Kamis, 14 Mei 2020

EVALUASI PENDIDIKAN


PERTEMUAN I
PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP EVALUASI PENDIDIKAN

A.  Pengertian Evaluasi Pendidikan
            Ada tiga istilah yang dalam penggunaannya seringkali tumpang tindih (overlap), yaitu Penilaian, pengukuran dan Evaluasi. Hal ini dapat dipahami karena ketiga istilah tersebut memiliki saling keterkaitan.
     1.  Evaluasi (evaluation)
-          Gronlund: Evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan, sampai sejauhmana tujuan atau program telah tercapai.  
-          Wrighstone dkk: Evaluasi pendidikan adalah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan dalam kurikulum.
-           Ja’ali: Evaluasi adalah proses menilai sesuatu berdasarkan kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan yang selanjutnya diikuti dengan pengambilan keputusan atas obyek yang dievaluasi
2.     Penilaian (Assessment) berarti menilai sesuatu. Menilai itu sendiri berarti mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan mengacu pada ukuran tertentu, seperti menilai baik, atau buruk, sehat atau sakit, pandai atau bodoh, tinggi atau rendah, dan sebagainya. Jadi proses penilaian merupakan suatu tindakan untuk menentukan nilai suatu obyek dan dapat dilakukan berdasarkan hasil pengukuran atau dapat dipengaruhi oleh hasil pengukuran. Jadi dalam penilaian kriteria yang diberikan bersifat kualitatif.
3.     Pengukuran (Measurement) adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengukur dalam arti memberi angka terhadap sesuatu obyek pengukuran. Jadi dalam pengukuran, kriteria yang diberikan bersifat kuantitatif.
  Berdasarkan penjelasan dari ketiga istilah tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa di antara ketiganya memiliki keterkaitan satu sama lain, di mana pengukuran dan penilaian merupakan rangkaian dari kegiatan evaluasi, karena untuk dapat memutusakan apakah proses belajar mengajar itu berhasil atau tidak, dibutuhkan data tentang berapa persen siswa yang memperoleh nilai A, B, atau C, sedangkan nilai A, B, atau C dapat diperoleh dengan melakukan kegiatan pengukuran berupa ulangan atau tes.
PEBANDINGAN ANTARA PENGUKURAN, PENILAIANDAN EVAUASI

Pengukuran
Penilaian
Evaluasi
Kriteria
85
Sangat baik
Lulus
Setelah kita mengadakan tes, maka akan menghasil data berapa orang siswa yang mendapatkan angka 80-100, 68-79, 56—67, dst. Setelah itu kita nilai berapa orang yang mendapatkan nilai A (sangat baik), B (baik), C (cukup), atau D (kurang), kemudian kita bandingkan dengan target yang sudah kita tetapkan tentang kriteria keberhasilan kita dalam megajar. Hasil perbandingan itu menghasilkan satu kesimpulan yang memutuskan apakan kita mengajar berhasil atau tidak, sehingga perlu diulang atau tidak dan mana ynag harus diperbaiki untuk proses mengajar berikutnya (hasil evaluasi).
  
Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan evaluasi selalu mencakup kegiatan pengukuran dan penilaian, sedangkan dalam kegiatan pengukuran belum tentu dilanjutkan sampai pada tingkat penilaian dan evaluasi. Tetapi harus diingat bahwa kegiatan pengukuran tanpa dilanjutkan dengan kegiatan evaluasi tidaklah berarti apa-apa, sedangkan evaluasi dilakukan tanpa melalui proses pengukuran itu tidak akan valid dan reliabel (terpercaya).   
Ada 3 aspek yang dapat disimpulkan dari kegiatan evaluasi pendidikan:
1.    Kegiatan evaluasi merupakan suatu proses yang sistematis. Ini berarti bahwa evaluasi merupakan kegiatan yang terencana dan dilakukan secara berkesinambungan dan terus menerus.
2.    Dalam kegiatan evaluasi diperlukan informasi atau data yang menyangkut obyek yang sedang di evaluasi, yaitu informasi data yang diperoleh dari kegiatan pengukuran dan penilaian.
3.    Setiap kegiatan evaluasi, khususnya evaluasi pengajaran tidak dapat dilepaskan dari tujuan-tujuan pengajaran yang hendak dicapai, karena setiap kegiatan evaluasi memerlukan kriteria tertentu sebagai acuan dalam menentukan batas ketercapaian obyek yang dinilai.

B.  Ruang Lingkup Evalusi Pendidikan
      Ada 3 aspek yang menjadi obyek evaluasi dalam pendidikan, yaitu:
1.    Input; adalah bahan mentah yang dimasukan ke dalam transformasi. Bahan mentah yang dimaksud adalah siswa yang baru akan memasuki sekolah, di mana segala sesuatu yang berkaitan dengan keadaannya harus dinilai terlebih dahulu. Input pendidikan bukanlah benda mati, tetapi manusia yang sudah memiliki potensi dasar yang berbeda (heterogen).
2.    Transformator: mesin yang bertugas mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi, atau merubah input menjadi output. Dalam hal ini, sekolah sebagai tempat merubah anak didik (input) menjadi anak terdidik (output). Unsur-unsur yang terdapat dalam transformasi adalah:
a.   Manusia
-          Guru
-          Kepala Sekolah
-          Staf administrasi dan kebersihan
b.  Non Manusia
-          Kurikulum
-          Metodologi pembelajaran dan pendidikan
-          Sarana dan prasarana sekolah
-          Lingkungan sekolah
-          Kondisi alam
-          Sistem administrasi, dll yang berpegaruh secara tidak langsung terhadap proses pembelajara dan pendidikan.
3.    Transformator: mesin yang bertugas mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi, atau merubah input menjadi output. Dalam hal ini, sekolah sebagai tempat merubah anak didik (input) menjadi anak terdidik (output). Unsur-unsur yang terdapat dalam transformasi adalah:
a.   Manusia
-          Guru
-          Kepala Sekolah
-          Staf administrasi dan kebersihan
b.  Non Manusia
-          Kurikulum
-          Metodologi pembelajaran dan pendidikan
-          Sarana dan prasarana sekolah
-          Lingkungan sekolah
-          Kondisi alam
-          Sistem administrasi, dll yang berpegaruh secara tidak langsung terhadap proses pembelajara dan pendidikan.




