MAKALAH EVALUASI PAI II
TINDAK
LANJUT HASIL EVALUASI
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Evaluasi PAI
II Jurusan Pendidikan Agama Islam
Reguler Sore
Dosen Pengampu : Dr.Ahmad Zain Sarnoto, M.Pd
Disusun oleh
:
Riska Fitriyah
201402862080158
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM ATTAHIRIYAH
TAHUN 2017
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ujian pada dasarnya adalah bertujuan untuk mengetahui perkembangan hasil
belajar siswa dan hasil mengajar guru. Informasi hasil belajar atau mengajar
menunjukkan informasi tentang yang sudah dipahamai atau yang belum dipahami
oleh sebagaian besar siswa. Hasil belajar siswa ini digunakan untuk
memotivasi siswa dan guru agar melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas
proses pembelajaran. Perbaikan dan peningkata pembelajran itu dilakukan dalam
bentuk progam remedial dan pengayaan berdasarkan hasil evaluasi hasil ujian.
Pemanfaatkan data hasil penilaian untuk memperbaiki dan meningkatkan
kualitas pembelajaran harus didukung oleh siswa, guru, kepala sekolah, dan
orang tua. Dukungan ini diperoleh apabila mereka memperoleh informasi hasil
belajar yang lengkap dan akurat. Untuk itu diperlukan laporan perkembangan
hasil belajarsiswa untuk guru atau sekolah, untuk siswa, dan untuk orang tua.
Oleh karena itu pelaporan sangat penting dan bermanfaat bagi sistem
pembelajaran.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana perencanaan pengembangan sebagai tindak lanjut evaluasi
pembelajaran PAI?
2. Apakah laporan hasil belajar itu?
3. Bagaimana cara menyusun kisi-kisi?
4. Bagaimana cara menganalisis hasil evaluasi
C.
Tujuan
1. Mengetahui perencanaan pengembangan sebagai tindak lanjut evaluasi
pembelajaran PAI.
2. Mengetahui bentuk laporan hasil belajar.
3. Mengetahui dan memahami cara menyusun kisi-kisi.
4. Mengetahui dan memahami cara menganalisis hasil evaluasi
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perencanaan Pengembangan Sebagai Tindak Lanjut Evaluasi Pembelajaran PAI
Tindak lanjut evaluasi hasil pembelajaran perlu dipahami dan dilakukan oleh
setiap pendidik, jika laporan hasil evaluasi pembelajaran itu kurang maka yang
harus dilakukan oleh pendidik adalah mengambil kebijakan pendidikan khusus
kepada siswa yang bersangkutan. Dan berdasarkan hasil-hasil evaluasi inilah
seorang guru dapat merancang kegiatan tindak lanjut yang perlu dilakukan baik
berupa perbaikan (remedial) maupun berupa penyempurnaan program pembelajaran.
Pengajaran perbaikan (Remedial teaching) yang merupakan salah satu
bentuk bimbingan belajar dapat dilaksanakan melalui prosedur sebagai berikut;[1]
1. Identifikasi kelebihan dan kelemahan laporan hasil evaluasi pembelajaran.
Laporan hasil pembelajaran perlu dilihat dan dipelajari oleh pengambil
kebijakan pendidikan. Dengan melihat hasil laporan tersebut maka dapat
diidentifikasi apakah pembelajaran selama ini sudah sesuai dengan tujuan
pembelajaran. Dengan mengetahui hasil laporan maka kelemahan-kelemahan yang
terjadi di dalam proses pembelajaran akan teridentifikasi secara baik. Selain
identifikasi proses pembelajaran maka dapat dilihat apakah alat pembelajarannya
sesuai dengan materi dan indikator, ataukah peserta didiknya yang memang ada
masalah, hal ini perlu dilakukan analisis tersendiri.
Keberhasilan dan kegagalan dalam hasil evaluasi pembelajaran terjadi karena
faktor-faktor berikut, diantaranya adalah:
a. Faktor akademik
b. Faktor Non-akademik; hal ini menyangkut bisa saja faktor ketidak harmonisan
keluarga, mengisolisir diri dari teman, ekonomi seperti tidak mempunyai buku.
c. Peserta didik itu sendiri; maka perlu dilakukan wawancara dengan peserta
didik yang bersangkutan, orang tua atau teman dekatnya.
Pemanfaatan informasi hasil belajar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran harus didukung oleh peserta didik, orang tua atau wali peserta didiik, kepala sekolah, guru dan civitas sekolah lainnya.
Pemanfaatan informasi hasil belajar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran harus didukung oleh peserta didik, orang tua atau wali peserta didiik, kepala sekolah, guru dan civitas sekolah lainnya.
d. Peningkatan hasil belajar
Setelah mengetahui
berbagai bentuk kegagalan yang ada maka perlu diadakan peningkatan
pembelajaran. Proses pembelajaran yang maksimal akan mengakibatkan hasil
belajar yang baik. Dengan mengetahui keberhasilan dan kegagalan yang
teridentifikasi maka dapat dilakukan kegiatan yang dapat memaksimalkan proses
pembelajaran, disesuaikan dengan faktor-faktor penyebab keberhasilan dan
kegagalan tersebut. Atau dengan kata lain, alternatif solusi yang kita ajukan
haruslah mengarah pada upaya untuk menanggulangi kegagalan dan menguatkan
pendukung keberhasilan belajar peserta didik.
2. Merancang program pembelajaran remidi (perbaikan)
Program pembelajaran remidi merupakan layanan pendidikan yang diberikan
kepada peserta didik untuk memperbaiki prestasi belajarnya sehingga mencapai
kriteria ketuntasan yang ditetapkan.[2] Program
ini dilakukan setelah peserta didik mengikuti tes atau ujian kompetensi
tertentu, tetapi peserta didik tersebut mendapatkan sekor nilai di bawah
standar minimal yang telah ditetapkan. Dan program ini hanya dilakukan maksimal
dua kali, apabila peserta yang sudah melakukan program remedial sebanyak dua
kali namun nilainya masih di bawah standart nimimum, maka penanganannya harus
melibatkan orang tua atau wali murid.[3]
Adapun langkah-langkah yang dapat dilakuakan dalam melaksanakan
pembelajaran remedi, antara lain:
1. Analisis kebutuhan, kegiatan yang dilakukan adalah dengan identifikasi
kesulitan dan kebutuhan siswa.
2. Merancang motivasi belajar siswa dan lainnya.
3. Melakukan pepembelajaran, yaitu dengan merancang rencana pembelajaran
dengan kegiatan merancang belajar bermakna, memilih pendekatan, metode/teknik
dan bahan.
4. Menyusun rencana pembelajaran, yaitu dengan memperbaiki rencana
pembelajaran yang telah ada dan beberapa komponen perlu disesuaikan dengan
hasil analisis kebutuhan siswa.
5. Menyiapkan perangkat, misalkan berbagai soal LKS.
6. Melaksanakan pembelajaran, yaitu dengan memberikan arahan jelas serta
meningkatkan penilaian.
Kemudian model pembelajaran remedi itu ada tiga, yaitu:
1. Dilaksanakan sebelum atau sesudah jam pelajaran sekolah.
2. Dilaksanakan dengan jalan mengambil beberapa siswa yang membutuhkan remidi
darin kelas biasa (regular) ke kelas remedial.
3. Dilaksanakan dengan melibatkan beberapa guru (team).
Selain program remedial
ada program lagi dalam menangani dan merespon hasil dari evaluasi pembelajaran,
program itu adalah program pengayaan. Berbeda dengan program remedial yang
hanya dikhususkan bagi peserta didik yang mengalami kesulitan dalam memahami
materi pelajaran sehingga hasil evaluasinya masih kurang dari standar
ketuntasan. Program pengayaan adalah program yang dilakukan oleh pendidik untuk
menindak lanjuti hasil evaluasi yang telah mencapai standar ketuntasan,
sehingga peserta didik yang telah mencapai standar ketuntasan tidak dianak
tirikan oleh pendidik yang lebih memprioritaskan pada program remedial. Adapun
cara yang dapat dilakukan berkaitan dengan program pengayaan antara lain;
1. Pemberian materi tambahan atau berdikusi tentang suatu hal yang berkaitan
dengan materi ajar berikutnya, bersama teman kelompoknya yang mengalami hal
serupa dengan tujuan memperluas wawasannya.
2. Menganalisis tugas-tugas yang diberikan oleh guru sebagai materi ajar
tambahan.
3. Mengerjakan soal-soal latihan tambahan yang bersifat pengayaan.
B. Laporan Hasil Belajar
Laporan hasil belajar ini adalah suatu bentuk laporan yang berisi tentang
data hasil penilaian belajar siswa yang bertujun untuk memperbaiki dan
meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Untuk itu diperlukan laporan perkembangan
hasil belajar siswa untuk guru atau sekolah, siswa dan orang tua begitu pula
untuk pakar pendidikan. Dengan demikian dapat diharapkan partisipasi semua
pihak untuk meningkatkan guruan.[5]
Laporan hasil belajar siswa yang baik seharusnya mencakup aspek kognitif,
aspek afektif dan aspek psikomotorik. Namun demikian, tidak semua mata
pelajaran menuntut laporan lengkap ketiga aspek tersebut. Informasi aspek afektif
dan psikomotorik digunakan untuk mata pelajaran sesuai dengan tuntutan
kompetensi dasar. Tidak semua mata pelajaran memiliki aspek psikomotorik, hanya
mata pelajaran tertentu saja yang dinilai aspek psikomotoriknya, misalnya yang
melakukan kegiatan praktek di laboratorium atau bengkel. Informasi aspek
afektif diperoleh melalui kegiatan kuesioner dan pengamatan yang sistematik.
Hasil belajar aspek kognitif, aektif dan psikomotorik tidak dijumlahkan,
karena dimensi yang diukur berbeda. Masing-masing dilaporkan sendiri-sendiri
dan memiliki makna yang penting. Ada orang memiliki kemampuan kognitif tinggi,
psikomotorik cukup, dan memiliki minat belajar yang cukup. Namun ada orag lain
yang memiliki kemampuan kognitif cukup, kemampuan psikomotorik tinggi. Bila
skor kemampuan dua orang ini dijumlahkan bisa saja terjadi skor yang sama,
sehingga kemampuan dua orang itu tampak sama walaupun sebenarnya karakteristik
mereka berbeda. Apabila kemampuan kognitif dan psikomotorik dijumlahkan, maka
akan berakibat ada informasi yang hilang, yaitu karakteristik spesifik
kemampuan masing-masing individu.
Siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada siswa yang kempuan
berpikirnya tinggi, tetapi kemampuan psikomotoriknya rendah. Tentunya, siswa
seperti itu menginginkan ksuksesan dalam belajarnya. Oleh karena itu, siswa
seperti itu harus bekerja pada bidang pekerjaan yang membutuhkan kemampuan
berpikir yang tinggi dan tidak dituntut harus melakukan kegiatan yang
membutuhkan psikomotorik yang tinggi. Dengan demikian, lapaoran hasil belajar,
selain muncul skor juga muncul keterangan tentang penguasaan siswa terhadap
materi ang telah dipelajari. Disamping itu,pada laporan itu selain ada
ketentuan lulus atau tidak lulusnya seorang siswa, juga ada keterangan materi
apa saja yang sudah dikuasai dan materi apa saja yang belum dikuasai siswa.
Laporan seperti itu, memberikan gambaran kepada semua pihak yang
berkepentingan, tentang kodisi nyata dari keadaan siswa maupun guru.[6]
Berikut ini laporan diperuntukkan
a) Laporan untuk instansi pendidikan
Hasil ujian digunakan oleh instansi pendidikan yang didalamnya adalah
berguna untuk guru dan sekolah, hasil ujian digunakan oleh guru dan sekolah
untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan siswa dalam suatu kelas, sekolah, daalm
semua mata pelajaran. Hasil ujian harus dapat mendorong agar mengajar lebih
baik, membantu guru untuk menggunakan strategi belajar mengajar yang
tepat, dan mendorong sekolah agar member fasilitas belajar yang lebih baik.
Laporan hasil belajar untuk guru dan kepala sekolah harus mencakup semua
aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif. Guru memrlukan informasi yang lebih
global untuk masing-masing kelas yang diajar, sedangkan kepala sekolah memerlukan
informasi global untuk semua kelas dalam satu sekolah, khususnya tentang hasil
belajar.[7]
Untuk guru lain juga penting, maksudnya guru yang mengantikan mengajar terdahulu
untuk siswa yang naik kelas atau perpindahan baik perpindahan siswa atau
perpindahan guru. Apabila tidak ada catatan atau laporan mengenai siswa maka
guru tersebut tidak akan tahu bagaimana cara meladeni atau menghadapi siswa
tersebut. [8]
b) Laporan untuk siswa
Informasi hasil belajar
siswa daapt diperoleh melalui ujian, kuesioner/angket, wawancara, atau
pengamatan. Informasi aspek kognitif dan psikomotorik diperoleh melalui ujian,
sedangkan afektif diperoleh melalui angket dan pengamatan kelas. [9]
c) Laporan hasil belajar dapat dimanfaatkan siswa untuk
1) Mengetahui hasil belajar diri
Secara alamiah seseorang ingin tahu akibat dari apa yang diperbuat mereka,
entah hasil itu mengembirakan atau mengecewakan. Menurut pendapat ilmu jiwa
Gestalt, “perbuatan hasil” merupakan satu keseluruhan yang tidak terpisahkan.
Dengan demikian, jika ada perbuatan tetapi belum ada ada hasil yang berarti
kesatuan itu belum selesai dan manusia selalu masih menuntut keutuhannya.[10]
1. Mengetahui konsep-konsep atau teori-teori yang belum dikuasai
2) Dengan mngetahui hasil yang positif dari perbuatannya maka pengetahuan yang
diperoleh, akan dikuatkan.
Misalnya: siswa
mengerjakan soal-soal. Dengan hasil pikirannya, siswa itu menjawab soal-soal
yang diberikan guru. Jika ia tahu bahwa jawabanny betul, maka betul itu akan
diperkuat. Hal ini dinamaka konfirmasi atau penguatan.
3) Jika siswa mendapatkan informasi bahwa jawabannya salah, maka lain kali ia
tidak akan menjawab seperti itu lagi.
Jadi dengan singkat dapat dikatakan bahwa dengan
jawaban yang diberikan oleh siswa, akibatnya aka nada, konfirmasi (penguatan)
dan revisi (penyempurnaan).[13]
a. Memperbaiki strategi belajar, sebagai feedback terhadap strategi yang
kurang mendapatkan hasil belajar yang maksimal.[14]
Untuk member informasi yang akurat agar dapat
dimanfaatkan siswa seoptimal mungkin, maka laporan yang diberikan pada siswa
harus berisi tentang:
1)
Hasil pencapaian
belajar siswa dinyatakan dalam bentuk kompetensi dasar yang sudah dicapai dan
yang belum dicapai.
2)
Kekuatan dan kelemahan
siswa dalam semua mata pelajaran.
3)
Minat siswa pada
masing-masing mata pelajaran.
Selain itu, redaksi laporan harus menggunakan bahasa
yang dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih baik. Hasil ujian menunjukkan
pencapaian hasil belajar siswa, sehingga dalam format laporan digunakan istilah
hasil belajar.[15]
d) Laporan untuk orang tua
Informasi hasil ujian dimanfaatkan oleh orang tua untuk meotivasi anaknya
agar hasil belajar menjadi lebih baik dan mencari strategi dalam membantu
anaknya belajar. Untuk itu, diperlukan informasi yang akurat tentang hasil
belajar siswa yang meliputi kekuatan dan kelemahan siswa daalm aspek kognitif,
afektif dan psikomotorik, kemajuan belajar siswa dibandingkan dengan dirinya
sendiri, dibandingkan dengan kompetensi dasar yang harus dimiliki, dan
dibandingkan dengan kelompoknya. Informasi ini digunakan orang tua untuk:
1. Membantu anaknya belajar
2. Memotivasi anaknya belajar
3. Membantu sekolah untuk meningkatkan hasil belajar siswa
4. Membantu sekolah dalam melengkpi fasilitas belajar.
Untuk memenuhi kebutuhan orang tua daalm meningkatkan
proses belajar mengajar bentuk laporan hasil ujian harus aad tiga aspek,
kognitif, afektif dan psikomotorik. Dan meliputi kelemahan dan kekuatan
anaknya, keterampilan anaknya dalam melaksanakan tugas dan minat siswa terhadap
mata pelajaran tertentu.[16]
1. Laporan untuk pakar atau tokoh pendidikan
Laporan hasil belajar
ini bermanfaat pula bagi tokoh-tokoh pendidikan,untuk perbaikan dari
progam-progam yang ditentukan oleh para pakar atau tokoh pendidikan seperti
contohnya kurikulum. Hal ini berguna sebagai pemecahan terhadap masalah
pendidikan pengembangan ilmu, maupun penelitian kebijakan pembangunan, memerlukan
data dari informasi pihak penyelenggara pendidikan dan pengajaran dengan hasil
pendidikan pengajaran sehingga menghasilkan kualitas pendidikan Nasional yang
baik.[17] Untuk itu, guru dan
sekolah mendokumentasikan atau membuat laporan secara teratur, sistematis dan
berkelanjutan, sehingga pada saat data tersebut diperlukan dapat disampaikan
kepada para pakar atau tokoh pendidikan untuk diolah dan di analisis sesuai kebutuhan.
Hasil dari analisis para pakar dan tokoh dijadikan dasar dan bahan pertimbangan
dalam menentukan kebijakan kebijakan pendidikan.[18]
C. Menyusun Kisi-Kisi
Kisi-kisi dikenal juga dengan nama “test blue-prin” atau “tabel
of spesification”. Pengertian dari kisi-kisi adalah suatu format yang
memuat informasi yang dapat dijadikan pedoman untuk menulis tes atau merakit
tes. Dan pada intinya kisi-kisi ini diperlukan sebelum seseorang menyusun suatu
tes. Kisi-kisi merupakan suatu diskripsi mengenai ruang lingkup dan isi apa
yang akan diujikan, serta memberikan perincian mengenai soal-soal yang
diperlukan dalam mengevaluasi.
Penulisan soal merupakan salah satu langkah penting untuk dapat
menghasilkan alat ukur atau tes yang baik. Penulisan soal adalah penulisan
indikator jenis dan tingkat prilaku yang hendak diukur menjadi
pertanyaan-pertanyaan yang karakteristiknya sesuai dengan perinciannya dalam
kisi-kisi. Dengan demikian setiap pertanyaan atau butir-butir soal perlu dibuat
sedemikian rupa sehingga jelas pula jawaban apa yang dituntut. Mutu setiap
butir soal akan menentukan mutu tes secara keseluruhan.[19]
Jadi kisi kisi adalah perincian dari soal yang akan di sajikan dalam butir
soal. Sehingga kisi-kisi, merupakan gambaran umum dari butir soal, yang
nantinya akan mempermudah penilain. Di karenakan arah dan tujuan nya sudah
direncanakan, untuk mencapai sebuah kurikulum yang sudah di tetapkan.
Dalam penyusunan kisi-kisi, ada beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam
penyusunannya. Hal ini di karenakan, supaya kisi-kisi itu tidak lepas dari
kurikulum yang ada. Dan pembuatanya tidak lepas dari materi yang sudah
diajarkan, kisi-kisi ini merupakan gambaran umum dari butir soal. Syarat-syarat
pembuatan kisi-kisi:
1. Mewakili isi kurikulum
- Komponen soal jelas dan singkat
- Soal disusun sesuai dengan butir soal
- Bisa mempermudah penyusunan butir soal
- Soal sesuai dengan yang pernah diajarkan
Di dalam evaluasi,
sebelum pembuatan butis soal, sebaiknya menggunakan kisi-kisi soal yang
nantinya akan mempermudah pembuatan soal. Dikarenakan dalm kisi-kisi soal
tersebut menimbang syarat-syarat yang sangat penting dalam sebuah penyusunan
soal. Tingkat kesukaran, pemilihan soal, waktu yang dibutuhkan itu semua di
pertimbangkan dalam pembuatan kisi-kisi. Tidak lepas dari kurikulum sebagai
tujuan pendidikan, kisi-kisi juga memperhatikan kurikulum yang berlaku dalam sebuah
sekolah.[20]
Contoh format kisi-kisi
FORMAT KISI-KISI PENULISAN SOAL
Jenis sekolah :
……………
Jumlah soal : …………….
Mata pelajaran : ……………….
Bentuk soal/tes: ………………
Kurikulum :
…………….
Penyusun : 1 .…………
: 2 ……………..
Alokasi
waktu
: ……………..
|
No.
|
Standar
Kompetensi
|
Kompetensi
Dasar
|
Kls/
Smt
|
Materi
Pokok
|
Indikator
soal
|
Nomor
soal
|
|
|
Keterangan: Isi pada kolom 2, 3. 4, dan 5 adalah harus sesuai dengan
pernyataan yang ada di dalam silabus/kurikulum. Penulis kisi-kisi tidak
diperkenankan mengarang sendiri, kecuali pada kolom 6.
D. Menganalisis Hasil Evaluasi
Belajar dan mengajar sebagai suatu proses mengandung tiga unsur, yaitu
tujuan pengajaran, pengalaman (proses) belajar-mengajar, dan hasil belajar.
Ketiga unsur tersebut sangat berkaitan. penilaian hasil belajar dapat diartikan
proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar Yang dicapai siswa dengan
criteria tertentu. Sedangkan ditinjau dari segi bahasa penilaian diartikan
sebagai proses menentukan nilai suatu objek. Dalam penentuan nilai ini
diperlukan adanya ukuran atau kriteria. Berdasarkan pengertian tersebut maka
penilaian berfungsi sebagai:
Alat untuk mengetahuinya tercapai-tidaknya tujaun instruksional.
1. Menjadi koreksi dalam proses belajar-mengajar. Perbaikan dapat dilakukan
dalam hal tujuan instruksional, kegiatan belajar siswa, strategi mengajar guru
dan lain-lain.
2. Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada para orang tua.
Sedangkan tujuan penilain antara lain sebagai berikut:
1. Mendeskripksikan kecakapan belajar para siswa sehingga dapat diketahui
kelebihan dan kekurangan dalam berbagai bidang studi mata pelajaran yang
ditempuhnya.
2. Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran disekolah, yaitu
seberapa keefektifan dalam mengubah tingkah laku para siswa kearah tujuan pendidikan
yang diharapkan.
3. Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yaitu melakukan perbaikan dan
penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta system
pelaksanaanya.
4. Memberikan pertanggungjawaban pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Agar dapat memanfaatkan
hasil ujian secara efektif, perlu diadakan analisis terhadap hasil tes/ujian
yang telah dilakukan oleh para siswa. Caranya yaitu dengan membuat tabel
spesifikasi tang mamapu menunjukkan konsep/subkonsep atau tema/subtema
kompetensi dasar mana yang belum dikuasai siswa. Hal ini dapat terlihat bila
butir-butir soal yang diujikan sudah dikelompokkan sesuai dengan penguasaan
konsep dalam tiap indicator dan KD yang hendak diukur.[21]
Contoh tabel
spesifikasi hasil analisis hasil tes untuk mata pelajaran biologi
Nama siswa:
budi
kelas: II A
|
KD
|
Jumlah soal
|
Betul
|
% pencapaian
|
Penguasaan
|
Keterangan
|
|
1.mendiskripsi keterampilan dasar dan keterampilan sains
|
20
|
15
|
75
|
V
|
Menguasai seluruh keterampilan dasar IPA, dan menguasai keterampilan
proses IPA berupa mentabulasi data, membuat grafik, dan memaknakan
tabel/grafik. Tetapi belum menguasai proses IPA dalam hal melakukan
inferensi, prediksi dan menentukan variable bebas dan variable tergayut.
|
|
2.mengenal langkah-langkah pemecahan masalah melalui metode eksperimen
(percobaan)
|
30
|
15
|
50
|
15
|
Hanya menguasai kemampuan merumuskan tujuan dan manfaat percobaan,
menentukan treatment dan menentukan kelompok control. Belum menguasai
kemampuan merumuskan persoalan, memilih hal-hal yang harus dimuat dalam
tinjauan pustaka, merumuska hipotesis dan menyiapkan tabel hasil percobaan..
|
Keterangan:
Berdasarkan tabel diatas, tampak bahwa budi masih
terbatas menguasai kemampuan mendeskrepsikan ketrampilan dasar dan ketrampilan
proses sains dan gagal untuk menguasai kemampuan untuk mengenal langkah-langkah
pemecahan masalah melalui metode eksperimen (percobaan). Dengan demikian, guru
mengetahui dengan persis dalam hal manabudi perlu mendapatkan bimbingan melelui
program perbaikan/remidi.
Analisis hendaknya dilaksanakan segera setelah data
atau informasi terkumpul. Analisis berwujud deskripsi hasil evalusi berkenaan
dengan hasil belajar siswa, yaitu penguasaan kompetensi. Analisis didahului
dengan langkah skoring sebagai tahapan penentuan capaian penguasaan kompetensi
oleh setiap siswa. Pemberian skoring terhadap tugas dan/atau pekerjaan siswa
harus dilaksanakan segera setelah pelaksanaan pengumpulan data atau informasi
serta dilaksanakan secara obyektif. Untuk menjamin keobyektifan skoring guru
harus mengikuti pedoman skoring sesuai dengan jenis dan bentuk tes/instrumen
evaluasi yang digunakan.
Contoh lembar analisis hasil ulangan
HASIL ANALISIS ULANGAN
HARIAN
Kelas / semester : IX.4
Mata Pelajaran :
Tgl. Pelaksanaan : 6 Febuari 2010
KD
:
Jumlah soal : 5 butir
soal
- Ketuntasan belajar :
- Perorangan
Banyak siswa seluruhnya
: 36 orang
Banyak siswa yang telah tuntas belajar : 31 orang.
- Klasikal : Ya / belum tuntas
- Kesimpulan
- Perlu perbaikan klasikal untuk soal
nomor
: 03
- Perlu perbaikan secara individual, adalah siswa
bernama
:
- Sandi saputra
- Sindiana
- Wulan Maharani
- Aprizal
- Ahmad Legaafriedi
2. Catatan pelaksanaan perbaikan dan pengayaan:
1. Perbaikan : Kepada siswa yang belum tuntas diberikan program remedial untuk
mempelajari kembali indicator yang belum dikuasai, setelah itu dilakukan tes,
dan hasilnya semua tuntas.
2. Pengayaan : Program pengayaan diberikan kepada siswa yang telah tuntas
dengan memberikan tugas membuat tulisan tentang arti penting upaya diplomasi
dengan dunia internasional dalam rangka mempertahankan kemerdekaan
Mengetahui,
Bandung, 8 Febuari 2010
Kepala
sekolah
Guru Mata Pelajaran
Rusmiati,S.Pd
Sumardin,S.Pd
NIP. 19550529 198203
2001
NIP.19720428 199903 1008
HASIL ANALISIS ULANGAN
HARIAN
Kelas / semester : IX.4
Mata Pelajaran : PKn
Tgl. Pelaksanaan : 27 Febuari 2010
KD
: Globalisasi
Jumlah soal : 5 butir
soal
- Ketuntasan belajar :
- Perorangan
Banyak siswa
seluruhnya
: 33 orang
Banyak siswa yang telah tuntas belajar : 30 orang.
- Klasikal : Ya / belum tuntas
- Kesimpulan
- Perlu perbaikan klasikal untuk soal nomor
: 05
- Perlu perbaikan secara individual, adalah siswa
bernama :
1) Erlando
2) Erwin Oktari
3) Rizki Rahmat
2. Catatan pelaksanaan perbaikan dan pengayaan:
1. Perbaikan : Kepada siswa yang belum tuntas diberikan program remedial untuk
mempelajari kembali indicator yang belum dikuasai, setelah itu dilakukan tes,
dan hasilnya semua tuntas.
2. Pengayaan : Program pengayaan diberikan kepada siswa yang telah tuntas
dengan memberikan tugas membuat tulisan tentang arti penting upaya diplomasi
dengan dunia internasional dalam rangka mempertahankan kemerdekaan
Mengetahui,
Bandung, 8 Febuari 2010
Kepala sekolah
Guru Mata Pelajaran
Rusmiati,S.Pd
Sumardin,S.Pd
NIP. 19550529 198203 2001
NIP.19720428 199903 1008
ANALISIS
HASIL ULANGAN
HARIAN
Nama Sekolah : …………………..
Satuan Pendidikan : …………………
Mata Pelajaran : …………………..
S e m e s t e
r :
……………………..
Kelas
: ……(…………..)
Banyaknya Soal : ………………….
Kompetensi Dasar : ……………….
Banyaknya Peserta Tes: …………….
1.………………………………………………………………………………………………
2.………………………………………………………………………………………………
3.………………………………………………………………………………………………
4.………………………………………………………………………………………………
5.………………………………………………………………………………………………
|
No.
|
Nomor Soal
Nama siswa
|
Pilihan Ganda
|
Uraian
|
Jml Skor
|
% Tercapai
|
Ketuntasan
|
||||||
|
B
|
skor
|
Skor Yang Diperoleh
|
Ya
|
Tdk
|
||||||||
|
1-25
|
75
|
26/5
|
27/5
|
28/5
|
29/5
|
30/5
|
||||||
|
1.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
9.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
10.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
11.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
12.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
13.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
14.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
15.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
16.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
17.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
18.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
19.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
20.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
21.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
22.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
23
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari semua uraian materi diatas dapat diambil poin penting bahwa evaluasi
itu dilaksanakan dalam rangka untuk mengukur persentase tingkat
keberhasilan dari pembelajaran yang telah dilakukan. Sebelum melakukana
evaluasi maka penyusunan kisi-kisi harus dilakukan terlebih dahulu karena dalam
kisi-kisi ini akan tergambar hal-hal apa yang perlu dievaluasikan meliputi
ruang lingkup dan materi yang akan diujikan. Setelah itu maka evaluasi akan
bisa dilakukan, kemudian setelah itu kegiatan selanjutnya yang dilakukan
seorang guru adalah melakukan analisis hasil evaluasi. Hal ini bertujuan untuk
mencari kelemahan-kelamahan yang dialami siswa mengenai materi yang kurang
dimengerti. Setelah dilakukan analisis maka tindak lanjut pun bias dilakukan.
Tindak lanjut disini bisa dilakukan melalui dua program yaitu program remedial
dan program pengayaan. Program remedial dilakukan kepada siswa yang mengalami
kesulitan dalam pembelajaran sehingga nilai evaluasinya masih kurang dari
standar ketentuan sehingga perlu dilakukan pembelajaran khusus untuk membantu
penguasaan materi. Sedangkan program pengayaan adalah program yang dilakukan
oleh seorang guru terhadap siswa yang telah mencapai standar ketentuan sehingga
siswa tersebut tidak merasa dianak tirikan. Setelah program-program ini selesai
dilakukan dan evaluasi dilakukan untuk yang keduakalinya maa tugas selanjutnya
yang harus dilakukan seorang guru adalah membuat laporan hasil evaluasi, baik
laporan bagi siswa, orang tua, instansi pendidikan dan juga untuk pakar
pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi. Abu dan Supriyono. Widodo, 2004, Psikologi Belajar,
(Jakarta: PT Rineka Cipta).
Arikunto. Suharsimi, 2009, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan,
(Jakarta: Bumi Aksara).
Fuadi. Athok, 2006, Sistem Pengembangan Evaluasi, (Ponorogo: STAIN
Press).
Haryati. Mimin, 2010, Model & Teknik Penilaian Pada Tingkat Satuan
Pendidikan, (Jakarta; Gedung Persada Press).
Ramayulis, 2008, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia).
Rasyid. Harun dan Drs. Mansur, 2007, Penilaian Hasil Belajar, (Bandung:
CV Wacana Prima).
Sudjana. Nana, 2010, Penilaian Hasil Proses Hasil Belajar Mengajar,
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya).
Referensi lain:
the Assessment Training of Teachers of DKI Jakarta organised
by LPMP DKI Jakarta
by LPMP DKI Jakarta
[3][4] Mimin Haryati, Model
& Teknik Penilaian Pada Tingkat Satuan Pendidikan, (Jakarta; Gedung
Persada Press, 2010), 111.
[5] Drs. Harun
Rasyid dan Drs. Mansur, M. Pd, Penilaian Hasil Belajar, (Bandung:
CV Wacana Prima, 2007), 241.
[6] Ibid.
[7] Ibid, 243.
[8] Prof. Dr. Suharsimi
Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009),
283.
[9] Drs. Harun
Rasyid dan Drs. Mansur, M. Pd, Penilaian Hasil Belajar, 243.
[10] Prof. Dr. Suharsimi
Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, 282.
[11] Drs. Harun
Rasyid dan Drs. Mansur, M. Pd, Penilaian Hasil Belajar, 243.
[12] Ibid.
[13] Prof. Dr. Suharsimi
Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, 282.
[14] Drs. Harun
Rasyid dan Drs. Mansur, M. Pd, Penilaian Hasil Belajar, 243.
[15] Ibid, 244.
[16] Ibid.
[17] Dr. Nana Sudjana, Penilaian
Hasil Proses Hasil Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010),
160.
[18] Ibid, 161.
[19] Prof. DR. H.
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia,2008) 232.
[20] the Assessment
Training of Teachers of DKI Jakarta organised
by LPMP DKI Jakarta
by LPMP DKI Jakarta
[21] Drs. Harun
Rasyid dan Drs. Mansur, M. Pd, Penilaian Hasil Belajar, 239-240.
[1] Drs. H. Abu Ahmadi dan Drs. Widodo Supriyono, Psikologi
Belajar, ( Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), 185.
[3] Mimin Haryati, Model & Teknik Penilaian Pada Tingkat Satuan
Pendidikan, (Jakarta; Gedung Persada Press, 2010), 111.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar