan atau kemampuan siswa
5. Bahan masukan bagi pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang
bersangkutan.
B. Tujuan Evaluasi Pendidikan
adalah:
1. Mendeskripsikan kemampuan belajar siswa sehingga dapat diketahui
kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi yang ditempuhnya
2. Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah,
yaitu seberapa jauh efektivitasnya dalam mengubah tingkah laku siswa ke arah
tujuan pendidikan yang diharapkan.
3. Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yaitu melakukan perbaikan dan
penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta strategi
pelaksanaannya.
4.
Memberikan pertanggungjawaban dari
pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan, seperti orang tua,
masyarakat, pemerintah, dll.
CIRI-CIRI EVALUASI PENDIDIKAN
1. Evaluasi pendidikan dilakukan secara tidak langsung. Misalnya dalam
melakukan evaluasi terhadap hasil belajar, maka harus melalui tes yang mengukur
kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan sebagai gambaran tercapai tidaknya
tujuan; menilai intelegensi siswa dilakukan melalui tes IQ, dsb.
2. Evaluasi pendidikan berdasarkan pada data yang bersifat kuantitatif.
Misalnya untuk menentukan nilai A, B, C, D, atau E pada seorang siswa, maka
harus didasarkan pada skor yang diperoleh siswa dalam menjawab tes; untuk
memutuskan proses belajar mengajar berhasil atau tidak, maka harus didasarkan
pada data berapa persen siswa yang nilainya A, B, dsb.
3. Evaluasi pendidikan menggunakan unit-unit satuan tertentu. Misalnya
untuk menentukan nilai A, B, C, D, atau E, seorang guru harus membandingkan
dengan unit-unit satuan nilai yang menjadi standar mutlaknya. Misalnya: di
Attahiriyah untuk memberikan nilai A maka skornya antara 80-100=, nilai B
skornya 68-79, dan seterusnya.
4. Evaluasi pendidikan bersifat relatif. Tidak ada hasil evaluasi
pendidikan yang bersifat pasti, karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi
seseorang dalam menjawab tes, seperti kondisi fisik dan psikis siswa yang
berpengaruh terhadap kemampuan dia dalam menjawab pertanyaan, sehingga valuasi
ini tidak bisa dilakuka hanya satu kali.
5. Evaluasi pendidikan selalu memiliki kesalahan-kesalahan. Ada beberapa
sumber timbulnya kesalahan dalam evaluasi pendidikan, di antaranya:
a.
Dari alat evaluasi (soal).
Kesalahan yang bersumber dari alat evaluasi berkaitan dengan tingkat
validitasnya. Soal yang tidak valid (tidak sesuai dengan materi yang sudah
diajarkan) seringkali menyebabkan siswa memperoleh nilai rendah, begitupun
dengan soal yang terlalu mudah seringkali menyebabkan siswa memperoleh nilai
yang terlalu tinggi.
b. Dari guru yang bentuknya sebagai berikut:
1) Adanya unsur subyektivitas
2) Kesalahan menghitung skor total
3) Adanya hallo-effect (kesan guru terhadap siswa yang bersangkutan)
4) Adanya pengaruh dari nilai terdahulu
5) Adanya kebiasaan guru yang memberikan nilai terlalu pelit atau terlalu
murah
c.
Dari siswa yang bentuknya sebagai
berikut:
1) Baik buruknya kondisi fisik dan psikis
2) Baik buruknya nasib siswa waktu ujian berlangsung
d. Dari situasi dan kondisi
pelaksanaan evaluasi
1) Gaduh tidaknya suasana pelaksanaan tes
2) Ketat longgarnya pengawasan pelaksanaan tes
JENIS-JENIS EVALUASI PENDIDIKAN
A. Dilihat dari fungsinya, evaluasi terdiri dari:
1.
Evaluasi Formatif, yaitu evaluasi yang diadakan pada akhir proses pembelajaran untuk
melihat tingkat keberhasilan proses belajar mengajar, fungsinya untuk mengukur
sejauhmana tujuan yang sudah dirumuskan dapat tercapai oleh siswa (indikatornya
adalah sejauhmana kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh siswa dapat
dicapai setelah proses pembelajara selesai)
2.
Evaluasi Sumatif, yaitu evaluasi yang diadakan pada akhir unit program pendidikan,
yaitu akhir catur wulan, akhir semester, dan akhir tahun. Fungsinya untuk
mengevaluasi sejauhmana program yang sudah ditetapkan tercapai.
3.
Evaluasi Selektif, yaitu evaluasi yang diadakan untuk keperluan seleksi, seperti ujian
masuk ke lembaga pendidikan tertentu, ujian untuk memilih siswa yang memperoleh
beasiswa, dsb. Fungsinya agar dapat memilih siswa yang sesuai dengan kebutuhan.
4.
Evaluasi diagnostik, yaitu evaluasi yang dilakukan untuk melihat kelemahan-kelemahan siswa
serta faktor-faktor penyebabnya. Fungsinya agar dapat memberikan tindakan yang
tepat dengan permasalahan yag dihadapi oleh siswa
5.
Evaluasi penempatan, yaitu evaluasi yang dilakukan untuk mengetahu keterampilan prasyarat
yang dipelukan bagi suatu program belajar. Fungsinya agar dapat menempatkan
siswa pada satu program/jurusan yag sesuai dengan tingkat kemampuannya.
B. Dilihat dari prosedurnya:
1. Pretest, yaitu tes yang diberikan sebelum proses
pembelajaran dimulai dan bertujuan untuk mengetahui sampai sejauhmana
penguasaan siswa terhadap bahan pelajaran yang akan diajarkan.
2. Embedded test, yaitu tes yang diadakan di
sela-sela atau selama proses belajar mengajar berlangsung. Tujuannnya untuk
mengetahui sejauhmana materi yang sudah disampaikan dapat dipahami oleh siswa.
