MAKALAH EVALUASI
PENDIDIKAN PAI II
Tehnik
Penyusunan Instrument Penilaian Non Tes
Dosen
Pembimbing :
Dr. Ahmad Zain
Sarnoto
Dibuat Oleh :
Nurhayati
UNIVERSITAS ISLAM
ATTAHIRIYAH
Fakultas Agama
Islam
JAKARTA, JULI
2017
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur
saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya kami
dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat dan salam kami
sanjungkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang dengan izin Allah telah membawa kita
dari zaman kebodohan ke zaman yang penuh
dengan ilmu pengetahuan.
Adapun tujuan
dari pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu bahan penunjang materi
pembelajaran Evaluasi Pendidikan. Melalui makalah ini kami mencoba memberikan
penjelasan mengenai“ Teknik Penyusunan Instrumen Penilaian Nontes”. Ucapan
terimakasih kami ucapkan kepada Bapak Dr. Ahmad Zain Sarnoto sebagai Dosen Mata
Kuliah Evaluasi Pendidikan.
Kami berharap semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi para pembacas semua. Dengan kata lain dapat memahami
tentang bagaimana teknik penyusunan instrumen penilaian nontes. Kami mengharapkan
kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini.
Jakarta, 29 Juli 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ……………………………………………………………. i
Daftar Isi ……………………………………………………………. ii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang ……………………………………………………………. 1
B.
Rumusan Masalah ……………………………………………………………. 2
C.
Tujuan
Penulisan ……………………………………………………………. 2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Penyusunan Instrument Penilaian Non-Tes ……………………. 3
B.
Teknik
Penyusunan Non Tes ……………………………………………. 4
a) Pengamatan
(Observasi) ……………………………………………. 5
b) Wawancara/Interview ……………………………………………. 9
c) Kuisioner ……………………………………………. 10
d) Inventori ……………………………………………. 14
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan ……………………………………………………………. 16
B.
Saran ……………………………………………………………. 16
DAFTAR PUSAKA ……………………………………………………………. 17
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Mutu pendidikan dipengaruhi oleh banyak faktor,
diantaranya siswa, pengelola sekolah, lingkungan,kualitas pengajaran, kurikulum
dan sebagainya (Suhartoyo, 2005). Usaha peningkatan pendidikan bisa ditempuh
dengan peningkatan kualitas pembelajaran dan sistem evaluasi yang baik.
Keduanya saling berkaitan sistem pembelajaran yang baik akan menghasilkan
kualitas pendidikan yang baik, selanjutnya sistem penilaian yang baik akan
mendorong guru untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi
siswa untuk belajar yang lebih baik (Mardapi, 2003).
Sehubungan dengan itu, maka di dalam
pembelajaran dibutuhkan guru yang tidak hanya mengajar dengan baik, namun mampu
melakukan evaluasi dengan baik. Kegiatan evaluasi sebagai bagian dari program
pembelajaran perlu lebih dioptimalkan. Evaluasi tidak hanya bertumpu pada
penilaian hasil belajar, namun perlu penilaian terhadap input, output dan kualitas
proses pembelajaran itu sendiri.
Penilaian hasil belajar tidak hanya dilakukan
dengan cara tes, tetapi dapat juga dilakukan dengan teknik non-tes seperti
pedoman observasi, skala sikap, daftar cek, dan catatan anecdotal. Pedoman
observasi baik digunakan untuk mengukur hasil belajar yang mengutamakan
penampilan atau keterampilan dalam pendidikan professional. Karena pada umumnya
hasil belajar yang bersifat keterampilan sukar diukur dengan tes, maka
digunakan teknik pengukuran lain yang dapat memberikan hasil yang lebih akurat.
Dalam makalah ini, akan disajikan beberapa hal
tentang teknik evaluasi yang dapat digunakan dalam penilaian terhadap anak
didik, baik itu tentang kemampuan belajar, sikap, keterampilan, sifat, bakat,
minat dan kepribadian. Adapun teknik yang akan dijelaskan dalam makalah ini
adalah teknik non-tes. Salah satu teknik yang sangat membantu dalam penilaian
terhadap hal-hal yang bersangkutan dengan siswa.
B.
Rumusan Masalah
Dilihat dari latar belakang diatas adapun
rumusan masalahnya, yaitu:
A.
Apa pengertian penyusunan penilaian nontes ?
B.
Apa saja penggolongan tehnik penyusunan
instrumen penilaian nontes ?
C.
Tujuan Penulisan
Tujuan utama pembuatan makalah ini untuk
memenuhi nilai mata kuliah Evaluasi Pembelajaran. Selanjutnya untuk memaparkan
:
A.
Pengertian tehnik penyusunan instrument penilaian
nontes.
B.
Macam-macam tehnik penyusunan instrument
penilaian nontes.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Penyusunan Instrument Penilaian
Non-Tes
Teknis nontes
adalah suatu alat penilaian yang biasanya dipergunakan untuk mendapatkan
informasi tertentu tentang keadaan peserta tes (Inggris: testee) dengan tidak
menggunakan tes. Hal ini berarti bahwa jawaban yang diberikan oleh peserta tes
tidak bisa dikategorikan sebagai jawaban benar atau salah sebagaimana
interpretasi jawaban tes. Dengan teknik nontes maka penilaian atau evaluasi
hasil belajar peserta didik dilakukan tanpa “menguji” peserta didik melainkan
dilakukan dengan cara tertentu.
Teknik
penilaian nontes berarti melaksanakan penilaian dengan tidak menggunakan tes.
Sedangkan teknik penilaian non tes tulis maksudnya adalah bentuk evaluasi non
tes yang berbentuk tulisan atau non lisan.
Adapun menurut
Hasyim, ”Penilaian non test adalah penilaian yang mengukur kemampuan siswa secara
langsung dengan tugas-tugas riil dalam proses pembelajaran. Contoh penilaian
non test banyak terdapat pada keterampilan menulis untuk bahasa, percobaan
laboratorium sains, bongkar pasang mesin, teknik dan sebagainya”.
Penilaian yang
dilakukan dengan teknis nontes terutama bertujuan untuk memperoleh informasi
yang berkaitan dengan evaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah
sikap hidup (affective domain) dan ranah ketrampilan (psychomotoric domain).
David Krathwohl (1974), sebagaimana dikutip Anas Sudijono (2005 : 54)
mengembangkan taksonomi mengenai ranah afektif ini dengan membaginya kedalam
lima jenjang yaitu : receiving (menerima), responding (merespon), valuing
(menilai atau memaknai), organization (mengorganisasi) dan (characterization by
a value or value complex (karakterisasi dengan suatu nilai atau nilai yang
kompleks).
Kemampuan
psikomotor (psychomotoric domain) adalah kemampuan yang berhubungan dengan
gerak yaitu kemampuan dalam menggunakan otot-otot seperti berjalan, lari,
melompat, berenang, melukis, membongkar dan memasang peralatan dan lain
sebagainya. Dalam dunia psikologi, kemampuan psikomotor dibagi kedalam lima
tingkatan yaitu gerak refleks, gerakan dasar, kemampuan perseptual, kemampuan
fisik, gerakan trampil dan komunikasi nondiskursip (Sax, 1980: 76).
B.
Teknik
Penyusunan Non Tes
Teknik nontes
merupakan teknik penilaian untuk memperoleh gambaran terutama mengenai
karakteristik, sikap, atau kepribadian. Selama ini teknik nontes kurang
digunakan dibandingkan teknis tes. Dalam
proses pembelajaran pada umumnya kegiatan
penilaian mengutamakan teknik tes. Hal ini dikarenakan lebih berperannya
aspek pengetahuan dan keterampilan dalam pengambilan keputusan yang dilakukan
guru pada saat menentukan siswa. Seiring
dengan berlakunya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang didasarkan
pada standar kompetensi dan kompetensi dasar maka teknik penilaian harus
disesuaikan dengan kompetensi yang diukur, aspek yang akan diukur, pengetahuan,
keterampilan atau sikap, kemampuan siswa yang akan diukur, sarana dan prasarana
yang ada.
Dalam dunia
pendidikan teknik nontes yang sering digunakan adalah pengamatan (observasi),
dan terkadang, seorang guru juga menggunakan wawancara. Dalam
penelitian-penelitian sosial, teknik nontes biasanya juga digunakan untuk
mendapatkan informasi mengenai keadaan obyek penelitian. Teknik nontes yang
sering digunakan dalam penelitian-penelitian sosial penelitian adalah
kuesioner. Dibawah ini adalah jenis-jenis penelitian non tes :
a)
Pengamatan
(Observasi)
Secara umum, pengertian
observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan atau data yang
dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis
terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan.
Observasi
sebagai alat evaluasi banyak digunakan untuk menilai tingkah laku individu atau
proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang
sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Observasi dapat mengukur atau menilai
hasil dan proses belajar : misalnya tingkah laku peserta didik pada waktu guru
pendidikan agama menyampaikan pelajaran di kelas, tingkah laku peserta didik
pada jam-jam istirahat atau pada saat terjadinya kekosongan pelajaran, perilaku
peserta didik pada saat sholat jamaah di mushola sekolah, ceramah-ceramah
keagaaman, upacara bendera, ibadah shalat tarawih dan sebagainya.
Teknik
pengamatan atau observasi merupakan salah satu bentuk teknik nontes yang biasa
dipergunakan untuk menilai sesuatu melalui pengamatan terhadap objeknya secara langsung,
seksama dan sistematis. Pengamatan memungkinkan untuk melihat dan mengamati
sendiri kemudian mencatat perilaku dan kejadian yang terjadi pada keadaan
sebenarnya. Berikut ini beberapa karakteristik dari observasi yaitu mempunyai
tujuan, bersifat ilmiah, terdapat aspek yang diamati, praktis
Menurut Moleong
(2005 : 176) pengamatan dapat dibedakan menjadi dua yaitu pengamatan
berperanserta dan tidak berperanserta. Dalam pengamatan yang tidak
berperanserta, seseorang hanya melakukan satu fungsi yaitu mengamati tetapi
pada pengamatan berperanserta seseorang disamping mengamati juga menjadi
anggota dari obyek yang diamati.
Pengamatan
dapat pula dibagi atas pengamatan terbuka dan tertutup. Terbuka jika obyek yang
diamati mengetahui bahwa mereka sedang diamati dan sebaliknya. Selain itu
pengamatan juga dibagi pada latar alamiah (pengamatan tak terstruktur) dan
latar buatan (pengamatan terstruktur). Pengamatan ini biasanya dapat dilakukan
pada eksperimen. Dalam pengamatan berstruktur, kegiatan pengamatan itu telah
diatur sebelumnya. Isi, maksud, objek yang diamati, kerangka kerja, dan
lain-lain, telah ditetapkan sebelum kegiatan pengamatan dilaksanakan. Oleh
karena itu, kegiatan pencatatan hanya dilakukan terhadap data-data yang sesuai
dengan cakupan bidang kebutuhan seperti yang telah ditetapkan sejak semula.
Lain halnya dengan pengamatan tak berstrukur, dalam melakukan pengamatannya, si
pengamat tidak dibatasi oleh kerangka kerja yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Setiap data yang muncul yang dianggap relevan dengan tujuan pengamatannya
langsung dicatat. Dengan demikian, data yang diperoleh lebih mencerminkan
keadaan yang sesungguhnya. Perilaku siswa dalam keadaan seperti itu bersifat
wajar, apa adanya dan tidak dibuat-buat.
Teknik
pengamatan jika dilakukan untuk melihat apakah perbuatan siswa sudah benar atau
tidak dapat dikategorikan sebagai teknik tes. Misalnya jika dalam praktek
olahraga seorang guru akan melihat apakah cara melempar lembing seseorang sudah
sesuai dengan teori atau tidak, maka pengamatan jenis ini terkategori sebagai
teknik tes. Tetapi jika pengamatan dilakukan terhadap aspek afektif seperti
cara seorang siswa bersikap terhadap guru, menjaga kebersihan, perhatian
terhadap tugas-tugas sekolah dan sebagainya, maka teknik ini termasuk teknik nontes.
Pengamatan/observasi adalah teknik penilaian yang dilakukan oleh pendidik
dengan menggunakan indera secara langsung. Observasi dilakukan dengan cara
menggunakan instrumen yang sudah dirancang sebelumnya.
Contoh aspek yang diamati pada
pelajaran Matematika:ketelitian;
Ø kecepatan kerja;
Ø kerjasama;
Ø kejujuran.
Contoh aspek yang diamati pada
pelajaran Bahasa Indonesia
Ø kerapian dan kebenaran tulisan;
Ø kesantunan berbahasa;
Ø kecermatan berbahasa.
Contoh aspek yang diamati pada
pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan;
Ø kedisiplinan;
Ø tanggung jawab;
Ø kerjasama;
Ø nisiatif;
Ø toleransi;
Ø kebersihan dan kerapihan.
Alat/instrumen
Untuk penilaian
melalui pengamatan dapat menggunakan skala sikap dan atau angket (kuesioner).
ü Skala sikap
Skala sikap
adalah alat penilaian hasil belajar yang berupa sejumlah pernyataan sikap
tentang sesuatu yang jawabannya dinyatakan secara berskala, misalnya skala
tiga, empat atau lima. Pengembangan
skala sikap dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1.
Menentukan
objek sikap yang akan dikembangkan skalanya misalnya sikap terhadap kebersihan.
2.
Memilih dan
membuat daftar dari konsep dan kata sifat yang relevan dengan objek penilaian
sikap. Misalnya : menarik, menyenangkan, mudah dipelajari dan sebagainya.
3.
Memilih kata
sifat yang tepat dan akan digunakan dalam skala.
4.
Menentukan
skala dan penskoran.
Contoh :Penilaian skala
sikap terhadap kebersihan.
|
No
|
Pernyataan
|
Skala
|
||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
||
|
1.
|
Rumah sebaiknya dirawat
kebersihannya setiap hari
|
|||||
|
2.
|
Kebersihan rumah menjadi
tanggung jawab semua anggota keluarga
|
|||||
|
3.
|
Ruang kelas perlu dijaga
kebersihannya setiap hari
|
|||||
|
4.
|
Kebersihan ruang kelas menjadi
tanggung jawab setiap anggota kelas
|
|||||
|
5.
|
Setiap siswa sebaiknya
melaksanakan tugas piket dengan penuh rasa tanggung jawab
|
|||||
|
6.
|
Anak yang lalai melaksanakan
tugas piket harus menggantinya pada waktu lain
|
|||||
|
7.
|
Ketua kelas tidak perlu
melaksanakan tugas piket karena sudah bertugas mengatur kegiatan kelas
|
|||||
Keterangan
:
1. sangat tidak setuju
2. tidak setuju
3. kurang setuju
4. setuju
5. sangat setuju
Sama halnya
dengan instrument evaluasi yang lain,obsevasi memiliki beberapa kelemahan dan
kelebihan yaitu:
Ø Kelemahan:
1.
Pelaksanaannya
sering terganggu keadaan cuaca atau kesan yang kurang baik dari observer maupun
observi.
2.
Masalah yang
sifatnya pribadi sulit diamati.
3.
Apabila memakan
waktu lama, akan menimbulkan kejenuhan.
Ø Kelebihan:
1.
Observasi cocok
dilakukan untuk berbagai macam fenomena.
2.
Observasi cocok
untuk mengamati perilaku.
3.
Banyak aspek
yang tidak dapat diukur dengan tes tetapi bisa diukur dengan observasi.
b)
Wawancara/Interview
Secara umum yang
dimaksud dengan wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang
dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan
muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan.
Wawancara atau
interview merupakan salah satu alat penilaian nontes yang dipergunakan untuk
mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan responden dengan jalan
tanya-jawab sepihak. Dikatakan sepihak karena pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan dalam kegiatan wawancara itu hanya berasal dari pihak pewawancara
saja, sementara responden hanya bertugas sebagai penjawab. Maksud diadakan
wawancara sebagaimana dikutip Moleong dari Lincoln dan Guba (1985 : 266) antara
lain mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi,
tuntutan, kepedulian dan lain sebagainya.
Ada banyak
pembagian wawancara yang dilakukan para ahli. salah satu diantaranya adalah
membagi wawancara kedalam dua bentuk yaitu wawancara bebas dan wawancara
terpimpin. Yang dimaksud wawancara terpimpin adalah suatu kegiatan wawancara
yang pertanyaan-pertanyaan serta kemungkinan-kemungkinan jawabannya itu telah
dipersiapkan pihak pewawancara, responden tinggal memilih jawaban yang sudah
dipersiapkan pewawancara. Sebaliknya dalam wawancara bebas, responden diberi
kebebasan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara sesuai dengan
pendapatnya tanpa terikat oleh ketentuan-ketentuan yang telah dibuat
pewawancaranya. Sedangkan kelemahan dan kelebihan jenis instrument wawancara
adalah sebagai berikut:
Ø Kelemahan:
1.
Jika subjek
yang ingin diteliti banyak maka akan memakan waktu yang banyak pula.
2.
Terkadang
wawancara berlangsung berlarut-larut tanpa arah.
3.
Adanya sikap
yang kurang baik dari responden maupun penanya.
Ø Kelebihan:
1.
Dapat
memperolehinformasi secara langsung sehingga objectivitas dapat diketahui.
2.
Dapat
memperbaiki proses dan hasil belajar
3.
Pelaksanaannya
lebih fleksibel, dinamis dan personal
c)
Kuisioner
Angket atau
kuisioner juga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam rangka penilaian hasil
belajar. Berbeda dengan wawancara dimana penilai atau evaluator berhadapan
secara langsung (face to face) dengan peserta didik atau dengan pihak lainnya,
maka dengan menggunakan angket pengumpulan data sebagai bahan penilaian hasil
belajar jauh lebih praktis, menghemat waktu dan tenaga. Hanya saja
jawaban-jawaban yang diberikan acapkali tidak sesuai dengan kenyataan yang
sebenarnya; apalagi jika pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam angket itu
kurang tajam, sehingga memungkinkan bagi responden untuk memberikan jawaban yang
diperkirakan akan melegakan atau memberikan kepuasan kepada pihak penilai.
Kuesioner
merupakan bentuk lain dari teknik nontes. Secara umum, ada dua jenis kuesioner
yaitu kuesioner tertutup dan terbuka. Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang
telah disediakan alternatif jawabannya sehingga responden tinggal memilih yang
sesuai dengan keadaan dirinya. Sedangkan kuesioner terbuka adalah kuesioner
yang jawabannya belum disediakan sehingga responden bebas menuliskan apa yang
dia rasakan. Satu hal yang menjadi ciri utama kuesioner adalah dalam kuesioner
tidak ada jawaban benar atau salah. Angket adalah alat penilaian hasil belajar
yang berupa daftar pertanyaan tertulis untuk menjaring informasi tentang
sesuatu, misalnya tentang latar belakang keluarga siswa, kesehatan siswa,
tanggapan siswa terhadap metode pembelajaran, media, dan lain-lain.
Contoh angket adalah sebagai berikut
:
Nama : ………………………..
Kelas : ………………………..
Petunjuk Pengisian angket!
Pilihlah salah satu jawaban yang
sesusai dengan Anda dengan memberi tanda silang (X) pada huruf a, b, c atau d.
1.
Air minum di keluargamu berasal dari
....
a. sumur
b. kemasan
c. hujan
d. sungai
2.
Air mandi di keluargamu berasal dari
....
a. sumur
b. kemasan
c. hujan
d. sungai
3. Buku dan alat tulismu disiapkan
oleh ....
a. orang tua
b. pembantu
c. kakak
d. saya sendiri
4.
Tempat tidurmu dirapikan oleh ....
a. orang tua
b. pembantu
c. kakak
d. saya sendiri
5.
Setiap hari rumahmu dibersihkan oleh ....
a. orang tua
b. pembantu
c. saudara
d. seluruh anggota keluarga
Contoh Angket Pendidikan Kewarganegaraan (Kelas
VI/1)
Kompetensi Dasar : Meneladani nilai-nilai juang para tokoh
yang berperan dalam proses perumusan
Pancasila sebagai Dasar Negara dalam kehidupan sehari-hari
Indikator :Mencontoh
nilai persatuan dan kesatuan dalam kehidupan sehari hari
Nama siswa : .................................
Jenis kelamin : ..................................
Kelas : ..................................
Petunjuk Pengisian angket!
Lingkari pada pernyataan (Ya/tidak)
yang sesuai dengan pilihan Anda .
1.
Mencontoh nilai
persatuan
·
Dalam berteman
memilih-milih berdasarkan suku, ras, agama. Ya/Tidak
·
Menghargai
pendapat orang lain Ya/Tidak
·
Membuat kelompok
belajar Ya/Tidak
·
Suka bertengkar
dengan teman Ya/Tidak
·
Mengejek teman
yang kurang beruntung Ya/Tidak
2.
Mencontoh nilai
kesatuan.
·
Ikut lomba
tarian daerah tingkat propinsi. Ya /Tidak
·
Mengikuti
jambore Tingkat Nasional Ya/Tidak
·
Tidak peduli
terhadap bencana alam yang
menimpa teman di propinsi lain Ya/Tidak
·
Merusak cagar
budaya alam Ya/Tidak
·
Melaksanakan
upacara bendera dengan tertib Ya/Tidak
Ada beberapa
alasan kenapa kuesioner sering dipergunakan orang dalam mengumpulkan informasi
tertentu yaitu : butir-butir kuesioner dapat diberikan kepada responden secara
serentak sehingga lebih efektif, butir-butir dalam kuesioner lebih menjamin
keseragaman baik perumusan kata, isi maupun urutannya serta kuesioner lebih
memudahkan dalam memberikan jawaban, kuesioner memudahkan sumber data dalam
memberikan jawaban serta kepraktisan serta relative lebih murah dibandingkan
metode nontes yang lain. Sama halnya dengan instrument lain, angket juga
memiliki beberapa kelemahan dan keunggulan, antara lain:
Ø Kelemahan:
1)
Ada kemungkinan
angket diisi oleh orang yang bukan menjadi target.
2)
Target menjawab
berdasarkan altternatif jawaban yang tersedia
Ø Keunggulan:
1)
Responden dapat
meenjawab dengan bebas tanpa dipengaruhi hubungan dengan peneliti atau penilai.
2)
Informasi yang
terkumpul lebih mudah karena homogen.
3)
Dapat
mengumpulkan data dari jumlah responden yang relatif banyak.
d)
Inventori
Inventori
kepribadian hampir serupa dengan tes kepribadian, namun pada inventori
kepribadian jawaban peserta didik selalu benar selama menyatakan dengan
sesungguhnya.Walaupun demikian digunakan pula skala-skala tertentu untuk
mengkuantifikasi jawaban agar dapat dibandingkan.
Inventori
(inventaris, inventarisasi) adalah satu alat untuk menaksir dan menilai ada
atau tidak adanya tingkah laku, minat, sikap tertentu dan sebagainya. Biasanya
inventaris ini berbentuk daftar pertanyaan yang harus dijawab.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Teknis nontes
adalah suatu alat penilaian yang biasanya dipergunakan untuk mendapatkan
informasi tertentu tentang keadaan peserta tes (Inggris: testee) dengan tidak
menggunakan tes. Hal ini berarti bahwa jawaban yang diberikan oleh peserta tes tidak
bisa dikategorikan sebagai jawaban benar atau salah sebagaimana interpretasi
jawaban tes. Dengan teknik nontes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar
peserta didik dilakukan tanpa “menguji” peserta didik melainkan dilakukan
dengan cara tertentu.
Dalam
dunia pendidikan teknik nontes yang sering digunakan adalah pengamatan
(observasi), dan terkadang, seorang guru juga menggunakan wawancara. Dalam
penelitian-penelitian sosial, teknik nontes biasanya juga digunakan untuk
mendapatkan informasi mengenai keadaan obyek penelitian. Teknik nontes yang
sering digunakan dalam penelitian-penelitian sosial penelitian adalah
kuesioner. Dibawah ini adalah jenis-jenis penelitian non tes :
a)
Pengamatan
(Observasi)
b)
Wawancara/Interview
c)
Kuisioner
d)
Inventori
B.
Saran
Sebagai seorang
guru kita harus mengerti cara penilaian Instrumen Tes maupun Non-Tes . Semoga
dengan adanya makalah ini kita bisa mempelajari mengenai Instrumen Non-Tes.
DAFTAR PUSAKA
Arikunto, Suharsimi. 1987.
Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur
Penilaian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
H. Djaali dan Pudji Mulyono. 2008. Pengukuran Dalam Bidang
Pendidikan. Jakarta: PT Grasindo.
Sudjana, Nana. 2007. Penilaian Hasil
Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja RosdaKarya.
Hamalik, Oemar. 2009. Teknik
Pengukuran dan Evaluasi Pendidikan. Bandung: Mandar Maju.
Widoyoko, S.
Eko Putro. 2009. Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta: PustakaPelajar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar