Selasa, 30 Juni 2020

MAKALAH STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEMPORER


BAB  I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Guru di dalam melaksanakan pembelajaran, juga harus bisa memilih maupun menetapkan suatu pendekatan pembelajaran yang tepat di kelas sehingga hasil pembelajaran lebih optimal, selayaknya seseorang dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari yang harus mampu menetapkan sasaran yang hendak dicapai. Guru pun demikian, harus bisa menetapkan pendekatan pembelajaran yang tepat.
Masing – masing individu akan memilih cara dan gayanya sendiri untuk belajar dan mengajar, namun setidak-tidaknya ada karakteristik tertentu dalam pendekatan pembelajaran tertentu yang khas dibandingkan dengan pendekatan lain. Salah satu contoh pendekatan pembelajaran adalah pendekatan konstruktivisme. Martin. Et. Al (dalam Gerson Ratumanan, 2002) mengemukakan bahwa konstruktivisme menekankan pentingnya setiap siswa aktif mengkonstruksikan pengetahuan melalui hubungan saling mempengaruhi dari belajar sebelumnya dengan belajar baru. Hubungan tersebut dikonstruksikan oleh siswa untuk kepentingan mereka sendiri. Elemen kuncinya adalah bahwa orang belajar secara aktif mengkonstruksikan pengetahuan mereka sendiri, membandingkan informasi baru dengan pemahaman sebelumnya dan menggunakannya untuk menghasilkan pemahaman baru. Untuk itu, setiap pelajaran di sekolah perlu diarahkan untuk selalu mendidik siswa agar mengkonstruksikan pengetahuannya.

B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud dengan konstruktivisme ?
2.      Bagaimana teori pembelajaran konstruksivisme ?
3.      Siapa saja tokoh – tokoh yang memiliki pemikiran tentang konstruksivisme?
4.      Bagaimana studi analisis konstruktivisme ?

C.    TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan konstruktivisme.
2.      Untuk mengetahui bagaimana pembelajaran menurut konstruktivisme.
3.      Untuk mengetahui siapa saja tokoh – tokoh yang memiliki pemikiran tentang konstruksivisme.
4.      Untuk mengetahui bagaimana studi analisis konstruktivisme.






BAB  II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Konstruktivisme
Konstruktivisme berasal dari kata konstruktiv dan isme. Konstruktiv berarti bersifat membina, memperbaiki, dan membangun. Sedangkan Isme dalam kamus Bahasa Inonesia berarti paham atau aliran. Konstruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri. Pandangan konstruktivis dalam pembelajaran mengatakan bahwa anak-anak diberi kesempatan agar menggunakan strateginya sendiri dalam belajar secara sadar, sedangkan  guru yang membimbing siswa ke tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Tran Vui juga mengatakan bahwa teori konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitasi orang lain. Sedangkan menurut Martin. Et. Al mengemukakan bahwa konstruktivisme menekankan pentingnya setiap siswa aktif mengkonstruksikan pengetahuan melalui hubungan saling mempengaruhi dari belajar sebelumnya dengan belajar baru.

B.     Teori Pembelajaran Kontruktivisme
Teori konstruktivisme didefinisikan sebagai  pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan aliran behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus respon, konstruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Demikian ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Model pembelajaran ini dikembangkan dari teori belajar konstruktivisme yang lahir dari gagasan Pieget dan vigotsky.

1.      Ciri-ciri Pembelajaran Konstruktivisme
Ada sejumlah ciri-ciri proses pembelajaran yang sangat ditekankan oleh teori konstruktivisme, yaitu:
a.       Menekankan pada proses belajar, bukan proses mengajar
b.      Mendorong terjadinya kemandirian dan inisiatif belajara pada siswa
c.       Memandang siswa sebagai pencipta kemauan dan tujuan yang ingin dicapai
d.      Berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses, bukan menekan pada hasil
e.       Mendorong siswa untuk melakukan penyelidikan
f.        Menghargai peranan pengalaman kritis dalam belajar
g.      Mendorong berkembangnya rasa ingin tahu secara alami pada siswa
h.      Penilaian belajar lebih menekankan pada kinerja dan pemahaman siswa
i.        Berdasarkan proses belajarnya pada prinsip-prinsip toeri kognitif
j.        Banyak menggunakan terminologi kognitif untuk menjelaskan proses  pembelajaran, seperti prediksi, infernsi, kreasi, dan analisis
k.      Menekankan bagaimana siswa belajar
l.        Mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam dialog atau diskusi dengan siswa lain dan guru
m.    Sangat mendukung terjadinya belajar kooperatif
n.      Melibatkan siswa dalam situasi dunia nyata
o.      Menekankan pentingnya konteks siswa dalam belajar
p.      Memperhatikan keyakinan dan sikap siswa dalam belajar
q.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuan dan pemahaman baru yang didasarkan pada pengalaman nyata.

2.      Macam – macam Teori Belajar Konstruktivisme, yaitu sebagai berikut.
a.       Konstruktivisme Peaget
Konstruktivisme pembelajaran menurut teori ini beranggapan bahwa:
1)      Gambaran mental seseorang dihasilkan pada saat berinteraksi dengan lingkungannya;
2)      Pengetahuan yang diterima oleh seseorang merupakan proses pembinaan diri dan pemaknaan, bukan internalisasi makna dari luar.

b.      Konstruktivisme Personal
Konstruktivisme pembelajaran menurut teori ini beranggapan bahwa:
1)      Set mental (idea) yang dimiliki peserta didik memengaruhi panca indera dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pembentukan pengetahuan;
2)      Input yang diterima peserta didik tidak memiliki makan yang tetap;
3)      Peserta didik menyimpan input yang diterima ke dalam memorinya;
4)      Input yang tersimpan dalam memori tersebut dapat digunakan lagi untuk menguji input baru diterima;
5)      Peserta didik memiliki tanggung jawab terhadap apa yang diputuskannya.

c.       Konstruktivisme Sosial
Konstruktivisme pembelajaran menurut teori ini beranggapan bahwa :
1)      pengetahuan yang dibentuk peserta didik merupakan hasil interaksi dengan lingkungan sosial di sekitarnya, dengan demikian bahwa pengetahuan dibina oleh manusia;
2)      Pembinaan pengetahuan bersifat personal social;
3)      Pembina pengetahuan  personal adalah perantara sosial, dan Pembina pengetahuan sosial adalah perantara personal
4)      Pembinaan pengetahuan sosial merupakan hasil interaksi sosial;
5)      Interaksi sosial dengan yang lain adalah sebagian dari personal, pembinaan sosial dan pembinaan pengetahuan bawaan.
d.      Konstruktivisme Radikal
Konstruktivisme pembelajaran menurut teori ini beranggapan bahwa:
1)      Kebenaran tidak diketahui secara mutlak;
2)      Ilmu pengetahuan (scientific) hanya dapat diketahui dengan instrument yang tepa;
3)      Konsep yang terjadi adalah hasil yang diperoleh individu setelah melakukan uji coba untuk menggambarkan pengalaman subjektif.

C.    Tokoh-Tokoh Pembelajaran
Di antara tokoh-tokoh dalam pembelajaran konstruktivisme adalah John Dewey dengan pembelajaran demokratisnya, Piaget dan Vygotsky dengan teori konstruktivis kognitifnya, sampai pada Bruner dengan Belajar penemuannya. Untuk lebih mendalam bisa simak ulasan berikut ini:

1.      Dewey dan Pembelajaran Demokratis
Pembelajaran berbasis masalah menemukan akar intelektualnya pada penelitian John Dewey (Ibrahim & Nur, 2004). Dalam demokrasi dan pendidikan Dewey menyampaikan pandangan bahwa sekolah seharusnya mencerminkan masyarakat yang lebih besar dan kelas merupakan laboratorium untuk memecahkan masalah kehidupan nyata. Ilmu mendidik Dewey menganjurkan pembelajar untuk mendorong pebelajar terlibat dalam proyek atau tugas berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki masalah-masalah intelektual dan sosial. Dewey juga menyatakan bahwa pembelajaran disekolah seharusnya lebih memiliki manfaat dari pada abstrak dan pembelajaran yang memiliki manfaat terbaik dapat dilakukan oleh pebelajar dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan proyek yang  menarik dan pilihan mereka sendiri.

2.      Konstrukivisme Piaget dan Vygotsky
Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan diatas pandangan konstruktivis kognitif (Ibrahim dan Nur, 2004). Pandangan ini banyak didasarkan teori Piaget. Piaget mengemukakan bahwa pebelajar dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Bagi Piaget pengetahuan adalah konstruksi (bentukan) dari kegiatan/tindakan seseorang (Suparno, 1997). Pengetahuan tidak bersifat statis tetapi terus berevolusi.
Seperti halnya Piaget, Vygotsky juga percaya bahwa perkembangan intelektual terjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman baru dan menantang dan ketika mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang dimunculkan oleh pengalaman ini (Ibrahim & Nur, 2004). Untuk memperoleh pemahaman individu mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki.
Piaget memandang bahwa tahap-tahap perkembangan intelektual individu dilalui tanpa memandang latar konteks sosial dan budaya individu. Sementara itu, Vygotsky memberi tempat lebih pada aspek sosial pembelajaran. Ia percaya bahwa interaksi sosial dengan orang lain mendorong terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual pembelajar. Implikasi dari pandangan Vygotsky dalam pendidikan adalah bahwa pembelajaran terjadi melalui interaksi sosial dengan pembelajar dan teman sejawat. Melalui tantangan dan bantuan dari pembelajar atau teman sejawat yang lebih mampu, pebelajar bergerak ke dalam zona perkembangan terdekat mereka dimana pembelajaran baru terjadi (Ibrahim dan Nur, 2004).


3.      Bruner dan Belajar Penemuan
Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan psikologi belajar kognitif. Ia telah mengembangkan suatu model instruksional kognitif yang sangat berpengaruh yang disebut dengan belajar penemuan. Bruner menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dan dengan sendirinya memberikan  hasil yang lebih baik. Berusaha sendiri untuk pemecahan masalah dan pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna (Dahar, 1998).
Bruner menyarankan agar pebelajar hendaknya belajar melalui partisipasi secara aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip agar mereka dianjurkan untuk memperopleh pengetahuan. Perlunya pembelajar penemuan didasarkan pada keyakinan bahwa pembelajaran sebenarnya melalui penemuan pribadi.

D.    Studi Analisis Teori Kontruktivisme
Dilihat dari keunggulan dan kelemahannya.

1.      Pembelajaran dengan pendekatan kontruktivisme memiliki keunggulan antara lain:
a.       Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya.
b.      Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena, sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa. Pembelajaran konstruktivisme memberi siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya. Ini dapat mendorong siswa berpikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksi tentang model dan teori, mengenalkan gagasan-gagasanpada saat yang tepat.
c.       Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks, baik yang telah dikenal maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai strategi belajar. Murid yang belajar secara konstruktivisme diberi peluang untuk membina sendiri kefahaman mereka tentang sesuatu. Ini menjadikan mereka lebih yakin kepada diri sendiri dan berani menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru.
d.      Pembelajaran Konstruktivisme mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan merka setelah menyadari kemajuan mereka serta memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan mereka. Kefahaman murid tentang sesuatu konsep dan idea lebih jelas apabila mereka terlibat secara langsung dalam pembinaan pengetahuan baru. Seorang murid yang memahami apa yang dipelajari akan dapat mengaplikasikan pengetahuan yang baru dalam kehidupan dan situasi baru.
e.       Pembelajaran Konstruktivisme memberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu jawaban yang benar.
f.        Murid yang berkemahiran sosial boleh bekerjasama dengan orang lain dalam menghadapi sebarang cabaran dan masalah. Kemahiran sosial ini diperoleh apabila murid berinteraksi dengan rakan-rakan dan guru dalam membina pengetahuan mereka.

2.      Kelemahan dengan model konstruktivisme
Model pembelajaran konstruktivisme memiliki beberapa kendala pada pengaplikasiannya. Ada beberapa kendala yang mungkin timbul dalam penerapan teori belajar dengan pendekatan konstruktivis yaitu:
a.       Guru merasa kesulitan memberikan contoh-contoh konkrit dan realistik dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini guru harus memiliki kreatifitas yang tinggi dalam menyampaikan materi. Apalagi dalam hal ini guru sejarah kurang bisa membawa nilai-nilai masa lalu untuk diterapkan dalam masa sekarang.
b.      Guru tidak ingin berubah dalam menggunakan model pembelajaran. Guru merasa nyaman dengan model pembelajaran tradisional, yaitu model ceramah. Pandangan guru terhadap siswa diibaratkan siswa seperti bejana yang masih kosong perlu diisi oleh ilmu pengetahuan yang dimiliki guru. Guru merasa dengan menggunakan model tradisional saja bisa mendapatkann nilai yanng tinggi, sehingga tidak perlu menggunakan model pembelajaran lainnya.
c.       Guru berpikir bahwa pembelajaran konstruktivisme memerlukan lebih banyak waktu. Proses pembelajaran konstruktivisme ingin membuat siswa menjadi aktif, hal in terkadang juga terkendala dengan kemampuan kognitif siswa. Beban mengajar guru sudah terlalu banyak.
d.      Belum adanya alat-alat laboratorium yang cukup memadai untuk jumlah siswa yang besar. Kebanyakan sekolahan masih terbatas dalam menyediakan fasilitas guna mendukung pembelajaran konstruktivisme. Sarana dan prasarana kurang mendukug pembelajaran model konstruktivisme.
e.       Terlalu banyak bidang studi yang harus dipelajari dalam kurikulum. Masih ada banyak guru yang mengajar diluar bidang studi sesuai kualifikasinya. Sehingga penguasaan materi oleh guru kurang memadai.

Kesimpulannya adalah keunggulan yang didapat lebih banyak dari kelemahannya maka pendekatan pembelajaran konstruksivisme baik digunakan menjadi model pembelajaran.








BAB  III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada makalah ini, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Konstruktivisme berasal dari kata konstruktiv dan isme. Konstruktiv berarti bersifat membina, memperbaiki, dan membangun. Sedangkan Isme dalam berarti paham atau aliran. Konstruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri.
2.      Pembelajaran menurut konstruktivisme yaitu kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif, dimana siswa membangun sendiri pengetahuannya. Siswa mencari arti sendiri dari yang mereka pelajari, ini merupakan proses menyesuaikan konsep-konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berfikir yang telah ada dalam pikiran mereka.
3.      Dari studi analisis yang dilihat dari keunggulan yang didapat lebih banyak dari kelemahannya maka pendekatan pembelajaran konstruksivisme baik digunakan menjadi model pembelajaran.

B.     Saran
           Kami menyadari kekurangan dari makalah ini. Sehingga kami manyarankan kepada pembaca agar bisa memberikan kritik dan sarannya, agar makalah ini bisa jadi lebih baik. Terima kasih.





DAFTAR PUSTAKA

Budiningsih, C.A. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta. 2005
Gerson, R.Tanwey. Belajar dan Pembelajaran. Ambon: FKIP Universitas Pattimura Ambon. 2002
Hanafiah, Nanang. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung : Refika Aditama. 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LAPORAN KKL ( KULIAH KERJA LAPANGAN ) FAI UNIAT (Universitas Islam Attahiriyah)

https://drive.google.com/folderview?id=1QsYXAAC12ZFAC3ZtvdvvHF_AnsawW8n5