PERTEMUAN II & III
FUNGSI DAN TUJUAN EVALUASI PENDIDIKAN

A. Fungsi Evaluasi Pendidikan    
1.    Alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional, oleh karenanya maka alat penilaian (soal) harus mengacu pada rumusan2 tujuan instruksional.
2.    Sebagai umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar, baik untuk siswa maupun untuk guru.
3.    Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada pihak-pihak yang berkepentingan, khususnya kepada orang tua siswa dan kepada pihak-pihak lain sebagai stakeholders. 
4.    Bahan masukan bagi kegiatan bimbingan dan penyuluhan, sehingga dapat dibuat diagnosis mengenai kelemahan2 dan kekuatan atau kemampuan siswa
5.    Bahan masukan bagi pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan.     
B. Tujuan Evaluasi Pendidikan adalah:
1.    Mendeskripsikan kemampuan belajar siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi yang ditempuhnya
2.    Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah, yaitu seberapa jauh efektivitasnya dalam mengubah tingkah laku siswa ke arah tujuan pendidikan yang diharapkan.
3.    Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yaitu melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta strategi pelaksanaannya.
4.    Memberikan pertanggungjawaban dari pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan, seperti orang tua, masyarakat, pemerintah, dll.

CIRI-CIRI EVALUASI PENDIDIKAN
1.    Evaluasi pendidikan dilakukan secara tidak langsung. Misalnya dalam melakukan evaluasi terhadap hasil belajar, maka harus melalui tes yang mengukur kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan sebagai gambaran tercapai tidaknya tujuan; menilai intelegensi siswa dilakukan melalui tes IQ, dsb.
2.    Evaluasi pendidikan berdasarkan pada data yang bersifat kuantitatif. Misalnya untuk menentukan nilai A, B, C, D, atau E pada seorang siswa, maka harus didasarkan pada skor yang diperoleh siswa dalam menjawab tes; untuk memutuskan proses belajar mengajar berhasil atau tidak, maka harus didasarkan pada data berapa persen siswa yang nilainya A, B, dsb.
3.    Evaluasi pendidikan menggunakan unit-unit satuan tertentu. Misalnya untuk menentukan nilai A, B, C, D, atau E, seorang guru harus membandingkan dengan unit-unit satuan nilai yang menjadi standar mutlaknya. Misalnya: di Attahiriyah untuk memberikan nilai A maka skornya antara 80-100=, nilai B skornya 68-79, dan seterusnya.
4.    Evaluasi pendidikan bersifat relatif. Tidak ada hasil evaluasi pendidikan yang bersifat pasti, karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang dalam menjawab tes, seperti kondisi fisik dan psikis siswa yang berpengaruh terhadap kemampuan dia dalam menjawab pertanyaan, sehingga valuasi ini tidak bisa dilakuka hanya satu kali. 
5.    Evaluasi pendidikan selalu memiliki kesalahan-kesalahan. Ada beberapa sumber timbulnya kesalahan dalam evaluasi pendidikan, di antaranya:
a.    Dari alat evaluasi (soal). Kesalahan yang bersumber dari alat evaluasi berkaitan dengan tingkat validitasnya. Soal yang tidak valid (tidak sesuai dengan materi yang sudah diajarkan) seringkali menyebabkan siswa memperoleh nilai rendah, begitupun dengan soal yang terlalu mudah seringkali menyebabkan siswa memperoleh nilai yang terlalu tinggi.
b.    Dari guru yang bentuknya sebagai berikut:
1)  Adanya unsur subyektivitas
2)  Kesalahan menghitung skor total
3)  Adanya hallo-effect (kesan guru terhadap siswa yang bersangkutan)
4)  Adanya pengaruh dari nilai terdahulu
5)  Adanya kebiasaan guru yang memberikan nilai terlalu pelit atau terlalu murah
c.                     Dari siswa yang bentuknya sebagai berikut:
1)  Baik buruknya kondisi fisik dan psikis
2)  Baik buruknya nasib siswa waktu ujian berlangsung
d.  Dari situasi dan kondisi pelaksanaan evaluasi
1)  Gaduh tidaknya suasana pelaksanaan tes  
2)  Ketat longgarnya pengawasan pelaksanaan tes 

JENIS-JENIS EVALUASI PENDIDIKAN
A.     Dilihat dari fungsinya, evaluasi terdiri dari:         
1.   Evaluasi Formatif, yaitu evaluasi yang diadakan pada akhir proses pembelajaran untuk melihat tingkat keberhasilan proses belajar mengajar, fungsinya untuk mengukur sejauhmana tujuan yang sudah dirumuskan dapat tercapai oleh siswa (indikatornya adalah sejauhmana kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh siswa dapat dicapai setelah proses pembelajara selesai)
2.   Evaluasi Sumatif, yaitu evaluasi yang diadakan pada akhir unit program pendidikan, yaitu akhir catur wulan, akhir semester, dan akhir tahun. Fungsinya untuk mengevaluasi sejauhmana program yang sudah ditetapkan tercapai.
3.   Evaluasi Selektif, yaitu evaluasi yang diadakan untuk keperluan seleksi, seperti ujian masuk ke lembaga pendidikan tertentu, ujian untuk memilih siswa yang memperoleh beasiswa, dsb. Fungsinya agar dapat memilih siswa yang sesuai dengan kebutuhan.
4.   Evaluasi diagnostik, yaitu evaluasi yang dilakukan untuk melihat kelemahan-kelemahan siswa serta faktor-faktor penyebabnya. Fungsinya agar dapat memberikan tindakan yang tepat dengan permasalahan yag dihadapi oleh siswa
5.   Evaluasi penempatan, yaitu evaluasi yang dilakukan untuk mengetahu keterampilan prasyarat yang dipelukan bagi suatu program belajar. Fungsinya agar dapat menempatkan siswa pada satu program/jurusan yag sesuai dengan tingkat kemampuannya.
B.     Dilihat dari prosedurnya:
1.   Pretest, yaitu tes yang diberikan sebelum proses pembelajaran dimulai dan bertujuan untuk mengetahui sampai sejauhmana penguasaan siswa terhadap bahan pelajaran yang akan diajarkan.
2.   Embedded test, yaitu tes yang diadakan di sela-sela atau selama proses belajar mengajar berlangsung. Tujuannnya untuk mengetahui sejauhmana materi yang sudah disampaikan dapat dipahami oleh siswa.
3.   Post-test, yaitu tes yang diberikan pada setiap akhir program satuan pelajaran atau setiap akhir proses belajar mengajar berlangsung. 
C.     Dilihat dari alatnya:
1.   Tes, yaitu alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Ada beberapa jenis tes ditinjau dari berbagai aspek, seperti yang terlihat pada gambar di bawah.
2.   Non-tes, yaiu alat evaluasi yang digunakan untuk memperoleh data atau keterangan tentang siswa, baik sebagai hasil belajar atau bukan. Jenis-jenis alat evaluasi non-test ini adalah: interview, kuesioner, observasi, skala (penilaian atau sikap), studi kasus, sosiometri, dan riwayat hidup. 




