Minggu, 24 Mei 2020

MAKALAH EVALUASI PENDIDIKAN - PAI - (Reliabilitas Tes)


BAB I
PENDAHULUAN
I.          LATAR BELAKANG

Salah satu aspek positif kemajuan dari dunia penelitian yang ada di Indonesia, adalah muncul banyaknya para peneliti-peneliti muda yang kini lebih kritis lagi dalam meneliti objek-objek yang ada. Di Indonesia, banyak sekali para peneliti ataupun bukan peneliti yang banyak melakukan sebuah riset guna memenuhi tugas ataupun sebagai pembuktian dari sebuah kejadian. Yang dimana setiap penelitian tersebut biasanya memerlukan sebuah pengujian agar nantinya mampu menjadi sebuah hasil ilmiah yang benar-benar valid dan bersifat riel tanpa adanya kebohongan ataupun ketidaknyataan yang mengesankan data yang diperoleh bersifat dibuat-buat. Agar kajian kita bisa bersifat riel maka kita sebagai seorang peneliti harus menguji terlebih dahulu hasil penelitian kita yang disebut dengan uji reabilitas.
Kebanyakan dari kita mengira bahwa jika kita mempunyai kesimpulan dari hasil penelitian kita terhadap kejadian-kejadian yang terbatas, maka kesimpulan itu berlaku dengan sempurna untuk seluruh kejadian yang sejenis. Perkiraan semacam itu belum tentu benar, untuk menghindari hal-hal yang semacam itu maka kita harus melakukan reliabilitas, yang berguna untuk menunjukkaan kevalidan data dari hasil sebuah penelitian yang kita lakukan.
Reliabilitas mampu menunjukkan  tingkat kepercayaan terhadap skor atau tingkat kecocokan skor dengan skor sesungguhnya. Reliabilitas ini bisa dicapai melalui tingkat kecocokan di antara skor pada lebih dari sekali pengukuran. Jika makin cocok dengan skor sesungguhnya maka makin tinggi tingkat reliabilitasnya. Kalaupun ada ketidakcocokan itu merupakan kekeliruan yang acak. Jadi kemungkinan munculnya kesalahan masih tetap ada, namun kemungkinan itu sangatlah kecit sekali dan tidak akan banyak berpengaruh terhadap hasil akhir dari sebuah pengujian.
      
II.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian dari reliabilitas?
2.      Apa tujuan dari reliabilitas?
3.      Apa macam-macam dari realibilitas?
4.      Apa saja factor-faktor yang mempengaruhi reliabilitas?











BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Reliabilitas
Kata reliabillitas dalam bahasa Indonesia di ambil dari reliability dalam bahasa inggris, berasal dari kata, reliable yang artinya dapat dipercaya. “reliabilitas” merupakan kata benda, sedangkan “reliable” merupakan kata sifat atau keadaan.
Reliabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai asal kata rely dan ability. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliabel (reliable).Walaupun reliabilitas mempunyai berbagai arti seperti kepercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan dan konsistensi, namun ide pokok yang terkandung dalam konsep reliabilitas adalah sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya.
Dari beberapa pengertian di atas jadi reliabilitas tes marupakan suatu alat ukur yang digunakan untuk mengetahui konsistensi pengukuran tes yang hasilnya menunjukan keajegan.Seorang dikatakan dapat dipercaya apabila orang tersebut berbicara ajeg, tidak berubah-ubah pembicaraannya dari waktu ke waktu.Dalam sebuah tes pentingnya diamati keajegan dan kepastian tes tersebut dilihat dari hasil tes yang didapat.
Dengan demikian reliabilitas dalam evaluasi pembelajaran merupakan sifat yang ada pada data atau skor yang dihasilkan oleh instrumen, namun untuk memudahkan, reliabilitas dapat dikatakan merupakan sifat dari instrumen juga. Maksudnya reliabilitas bukanlah bersifat dikotomis, tetapi merupakan rentangan yang biasanya dinyatakan dalam bentuk angka 0 – 1.[1]

Reliabilitas Menurut para Ahli
Walizer (1987) menyebutkan pengertian Reliability (Reliabilitas) adalah keajegan pengukuran.
Menurut John M. Echols dan Hasan Shadily (2003: 475) reliabilitas adalah hal yang dapat dipercaya. Popham (1995: 21) menyatakan bahwa reliabilitas adalah "...the degree of which test score are free from error measurement"
Menurut Masri Singarimbun, realibilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Bila suatu alat pengukur dipakai dua kali – untuk mengukur gejala yang sama dan hasil pengukuran yang diperolehrelative konsisten, maka alat pengukur tersebut reliable. Dengan kata lain, realibitas menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur di dalam pengukur gejala yang sama.
Menurut Brennan (2001:295) reliabilitas merupakan karakteristik skor, bukan tentang tes ataupun bentuk tes.
Menurut Sumadi Suryabrata (2004:28) reliabilitas menunjukkan sejauhmana hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya. Hasil pengukuran harus reliabel dalam artian harus memiliki tingkat konsistensi dan kemantapan.
Dalam pandangan Aiken (1987: 42) sebuah tes dikatakan reliabel jika skor yang diperoleh oleh peserta relatif sama meskipun dilakukan pengukuran berulang-ulang.
Reliabilitas adalah karakter lain dari hasil evaluasi. Reliabilitas juga dapat diartikan sama dengan konsistensi atau keajegan. Suatu instrumen evaluasi, dikatakan mempunyai nilai reliabilitas yang tinggi apabila tes yang dibuat mempunyai hasil yang konsisten dalam mengukur yang hendak diukur. Ini berarti semakin reliabel suatu tes, semakin yakin kita dapat menyatakan bahwa dalam hasil suatu  tes mempunyai hasil yang sama dan bisa dipakai di suatu tempat sekolah, ketika dilakukan tes tersebut.
Reliabilitas soal merupakan ukuran yang menyatakan tingkat keajegan atau kekonsistenan suatu tes soal. Untuk mengukur tingkat keajegan soal ini digunakan perhitungan Alpha Cronbach. Rumus yang digunakan dinyatakan dengan:
R11 =
Keterangan:
n            = banyaknya butir soal
S­i2          = jumlah varians tiap skor
St2          = varians skor total
Rumus untuk mencari varians adalah:
Si2  =
Interpretasi nilai r11 mengacu pada pendapat Guilford (Ruseffendi, 1991b: 191):
rii ­           < 0,20                  reliabilitas sangat rendah
0,20       < rii­ 0,40              reliabilitas rendah
0,420     < rii­ 0,70              reliabilitas sedang
0,70       < rii­ 0,90              reliabilitas tinggi
0,90       < rii­ 1,00              reliabilitas sangat tinggi.



B.     Tujuan Reliabilitas
Tujan adanya realibilitas adalah mengkonsep satu variabel dengan jelas. Setiap pengukuran harus merujuk pada satu dan hanya satu konsep/variabel. Sebuah variabel harus spesifik agar dapat menguragi intervensi informasi dari variabel lain. Menggunakan level pengukuran yang tepat. Semakin tinggi atau semakin tepat level pengukuran, maka variabel yang dibuat akan semakin reliabel karena informasi yang dimiliki semakin mendetail.
Prinsip dasarnya adalah mencoba melakukan pengukuran pada level paling tepat yang mungkin diperoleh. Gunakan lebih dari satu indikator. Dengan adanya lebih dari satu indicator yang spesifik, peneliti dapat melakukan pengukuran dari range yang lebih luas terhadapkonten definisi konseptual. Gunakan tes pilot, yakni dengan membuat satu atau lebih draftatau dalam sebuah pengukuran sebelum menuju ke tahap hipotesis (pretest). Dalam penggunaan pilot studies, prinsipnya adalah mereplikasi pengukuran yang pernah dilakukan oleh peneliti terdahulu dari literature-literatur yag berkaitan.
Selanjutnya, pengukuran terdahulu dapat dipergunakan sebagai patokan dari pengukuran yang dilakukan peneliti saat ini. Kualitas pengukuran dapat ditingkatkan dengan berbagai cara sejauh definisi dan pemahaman yang digunakan oleh peneliti kemudian tetap sama.
Pada konstruksi alat ukur, perhitungan reliabilitas berguna untuk melakukan perbaikan pada alat ukur yang dikonstruksi. Dimana perbaikan alat ukur dilakukan melalui analisis butir untuk mengetahui butir mana yang perlu diperbaiki. Namun pada pengukuran sesungguhnya, perhitungan reliabilitas dilakukan untuk memberi informasi tentang kualitas sekor hasil ukur kepada mereka yang memerlukannya. Tentunya perolehan tersebut bisa di jadikan acuan bagi peneliti untuk menghasilkan penelitian yang bisa dipertanggung jawabkan di kemudian hari.
Sehingga, jika realibilitas baik, akan menunjukkan kalahan varian yang minim. Jika tes mempunyai reabilitas tinggi maka pengaruh kesalahan pengukuran telah terkurangi.[2]

C.    Macam macam Realibilitas
Dalam kaitanya dengan sebuah penelitian, berikut ini adalah macam-macam reliabilitas dan prosedur pelaksanaan pengukuran reliabilitas yang sering ditemui dalam instrument evaluasi maupun penelitian yaitu:

Ada beberapa tipe reliabilitas tes sering digunakan dalam kegiatan evaluasi dan masing-masing realibilitas mempunyai konsistensi yang berbeda-beda. Adapu macam-macam reliabilitas tes evaluasi adalah
1.         Reliabilitas ulang uji          
Teknik ulang uji (Burhan Nurgiyantoro, 2012: 167) adalah teknik memerkirakan tingkat reliabilitas tes dengan melakukan kegiatan pengukuran dua kali terhadap tes yang sama kepada peserta didik yang sama pula. Hasil tes pertama dan kedua kemudian dikorelasikan. Jika koefisien korelasi (r) yang diperoleh cukup tinggi, hasil pengukuran tes yang diujicobakan itu dinyatakan reabilitasnya tinggi.
2.         Reliabilitas rumus Kuder-Richardson 20 dan 21          
Pengujian reliabilitas tes dengan memergunakan rumus kuder-richardson 20 dan 21(Penilaian pembelajaran bahasa Indonesia berbasisi kometensi, 2012:169) dilakukan dengan membandingkan skor butir-butir tes. Jika butir-butir tes itu menunjukkan tingginya tingkat kesesuaian (degree of agreement), kita dapat menyimpulkan bahwa hasil pengukuran tes itu konsisten
3.         Reliabilitas Alpha Cronbach          
Reliabilitas Alpha Cronbach,  (Burhan Nurgiyantoro, 2012:171) diterapkan pada tes yang mempunyai nilai skor berskala dan dikhotomis sekaligus. Artinya, prosedur uji reliabilitas ini diterpakan pada hasil pengukuran yang berjenjang, misalnya: 1-4, 1-5, 1-6, atau yang lain bergantung maksud penyusunannya. Namun, jika dikehendaki, prosedur reliabilitas ini pun dapat diterapkan pada hasil pengukuran tes yang bersifat dikhotomis sebagimana halnya rumus reliabilitas K-R di atas, karena pada dasarnya keduanya sama, yaitu merupakan koevisisen reliabilitas komposit untuk semua butir tes.
4.      Reliabilitas Bentuk Paralel           
Teknik butir pararel (Burhan Nurgiyantoro, 2012:172) dilakukan terhadap adanya dua perangkat tes yang bersifat pararel. Kedua perangkat tes itu dimaksudkan untuk mengukur tujuan atau kompetensi yang sama, dengan jumlah butir, susunan dan tingkat kesulitan yang kurang lebih sama. Jadi, dua perangkat tes yang dibuat berdasarkan spesifikasi yang sama. Untuk menguji reliabilitas hasil pengukuran tes, kedua perangkat tes tersebut diujicobakan kepada sejumlah subjek yang sma, kemudian hasilnya dikorelasikan. Tinggi rendahnya koefisien korelasi akan mencerminkan reliabilitas hasil pengukuran kedua peangkat tes itu.
5.      Teknik pengukuran ulang (test-retest)
Pada teknik ini tes yang sama diminta menjawab pentanyaan dalam alat ukur sebanyak dua kali. Dimana selang waktunyapun tidak terlalu dekat dan tidak terlalu lama (15 – 30 hari). Kemudian barulah hasil pengukuran I dikorelasikan dengan pengukuran II.
Ukur               Selang waktu      Ukur ulang
X              -----------------   X
Pada reliabilitas ini, dilihat apakah hasil ukur ulang masih mirip dengan hasil ukur, apakah jawaban responden stabil sehingga dinamakan reliabilitas stabilitas. Korelasi dilakukan pada sekor responden saja tanpa memperhatikan komposisi butir. Komposisi butir boleh apa saja dengan sasaran yang tidak perlu sama.
Relibilitas tes ini penting, khususnya ketika digunakan untuk menentukan predictor misalnya tes kemampuan. Para pengambil tes pada umumnya akan terus mengingat jawabannya, jika item soal yang ada mengandung factor sejarah, disbanding bentuk soal ilmu pengetahuan aljabar misalnya.
Jika koefisien korelasi menunjukkan tinggi, berarti realibilitas tes bagus, jika korelasi rendah, berarti tes tersebut mempunyai konsistensi rendah.[3]

6.      Teknik belah dua
Pada teknik ini, alat ukur yang disusun harus punya banyak item (50 – 60) yang mengukur aspek yang sama. Dimana alat ukur diujikan pada tes, kemudian dihitung validitas itemnya.
Cara melakukan reliabilitas belah dua pada dasarnya dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a.       Lakukan pengetesan item-item yang telah dibuat pada subjek sasaran
b.      Bagi tets yang ada menjadi dua jumlah  dasar item yang paling umum dengan membagi item dengan nomor gajil dan genap pada klompok  tersebut
c.       Hitung skor subyek pada kedua belah kelompok penerima item yang genap dn item ganjiL.
d.      Korelasikan kedua skor tersebut, mengunakan formula korelasi yang relevan dengan teknuk pengukuran.
Jika hasil koefisien korelasi tinggi maka test mempunyai tingkat rlibilitas baik. Akan terjadi sebaliknya, jika hasil korelasibelah dua item ternyata rendah.[4]

7.      Reliabilitas bentuk ekivalensi          
Sesuai dengan namanya yaitu ekivalen, maka tes evaluasi yang hendak diukur reliabilitasnya dibuat identik dengan tes acuan. Setiap tampilannya, seetiap substansi item yang ada, dapat berbeda. Kedua tes tersebut sebaiknya mempunyai karakteristik sama. Karakteristik yang dimaksud misalnya mengukur variabel yang sama, mempunyai jumlah item sama, struktur sama, mempunyai tingkat kesulitan dan mempunyia petunjuk, cara penskoran, dan interpretasi yang sama.          
Dari kedua kondisi yang direncanakan secara ekivalen diatas, idealnya jika suatu kelompok mengambil dua tes tersubut maka rerata skor maupun variabilitas skor yang dicapai dari kedua tes yang diambil mestinya sama. Jika dikehendaki sebenarnya, kita dapat memilih, mengambil sampel, dan item yang berbeda dari ranah tingkah laku sama. Yang perlu diperhatikan mestinya adalah dalam hal apakah pemberian skor tergantung item pilihan atau pada penampilan atas item-item yang dapat digeneralisasi pada lainnya. Jika item terpilih baik dan setiap setnya menggambarkan ranah yang setaraf, maka penggambaran tersebut mestinya benar.          
Reliabilitas ekivalen, pada umumnya juga menggambarkan bentuk konsistensi alternatif, yang dapat menunjukkan variasi skor yang terjadi dari bentuk tes lainnya. Akan tetaoi, yang juga yang perlu diingat ialah bahwa pengambilan tes reliabilitas ekivalen ini akan dapat mencapai hasil yang tepat, jika pengambilan tes hafal terhadap jawaban tes yang dibuat dalam sei pertama, sehingga mereka dapat menjawab kembali tes yang kedua. Ketika dua bentuk alternatif tes tersedia, yang perlu diketahui dari kedua tes adalah berapa reliabilitas ekivalensi. Hal ini perlu diyakinan kembali, agar terjadi bahwa skor seseorang tidak akan dipengaruhin oleh cara mengadministrasi tes tersebut.          
Implikasi dari analisis diatasialah, bahwa seringkali terjadi sebuah tes evaluasi diberikan lebih dari satu kali pada grup yang sama. Pertama tes diberikan pada grup sebagai pretes dan selang waktu tertentu diberikan untuk yang kedua kalinya sebagai postes. Hal lain yang juga perlu diketahui adalah bahwa ada kemungkinan pengaruh kegiatan intervening, ketika mengukur suatu hal yang esensinya sma dengan menggunakan tes sama.          
Mengenai peryataan bagaimana proses melakukan tes reabilitas secara ekivalen ? berikut ini akan ditunjukkan beberapa langkah yang perlu diambil oleh soerang mahasiswa peneliti. Lanhkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut
a)      Tentukan subjek sasaran yang hendak dites.
b)      Lakukan tes yang dimaksud kepada subjek sasaran tersebut.
c)      Administrasi hasilnya secara baik.
d)    Dalam waktu yang tidak terlalu lama, lakukan pengetesan yang kedua kelinya dalam kelompok tersebut.
e)     Kolerasikan kedua hasil set skor.          
Jika hasil koefisien ekivalen tinggi, berarti tes memiliki reliabilitas ekivalen baik. Sebaliknya, jika ternyata keofisien rendah maka reliabilitas ekivalen tes adalah rendah. Reliabilitas ekivalem merupakan salah satu bentuk yang dapat diterima dan umum dipakai penelitian terutama penelitian pendidikan. Yang perlu diketahui juga bagi para peneliti adalah bahwa tes ekivelen mempunyai kelemahan yaitu membuah dua buah tes yag secara esensial ekivalen addalah sulit. Akibatnya akan selalu terjadi kesalahan pengukuran.

8.      Teknik paralel (equivalent form)
Pada aspek ini, dibuat 2 jenis alat ukur yang mengukur aspek yang sama. Alat ukur tersebut diujiakan pada tes yang sama. Kemudian dicari validitas dari masing-masing jenis. Dimana untuk mencari nilai reliabilitas dilakukan dengan mengkorelasikan skor total.

Ukur
Tanpa atau dengan selang waktu
Ukur serta
X
-----------------            
X

Pada teknik reliabilitas ini, dilihat apakah hasil ukur setara masih mirip dengan hasil ukur, apakah jawaban responden ekivalen sehingga dinamakan reliabilitas ekivalen. Dimana korelasi dilakukan pada skor responden saja tanpa memperhatikan komposisi butir. Komposisi butir boleh apa saja dengan sasaran yang tidak perlu sama.Kesamaan yang dimaksudkan adalah kesamaan tujuan, tingkat kesukaran, dan susunan.[5]


D.    Faktor-faktor yang mempengaruhi Reliabilitas

Reliabilitas dapat dipengaruhi oleh waktu penyelenggaran tes-retes. Interval penyelengaraan yang terlalu dekat atau jauh, akan mempengruhi koefisien reliabilitas. Faktor-factor lain yang mempengaruhi di antaranya;
1.      Panjang test, semakin panjang test evaluasi, semakin banyak jumlah item materi pembelajaran diukur. Ini menunjukan dua kemungkinan yaitu test semakin mendekati kebenaran,  dan dalam memgikuti test, semakin kecil siswa menebak. Berarti semakin tinggi koefisien reliabilitas.
2.      Penyebaran skor koefisien reliabiltas secara langsung dipengeruhioleh bentuk sebaranskor dalam kelompok siswa yang diukur. Semakin tinggi sebaran semakin tingi estimasi koefisien reliabilitas. Hal ini tejadi karena posisi skor siswa, secara individual mempunyai kedudukan sama pada tes retest lain,sebagai acuan.
3.      Kesulitan test; test normative yang terlalu mudah atau terlalu sulitskor untuk siswa cenderung menghasilkan reliabilitas rendah. Fenomena tersebut, akan menghasilkan sebaran skor yang cenderung terbatas pada salah satu sisi. Untuk test yang terlalu mudah skor jawaban siswa akan mengumpul ada sisi atas, untuk tes terlalu sulit skor jawaban siswa akan cenderung mengumpul pada ujung bawah. Dua kejadian tersebut mempunyai kesamaan yaitu bahwa perbedaan di antara individu adalah kecil dan cenderung tidak relevan
4.      Objektivitas; yang di maksud objekif yaitu derajat dimana siswa dengan kompetensi sama mencapai hasil sama. Ketika prosedur test evaluasi memiliki objektivitas tinggi, maka reliabilitas test tidak dipengaruhi oleh prosedur teknik penskoran. Item test objektif yang dihasilkan tidak dipengaruhi pertimbangan atau opini seorang evaluator.












BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dengan adanya pengujian dari hasil sebuah penelitian atau yang sering disebut dengan uji reliabilitas maka penelitian yang dihasilkan akan memiliki sebuah mutu yang berkualitas. Karena penelitian  yang sudah melalui uji penelitian sudah dianggap bagus dan memenuhi standart.
Ada tiga teknik dasar yang dapat diterapkan oleh peneliti dalam menguji Reliabilitas suatu penelitian yaitu:
1.      Teknik pengukuran ulang (test-retest)
2.      Teknik belah dua
3.      Teknik paralel (equivalent form)
Factor-faktor yang mempengaruhi reliabilitas adalah waktu pengujian tes, dan factor lain diantaranya yaitu;
1.      Panjang tes
2.      Penyebaran skor
3.      Kesulitan test
4.      Objektivitas












DAFTAR PUSTAKA

Arikunto,Suharsimi.Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan,Jakarta: Bumi Aksara,
            2003
Athok Fu’adi, Sistem Pengembangan Evaluasi, Ponorogo :STAIN Ponorogo
            Press, 2008
Azwar.Saifuddin,Reliabilitas dan Validitas, Yogyakarta, Pustaka pelajar, 2003.
H.M Sukardi, EVALUASI PENDIDIKAN Prinsip & Operasionalnya, Jakarta,
            PT Bumi Aksara, 2008.
Supranata, Suparman. ANALISIS, VALIDITAS, RELIABLITAS, DAN
            INTERPRETASI HASIL TES, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2004








[1] Athok Fu’adi, Sistem Pengembangan Evaluasi,Ponorogo :STAIN Ponorogo Press, 2008, hlm. 56.

[2] H.M Sukardi, EVALUASI PENDIDIKAN Prinsip & Operasionalnya, Jakarta, PT Bumi Aksara 2008, hlm. 43-44.

[3] H.M Sukardi, EVALUASI PENDIDIKAN, hlm. 45
[4] Ibid, hlm. 48
[5] Suparman Surapranata, ANALISIS, VALIDITAS, RELIABLITAS, DAN INTERPRETASI HASIL TES, Bandung, 2004, PT Remaja Rosdakarya,  hlm. 97



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LAPORAN KKL ( KULIAH KERJA LAPANGAN ) FAI UNIAT (Universitas Islam Attahiriyah)

https://drive.google.com/folderview?id=1QsYXAAC12ZFAC3ZtvdvvHF_AnsawW8n5