Minggu, 24 Mei 2020

MAKALAH EVALUASI PENDIDIKAN -PAI - (Teknik Penentuan Nilai Akhir)


MAKALAH EVALUASI PAI II
TEKNIK PENENTUAN NILAI AKHIR
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas individu mata kuliah Evaluasi PAI II
Dosen Pembimbing : Dr . Ahmad Zain Sarnoto,M.Pd

Disusun Oleh :
Nama   : Fitri Afriani
NPM : 201402862080160
Semester / Kelas : 6B01
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ( TARBIYAH )
FAKULTAS AGAMA ISLAM






Kata Pengantar

Puji beserta syukur, marilah kita panjatkan kepada Allah Swt, karena atas kuasaNya lah alhamdulilah kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan tepat waktu. Sholawat beserta salam selalu tercurah limpah kepada Nabi besar Muhammad Saw, tak lupa juga ucapan terimakasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Evaluasi PAI II  yang telah membimbing kami dalam penyelesaian tugas kali ini.
            Kami sadar masih banyak terdapat kekurangan dalam pembuatan makalah ini, untuk itu kami mengharapkan kritik serta saran untuk kami demi kelancarannya proses belajar mengajar

Jakarta ,25 Juli 2017
Penyusun













DAFTAR PUSTAKA










BAB  I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Evaluasi sangatlah penting dilakukan dalam dunia pendidikan sebab dengan evaluasi atau penilaian, guru akan mengetahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungn social, dan kepribadian siswa atau peserta didik. Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajarn yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pelajar telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan atau kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat tercapai.  Evaluasi merupakan dasar memperbaiki sistem pengajaran, sesungguhnya pelaksanaan evaluasi harus bersifat kontinyu. Setiap kali dilaksanakan proses pengajaran harus dievaluasi. Sebaliknya bila evaluasi hanya dilaksanakan diakhir suatu program satu kali tidak banyak berarti, sebab telah banyak proses terlampaui tanpa revisi
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana teknik penentuan nilai akhir ?
2.      Bagaimana teknik urutan rangking ?
3.      Bagaimana teknik pembuatan profit hasil belajar ?








BAB II

PEMBAHASAN


1.      Pengertian Penilaian
Penilaian adalah proses sistematis meliputi pengumpulan informasi (angka, deskripsi verbal), analisis, interpretasi informasi untuk membuat keputusan. Penilaian atau evaluasi juga dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan untuk memperoleh data tentang proses dan hasil belajar siswa secara sistematis dan berkesinambungan. Penilaian kelas dalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan anak didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan, atau menunjukan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran dan kemampuan (kompetensi) telah benar-benar dikuasai dan dicapai.[1]
Menurut Departemen Pendidikan Nasional, penilaian kelas adalah proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru melalui sejumlah bukti untuk membuat keputusan tentang pencapaian hasil belajar/kompetensi siswa. Terdapat juga pengertian lain dari penilaian kelas, yaitu bagian integral dalam proses pembelajaran yang dilakukan sebagai proses pengumpulan dan pemanfaatan informasi yang menyeluruh tentang hasil belajar yang diperoleh siswa untuk menetapkan tingkat pencapaian dan penguasaan kompetensi seperti yang ditentukan dalam kurikulum dan sebagai umpan balik perbaikan proses pembelajaran.[2]
Dari beberapa pendapat diatas, dapat penulis simpulkan bahwa penilaian merupakan hasil dari pengumpulan data-data atau nilai dari serangkaian tugas ataupun proses yang dinilai dari oleh pendidik dalam proses kagiatan belajar mengajar, sehingga dari penilaian tersebut dapat diketahui perkembangan peserta didik.


Penilaian proses dan hasil belajar dibagi menjadi:
a.             Penilaian Formatif (Formative Assessment)

2.      Teknik Penentuan Nilai Akhir
Dalam menentukan nilai akhir bobot nilai-nilai yang merupakan komponennya perlu ditentukan dan diberitahukan kepada siswa. System penilaian yang sesuai dengan maksud dan tujuan yang telah disebutkan diatas adalah system penilaian relative, yaitu system yang digunakan untuk menilai kemampuan siswa yang lain dalam kelasnya.
1.      Fungsi Nilai Akhir
Penentuan nilai akhir secara garis besar memiliki empat macam fungsi yaitu: fungsi intruksional, fungsi informatif, fungsi bimbingan dan fungsi administratif.
a.       Fungsi Intruksional
Tidak ada tujuan yang lebih penting dalam proses belajar mengajar kecuali mengusahakan agar perkembangan dan belajar siswa mencapai tingkat optimal. Pemberian nilai merupakan suatu pekerjaan yang bertujuan untuk memberikan suatu balikan (feed back/ umpan balik) yang mencerminkan seberapa jauh siswa telah mencapai tujuan yang ditetapkan dalam pengajaran atau sistem intruksional.
b.      Fungsi Informatif
Memberikan nilai siswa kepada orang tuanya mempunyai arti bahwa orang tua tersebut menjadi tahu akan kemajuan dan prestasi anaknya di sekolah. Dengan catatan ini orang tua akan : a) Sadar terhadap keadaan anaknya, untuk kemudian lebih baik memberi bantuan berupa perhatian, dorongan atau bimbingan dan b) Hubungan orang tua dengan sekolah semakin lebih baik.
c.       Fungsi Bimbingan
Pemberian nilai kepada siswa akan mempunyai arti besar bagi pekerjaan bimbingan. Dengan perincian gambaran nilai siswa, petugas bimbingan akan segera tahu bagian-bagian mana dari usaha siswa di sekolah yang masih memerlukan bantuan. Catatan lengkap yang juga mencakup tingkat (ranking) dalam kepribadian siswa serta sifat-sifat yang berhubungan dengan rasa sosial akan sangat membantu siswa dalam mengarahkannya sebagai pribadi yang seutuhnya
d.      Fungsi Administratif
Secara administratif pemberian nilai kahir oleh seorang pendidik terhadap peserta didiknya itu memiliki fungsi sebagai berikut:
1.Menentukan kenaikan dan kelulusan siswa
2.Memindahkan atau menempatkan siswa
3.Memberikan beasiswa
4.Memberikan rekomendasi untuk melanjutkan belajar
5.Memberi gambaran tentang prestasi siswa/lulusan kepada para calon pemakai tenaga kerja.
2.      Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penentuan Nilai Akhir
·         Faktor pencapaian atau prestasi (Achievement)
·         Faktor usaha (Effort)
·         Faktor aspek pribadi dan sosial (Personnal and Social Characteristic)
·         Faktor kebiasaan kerja (Work Habit)[3]
3.      Beberapa Contoh Cara Penentuan Nilai Akhir
Dalam pelaksanaannya, dicarilah nilai rata-rata hitung nilai hasil tes formatif dan nilai hasil tes sumatif; nilai nilai mana sebelum dicari rata-rata hitungnya terlebih dahulu diubah atau dikonversikan kedalam nilai standar berskala sepuluh.
Penentuan nilai akhir pada umumnya dilakukan pada saat guru akan mengisi buku laporan pendidikan (Rapor), atau mengisi ijazah (Surat Tanda Tamat Belajar). Dalam praktek mereka telah dibimbing oleh suatu peraturan atau pedoman yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang. Karena itu, dalam praktek kita jumpai berbagai macam cara yang biasa digunakan oleh guru dalam menentukan nilai akhir tersebut.
Berikut ini dikemukakan contoh cara yang sering dipergunakan dalam penentuan nilai akhir.
a.       Nilai akhir diperoleh dengan jalan menghitungkan nilai hasil tes formatif, yaitu nilai rata-rata hasil ulangan harian, dengan nilai hasil tes sumatif , yaitu nilai hasil ulangan umum atau EBTA, dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
(F1+ F2+ F3=………….. Fn)
n                      +2 S
N=
3
Keterangan: NA: Nilai Akhir
                      F: Nilai hasil tes formatif  ke-1
                      F: Nilai hasil tes formatif  ke-2
                      F: Nilai hasil tes formatif  ke-3
                      F: Nilai hasil tes formatif  ke-4
                      n  : Banyaknya kali tes formatif dilaksanakan
                                 2&3 : Bilangan konstan (2=bobot tes formatif, 3=bobot tes secara   keseluruhan)
b.      Cara kedua ini dipergunakan untuk keperluan pengisian ijazah atau Surat Tanda Tamat Belajar (STTB). Disini nilai akhir diperoleh dari: nilai rata-rata hasil ulangan harian (H), diberi bobot 1, ditambah dengan nilai hasil Evaluasi Tahap Akhir (EBTA), diberi bobot 2. Jika tdituangkan dalam bentuk rumus:
                        H
N                    + 2 E
N
3

 

B.     Teknik Penyusunan Urutan Kedudukan (Ranking)

1.      Pengertian Ranking
Dalam rangkaian kegiatan belajar-mengajar, pada saat saat tertentu staf pengajar (guru, dosen dan lain-lain) sebagai seorang pendidik dihadapkan pada tugas untuk melaporkan atau menyampaikan informasi, baik kepada atasannya, pada orang tua peserta didik, maupun pada para peserta itu sendiri, mengenai: “dimanakah letak urutan kedudukan seseorang peserta didik jika dibandingkan dengan peserta didik lainnya, ditengah-tengah kelompok dimana peserta didik itu berada”.
Dengan disampaikannya informasi tersebut maka pihak-pihak yang bersangkutan akan dapat mengetahui, apakah peserta didik itu berada pada urutan atas sehingga ia dapat disebut sebagai siswa yang pandai, ataukah pada urutan bawah sehingga siswa tersebut dinyatakan sebagai siswa yang mempunyai kemampuan rendah. Dengan kata lain pihak-pihak yang bersangkutan akan mengetahui standing position masing-masing peserta didik dari waktu ke waktu; apakah posisinya senantiasa stabil, semakin meningkat, atau sebaliknya posisinya cenderung menurun.
2.      Jenis dan Prosedur Penyusunan Ranking
Mencari dan mengetahui urutan kedudukan peserta didik dalam sutu kelas atau kelompok pada umumnya dilakukan dengan terlebih dahulu mengurutkan nilai-nilai yang telah dicapai oleh peserta didik, mulai dari nilai yang paling tinggi sampai dengan yang terendah. Dengan cara demikian maka akan dapat ditentukan nomor yang menunjukkan urutan kedudukan peserta didik ditengah-tengah kelompoknya. Prosedur penentuan urutan kedudukan seperti telah dikemukakan diatas adalah merupakan prosedur yang paling sederhana.
Dalam praktek, ada beberapa jenis ranking; beberapa diantaranya: (1) Ranking sederhana (=simple rank), (2) Ranking persenan (=percentile rank), (3) Ranking berdasarkan mean dan deviasi standar, (4) Ranking berdasar nilai standar z (z score), dan (5) Ranking berdasar nilai standar T (T score).
a.       Ranking sederhana
Ranking sederhana atau simple rank adalah urutan yang menunjukkan posisi atau kedudukan seorang peserta didik ditengah-tengah kelompoknya, yang dinyatakan dengan nomor atau angka-angka biasa.
b.      Ranking persentase (Percentile Rank)
Dimaksud dengan ranking persentase adalah angka yang menunjukkan arutan kedudukan seorang peserta didik ditengah-tengah kelompoknya, dimana angka tersebut menunjukkan persentase dari peserta didik yang berada dibawahnya.
Pernyataan tersebut mengandung pengertian, bahwa apabila seorang peserta didik memiliki percentile rank (biasa disingkat PR) sebesar, maka itu berarti bahwa kecakapan peserta didik tersebut sama atau melebihi 75% dari kecakapan yang dimiliki oleh seluruh kelompok. Jika disbanding simple rank , maka percentile rank dipandang lebih tajam dan teliti sebab dengan percentile rank tersebut akan dapat dengan secara cepat dan mudah diperoleh sebagai gambaran tentang kecakapan peserta didik ditengah-tengah kelompoknya.. Prosedur penentuan percentile rank adalah sebagai berikut:
1.            Menentukan simple rank (SR)
2.            Mencari atau menghitung banyaknya peserta didik dalam kelompok yang ada dibawahya, yaitu = (N-SR)
3.            Menghitung percentile ranknya dengan menggunakan rumus:
N-SR
PR =                X 100
                     N
c.       Penyusunan Ranking berdasarkan Mean dan Deviasi Standar
Berbeda dengan simple rank dan percentile rank, maka disini penyusunan urutan kedudukan siswa didasarkan pada atau dilakukan dengan menggunakan ukuran-ukuran statistik, dalam hal ini rata-rata hitung(arithmetic mean) dan deviasi standar =simpangan baku (standart deviation).
Setidak-tidaknya ada lima jenis ranking yang disusun dengan menggunakan ukuran mean dan deviasi standar, yaitu:
1.      Penyusunan urutan kedudukan atas tiga ranking
2.      Penyusunan urutan kedudukan atas lima ranking
3.      Penyusunan urutan kedudukan atas sebelas ranking
4.      Penyusunan urutan kedudukan berdasarkan z score
5.      Penyusunan urutan kedudukan berdasarkan T score