PERTEMUAN V
PRINSIP-PRINSIP EVALUASI PENDIDIKAN

1.    Obyektif. Penilaian harus didasarkan pada kemampuan siswa secara apa adanya, tanpa ada unsur lain sebagai faktor dalam penilaian. Untuk menurunkan tingkat subyektivitas dalam penilaian, maka soalnya harus diusahakan agar tidak interpretatif atau debatabel
2.    Komprehensif. Penilaian harus dilakukan secara menyeluruh terhadap seluruh aspek siswa, oleh karena itu maka yang menjadi obyek penilaian bukan hanya aspek kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik. Implikasinya adalah evaluasi harus dilakukan secara terus menerus dengan alat evaluasi yang bervariasi.
3.    Koherensif. Kegiatan penilaian harus memiliki kesesuaian dengan seluruh unsur dalam proses pembelajaran. Implikasinya adalah alat evaluasi yang disusun harus memiliki kesinambungan/kesesuaian dengan unsur-unsur pembelajaran, seperti tujuan, materi, metode, dan media pengajaran sebagaimana yang tergambar dalam silabus . 
4.    Kontinyuitas. Penilaian harus dilakukan secara berkesinambungan. Implikasinya adalah bahwa evaluasi harus diadakan secara sistematis dan terencana, bukan hanya diakhir proses pembelajaran atau akhir program pendidikan, tetapi juga di awal bahkan di saat proses belajar mengajar berlangsung.
5.    Diskriminabel. Penilaian harus dapat membedakan antara siswa yang bodoh dengan yang pintar. Implikasinya adalah bahwa penilaian harus dilakukan secara obyektif.
6.    Akuntabel. Penilaian harus dapat memberikan pertanggungjawaban kepada pihak-pihak yang brekepentingan. Implikasinya adalah bahwa penilaian harus dilakukan secara obyektif dan menyeluruh, sehingga nilai yang diberikan suatu lembaga pendidikan dapat dirasakan sesuai dengan kemampuannya di lapangan tempat kerja.
7.    Valid. Penilaian harus mengguankan alat evaluasi yang valid/sahih. Implikasinya bahwa soal yang diteskan harus teruji kesahihannya dengan tujuan yang sudah ditetapkan.
8.    Reliabel. Penilaian harus dapat menghasilkan penilaian yang dapat dipercaya. Implikasinya adalah bahwa penilaian harus dilakukan secara obyektif dan komprehensif.      




PERTEMUAN VI
TIPE-TIPE KEMAMPUAN HASIL BELAJAR KOGNITIF

Menurut Bloom, domain kognitif terbagi ke dalam enam ranah yang saling berkaitan dan bersifat hierarkis dari mulai tingkatan yang paling rendah sampai tingkatan yang paling tinggi (sulit), yaitu:
1.    Pengetahuan (knowledge). Untuk tingkat pengetahuan, siswa hanya diminta untuk mampu mengenal, mengingat kembali, dan menyebutkan kembali konsep yang telah diketahui, tanpa diminta untuk memahami makna dari konsep tersebut. Knowledge ini merupakan tingkat kemampuan kognitif yang paling rendah. Kata kerja yang digunakan di antaranya: menyebutkan , mendefinisikan, mengingat, menggambarkan, menunjukkan, dsb.
2.    Pemahaman (comprehension). Untuk tingkat ini siswa diminta untuk mampu memahami makna suatu konsep tanpa harus memahami hubungan di antara satu konsep dengan konsep lainnya. Kata kerja yang digunakan di antaranya: menjelaskan, membedakan, menerjemahkan, menafsirkan, dsb.
3.    Penerapan (application). Untuk tingkat ini siswa diminta untuk mampu menerapkan konsep, rumus, dalil, teori, dan prinsip ke dalam kasus baru. Kata kerja yang digunakan, di antaranya: menghitung, melakukan, mengerjakan, menyimpulkandsb.
4.    Analisis (analysis). Untuk tingkat kemampuan ini siswa diminta untuk mampu menguraikan materi ke dalam komponen-komponen atau faktor-faktor penyebabnya dan mampu memahami hubungan di antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya, sehingga struktur dan aturannya dapat lebih dimengerti. Kata kerja yang digunakan di antaranya: mengklasifikan, menggolongkan, menguraikan, dsb.
5.    Sintesis (syntesis). Untuk tingkat kemampuan ini siswa diminta untuk mampu memadukan konsep atau komponen-komponen, sehingga membentuk suatu pola, struktur, atau bentuk yang baru, sehingga dibutuhkan tingkah laku yang kreatif. Kata kerja yang digunakan di antaranya: menyimpulkan, menyusun, dsb.
6.    Evaluasi (evaluation). Untuk tingkat kemampaun ini siswa diminta untuk mampu memberikan pertimbangan dan penilaian terhadap suatu konsep untuk tujuan tertentu.    





PERTEMUAN VII & VIII
ALAT-ALAT EVALUASI YANG BERSIFAT NON-TES

          Hasil belajar tidak hanya dinilai dengan alat evaluais yang bersifat tes, tetapi juga dinilai dengan menggunakan alat-alat evaluasi yang bersifat non-tes, karena ruang lingkup evaluasi hasil belajar bukan hanya menyangkut kemampuan kognitif, tetapi juga kemampuan dalam aspek afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan motorik). Selain itu, ruang lingkup evaluasi pendidikan juga menyangkut segala sesuatu yang berkaitan dengan proses transformasi input menjadi output, termasuk di dalamnya siswa dengan segala latar belakangnya, guru, kurikulum, metode, sarana, sistem administrasi, dsb. Di antara alat non-tes yang biasanya digunakan dalam evaluasi hasil belajar adalah:
1.    Wawancara (interview). Wawancara sebagai alat penilaian digunakan untuk mengetahui pendapat, aspirasi, harapan, keinginan, keyakinan, persepsi, dsb. Ada tiga jenis wawancara yang bisa digunakan, yaitu wawancara terstruktur/terpimpin, wawancara tidak terstruktur/bebas, dan wawancara bebas terpimpin atau in dept interview.
Kelebihan wawancara secara umum adalah bisa kontak langsung dengan siswa sehingga dapat diperoleh jawaban secara mendalam, pertanyaan yang tidak jelas dapat diulang dan dijelaskan lagi, dan jawaban yang tidak jelas juga dapat diminta untuk lebih diarahkan lagi. Sedangkan kelemahannya adalah relatif sulit untuk dilaksanakan, karena menuntut keterampilan tertentu, memakan banyak waktu dan tenaga.  
Intervewer = pewawancara
Interviwee = Terwawancara
2.    Angket atau kuesioner (questionare). Kuesioner adalah instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data dari responden secara tertulis. Penggunaan kuesioner dalam evaluasi pendidikan sama fungsinya dengan interview, hanya bedanya jawaban yang diberikan dalam bentuk tulisan, lebih praktis, hemat waktu, tenaga, dan biaya. Tetapi kelemahan utamanya adalah jawaban sering tidak obyektif dan responden salah menangkap pertanyaan.
Ada beberapa jenis angket, dilihat dari orang yang menjawabnya: angket langsung dan tidak langsung; dilihat dari cara menjawabnya: angket tertutup, angket terbuka, dan angket semi terbuka.  
3.    Pengamatan (observation). Metode penelitian yag dilakukan dengan cara mengamati obyek yang sedang diteliti. Observasi ini banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Misalnya: tingkah laku siswa pada waktu belajar, tingkah laku guru pada waktu mengajar, kegiatan diskusi siswa, kemampuan siswa memperagakan suatu keterampilan, dsb.
Ada tiga jenis observasi yang dapat digunakan, yaitu: observasi terstruktur/observasi non-partisipatif, observasi tidak terstruktur/observasi partisipatif, observasi eksperimen. Kelemahan dari penggunaan observasi ini tergantung kepada jenis observasinya, tetapi yang paling dirasakan adalah memakan banyak waktu.
Observer  = Pengamat
Observant = Yang diamati
PEDOMAN OBSERVASI
Nama                               :
Kelas                                :
Sikap yang Diobservasi : Aktivitas Belajar
NO
ASPEK YANG DIOBSERVASI
HASIL PENGAMATAN
Sering
KD
TP
1
Mencatat penjelasan guru +
v


2
Menyimak dengan serius +
v


3
Mengajukan pertanyaan +

v

4
Memberikan tanggapan terhadap pendapat kelas +

v

5
Mengobrol saat pelajaran berlangsung -

v

6
Tidur/mengantuk saat pelajaran berlangsung -

v

7
Kluar masuk kelas -


v
8
Masuk tepat waktu +

v

9
Mengerjakan tugas tepat waktu +


v
10
Memainkan HP -
v



JUMLAH
7
10
4


21
NA = 21/30 *100=70

4.    Skala, yaitu alat untuk mengukur nilai, sikap, minat, perhatian, persepsi, dll. yang disusun dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden dan hasilnya dalam bentuk rentangan nilai sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Misalnya: skala sikap, skala frekuensi, skala penilaian, dsb. Rentangan nilai ini bisa dalam bentuk huruf (A, B, C, D,) atau angka (1, 2, 3, 4, 5), sedangkan rentangan kategori bisa dalam bentuk lima, empat, atau tiga kategori, seperti: tinggi, sedang, rendah; baik, sedang, buruk; selalu, sering, kadang-kadang, pernah, tidak pernah; Sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju, dsb.
NO
STATEMEN/ASPEK YANG DIUKUR
OPTION
SS
S
RR
TS
STS
1
Saya males belajar jika tidak ada ulangan






Saya mengerjakan tugas karena takut dihukum





2
Saya bertanya kepada guru jika belum faham






5.    Sosiometri, yaitu alat evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya, terutama menyangkut hubungan sosial siswa dengan teman sekelasnya. Dengan sosiometri dapat diketahui: siapa siswa yang paling disukai (pavorit), siapa siswa yang terisolasi, siapa siswa yang membentuk mata rantai, siapa siswa yang saling memilih. Dengan data ini, maka dapat bermanfaat untuk pengelompokkan siswa, organisasi kelas, perlakuan guru terhadap siswa, pemberian tugas kelompok, dsb. Cara penggunaannya dengan menugaskan anak untuk menuliskan 2 atau 3 orang yang paling cocok untuk jadi ketua ketua kelas, ketua kelompok, paling disukai, dsb.

STATEMENT
SS
S
RR
TS
STS






1.    Bagi perempuan tidak harus menggunakan mukena jika akan melaksanakan shalat





2.    Shalat dapat menyebabkan hidup saya menjadi lebih tenang





3.    Saya tidak akan meninggalka shalat sekalipun harus dipecat dari tempat kerja





4.    Shalat boleh dijamak selama dalam perjalanan sekalipun jarak dekat





5.    Shalat kadang-kedang menjadi beban jika kita sedang banyak pekerjaan





Saya tidak akan meninggalkan shlat keculi jika ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan







NO
STATEMENT
OPTION
SS
S
RR
TS
STS
1





















PERTEMUAN IX
TEKNIK EVALUASI YANG BERSIFAT TES

          Tes sebagai alat penilaian adalah pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk lisan (tes lisa), bentuk tulisan (tes tulisan), dan dalam bentuk perbuatan (tes perbuatan). Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkaitan dengan penguasaan bahan pelajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Tetapi dalam batas tertentu, tes juga dapat digunakan untuk mengukur atau menilai hasol belajar dalam bidang afektif dan psikomotorik.
          Ada dua jenis tes yang berkaitan dengan tes hasil belajar kognitif, yaitu tes obyektif dan tes subyektif (essay). Tes obyektif adalah jenis tes yang jawabannya sudah pasti sehingga siswa tinggal memilih salah satu jawaban yang sudah disediakan atau mengisi jawaban yang sudah pasti. Dengan demikian, tes ini menuntut jawaban yang pasti dan penialian yang pasti, sehingga dinilai oleh siapapun akan menghasilkan nilai yang sama. Tes obyektif terdiri dari lima bentuk, yaitu: benar-salah (true-false), pilihan ganda (multiple choice), menjodohkan (matching test), melengkapi (fill-in/completion), dan jawaban pendek (short answer). Sedang Tes subyektif adalah jenis tes yang menuntut kemampuan siswa untuk mengorganisir dan merumuskan jawabannya dengan menggunakan kata-kata sendiri. Dalam tes ini, siswa tidak dituntut untuk menjawab sama dengan siswa lainnya, sehingga hal ini memungkinkan guru untuk bersikap subyektif dalam menilainya. Tes subyektif terdiri dari tiga bentuk, yaitu: Essay bebas, essay terbatas, dan essay terstruktur.   
Kelebihan (tes obyektif):
1.    Refresentasi materi yang diteskan lebih luas karena soal yang disusun lebih banyak
2.    Penilaiannya obyektif dan dapat diwakilkan pada orang lain
3.    Pengoreksiannya lebih mudah
4.    Validitas dan reliabilitasnya lebih tinggi
Kelemahan (tes obyektif):
1.    Mendorong siswa untuk bersikap spekulatif
2.    Memberi kesempatan pada siswa untuk bekerjasama
3.    Kurang memberi kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pendapatnya
4.    Penyusunan tesnya tidak mudah
Kelebihan (tes essay):
1.    Melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat, mengeluarkan buah pikirannya, dan menyusun kalimat atau bahasa dengan baik dan sistematis.
2.    Pembuatan soalnya relatif lebih mudah
3.    Menorong siswa untuk belajar sungguh-sungguh dan menutup kemungkinan bersikap spekulatif
Kelemahan (yes essay):
1.    Refresentasi materi yang diteskan sempit, karena soal essay biasanya terbatas
2.    Validitas dan reliabilitasnya kurang
3.    Penilaiannya sulit dan cenderung bersifat subyektif serta tidak dapat diwakilkan pada orang lain.
Dengan melihat kelemahan dan kelebihan dari masing-masing tes tersebut, maka dalam penggunaanya hendaklah disesuaikan dengan tujuan tes itu sendiri. Jika tes bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menangkap materi pelajaran secara mendalam, mengemukakan pendapat, melatih siswa menyusun kalimat yang baik, maka tes essay  lebih cocok digunakan; Sedangkan jika tes bertujuan untuk mengetahui sejauh mana siswa menangkap dan memahami materi pelajaran, maka tes obyektif lebih tepat.
Perbedaan Tes Obyektif dengan Tes Subyektif

No.
Aspek perbedaan
Tes Obyektif
Tes Subyektif/Essay
1.
Tujuan hasil belajar
Baik: pengetahuan, pemahaman, penerapan, dan analisis
Tidak cocok: sisntesis dan evaluasi
Tidak efisien: pengetahuan
Baik: pemahaman, penerapan, analisis
Sangat baik: sisntesis & evaluasi
2.
Refresentasi isi materi/bahan
Refresentasi materi lebih luas, karena soal yang disusun biasanya banyak
Refresentasi materi sempit, karena soal yang disusun relatif terbatas/sedikit.
3.
Penyusunan soal
Relatif sulit dan memakan banyak waktu, karena selain banyak jumlah itemnya, juga sulit dalam mencari optionnya
Relatif lebih mudah, walaupun untuk membuat soal essay yang baik juga tidaklah mudah
4.
Pemberian skor (skoring)
Obyektif, sederhana &  reliabilitasnya tinggi
Subyektif, sulit, dan reliabilitas rendah.
5.
Kemungkinan/ asumsi
Mendorong siswa untuk mengingat, menginterpretasikan, dan manganalisis ide-ide orang lain
Menodorng siswa untuk mengorganisir dan mengintegrasikan ide-idenya sendiri






PERTEMUAN X
TEKNIK PENYUSUNAN TES OBYEKTIF

A.   Syarat-syarat Umum
1.    Setiap bentuk tes obyektif harus didahului oleh penjelasan tentang cara mengerjakannya
2.    Penjelasan tersebut diusahakan tidak terlalu panjang kalimatnya dan disesuaikan dengan jenjang sekolah dan usia siswa
3.    Hindarkan pertanyaan yang mempunyai lebih dari satu pengertian (interpretatif)
4.    Item tes tidak merupakan hasil jiplakan langsung dari buku, karena hanya akan memaksa siswa untuk menghafal bukan berpikir
5.    Jangan sampai item tes yang satu mempermudah atau mempersulit item tes yang lain, terutama dalam soal true-false dan multiple choice.
6.    Urutan jawaban tidak mengikuti pola tertentu yang tetap, sehingga mudah ditebak oleh siswa 
B.   Syarat-syarat Khusus
      1.  Benar-Salah (True-False)
a.   Hindarkan item yang dapat dinilai benar dan salah oleh siswa secara subyektif
Contoh: Manusia melaksanakan shalat karena ingin masuk surga.
b.  Item tidak boleh mengandung kata-kata yang merupakan atau terlalu menunjukkan jawabannya, misalnya dengan kata-kata: kadang2, selalu, dsb.
Contoh: Mesjid selalu digunakan untuk tempat beribadah kepada Allah
c.   Hindarkan statement yang mengandung kata-kata negatif, seperti bukan atau tidak. Contoh: Zakat fitrah bukan zakat yang dikeluarkan pada bulan ramadhan.
d.  Hindarkan kalimat yang terlalu panjang atau majemuk yang meragukan. Contoh: Zakat fitrah adalah zakat yang dikeluarkan pada bulan Ramadhan dengan ukuran 2,5%.  

2.   Pilihan Ganda (Multiple Choice)
a.    Statement harus jelas dan pastikan hanya ada satu jawaban yang benar
b.    Baik statement maupun option usahakan jangan merupakan suatu kalimat yang terlau panjang (bisa dipilih apakah statemennya yang panjang kalimatnya atau optionnya.
c.     Hindarkan option  yang tidak ada sangkut pautnya satu sama lain (misalnya   a. Ifrad,  b. Qiron,    c. Tamattu’.   d. badal     e. wada
d.    Statement dan option harus memiliki keterkaitan, artinya jika statemennya tentang haji, maka optionnya harus sekitar haji)
      3.  Menjodohkan (Matching Tes)
a.    Sangat baik digunakan untuk mengetes materi yang bersifat faktual, seperti arti kata, tanggal, tahun, nama tokoh, dan istilah-istilah asing.
b.    Seluruh soal harus homogen, agar masing-masing option memiliki daya kecoh yang tinggi. Misalnya yang ditanyakan harus tentang nama semua, tempat semua, tahun semua, dsb.
c.     Jumlah soal jangan terlalu banyak, maksimal 10 item agar kehomogenan soal bisa terjaga.
d.    Perbandingan statemen dengan option maksimal 1:1,5, artinya jika statemen-nya 10 maka option-nya maksimal 15 dan minimal 12, untuk menghindari kemungkinan siswa jeblok nilainya. 
4.  Melengkapi (Completion/Fill-in) 
a.    Bahasa hendaknya jelas dan kalimatnya tidak terlalu panjang, sehingga mudah dipahami
b.    Kalimat yang dihilangkan jangan hanya menyangkut satu hal saja, tetapi harus bervariasi, seperti tahun, nama, tempat, tanggal, dsb.
c.     Materi yang diteskan menyangkut satu sub pokok bahasan tertentu, sehingga anatara satu kalimat dengan kalimat lainnya merupakan rangkaian 
d.    Titik-titik tidak diletakkan di awal kalimat
e.    Jawaban yang diminta maksimal dua kata  
5.  Jawaban Pendek (Short Answer)
a.    Bahasa hendaknya jelas dan kalimatnya tidak terlalu panjang, sehingga mudah dipahami
b.    Materi yang diteskan bisa bervariasi, tidak hanya menyangkut satu pokok bahasan saja
c.     Titik-titik diletakan di akhir kalimat dan nomor item diletakan di awal.
d.    Jawaban yang diminta maksimal dua kata





PERTEMUAN XI & XII
JENIS-JENIS MULTIPLE CHOICE

          Dilihat dari bentuk dan tingkat kesulitannya, ada beberapa jenis pilihan ganda (multiple choice), yaitu pilihan bentuk biasa, kasus, asosiasi, sebab-akibat, gambar, grafik, bagan, dsb.
1.  Pilihan Ganda Biasa
     Jenis pilihan ganda ini biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif tingkat pengetahuan, pemahaman, dan evaluasi, seperti contoh berikut ini:
1).  Pengetahuan (knowledge)
Shalat sunat untuk meminta petunjuk di antara dua pilihan disebut.....
Indikator: Siswa dapat menyebutkan jenis-jenis shalat sunat
a.    Shalat Tahajud    c. Shalat Dhuha        e. Shalat Istisqo
b.  Shalat Hajat        d. Shalat Istikhoroh
    
Di bawah ini adalah nabi-nabi yang mendapat gelar Ulul Azmi, KECUALI......
Idikator: Siswa dapat menyebutkan nabi-nabi yang mendapat gelar ulul azmi
a.  Nabi Ibrahim       c. Nabi Zakaria         e. Nabi Musa
b.  Nabi Isa              d. Nabi Muhammad
Salah satu nabi yang tidak mendapat gelar Ulul azmi adalah.........
a.  Nabi Ibrahim       c. Nabi Zakaria         e. Nabi Musa
b.  Nabi Isa              d. Nabi Muhammad
2).  Pemahaman (comprehension)                 
     Shalat Tahajud adalah.....
       Indikator: Siswa dapat menjelaskan jenis-jenis shalat sunat
a.    Shalat sunat yang dilakukan untuk meminta petunjuk di antara dua pilihan
b.    Shalat sunat yang dilakukan pada waktu malam hari setelah tidur
c.     Shalat sunat yang dilakukan untuk meminta hujan
d.    Shalat sunat yang dilakukan untuk meminta rizki pada waktu pagi sampai menjelang siang
e.    Shalat sunat yang dilakukan pada waktu terjadi gerhana matahari atau bulan
Arti dari ayat tersebut adalah......
Indikator: siswa dpat menerjemahkan ayat-ayat pendek
a.   Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana
b.  Seungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang
c.   Sesungguhya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal
d.  Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat
Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri. Pribahasa ini artinya.....
a.    Pengeluaran lebih besar dari pada pedapatan
b.    Kesalahan orang meskipun kecil terlihat, sementara kesalahan sendiri walaupun besar tidak kelihatan
c.     Membuat keonaran tetapi yang terkena akibatnya diri sendri 
3).  Penilaian (evaluation)
     Di antara keistimewaan yang paling utama dari Al-Qur’an dibandingkan dengan kitab-kiab Allah lainnya adalah.....
a.    Nabi yang membawanya
b.    Kelengkapan kandungan isinya
c.     Tata bahasanya
d.    Proses diturunkannya
e.    Jumlah surat dan ayatnya
Penyebab yang paling utama sulitnya mengatasi banjir di Jakarta adalah.....
a.    Membuang sampah sembarangan
b.    Berdirinya bangunan di area resapan air
c.     Tingginya curah hujan
d.    Tidak lancaranya sisten drainase
e.    Tingginya curah hujan di Bogor

2.   Pilihan Ganda Kasus
     Jenis pilihan ganda ini biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif tingkat penerapan (C3) dan sintesis (C5), seperti contoh berikut ini:
     a.  Penerapan (application)
          Bila anda menemukan jenazah seorang muslim yang hanya tinggal kepalanya saja karena dimutilasi, maka yang harus dilakukan sebagai seorang muslim adalah.....
a.    Langsung menguburkannya
b.    Memandikan dan menguburkannya
c.     Memandikan, mengkafani, dan menguburkannya
d.    Memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkannya 
Rubahlah kalimah isim menjadi kalimah fi’il
Apabila anda ingin mengikuti shalat dhuhur berjama’ah secara masbuk, apa yang harus anda lakukan jika anda melihat orang sedang sujud pada rakaat pertama
a.    Langsung mengikutinya kemudian menambahkan 3 rakaat selanjutnya
b.    Menunggu sampai selesai sujud kemudian mengikutinya dan menambhkan 4 raka’at
c.     Langsung mengikutinya kemudian menambahkan 4 raka’at
d.    Menunggu sampai raka’at kedua kemudian menambahkan 4 rakaat berikutnya
b.  Sintesis (syntesis)
     Seorang laki-laki meninggal dengan ahli warits 2 orang anak laki-laki, 2 orang anak perempuan, ibu, bapak, dan 2 orang istri. Bila harta warisannya 50 juta, maka bagian untuk 2 orang anak perempuan adalah....
     a. 8,33 juta    b. 6,25 juta    c. 4,515 juta   d. 9,03 juta    e. 10,5 juta
3.   Pilihan Ganda Asosiasi
Jenis pilihan ganda ini biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif tingkat analisis tetapi bisa juga untuk sistesis, seperti contoh berikut ini:
Berilah tanda silang pada salah satu option yang tepat!
A.                                       Jika  (1), (2), dan (3) benar
B.                                       Jika (1) dan (3) benar
C.                                       Jika (2) dan (4) benar
D.                                      Jika nomor 4 saja yang benar
E.                                       Jika semuanya benar
1. Termasuk kewajiban orang yang masih hidup terhadap harta orang yang meninggal
(1)   Membayar zakat
(2)    Membayar hutang
(3)    Membayar wasiat
(4)    Membayar biaya tahlilan
2.  Termasuk sebab-sebab orang tidak mendapatkan warisan
(1)      Hubungan darah
(2)      Membunuh
(3)      Hubungan pernikahan
(4)      Pindah agama
3.    Sebab-sebab yang dapat membatalkan puasa
(1)       Menggosok gigi di siang hari
(2)       Makan dengan sengaja di siang hari
(3)       Menggunakan obat tetes mata
(4)       Minum air dengan sengaja waktu berwudhu
4.    Termasuk cara-cara menghindari zina
(1)       Berpuasa
(2)       Berhijab
(3)       Tidak berpacaran
(4)       Membatasi teman

4.   Pilihan Ganda Sebab-Akibat
      Jenis pilihan ganda biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif tingkat analisis, seperti contoh berikut ini:
Berilah tanda silang pada salah satu option yang menurut anda tepat!
A.  Jika pernyataan benar, alasan benar dan keduanya menunjukkan hubungan sebab-akibat
B.  Jika pernyataan benar, alasan benar tetapi keduanya tidak menunjukkan hubungan sebab akibat
C.  Jika pernyataan benar, alasan salah
D.  Jika pernyataan salah, alasan benar
E.  Jika pernyataan maupun alasan keduanya salah


- Meminum khamar hukumnya haram
SEBAB
Khamar adalah minuman yang dapat memabukkan

- Membunuh orang lain termasuk dosa besar
SEBAB
Hukuman qisas bagi orang yang membunuh dapat diganti dengan diyat tergantung kesepakatan dengan ahli warisnya

Puasa hukumnya wajib bagi setiap muslim
SEBAB
Puasa merupakan salah satu rukun iman

     Memakan daging babi hukumnya haram
                   SEBAB
     Daging babi mengandung cacing pita    
                  
5.  Pilihan Ganda bentuk Gambar, grafik, bagan, dsb
      Jenis pilihan ganda ini biasaya digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif tingkat pengetahuan, pemahaman, analisis, dan sintesis. Bentuk pilihan ganda ini biasanya digunakan pada mata pelajaran Fisika, Biologi, dan Geografi, sedangkan untuk bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI), penggunaan pilihan ganda bentuk ini sangat terbatas. 
    

                              


PERTEMUAN XIII
TEKNIK PENYUSUNAN TES ESSAY

          Dengan adanya kelemahan di samping kelebihan dari tes essay, maka ada beberapa petunjuk dalam penyusunan tes essay, yaitu:
1. Soal yang dirumuskan hendaklah menyangkut materi yang esensial dari setiap pokok bahasan dan jika memungkinkan soal dirumuskan secara komprehensif.
     Kriteria ini merupakan cara untuk menutupi kelemahan essay yang sempit dari segi refresentasi materi pelajaran yang disebabkan jumlah itemnya relatif terbatas.
     Contoh: Apa yang dimaksud dengan zakat fitrah, mengapa orang wajib mengeluarkan zakat fitrah, dan bagaimana cara mengeluarkan zakat fitrah? Jelaskan!
2.  Soal yang dirumuskan harus spesifik, sehingga tergambar dengan jelas jawaban apa yang diharapkan oleh siswa.
     Kriteria ini merupakan cara untuk menutupi kelemahan essay yang sering menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami soal dan sekaligus memudahkan guru dalam melakukan penilaian.
     Contoh: Jelaskan perbedaan haji dan umroh dari aspek rukunnya serta konsekuensi hukumnya.
3.  Rumusan soal hendaklah menggunakan kata tanya yang bervariasi sehingga dapat menggambarkan tingkat kognisi yang diukur. Misalnya mengguankan kata apakah, mengapa, bagaimana, dsb
4.  Setelah soal dirumuskan, buatlah pedoman penilaiannya dan jika memungkinkan buatlah kunci jawabannya.
     Kriteria ini merupakan cara untuk menutupi kelemahan essay yang sulit dalam melakukan penilaian dan sering menimbulkan penilaian yang subyektif.
5.  Rumuskan soal yang jelas dan mudah dipahami, sehingga tidak menimbulkan kebingungan dan mis-interpretasi bagi siswa.
6.  Rumusan soal hendaklah mengacu pada kisi-kisi soal, sehingga validitasnya dapat terjamin dengan tinggi.     



  
PERTEMUAN XIV
TEKNIK PENYUSUNAN TES AFEKSI DAN PSIKOMOTORIK
Untuk mengukur kemampuan siswa dalam bidang afeksi, guru bisa menggunakan alat evaluasi yang bersifat non tes, yaitu dengan skala sikap. Sedangkan untuk mengukur kemampuan dalam bidang psikomotorik, evaluasi bisa dilakukan dengan menggunakan tes perbuatan (performance test) yang dibantu dengan menggunakan skala penilaian.
1.  Evaluasi Afektif dengan skala sikap
     Skala sikap adalah alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur sikap siswa terhadap obyek tertentu yang hasilnya berupa kategori sikap: menolak (negatif), mendukung (positif), atau netral.  Sikap ini pada hakekatnya adalah kecenderungan berperilaku pada seseorang atau reaksi seseorang terhadap suatu stimulus yang datang pada dirinya.
     Ada tiga komponen sikap, yaitu kognisi yang berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang obyek tertentu; afeksi yang berkenaan dengan perasaan senang/tidak senang dalam menanggapi obyek tertentu; dan konasi yang berkenaan dengan kecenderungan berbuat atau meninggalkan terhadap obyek tertentu.
     Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden, apakah didukung atau ditolaknya melalui rentangan nilai tertentu. Oleh karena itu, pernyataan yang diajukan dibagi dalam dua kategori, yaitu pernyataan positif dan pernyataan negatif. Salah satu skala sikap yang sering digunakan adalah skala model Likert yang menggunakan lima kategori, yaitu Sangat Setuju, Setuju, Ragu-ragu, Tidak Setuju, dan Sangat Tidak Setuju. Adapun skor yang diberikan terhadap lima kategori tersebut tergantung pada kategori positif atau negatifnya, seperti yang terlihat pada tabel
berikut ini: 
Pernyataan Sikap
Sangat Setuju
Setuju
Ragu-ragu
Tidak Setuju
Sangat Tidak Setuju
Positif
5
4
3
2
1
Negaatif
1
2
3
4
5
         
Selain dengan skala model Likert di atas, skala sikap juga bisa dilakukan dengan mengguankan skala Guttman, Thurstone, dan skala sikap pilihan ganda. Contohnay dapat diliat pada buku Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan dari Suharsimi Arikunto  atau buku Pengukuran dalam Pendidikan dari Prof. Dr. Djaali.





INSTRUMEN PENGUKUR SIKAP
Nama                :.........................
Kelas                 : VB
Sikap Yang Dinilai : Sikap terhadap shalat
NO
STATEMENT
OPTION
SS
S
RR
TS
STS
1
Menurut saya Jika akan melaksanakan shalat, tidak harus menggunakan mukena bagi perempuan (kognisi +)





2
Shalat dapat menyebabkan hidup saya menjadi lebih tenang (Afeksi +)





3
Saya tidak akan meninggalkan shalat sekalipun harus dipecat dari tempat kerja (Konasi +)





4
Menurut saya shalat boleh dijamak selama dalam perjalanan sekalipun jarak dekat (kognisi -)





5
Shalat kadang-kedang menjadi beban jika kita sedang banyak pekerjaan (Afeksi-)





6
Saya tidak akan meninggalkan shalat kecuali ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan (Konasi -)






Saya lebih nyaman jika shalat memakai peci dan sarung (Afeksi +)






Menurut saya, jika shalat dalam perjalanan tidak harus menghadap kiblat (kognisi +)






Saya lebih baik memutuskan pacar yang tidak shalat (konasi +)






Menurut saya makmum yang masbuk tidak perlu menambahkan raka’at yang tertinggal (Kognisi -)






Shalat 






SIKAP PUASA





1
Menurut saya puasa dapat menyehatkan badan (Afeksi +)





2
Puasa dapat menurunkan konsentrasi belajar (afeksi -)





3
Puasa wajib diqodho bagi wanita yang tidak berpuasa karena haid (kognisi +)





4
Berbohong dapat membatalkan puasa (kognisi -)





5
Saya akan meninggalkan puasa jika sedang dalam perjalanan (Konasi -)





6
Saya tidak akan meninggalkan puasa sekalipun harus kehilangan pekerjaan






 
2. Tes Psikomotorik (performance test)
      Tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam bidang keterampilan tertentu adalah tes perbuatan yang dilakukan dengan cara menyuruh siswa untuk memperagakan keterampilan tertentu satu persatu, kemudian guru memberikan penilaian terhadap performance yang ditunjukkan oleh siswa.
Sebelum tes perbuatan ini dilakukan, guru harus membuat dulu pedoman yang berisi tentang aspek apa yang akan dinilai dari performance yang ditunjukkan oleh siswa lengkap dengan rentang nilaianya, baik dengan menggunakan angka atau huruf. Bidang keterampilan yang dapat diukur kemampuannya dalam bidang studi PAI, di antaranya  mencakup: kemampuan melaksanakan shalat, wudhu, tayamum, mengurus jenazah, manasik haji, dan membaca Al-Qur’an. Adapun pedoman yang harus dipersiapkan sebelum tes perbuatan ini dilaksanakan, dapat dilihat pada contoh di bawah ini:
     Nama Siswa        :
     Bidang studi        : Pendidikan Agama Islam
     Jenis Keterampilan: Wudhu
No.
ASPEK YANG DINILAI
PENILAIAN
SS
S
KS
D
1.
Membasuh telapak tangan
V



2.
Berkumur


V

3.
Membasuh hidung


V

4
Membasuh muka

V


5
Membasuh tangan

V


6
Mengusap sebagian kepala
V



7
Membasuh telinga


V

8
Membasuh kaki
V




JUMLAH
12
6
6
0

SMI
32
    
SS = Sangat Sempurna ekuivaleen dengan 4
S   =            
24/32 X4       = 3 (B)
          NA= 3 (KOG) + 3 (PSIK) +4 (AF)/10
          NA= 3 (8) + 3 (8) + 4 (6)/10
          NA = 24 + 24 + 24/10 = 72                                        
     Huruf A, B, C,  atau D di atas kemudian diekuivalenkan pada nilai angka, misalnya:
A   =       90,
B   =       80,
C   =       70
D   =       60
Contoh-contoh berikutnya dapat dilihat pada buku Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar dari Prof. Dr. Nana Sudjana
      


 





Mata Kuliah: EVALUASI PENDIDIKAN
Dosen:  DR. POPI PUADAH




PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM ATTAHIRIYAH
TAHUN 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LAPORAN KKL ( KULIAH KERJA LAPANGAN ) FAI UNIAT (Universitas Islam Attahiriyah)

https://drive.google.com/folderview?id=1QsYXAAC12ZFAC3ZtvdvvHF_AnsawW8n5