Selasa, 30 Juni 2020
MAKALAH TEKNOLOGI PENDIDIKAN (Memanfaatkan Proses & Sumber Belajar dalam Pendidikan Agama Islam)
MEMANFAATKAN
PROSES DAN SUMBER BELAJAR DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
MAKALAH TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Dosen Pengampu: Muhammad Mubarok, M.Pd
Disusun oleh kelompok 5:
1.
Muhammad Ngasomudin
2.
Rismawati
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGMA ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM ATTAHIRIYAH
JAKARTA 2017
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan agama Islam merupakan mata
pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran dasar yang terdapat dalam agama
islam. Ajaran-ajaran tersebut terdapat dalam al-qur’an dan al-hadits. Untuk
kepentingan pendidikan, dengan melalui proses ijtihad para ulama mengembangkan
materi pendidikan agama Islam pada tingkat yang lebih rinci. Mata pelajaran
pendidikan agama Islam tidak hanya mengantarkan peserta didik untuk menguasai
berbagai ajaran Islam. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana peserta didik
dapat mengamalkan ajaran-ajaran itu dalam kehidupan sehari-hari. Mata pelajaran
pendidikan agama islam menekankan keutuhan dan keterpaduan antara ranah
kognitif, afektif dan psikomotornya. Tujuan akhir dari mata pelajaran
pendidikan agama Islam adalah terbentuknya peserta didik yang memiliki akhlak
mulia. Tujuan inilah yang sebenarnya merupakan misi utama diutusnya Nabi
Muhammad SAW. Dengan demikian pendidikan akhlak adalah jiwa dari pendidikan
agama Islam. Mencapai akhlak yang mulia adalah tujuan sebenarnya dari
pendidikan.[1]
Agar dapat memfungsikan, dan
merealisasikan hal tersebut, diperlukan suatu pengelolaan proses pembelajaran
pendidikan agama Islam yang sistematis dan terencana. Berdasarkan hal ini, maka dalam makalah ini akan membahas
manajemen proses pembelajaran pendidikan agama Islam.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses pembelajaran
pendidikan agama Islam?
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Proses Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam
Pembelajaran Pendidikan Islam
sebagai suatu proses kegiatan, terdiri atas tiga fase atau tahapan. Fase-fase
proses pembelajaran yang dimaksud meliputi: tahap perencanaan, tahap
pelaksanan, dan tahap evaluasi. Adapun dari ketiganya ini akan dibahas sebagaimana
berikut:
1.
Tahap Perencanaan
Kegiatan pembelajaran yang baik senantiasa berawal dari
rencana yang matang. Perencanaan yang matang akan menunjukkan hasil yang
optimal dalam pembelajaran.
Perencanaan merupakan proses penyusunan sesuatu yang akan
dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pelaksanaan
perencanaan tersebut dapat disusun berdasarkan kebutuhan dalam jangka tertentu
sesuai dengan keinginan pembuat perencanaan. Namun yang lebih utama adalah
perencanaan yang dibuat harus dapat dilaksanakan dengan mudah dan tepat
sasaran.
Begitu pula dengan perencanaan
pembelajaran, yang direncanakan harus sesuai dengan target pendidikan. Guru
sebagai subjek dalam membuat perencanaan pembelajaran harus dapat menyusun
berbagai program pengajaran sesuai pendekatan dan metode yang akan di gunakan.[5]
Dalam konteks desentralisasi pendidikan
seiring dengan perwujudan pemerataan hasil pendidikan yang bermutu, diperlukan
standar kompetensi mata pelajaran yang dapat dipertanggungjawabkan dalam
konteks lokal, nasional dan global.
Secara umum guru itu harus memenuhi dua
kategori, yaitu memiliki capability dan loyality, yakni guru itu
harus memiliki kemampuan dalam bidang ilmu yang diajarkannya, memiliki
kemampuan teoritik tentang mengajar yang baik, dari mulai perencanaan,
implementasi sampai evaluasi, dan memiliki loyalitas keguruan, yakni loyal
terhadap tugas-tugas keguruan yang tidak semata di dalam kelas, tapi sebelum
dan sesudah di dalam kelas.[6]
Agama Islam sebagai bidang studi,
sebenarnya dapat diajarkan sebagaimana mata pelajaran lainnya. Harus dikatakan
memang ada sedikit perbedaannya dengan bidang studi lain. Perbedaan itu ialah
adanya bagian-bagian yang amat sulit diajarkan dan amat sulit dievaluasi. Jadi,
perbedaan itu hanyalah perbedaan gradual, bukan perbedaan esensial.