 

C.    Teknik Pembuatan Profil Hasil Belajar

1.             Pengertian profil hasil belajar
Salah satu cara yang dapat ditempuh dalam rangka menganalisis hasil belajar peserta didik adalah menvisualisasikan hasil belajar tesebut dalam bentuk lukisan grafis itu, pendidik akan memperoleh gambaran secara visual mengenai perkembangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh para peserta didiknya, setelah mereka mengikuti proses pemebelajaran dalam jangka waktu tertentu. Jadi profil hasil belajar adalah suatu bentuk grafik yang biasa dipergunakan untuk melukiskan hasil belajar peserta didik, baik secara individual maupun kelompok, baik dalam satu bidang studi maupun untuk beberapa bidang studi, baik dalam satu waktu (at a point of time) maupun dalam deretan waktu tertentu (time series).
2.            Bentuk-bentuk profil hasil belajar
Profil hasil belajar peserta didik pada umumnya dituangkan dalam bentuk diagram batang (grafik balok=barchart), atau dalam bentuk diagram garis. Dalam hubungan ini, pada sumbu horizontal grafik (abscis) ditempatkan gejala-gejala yang akan dilukiskan grafiknya, seperti mata pelajaran atau bidang studi tertentu atau gejala-gejala psikologi lainnya. Sedangkan pada sumbu vertical (ordinat) dicantumkan angka-angka yang melambangkan frekuensi, presentase, angka rata-rata dan sebagainya.
3.            Kegunaan profil hasil belajar
Pembuatan profil hasil belajar itu diantaranya memiliki kegunaan sebagai berikut:
a.              Untuk melukiskan hasil atau prestasi belajar yang dicapai oleh peserta didik, baik secara individual maupun kelompok dalam satu bidang studi atau dalam beberapa jenis bidang studi.
b.              Untuk melukiskan perkembangan prestasi belajar peserta didik secara individual maupun secara kolektif dalam beberapa periode tes, pada suatu bidang studi.
c.              Untuk melukiskan prestasi belajar peserta didik dalam beberapa aspek psikologis dari suatu bidang studi.[4]
4.            Beberapa Contoh cara pembuatan profil hasil belajar
a.              Contoh cara membuat profil prestasi atau hasil belajar dalam rangka melukiskan prestasi belajar dari satu orang peserta didik dalam beberapa jenis mata pelajaran.
Misalkan kita ingin membuat profil prestasi belajar dari seorang murid Madrasah Ibtidaiyah bernama Arifin untuk enam jenis mata pelajaran yang dinyatakan dalam satuan nilai standar z (z score)
Keterangan :
Profil prestasi belajar murid bernama Arifin itu dilukiskan dalam satuan z score. Tanda positif menunjukkan bahwa standing position Arifin dalam mata pelajarn tertentu berada diatas murid-murid lain dalam kelompoknya (dalam hal ini adalah mata pelajaran PMP, Agama Islam, Bahasa Indonesia dan IPS. Tanda negatif (-) menunjukkan bahwa standing position Arifin dalam mata pelajaran tertentu berada dibawah murid-murid lain dalam kelompoknya (dalam hal ini adalah prestasi belajar mata pelajaran Matematika dan IPA).
Profil ini menunjukkan bahwa untuk mata pelajaran yang bersifat eksak, Arifin termasuk murid yang kemampuannya rendah. Adapun untuk mata pelajaran non eksak Arifin termasuk murid yang memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan murid-murid lainnya.

b)      Contoh cara membuat profil prestasi belajar dari sekelompok peserta didik (secara kolektif) dalam beberapa jenis mata pelajaran.
Misalkan kita ingin membuat profil prestasi belajar siswa kelas I dari seluruh SMP Negeri di Kabupaten Sleman. Setelah dilakukan pengumpulan data mengenai prestasi belajar mereka dalam tujuh jenis mata pelajaran, dapat dilukiskan profilnya berdasar nilai rata-rata rapor mereka
c)      Contoh cara membuat profil prestasi belajar yang memberikan gambaran mengenai perkembangan  hasil dari waktu ke waktu, yang dicapai oleh seorang peserta didik.
Keterangan : Dari lukisan grafis diatas ini tergambarlah profil hasil belajar mahasiswa bernama Badrudin dalam enam kali avaluasi hasil belajar dalam mata kuliah Statistik Pendidikan.
Profil prestasi belajar diatas menggambarkan bahwa untuk tugas-tugas terstruktur yang harus diselesaikan leh mahasiswa tersebut barhasil diraih nilai-nilai yang cukup tinggi, namun pada tes-tes formatif dan ters sumatif terjadi penurunan nilai. Sekalipun demikian jika dibandingkan antara prestasi belajar setengah semester pertama dengan setengah semester kedua, prestasi belajar mahasiswa tersebut cenderung semakin meningkat. 





BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Penentuan nilai akhir
Dalam pelaksanaannya, dicarilah nilai rata-rata hitung nilai hasil tes formatif dan nilai hasil tes sumatif; nilai nilai mana sebelum dicari rata-rata hitungnya terlebih dahulu diubah atau dikonversikan kedalam nilai standar berskala sepuluh.
Penentuan nilai akhir pada umumnya dilakukan pada saat guru akan mengisi buku  laporan pendidikan (Rapor), atau mengisi ijazah (Surat Tanda Tamat Belajar).Dalam praktek mereka telah dibimbing oleh suatu peraturan atau pedoman yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang. Karena itu, dalam praktek kita jumpai berbagai macam cara yang biasa digunakan oleh guru dalam menentukan nilai akhir tersebut.
2.      Penentuan ranking
Mencari dan mengetahui urutan kedudukan peserta didik dalam sutu kelas atau kelompok pada umumnya dilakukan dengan terlebih dahulu mengurutkan nilai-nilai yang telah dicapai oleh peserta didik, mulai dari nilai yang paling tinggi sampai dengan yang terendah. Dengan cara demikian maka akan dapat ditentukan nomor yang menunjukkan urutan kedudukan peserta didik ditengah-tengah kelompoknya.
Prosedur penentuan urutan kedudukan seperti telah dikemukakan diatas adalah merupakan prosedur yang paling sederhana. Dalam praktek, ada beberapa jenis ranking; beberapa diantaranya: (1) Ranking sederhana (=simple rank), (2) Ranking persenan (=percentile rank), (3) Ranking berdasarkan mean dan deviasi standar, (4) Ranking berdasar nilai standar z (z score), dan (5) Ranking berdasar nilai standar T (T score).
3.      Pembuatan profil hasil belajar
Profil hasil belajar peserta didik pada umumnya dituangkan dalam bentuk diagram batang (grafik balok=barchart), atau dalam bentuk diagram garis. Dalam hubungan ini, pada sumbu horizontal grafik (abscis) ditempatkan gejala-gejala yang akan dilukiskan grafiknya, seperti mata pelajaran atau bidang studi tertentu atau gejala-gejala psikologi lainnya. Sedangkan pada sumbu vertical (ordinat) dicantumkan angka-angka yang melambangkan frekuensi, presentase, angka rata-rata dan sebagainya.






DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 2013, Evaluasi Pembelajaran Prinsip, Teknik dan Prosedur. Bandung:PT Rosdakarya.
Arikunto, Suharsimi. 1996. Dasar-dasar Evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Majid. Abdul, 2011. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan StandarKompetensi Guru. Bandung: PT Rosda Karya.
Sanjaya.Wina, 2008. Pembelajaran Dalam Implementasi  Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana.
Sudijono, Anas. 2013. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.




[1] Majid. Abdul, 2011. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. (Bandung: PT Rosda Karya ) hal. 186
[2] Sanjaya.Wina, 2008. Pembelajaran Dalam Implementasi  Kurikulum Berbasis Kompetensi. (Jakarta: Kencana ) hal. 183
[3] Arikunto, Suharsimi. 1996. Dasar-dasar Evaluasi pendidikan. (Jakarta: Bumi Aksara) hal. 282-285
[4] Sudijono, Anas. 2013. Pengantar Evaluasi Pendidikan. (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada) hal. 460-465

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LAPORAN KKL ( KULIAH KERJA LAPANGAN ) FAI UNIAT (Universitas Islam Attahiriyah)

https://drive.google.com/folderview?id=1QsYXAAC12ZFAC3ZtvdvvHF_AnsawW8n5