Minggu, 24 Mei 2020

MAKALAH EVALUASI PENDIDIKAN - PAI - (Tehnik Penyusunan Instrument Penilaian Non Tes)


MAKALAH EVALUASI PENDIDIKAN PAI II
Tehnik Penyusunan Instrument Penilaian Non Tes


Dosen Pembimbing :
Dr. Ahmad Zain Sarnoto
Dibuat Oleh :
Nurhayati

UNIVERSITAS ISLAM ATTAHIRIYAH
Fakultas Agama Islam
JAKARTA, JULI 2017





KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat dan salam kami sanjungkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang dengan izin Allah telah membawa kita dari zaman kebodohan ke zaman  yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu bahan penunjang materi pembelajaran Evaluasi Pendidikan. Melalui makalah ini kami mencoba memberikan penjelasan mengenai“ Teknik Penyusunan Instrumen Penilaian Nontes”. Ucapan terimakasih kami ucapkan kepada Bapak Dr. Ahmad Zain Sarnoto sebagai Dosen Mata Kuliah Evaluasi Pendidikan.
 Kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembacas semua. Dengan kata lain dapat memahami tentang bagaimana teknik penyusunan instrumen penilaian nontes. Kami mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini.



Jakarta, 29 Juli 2017


Penyusun



DAFTAR ISI

Kata Pengantar            …………………………………………………………….   i
Daftar Isi                     …………………………………………………………….   ii

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang      …………………………………………………………….   1
B.     Rumusan Masalah …………………………………………………………….   2
C.     Tujuan Penulisan   …………………………………………………………….   2

BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Penyusunan Instrument Penilaian Non-Tes    …………………….   3
B.     Teknik Penyusunan Non Tes        …………………………………………….   4
a)   Pengamatan (Observasi)         …………………………………………….   5
b)   Wawancara/Interview             …………………………………………….   9
c)   Kuisioner                                 …………………………………………….   10
d)   Inventori                                 …………………………………………….   14

BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan           …………………………………………………………….   16
B.     Saran                     …………………………………………………………….   16

DAFTAR PUSAKA   …………………………………………………………….   17








BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Mutu pendidikan dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya siswa, pengelola sekolah, lingkungan,kualitas pengajaran, kurikulum dan sebagainya (Suhartoyo, 2005). Usaha peningkatan pendidikan bisa ditempuh dengan peningkatan kualitas pembelajaran dan sistem evaluasi yang baik. Keduanya saling berkaitan sistem pembelajaran yang baik akan menghasilkan kualitas pendidikan yang baik, selanjutnya sistem penilaian yang baik akan mendorong guru untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi siswa untuk belajar yang lebih baik (Mardapi, 2003).
Sehubungan dengan itu, maka di dalam pembelajaran dibutuhkan guru yang tidak hanya mengajar dengan baik, namun mampu melakukan evaluasi dengan baik. Kegiatan evaluasi sebagai bagian dari program pembelajaran perlu lebih dioptimalkan. Evaluasi tidak hanya bertumpu pada penilaian hasil belajar, namun perlu penilaian terhadap input, output dan kualitas proses pembelajaran itu sendiri.
Penilaian hasil belajar tidak hanya dilakukan dengan cara tes, tetapi dapat juga dilakukan dengan teknik non-tes seperti pedoman observasi, skala sikap, daftar cek, dan catatan anecdotal. Pedoman observasi baik digunakan untuk mengukur hasil belajar yang mengutamakan penampilan atau keterampilan dalam pendidikan professional. Karena pada umumnya hasil belajar yang bersifat keterampilan sukar diukur dengan tes, maka digunakan teknik pengukuran lain yang dapat memberikan hasil yang lebih akurat.
Dalam makalah ini, akan disajikan beberapa hal tentang teknik evaluasi yang dapat digunakan dalam penilaian terhadap anak didik, baik itu tentang kemampuan belajar, sikap, keterampilan, sifat, bakat, minat dan kepribadian. Adapun teknik yang akan dijelaskan dalam makalah ini adalah teknik non-tes. Salah satu teknik yang sangat membantu dalam penilaian terhadap hal-hal yang bersangkutan dengan siswa.

B.     Rumusan Masalah
Dilihat dari latar belakang diatas adapun rumusan masalahnya, yaitu:
A.    Apa pengertian penyusunan penilaian nontes ?
B.     Apa saja penggolongan tehnik penyusunan instrumen penilaian nontes ?

C.    Tujuan Penulisan
Tujuan utama pembuatan makalah ini untuk memenuhi nilai mata kuliah Evaluasi Pembelajaran. Selanjutnya untuk memaparkan :
A.    Pengertian tehnik penyusunan instrument penilaian nontes.
B.     Macam-macam tehnik penyusunan instrument penilaian nontes.












BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Penyusunan Instrument Penilaian Non-Tes
Teknis nontes adalah suatu alat penilaian yang biasanya dipergunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan peserta tes (Inggris: testee) dengan tidak menggunakan tes. Hal ini berarti bahwa jawaban yang diberikan oleh peserta tes tidak bisa dikategorikan sebagai jawaban benar atau salah sebagaimana interpretasi jawaban tes. Dengan teknik nontes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan tanpa “menguji” peserta didik melainkan dilakukan dengan cara tertentu.
Teknik penilaian nontes berarti melaksanakan penilaian dengan tidak menggunakan tes. Sedangkan teknik penilaian non tes tulis maksudnya adalah bentuk evaluasi non tes yang berbentuk tulisan atau non lisan.
Adapun menurut Hasyim, ”Penilaian non test adalah penilaian yang mengukur kemampuan siswa secara langsung dengan tugas-tugas riil dalam proses pembelajaran. Contoh penilaian non test banyak terdapat pada keterampilan menulis untuk bahasa, percobaan laboratorium sains, bongkar pasang mesin, teknik dan sebagainya”.
Penilaian yang dilakukan dengan teknis nontes terutama bertujuan untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan evaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah sikap hidup (affective domain) dan ranah ketrampilan (psychomotoric domain). David Krathwohl (1974), sebagaimana dikutip Anas Sudijono (2005 : 54) mengembangkan taksonomi mengenai ranah afektif ini dengan membaginya kedalam lima jenjang yaitu : receiving (menerima), responding (merespon), valuing (menilai atau memaknai), organization (mengorganisasi) dan (characterization by a value or value complex (karakterisasi dengan suatu nilai atau nilai yang kompleks).
Kemampuan psikomotor (psychomotoric domain) adalah kemampuan yang berhubungan dengan gerak yaitu kemampuan dalam menggunakan otot-otot seperti berjalan, lari, melompat, berenang, melukis, membongkar dan memasang peralatan dan lain sebagainya. Dalam dunia psikologi, kemampuan psikomotor dibagi kedalam lima tingkatan yaitu gerak refleks, gerakan dasar, kemampuan perseptual, kemampuan fisik, gerakan trampil dan komunikasi nondiskursip (Sax, 1980: 76).

B.     Teknik Penyusunan Non Tes
Teknik nontes merupakan teknik penilaian untuk memperoleh gambaran terutama mengenai karakteristik, sikap, atau kepribadian. Selama ini teknik nontes kurang digunakan  dibandingkan teknis tes. Dalam proses pembelajaran pada umumnya kegiatan  penilaian mengutamakan teknik tes. Hal ini dikarenakan lebih berperannya aspek pengetahuan dan keterampilan dalam pengambilan keputusan yang dilakukan guru pada saat menentukan siswa.  Seiring dengan berlakunya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar maka teknik penilaian harus disesuaikan dengan kompetensi yang diukur, aspek yang akan diukur, pengetahuan, keterampilan atau sikap, kemampuan siswa yang akan diukur, sarana dan prasarana yang ada.
Dalam dunia pendidikan teknik nontes yang sering digunakan adalah pengamatan (observasi), dan terkadang, seorang guru juga menggunakan wawancara. Dalam penelitian-penelitian sosial, teknik nontes biasanya juga digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai keadaan obyek penelitian. Teknik nontes yang sering digunakan dalam penelitian-penelitian sosial penelitian adalah kuesioner. Dibawah ini adalah jenis-jenis penelitian non tes :

a)      Pengamatan (Observasi)
Secara umum, pengertian observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan atau data yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan.
Observasi sebagai alat evaluasi banyak digunakan untuk menilai tingkah laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar : misalnya tingkah laku peserta didik pada waktu guru pendidikan agama menyampaikan pelajaran di kelas, tingkah laku peserta didik pada jam-jam istirahat atau pada saat terjadinya kekosongan pelajaran, perilaku peserta didik pada saat sholat jamaah di mushola sekolah, ceramah-ceramah keagaaman, upacara bendera, ibadah shalat tarawih dan sebagainya.
Teknik pengamatan atau observasi merupakan salah satu bentuk teknik nontes yang biasa dipergunakan untuk menilai sesuatu melalui pengamatan terhadap objeknya secara langsung, seksama dan sistematis. Pengamatan memungkinkan untuk melihat dan mengamati sendiri kemudian mencatat perilaku dan kejadian yang terjadi pada keadaan sebenarnya. Berikut ini beberapa karakteristik dari observasi yaitu mempunyai tujuan, bersifat ilmiah, terdapat aspek yang diamati, praktis
Menurut Moleong (2005 : 176) pengamatan dapat dibedakan menjadi dua yaitu pengamatan berperanserta dan tidak berperanserta. Dalam pengamatan yang tidak berperanserta, seseorang hanya melakukan satu fungsi yaitu mengamati tetapi pada pengamatan berperanserta seseorang disamping mengamati juga menjadi anggota dari obyek yang diamati.
Pengamatan dapat pula dibagi atas pengamatan terbuka dan tertutup. Terbuka jika obyek yang diamati mengetahui bahwa mereka sedang diamati dan sebaliknya. Selain itu pengamatan juga dibagi pada latar alamiah (pengamatan tak terstruktur) dan latar buatan (pengamatan terstruktur). Pengamatan ini biasanya dapat dilakukan pada eksperimen. Dalam pengamatan berstruktur, kegiatan pengamatan itu telah diatur sebelumnya. Isi, maksud, objek yang diamati, kerangka kerja, dan lain-lain, telah ditetapkan sebelum kegiatan pengamatan dilaksanakan. Oleh karena itu, kegiatan pencatatan hanya dilakukan terhadap data-data yang sesuai dengan cakupan bidang kebutuhan seperti yang telah ditetapkan sejak semula. Lain halnya dengan pengamatan tak berstrukur, dalam melakukan pengamatannya, si pengamat tidak dibatasi oleh kerangka kerja yang telah dipersiapkan sebelumnya. Setiap data yang muncul yang dianggap relevan dengan tujuan pengamatannya langsung dicatat. Dengan demikian, data yang diperoleh lebih mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Perilaku siswa dalam keadaan seperti itu bersifat wajar, apa adanya dan tidak dibuat-buat.
Teknik pengamatan jika dilakukan untuk melihat apakah perbuatan siswa sudah benar atau tidak dapat dikategorikan sebagai teknik tes. Misalnya jika dalam praktek olahraga seorang guru akan melihat apakah cara melempar lembing seseorang sudah sesuai dengan teori atau tidak, maka pengamatan jenis ini terkategori sebagai teknik tes. Tetapi jika pengamatan dilakukan terhadap aspek afektif seperti cara seorang siswa bersikap terhadap guru, menjaga kebersihan, perhatian terhadap tugas-tugas sekolah dan sebagainya, maka teknik ini termasuk teknik nontes. Pengamatan/observasi adalah teknik penilaian yang dilakukan oleh pendidik dengan menggunakan indera secara langsung. Observasi dilakukan dengan cara menggunakan instrumen yang sudah dirancang sebelumnya.
Contoh aspek yang diamati pada pelajaran Matematika:ketelitian;
Ø  kecepatan kerja;
Ø  kerjasama;
Ø  kejujuran.


Contoh aspek yang diamati pada pelajaran Bahasa Indonesia
Ø  kerapian dan kebenaran tulisan;
Ø  kesantunan berbahasa;
Ø  kecermatan berbahasa.

Contoh aspek yang diamati pada pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan;
Ø  kedisiplinan;
Ø  tanggung jawab;
Ø  kerjasama;
Ø  nisiatif;
Ø  toleransi;
Ø  kebersihan dan kerapihan.

Alat/instrumen
Untuk penilaian melalui pengamatan dapat menggunakan skala sikap dan atau angket (kuesioner).
ü  Skala sikap
Skala sikap adalah alat penilaian hasil belajar yang berupa sejumlah pernyataan sikap tentang sesuatu yang jawabannya dinyatakan secara berskala, misalnya skala tiga, empat atau  lima. Pengembangan skala sikap dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1.      Menentukan objek sikap yang akan dikembangkan skalanya misalnya sikap terhadap  kebersihan.
2.      Memilih dan membuat daftar dari konsep dan kata sifat yang relevan dengan objek penilaian sikap. Misalnya : menarik, menyenangkan, mudah dipelajari dan sebagainya.
3.      Memilih kata sifat yang tepat dan akan digunakan dalam skala.
4.      Menentukan skala dan penskoran.
Contoh  :Penilaian skala sikap terhadap kebersihan.
No
Pernyataan
Skala
1
2
3
4
5
1.
Rumah sebaiknya dirawat kebersihannya setiap hari
2.
Kebersihan rumah menjadi tanggung jawab semua anggota keluarga
3.
Ruang kelas perlu dijaga kebersihannya setiap hari
4.
Kebersihan ruang kelas menjadi tanggung jawab setiap anggota kelas
5.
Setiap siswa sebaiknya melaksanakan tugas piket dengan penuh rasa tanggung jawab
6.
Anak yang lalai melaksanakan tugas piket harus menggantinya pada waktu lain
7.
Ketua kelas tidak perlu melaksanakan tugas piket karena sudah bertugas mengatur kegiatan kelas
Keterangan :
1.      sangat tidak setuju
2.      tidak setuju
3.      kurang setuju
4.      setuju
5.      sangat setuju
Sama halnya dengan instrument evaluasi yang lain,obsevasi memiliki beberapa kelemahan dan kelebihan yaitu:
Ø  Kelemahan:
1.      Pelaksanaannya sering terganggu keadaan cuaca atau kesan yang kurang baik dari observer maupun observi.
2.      Masalah yang sifatnya pribadi sulit diamati.
3.      Apabila memakan waktu lama, akan menimbulkan kejenuhan.
Ø  Kelebihan:
1.      Observasi cocok dilakukan untuk berbagai macam fenomena.
2.      Observasi cocok untuk mengamati perilaku.
3.      Banyak aspek yang tidak dapat diukur dengan tes tetapi bisa diukur dengan observasi.

b)     Wawancara/Interview
Secara umum yang dimaksud dengan wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan.
Wawancara atau interview merupakan salah satu alat penilaian nontes yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan responden dengan jalan tanya-jawab sepihak. Dikatakan sepihak karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kegiatan wawancara itu hanya berasal dari pihak pewawancara saja, sementara responden hanya bertugas sebagai penjawab. Maksud diadakan wawancara sebagaimana dikutip Moleong dari Lincoln dan Guba (1985 : 266) antara lain mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain sebagainya.
Ada banyak pembagian wawancara yang dilakukan para ahli. salah satu diantaranya adalah membagi wawancara kedalam dua bentuk yaitu wawancara bebas dan wawancara terpimpin. Yang dimaksud wawancara terpimpin adalah suatu kegiatan wawancara yang pertanyaan-pertanyaan serta kemungkinan-kemungkinan jawabannya itu telah dipersiapkan pihak pewawancara, responden tinggal memilih jawaban yang sudah dipersiapkan pewawancara. Sebaliknya dalam wawancara bebas, responden diberi kebebasan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara sesuai dengan pendapatnya tanpa terikat oleh ketentuan-ketentuan yang telah dibuat pewawancaranya. Sedangkan kelemahan dan kelebihan jenis instrument wawancara adalah sebagai berikut:
Ø  Kelemahan:
1.      Jika subjek yang ingin diteliti banyak maka akan memakan waktu yang banyak pula.
2.      Terkadang wawancara berlangsung berlarut-larut tanpa arah.
3.      Adanya sikap yang kurang baik dari responden maupun penanya.
Ø  Kelebihan:
1.      Dapat memperolehinformasi secara langsung sehingga objectivitas dapat diketahui.
2.      Dapat memperbaiki proses dan hasil belajar
3.      Pelaksanaannya lebih fleksibel, dinamis dan personal

c)      Kuisioner
Angket atau kuisioner juga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam rangka penilaian hasil belajar. Berbeda dengan wawancara dimana penilai atau evaluator berhadapan secara langsung (face to face) dengan peserta didik atau dengan pihak lainnya, maka dengan menggunakan angket pengumpulan data sebagai bahan penilaian hasil belajar jauh lebih praktis, menghemat waktu dan tenaga. Hanya saja jawaban-jawaban yang diberikan acapkali tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya; apalagi jika pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam angket itu kurang tajam, sehingga memungkinkan bagi responden untuk memberikan jawaban yang diperkirakan akan melegakan atau memberikan kepuasan kepada pihak penilai.
Kuesioner merupakan bentuk lain dari teknik nontes. Secara umum, ada dua jenis kuesioner yaitu kuesioner tertutup dan terbuka. Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang telah disediakan alternatif jawabannya sehingga responden tinggal memilih yang sesuai dengan keadaan dirinya. Sedangkan kuesioner terbuka adalah kuesioner yang jawabannya belum disediakan sehingga responden bebas menuliskan apa yang dia rasakan. Satu hal yang menjadi ciri utama kuesioner adalah dalam kuesioner tidak ada jawaban benar atau salah. Angket adalah alat penilaian hasil belajar yang berupa daftar pertanyaan tertulis untuk menjaring informasi tentang sesuatu, misalnya tentang latar belakang keluarga siswa, kesehatan siswa, tanggapan siswa terhadap metode pembelajaran, media, dan lain-lain.

Contoh angket adalah sebagai berikut :
Nama                     : ………………………..
Kelas                     : ………………………..
Petunjuk Pengisian angket!
Pilihlah salah satu jawaban yang sesusai dengan Anda dengan memberi tanda silang (X) pada huruf a, b, c atau d.
1.  Air minum di keluargamu berasal dari  ....
a.  sumur
b.  kemasan
c.  hujan
d.  sungai

2.  Air mandi di keluargamu berasal dari  ....
a.  sumur
b.  kemasan
c.  hujan
d.  sungai
3. Buku dan alat tulismu disiapkan oleh ....
a. orang tua
b. pembantu
c. kakak
d. saya sendiri
4.  Tempat tidurmu dirapikan oleh ....
a.  orang tua
b.  pembantu
c.  kakak         
d. saya sendiri
5.  Setiap hari rumahmu dibersihkan oleh ....
a. orang tua
b. pembantu
c. saudara
d. seluruh anggota keluarga


Contoh  Angket Pendidikan Kewarganegaraan (Kelas VI/1)
  Kompetensi Dasar      : Meneladani nilai-nilai juang para tokoh yang berperan dalam proses   perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara dalam kehidupan sehari-hari
Indikator                     :Mencontoh nilai persatuan dan kesatuan dalam kehidupan sehari hari
Nama siswa                 : .................................
Jenis kelamin               : ..................................
Kelas                           : ..................................

Petunjuk Pengisian angket!
Lingkari pada pernyataan (Ya/tidak) yang sesuai dengan pilihan Anda .
1.      Mencontoh nilai persatuan
·         Dalam berteman memilih-milih berdasarkan suku, ras, agama.         Ya/Tidak
·         Menghargai pendapat orang lain                                                        Ya/Tidak
·         Membuat kelompok belajar                                                                Ya/Tidak
·         Suka bertengkar dengan teman                                                   Ya/Tidak
·         Mengejek teman yang kurang beruntung                                           Ya/Tidak

2.      Mencontoh nilai kesatuan.
·         Ikut lomba tarian daerah tingkat propinsi.                                    Ya /Tidak
·         Mengikuti jambore Tingkat Nasional                                                  Ya/Tidak
·         Tidak peduli terhadap bencana alam yang
menimpa teman di propinsi lain                                                          Ya/Tidak                                                               
·         Merusak cagar budaya alam                                                        Ya/Tidak
·         Melaksanakan upacara bendera dengan tertib                                     Ya/Tidak
Ada beberapa alasan kenapa kuesioner sering dipergunakan orang dalam mengumpulkan informasi tertentu yaitu : butir-butir kuesioner dapat diberikan kepada responden secara serentak sehingga lebih efektif, butir-butir dalam kuesioner lebih menjamin keseragaman baik perumusan kata, isi maupun urutannya serta kuesioner lebih memudahkan dalam memberikan jawaban, kuesioner memudahkan sumber data dalam memberikan jawaban serta kepraktisan serta relative lebih murah dibandingkan metode nontes yang lain. Sama halnya dengan instrument lain, angket juga memiliki beberapa kelemahan dan keunggulan, antara lain:
Ø  Kelemahan:
1)      Ada kemungkinan angket diisi oleh orang yang bukan menjadi target.
2)      Target menjawab berdasarkan altternatif jawaban yang tersedia
Ø  Keunggulan:
1)      Responden dapat meenjawab dengan bebas tanpa dipengaruhi hubungan dengan peneliti atau penilai.
2)      Informasi yang terkumpul lebih mudah karena homogen.
3)      Dapat mengumpulkan data dari jumlah responden yang relatif banyak.

d)     Inventori
Inventori kepribadian hampir serupa dengan tes kepribadian, namun pada inventori kepribadian jawaban peserta didik selalu benar selama menyatakan dengan sesungguhnya.Walaupun demikian digunakan pula skala-skala tertentu untuk mengkuantifikasi jawaban agar dapat dibandingkan.
Inventori (inventaris, inventarisasi) adalah satu alat untuk menaksir dan menilai ada atau tidak adanya tingkah laku, minat, sikap tertentu dan sebagainya. Biasanya inventaris ini berbentuk daftar pertanyaan yang harus dijawab.





BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Teknis nontes adalah suatu alat penilaian yang biasanya dipergunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan peserta tes (Inggris: testee) dengan tidak menggunakan tes. Hal ini berarti bahwa jawaban yang diberikan oleh peserta tes tidak bisa dikategorikan sebagai jawaban benar atau salah sebagaimana interpretasi jawaban tes. Dengan teknik nontes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan tanpa “menguji” peserta didik melainkan dilakukan dengan cara tertentu.
Dalam dunia pendidikan teknik nontes yang sering digunakan adalah pengamatan (observasi), dan terkadang, seorang guru juga menggunakan wawancara. Dalam penelitian-penelitian sosial, teknik nontes biasanya juga digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai keadaan obyek penelitian. Teknik nontes yang sering digunakan dalam penelitian-penelitian sosial penelitian adalah kuesioner. Dibawah ini adalah jenis-jenis penelitian non tes :
a)      Pengamatan (Observasi)       
b)      Wawancara/Interview                       
c)      Kuisioner                               
d)      Inventori

B.     Saran
Sebagai seorang guru kita harus mengerti cara penilaian Instrumen Tes maupun Non-Tes . Semoga dengan adanya makalah ini kita bisa mempelajari mengenai Instrumen Non-Tes.





DAFTAR PUSAKA
Arikunto, Suharsimi. 1987. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penilaian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
H. Djaali dan  Pudji Mulyono. 2008. Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: PT Grasindo.
Sudjana, Nana. 2007. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja RosdaKarya.
Hamalik, Oemar. 2009. Teknik Pengukuran dan Evaluasi Pendidikan. Bandung: Mandar Maju.
Widoyoko, S. Eko Putro. 2009. Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta: PustakaPelajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LAPORAN KKL ( KULIAH KERJA LAPANGAN ) FAI UNIAT (Universitas Islam Attahiriyah)

https://drive.google.com/folderview?id=1QsYXAAC12ZFAC3ZtvdvvHF_AnsawW8n5