3. Post-test, yaitu tes yang diberikan pada
setiap akhir program satuan pelajaran atau setiap akhir proses belajar mengajar
berlangsung.
C. Dilihat dari alatnya:
1. Tes, yaitu alat evaluasi yang digunakan untuk
mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang
dimiliki oleh individu atau kelompok. Ada beberapa jenis tes ditinjau dari
berbagai aspek, seperti yang terlihat pada gambar di bawah.
2. Non-tes, yaiu alat evaluasi yang digunakan
untuk memperoleh data atau keterangan tentang siswa, baik sebagai hasil belajar
atau bukan. Jenis-jenis alat evaluasi non-test ini adalah: interview,
kuesioner, observasi, skala (penilaian atau sikap), studi kasus, sosiometri,
dan riwayat hidup.
PERTEMUAN V
PRINSIP-PRINSIP EVALUASI PENDIDIKAN
1. Obyektif. Penilaian harus didasarkan pada
kemampuan siswa secara apa adanya, tanpa ada unsur lain sebagai faktor dalam
penilaian. Untuk menurunkan tingkat subyektivitas dalam penilaian, maka soalnya
harus diusahakan agar tidak interpretatif atau debatabel
2. Komprehensif. Penilaian harus dilakukan secara
menyeluruh terhadap seluruh aspek siswa, oleh karena itu maka yang menjadi
obyek penilaian bukan hanya aspek kognitif, tetapi juga afektif dan
psikomotorik. Implikasinya adalah evaluasi harus dilakukan secara terus menerus
dengan alat evaluasi yang bervariasi.
3. Koherensif. Kegiatan penilaian harus memiliki
kesesuaian dengan seluruh unsur dalam proses pembelajaran. Implikasinya adalah
alat evaluasi yang disusun harus memiliki kesinambungan/kesesuaian dengan
unsur-unsur pembelajaran, seperti tujuan, materi, metode, dan media pengajaran
sebagaimana yang tergambar dalam silabus .
4. Kontinyuitas. Penilaian harus dilakukan secara
berkesinambungan. Implikasinya adalah bahwa evaluasi harus diadakan secara
sistematis dan terencana, bukan hanya diakhir proses pembelajaran atau akhir
program pendidikan, tetapi juga di awal bahkan di saat proses belajar mengajar
berlangsung.
5. Diskriminabel. Penilaian harus dapat
membedakan antara siswa yang bodoh dengan yang pintar. Implikasinya adalah
bahwa penilaian harus dilakukan secara obyektif.
6. Akuntabel. Penilaian harus dapat memberikan
pertanggungjawaban kepada pihak-pihak yang brekepentingan. Implikasinya adalah
bahwa penilaian harus dilakukan secara obyektif dan menyeluruh, sehingga nilai
yang diberikan suatu lembaga pendidikan dapat dirasakan sesuai dengan
kemampuannya di lapangan tempat kerja.
7. Valid. Penilaian harus mengguankan alat
evaluasi yang valid/sahih. Implikasinya bahwa soal yang diteskan harus teruji
kesahihannya dengan tujuan yang sudah ditetapkan.
8. Reliabel. Penilaian harus dapat menghasilkan
penilaian yang dapat dipercaya. Implikasinya adalah bahwa penilaian harus
dilakukan secara obyektif dan komprehensif.
PERTEMUAN VI
TIPE-TIPE KEMAMPUAN HASIL
BELAJAR KOGNITIF
Menurut Bloom, domain
kognitif terbagi ke dalam enam ranah yang saling berkaitan dan bersifat
hierarkis dari mulai tingkatan yang paling rendah sampai tingkatan yang paling
tinggi (sulit), yaitu:
1. Pengetahuan (knowledge). Untuk tingkat
pengetahuan, siswa hanya diminta untuk mampu mengenal, mengingat kembali, dan
menyebutkan kembali konsep yang telah diketahui, tanpa diminta untuk memahami
makna dari konsep tersebut. Knowledge ini merupakan tingkat kemampuan
kognitif yang paling rendah. Kata kerja yang digunakan di antaranya:
menyebutkan , mendefinisikan, mengingat, menggambarkan, menunjukkan, dsb.
2. Pemahaman (comprehension). Untuk
tingkat ini siswa diminta untuk mampu memahami makna suatu konsep tanpa harus
memahami hubungan di antara satu konsep dengan konsep lainnya. Kata kerja yang
digunakan di antaranya: menjelaskan, membedakan, menerjemahkan, menafsirkan,
dsb.
3. Penerapan (application). Untuk tingkat
ini siswa diminta untuk mampu menerapkan konsep, rumus, dalil, teori, dan
prinsip ke dalam kasus baru. Kata kerja yang digunakan, di antaranya:
menghitung, melakukan, mengerjakan, menyimpulkandsb.
4. Analisis (analysis). Untuk tingkat kemampuan
ini siswa diminta untuk mampu menguraikan materi ke dalam komponen-komponen
atau faktor-faktor penyebabnya dan mampu memahami hubungan di antara bagian
yang satu dengan bagian yang lainnya, sehingga struktur dan aturannya dapat
lebih dimengerti. Kata kerja yang digunakan di antaranya: mengklasifikan,
menggolongkan, menguraikan, dsb.
5. Sintesis (syntesis). Untuk tingkat kemampuan
ini siswa diminta untuk mampu memadukan konsep atau komponen-komponen, sehingga
membentuk suatu pola, struktur, atau bentuk yang baru, sehingga dibutuhkan
tingkah laku yang kreatif. Kata kerja yang digunakan di antaranya:
menyimpulkan, menyusun, dsb.
6. Evaluasi (evaluation). Untuk tingkat
kemampaun ini siswa diminta untuk mampu memberikan pertimbangan dan penilaian
terhadap suatu konsep untuk tujuan tertentu.
PERTEMUAN VII & VIII
ALAT-ALAT EVALUASI YANG BERSIFAT NON-TES
Hasil belajar tidak
hanya dinilai dengan alat evaluais yang bersifat tes, tetapi juga dinilai
dengan menggunakan alat-alat evaluasi yang bersifat non-tes, karena ruang
lingkup evaluasi hasil belajar bukan hanya menyangkut kemampuan kognitif,
tetapi juga kemampuan dalam aspek afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan
motorik). Selain itu, ruang lingkup evaluasi pendidikan juga menyangkut segala
sesuatu yang berkaitan dengan proses transformasi input menjadi output,
termasuk di dalamnya siswa dengan segala latar belakangnya, guru, kurikulum,
metode, sarana, sistem administrasi, dsb. Di antara alat non-tes yang biasanya
digunakan dalam evaluasi hasil belajar adalah:
1. Wawancara (interview). Wawancara
sebagai alat penilaian digunakan untuk mengetahui pendapat, aspirasi, harapan,
keinginan, keyakinan, persepsi, dsb. Ada tiga jenis wawancara yang bisa
digunakan, yaitu wawancara terstruktur/terpimpin, wawancara tidak
terstruktur/bebas, dan wawancara bebas terpimpin atau in dept interview.
Kelebihan wawancara
secara umum adalah bisa kontak langsung dengan siswa sehingga dapat diperoleh
jawaban secara mendalam, pertanyaan yang tidak jelas dapat diulang dan
dijelaskan lagi, dan jawaban yang tidak jelas juga dapat diminta untuk lebih
diarahkan lagi. Sedangkan kelemahannya adalah relatif sulit untuk dilaksanakan,
karena menuntut keterampilan tertentu, memakan banyak waktu dan tenaga.
Intervewer =
pewawancara
Interviwee =
Terwawancara
2. Angket atau kuesioner (questionare). Kuesioner
adalah instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data dari
responden secara tertulis. Penggunaan kuesioner dalam evaluasi pendidikan sama
fungsinya dengan interview, hanya bedanya jawaban yang diberikan dalam bentuk
tulisan, lebih praktis, hemat waktu, tenaga, dan biaya. Tetapi kelemahan
utamanya adalah jawaban sering tidak obyektif dan responden salah menangkap
pertanyaan.
Ada beberapa jenis
angket, dilihat dari orang yang menjawabnya: angket langsung dan tidak
langsung; dilihat dari cara menjawabnya: angket tertutup, angket
terbuka, dan angket semi terbuka.
3. Pengamatan (observation). Metode
penelitian yag dilakukan dengan cara mengamati obyek yang sedang diteliti. Observasi
ini banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu atau proses
terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang
sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Misalnya: tingkah laku siswa pada waktu
belajar, tingkah laku guru pada waktu mengajar, kegiatan diskusi siswa,
kemampuan siswa memperagakan suatu keterampilan, dsb.
Ada tiga jenis
observasi yang dapat digunakan, yaitu: observasi terstruktur/observasi
non-partisipatif, observasi tidak terstruktur/observasi partisipatif, observasi
eksperimen. Kelemahan dari penggunaan observasi ini tergantung kepada jenis
observasinya, tetapi yang paling dirasakan adalah memakan banyak waktu.
Observer = Pengamat
Observant = Yang diamati
PEDOMAN OBSERVASI
Nama
:
Kelas
:
Sikap yang Diobservasi : Aktivitas Belajar
|
NO
|
ASPEK YANG
DIOBSERVASI
|
HASIL PENGAMATAN
|
||
|
Sering
|
KD
|
TP
|
||
|
1
|
Mencatat penjelasan guru +
|
v
|
|
|
|
2
|
Menyimak dengan serius +
|
v
|
|
|
|
3
|
Mengajukan pertanyaan +
|
|
v
|
|
|
4
|
Memberikan tanggapan terhadap pendapat
kelas +
|
|
v
|
|
|
5
|
Mengobrol saat pelajaran berlangsung -
|
|
v
|
|
|
6
|
Tidur/mengantuk saat pelajaran berlangsung
-
|
|
v
|
|
|
7
|
Kluar masuk kelas -
|
|
|
v
|
|
8
|
Masuk tepat waktu +
|
|
v
|
|
|
9
|
Mengerjakan tugas tepat waktu +
|
|
|
v
|
|
10
|
Memainkan HP -
|
v
|
|
|
|
|
JUMLAH
|
7
|
10
|
4
|
|
|
|
21
|
||
NA = 21/30 *100=70
4. Skala, yaitu alat untuk mengukur nilai, sikap,
minat, perhatian, persepsi, dll. yang disusun dalam bentuk pernyataan untuk
dinilai oleh responden dan hasilnya dalam bentuk rentangan nilai sesuai dengan
kriteria yang ditentukan. Misalnya: skala sikap, skala frekuensi, skala
penilaian, dsb. Rentangan nilai ini bisa dalam bentuk huruf (A, B, C, D,) atau
angka (1, 2, 3, 4, 5), sedangkan rentangan kategori bisa dalam bentuk lima,
empat, atau tiga kategori, seperti: tinggi, sedang, rendah; baik, sedang,
buruk; selalu, sering, kadang-kadang, pernah, tidak pernah; Sangat setuju,
setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju, dsb.
|
NO
|
STATEMEN
|
OPTION
|
||||
|
SS
|
S
|
RR
|
TS
|
STS
|
||
|
1
|
Saya males belajar jika tidak ada ulangan
|
|
|
|
|
|
|
|
Saya mengerjakan tugas karena takut dihukum
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Saya bertanya kepada guru jika belum faham
|
|
|
|
|
|
5. Sosiometri, yaitu alat evaluasi yang digunakan
untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyesuaikan dirinya dengan
lingkungannya, terutama menyangkut hubungan sosial siswa dengan teman
sekelasnya. Dengan sosiometri dapat diketahui: siapa siswa yang paling disukai
(pavorit), siapa siswa yang terisolasi, siapa siswa yang membentuk mata rantai,
siapa siswa yang saling memilih. Dengan data ini, maka dapat bermanfaat untuk
pengelompokkan siswa, organisasi kelas, perlakuan guru terhadap siswa,
pemberian tugas kelompok, dsb. Cara penggunaannya dengan menugaskan anak untuk
menuliskan 2 atau 3 orang yang paling cocok untuk jadi ketua ketua kelas, ketua
kelompok, paling disukai, dsb.
|
STATEMENT
|
SS
|
S
|
RR
|
TS
|
STS
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1. Bagi perempuan tidak harus menggunakan mukena jika akan melaksanakan
shalat
|
|
|
|
|
|
|
2. Shalat dapat menyebabkan hidup saya menjadi lebih tenang
|
|
|
|
|
|
|
3. Saya tidak akan meninggalka shalat sekalipun harus dipecat dari
tempat kerja
|
|
|
|
|
|
|
4. Shalat boleh dijamak selama dalam perjalanan sekalipun jarak dekat
|
|
|
|
|
|
|
5. Shalat kadang-kedang menjadi beban jika kita sedang banyak pekerjaan
|
|
|
|
|
|
|
Saya tidak akan
meninggalkan shlat keculi jika ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan
|
|
|
|
|
|
|
NO
|
STATEMENT
|
OPTION
|
||||
|
SS
|
S
|
RR
|
TS
|
STS
|
||
|
1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
PERTEMUAN IX
TEKNIK EVALUASI YANG BERSIFAT
TES
Tes sebagai alat penilaian adalah pertanyaan-pertanyaan
yang diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk
lisan (tes lisa), bentuk tulisan (tes tulisan), dan dalam bentuk perbuatan (tes
perbuatan). Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar
siswa, terutama hasil belajar kognitif berkaitan dengan penguasaan bahan
pelajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Tetapi dalam batas
tertentu, tes juga dapat digunakan untuk mengukur atau menilai hasol belajar
dalam bidang afektif dan psikomotorik.
Ada dua jenis tes yang berkaitan dengan tes hasil belajar
kognitif, yaitu tes obyektif dan tes subyektif (essay). Tes obyektif
adalah jenis tes yang jawabannya sudah pasti sehingga siswa tinggal memilih
salah satu jawaban yang sudah disediakan atau mengisi jawaban yang sudah pasti.
Dengan demikian, tes ini menuntut jawaban yang pasti dan penialian yang pasti,
sehingga dinilai oleh siapapun akan menghasilkan nilai yang sama. Tes obyektif
terdiri dari lima bentuk, yaitu: benar-salah (true-false), pilihan ganda (multiple
choice), menjodohkan (matching test), melengkapi (fill-in/completion),
dan jawaban pendek (short answer). Sedang Tes subyektif adalah
jenis tes yang menuntut kemampuan siswa untuk mengorganisir dan merumuskan
jawabannya dengan menggunakan kata-kata sendiri. Dalam tes ini, siswa tidak
dituntut untuk menjawab sama dengan siswa lainnya, sehingga hal ini
memungkinkan guru untuk bersikap subyektif dalam menilainya. Tes subyektif
terdiri dari tiga bentuk, yaitu: Essay bebas, essay terbatas, dan
essay terstruktur.
Kelebihan (tes
obyektif):
1.
Refresentasi materi yang diteskan
lebih luas karena soal yang disusun lebih banyak
2.
Penilaiannya obyektif dan dapat
diwakilkan pada orang lain
3.
Pengoreksiannya lebih mudah
4.
Validitas dan reliabilitasnya
lebih tinggi
Kelemahan
(tes obyektif):
1.
Mendorong siswa untuk bersikap
spekulatif
2.
Memberi kesempatan pada siswa
untuk bekerjasama
3.
Kurang memberi kesempatan kepada
anak untuk mengemukakan pendapatnya
4. Penyusunan tesnya tidak mudah
Kelebihan (tes essay):
1.
Melatih siswa untuk berani
mengemukakan pendapat, mengeluarkan buah pikirannya, dan menyusun kalimat atau
bahasa dengan baik dan sistematis.
2.
Pembuatan soalnya relatif lebih
mudah
3.
Menorong siswa untuk belajar
sungguh-sungguh dan menutup kemungkinan bersikap spekulatif
Kelemahan
(yes essay):
1.
Refresentasi materi yang diteskan
sempit, karena soal essay biasanya terbatas
2.
Validitas dan reliabilitasnya
kurang
3. Penilaiannya sulit dan cenderung bersifat subyektif serta tidak dapat
diwakilkan pada orang lain.
Dengan melihat kelemahan dan kelebihan dari masing-masing tes tersebut,
maka dalam penggunaanya hendaklah disesuaikan dengan tujuan tes itu sendiri.
Jika tes bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menangkap materi
pelajaran secara mendalam, mengemukakan pendapat, melatih siswa menyusun
kalimat yang baik, maka tes essay lebih cocok digunakan; Sedangkan jika tes
bertujuan untuk mengetahui sejauh mana siswa menangkap dan memahami materi
pelajaran, maka tes obyektif lebih tepat.
Perbedaan Tes Obyektif dengan Tes
Subyektif
|
No.
|
Aspek perbedaan
|
Tes Obyektif
|
Tes
Subyektif/Essay
|
|
1.
|
Tujuan hasil belajar
|
Baik: pengetahuan,
pemahaman, penerapan, dan analisis
Tidak cocok: sisntesis dan evaluasi
|
Tidak efisien: pengetahuan
Baik: pemahaman,
penerapan, analisis
Sangat baik: sisntesis &
evaluasi
|
|
2.
|
Refresentasi isi materi/bahan
|
Refresentasi materi lebih luas, karena soal yang
disusun biasanya banyak
|
Refresentasi materi sempit, karena soal yang
disusun relatif terbatas/sedikit.
|
|
3.
|
Penyusunan soal
|
Relatif sulit dan memakan banyak waktu, karena
selain banyak jumlah itemnya, juga sulit dalam mencari optionnya
|
Relatif lebih mudah, walaupun untuk membuat soal
essay yang baik juga tidaklah mudah
|
|
4.
|
Pemberian skor (skoring)
|
Obyektif, sederhana & reliabilitasnya tinggi
|
Subyektif, sulit, dan reliabilitas rendah.
|
|
5.
|
Kemungkinan/ asumsi
|
Mendorong siswa untuk mengingat,
menginterpretasikan, dan manganalisis ide-ide orang lain
|
Menodorng siswa untuk mengorganisir dan
mengintegrasikan ide-idenya sendiri
|
PERTEMUAN X
TEKNIK PENYUSUNAN TES OBYEKTIF
A. Syarat-syarat Umum
1.
Setiap bentuk tes obyektif harus
didahului oleh penjelasan tentang cara mengerjakannya
2.
Penjelasan tersebut diusahakan
tidak terlalu panjang kalimatnya dan disesuaikan dengan jenjang sekolah dan
usia siswa
3.
Hindarkan pertanyaan yang
mempunyai lebih dari satu pengertian (interpretatif)
4.
Item tes tidak merupakan hasil
jiplakan langsung dari buku, karena hanya akan memaksa siswa untuk menghafal
bukan berpikir
5.
Jangan sampai item tes yang satu
mempermudah atau mempersulit item tes yang lain, terutama dalam soal true-false
dan multiple choice.
6.
Urutan jawaban tidak mengikuti
pola tertentu yang tetap, sehingga mudah ditebak oleh siswa
B. Syarat-syarat Khusus
1. Benar-Salah (True-False)
a. Hindarkan item yang dapat dinilai benar dan salah oleh siswa secara
subyektif
Contoh: Manusia
melaksanakan shalat karena ingin masuk surga.
b. Item tidak boleh mengandung kata-kata yang merupakan atau terlalu
menunjukkan jawabannya, misalnya dengan kata-kata: kadang2, selalu, dsb.
Contoh: Mesjid selalu
digunakan untuk tempat beribadah kepada Allah
c. Hindarkan statement yang mengandung kata-kata negatif, seperti
bukan atau tidak. Contoh: Zakat fitrah bukan zakat yang dikeluarkan pada bulan
ramadhan.
d. Hindarkan kalimat yang terlalu panjang atau majemuk yang meragukan.
Contoh: Zakat fitrah adalah zakat yang dikeluarkan pada bulan Ramadhan dengan
ukuran 2,5%.
2. Pilihan Ganda (Multiple Choice)
a. Statement harus jelas dan pastikan hanya ada
satu jawaban yang benar
b. Baik statement maupun option usahakan jangan merupakan
suatu kalimat yang terlau panjang (bisa dipilih apakah statemennya yang panjang
kalimatnya atau optionnya.
c. Hindarkan option yang
tidak ada sangkut pautnya satu sama lain (misalnya a. Ifrad,
b. Qiron, c. Tamattu’. d. badal e.
wada
d. Statement dan option harus memiliki keterkaitan,
artinya jika statemennya tentang haji, maka optionnya harus sekitar haji)
3.
Menjodohkan (Matching Tes)
a. Sangat baik digunakan untuk mengetes materi yang bersifat faktual,
seperti arti kata, tanggal, tahun, nama tokoh, dan istilah-istilah asing.
b. Seluruh soal harus homogen, agar masing-masing option memiliki
daya kecoh yang tinggi. Misalnya yang ditanyakan harus tentang nama semua,
tempat semua, tahun semua, dsb.
c. Jumlah soal jangan terlalu banyak, maksimal 10 item agar kehomogenan
soal bisa terjaga.
d. Perbandingan statemen dengan option maksimal 1:1,5,
artinya jika statemen-nya 10 maka option-nya maksimal 15 dan
minimal 12, untuk menghindari kemungkinan siswa jeblok nilainya.
4. Melengkapi (Completion/Fill-in)
a. Bahasa hendaknya jelas dan kalimatnya tidak terlalu panjang, sehingga
mudah dipahami
b. Kalimat yang dihilangkan jangan hanya menyangkut satu hal saja, tetapi
harus bervariasi, seperti tahun, nama, tempat, tanggal, dsb.
c. Materi yang diteskan menyangkut satu sub pokok bahasan tertentu, sehingga
anatara satu kalimat dengan kalimat lainnya merupakan rangkaian
d. Titik-titik tidak diletakkan di awal kalimat
e. Jawaban yang diminta maksimal dua kata
5. Jawaban Pendek (Short Answer)
a. Bahasa hendaknya jelas dan kalimatnya tidak terlalu panjang, sehingga
mudah dipahami
b. Materi yang diteskan bisa bervariasi, tidak hanya menyangkut satu pokok
bahasan saja
c. Titik-titik diletakan di akhir kalimat dan nomor item diletakan di
awal.
d. Jawaban yang diminta maksimal dua kata
PERTEMUAN XI & XII
JENIS-JENIS MULTIPLE
CHOICE
Dilihat dari bentuk dan
tingkat kesulitannya, ada beberapa jenis pilihan ganda (multiple choice), yaitu pilihan bentuk biasa, kasus, asosiasi,
sebab-akibat, gambar, grafik, bagan, dsb.
1. Pilihan Ganda Biasa
Jenis pilihan ganda ini biasanya digunakan
untuk mengukur kemampuan kognitif tingkat pengetahuan, pemahaman, dan evaluasi,
seperti contoh berikut ini:
1). Pengetahuan (knowledge)
Shalat sunat untuk
meminta petunjuk di antara dua pilihan disebut.....
Indikator: Siswa dapat
menyebutkan jenis-jenis shalat sunat
a. Shalat Tahajud c. Shalat Dhuha e. Shalat Istisqo
b. Shalat Hajat d.
Shalat Istikhoroh
Di bawah ini adalah
nabi-nabi yang mendapat gelar Ulul Azmi, KECUALI......
Idikator: Siswa
dapat menyebutkan nabi-nabi yang mendapat gelar ulul azmi
a. Nabi Ibrahim c.
Nabi Zakaria e. Nabi Musa
b. Nabi Isa d.
Nabi Muhammad
Salah satu nabi
yang tidak mendapat gelar Ulul azmi adalah.........
a. Nabi Ibrahim c.
Nabi Zakaria e. Nabi Musa
b. Nabi Isa d.
Nabi Muhammad
2). Pemahaman (comprehension)
Shalat Tahajud adalah.....
Indikator: Siswa dapat menjelaskan
jenis-jenis shalat sunat
a. Shalat sunat yang dilakukan untuk meminta petunjuk di antara dua
pilihan
b. Shalat sunat yang dilakukan pada waktu malam hari setelah tidur
c. Shalat sunat yang dilakukan untuk meminta hujan
d. Shalat sunat yang dilakukan untuk meminta rizki pada waktu pagi sampai
menjelang siang
e. Shalat sunat yang dilakukan pada waktu terjadi gerhana matahari atau
bulan
Arti dari ayat
tersebut adalah......
Indikator: siswa
dpat menerjemahkan ayat-ayat pendek
a. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana
b. Seungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang
c. Sesungguhya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal
d. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat
Menepuk air di dulang,
terpercik muka sendiri. Pribahasa ini artinya.....
a. Pengeluaran lebih besar dari pada pedapatan
b. Kesalahan orang meskipun kecil terlihat, sementara kesalahan sendiri
walaupun besar tidak kelihatan
c. Membuat keonaran tetapi yang terkena akibatnya diri sendri
3). Penilaian (evaluation)
Di antara keistimewaan yang paling utama
dari Al-Qur’an dibandingkan dengan kitab-kiab Allah lainnya adalah.....
a.
Nabi yang membawanya
b. Kelengkapan kandungan isinya
c. Tata bahasanya
d. Proses diturunkannya
e. Jumlah surat dan ayatnya
Penyebab yang paling utama sulitnya mengatasi banjir di Jakarta
adalah.....
a.
Membuang sampah sembarangan
b.
Berdirinya bangunan di area
resapan air
c.
Tingginya curah hujan
d.
Tidak lancaranya sisten drainase
e.
Tingginya curah hujan di Bogor
2. Pilihan Ganda Kasus
Jenis pilihan ganda ini
biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif tingkat penerapan (C3) dan
sintesis (C5), seperti contoh berikut ini:
a.
Penerapan (application)
Bila anda menemukan
jenazah seorang muslim yang hanya tinggal kepalanya saja karena dimutilasi,
maka yang harus dilakukan sebagai seorang muslim adalah.....
a. Langsung menguburkannya
b. Memandikan dan menguburkannya
c. Memandikan, mengkafani, dan menguburkannya
d. Memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkannya
Rubahlah kalimah isim menjadi kalimah fi’il
Apabila anda ingin mengikuti shalat dhuhur berjama’ah secara masbuk,
apa yang harus anda lakukan jika anda melihat orang sedang sujud pada rakaat
pertama
a.
Langsung mengikutinya kemudian
menambahkan 3 rakaat selanjutnya
b.
Menunggu sampai selesai sujud
kemudian mengikutinya dan menambhkan 4 raka’at
c.
Langsung mengikutinya kemudian
menambahkan 4 raka’at
d.
Menunggu sampai raka’at kedua
kemudian menambahkan 4 rakaat berikutnya
b. Sintesis (syntesis)
Seorang laki-laki meninggal
dengan ahli warits 2 orang anak laki-laki, 2 orang anak perempuan, ibu, bapak,
dan 2 orang istri. Bila harta warisannya 50 juta, maka bagian untuk 2 orang
anak perempuan adalah....
a. 8,33 juta b. 6,25 juta c.
4,515 juta d. 9,03 juta e. 10,5 juta
3. Pilihan Ganda Asosiasi
Jenis pilihan ganda ini biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan
kognitif tingkat analisis tetapi bisa juga untuk sistesis, seperti contoh
berikut ini:
Berilah tanda silang
pada salah satu option yang tepat!
A.
Jika (1), (2), dan (3) benar
B.
Jika (1) dan (3) benar
C.
Jika (2) dan (4) benar
D.
Jika nomor 4 saja yang benar
E.
Jika semuanya benar
1.
Termasuk kewajiban orang yang masih hidup terhadap harta orang yang meninggal
(1) Membayar zakat
(2)
Membayar hutang
(3)
Membayar wasiat
(4)
Membayar biaya tahlilan
2. Termasuk sebab-sebab orang tidak mendapatkan
warisan
(1) Hubungan darah
(2) Membunuh
(3) Hubungan pernikahan
(4) Pindah agama
3. Sebab-sebab yang dapat membatalkan puasa
(1)
Menggosok gigi di siang hari
(2)
Makan dengan sengaja di siang hari
(3)
Menggunakan obat tetes mata
(4)
Minum air dengan sengaja waktu
berwudhu
4. Termasuk cara-cara menghindari zina
(1)
Berpuasa
(2)
Berhijab
(3)
Tidak berpacaran
(4)
Membatasi teman
4. Pilihan Ganda Sebab-Akibat
Jenis
pilihan ganda biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif tingkat
analisis, seperti contoh berikut ini:
Berilah tanda silang pada salah satu option yang menurut anda tepat!
A.
Jika pernyataan benar, alasan
benar dan keduanya menunjukkan hubungan sebab-akibat
B.
Jika pernyataan benar, alasan
benar tetapi keduanya tidak menunjukkan hubungan sebab akibat
C.
Jika pernyataan benar, alasan
salah
D.
Jika pernyataan salah, alasan
benar
E.
Jika pernyataan maupun alasan
keduanya salah
- Meminum khamar hukumnya haram
SEBAB
Khamar adalah minuman yang dapat memabukkan
- Membunuh orang lain termasuk dosa besar
SEBAB
Hukuman qisas bagi orang yang membunuh dapat
diganti dengan diyat tergantung kesepakatan dengan ahli warisnya
Puasa hukumnya wajib bagi setiap muslim
SEBAB
Puasa merupakan salah satu rukun iman
Memakan
daging babi hukumnya haram
SEBAB
Daging babi mengandung cacing pita
5. Pilihan Ganda bentuk Gambar, grafik, bagan,
dsb
Jenis
pilihan ganda ini biasaya digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif tingkat
pengetahuan, pemahaman, analisis, dan sintesis. Bentuk pilihan ganda ini
biasanya digunakan pada mata pelajaran Fisika, Biologi, dan Geografi, sedangkan
untuk bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI), penggunaan pilihan ganda
bentuk ini sangat terbatas.
PERTEMUAN XIII
TEKNIK PENYUSUNAN TES ESSAY
Dengan adanya kelemahan
di samping kelebihan dari tes essay, maka ada beberapa petunjuk dalam
penyusunan tes essay, yaitu:
1.
Soal yang dirumuskan hendaklah menyangkut materi yang esensial dari setiap
pokok bahasan dan jika memungkinkan soal dirumuskan secara komprehensif.
Kriteria ini merupakan cara untuk menutupi
kelemahan essay yang sempit dari segi refresentasi materi pelajaran yang
disebabkan jumlah itemnya relatif terbatas.
Contoh: Apa yang dimaksud dengan zakat
fitrah, mengapa orang wajib mengeluarkan zakat fitrah, dan bagaimana cara
mengeluarkan zakat fitrah? Jelaskan!
2. Soal yang dirumuskan harus spesifik, sehingga
tergambar dengan jelas jawaban apa yang diharapkan oleh siswa.
Kriteria ini merupakan cara untuk menutupi
kelemahan essay yang sering menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami soal dan
sekaligus memudahkan guru dalam melakukan penilaian.
Contoh: Jelaskan perbedaan haji dan umroh
dari aspek rukunnya serta konsekuensi hukumnya.
3. Rumusan soal hendaklah menggunakan kata tanya
yang bervariasi sehingga dapat menggambarkan tingkat kognisi yang diukur.
Misalnya mengguankan kata apakah, mengapa, bagaimana, dsb
4. Setelah soal dirumuskan, buatlah pedoman
penilaiannya dan jika memungkinkan buatlah kunci jawabannya.
Kriteria ini merupakan cara untuk menutupi
kelemahan essay yang sulit dalam melakukan penilaian dan sering menimbulkan
penilaian yang subyektif.
5. Rumuskan soal yang jelas dan mudah dipahami,
sehingga tidak menimbulkan kebingungan dan mis-interpretasi bagi siswa.
6. Rumusan soal hendaklah mengacu pada kisi-kisi
soal, sehingga validitasnya dapat terjamin dengan tinggi.
PERTEMUAN XIV
TEKNIK PENYUSUNAN TES AFEKSI
DAN PSIKOMOTORIK
Untuk
mengukur kemampuan siswa dalam bidang afeksi, guru bisa menggunakan alat
evaluasi yang bersifat non tes, yaitu dengan skala sikap. Sedangkan untuk
mengukur kemampuan dalam bidang psikomotorik, evaluasi bisa dilakukan dengan
menggunakan tes perbuatan (performance test) yang dibantu dengan menggunakan
skala penilaian.
1. Evaluasi Afektif dengan skala sikap
Skala sikap adalah alat evaluasi yang
digunakan untuk mengukur sikap siswa terhadap obyek tertentu yang hasilnya
berupa kategori sikap: menolak (negatif), mendukung (positif), atau
netral. Sikap ini pada hakekatnya adalah
kecenderungan berperilaku pada seseorang atau reaksi seseorang terhadap suatu
stimulus yang datang pada dirinya.
Ada tiga komponen sikap, yaitu kognisi
yang berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang obyek tertentu; afeksi
yang berkenaan dengan perasaan senang/tidak senang dalam menanggapi obyek
tertentu; dan konasi yang berkenaan dengan kecenderungan berbuat atau
meninggalkan terhadap obyek tertentu.
Skala sikap dinyatakan dalam bentuk
pernyataan untuk dinilai oleh responden, apakah didukung atau ditolaknya
melalui rentangan nilai tertentu. Oleh karena itu, pernyataan yang diajukan
dibagi dalam dua kategori, yaitu pernyataan positif dan pernyataan negatif. Salah
satu skala sikap yang sering digunakan adalah skala model Likert yang menggunakan
lima kategori, yaitu Sangat Setuju, Setuju, Ragu-ragu, Tidak Setuju, dan Sangat
Tidak Setuju. Adapun skor yang diberikan terhadap lima kategori tersebut
tergantung pada kategori positif atau negatifnya, seperti yang terlihat pada
tabel
berikut ini:
|
Pernyataan Sikap
|
Sangat Setuju
|
Setuju
|
Ragu-ragu
|
Tidak Setuju
|
Sangat Tidak Setuju
|
|
Positif
|
5
|
4
|
3
|
2
|
1
|
|
Negaatif
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
Selain dengan skala model Likert di atas, skala sikap juga bisa
dilakukan dengan mengguankan skala Guttman, Thurstone, dan skala sikap pilihan
ganda. Contohnay dapat diliat pada buku Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan dari
Suharsimi Arikunto atau buku Pengukuran
dalam Pendidikan dari Prof. Dr. Djaali.
INSTRUMEN PENGUKUR SIKAP
Nama :.........................
Kelas : VB
Sikap Yang Dinilai : Sikap terhadap shalat
|
NO
|
STATEMENT
|
OPTION
|
||||
|
SS
|
S
|
RR
|
TS
|
STS
|
||
|
1
|
Menurut saya Jika akan
melaksanakan shalat, tidak harus menggunakan mukena bagi perempuan (kognisi
+)
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Shalat dapat
menyebabkan hidup saya menjadi lebih tenang (Afeksi +)
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Saya tidak akan
meninggalkan shalat sekalipun harus dipecat dari tempat kerja (Konasi +)
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Menurut saya shalat
boleh dijamak selama dalam perjalanan sekalipun jarak dekat (kognisi -)
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Shalat kadang-kedang
menjadi beban jika kita sedang banyak pekerjaan (Afeksi-)
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Saya tidak akan
meninggalkan shalat kecuali ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan (Konasi
-)
|
|
|
|
|
|
|
|
Saya lebih nyaman jika
shalat memakai peci dan sarung (Afeksi +)
|
|
|
|
|
|
|
|
Menurut saya, jika
shalat dalam perjalanan tidak harus menghadap kiblat (kognisi +)
|
|
|
|
|
|
|
|
Saya lebih baik
memutuskan pacar yang tidak shalat (konasi +)
|
|
|
|
|
|
|
|
Menurut saya makmum
yang masbuk tidak perlu menambahkan raka’at yang tertinggal (Kognisi -)
|
|
|
|
|
|
|
|
Shalat
|
|
|
|
|
|
|
|
SIKAP PUASA
|
|
|
|
|
|
|
1
|
Menurut saya puasa
dapat menyehatkan badan (Afeksi +)
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Puasa dapat menurunkan
konsentrasi belajar (afeksi -)
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Puasa wajib diqodho
bagi wanita yang tidak berpuasa karena haid (kognisi +)
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Berbohong dapat
membatalkan puasa (kognisi -)
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Saya akan meninggalkan
puasa jika sedang dalam perjalanan (Konasi -)
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Saya tidak akan
meninggalkan puasa sekalipun harus kehilangan pekerjaan
|
|
|
|
|
|
2.
Tes Psikomotorik (performance test)
Tes yang
digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam bidang keterampilan tertentu
adalah tes perbuatan yang dilakukan dengan cara menyuruh siswa untuk
memperagakan keterampilan tertentu satu persatu, kemudian guru memberikan
penilaian terhadap performance yang ditunjukkan oleh siswa.
Sebelum
tes perbuatan ini dilakukan, guru harus membuat dulu pedoman yang berisi
tentang aspek apa yang akan dinilai dari performance yang ditunjukkan oleh
siswa lengkap dengan rentang nilaianya, baik dengan menggunakan angka atau
huruf. Bidang keterampilan yang dapat diukur kemampuannya dalam bidang studi
PAI, di antaranya mencakup: kemampuan
melaksanakan shalat, wudhu, tayamum, mengurus jenazah, manasik haji, dan
membaca Al-Qur’an. Adapun pedoman yang harus dipersiapkan sebelum tes perbuatan
ini dilaksanakan, dapat dilihat pada contoh di bawah ini:
Nama Siswa :
Bidang studi : Pendidikan Agama Islam
Jenis Keterampilan: Wudhu
|
No.
|
ASPEK YANG DINILAI
|
PENILAIAN
|
|||
|
SS
|
S
|
KS
|
D
|
||
|
1.
|
Membasuh telapak tangan
|
V
|
|
|
|
|
2.
|
Berkumur
|
|
|
V
|
|
|
3.
|
Membasuh hidung
|
|
|
V
|
|
|
4
|
Membasuh muka
|
|
V
|
|
|
|
5
|
Membasuh tangan
|
|
V
|
|
|
|
6
|
Mengusap sebagian kepala
|
V
|
|
|
|
|
7
|
Membasuh telinga
|
|
|
V
|
|
|
8
|
Membasuh kaki
|
V
|
|
|
|
|
|
JUMLAH
|
12
|
6
|
6
|
0
|
|
|
SMI
|
32
|
|||
SS = Sangat Sempurna ekuivaleen dengan 4
S =
24/32 X4 = 3 (B)
NA= 3 (KOG) + 3 (PSIK)
+4 (AF)/10
NA= 3 (8) + 3 (8) + 4 (6)/10
NA = 24 + 24 + 24/10 =
72
Huruf
A, B, C, atau D di atas kemudian
diekuivalenkan pada nilai angka, misalnya:
A = 90,
B = 80,
C = 70
D = 60
Contoh-contoh berikutnya dapat dilihat pada buku Penilaian Hasil
Proses Belajar Mengajar dari Prof. Dr. Nana Sudjana
Mata Kuliah: EVALUASI PENDIDIKAN
Dosen:
DR. POPI PUADAH
PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM
ATTAHIRIYAH
TAHUN
2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar