MAKALAH EVALUASI PAI II
TEKNIK
PENENTUAN NILAI AKHIR
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas
individu mata kuliah Evaluasi PAI II
Dosen Pembimbing : Dr . Ahmad Zain Sarnoto,M.Pd
Disusun Oleh :
Nama :
Fitri Afriani
NPM : 201402862080160
Semester / Kelas : 6B01
PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM ( TARBIYAH )
FAKULTAS
AGAMA ISLAM
Kata
Pengantar
Puji beserta syukur, marilah kita panjatkan kepada Allah
Swt, karena atas kuasaNya lah alhamdulilah kami dapat menyelesaikan tugas
makalah ini dengan tepat waktu. Sholawat beserta salam selalu tercurah limpah
kepada Nabi besar Muhammad Saw, tak lupa juga ucapan terimakasih kepada dosen
pembimbing mata kuliah Evaluasi PAI II yang telah
membimbing kami dalam penyelesaian tugas kali ini.
Kami
sadar masih banyak terdapat kekurangan dalam pembuatan makalah ini, untuk itu
kami mengharapkan kritik serta saran untuk kami demi kelancarannya proses
belajar mengajar
Jakarta ,25 Juli 2017
Penyusun
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Evaluasi
sangatlah penting dilakukan dalam dunia pendidikan sebab dengan evaluasi atau
penilaian, guru akan mengetahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat
khusus, minat, hubungn social, dan kepribadian siswa atau peserta didik.
Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana
pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajarn yang telah dilakukan.
Pengajar harus mengetahui sejauh mana pelajar telah mengerti bahan yang telah
diajarkan atau sejauh mana tujuan atau kompetensi dari kegiatan pembelajaran
yang dikelola dapat tercapai. Evaluasi
merupakan dasar memperbaiki sistem pengajaran, sesungguhnya pelaksanaan
evaluasi harus bersifat kontinyu. Setiap kali dilaksanakan proses pengajaran
harus dievaluasi. Sebaliknya bila evaluasi hanya
dilaksanakan diakhir suatu program satu kali tidak banyak berarti, sebab telah
banyak proses terlampaui tanpa revisi
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
teknik penentuan nilai akhir ?
2.
Bagaimana
teknik urutan rangking ?
3.
Bagaimana
teknik pembuatan profit hasil belajar ?
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Penilaian
Penilaian
adalah proses sistematis meliputi pengumpulan informasi (angka, deskripsi
verbal), analisis, interpretasi informasi untuk membuat keputusan. Penilaian
atau evaluasi juga dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan untuk
memperoleh data tentang proses dan hasil belajar siswa secara sistematis dan
berkesinambungan. Penilaian kelas dalah proses pengumpulan informasi oleh guru
tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan anak didik
melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan, atau menunjukan
secara tepat bahwa tujuan pembelajaran dan kemampuan (kompetensi) telah
benar-benar dikuasai dan dicapai.[1]
Menurut
Departemen Pendidikan Nasional, penilaian
kelas adalah proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru
melalui sejumlah bukti untuk membuat keputusan tentang pencapaian hasil
belajar/kompetensi siswa. Terdapat juga pengertian lain dari penilaian kelas,
yaitu bagian integral dalam proses pembelajaran yang dilakukan sebagai proses
pengumpulan dan pemanfaatan informasi yang menyeluruh tentang hasil belajar
yang diperoleh siswa untuk menetapkan tingkat pencapaian dan penguasaan
kompetensi seperti yang ditentukan dalam kurikulum dan sebagai umpan balik
perbaikan proses pembelajaran.[2]
Dari
beberapa pendapat diatas, dapat penulis simpulkan bahwa penilaian merupakan
hasil dari pengumpulan data-data atau nilai dari serangkaian tugas ataupun
proses yang dinilai dari oleh pendidik dalam proses kagiatan belajar mengajar,
sehingga dari penilaian tersebut dapat diketahui perkembangan peserta didik.
Penilaian
proses dan hasil belajar dibagi menjadi:
2. Teknik
Penentuan Nilai Akhir
Dalam
menentukan nilai akhir bobot nilai-nilai yang merupakan komponennya perlu
ditentukan dan diberitahukan kepada siswa. System penilaian yang sesuai dengan
maksud dan tujuan yang telah disebutkan diatas adalah system penilaian
relative, yaitu system yang digunakan untuk menilai kemampuan siswa yang lain
dalam kelasnya.
1.
Fungsi Nilai Akhir
Penentuan nilai akhir secara
garis besar memiliki empat macam fungsi yaitu: fungsi intruksional, fungsi
informatif, fungsi bimbingan dan fungsi administratif.
a.
Fungsi Intruksional
Tidak
ada tujuan yang lebih penting dalam proses belajar mengajar kecuali mengusahakan
agar perkembangan dan belajar siswa mencapai tingkat optimal. Pemberian nilai
merupakan suatu pekerjaan yang bertujuan untuk memberikan suatu balikan (feed
back/ umpan balik) yang mencerminkan seberapa jauh siswa telah mencapai tujuan
yang ditetapkan dalam pengajaran atau sistem intruksional.
b.
Fungsi Informatif
Memberikan
nilai siswa kepada orang tuanya mempunyai arti bahwa orang tua tersebut menjadi
tahu akan kemajuan dan prestasi anaknya di sekolah. Dengan catatan ini orang
tua akan : a) Sadar terhadap keadaan anaknya, untuk kemudian lebih baik memberi
bantuan berupa perhatian, dorongan atau bimbingan dan b) Hubungan orang tua
dengan sekolah semakin lebih baik.
c.
Fungsi Bimbingan
Pemberian
nilai kepada siswa akan mempunyai arti besar bagi pekerjaan bimbingan. Dengan
perincian gambaran nilai siswa, petugas bimbingan akan segera tahu
bagian-bagian mana dari usaha siswa di sekolah yang masih memerlukan bantuan.
Catatan lengkap yang juga mencakup tingkat (ranking) dalam kepribadian siswa
serta sifat-sifat yang berhubungan dengan rasa sosial akan sangat membantu
siswa dalam mengarahkannya sebagai pribadi yang seutuhnya
d.
Fungsi Administratif
Secara
administratif pemberian nilai kahir oleh seorang pendidik terhadap peserta
didiknya itu memiliki fungsi sebagai berikut:
1.Menentukan
kenaikan dan kelulusan siswa
2.Memindahkan
atau menempatkan siswa
3.Memberikan
beasiswa
4.Memberikan
rekomendasi untuk melanjutkan belajar
5.Memberi
gambaran tentang prestasi siswa/lulusan kepada para calon pemakai tenaga kerja.
2.
Faktor-faktor yang perlu
diperhatikan dalam penentuan Nilai Akhir
·
Faktor pencapaian atau
prestasi (Achievement)
·
Faktor usaha (Effort)
·
Faktor aspek pribadi dan
sosial (Personnal and Social
Characteristic)
3.
Beberapa Contoh Cara Penentuan
Nilai Akhir
Dalam
pelaksanaannya, dicarilah nilai rata-rata hitung nilai hasil tes formatif dan
nilai hasil tes sumatif; nilai nilai mana sebelum dicari rata-rata hitungnya
terlebih dahulu diubah atau dikonversikan kedalam nilai standar berskala
sepuluh.
Penentuan
nilai akhir pada umumnya dilakukan pada saat guru akan mengisi buku laporan
pendidikan (Rapor), atau mengisi ijazah (Surat Tanda Tamat Belajar). Dalam
praktek mereka telah dibimbing oleh suatu peraturan atau pedoman yang
ditetapkan oleh pihak yang berwenang. Karena itu, dalam praktek kita jumpai
berbagai macam cara yang biasa digunakan oleh guru dalam menentukan nilai akhir
tersebut.
Berikut
ini dikemukakan contoh cara yang sering dipergunakan dalam penentuan nilai
akhir.
a.
Nilai akhir diperoleh dengan
jalan menghitungkan nilai hasil tes formatif, yaitu nilai rata-rata hasil
ulangan harian, dengan nilai hasil tes sumatif , yaitu nilai hasil ulangan umum
atau EBTA, dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
(F1+
F2+ F3=………….. Fn)
n
+2 S
NA =
3
Keterangan:
NA: Nilai Akhir
F1 : Nilai hasil tes formatif ke-1
F2 : Nilai hasil tes formatif ke-2
F3 : Nilai hasil tes formatif ke-3
F4 : Nilai hasil tes formatif ke-4
n : Banyaknya kali tes formatif dilaksanakan
2&3 : Bilangan konstan (2=bobot tes formatif, 3=bobot
tes secara keseluruhan)
b.
Cara kedua ini dipergunakan
untuk keperluan pengisian ijazah atau Surat Tanda Tamat Belajar (STTB). Disini
nilai akhir diperoleh dari: nilai rata-rata hasil ulangan harian (H), diberi
bobot 1, ditambah dengan nilai hasil Evaluasi Tahap Akhir (EBTA), diberi bobot
2. Jika tdituangkan dalam bentuk rumus:
H
N
+ 2 E
NA =
3
B. Teknik
Penyusunan Urutan Kedudukan (Ranking)
1.
Pengertian
Ranking
Dalam rangkaian kegiatan
belajar-mengajar, pada saat saat tertentu staf pengajar (guru, dosen dan
lain-lain) sebagai seorang pendidik dihadapkan pada tugas untuk melaporkan atau
menyampaikan informasi, baik kepada atasannya, pada orang tua peserta didik, maupun
pada para peserta itu sendiri, mengenai: “dimanakah letak urutan kedudukan
seseorang peserta didik jika dibandingkan dengan peserta didik lainnya,
ditengah-tengah kelompok dimana peserta didik itu berada”.
Dengan disampaikannya informasi tersebut maka
pihak-pihak yang bersangkutan akan dapat mengetahui, apakah peserta didik itu
berada pada urutan atas sehingga ia dapat disebut sebagai siswa yang pandai,
ataukah pada urutan bawah sehingga siswa tersebut dinyatakan sebagai siswa yang
mempunyai kemampuan rendah. Dengan kata lain pihak-pihak yang bersangkutan akan
mengetahui standing position masing-masing
peserta didik dari waktu ke waktu; apakah posisinya senantiasa stabil, semakin
meningkat, atau sebaliknya posisinya cenderung menurun.
2.
Jenis dan Prosedur Penyusunan
Ranking
Mencari dan mengetahui urutan
kedudukan peserta didik dalam sutu kelas atau kelompok pada umumnya dilakukan
dengan terlebih dahulu mengurutkan nilai-nilai yang telah dicapai oleh peserta
didik, mulai dari nilai yang paling tinggi sampai dengan yang terendah. Dengan
cara demikian maka akan dapat ditentukan nomor yang menunjukkan urutan
kedudukan peserta didik ditengah-tengah kelompoknya. Prosedur penentuan urutan
kedudukan seperti telah dikemukakan diatas adalah merupakan prosedur yang
paling sederhana.
Dalam praktek, ada beberapa
jenis ranking; beberapa diantaranya: (1) Ranking sederhana (=simple rank), (2) Ranking
persenan (=percentile rank), (3)
Ranking berdasarkan mean dan deviasi standar, (4) Ranking berdasar nilai
standar z (z score), dan (5) Ranking berdasar nilai standar T (T score).
a.
Ranking sederhana
Ranking
sederhana atau simple rank adalah urutan yang menunjukkan posisi atau kedudukan
seorang peserta didik ditengah-tengah kelompoknya, yang dinyatakan dengan nomor
atau angka-angka biasa.
b.
Ranking persentase (Percentile
Rank)
Dimaksud
dengan ranking persentase adalah angka yang menunjukkan arutan kedudukan
seorang peserta didik ditengah-tengah kelompoknya, dimana angka tersebut
menunjukkan persentase dari peserta didik yang berada dibawahnya.
Pernyataan tersebut mengandung
pengertian, bahwa apabila seorang peserta didik memiliki percentile rank (biasa
disingkat PR) sebesar, maka itu berarti bahwa kecakapan peserta didik tersebut
sama atau melebihi 75% dari kecakapan yang dimiliki oleh seluruh kelompok. Jika
disbanding simple rank , maka percentile rank dipandang lebih tajam dan teliti
sebab dengan percentile rank tersebut akan dapat dengan secara cepat dan mudah
diperoleh sebagai gambaran tentang kecakapan peserta didik ditengah-tengah
kelompoknya.. Prosedur penentuan percentile
rank adalah sebagai berikut:
1.
Menentukan simple rank (SR)
2.
Mencari atau menghitung
banyaknya peserta didik dalam kelompok yang ada dibawahya, yaitu = (N-SR)
3.
Menghitung percentile ranknya
dengan menggunakan rumus:
N-SR
PR =
X 100
N
c.
Penyusunan Ranking berdasarkan
Mean dan Deviasi Standar
Berbeda dengan simple rank dan
percentile rank, maka disini penyusunan urutan kedudukan siswa didasarkan pada
atau dilakukan dengan menggunakan ukuran-ukuran statistik, dalam hal ini
rata-rata hitung(arithmetic mean) dan
deviasi standar =simpangan baku (standart
deviation).
Setidak-tidaknya ada lima jenis
ranking yang disusun dengan menggunakan ukuran mean dan deviasi standar, yaitu:
1.
Penyusunan urutan kedudukan
atas tiga ranking
2.
Penyusunan urutan kedudukan
atas lima ranking
3.
Penyusunan urutan kedudukan
atas sebelas ranking
4.
Penyusunan urutan kedudukan
berdasarkan z score
5.
Penyusunan urutan kedudukan
berdasarkan T score
C.
Teknik Pembuatan Profil Hasil Belajar
1.
Pengertian profil
hasil belajar
Salah
satu cara yang dapat ditempuh dalam rangka menganalisis hasil belajar peserta
didik adalah menvisualisasikan hasil belajar tesebut dalam bentuk lukisan
grafis itu, pendidik akan memperoleh gambaran secara visual mengenai
perkembangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh para peserta didiknya,
setelah mereka mengikuti proses pemebelajaran dalam jangka waktu tertentu. Jadi
profil hasil belajar adalah suatu bentuk grafik yang biasa dipergunakan untuk
melukiskan hasil belajar peserta didik, baik secara individual maupun kelompok,
baik dalam satu bidang studi maupun untuk beberapa bidang studi, baik dalam
satu waktu (at a point of time) maupun
dalam deretan waktu tertentu (time
series).
2.
Bentuk-bentuk profil hasil
belajar
Profil
hasil belajar peserta didik pada umumnya dituangkan dalam bentuk diagram batang
(grafik balok=barchart), atau dalam bentuk diagram garis. Dalam hubungan ini,
pada sumbu horizontal grafik (abscis) ditempatkan gejala-gejala yang akan
dilukiskan grafiknya, seperti mata pelajaran atau bidang studi tertentu atau
gejala-gejala psikologi lainnya. Sedangkan pada sumbu vertical (ordinat)
dicantumkan angka-angka yang melambangkan frekuensi, presentase, angka
rata-rata dan sebagainya.
3.
Kegunaan profil hasil belajar
Pembuatan
profil hasil belajar itu diantaranya memiliki kegunaan sebagai berikut:
a.
Untuk melukiskan hasil atau
prestasi belajar yang dicapai oleh peserta didik, baik secara individual maupun
kelompok dalam satu bidang studi atau dalam beberapa jenis bidang studi.
b.
Untuk melukiskan perkembangan
prestasi belajar peserta didik secara individual maupun secara kolektif dalam
beberapa periode tes, pada suatu bidang studi.
c.
Untuk melukiskan prestasi
belajar peserta didik dalam beberapa aspek psikologis dari suatu bidang studi.[4]
4.
Beberapa Contoh cara pembuatan
profil hasil belajar
a.
Contoh cara membuat profil
prestasi atau hasil belajar dalam rangka melukiskan prestasi belajar dari satu
orang peserta didik dalam beberapa jenis mata pelajaran.
Misalkan
kita ingin membuat profil prestasi belajar dari seorang murid Madrasah
Ibtidaiyah bernama Arifin untuk enam jenis mata pelajaran yang dinyatakan dalam
satuan nilai standar z (z score)
Keterangan
:
Profil
prestasi belajar murid bernama Arifin itu dilukiskan dalam satuan z score.
Tanda positif menunjukkan bahwa standing position Arifin dalam mata pelajarn
tertentu berada diatas murid-murid lain dalam kelompoknya (dalam hal ini adalah
mata pelajaran PMP, Agama Islam, Bahasa Indonesia dan IPS. Tanda negatif (-)
menunjukkan bahwa standing position Arifin dalam mata pelajaran tertentu berada
dibawah murid-murid lain dalam kelompoknya (dalam hal ini adalah prestasi
belajar mata pelajaran Matematika dan IPA).
Profil
ini menunjukkan bahwa untuk mata pelajaran yang bersifat eksak, Arifin termasuk
murid yang kemampuannya rendah. Adapun untuk mata pelajaran non eksak Arifin
termasuk murid yang memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan murid-murid
lainnya.
b)
Contoh cara membuat profil
prestasi belajar dari sekelompok peserta didik (secara kolektif) dalam beberapa
jenis mata pelajaran.
Misalkan
kita ingin membuat profil prestasi belajar siswa kelas I dari seluruh SMP
Negeri di Kabupaten Sleman. Setelah dilakukan pengumpulan data mengenai
prestasi belajar mereka dalam tujuh jenis mata pelajaran, dapat dilukiskan
profilnya berdasar nilai rata-rata rapor mereka
c)
Contoh cara membuat profil
prestasi belajar yang memberikan gambaran mengenai perkembangan hasil
dari waktu ke waktu, yang dicapai oleh seorang peserta didik.
Keterangan
: Dari lukisan grafis diatas ini tergambarlah profil hasil belajar mahasiswa
bernama Badrudin dalam enam kali avaluasi hasil belajar dalam mata kuliah
Statistik Pendidikan.
Profil
prestasi belajar diatas menggambarkan bahwa untuk tugas-tugas terstruktur yang
harus diselesaikan leh mahasiswa tersebut barhasil diraih nilai-nilai yang
cukup tinggi, namun pada tes-tes formatif dan ters sumatif terjadi penurunan
nilai. Sekalipun demikian jika dibandingkan antara prestasi belajar setengah
semester pertama dengan setengah semester kedua, prestasi belajar mahasiswa
tersebut cenderung semakin meningkat.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Penentuan nilai akhir
Dalam pelaksanaannya, dicarilah
nilai rata-rata hitung nilai hasil tes formatif dan nilai hasil tes sumatif;
nilai nilai mana sebelum dicari rata-rata hitungnya terlebih dahulu diubah atau
dikonversikan kedalam nilai standar berskala sepuluh.
Penentuan nilai akhir pada
umumnya dilakukan pada saat guru akan mengisi buku laporan pendidikan (Rapor), atau mengisi ijazah
(Surat Tanda Tamat Belajar).Dalam praktek mereka telah dibimbing oleh suatu
peraturan atau pedoman yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang. Karena itu,
dalam praktek kita jumpai berbagai macam cara yang biasa digunakan oleh guru
dalam menentukan nilai akhir tersebut.
2. Penentuan ranking
Mencari dan mengetahui urutan
kedudukan peserta didik dalam sutu kelas atau kelompok pada umumnya dilakukan
dengan terlebih dahulu mengurutkan nilai-nilai yang telah dicapai oleh peserta
didik, mulai dari nilai yang paling tinggi sampai dengan yang terendah. Dengan
cara demikian maka akan dapat ditentukan nomor yang menunjukkan urutan
kedudukan peserta didik ditengah-tengah kelompoknya.
Prosedur penentuan urutan
kedudukan seperti telah dikemukakan diatas adalah merupakan prosedur yang
paling sederhana. Dalam praktek, ada beberapa jenis ranking; beberapa
diantaranya: (1) Ranking sederhana (=simple
rank), (2) Ranking persenan (=percentile
rank), (3) Ranking berdasarkan mean dan deviasi standar, (4)
Ranking berdasar nilai standar z (z score), dan (5) Ranking berdasar nilai
standar T (T score).
3.
Pembuatan
profil hasil belajar
Profil hasil belajar peserta didik pada
umumnya dituangkan dalam bentuk diagram batang (grafik balok=barchart), atau
dalam bentuk diagram garis. Dalam hubungan ini, pada sumbu horizontal grafik
(abscis) ditempatkan gejala-gejala yang akan dilukiskan grafiknya, seperti mata
pelajaran atau bidang studi tertentu atau gejala-gejala psikologi lainnya.
Sedangkan pada sumbu vertical (ordinat) dicantumkan angka-angka yang
melambangkan frekuensi, presentase, angka rata-rata dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal. 2013, Evaluasi Pembelajaran Prinsip, Teknik dan
Prosedur. Bandung:PT Rosdakarya.
Arikunto, Suharsimi. 1996. Dasar-dasar Evaluasi pendidikan. Jakarta:
Bumi Aksara.
Majid. Abdul, 2011. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan
StandarKompetensi Guru. Bandung: PT Rosda Karya.
Sanjaya.Wina, 2008. Pembelajaran Dalam Implementasi
Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana.
Sudijono, Anas. 2013. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta
: PT Raja Grafindo Persada.
[1] Majid. Abdul, 2011. Perencanaan Pembelajaran
Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. (Bandung: PT Rosda Karya )
hal. 186
[2] Sanjaya.Wina, 2008. Pembelajaran Dalam Implementasi
Kurikulum Berbasis Kompetensi. (Jakarta: Kencana ) hal. 183
[4] Sudijono, Anas. 2013. Pengantar Evaluasi Pendidikan. (Jakarta
: PT Raja Grafindo Persada) hal. 460-465

Tidak ada komentar:
Posting Komentar