Beberapa prinsip yang perlu diterapkan
diterapkan dalam membuat persiapan mengajar :
a. Memahami tujuan
pendidikan.
b. Menguasai bahan
ajar.
c. Memahami
teori-teori pendidikan selain teori pengajaran.
d. Memahami
prinsip-prinsip mengajar.
e. Memahami
metode-metode mengajar.
f.
Memahami teori-teori belajar.
g. Memahami
beberapa model pengajaran yang penting.
h. Memahami
prinsip-prinsi evaluasi.
i.
Memahami langkah-langkah membuat
lesson plan.
Kegiatan yang
harus dilakukan perancang pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang
mengikuti model Kemp adalah sebagai berikut :[8]
a. Perkirakan
kebutuhan PAI (learning needs) untuk merancang program pembelajaran; menyatakan
tujuan, kendala, dan prioritas yang harus dipelajari.
b. Pilih dan
tetapkan pokok bahasan atau tugas-tugas pembelajaran PAI untuk dilaksanakan dan
tujuan umum PAI yang akan dicapai.
c. Teliti dan
identifikasi karakteristik peserta didik yang perlu mendapat perhatian selama
perencanaan pengembangan pembelajaran PAI.
d. Tentukan isi
pembelajaran PAI dan uraikan unsur tugas yang berkaitan dengan tujuan PAI.
e. Nyatakan tujuan
khusus belajar PAI yang akan dicapai dari segi isi pelajaran dan unsur tugas.
f.
Rancanglah kegiatan-kegiatan belajar
mengajar PAI untuk mencapai tujuan PAI yang sudah dinyatakan.
g. Pilihlah
sejumlah media untuk mendukung kegiatan pengajaran PAI.
h. Rincikan
pelayanan penunjang yang diperlukan untuk mengembangkan dan melaksanakan semua
kegiatan dan untuk memperoleh atau membuat bahan ajar PAI.
i.
Kembangkan alat evaluasi
hasil belajar PAI dan hasil program pengajaran PAI.
j.
Lakukan uji awal kepada peserta didik
untuk mempelajari produk pembelajaran PAI yang anda kembangkan.
2.
Tahap Pelaksanaan
Tahap ini merupakan tahap implementasi atau tahap penerapan
atas desain perencanaan yang telah dibuat guru. Hakikat dari tahap pelaksanaan
adalah kegiatan operasional pembelajaran itu sendiri. Dalam tahap ini, guru
melakukan interaksi belajar-mengajar melalui penerapan berbagai strategi metode
dan tekhnik pembelajaran, serta pemanfaatan seperangkat media.
Dalam proses ini, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan
oleh seorang guru, diantaranya ialah:
a. Aspek
pendekatan dalam pembelajaran
Pendekatan pembelajaran terbentuk oleh
konsepsi, wawasan teoritik dan asumsi-asumsi teoritik yang dikuasai guru
tentang hakikat pembelajaran. Mengingat pendekatan pembelajaran bertumpu pada
aspek-aspek dari masing-masing komponen pembelajaran, maka dalam setiap
pembelajaran, akan tercakup penggunaan sejumlah pendekatan secara serempak. Oleh karena itu,
pendekatan-pendekatan dalam setiap satuan pembelajaran akan bersifat multi
pendekatan.
b. Aspek Strategi
dan Taktik dalam Pembelajaran
Pembelajaran sebagai proses, aktualisasinya
mengimplisitkan adanya strategi. Strategi berkaitan dengan perwujudan proses
pembelajaran itu sendiri. Strategi pembelajaran berwujud sejumlah tindakan
pembelajaran yang dilakukan guru yang dinilai strategis untuk mengaktualisasikan
proses pembelajaran.
Terkait dengan pelaksanaan strategi
adalah taktik pembelajaran. Taktik pembelajaran berhubungan dengan tindakan
teknis untuk menjalankan strategi. Untuk melaksanakan strategi diperlukan
kiat-kiat teknis, agar nilai strategis setiap aktivitas yang dilakukan
guru-murid di kelas dapat terealisasi. Kiat-kiat teknis tertentu terbentuk
dalam tindakan prosedural. Kiat teknis prosedural dari setiap aktivitas
guru-murid di kelas tersebut dinamakan taktik pembelajaran. Dengan perkataan
lain, taktik pembelajaran adalah kiat-kiat teknis yang bersifat
prosedural dari suatu tindakan guru dan siswa dalam pembelajaran aktual
di kelas.
c. Aspek Metode
dan Teknik dalam Pembelajaran
Aktualisasi pembelajaran berbentuk
serangkaian interaksi dinamis antara guru-murid atau murid dengan lingkungan
belajarnya. Interaksi guru-murid atau murid dengan lingkungan belajarnya
tersebut dapat mengambil berbagai cara. Cara-cara interaksi guru-murid atau
murid dengan lingkungan belajarnya tersebut lazimnya dinamakan metode.
Metode merupakan bagian dari sejumlah
tindakan strategis yang menyangkut tentang cara bagaimana interaksi
pembelajaran dilakukan. Metode dilihat dari fungsinya merupakan seperangkat
cara untuk melakukan aktivitas pembelajaran. Ada beberapa cara dalam melakukan
aktivitas pembelajaran, misalnya dengan berceramah, berdiskusi, bekerja
kelompok, bersimulasi dan lain-lain.
Setiap metode memiliki aspek teknis
dalam penggunaannya. Aspek teknis yang dimaksud adalah gaya dan variasi dari
setiap pelaksanaan metode pembelajaran
d. Prosedur
Pembelajaran
Pembelajaran dari sisi proses
keberlangsungannya, terjadi dalam bentuk serangkaian kegiatan yang berjalan
secara bertahap. Kegiatan pembelajaran berlangsung dari satu tahap ke tahap
selanjutnya, sehingga terbentuk alur konsisten. Tahapan pembelajaran yang
konsisten yang berbentuk alur peristiwa pembelajaran tersebut merupakan
prosedur pembelajaran.
3.
Tahap Evaluasi
Pada hakekatnya evaluasi merupakan suatu kegiatan untuk
mengukur perubahan perilaku yang telah terjadi. Pada umumnya hasil belajar akan
memberikan pengaruh dalam dua bentuk:
a. Peserta akan mempunyai perspektif
terhadap kekuatan dan kelemahannya atas perilaku yang diinginkan.
b. Mereka mendapatkan bahwa perilaku
yang diinginkan itu telah meningkat baik setahap atau dua tahap, sehingga
sekarang akan timbul lagi kesenjangan antara penampilan perilaku yang sekarang
dengan tingkah laku yang diinginkan.[9]
Pada tahap
ini kegiatan guru adalah melakukan penilaian atas proses pembelajaran yang
telah dilakukan. Evaluasi adalah alat untuk mengukur ketercapaian tujuan.
Dengan evaluasi, dapat diukur kuantitas dan kualitas pencapaian tujuan
pembelajaran. Sebaliknya, oleh karena evaluasi sebagai alat ukur ketercapaian
tujuan, maka tolak ukur perencanaan dan pengembangannya adalah tujuan
pembelajaran.
Dalam
kaitannya dengan pembelajaran, Moekijat (seperti dikutip oleh Mulyasa)
mengemukakan teknik evaluasi belajar pengetahuan, keterampilan, dan sikap
sebagai berikut:
a. Evaluasi belajar pengetahuan, dapat
dilakukan dengan ujian tulis, lisan, dan daftar isian pertanyaan.
b. Evaluasi belajar keterampilan, dapat
dilakukan dengan ujian praktek, analisis keterampilan dan analisis tugas serta
evaluasi oleh peserta didik sendiri.
c. Evaluasi belajar sikap, dapat
dilakukan dengan daftar sikap isian dari diri sendiri, daftar isian sikap yang
disesuaikan dengan tujuan program, dan skala deferensial sematik (SDS).
Apapun bentuk tes yang diberikan
kepada peserta didik, tetap harus sesuai dengan persyaratan yang baku, yakni
tes itu harus:
a. Memiliki validitas (mengukur
atau menilai apa yang hendak diukur atau dinilai, terutama menyangkut
kompetensi dasar dan materi standar yang telah dikaji);
b. Mempunyai reliabilitas
(keajekan, artinya ketetapan hasil yang diperoleh seorang peserta didik, bila
dites kembali dengan tes yang sama);
c. Menunjukkan objektivitas (dapat
mengukur apa yang sedang diukur, disamping perintah pelaksanaannya jelas dan
tegas sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang tidak ada hubungannya dengan
maksud tes);
d. Pelaksanaan
evaluasi harus efisien dan praktis.[10]
B. Sumber Belajar Pendidikan Agama
Islam
1. Pengertian Sumber Pembelajaran.
Sumber belajar ialah segala sesuatu yang dapat dipergunakan
sebagai tempat di mana bahan pelajaran terdapat atau asal belajar seseorang.
Dengan demikian sumber belajar itu merupakan bahan untuk menambah ilmu
pengetahuan yang mengandung hal – hal baru. Sebab pada hakekatnya belajar
adalah mendapatkan hal – hal yang baru.
2. Macam – macam Sumber Belajar.
a.
Sumber Pokok
Sumber pokok pengajaran Agama Islam adalah Al – qur’an dan
hadist. Kedudukan Al – qur’an, sebagai sumber belajar yang paling utama
dijelaskan oleh Allah dalam Al – qur’an.
Allah berfirman dalam QS. Al – nahl: 64 yang artinya “ Dan
kami tidak menurunkan kepadamu Alkitab (Alqur’an) ini melainkan agar kamu dapat
menjelaskan kepada mereka perselisihan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi
kaum yang beriman.
Dalam QS Shad: 29; “ Ini adalah sebuah kitab yang kami
turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat –
ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang – orang yang mempunyai pikiran.
Kedua ayat di atas jelas menunjukkan bahwa pada amsa Nabi
Muhammad SAW sumber pokok dan utama yang dijadikan sumber rujukan pendidikan
masa itu hanyalah Alqur’an.
3. Fungsi dan Pemanfaatan Sumber
Belajar
a.
Fungsi
Sumber Belajar
Menurut Zainuddin, HRL, dkk, fungsi sumber belajar adalah
sebagai berikut:
1) Meningkatkan produktifits pendidkan,
dengan jalan:
·
Mempercepat
laju belajar dan membantu guur / dosen untuk menggunakan waktu secara lebih
baik.
·
Mengurangi
beban guru/dosen dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lenih banyak
membina dan mengembangkan gairah belajar peserta didik/mahasiswa.
2) Memberikan kemungkinan pendidikan
yang bersifat individual, jalannya:
·
Mengurangi
kontrol guru/dosen yang kaku dan tradisional.
·
Memberikan
kesempatan bagi peserta didik/mahasiswa untuk berkembang sesuai dengan
kemampuannya.
3) Memberikan dasar yang lebih ilmiah
terhadap pengjaran dengan jalan:
·
Perncanaan
program pendidikan yang lebih sistematis
·
Pengembangan
bahan pengajran yang dilandasi oleh penelitian.
4) Lebih memantapkan pengajaran, dengan
jalan:
·
Meningkatkan
kemampuan manusia dengan berbagai media komunikasi
·
Penyjian
informasi dan data secara lebih konkrit.
5) Memungkinkan belajar secara
seketika, karena dapat:
·
Mengurangi
jurang pemisah antara pelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan
realitas yang sifatnya konkrit.
·
Memungkinkan
penyajian pendikan lebih luas, terutama dengan adanya media massa, dengan
jalan:
b.
Pemanfaatan
Sumber Belajar
Dalam pemanfaatan sumber belajar ada beberapa langkah yang
perlu dilakukan:
1)
Identifikasi
kebutuhan sumber daya.
2)
Mengidentifikasi
potensi sumber belajar yang ada dan dimanfaatkan untuk pembelajaran.
3)
Pengelompokkan
sumber belajar dalam kelompok.
4)
Mencari
dan menganalisis relevansi antara kelompok sumber belajar dengan mata pelajaran
yang dimiliki guru.
5)
Menentukan
materi dan kompetensi untuk pembelajaran
6)
Pemanfaatan
sumber – sumber belajar dalam pembelajaran.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Manejemen
proses pembelajaran (proses belajar mengajar) Pendidikan Agama Islam adalah
pengelolaan atau penyelenggaraan secara efektif dan efisien proses pembelajaran
(proses belajar mengajar) dengan mengorganisasikan lingkungan anak didik dan
diarahkan untuk mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam yaitu terbentuknya
kepribadian muslim. Pembelajaran Pendidikan Islam sebagai suatu proses kegiatan,
terdiri atas tiga fase atau tahapan yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanan,
dan tahap evaluasi.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. Strategi
Belajar. Bandung: Pustaka Setia, 1992.
Depdiknas. Kurikulum 2004 SMA, Pedoman Khusus Pengembangan
Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta:
Depdiknas, 2003.
Indrakusuma, Amir Daim. Pengantar
Ilmu Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional, 1973.
Kusrini, Siti dkk. Keterampilan Dasar Mengajar (PPL
1): Berorientasi Pada Kurikulum Berbasis Kompetensi, Malang: Fakultas
Tarbiyah UIN Malang. 2005.
Majid, Abdul dan Andayani, Dian. Pendidikan Agama
Islam Berbasis Kompetensi (Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: PT Rosda Karya, 2004.
Mufarrokah, Anissatul. Strategi Belajar Mengajar.
Yogyakarta : Teras, 2009.
Muhaimin, dkk. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya
Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam Di Sekolah. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya. 2001.
Mulyasa, E. Implementasi Kurikulum 2004 Panduan
Pembelajaran KBK. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004.
Nasution. Teknologi
Pendidikan . Bandung: Jenmers, 1962.
Partanto, Pius A. dan al-Barry, M.Dahlan. Kamus Ilmiah
Populer. Surabaya : Arkola, 1994.
Piet Sahertian Dan Ida Aleda Sahertian. Supervise
Pendidikan Dalam Rangka Program Inservise Education. Jakarta: Rineka Cipta,
1992.
Rosyada, Dede. Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah
Model Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta :
Kencana, 2004.
Saifullah, Ali.
Antara Filsafat Dan Pendidikan.
Surabaya: Usaha Nasional, 1989.
Sulistyorini. Manajemen Pendidikan Islam.
Yogjakarta : Teras, 2009.
Usman, Moh. Uzer. Menjadi Guru
Profesional, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004.
https://nanogummy.wordpress.com/2011/05/06/sumber-belajar-pendidikan-islam/
[1] Depdiknas, Kurikulum 2004 SMA, Pedoman Khusus Pengembangan Silabus
dan Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Depdiknas,
2003), hlm. 2.
[5] Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi
(Konsep dan Implementasi Kurikulum..(Bandung: PT
Rosda Karya, 2004), 91.
[6] Dede Rosyada, Paradigma
Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan
Pendidikan, (Jakarta : Kencana, 2004), 112.
[9] E.
Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK, (Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya, 2004), 169.
[10]
Ibid,. 171.
Langganan:
Komentar (Atom)
LAPORAN KKL ( KULIAH KERJA LAPANGAN ) FAI UNIAT (Universitas Islam Attahiriyah)
https://drive.google.com/folderview?id=1QsYXAAC12ZFAC3ZtvdvvHF_AnsawW8n5
-
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Membicarakan Masalah Iman dan Kufur, umat Islam telah terjadi perselisihan dimana yang s...
-
BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Pengetahuan berawal dari rasa ingin tahu. Dengan rasa ingin tahunya manusia berusaha mend...
-
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada zaman pertengahan, Islam di Barat dan Timur telah mencapai puncaknya. Baik dalam pemer...
