BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu kalam
merupakan disiplin ilmu yang mengedepankan pembicaraan tentang
persoalan-persoalan kalam tuhan. Persoalan-persoalan kalam ini biasanya
mengarah pada perbincangan yang mendalam dengan dasar-dasar argumentasi, baik
rasional (aqliyah) maupun naqliyah.Argumentasi rasional yang dimaksud disini
adalah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan metode berpikir
filosofis. Pada ilmu kalam ditemukan pembahasan iman defenisi dan manifestasi serta
batasannya. Adapun pada ilmu tasawuf ditemukan pembahasan jalan atau metode
praktis untuk merasakan keyakinan dan ketentraman, serta upaya menyelamatkan
diri dari kemunafikan. Sememtara itu, filsafat adalah sebuah ilmu yang
digunakan untuk memproleh kebenaran rasional. Metode yang digunakanpun adalah
metode rasional.
Baik
ilmu kalam, filsafat, maupun tasawuf berurusan dengan hal yang sama, yaitu
kebenaran. Ilmu kalam, dengan metodenya sendiri berusaha mencari kebenaran
tentang tuhan dan yang berkaitan dengannya. Sedangkan metode pembahasan
filsafat tidak dilandasi oleh apapun, yang penelitiannya diarahkan dengan
menggunakan rasio untuk membuktikan kebenaran sesuatu yang dituntut oleh
dali-dalil yang mereka cari, proses penelitian ini dilakukan secara bertahap
hingga sampai pada suatu kesimpulan yang diyakini kebenarannya. Sementara itu,
ilmu kalam dan tasawuf mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk mengetahui /
mengenal Allah dengan dalil-dalil yang pasti, akan tetapi untuk mencapai tujuan
tersebut kedua ilmu ini mempergunakan metode yang berbeda . upaya mencapai
tujuan tersebut ilmu kalam mempergunakan dalil-dalil yamg bersifat rasional
sedangkan tasawuf lebih menitik beratkan pada perasaan batin dan intuisi, serta
tasawuf juga dengan metodenya yang tipikal berusaha menghampiri kebenaran yang
berkaitan dengan perjalanan spiritual menuju Allah.
Ilmu
kalam, filsafat, dan tasawuf memiliki hubungan, persaman,perbedaan, serta titik
singgung antara ilmu kalam dsan tasawuf yang akan di bahas pada bab kedua
nanti.
Dalam
makalah ini, masalah-masalah yang diuraikan adalah: pengertian ilmu
kalam,filsafat, dan tasawuf. titik persamaan, titik
perbedaan,hubungan ilmu tasawuf dengan ilmu kalam. hubungan ilmu tasawuf dengan
filsafat. hubungan tasawuf, ilmu kalam, dan filsafat. Dan tiitk singgung antara
ilmu kalam dan tasawuf. Untuk lebih jelasnya kita akan sama-sama membahas
tentang hubungan antara ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf sedikit banyaknya
nanti di bab kedua.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah Pengertian Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf ?
2. Bagaimanakah Hubungan Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf ?
C. Tujuan
1. Untuk Memahami Bagaimana Pengertian Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf
2. Untuk Memahami Bagaimanakah Hubungan Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ilmu
kalam,filsafat, dan tasawuf
Ilmu kalam biasa di sebut dengan beberapa nama, Antara lain: Ilmu
Ushuluddin, Ilmu Tauhid, Fiqh Al-Akbar, dan Teologi islam[1] .
Disebut ilmu ushuluddin karena ilmu ini membahas pokok-pokok agama
(ushuluddin); disebut ilmu tauhid karena ilmu ini membahas
keesaan Allah Swt. Di dalamnya di kaji pula tentang asma’
(nama-nama) dan af’al (perbuatan-perbuatan) Allah yang wajib, mustahil dan
ja’iz, sifat yang wajib, mustahil ,dan ja’iz, bagi Rasul-Nya.[2] Ilmu
Tauhid sendiri sebenarnya membahas keesaan Allah Swt, dan hal-hal
yang berkaitan dengannya, Ilmu kalam sama dengan ilmu tauhid,
tetapi argumentasi ilmu kalam lebih dikonsentrasikan pada penguasaan
logika.
Menurut William L. Resee filsafat berasal dari kata
Yunani Philo dan Sophia, Philos artinya
mencintai (terhadap) dan Sophia artinya (kebijaksanaan). Filsafat diartiakn
juga dengan sahabat pengetahuan. Selanjutnya ia
mengatakan bahwa pengertian filsafat pada mulanya
digunakan oleh Phytagoras yang mengartikan bahwa
manusia dapat dikategorikan dalam tiga tipe. 1) manusia
yang mencintai kesenangan(those who loved pleasure), 2) manusia yang
mencintai pekerjaan ( those who loved activity), dan 3)
manusia yang mencintai kebijaksanaan ( those who loved wisdom).
Maksud wisdom di sini adalah The concerned progress
toward salvation in religious terms ( suatu upaya serius
dalam mewujudkan perdamaian sebagaiman dikatakan dalam istilah-istilah agama).
Adapun Socrates mengatakan bahwa peranan filsafat adalah berpegang
teguh pada ilmu pengetahuan melalui usaha menjelaskan konsep-konsep (The gaining
of conceptual clarity).
Sedangkan arti kata tasawuf dan asal katanya menjadi perdebatan para ahli
bahasa. Ada yang mengatakan dari kata “shifa’’ artinya suci,
bersih ibarat kilat kaca, sebagian ulama mengatakan dari kata“shuff”, artinya
bulu domba sebab orang yang memasuki tasawuf itu memakai baju dari bulu domba,
dan sebagian yang mengatakan diambil dari kata “shuffah”, ialah
sekelompok sahabat nabi yang mengasingkan dirinya di suatu tempat terpencil di
samping mesjid nabi. Dan menurut Ibnu khaldum ia mendefenisikan
tasawuf adalah semacam ilmu syariat yang timbul kemudian didalam agama, asalnya
adalah bertekun ibadah dan memutuskan hubungan dengan segala sesuatu selain
Allah, hanya menghadap Allah semata. Menolak hiasan-hiasan ,serta membenci
perkara-perkara yang menipu orang banyak, kelezatan harta benda,dan kemegahan
dan menyendiri menuju jalan tuhan dalam khalwat dan
ibadah.[3]
B. Titik persamaan
Ilmu
kalam, filsafat, dan tasawuf mempunyai kemiripan objek kajian. Objek kajian ilmu kalam
adalah ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan
dengannya, objek kajian filsafat adalah
masalah ketuhanan di samping masalah alam, manusia, dan segala sesuatu yang
ada. Sementara itu objek kajian tasawuf adalah tuhan, yakni upaya-upaya
pendekatan terhadapnya. Jadi, dilihat dari aspek objeknya ketiga ilmu itu
membahas masalah yang berkaitan dengan ketuhanan.[4]
Argumentasi filsafat, ilmu kalam di bangun di atas dasar logika.
Oleh karena itu , hasil kajiannya bersipat spekulatif ( dugaan yang tak dapat
di buktikan secara empiris, riset, dan eksperimental).[5]
Kerelatifan hasil karya logika itu menyebabkan beragamnya kebenaran yang di
hasilkan.
Baik ilmu kalam, sebagaimana filsafat, maupun tasawuf berurusan
dengan hal yang sama, yaitu kebenaran. Ilmu kalam dengan metodenya sendiri
berusaha mencari kebenaran tentang tuhan dan yang
berkaitan dengannya. Filsafat dengan wataknya sendiri pula, berusaha
menghampiri kebenaran , baik tentang alam maupun manusia ( yang belum atau
tidak dapat dijangkau oleh ilmu pengetahuan karena berada di luar
atau di atas jangkauannya), atau tentang tuhan. Sementara itu
tasawuf juga dengan metodenya yang tifikal berusaha
menghampiri kebenaran yang berkaitan dengan perjalanan menuju tuhan.[6]
C. Titik Perbedaan
Perbedaan diantara ketiga ilmu tersebut terletak pada
aspek metodologinya. Ilmu kalam, sebagai ilmu yang
menggunakan logika, disamping argumentasi-argumentasi naqliyah
berfungsi untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama, yang sangat tanpak
apologinya. Pada dasarnya ilmu ini menggunakan metode dialektika (jadaliyah)
dikenal juga dengan istilah dialog keagamaan, ilmu kalam berisi
keyakinan-keyakinan kebenaran agama yang dipertahankan melalui argumen-argemen
rasional. Sebagian ilmuwan bahkan mengatakan bahwa ilmu ini berisi
keyakinan-keyakinan kebenaran, praktek dan pelaksanaan ajaran agama, serta
pengalaman keagamaan yang dijelaskan dengan pendekatan rasional.
Sementara itu, filsafat adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memproleh
kebenaran rasional. Metode yang digunakanpun adalah metode rasional. Filsafat
menghampiri kebenaran dengan cara menuangkan (mengembarakan atau
mengelanakan) akal budi secara radikal (mengakar) dan integral (menyeluruh)
serta universal (mengalam) tidak merasa terikat oleh ikatan
apapun, kecuali ikatan tangannnya sendiri yang bernama logika. Peranan filsafat
sebagaimana dikatakan Socrates adalah berpegang teguh pada ilmu
pengetahuan melalui usaha menjelaskan konsep-konsep (the gaining of
conceptual clarity).
Adapun ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa daripada rasio.
Oleh sebab itu, filsafat dan tasawuf sangat distingtif. Sebagai sebuah ilmu
yang prosesnya diperoleh dari rasa, ilmu tasawuf bersifat sangat
subjektif, yakni sangat berkaitan dengan pengalaman
seseoarang. itulah sebabnya, bahasa tasawuf sering tanpak
aneh bila dilihat dari aspek rasio. Hal ini karena pengalaman rasa sangat sulit
dibahasakan. Pengalaman rasa lebih mudah dirasakan langsung oleh orang yang
ingin memproleh kebenarannya dan mudah digambarkan dengan bahasa lambang,
sehingga sangat interpretable (dapat diinterpretasikan bermacam-macam).
Sebagian orang memandang bahwa ketiga ilmu itu memiliki jenjang
tertentu. Jenjang pertama adalah ilmu kalam, kemudian filsafat dan
yang terakhir adalah ilmu tasawuf. Oleh sebab itu, merupakan suatu kekeliruan
apabila dialektika kefilsafatan atau tasawuf teoretis diperkenalkan kepada
masyarakat awam karena akan berdampak pada terjadinya rational jumping (lompatan
pemikiran).[7]
Perbedaan diantara ilmu tersebut
terletak pada aspek metodologinya yaitu:
Ilmu kalam
1. Sebagai ilmu yang menggunakan logika
(disamping argumentasi-argumentasi naqliyah).
2. Berfungsi untuk mempertahankan
keyakinan ajaran agama yang sangat tampak nilai-nilai apologinya.
3. Berisi keyakinan-keyakinan agama yang
dipertahankan melalui argumen-argumen rasional.
4. Bermanfaat sebagai ilmu yang mengajak
orang yang baru untuk megenal rasio sebagai upaya untuk mengenal Tuhan secara
rasional.
5. Ilmu ini menggunakan metode
dialektika (jadaliyah/ dialog keagamaan
6. Berkembang menjadi teologi rasional
dan tradisional.
Filsafat
Sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional.
1. Menggunakan metode rasional.
2. Berpegang teguh pada ilmu pengetahuan
melalui usaha menjelaskan konsep-konsep.
3. Berperan sebagai ilmu yang mengajak
kepada orang yang mempunyai rasio secara prima untuk mengenal Tuhan secara
lebih bebas melalui pengamatan dan kajian alam dan ekosistemnya secara
langsung.
4. Berkembang menjadi sains dan
filsafat sendiri.
5. Kebenaran yang dihasilkan ilmu filsafat : kebenaran
korespondensi, koherensi, dan fragmatik.
Tasawuf
1. Lebih menekankan rasa daripada rasio.
2. Bersifat subyektif, yakni berkaitan
dengan pengalaman.
3. Kebenaran yang dihasilkan adalah
kebenaran Hudhuri.
4. Berperan sebagai ilmu yang memberi
kepuasan kepada orang yang telah melepaskan rasionya secara bebas karena tidak
memperoleh apa yang ingin dicarinya.
5. Berkembang menjadi tasawuf praktis
dan teoritis.
D. Hubungan Ilmu Tasawuf
dengan Ilmu Kalam
Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu tasawuf berfungsi
sebagai pemberi wawasan spritual dalam pemahaman kalam.Penghayatan yang
mendalam melalui hati (dzauq dan widan) terhadap ilmu
tauhid atau ilmu kalam menjadikan ilmu ini lebih terhayati atau teraplikasikan
dalam perilaku. Dengan demikian,ilmu tasawuf merupakan penyempurna ilmu tauhid
jika dilihat dari sudut pandang bahwa ilmu tasawuf merupakan sisi terapan
rohaniah dari ilmu tauhid. Kajian-kajian mereka tentang jiwa dalam pendekatan
kefilsafatan ternyata telah banyak memberikan sumbangan yang sangat berharga
bagi kesempurnaan kajian tasawuf dalam dunia Islam.
Pemahaman tentang jiwa dan roh itu sendiri menjadi hal yang esensial dalam
tasawuf. Kajian kefilsafatan tentang jiwa dan roh kemudian banyak dikembangkan
dalam tasawuf. Namun, perlu juga dicatat bahwa istilah yang lebih banyak
dikembangkan dalam tasawuf adalah istilah qalb (hati). Istilah qalb ini memang
lebih spesifik dikembangkan dalam tasawuf.Namun, tidak berarti bahwa istilah
qalb tidak berpengaruh dengan roh dan jiwa. Ilmu kalam pun berfungsi sebagai
pengendali ilmu tasawuf. Oleh karena itu, jika timbul suatu aliran yang
bertentangan dengan akidah, atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan
dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, hal itu merupakan penyimpangan atau
penyelewengan. Jika bertentangan atau tidak pernah diriwayatkan dalam Al-Qur’an
dan As-Sunnah, atau belum pernah diriwayatkan oleh para ulama salaf, hal itu
harus ditolak.[8]
Dr. Fuad Al-Ahwani di dalam bukunya Filsafat Islam tidak setuju kalau filsafat sama dengan ilmu kalam. Dengan alasan-alasan sebagai berikut: Karena ilmu kalam dasarnya adalah keagamaan atau ilmu agama. Sedangkan filsafat merupakan pembuktian intelektual. Obyek pembahasannya bagi ilmu kalam berdasar pada Allah SWT. dan sifat-sifat-Nya serta hubungan-Nya dengan alam dan manusia yang berada di bawah syariat-Nya. Objek filsafat adalah alam dan manusia serta pemikiran tentang prinsip wujud dan sebab-sebabnya. Seperti filosuf Aristoteles yang dapat membuktikan tentang sebab pertama yaitu Allah. Tetapi ada juga yang mengingkari adanya wujud Allah SWT. sebagaimana aliran materialisme. Selain itu, ilmu tasawuf mempunyai fungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebaan-perdebatan kalam. Sebagaimana disebutkan bahwa ilmu kalam dalam dunia Islam cenderung menjadi sebuah ilmu yang[9] mengandung muatan nasional, di samping muatan naqliah. Jika tidak diimbangi dengan kesadaran rohaniah, ilmu kalam dapat bergerak ke arah yang lebih liberal dan bebas. Disinilah ilmu tasawuf berfungsi memberi muatan rohaniah sehingga ilmu kalam tidak dikesani sebagai dialektika keislaman belaka, yang kering dari kesadaran penghayatan atau sentuhan secara qabliah (hati).
Dr. Fuad Al-Ahwani di dalam bukunya Filsafat Islam tidak setuju kalau filsafat sama dengan ilmu kalam. Dengan alasan-alasan sebagai berikut: Karena ilmu kalam dasarnya adalah keagamaan atau ilmu agama. Sedangkan filsafat merupakan pembuktian intelektual. Obyek pembahasannya bagi ilmu kalam berdasar pada Allah SWT. dan sifat-sifat-Nya serta hubungan-Nya dengan alam dan manusia yang berada di bawah syariat-Nya. Objek filsafat adalah alam dan manusia serta pemikiran tentang prinsip wujud dan sebab-sebabnya. Seperti filosuf Aristoteles yang dapat membuktikan tentang sebab pertama yaitu Allah. Tetapi ada juga yang mengingkari adanya wujud Allah SWT. sebagaimana aliran materialisme. Selain itu, ilmu tasawuf mempunyai fungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebaan-perdebatan kalam. Sebagaimana disebutkan bahwa ilmu kalam dalam dunia Islam cenderung menjadi sebuah ilmu yang[9] mengandung muatan nasional, di samping muatan naqliah. Jika tidak diimbangi dengan kesadaran rohaniah, ilmu kalam dapat bergerak ke arah yang lebih liberal dan bebas. Disinilah ilmu tasawuf berfungsi memberi muatan rohaniah sehingga ilmu kalam tidak dikesani sebagai dialektika keislaman belaka, yang kering dari kesadaran penghayatan atau sentuhan secara qabliah (hati).
E. Hubungan Ilmu Tasawuf dengan Filsafat
Kajian-kajian
Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Al-Ghazali tentang jiwa dalam pendekatan
kefilsafatan ternyata telah banyak memberikan sumbangan yang sangat berharga
bagi kesempurnaan kajian tasawuf dalam dunia Islam. Pemahaman tentang jiwa dan
roh itu pun menjadi hal yang esensial dalam tasawuf.Kajian-kajian kefilsafatan
tentang jiwa dan roh kemudian banyak dikembangkan dalam tasawuf. Namun,perlu
juga dicatat bahwa istilah yang lebih banyak dikembangkan dalam tasawuf adalah
istilah qalb (hati). Istilah qalb ini memang
lebih spesifik dikembangkan dalam tasawuf. Namun, tidak berarti bahwa
istilah qalb tidak berpengaruh terhadap roh dan jiwa.
F. Hubungan Tasawuf, Ilmu Kalam dan Filsafat
Ketiganya berusaha menemukan apa yangdisebut Kebenaran (al-haq). Kebenaran
dalam Tasawuf berupa tersingkapnya (kasyaf) Kebenaran Sejati (Allah melalui
mata hati. Kebenaran dalam Ilmu Kalam berupa diketahuinya kebenaran ajaran
agama melalui penalaran rasio lalu dirujukkan kepada nash (al-Qur’an &
Hadis). Kebenaran dalam Filsafat berupa kebenaran spekulatif tentang segala
yang ada (wujud).Maka ketiganya mendalami pencarian segala yang bersifat rahasia
(gaib) yang dianggap sebagai ‘kebenaran terjauh’ dimana tidak semua orang dapat
melakukannya.
G. Titik Singgung Antara Ilmu Kalam Dan Ilmu Tasawuf
Ilmu kalam, sebagai mana telah disebutkan, merupakan disiplin ilmu
keislaman yang mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan
tuhan. Persoalan-persoalan kalam ini biasanya mengarah pada perbincangan yang
mendalam dengan dasar-dasar argumentasi, baik rasional (aqliyah)
maupun naqliyah. Argumentasi rasional yang dimaksudkan adalah landasan
pemahaman yang cenderung menggunakan metode berpikir filosofis, sedangkan
argumentasi naqliyah biasanya bertendensi pada argumentasi berupa
dalil-dalil qur’an dan hadis. Ilmu kalam ini hanya
berkisar pada keyakinan-keyakinan yang harus dipegang oleh ummat islam , tanpa
argumentasi rasional, ilmu ini lebih spesipik mengambil bentuk sendiri dengan
istilah ilmu tauhid atau ilmu aqa’id.
Pembicaraan materi yang tercakup dalam ilmu kalam terkesan tidak
menyentuh dzauq (rasa rohaniah). Sebagai contoh, ilmu tauhid
menerangkan bahwa Allah bersifat Sama’ (mendengar), Bashar
(melihat), Kalam (berbicara), Iradah (berkemauan), Qudrah (kuasa), Hayat (
hidup), dan sebagainya. Namun, ilmu kalam atau ilmu tauhid tidak menjelaskan
bagaimanakah seorang hamba dapat merasakan langsunng bahwa Allah mendengar dan
melihatnya.
Pada ilmu kalam ditemukan pembahasan iman dan defenisinya, kekufuran dan
manifestasinya, sertya kemunafikan dan batasannya. Adapun pada ilmu
tasawuf ditemukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk
merasakan keyakinan dan ketentraman, serta berupaya menyelamatkan
diri dari kemunafikan. Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu
tasawuf berfungsi sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam.
Penghayatan yang mendalam lewat hati (dzauq dan widjan)
terhadap ilmu tauhid atau ilmu kalam menjadikan ilmu ini lebih terhayati atau
teraplikasikan dalam prilaku. Dengan demikian, ilmu tasawuf merupakan
penyempurna ilmu tauhid jika dilihat bahwa ilmu tasawuf merupakan sisi terapan
rohaniyah dari ilmu tauhid.
Titik singgung antara ilmu kalam dan ilmu tasawuf adalah sebagai berikut:
Ilmu Kalam
Dalam
ilmu kalam di temukan pembahasan iman yang definisinya, kekufuran dan
menifestasinya serta kemunafikan dan batasannya.Ilmu kalam berfungsi sebagai
pengendali ilmu tasawuf. Ilmu kalam dapat memberikan kontribusi kepada ilmu
tasawuf.
Ilmu Tasawuf
Ilmu
tasawuf merupakan penyempurnaan ilmu tauhid (ilmu kalam). Ilmu tasawuf
berfungsi sebagai wawasan spiritual dalam pemahaman kalam. Ilmu tasawuf
mempunyai fungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan–perdebatan
kalam. Amalan-amalan tasawuf mempunyai pengaruh yang besar dalam
ketauhidan.Dengan ilmu tasawuf, semua persoalan yang berada dalam kajian ilmu
tauhid (ilmu kalam) terasa lebih bermakna, tidak kaku, tetapi lebih dinamis dan
aplikatif.[10]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ilmu kalam adalah ilmu yang
membicarakan bagaimana menetapkan kepercayaan-kepercayaan keagamaan dengan
bukti-bukti yang meyakinkan, kemudian filsafat adalah berasal dari
kata philo yang berarti cinta dengan demikian filsafat adalah mencari hakikat
sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan
pengalaman-pengalaman manusia. Sementara tasawuf adalah suci, atau keadaan yang
selalu berorientasi kepada kesucian jiwa, mengutamakan panggilan Allah, berpola
hidup sederhana, mengutamakan kebenaran, dan rela berkorban demi tujuan-tujuan
yang lebih mulia disisi Allah.
Ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf
mempunyai kemiripan objek kajian. Objek kajian ilmu kalam adalah ketuhanan dan
segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya. objek kajian filsafat adalah masalah
ketuhanan disamping masalah alam, manusia, dan segala sesuatu yang
ada. Objek kajian tasawuf adalah tuhan, yakni upaya-upaya pendekatan
terhadapnya. Jadi, dilihat dari aspek objeknya, ketiga ilmu itu membahas
masalah yang berkaitan dengan ketuhanan. Perbedaan diantara ketiga ilmu
tersebut terletak pada aspek metodologinya. Ilmu kalam, sebagai ilmu
yang menggunakan logika dan menggunakan metode dialektika (jadaliyah) di kenal
juga dengan dialog keagamaan. sementara filsafat adalah sebuah ilmu
yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional. Metode yang digunakanpun
adalah metode rasional. Adapun ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menekankan
rasa daripada rasio metode yang digunakan menurut sebagian pakar adalah
intuisi, atau ilham, atau inspirasi yang dating dari tuhan.
Ilmu kalam, sebagaimana telah
disebutkan terdahulu, merupakan disiplin ilmu yang mengedepankan pembicaraan
tentang persoalan-persoalan tuhan. Persoalan-persoalan kalam ini biasanya
mengarah pada erbincangan yang mendalam dengan dasar-dasar
argumentasi, baik rasional (aqliyah) maupun naqliyah. Ilmu kalam berfungsi
sebagai pengendali ilmu tasawuf, selain itu ilmu tasawuf juga
mempunyai fungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah adalam
perdebatan-perdebatan kalam.
B. Kritik dan saran
Kami menyadari didalam makalah ini masih terdapat kekurangan dan kekhilafan,
Hal ini karena kurangnya sumber bacaan dan keterbatasan pemakalah. Oleh karena
itu kami sebagai pemakalah berharap akan kritik dan saran yang berguna bisa
menjadikan perbaikan makalah mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
Abd Ar-Raziq Musthafa, Tauhid Li Tarikh Al- Falsafah Al-
Islamiyah (kairo: Pustaka Salman, 1959)
Hossein Nasr Seyyed, History Of Islamic Philosophy (New York:
Routledge, 1966)
Abduh Muhammad, Risalah Tauhid, (Jakarta: Bulan Bintang,1965)
Toriquddin Moh, Skularitas Tasawuf Dalam Dunia Modren (
Uin Malang Press: 2008)
Saifuddin Anshari Endang, Ilmu filsafat dan Agama, (Surabaya: PT
Bina Ilmu, 1990)
[1] Musthafa Abd Ar-Raziq, Tamhid
li Tarikh Al-Falsafah Al-Islamiyah, hlm.1959, Seyyed Hossein Nasr, History
of Islamic Philosophy,( New Yor:,Routledge,1966)hlm.74-75
[2] Muhamad Abduh, Risalah
tauhid,(Jakarta:Bulan Bintang,1965)hlm.25
[3] Moh. Toriquddin. Skularitas
tasawuf, Membumikan Tasawuf Dalam Dunia Modren. (Uin Malang Press:2008)
hlm. 15-16
[5] Endang Saifuddin
Anshari, Ilmu Filsafat dan Agama, (Surabaya:PT Bina Ilmu,1990)
hlm. 174
[6] Ibid Abdul Rozak,hlm.43
[7] Ibid Abdul rojak, hlm.
40-43
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Ibid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar