BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Guru di dalam melaksanakan
pembelajaran, juga harus bisa memilih maupun menetapkan suatu pendekatan
pembelajaran yang tepat di kelas sehingga hasil pembelajaran lebih optimal,
selayaknya seseorang dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari yang harus
mampu menetapkan sasaran yang hendak dicapai. Guru pun demikian, harus bisa
menetapkan pendekatan pembelajaran yang tepat.
Masing –
masing individu akan memilih cara dan gayanya sendiri untuk belajar dan mengajar,
namun setidak-tidaknya ada karakteristik tertentu dalam pendekatan pembelajaran
tertentu yang khas dibandingkan dengan pendekatan lain. Salah satu contoh pendekatan pembelajaran adalah pendekatan
konstruktivisme. Martin. Et. Al (dalam Gerson Ratumanan, 2002) mengemukakan
bahwa konstruktivisme menekankan pentingnya setiap siswa aktif
mengkonstruksikan pengetahuan melalui hubungan saling mempengaruhi dari belajar
sebelumnya dengan belajar baru. Hubungan tersebut dikonstruksikan oleh siswa
untuk kepentingan mereka sendiri. Elemen kuncinya adalah bahwa orang belajar
secara aktif mengkonstruksikan pengetahuan mereka sendiri, membandingkan
informasi baru dengan pemahaman sebelumnya dan menggunakannya untuk
menghasilkan pemahaman baru. Untuk itu, setiap pelajaran di sekolah perlu
diarahkan untuk selalu mendidik siswa agar mengkonstruksikan pengetahuannya.
B.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang
diatas, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan konstruktivisme ?
2. Bagaimana teori pembelajaran konstruksivisme ?
3. Siapa saja tokoh – tokoh yang memiliki pemikiran tentang
konstruksivisme?
4. Bagaimana studi analisis konstruktivisme ?
C.
TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan
makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan konstruktivisme.
2. Untuk mengetahui bagaimana pembelajaran menurut
konstruktivisme.
3. Untuk mengetahui siapa saja tokoh – tokoh yang memiliki pemikiran tentang
konstruksivisme.
4. Untuk mengetahui bagaimana studi analisis konstruktivisme.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Konstruktivisme
Konstruktivisme berasal dari
kata konstruktiv dan isme. Konstruktiv berarti bersifat membina, memperbaiki, dan membangun. Sedangkan Isme dalam kamus Bahasa Inonesia berarti paham atau aliran.
Konstruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa
pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri. Pandangan
konstruktivis dalam pembelajaran mengatakan bahwa anak-anak diberi kesempatan
agar menggunakan strateginya sendiri dalam belajar secara sadar,
sedangkan guru yang membimbing siswa ke tingkat pengetahuan yang lebih
tinggi. Tran Vui juga mengatakan bahwa teori konstruktivisme adalah sebuah teori yang
memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari
kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya
tersebut dengan bantuan fasilitasi orang lain. Sedangkan menurut Martin. Et. Al mengemukakan bahwa
konstruktivisme menekankan pentingnya setiap siswa aktif mengkonstruksikan
pengetahuan melalui hubungan saling mempengaruhi dari belajar sebelumnya dengan
belajar baru.
B. Teori Pembelajaran Kontruktivisme
Teori konstruktivisme didefinisikan sebagai
pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan
mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan aliran
behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat
mekanistik antara stimulus respon, konstruktivisme lebih memahami belajar
sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi
makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya. Konstruktivisme
sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita
selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Demikian
ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Model pembelajaran ini
dikembangkan dari teori belajar konstruktivisme yang lahir dari gagasan Pieget
dan vigotsky.
1. Ciri-ciri Pembelajaran Konstruktivisme
Ada sejumlah ciri-ciri proses pembelajaran
yang sangat ditekankan oleh teori konstruktivisme, yaitu:
a. Menekankan pada proses belajar, bukan proses mengajar
b. Mendorong terjadinya kemandirian dan inisiatif belajara
pada siswa
c. Memandang siswa sebagai pencipta kemauan dan tujuan yang
ingin dicapai
d. Berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses, bukan
menekan pada hasil
e. Mendorong siswa untuk melakukan penyelidikan
f.
Menghargai
peranan pengalaman kritis dalam belajar
g. Mendorong berkembangnya rasa ingin tahu secara alami pada
siswa
h. Penilaian belajar lebih menekankan pada kinerja dan
pemahaman siswa
i.
Berdasarkan
proses belajarnya pada prinsip-prinsip toeri kognitif
j.
Banyak
menggunakan terminologi kognitif untuk menjelaskan
proses pembelajaran, seperti prediksi, infernsi, kreasi, dan
analisis
k. Menekankan bagaimana siswa belajar
l.
Mendorong
siswa untuk berpartisipasi aktif dalam dialog atau diskusi dengan siswa lain
dan guru
m. Sangat mendukung terjadinya belajar kooperatif
n. Melibatkan siswa dalam situasi dunia nyata
o. Menekankan pentingnya konteks siswa dalam belajar
p. Memperhatikan keyakinan dan sikap siswa dalam belajar
q. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun
pengetahuan dan pemahaman baru yang didasarkan pada pengalaman nyata.
2.
Macam – macam Teori Belajar Konstruktivisme, yaitu sebagai berikut.
a.
Konstruktivisme
Peaget
Konstruktivisme
pembelajaran menurut teori ini beranggapan bahwa:
1)
Gambaran mental
seseorang dihasilkan pada saat berinteraksi dengan lingkungannya;
2)
Pengetahuan
yang diterima oleh seseorang merupakan proses pembinaan diri dan pemaknaan,
bukan internalisasi makna dari luar.
b.
Konstruktivisme
Personal
Konstruktivisme
pembelajaran menurut teori ini beranggapan bahwa:
1)
Set mental
(idea) yang dimiliki peserta didik memengaruhi panca indera dan pada akhirnya
akan berpengaruh terhadap pembentukan pengetahuan;
2)
Input yang
diterima peserta didik tidak memiliki makan yang tetap;
3)
Peserta didik
menyimpan input yang diterima ke dalam memorinya;
4)
Input yang
tersimpan dalam memori tersebut dapat digunakan lagi untuk menguji input baru
diterima;
5)
Peserta didik
memiliki tanggung jawab terhadap apa yang diputuskannya.
c.
Konstruktivisme
Sosial
Konstruktivisme
pembelajaran menurut teori ini beranggapan bahwa :
1)
pengetahuan
yang dibentuk peserta didik merupakan hasil interaksi dengan lingkungan sosial
di sekitarnya, dengan demikian bahwa pengetahuan dibina oleh manusia;
2)
Pembinaan
pengetahuan bersifat personal social;
3)
Pembina
pengetahuan personal adalah perantara
sosial, dan Pembina pengetahuan sosial adalah perantara personal
4)
Pembinaan
pengetahuan sosial merupakan hasil interaksi sosial;
5)
Interaksi
sosial dengan yang lain adalah sebagian dari personal, pembinaan sosial dan
pembinaan pengetahuan bawaan.
d.
Konstruktivisme
Radikal
Konstruktivisme
pembelajaran menurut teori ini beranggapan bahwa:
1)
Kebenaran tidak
diketahui secara mutlak;
2)
Ilmu
pengetahuan (scientific) hanya dapat diketahui dengan instrument yang tepa;
3)
Konsep yang
terjadi adalah hasil yang diperoleh individu setelah melakukan uji coba untuk
menggambarkan pengalaman subjektif.
C. Tokoh-Tokoh
Pembelajaran
Di antara tokoh-tokoh dalam pembelajaran konstruktivisme adalah
John Dewey dengan pembelajaran demokratisnya, Piaget dan Vygotsky dengan teori
konstruktivis kognitifnya, sampai pada Bruner dengan Belajar penemuannya. Untuk
lebih mendalam bisa simak ulasan berikut ini:
1. Dewey dan Pembelajaran Demokratis
Pembelajaran berbasis masalah menemukan akar intelektualnya pada
penelitian John Dewey (Ibrahim & Nur, 2004). Dalam demokrasi dan pendidikan
Dewey menyampaikan pandangan bahwa sekolah seharusnya mencerminkan masyarakat
yang lebih besar dan kelas merupakan laboratorium untuk memecahkan masalah
kehidupan nyata. Ilmu mendidik Dewey menganjurkan pembelajar untuk mendorong
pebelajar terlibat dalam proyek atau tugas berorientasi masalah dan membantu
mereka menyelidiki masalah-masalah intelektual dan sosial. Dewey juga
menyatakan bahwa pembelajaran disekolah seharusnya lebih memiliki manfaat dari pada
abstrak dan pembelajaran yang memiliki manfaat terbaik dapat dilakukan oleh
pebelajar dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan proyek yang
menarik dan pilihan mereka sendiri.
2. Konstrukivisme Piaget dan Vygotsky
Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan diatas pandangan
konstruktivis kognitif (Ibrahim dan Nur, 2004). Pandangan ini banyak didasarkan
teori Piaget. Piaget mengemukakan bahwa pebelajar dalam segala usia secara
aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan
mereka sendiri. Bagi Piaget pengetahuan adalah konstruksi (bentukan) dari
kegiatan/tindakan seseorang (Suparno, 1997). Pengetahuan tidak bersifat statis
tetapi terus berevolusi.
Seperti halnya Piaget, Vygotsky juga percaya bahwa perkembangan
intelektual terjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman baru dan
menantang dan ketika mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang dimunculkan
oleh pengalaman ini (Ibrahim & Nur, 2004). Untuk memperoleh pemahaman
individu mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan awal yang telah
dimiliki.
Piaget memandang bahwa tahap-tahap perkembangan intelektual
individu dilalui tanpa memandang latar konteks sosial dan budaya individu.
Sementara itu, Vygotsky memberi tempat lebih pada aspek sosial pembelajaran. Ia
percaya bahwa interaksi sosial dengan orang lain mendorong terbentuknya ide
baru dan memperkaya perkembangan intelektual pembelajar. Implikasi dari
pandangan Vygotsky dalam pendidikan adalah bahwa pembelajaran terjadi melalui
interaksi sosial dengan pembelajar dan teman sejawat. Melalui tantangan dan
bantuan dari pembelajar atau teman sejawat yang lebih mampu, pebelajar bergerak
ke dalam zona perkembangan terdekat mereka dimana pembelajaran baru terjadi
(Ibrahim dan Nur, 2004).
3. Bruner dan Belajar Penemuan
Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan psikologi
belajar kognitif. Ia telah mengembangkan suatu model instruksional kognitif
yang sangat berpengaruh yang disebut dengan belajar penemuan. Bruner menganggap
bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh
manusia dan dengan sendirinya memberikan hasil yang lebih baik. Berusaha
sendiri untuk pemecahan masalah dan pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan
pengetahuan yang benar-benar bermakna (Dahar, 1998).
Bruner menyarankan agar pebelajar hendaknya belajar melalui
partisipasi secara aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip agar mereka
dianjurkan untuk memperopleh pengetahuan. Perlunya pembelajar penemuan
didasarkan pada keyakinan bahwa pembelajaran sebenarnya melalui penemuan
pribadi.
D. Studi
Analisis Teori Kontruktivisme
Dilihat
dari keunggulan dan kelemahannya.
1. Pembelajaran dengan pendekatan kontruktivisme memiliki
keunggulan antara lain:
a. Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan
kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan
bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa
memberikan penjelasan tentang gagasannya.
b. Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi
pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau
rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas
pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena,
sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang
fenomena yang menantang siswa. Pembelajaran konstruktivisme memberi siswa
kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya. Ini dapat mendorong siswa
berpikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksi tentang model dan teori,
mengenalkan gagasan-gagasanpada saat yang tepat.
c. Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi
kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk
memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks, baik yang
telah dikenal maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan
berbagai strategi belajar. Murid yang belajar secara konstruktivisme diberi
peluang untuk membina sendiri kefahaman mereka tentang sesuatu. Ini menjadikan
mereka lebih yakin kepada diri sendiri dan berani menghadapi dan menyelesaikan
masalah dalam situasi baru.
d. Pembelajaran Konstruktivisme mendorong siswa untuk
memikirkan perubahan gagasan merka setelah menyadari kemajuan mereka serta memberi
kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan mereka. Kefahaman
murid tentang sesuatu konsep dan idea lebih jelas apabila mereka terlibat
secara langsung dalam pembinaan pengetahuan baru. Seorang murid yang memahami
apa yang dipelajari akan dapat mengaplikasikan pengetahuan yang baru dalam
kehidupan dan situasi baru.
e. Pembelajaran Konstruktivisme memberikan lingkungan
belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling
menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu jawaban yang benar.
f.
Murid yang
berkemahiran sosial boleh bekerjasama dengan orang lain dalam menghadapi
sebarang cabaran dan masalah. Kemahiran sosial ini diperoleh apabila murid
berinteraksi dengan rakan-rakan dan guru dalam membina pengetahuan mereka.
2. Kelemahan dengan model konstruktivisme
Model
pembelajaran konstruktivisme memiliki beberapa kendala pada pengaplikasiannya.
Ada beberapa kendala yang mungkin timbul dalam penerapan teori belajar dengan
pendekatan konstruktivis yaitu:
a. Guru merasa kesulitan memberikan contoh-contoh konkrit
dan realistik dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini guru harus memiliki
kreatifitas yang tinggi dalam menyampaikan materi. Apalagi dalam hal ini guru
sejarah kurang bisa membawa nilai-nilai masa lalu untuk diterapkan dalam masa
sekarang.
b. Guru tidak ingin berubah dalam menggunakan model
pembelajaran. Guru merasa nyaman dengan model pembelajaran tradisional, yaitu
model ceramah. Pandangan guru terhadap siswa diibaratkan siswa seperti bejana
yang masih kosong perlu diisi oleh ilmu pengetahuan yang dimiliki guru. Guru
merasa dengan menggunakan model tradisional saja bisa mendapatkann nilai yanng
tinggi, sehingga tidak perlu menggunakan model pembelajaran lainnya.
c. Guru berpikir bahwa pembelajaran konstruktivisme
memerlukan lebih banyak waktu. Proses pembelajaran konstruktivisme ingin
membuat siswa menjadi aktif, hal in terkadang juga terkendala dengan kemampuan
kognitif siswa. Beban mengajar guru sudah terlalu banyak.
d. Belum adanya alat-alat laboratorium yang cukup memadai
untuk jumlah siswa yang besar. Kebanyakan sekolahan masih terbatas dalam
menyediakan fasilitas guna mendukung pembelajaran konstruktivisme. Sarana dan
prasarana kurang mendukug pembelajaran model konstruktivisme.
e. Terlalu banyak bidang studi yang harus dipelajari dalam
kurikulum. Masih ada banyak guru yang mengajar diluar bidang studi sesuai
kualifikasinya. Sehingga penguasaan materi oleh guru kurang memadai.
Kesimpulannya adalah keunggulan yang didapat lebih banyak
dari kelemahannya maka pendekatan pembelajaran konstruksivisme baik digunakan
menjadi model pembelajaran.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada
makalah ini, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.
Konstruktivisme berasal dari
kata konstruktiv dan isme. Konstruktiv berarti bersifat membina, memperbaiki, dan membangun. Sedangkan Isme dalam berarti paham atau aliran. Konstruktivisme merupakan aliran
filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil
konstruksi kita sendiri.
2. Pembelajaran menurut konstruktivisme yaitu kegiatan belajar adalah
kegiatan yang aktif, dimana siswa membangun sendiri pengetahuannya. Siswa
mencari arti sendiri dari yang mereka pelajari, ini merupakan proses
menyesuaikan konsep-konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berfikir yang telah
ada dalam pikiran mereka.
3.
Dari studi
analisis yang dilihat dari keunggulan yang didapat lebih banyak dari kelemahannya
maka pendekatan pembelajaran konstruksivisme baik digunakan menjadi model
pembelajaran.
B.
Saran
Kami menyadari kekurangan dari
makalah ini. Sehingga kami manyarankan kepada pembaca agar bisa memberikan
kritik dan sarannya, agar makalah ini bisa jadi lebih baik. Terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Budiningsih, C.A. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta. 2005
Gerson, R.Tanwey. Belajar dan Pembelajaran. Ambon: FKIP
Universitas Pattimura Ambon. 2002
Hanafiah,
Nanang. Konsep Strategi Pembelajaran.
Bandung : Refika Aditama. 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar