BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pada zaman
pertengahan, Islam di Barat dan Timur telah mencapai puncaknya. Baik dalam
pemerintahan maupun ilmu pengetahuan. Tapi Islam di Barat (Spanyol) lebih
menjadi perhatian dunia ketika mampu mentranfer khazanah-khazanah Islam di
Timur. Dan bahkan mengembangkannya. Filsuf-filsuf yang karya-karya besarnya
banyak dikaji dunia, lahir di kota ini. Diantaranya, Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail
dan Ibnu Rusyd dan masih banyak lagi yang lainnya.
Ibnu Thufail
dikatakan orang berada di suatu tingkat yang ajaib dalam ilmunya, yakni berada
dalam tingkat mistik yang penuh kegembiraan. Beberapa orang menganggapnya
sebagai orang panteis orang yang menganggap tidak ada beda lagi antara dirinya
dengan Tuhan. Anggapan ini ternyata salah. Ia sebenarnya hanya seperti juga Al
Ghazali , merasa telah mencapai tingkat ma’rifat yang tinggi seperti katanya: ”Fakana makana mimma lastu adkuruhu. Fadhonnu khoiran wala tasal
anil khobari.” (terjadilah sesuatu yang tidak akan disebutkan akan
tetapi sangkalah dia sebagai suatu kebaikan juga, dan jangan tanya tentang
beritanya)
Ibnu Thufail
yang menjadi kajian dalam makalah ini, juga mampu menyihir para cendekiawan
dunia dengan karya monumentalnya, Hayy Ibnu Yaqzhan. Salah satu karya yang
tersisa dalam sejarah pemikirannya. Risalah atau novel alegori yang bertajuk
filosofis-mistis itu, menyita banyak perhatian. Hayy ibnu Yaqzhan adalah
refleksi dari pengalaman filosofis-mistis Ibnu Thufail. Dimana karya itu tidak
lepas dari penbacaan ulang atau pengaruh dari pemikiran Ibnu Shina. Namun Ibnu
Thufail di sini menghadirkan karya yang berbeda.
Melalui kisah
“Hayy ibnu Yaqzhan” ini, Ibnu Thufail menunjukkan bahwa dalam mencapai
kebenaran, media yang digunakan bukanlah tunggal, akan tetapi banyak dan
beragam. Dalam kisah itu, dia menampilkan sebuah novel aligoris yang
mengkisahkan seorang bayi yang tedampar di hutan dan di rawat oleh seekor rusa
sampai bayi itu dewasa. Tanpa latar belakang sosial budaya, anak itu dapat
tumbuh dewasa dengan intelegensi yang tinggi dan mampu mencapai tingkat
spiritualitas yang paling tinggi. Sehingga ia mampu menyingkap rahasia dibalik
dunia ini dan mencapai titik Musyahadah, akhirnya dapat menemukan kebenaran
sejati
B. Rumusan
Masalah
1. Biografi Ibnu Thufail
2. Karya-Karya Ibnu Thufail
3.
Filsafat / Pemikiran Ibnu Thufail
C. Tujuan
Penulisan makalah ini
mempunyai tujuan agar diperoleh pengetahuan tentang Biografi, Karya-Karyanya
serta Pemikiran Filsafat Ibnu Thufail.
BAB II
PEMBAHASAN
A. BIOGRAFI IBNU
THUFAIL
Nama lengkap Ibnu Thufail adalah Abu Bakar Muhammad Ibnu
Abdul Al Malik Ibnu Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Thufail. Ia di lahirkan di
Cadik, provinsi Granada, Spanyol pada tahun 506 H/ 1110 M. Ibnu Thufail
termasuk dalam keluarga suku arab terkemuka, Qais. Dalam bahasa latin ia
populer dengan sebutan Abu Bacer.
Sebagaimana filosof- filosof Muslim dimasanya (juga
filosof- filosof Yunani), Ibnu Thufail juga memiliki disiplin ilmu dalam
berbagai bidang (all round). Selain sebagai seorang filosof, ia juga
ahli dalam ilmu kedokteran, matematika, astronomi, dan penyair yang sangat
terkenal dari Dinasti Al – Muwahhid Spanyol. Ia memulai karirnya sebagai dokter
praktek di Ganada. Lewat ketenarannya sebagai dokter, ia diangkat sebagai
sekretaris Gubernur di provinsi itu. Kemudian ia diangkat menjadi sekretaris
pribadi Gubernur Geuta dan Tangier oleh putra Al- Mu’min, penguasaAl- Muwahhid
Spanyol. Selanjutnya ia diangkat menjadi dokter pemerintah dan sekaligus
menjadi Qodhi.
Ibnu Thufail meletakkan jabatan sebagai dokter pemerintah
pada tahun 587 H/ 1182 M karena alasan usianya yang sudah lanjut. Ia
menganjurkan kepada khalifah supaya Ibnu Rusyd, muridnya, menggantikan
kedudukannya. Khalifah Abu Yusuf Al- Mansur meluluskan permintaannya dengan
langsung menuujuk Ibnu Rusyd sebagai dokter istana. Semasa hidupnya Ibnu
Thufail menerima penghargaan dari khalifah. Ketika ia meninggal pun di Marokko
pada tahun 580 H/ 1184 M khalifah ikut menghadiri upacara pemakamannya, juga
sebagai penghargaan terhadapnya.
B. KARYA-KARYA
IBNU THUFAIL
Disebutkan bahwa Ibnu Thufail memiliki beberapa karangan
tentang kedokteran, Astronomi, Filsafat, dan Psikologi. Tetapi tidak banyak
buku- bukunya tentang psikologi yang sampai ketangan kami, kecuali kisah
Hayy ibn Yaqzhan buku ini merupakan kisah filosofis- sufistik yang membuat
Ibnu Thufail sangat terkenal.
Ernst Beker menyebutkan dalam bukunya Tarikh al-
Qishshat al- Injiliziyah, yang diterbitkan pada tahun 1942 dan buku- buku
lain berbahasa Eropa dan Arab bahwa kisah Hayy ibn Yaqzhan karangan Ibnu
Thufail merupakan salah satu rujukan sumber novelnya, Robenson Corozo yang
diterbitkan pada tahun 1719.
Karya tulis Ibnu Thufail yang dikenal orang sedikit
sekali. Karyanya yang terpopuler dan masih dapat ditemukan sampai sekarang
ialah Hayy ibn Yaqzhan ( Roman Philosophique), yang judul lengkapnya
risalat Hayy ibn Yaqzhan fi Asrar al- Hikmat al- Masyriqiyyat.
Karya Ibnu Thufail ini merupakan suatu kreasi yang unik
dari pemikiran filsafatnya. Sebelumnya, judul ini telah diberikan oleh Ibnu
Sina kepada salah satu karya esoteriknya. Demikian juga, nama tokoh Absal dan
Salman telah ada dalam buku Ibnu Sina, Salman wal Absal. Kendatipun
kisah ini tidak orisinal, bahkan sebelum Ibnu Sina juga kisah ini sudah ada,
seperti kisah Arab kuno, Hunain ibnu Ishak, Salman dan Absal Ibnu Arabi dan
lain- lain namun Ibnu Thufail berhasil menjadikan kisah ini menjadi kisah
romanfilosofis yang unik. Ketajaman filosofisnya yang menandai kebaruan kisah
ini dan ia menjadikannya salah satu kisah yang paling asli dan paling indah
pada abad pertengahan. Hal ini terbukti dengan banyaknya buku ini diterjemahkan
ke dalam bahasa Ibrani, Latin, Inggris, Belanda, Perancis, Spanyol, Jerman, dan
Rusia. Bahkan pada zaman moderenpun minat terhadap karya Ibnu Thufail ini tetap
ada. Ahmad Amin ( 1952) menerbitkannya ke dalam edisi bahasa Arab yang diikuti
terjemahannya dalam bahasa Persi dan Urdu.
Buku Hayy ibn Yaqzhan dinamakan juga Asrarul
hikmah al- masraqiyyah. Judul yang sebenarnya dari buku itu sangat panjang
yaitu: Risalah Hayyu bin Yaqdzan fi Asraril Hikmah Al Masraqiyyah, Istakhlashaha
Min Durari Jawahiri Al- Fahilur – Ra’is Abi ‘Ali Ibn Sina, Al- Imam Al-
Failasuf Al- kamil Al’Arif Abi Ja’far Muhammad bin Thufail ( risalah Hayyu
bin Yaqzhan tentang rahasia filsafat al Masraqiyyah,diringkas oleh abu
ja’far muhammad bin thufail dari mutiara ucapan Ar Ra’is Abi ‘Ali Ibn Sina).
Dari judul itu saja cukup kita ketahui bahwa Ibnu Thufail mengikuti Ibnu Sina.
C. FILSAFAT/PEMIKIRAN
IBNU THUFAIL
Untuk memaparkan pandangan-pandangan filsafatnya, Ibnu
Thufail memilih metode khusus dalam bentuk kisah filsafat, dalam bukunya yang
terkenal hayy Ibn Yaqzhan.
1.
Metafisika
Dari hasil pengamatan dan pemikiran tentang alam semesta
serta pengalaman hidupnya, Hayy sampai pada suatu kepastian bahwa alam ini
diciptakan oleh Allah. Dengan akalnya, ia telah mengetahui adanya Allah. Dalam
membuktikan adanya Allah Ibnu Thufail mengemukakan tiga argumen sebagai
berikut:
a.
Argumen gerak ( al-harakat )
Gerak alam ini
menjadi bukti tentang Adanya Allah, baik bagi orang yang meyakini alam baharu
maupun bagi orang yang meyakini alam qadim.
Bagi orang yang meyakini alam baharu ( hadits ), berarti
alam ini sebelumnya tidak ada, kemudian menjadi ada. Untuk menjadi ada mustahil
dirinya sendiri mengadakan. Oleh karena itu, mesti ada penciptanya. Pencipta
inilah yang menggerakkan alam dari tidak ada menjadi ada, yang disebutkan
dengan Allah. Sementara itu, bagi orang yang meyakini alam kadim, alam ini
tidak didahului oleh tidak ada dan selalu ada, gerak alam ini qadim tidak
berawal dan tidak berakhir. Karena zaman tidak mendahuluinya, arti kata gerak
ini tidak didahului oleh diam. Adanya gerak ini menunjukkan secara pasti adanya
penggerak ( Allah ).
Secara faktual, disinilah terletak keistemewaan argumen
gerak Ibnu Thufail yang dapat membuktikan adanya Allah, baik bagi orang yang
meyakini alam qadim maupun bagi orang yang meyakini alam aharu. Bagi
orang yang meyakini alam qadim, penggerak ini berfungsi mengubah materi di alam
dari potensial ke aktual, arti kata mengubah satu bentuk ada kepada bentuk ada
yang lain. Sementara itu, bagi orang yang meyakini alam baharu, penggerak ini
berfungsi mengubah alam dati tidak ada ( al-‘adam ) menjadi ada. Argumen
gerak ini sebagai bukti alam qadim dan baharunya belum pernah dikemukakan oleh
filosof muslim manapun sebelumnya. Dengan argumen ini, Ibnu Thufail memperkuat
argumentasi bahwa tanpa wahyu akal dapat mengetahui adanya Allah.
b.
Argumen materi ( al-madat ) dan
bentuk ( al-shurat )
Argumen ini,
menurut Ibnu Thufail, dapat membuktikan adanya Allah, baik bagi yang meyakini
alam qadim maupun haditsnya. Argumen ini didasarkan pada ilmu fisika dan masih
ada korelasinya dengan dalil yang pertama ( al-harakat ). Hal ini
dikemukakan oleh Ibnu thufail dalam kumpulan pokok pikiran yang terkait antara
satu dengan lainnnya yakni sebgai berikut:
1)
Segala yang ada ini tersusun dari
materi dan bentuk.
2)
Setiap materi membutuhkan bentuk.
3)
Bentuk tidak mungkin bereksistensi
penggerak.
4)
Segala yang ada ( maujud ) untuk
bereksistensi membutuhkan pencipta.
Dengan argumen diatas dapat dibuktikan adanya Allah
sebagai pencipta alam ini. Ia maha kuasa dan bebas memilih serta tidak berawal
dan tidak berakhir.
Bagi orang yang meyakini alam qadim, pencipta ini
berfungsi mengeksistensikan wujud dari satu bentuk pada bentuk yang lain.
sementara itu, bagi orang yang meyakini alam baharu, pencipta ini berfungsi
menciptakan alam dari tidak ada menjadi ada. Pencipta (Allah) merupakan ‘illat
(sebab) dan alam merupakan ma’lul (akibat). Antara keduanya
mempunyai perbedaan yang tajam dan tudak bisa di samakan dalam berbagai aspek,
seperti Allah kekal dan kaya, sedangkan alam berkesudahan dan berkehendak.
Berbeda dari Aristoteles dan Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail
tidak hanya mempergunakan argumen ini untuk membuktikan adanya Allah bagi orang
yang meyakini alam qadim, melainkan juga bagi orang yang meyakini alam baharu.
c.
Arguman al-Ghaiyyat dan
al-inayat al-Ilahiyyat
Argumen
ini berdasarkan pada kenyataan bahwa segala yang ada di alam ini mempunyai
tujuan tertentu. Ini merupakan inayah dari Allah. Argumen ini pernah
dikemukakan Al-Kindi dan Ibnu Sina sebelumnya. Tampaknya, argumen ini lebih
banyak diilhami oleh ajaran Islam. Tiga ‘illat (sebab) yang dikemukakan
oleh Aristoteles, al-madat (materi), al-shurat ( bentuk ) dan al-failat
( pencipta ) dilengkapi oleh ibnu sina dengan ‘illat al ghaiyyat (sebab
tujuan).
Ibnu Thufail (juga filosof muslim lain) yang berpegang
dengan argmen ini, sesuai dengan qur’ani menolak bahwa alam diciptakan oleh
Allah secara kebetulan. Pencipta seperti itu bukan timbul dari Pencipta Yang
Maha Bijaksana.
Menurut Ibnu Thufail, alam ini tersusun sangat rapi dan
sangat teratur. Semua planet: matahari, bulan, bintang, dan lainnya berbeda
secara teratur. Begitu juga jenis hewan, semuanya dilengkapi dengan anggota
tubuh yang begitu rupa. Semua anggota tubuh tersebut mempunyai tujuan-tujuan
tertentu yag sangat efektif kemanfaatannya bagi hewan yang bersangkutan.
Tampaknya, tidak satupn ciptaan Allah ini dalam keadaan percuma.
Ilustrasi diatas dapat dijadikan bukti bahwa terciptanya
kerapian alam ini berdasarkan rahman dan rakhim Allah SWT.
Dalam hal zat dan sifat Allah , Ibnu Thufail sejalan
dengan pendpat Mu’tazilah. Sifat-sifat Allah yang maha sempurna tidak berlainan
dengan zatnya. Allah mengetahui dan berkuasa bukan dengan sifat ilmu dan kadrat
yang melekat pada zatnya tetapi dengan zatnya sendiri. Allah adalah pemberi
wujud semua makhluk. Ia tidak mungkin dikhayalkan karena khayalan hanya mungkin
terjadi terhadap hal – hal yang inderawi.
Kendatipun
sifat identik dengan zat, Ibnu Thufail masih membuat rincian sifat Allah yang ia
bagi pada 2 kelompok, yaitu:
1)
Sifat-sifat yang menetapkan wujud zat
Allah, seperti ilmu, kadrat, dan hikmah. Sifat-sifat ini adalah zatNya sendiri.
Hal ini untuk meniadakan ta’adud al-qudama’(berbilangnya yang qadim,
sebagaimana paham mu’tazilah).
2)
Sifat salab yakni sifat- sifat
yang menafikan paham kebendaaan dari zat Allah. Dengan demikian Allah suci dari
kaitan dengan kebendaan.
2.
Fisika
Menurut Ibnu Thufail alam ini qadin dan juga baru. Alam
qadim karena Allah menciptakan-Nya sejak azali tanpa didahului oleh zaman ( taqaddum
zamany). Dilihat dari esensinya, alam adalah baru karena terwujudnya alam (
ma’lul) bergantug pada zat Allah ( illat).
Pandangan Ibnu Thufail mengenai qadim dan barunya alam,
tampaknya merupakan kompromi antara pendapat Aristoteles yang menyatakan alam
qadim dengan ajaran kaum Ortodok Islam yang menyatakan alam baru. Untuk
jelasnya, Ibnu Thufail memberikan contoh sebagai berikut.
Sebagaimana ketika anda menggenggam suatu benda, kemudian
nda gerakan tangan anda, maka benda meski bergerak mengikuti gerak tangan anda.
Gerakan benda tersebut tidak terlambat disegi zaman dan hanya
keterlambatan dari segi zat. Demikianlah alam ini seluruhnya merupakan
akibat dan diciptakan oleh Allah tanpa zaman. Firman Allah: Sesungguh- Nya
keadaannya apabila ia menghendaki sesuatu hanyalah berfirman kepada- Nya:
jadilah, maka terjadilah ia. (Qs,yasin:50)
3.
Jiwa
Jiwa manusia menurut Ibnu Thufail adalah makhluk yang
tertingi martabatnya. Manusia terdiri dari dua unsur, yakni jasad dan roh ( al
madad wa al ruh). Badan tersusun dari unsur- unsur, sedangkan jiwa tidak
tersusun. Jiwa bukan jisim dan bukan pula suatu daya yang ada di dalam jisim.
Setelah badan hancur atau mengalami kematian, jiwa lepas dari badan, dan
selanjutnya jiwa yang pernah mengenal Allah selama berada dalam jasad akan
hidup dan kekal.
Menurut Ibnu Thufail ( juga filosof Muslim sebelumnya),
jiwa terdiri dari tiga tingkat, dari yang rendah jiwa tumbuhan ( al- nafs al
- nabatiyyat), ketingkat yang lebih tinggi jiwa hewan ( al- nafs al-
hayawaniyyat), kemudian ketingkat jiwa yang martabatnya lebih tinggi dari
keduannya yaitu jiwa manusia ( al –nafs al- natiqat).
Mengenai
keabadian jiwa manusia dan hubungannya dengan Allah Ibnu Thufail mengelompokan
jiwa dalam tiga keadaan berikut:
a.
Jiwa yang sebelum mengalami kematian
jasad telah mengenal Allah, mengagumi kebesaran dan keagunganNya dan selalu
ingat kepadaNya, maka jiwa seperti ini akan kekal dalam kebahagiaan.
b.
Jiwa yang telah mengenal Allah tetapi
melakukan maksiat dan melupakan Allah, jiwa seperti ini akan abadi dalam
kesengsaraan.
c.
Jiwa yang tidak pernah mengenal Allah
dalam hidupnya, jiwa ini akan berakhir seperti hewan.
Sepertinya Ibnu Thufail meletakkan tanggung jawab manusia
dihadapan Allah atas dasar pengetahuannya tentang Allah. Orang yang mengetahui
Allah dan menjalankan kebaikan akan kekal dalam kebahagian. Orang yang
mengetahui Allah tetapi terus melakukan suatu maksiat akan kekal dalam
kesensaraan. Orang yang sama sekali tidak pernah mengetahui Allah jiwanya akan
lenyap seperti lenyapnya jiwanya hewan.
4.
Epistemologi
Dalam epistemologi, Ibnu Thufail menjelaskan bahwa
ma’rifat itu dimulai dari panca indra. Dengan pengamatan dan pengalaman dapat
diperoleh pengetahuan indrawi. Hal- hal yang bersifat metafisis dapat diketahui
dengan akal intuisi. Ma’rifat dilakukan dengan dua cara: pemikiran akal
renungan, seperti yang dilakukan para filosof Muslim dan kasyf ruhani (
tasawuf), septi yang biasa dilakukan oleh kaum sufi. Kesesuaian antara nalar
dan intuisi membentuk esensi epistemologi Ibnu Thufail.
Ma’rifat dengan kasyf ruhani, menurut Inbu Thufai
dapat diperoleh dengan latihan-latihan rohani dengan penuh kesungguhan. Semakin
tinggi latihan ini, ma’rifat akan semakin jelas dan berbagai hakikat akan
tersingkat. Sinar tenag yang akan menyenangkaa, akan melingkup orang yang
melakukannya jiwanya menjadi sadar sepenuhnya dan mengalami apa yang tidak
pernah dilihat mata, didengar telinga, dirasa oleh hati. kasyf ruhani
merupakan esktase yang tidak dapt dilukiskan dengan kata- kata sebab kata- kata
hanya merupakan simbol- simbol yang terbatas pada pengamatan indrawi.
5.
Rekonsiliasi (taufiq) antara filsafat
dan agama
Melalui roman filsafat hayy ibnu yaqzhan, Ibnu Thufail
menekankan bahwa antara filsafat dan agama tidak bertentangan, dengan kata lain
akal tidak bertentangan dengan wahyu.
Melalui roman filsafat hayy ibnu yaqzhan, Ibnu Thufail
menekankan bahwa antara filsafat dan agama tidak bertentangan, dengan kata lain
akal tidak bertentangan dengan wahyu.
Ibnu Thufail menokohkan hayy sebagai personifikasi dari
sepirit alamiyah manusia yang disinari (illuminated) dari “ atas”
tersebut mesti sesuai dengan roh Nabi Muhammad, yang ucapan- ucapannya, perlu
ditafsirkan secara metaforis.
Ibnu Thufail menyadari, mengetahui dan berhubungan dengan
Allah melalui pemikiran akal murni, yang hanya dapat dilakukan oleh orang-
orang khusus (Ahli al- ma’rifat). Orang awam tidak mampu melakukannya.
Justru itu, bagi orang awam sangat diperlukan dengan adanya agama yang dibawa
oleh Nabi.
Agama diturunkan untuk semua orang dalam segala
tingkatannya. Filsafat hanya dapat dijangkau oleh orang- orang yang bernalar
tinggi yang jumlahnya sedikit agama melambangkan “dunia atas” (divine wold)
dengan lambang- lamvang esksoteris. Agama penuh dengan perbandingan, persamaan
dan persepsi- persepsi antrokomorfis, sehingga cukup mudah dipahami oleh orang
banyak filsafat merupakan bagian dari kebenaran esoteris, yang mebafsirkan
lambang- lambang itu agar diperoleh pengertian- pengertian yang hakiki.
Kenyataanya, Ibnu Thufail dengan penuh kesungguhan untuk
merekonsiliasikan antara filsafat dengan agama. Hayy dalam roman filsafatnya,
ia lambangkan sebagai akal yang dapat berkomunikasi dengan Allah. Sedangkan
absal, ia lambngkan sebagai wahyu (agama) dalam bentuk esoteris, yang membawa
hakikat (kebenaran). Sementara Salman, ia lambangkan sebagai wahyu (agama)
dalam bentuk eksoteris yang juga membawa kebenaran. Kebenaran yang dihasilkan
filsafat tidak bertentangan (sejalan) dengan kebenaran yang dikehendaki agama
karena sumbernya sama yakni Allah SWT.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Nama lengkap Ibnu Thufail adalah Abu
Bakar Muhammad Ibnu Abdul Al Malik Ibnu Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Thufail. Ia
di lahirkan di Cadik, provinsi Granada, Spanyol pada tahun 506 H/ 1110 M. Ibnu
Thufail termasuk dalam keluarga suku arab terkemuka, Qais. Dalam bahasa latin
ia populer dengan sebutan Abu Bacer.
Sebagaimana filosof-filosof muslim di masanya (juga
filosof-filosof yunani), Ibnu Thufail juga memiliki disiplin ilmu dalam
berbagai bidang (all round). Sebagai seorang filosof, ia juga ahli dalam ilmu
kedokteran, metafisika, astronomi.
Disebutkan bahwa Ibnu Thufail memiliki
beberapa karangan tentang kedokteran, Astronomi, Filsafat, dan Psikologi.
Tetapi tidak banyak buku- bukunya tentang psikologi yang sampai ketangan kami,
kecuali kisah Hayy ibn Yaqzhan buku ini merupakan kisah filosofis-
sufistik yang membuat Ibnu Thufail sangat terkenal.
Filsafat Ibnu Thufail meliputi yaitu Metafisika, Fisika, Jiwa,
Epistemologi, Konsolidasi filsafat
dan agama.
DAFTAR PUSTAKA
Zar Sirajuddin.
2004. Filsafat Islam filosof dan filsafatnya. PT Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
Fakhry
Majid. 2001. Sejarah Filsafat Islam sebuah peta kronologis. Mizan.
Bandung
http://zhebaulil.blogspot.co.id/2013/03/ibnu-thufail-dan-pemikirannya.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar