Sabtu, 09 Mei 2020

MAKALAH PENGANTAR FILSAFAT ILMU DAN DASAR-DASAR PENGETAHUAN (Pengertian, Penalaran, Logika, Sumber Pengetahuan, Kriteria, Objek)


BAB 1
PENDAHULUAN
1.      LATAR BELAKANG
Pengetahuan berawal dari rasa ingin tahu. Dengan rasa ingin tahunya manusia berusaha mendapatkan pengetahuan yang benar. Manusia mengembangkan pengetahuannya untuk memenuhi kebutuhan dan kelangsungan hidupnya. Manusia memikirkan hal-hal yang baru, menjelajah ufuk baru,karena manusia hidup bukan sekedar untuk hidup, namun lebih dari itu yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuannya dan pengetahuan ini jugalah yang mendorong manusia menjadi makhluk yang khas dimuka bumi ini.
Manusia mampu mengembangkan pengetahuannya disebabkan dua hal. Yang pertama karena manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut, yang kedua karena manusia mampu mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan mantap yaitu kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu.
Pengetahuan pada hakekatnya merupakan segenap apa kita ketahui tentang objek tertentu. Sebagai salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan yang benar dengan jalan penalaran dan logika.

2.      RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
a.       Apakah pengertian ilmu dan filsafat?
b.      Apakah pengertian filsafat sebagai ilmu?
c.       Apakah penalaran, logika, sumber pengetahuan itu?
d.      Bagaimanakah kriteria suatu kebenaran dalam filsafat itu?
e.       Apa saja contoh objek filsafat?



BAB 2
PEMBAHASAN


1.       Pengertian Ilmu dan Filsafat
Menurut bahasa, arti kata ilmu berasal dari bahasa Arab (ilm), bahasa Latin (science) yang berarti tahu atau mengetahui atau memahami. Sedangkan menurut istilah, ilmu adalah pengetahuan yang sistematis atau ilmiah. Perbedaan ilmu dan pengetahuan yaitu : Secara umum, Pengertian Ilmu merupakan kumpulan proses kegiatan terhadap suatu kondisi dengan menggunakan berbagai cara, alat, prosedur dan metode ilmiah lainnya guna menghasilkan pengetahuan ilmiah yang analisis, objektif, empiris, sistematis dan verifikatif. Sedangkan pengetahuan (knowledge ) merupakan kumpulan fakta yang meliputi bahan dasar dari suatu ilmu, sehingga pengetahuan belum bisa disebut sebagai ilmu, tetapi ilmu pasti merupakan pengetahuan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pengertian Ilmu diartikan sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara sistematis menurut metode ilmiah tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan kondisi tertentu dalam bidang pengetahuan. Sedangkan  dalam Wikipedia Indonesia, Pengertian Ilmu/ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menemukan, menyelidiki dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai bentuk kenyataan dalam alam manusia.
Sedangkan filsafat, mengacu pada asal kata philos dan shopia, yang artinya teman dan kebijaksanaan dalam bahasa Yunani. Yang kemudian dijabarkan menjadi cinta akan kebijaksanaan.
Pengertian praktis mengenai filsafat yaitu, filsafat berarti alam pikiran atau alam berfikir. Berfilsafat artinya berpikir. Tapi tidak semua yang berpikir berarti berfilsafat. Karena berfilsafat adalah berfikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah semboyan juga mengatakan: setiap manusia adalah filsuf. Semboyan ini benar juga mengingat setiap manusia memang berpikir. Tapi secara umum semboyan ini tidak benar juga, sebab tidak semua manusia yang berpikir adalah filsuf.
Tegasnya adalah Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan sesuatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakekat kebenaran segala sesuatu
2.      Filsafat sebagai Ilmu
Dikatakan filsafat sebagai ilmu karena dalam pengertian filsafat mengandung 4 pertanyaan ilmiah, yaitu: bagaimanakah, mengapakah, kemanakah, dan apakah.
Pertanyaan bagaimanakah menanyakan sifat-sifat yang dapat ditangkap atau yang tampak oleh indra. Jawaban dari pertanyaan itu bersifat deskriptif (penggambaran)
Pertanyaan mengapa, menanyakan tentang sebab suatu objek. Jawaban yang diperolehnya bersifat kausalitas (sebab akibat)
Pertanyaan kemana, menanyakan tentang apa yang terjadi di masa lampau, masa sekarang, dan masa depan. Jawaban yang diperolehnya bersifat normatif (berpegang pada kebiasaan, atau adat istiadat)
Pertanyaan apakah, menanyakan tentang hakikat atau inti mutlak dari suatu hal. Jawaban yang didapat bersifat umum, universal dan abstrak.
Filsafat Ilmu adalah cabang filsafat yang membahas masalah ilmu. Tujuannya mengadakan analisis mengenai ilmu pengetahuan dan cara bagaimana pengetahuan ilmiah itu dapat diperoleh. Jadi filsafat ilmu adalah penyelidikan tentang cairi-ciri pengetahuan ilmiah dan cara memperolehnya. Pokok perhatia filsafat ilmu adalah proses penyelidikan ilmiah itu sendiri. Istilah lain dari filsafat ilmu adalah theory of science (teori ilmu) dan science of science (ilmu tentang ilmu)
3.      Penalaran, Logika, Sumber Pengetahuan
3.1  Penalaran
A. Pengertian Penalaran
Penalaran adalah kegiatan berpikir yang memiliki karakteristik tertentu, dalam menemukan suatu kebenaran. Atau dapat didefinisikan sebagai suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa penetahuan yang benar[1]. Penarikan kesimpulan itu dengan memperhatikan asas-asas pemikiran, yaitu (i) principium identitatis, (ii) principium contradictionis, (iii) principium exduxi tertii dan (iv) principium rationis sufficientis.
Jadi penalaran merupakan salah satu proses dalam berpikir yang menggabungkan dua pemikiran atau lebih untuk menarik sebuah kesimpulan untuk medapatkan pengetahuan baru.


B. Macam-macam penalaran
a. Penalaran Langsung
Penalaran langsung merupakan penalaran yang premisnya hanya sebuah proposisi dan langsung disusul dengan proposisi lain sebagai kesimpulannya. Penalaran langsung ditarik hanya dari satu premis saja. Premis adalah pernyataan yang telah diketahui sedangkan konklusi adalah kesimpulan baru.
Contoh : Semua bintang film memakai sabun Lux (S=P)
Jadi, sebagian pemakai sabun Lux adalah bintang film
Istilah penalaran langsung berasal dari Aristoteles untuk menunjukkan penalaran, yang premisnya hanya terdiri dari sebuah proposisi saja. Konklusinya ditarik langsung dari proposisi yang satu itu dengan membandingkan subjek dan predikatnya.
b. Penalaran Tidak Langsung
Penalaran tidak langsung, penarikkan konklusinya atas lebih dari satu proposisi. Konklusinya ditarik dari dua premis.
Contoh : Semua mahasiswa adalah anak pintar.
Dina adalah mahasiswa. Dina adalah anak pintar.
3.2 Logika
Logika berasal dari kata Yunani kuno (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa[2]. Dapat didefinisikan juga logika merupakan suatu cara untuk mendapatkan suatu pengetahuan dengan menggunakan akal pikiran, kata dan bahasa yang dilakukan secara sistematis. Terdapat berbagai cara merik kesimpulan, namu dalam dunia keilmuan dikenal 2 jenis yaitu logika induktif dan logika deduktif.
Logika induktif adalah suatu cara penarikan kesimpulan pada suatu proses berpikir dengan menyimpulkan sesuatu yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual
Contoh: Besi jika dipanaskan akan memuai, tembaga jika dipanaskan akan memuai juga. Begitu pun aluminium dan berbagai batang logam lain jika dipanaskam akan turut memuai. Maka, berdasarkan kenyataan individual ini dapat ditarik kesimpulan yang bersifat umum yaitu semua logam bila dipanaskan akan memuai
Logika deduktif adalah suatu cara penarikan kesimpulan pada suatu proses berpikir yang sebaliknya dari logika induktif. Dalam proses berpikir ini dari pernyataan umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus.
Contoh:
-          Semua logam jika dipanaskan akan memuai
-          Besi termasuk logam
-          Maka, jika besi dipanaskan akan memuai

-          Apabila Tuti belajar, ia akan lulus ujian
-      Tuti rajin belajar
-      Maka, Tuti akan lulus ujian

Logika sebagai sarana berpikir manusia memberikan jaminan bahwa pengetahuan yang didapat sebagai hasil dari penarikan kesimpulan adalah shahih. Logika menuntut dan menjaga proses berpikir itu terhindar dari kekeliruan-kekeliruan, sehingga dengan demikian kecermatan dalam berpikir dapat dicapai. Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga dapat dianggap sebagai cabang matematika.
Secara terperinci, logika digunakan antara lain :
a)      Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren
b)      Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak (berpikir tingkat tinggi), cermat dan objektif
c)      Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir sejarah tajam dan mandiri
d)      Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis
e)      Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpikir, kekeliruan serta kesesatan
f)       Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian

3.3 Sumber Pengetahuan
       Sumber pengetahuan merupakan aspek-aspek yang mendasari lahirnya ilmu pengetahuan yang berkembang dan muncul dalam kehidupan manusia. Menurut filosof dan ilmuwan muslim, sumber utama ilmu pengetahuan adalah wahyu yang termanifestasikan dalam Alquran dan As-sunnah, selain empiris dan rasional. Sedangkan menurut filosof dan ilmuwan Barat sumber ilmu pengetahuan hanya dibatasi pada sumber utama yaitu pengetahuan yang lahir dari pertimbangan rasio (akal atau deduksi) dan pengetahuan yang
dihasilkan melalui pengalaman (empiris dan induksi).  Sedangkan Amsal Bakhtiar mengungkapkan ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan antara lain:
a.       Empirisme
       Kata ini berasal dari kata Yunani empeirikos, artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata Yunaninya, pengalaman yang dimaksudkan ialah pengalaman inderawi.
b.      Rasionalisme
       Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Menusia memperoleh penegetahuan melalui kegiatan menangkap objek.
Bagi aliran ini kekeliruan pada aliran empirisme yang disebabkan kelemahan alat indera dapat dikoreksi, seandainya akal digunakan.
c.       Intuisi
       Menurut Henry Bergson intuisi adalah hasil dari evolusi pemahaman yang tertinggi. Kemampuan ini mirip dengan insting, tetapi berbeda dengan kesadaran dan kebebasannya.Ia juga mengatakan bahwa intuisi adalah suatu pengetahuan yang langsung, yang mutlak dan bukan pengetahuan yang nisbi.
Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur, intuisi tidak dapat diandalkan.
d.      Wahyu
       Wahyu adalah pengetahuan yang disampaikan oleh ALLAH kepada manusia lewat perantaraan para nabi.
       Wahyu Allah (agama) berisikan pengetahuan, baik mengenai kehidupan seseorang yang terjangkau oleh pengalaman, maupun yang mencakup masalah transendental, seperti latar belakang dan tujuan penciptaan manusia, dunia dan segenap isinya serta kehidupan diakhirat nanti.
Dari uraian diatas, yang dapat dijadikan sumber pengetahuan adalah wahyu, pengalaman dan rasio. Sedangkan intuisi tidak dapat digunakan sebagai sumber ilmu pengetahuan karena ia bersifat personal dan tidak bisa diramalkan serta bersifat tiba-tiba atau seketika
4.      Kriteria Kebenaran dalam Filsafat
Untuk menentukan kebenaran suatu pengetahuan ada tiga teori yang dapat dijadikan sebagai kriteria, yaitu:
a.       Teori koherensi (teori kebenaran saling berhubungan)
Teori yang menyimpulkan bahwa suatu pernyataan dianggap benar bilaman pernyataan itu bersifat saling berhubungan dengan pernyataan sebelumnya yang kita anggap benar. Misalnya jika kita beranggapan bahwa semua makhluk hidup akan mati adalah benar, maka pernyataan bahwa pohon kelapa sebagai makhluk hidup pasti akan mati adalah benar pula

b.      Teori korespondensi ( teori kebenaran saling kesesuaian)
Teori ini berpandangan bahwa suatu pernyataan itu benar apabila pernyataan itu saling berkesesuaian dengan kenyataan atau realitas. Kebenaran demikian dapat dibuktikan secara langsung pada dunia kenyataan. Misalnya, Tugu Monas ada di Jakarta adalah benar, karena secara realita benar

c.       Teori pragmatisme (teori kebenaran konsekuensi kegunaan)
Teori ini menyatakan bahwa kebenaran suatu pernyataan diukur dari kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional atau bermanfaat dalam kehidupan

5.      Objek Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu memiliki objek material dan objek formal sendiri
a.       Objek Material Filsafat Ilmu
Objek material filsafat ilmu adalah ilmu itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode imiah tertentu, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara umum[3]
b.      Objek Formal Filsafat Ilmu
Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat ilmu pengetahuan, artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan.



BAB 3
KESIMPULAN

       Ilmu diartikan sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara sistematis menurut metode ilmiah tertentu. Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakekat kebenaran segala sesuatu.
       Penalaran sebagai suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa penetahuan yang benar. Logika merupakan suatu cara untuk mendapatkan suatu pengetahuan dengan menggunakan akal pikiran, kata dan bahasa yang dilakukan secara sistematis. Cara mendapatkan kebenaran bisa lewat pengalaman, akal, intuisi dan wahyu. Objek Filsafat Ilmu adalah ilmu pengetahuan itu dan hakikat ilmu itu sesungguhnya



DAFTAR PUSTAKA

Adib,Mohammad. 2011. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Bakhtiar, Amsal.2010. Filsafat Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Ihsan, Drs. H.A Fuad. 2010. Filsafat Ilmu, Jakarta: Rineka Cipta
Pusat Bahasa Depdiknas. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Balai Pustaka



[1] Drs. H.A Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu, Rineka Cipta, Jakarta, 2010, hlm.116
[2] Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Logika
[3] Drs. H.A Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu, Rineka Cipta, Jakarta, 2010, hlm.15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LAPORAN KKL ( KULIAH KERJA LAPANGAN ) FAI UNIAT (Universitas Islam Attahiriyah)

https://drive.google.com/folderview?id=1QsYXAAC12ZFAC3ZtvdvvHF_AnsawW8n5