Jumat, 08 Mei 2020

MAKALAH FILSAFAT ISLAM - IBNU THUFAIL - (Biografi, Karya-karya & Pemikiran)


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada zaman pertengahan, Islam di Barat dan Timur telah mencapai puncaknya. Baik dalam pemerintahan maupun ilmu pengetahuan. Tapi Islam di Barat (Spanyol) lebih menjadi perhatian dunia ketika mampu mentranfer khazanah-khazanah Islam di Timur. Dan bahkan mengembangkannya. Filsuf-filsuf yang karya-karya besarnya banyak dikaji dunia, lahir di kota ini. Diantaranya, Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd dan masih banyak lagi yang lainnya.
Ibnu Thufail dikatakan orang berada di suatu tingkat yang ajaib dalam ilmunya, yakni berada dalam tingkat mistik yang penuh kegembiraan. Beberapa orang menganggapnya sebagai orang panteis orang yang menganggap tidak ada beda lagi antara dirinya dengan Tuhan. Anggapan ini ternyata salah. Ia sebenarnya hanya seperti juga Al Ghazali , merasa telah mencapai tingkat ma’rifat yang tinggi seperti katanya: ”Fakana makana mimma lastu adkuruhu. Fadhonnu khoiran wala tasal anil khobari.” (terjadilah sesuatu yang tidak akan disebutkan akan tetapi sangkalah dia sebagai suatu kebaikan juga, dan jangan tanya tentang beritanya)
Ibnu Thufail yang menjadi kajian dalam makalah ini, juga mampu menyihir para cendekiawan dunia dengan karya monumentalnya, Hayy Ibnu Yaqzhan. Salah satu karya yang tersisa dalam sejarah pemikirannya. Risalah atau novel alegori yang bertajuk filosofis-mistis itu, menyita banyak perhatian. Hayy ibnu Yaqzhan adalah refleksi dari pengalaman filosofis-mistis Ibnu Thufail. Dimana karya itu tidak lepas dari penbacaan ulang atau pengaruh dari pemikiran Ibnu Shina. Namun Ibnu Thufail di sini menghadirkan karya yang berbeda.
Melalui kisah “Hayy ibnu Yaqzhan” ini, Ibnu Thufail menunjukkan bahwa dalam mencapai kebenaran, media yang digunakan bukanlah tunggal, akan tetapi banyak dan beragam. Dalam kisah itu, dia menampilkan sebuah novel aligoris yang mengkisahkan seorang bayi yang tedampar di hutan dan di rawat oleh seekor rusa sampai bayi itu dewasa. Tanpa latar belakang sosial budaya, anak itu dapat tumbuh dewasa dengan intelegensi yang tinggi dan mampu mencapai tingkat spiritualitas yang paling tinggi. Sehingga ia mampu menyingkap rahasia dibalik dunia ini dan mencapai titik Musyahadah, akhirnya dapat menemukan kebenaran sejati

B.     Rumusan Masalah
1.      Biografi Ibnu Thufail
2.      Karya-Karya Ibnu Thufail
3.      Filsafat / Pemikiran Ibnu Thufail

C.    Tujuan
Penulisan makalah ini mempunyai tujuan agar diperoleh pengetahuan tentang Biografi, Karya-Karyanya serta Pemikiran Filsafat Ibnu Thufail. 


BAB II
PEMBAHASAN
A.    BIOGRAFI IBNU THUFAIL
Nama lengkap Ibnu Thufail adalah Abu Bakar Muhammad Ibnu Abdul Al Malik Ibnu Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Thufail. Ia di lahirkan di Cadik, provinsi Granada, Spanyol pada tahun 506 H/ 1110 M. Ibnu Thufail termasuk dalam keluarga suku arab terkemuka, Qais. Dalam bahasa latin ia populer dengan sebutan Abu Bacer.
Sebagaimana filosof- filosof Muslim dimasanya (juga filosof- filosof Yunani), Ibnu Thufail juga memiliki disiplin ilmu dalam berbagai bidang (all round). Selain sebagai seorang filosof, ia juga ahli dalam ilmu kedokteran, matematika, astronomi, dan penyair yang sangat terkenal dari Dinasti Al – Muwahhid Spanyol. Ia memulai karirnya sebagai dokter praktek di Ganada. Lewat ketenarannya sebagai dokter, ia diangkat sebagai sekretaris Gubernur di provinsi itu. Kemudian ia diangkat menjadi sekretaris pribadi Gubernur Geuta dan Tangier oleh putra Al- Mu’min, penguasaAl- Muwahhid Spanyol. Selanjutnya ia diangkat menjadi dokter pemerintah dan sekaligus menjadi Qodhi.
Ibnu Thufail meletakkan jabatan sebagai dokter pemerintah pada tahun 587 H/ 1182 M karena alasan usianya yang sudah lanjut. Ia menganjurkan kepada khalifah supaya Ibnu Rusyd, muridnya, menggantikan kedudukannya. Khalifah Abu Yusuf Al- Mansur meluluskan permintaannya dengan langsung menuujuk Ibnu Rusyd sebagai dokter istana. Semasa hidupnya Ibnu Thufail menerima penghargaan dari khalifah. Ketika ia meninggal pun di Marokko pada tahun 580 H/ 1184 M khalifah ikut menghadiri upacara pemakamannya, juga sebagai penghargaan terhadapnya.


B.     KARYA-KARYA IBNU THUFAIL
Disebutkan bahwa Ibnu Thufail memiliki beberapa karangan tentang kedokteran, Astronomi, Filsafat, dan Psikologi. Tetapi tidak banyak buku- bukunya tentang psikologi yang sampai ketangan kami, kecuali kisah Hayy ibn Yaqzhan buku ini merupakan kisah filosofis- sufistik yang membuat Ibnu Thufail sangat terkenal.
Ernst Beker menyebutkan dalam bukunya Tarikh al- Qishshat al- Injiliziyah, yang diterbitkan pada tahun 1942 dan buku- buku lain berbahasa Eropa dan Arab bahwa kisah Hayy ibn Yaqzhan karangan Ibnu Thufail merupakan salah satu rujukan sumber novelnya, Robenson Corozo yang diterbitkan pada tahun 1719.
Karya tulis Ibnu Thufail yang dikenal orang sedikit sekali. Karyanya yang terpopuler dan masih dapat ditemukan sampai sekarang ialah Hayy ibn Yaqzhan ( Roman Philosophique), yang judul lengkapnya risalat Hayy ibn Yaqzhan fi Asrar al- Hikmat al- Masyriqiyyat.
Karya Ibnu Thufail ini merupakan suatu kreasi yang unik dari pemikiran filsafatnya. Sebelumnya, judul ini telah diberikan oleh Ibnu Sina kepada salah satu karya esoteriknya. Demikian juga, nama tokoh Absal dan Salman telah ada dalam buku Ibnu Sina, Salman wal Absal. Kendatipun kisah ini tidak orisinal, bahkan sebelum Ibnu Sina juga kisah ini sudah ada, seperti kisah Arab kuno, Hunain ibnu Ishak, Salman dan Absal Ibnu Arabi dan lain- lain namun Ibnu Thufail berhasil menjadikan kisah ini menjadi kisah romanfilosofis yang unik. Ketajaman filosofisnya yang menandai kebaruan kisah ini dan ia menjadikannya salah satu kisah yang paling asli dan paling indah pada abad pertengahan. Hal ini terbukti dengan banyaknya buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani, Latin, Inggris, Belanda, Perancis, Spanyol, Jerman, dan Rusia. Bahkan pada zaman moderenpun minat terhadap karya Ibnu Thufail ini tetap ada. Ahmad Amin ( 1952) menerbitkannya ke dalam edisi bahasa Arab yang diikuti terjemahannya dalam bahasa Persi dan Urdu.
Buku Hayy ibn Yaqzhan dinamakan juga Asrarul hikmah al- masraqiyyah. Judul yang sebenarnya dari buku itu sangat panjang yaitu: Risalah Hayyu bin Yaqdzan fi Asraril Hikmah Al Masraqiyyah, Istakhlashaha Min Durari Jawahiri Al- Fahilur – Ra’is Abi ‘Ali Ibn Sina, Al- Imam Al- Failasuf Al- kamil Al’Arif Abi Ja’far Muhammad bin Thufail ( risalah Hayyu bin Yaqzhan tentang rahasia filsafat al Masraqiyyah,diringkas oleh abu ja’far muhammad bin thufail dari mutiara ucapan Ar Ra’is Abi ‘Ali Ibn Sina). Dari judul itu saja cukup kita ketahui bahwa Ibnu Thufail mengikuti Ibnu Sina.


C.    FILSAFAT/PEMIKIRAN IBNU THUFAIL
Untuk memaparkan pandangan-pandangan filsafatnya, Ibnu Thufail memilih metode khusus dalam bentuk kisah filsafat, dalam bukunya yang terkenal hayy Ibn Yaqzhan.
1.      Metafisika
Dari hasil pengamatan dan pemikiran tentang alam semesta serta pengalaman hidupnya, Hayy sampai pada suatu kepastian bahwa alam ini diciptakan oleh Allah. Dengan akalnya, ia telah mengetahui adanya Allah. Dalam membuktikan adanya Allah Ibnu Thufail mengemukakan tiga argumen sebagai berikut:
a.       Argumen gerak ( al-harakat )
Gerak alam ini menjadi bukti tentang Adanya Allah, baik bagi orang yang meyakini alam baharu maupun bagi orang yang meyakini alam qadim.
Bagi orang yang meyakini alam baharu ( hadits ), berarti alam ini sebelumnya tidak ada, kemudian menjadi ada. Untuk menjadi ada mustahil dirinya sendiri mengadakan. Oleh karena itu, mesti ada penciptanya. Pencipta inilah yang menggerakkan alam dari tidak ada menjadi ada, yang disebutkan dengan Allah. Sementara itu, bagi orang yang meyakini alam kadim, alam ini tidak didahului oleh tidak ada dan selalu ada, gerak alam ini qadim tidak berawal dan tidak berakhir. Karena zaman tidak mendahuluinya, arti kata gerak ini tidak didahului oleh diam. Adanya gerak ini menunjukkan secara pasti adanya penggerak ( Allah ).
Secara faktual, disinilah terletak keistemewaan argumen gerak Ibnu Thufail yang dapat membuktikan adanya Allah, baik bagi orang yang meyakini alam qadim maupun bagi orang yang meyakini alam  aharu. Bagi orang yang meyakini alam qadim, penggerak ini berfungsi mengubah materi di alam dari potensial ke aktual, arti kata mengubah satu bentuk ada kepada bentuk ada yang lain. Sementara itu, bagi orang yang meyakini alam baharu, penggerak ini berfungsi mengubah alam dati tidak ada ( al-‘adam ) menjadi ada. Argumen gerak ini sebagai bukti alam qadim dan baharunya belum pernah dikemukakan oleh filosof muslim manapun sebelumnya. Dengan argumen ini, Ibnu Thufail memperkuat argumentasi bahwa tanpa wahyu akal dapat mengetahui adanya Allah.
b.      Argumen materi ( al-madat ) dan bentuk ( al-shurat )
Argumen ini, menurut Ibnu Thufail, dapat membuktikan adanya Allah, baik bagi yang meyakini alam qadim maupun haditsnya. Argumen ini didasarkan pada ilmu fisika dan masih ada korelasinya dengan dalil yang pertama ( al-harakat ). Hal ini dikemukakan oleh Ibnu thufail dalam kumpulan pokok pikiran yang terkait antara satu dengan lainnnya yakni sebgai berikut:
1)      Segala yang ada ini tersusun dari materi dan bentuk.
2)      Setiap materi membutuhkan bentuk.
3)      Bentuk tidak mungkin bereksistensi penggerak.
4)      Segala yang ada ( maujud ) untuk bereksistensi membutuhkan pencipta.
Dengan argumen diatas dapat dibuktikan adanya Allah sebagai pencipta alam ini. Ia maha kuasa dan bebas memilih serta tidak berawal dan tidak berakhir.
Bagi orang yang meyakini alam qadim, pencipta ini berfungsi mengeksistensikan wujud dari satu bentuk pada bentuk yang lain. sementara itu, bagi orang yang meyakini alam baharu, pencipta ini berfungsi menciptakan alam dari tidak ada menjadi ada. Pencipta (Allah) merupakan ‘illat (sebab) dan alam merupakan ma’lul (akibat). Antara keduanya mempunyai perbedaan yang tajam dan tudak bisa di samakan dalam berbagai aspek, seperti Allah kekal dan kaya, sedangkan alam berkesudahan dan berkehendak.
Berbeda dari Aristoteles dan Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail tidak hanya mempergunakan argumen ini untuk membuktikan adanya Allah bagi orang yang meyakini alam qadim, melainkan juga bagi orang yang meyakini alam baharu.
c.       Arguman al-Ghaiyyat dan al-inayat al-Ilahiyyat
Argumen  ini berdasarkan pada kenyataan bahwa segala yang ada di alam ini mempunyai tujuan tertentu. Ini merupakan inayah dari Allah. Argumen ini pernah dikemukakan Al-Kindi dan Ibnu Sina sebelumnya. Tampaknya, argumen ini lebih banyak diilhami oleh ajaran Islam. Tiga ‘illat (sebab) yang dikemukakan oleh Aristoteles, al-madat (materi), al-shurat ( bentuk ) dan al-failat ( pencipta ) dilengkapi oleh ibnu sina dengan ‘illat al ghaiyyat (sebab tujuan).
Ibnu Thufail (juga filosof muslim lain) yang berpegang dengan argmen ini, sesuai dengan qur’ani menolak bahwa alam diciptakan oleh Allah secara kebetulan. Pencipta seperti itu bukan timbul dari Pencipta Yang Maha Bijaksana.
Menurut Ibnu Thufail, alam ini tersusun sangat rapi dan sangat teratur. Semua planet: matahari, bulan, bintang, dan lainnya berbeda secara teratur. Begitu juga jenis hewan, semuanya dilengkapi dengan anggota tubuh yang begitu rupa. Semua anggota tubuh tersebut mempunyai tujuan-tujuan tertentu yag sangat efektif kemanfaatannya bagi hewan yang bersangkutan. Tampaknya, tidak satupn ciptaan Allah ini dalam keadaan percuma.
Ilustrasi diatas dapat dijadikan bukti bahwa terciptanya kerapian alam ini berdasarkan rahman dan rakhim  Allah SWT.
Dalam hal zat dan sifat Allah , Ibnu Thufail sejalan dengan pendpat Mu’tazilah. Sifat-sifat Allah yang maha sempurna tidak berlainan dengan zatnya. Allah mengetahui dan berkuasa bukan dengan sifat ilmu dan kadrat yang melekat pada zatnya tetapi dengan zatnya sendiri. Allah adalah pemberi wujud semua makhluk. Ia tidak mungkin dikhayalkan karena khayalan hanya mungkin terjadi terhadap hal – hal yang inderawi.
Kendatipun sifat identik dengan zat, Ibnu Thufail masih membuat rincian sifat Allah yang ia bagi pada 2 kelompok, yaitu:
1)      Sifat-sifat yang menetapkan wujud zat Allah, seperti ilmu, kadrat, dan hikmah. Sifat-sifat ini adalah zatNya sendiri. Hal ini untuk meniadakan ta’adud al-qudama’(berbilangnya yang qadim, sebagaimana paham mu’tazilah).
2)      Sifat salab yakni sifat- sifat yang menafikan paham kebendaaan dari zat Allah. Dengan demikian Allah suci dari kaitan dengan kebendaan.
2.      Fisika
Menurut Ibnu Thufail alam ini qadin dan juga baru. Alam qadim karena Allah menciptakan-Nya sejak azali tanpa didahului oleh zaman ( taqaddum zamany). Dilihat dari esensinya, alam adalah baru karena terwujudnya alam ( ma’lul) bergantug pada zat Allah ( illat).
Pandangan Ibnu Thufail mengenai qadim dan barunya alam, tampaknya merupakan kompromi antara pendapat Aristoteles yang menyatakan alam qadim dengan ajaran kaum Ortodok Islam yang menyatakan alam baru. Untuk jelasnya, Ibnu Thufail memberikan contoh sebagai berikut.
Sebagaimana ketika anda menggenggam suatu benda, kemudian nda gerakan tangan anda, maka benda meski bergerak mengikuti gerak tangan anda. Gerakan benda tersebut  tidak terlambat disegi zaman dan hanya keterlambatan dari segi  zat. Demikianlah alam ini seluruhnya merupakan akibat dan diciptakan oleh Allah tanpa zaman. Firman Allah: Sesungguh- Nya keadaannya apabila ia menghendaki sesuatu hanyalah berfirman kepada- Nya: jadilah, maka terjadilah ia. (Qs,yasin:50)
3.      Jiwa
Jiwa manusia menurut Ibnu Thufail adalah makhluk yang tertingi martabatnya. Manusia terdiri dari dua unsur, yakni jasad dan roh ( al madad wa al ruh). Badan tersusun dari unsur- unsur, sedangkan jiwa tidak tersusun. Jiwa bukan jisim dan bukan pula suatu daya yang ada di dalam jisim. Setelah badan hancur atau mengalami kematian, jiwa lepas dari badan, dan selanjutnya jiwa yang pernah mengenal Allah selama berada dalam jasad akan hidup dan kekal.
Menurut Ibnu Thufail ( juga filosof Muslim sebelumnya), jiwa terdiri dari tiga tingkat, dari yang rendah jiwa tumbuhan ( al- nafs al - nabatiyyat), ketingkat yang lebih tinggi jiwa hewan ( al- nafs al- hayawaniyyat), kemudian ketingkat jiwa yang martabatnya lebih tinggi dari keduannya yaitu jiwa manusia ( al –nafs al- natiqat).
Mengenai keabadian jiwa manusia dan hubungannya dengan Allah Ibnu Thufail mengelompokan jiwa dalam tiga keadaan berikut:
a.       Jiwa yang sebelum mengalami kematian jasad telah mengenal Allah, mengagumi kebesaran dan keagunganNya dan selalu ingat kepadaNya, maka jiwa seperti ini akan kekal dalam kebahagiaan.
b.      Jiwa yang telah mengenal Allah tetapi melakukan maksiat dan melupakan Allah, jiwa seperti ini akan abadi dalam kesengsaraan.
c.       Jiwa yang tidak pernah mengenal Allah dalam hidupnya, jiwa ini akan berakhir seperti hewan.
Sepertinya Ibnu Thufail meletakkan tanggung jawab manusia dihadapan Allah atas dasar pengetahuannya tentang Allah. Orang yang mengetahui Allah dan menjalankan kebaikan akan kekal dalam kebahagian. Orang yang mengetahui Allah tetapi terus melakukan suatu maksiat akan kekal dalam kesensaraan. Orang yang sama sekali tidak pernah mengetahui Allah jiwanya akan lenyap seperti lenyapnya jiwanya hewan.
4.      Epistemologi
Dalam epistemologi, Ibnu Thufail menjelaskan bahwa ma’rifat itu dimulai dari panca indra. Dengan pengamatan dan pengalaman dapat diperoleh pengetahuan indrawi. Hal- hal yang bersifat metafisis dapat diketahui dengan akal intuisi. Ma’rifat dilakukan dengan dua cara: pemikiran akal renungan, seperti yang dilakukan para filosof Muslim dan kasyf ruhani ( tasawuf), septi yang biasa dilakukan oleh kaum sufi. Kesesuaian antara nalar dan intuisi membentuk esensi epistemologi Ibnu Thufail.
Ma’rifat dengan kasyf ruhani, menurut Inbu Thufai dapat diperoleh dengan latihan-latihan rohani dengan penuh kesungguhan. Semakin tinggi latihan ini, ma’rifat akan semakin jelas dan berbagai hakikat akan tersingkat. Sinar tenag yang akan menyenangkaa, akan melingkup orang yang melakukannya jiwanya menjadi sadar sepenuhnya dan mengalami apa yang tidak pernah dilihat mata, didengar telinga, dirasa oleh hati. kasyf ruhani merupakan esktase yang tidak dapt dilukiskan dengan kata- kata sebab kata- kata hanya merupakan simbol- simbol yang terbatas pada pengamatan indrawi.
5.      Rekonsiliasi (taufiq) antara filsafat dan agama
Melalui roman filsafat hayy ibnu yaqzhan, Ibnu Thufail menekankan bahwa antara filsafat dan agama tidak bertentangan, dengan kata lain akal tidak bertentangan dengan wahyu.
Melalui roman filsafat hayy ibnu yaqzhan, Ibnu Thufail menekankan bahwa antara filsafat dan agama tidak bertentangan, dengan kata lain akal tidak bertentangan dengan wahyu.
Ibnu Thufail menokohkan hayy sebagai personifikasi dari sepirit alamiyah manusia yang disinari (illuminated) dari “ atas” tersebut mesti sesuai dengan roh Nabi Muhammad, yang ucapan- ucapannya, perlu ditafsirkan secara metaforis.
Ibnu Thufail menyadari, mengetahui dan berhubungan dengan Allah melalui pemikiran akal murni, yang hanya dapat dilakukan oleh orang- orang khusus (Ahli al- ma’rifat). Orang awam tidak mampu melakukannya. Justru itu, bagi orang awam sangat diperlukan dengan adanya agama yang dibawa oleh Nabi.
Agama diturunkan untuk semua orang dalam segala tingkatannya. Filsafat hanya dapat dijangkau oleh orang- orang yang bernalar tinggi yang jumlahnya sedikit agama melambangkan “dunia atas” (divine wold) dengan lambang- lamvang esksoteris. Agama penuh dengan perbandingan, persamaan dan persepsi- persepsi antrokomorfis, sehingga cukup mudah dipahami oleh orang banyak filsafat merupakan bagian dari kebenaran esoteris, yang mebafsirkan lambang- lambang itu agar diperoleh pengertian- pengertian yang hakiki.
Kenyataanya, Ibnu Thufail dengan penuh kesungguhan untuk merekonsiliasikan antara filsafat dengan agama. Hayy dalam roman filsafatnya, ia lambangkan sebagai akal yang dapat berkomunikasi dengan Allah. Sedangkan absal, ia lambngkan sebagai wahyu (agama) dalam bentuk esoteris, yang membawa hakikat (kebenaran). Sementara Salman, ia lambangkan sebagai wahyu (agama) dalam bentuk eksoteris yang juga membawa kebenaran. Kebenaran yang dihasilkan filsafat tidak bertentangan (sejalan) dengan kebenaran yang dikehendaki agama karena sumbernya sama yakni Allah SWT.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Nama lengkap Ibnu Thufail adalah Abu Bakar Muhammad Ibnu Abdul Al Malik Ibnu Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Thufail. Ia di lahirkan di Cadik, provinsi Granada, Spanyol pada tahun 506 H/ 1110 M. Ibnu Thufail termasuk dalam keluarga suku arab terkemuka, Qais. Dalam bahasa latin ia populer dengan sebutan Abu Bacer.
Sebagaimana filosof-filosof muslim di masanya (juga filosof-filosof yunani), Ibnu Thufail juga memiliki disiplin ilmu dalam berbagai bidang (all round). Sebagai seorang filosof, ia juga ahli dalam ilmu kedokteran, metafisika, astronomi.
Disebutkan bahwa Ibnu Thufail memiliki beberapa karangan tentang kedokteran, Astronomi, Filsafat, dan Psikologi. Tetapi tidak banyak buku- bukunya tentang psikologi yang sampai ketangan kami, kecuali kisah Hayy ibn Yaqzhan buku ini merupakan kisah filosofis- sufistik yang membuat Ibnu Thufail sangat terkenal.
Filsafat Ibnu Thufail meliputi yaitu Metafisika, Fisika, Jiwa, Epistemologi, Konsolidasi filsafat dan agama.


DAFTAR PUSTAKA
Zar Sirajuddin. 2004. Filsafat Islam filosof dan filsafatnya. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Fakhry Majid. 2001. Sejarah Filsafat Islam sebuah peta kronologis. Mizan. Bandung
http://zhebaulil.blogspot.co.id/2013/03/ibnu-thufail-dan-pemikirannya.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LAPORAN KKL ( KULIAH KERJA LAPANGAN ) FAI UNIAT (Universitas Islam Attahiriyah)

https://drive.google.com/folderview?id=1QsYXAAC12ZFAC3ZtvdvvHF_AnsawW8n5