MAKALAH EVALUASI PAI II
TEHNIK DAN BENTUK HASIL BELAJAR
Dosen Pengampu: Dr. Ahmad Zain
Sarnoto, M.Pd
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Evaluasi Pendidikan II
Oleh:
Siti Ulfa Alfiani
Fakultas Agama Islam
Universitas Islam ATTAHIRIYAH
Jakarta, 2017
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil’alamin banyak nikmat yang telah Allah berikan
tapi sedikit sekali yang dapat kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah
Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik serta
hidayahNya yang tiada terkira besarnya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan pembahasan “Tehnik dan
Bentuk Hasil Belajar”
Dalam penyusunannya, tentu kami memperoleh banyak bantuan dari
berbagai pihak, karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ahmad Zain
Sarnoto, M.Pd selaku dosen pembimbing. Dari sanalah semua kesuksesan ini
berawal, semoga semua ini dapat menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Meskipun kami berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan
kesalahan, namun selalu ada yang kurang.
Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun
agar bisa menjadi lebih baik lagi. Akhir kata kami berharap agar makalah ini
bermanfaat bagi semua pembaca.
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................
i
DAFTAR ISI..........................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................................................
1
B. Rumusan Masalah.................................................................................
1
C. Tujuan Penulisan..................................................................................
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Tehnik Evaluasi Hasil Belajar..............................................................
2
B. Bentuk Evaluasi Hasil Belajar............................................................
10
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.......................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................
14
Seiring dengan
perkembangan jaman, pendidikan dituntut untuk dapat mencetak insan yang bermartabat
dan berkualitas agar dapat meningaktkan taraf hidup bangsa. Berbagai perubahan
telah dilakukan dalam dunia pendidikan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan
tuntutan zaman. Untuk mengetahui apakah pendidikan yang telah dilaksana sudah
dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas, maka perlu diadakanya suatu
evaluasi dalam pendidikan.
Teknik evaluasi adalah
metode yang digunakan agar suatu tujuan evaluasi, yaitu menggali informasi
tentang peserta didik dapat tercapai. Untuk melakukan evaluasi maka
evaluator harus menguasai teknik evaluasi. Dengan penilaian, guru akan
mengetahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat,
hubungan sosial, sikap dan kepribadian siswa atau peserta didik. Untuk
keperluan evaluasi diperlukan teknik evaluasi yang bermacam-macam, seperti
kuesioner, tes, skala, format observasi, dan lain-lain. Dari sekian banyak
teknik evaluasi, secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni teknik tes
dan nontes. Khusus untuk evaluasi hasil pembelajaran teknik evaluasi yang
paling banyak digunakan adalah tes. Untuk melakukan evaluasi maka evaluator
harus menguasai teknik evaluasi.
1.
Apa saja tehnik evaluasi hasil belajar ?
2.
Apa saja bentuk evaluasi hasil belajar?
C.
Tujuan Pembahasan
1.
Untuk mengetahui apa saja bentuk evaluasi hasil
belajar.
2.
Untuk mengetahui apa saja tehnik evaluasi hasil
belajar.
A. Tehnik Evaluasi Hasil
Belajar
Istilah “tehnik” dapat diartikan sebagai “alat”. Jadi dalam istilah
tehnik evaluasi hasil belajar terkandung arti alat-alat (yang dipergunakan
dalam rangka melakukan) evaluasi hasil belajar. Secara garis besar ada
dua kelompok tehnik evaluasi yang dapat digunakan oleh seorang guru dalam
usahanya mencari informasi yang diperlukan. Kedua kelompok tersebut yaitu tes
dan non tes. Pertama, tehnik evaluasi menggunakan cara tes, yang
didalamnya berupa satu set atau lebih item pertanyaan atau pernyataan yang
relevan dengan tujuan tes yang digunakan oleh seorang guru. Kedua,
tehnik evaluasi yang juga banyak digunakan didalam kelas adalah tehnik evaluasi
melalui nontes. Tes ini tidak menggunakan item pertanyaan atau pernyataan
seperti disebutkan diatas, tetapi tes ini mengguanakan metode lain untuk
memperoleh data atau informasi yang diperlukan.
Istilah tes diambil dari kata testum
suatu pengertian dalam bahasa perancis kuno yang berarti piring untuk untuk
menyisihkan logam-logam mulia. Ada pula yang mengartikan sebagai sebuah piring
yang terbuat dari tanah. Seorang ahli bernama James Ms.Cattel pada tahun 1890
telah memperkenalkan pengertian tes ini kepada masyarakat melalui bukunya yang
berjudul Mental Test and Measurement. Selanjutnya di Amerika Serikat tes
ini berkembang dengan cepat sehingga dalam tempo yang tidak begitu lama
masyarakat mulai menggunakannya.
Adapun dari segi istilah, menurut
Anne Anastasi dalam karya tulisnya berjudul Psychological Testing, yang dimaksud dengan tes adalah alat
pengukur yang mempunyai standar yang obyektif sehingga dapat digunakan secara
meluas, serta dapat betul-betul digunakan untuk mengukur dan membandingkan
keadaan psikis atau tingkah laku individu. Adapun menurut Lee J. Cronbach dalam
bukunya berjudul Esseintial of
Psychological Testing, tes merupakan suatu prosedur yang sistematis untuk membandingkan
tingkah laku dua orang atau lebih. Sedangkan menurut Drs.
Amir Daien Indrakusuma didalam bukunya yang berjudul Evaluasi Pendidikan mengatakan bahwa Tes adalh suatu alat atau
prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau
keterangan-keterangan yang diinginkan tentang seseorang, dengan cara yang boleh
dikatakan tepat dan cepat.
Dari definisi-definisi tersebut di
atas kiranya dapat dipahami bahwa dalam dunia evaluasi pendidikan, yang
dimaksud dengan tes adalah cara (yang dapat dipergunakan) atau prosedur (yang
perlu ditempuh) dalam rangka pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan,
yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas baik berupa
pertanyaan-pertanyaan (yang harus dijawab), atau perintah-perintah (yang harus
dikerjakan), sehingga atas dasar data yang diperoleh dari hasil pengukuran
tersebut dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi,
nilai mana dapat dibandingkan dengan nilai-nilai yang dicapai atau dibandingkan
dengan nilai standar tertentu.
1)
Sebagai alat pengukur terhadap peserta didik. Dalam hubungan ini tes
berfungsi mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh
peserta didik setelah mereka menempuh proses belajar mengajar dalam jangka
waktu tertentu.
2)
Sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran, sebab melalui tes
tersebut akan dapat diketahui sudah seberapa jauh program pengajaran yang telah
ditentukan telah dapat dicapai.
Sebagai alat pengukur, tes dapat dibedakan menjadi beberapa jenis atau
golongan, tergantung dari segi mana atau dengan alasan apa penggolongan tes itu
dilakukan.
1)
Penggolongan tes berdasarkan fungsinya sebagai alat pengukur
perkembangan/kemajuan belajar peserta didik.
Ditinjau dari segi fungsi yang dimiliki oleh tes sebagai alat pengukur
perkembangan belajar peserta didik, tes dapat dibedakan menajadi enam golongan:
Tes seleksi sering dikenal dengan istilah “Ujian Saringan” atau “Ujian
Masuk”. Tes ini dilakukan dalam rangka penerimaan calon siswa baru, dimana
hasil tes digunakan untuk memilih calon peserta didik yang tergolong paling
baik dari sekian banyak calon yang mengikuti tes.
Tes awal sering dikenal dengan istilah pre-test. Tes jenis ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetaui
sejauh manakah materi atau bahan pelajaran yang akan diajarkan telah dapat
dikuasai oleh para peserta didik. Jadi tes awal adalah tes yang dilaksanakan
sebelum bahan pelajaran diberikan kepada peserta didik. Karena itu maka
butir-butir soalnya dibuat yang mudah-mudah.
Tes akhir sering dikenal dengan istilah post-test. Tes akhir dilaksanakan dengan tujuan untuk
mengetahui apakah semua materi pelajaran yang tergolong penting sudah dapat
dikuasai dengan sebaik-baiknya oleh para peserta didik.
Tes diagnostik adalah tes yang dilaksanakan untuk menetukan secara tepat
jenis kesukaran yang yang dihadapi oleh para peserta didik dalam suatu mata
pelajaran tertentu. Dengan diketahuinya jenis-jenis kesukaran yang dihadapi
oleh peserta didik itu maka lebih lanjut akan dapat dicarikan upaya berupa
pengobatan (theraphy) yang tepat. Tes diagnostik juga bertujuan ingin
menemukan jawab atas pertanyaan “Apakah peserta didik sudah dapat menguasai
pengetahuan yang merupakan dasar atau landasan untuk dapat menerima pengetahuan
selanjutnya?”
Materi yang ditanyakan dalam tes diagnostik pada umumnya ditekankan pada
bahan-bahan tertentu yang biasanya atau menurut pengalaman sulit dipahami
siswa. Tes jenis ini dapat dilaksanakan secara lisan, tertulis, perbuatan atau
kombinasi dari ketiganya.
Sesuai dengan nama tes itu sendiri (diagnose=pemeriksaan), maka jika
hasil pemeriksaan itu menunjukkan bahwa tingkat penguasaan peserta didik yang
sedang diperiksa itu termasuk rendah maka harus diberi bimbingan secara khusus
agar mereka dapat memperbaiki tingkat penguasaannyaterhadap mata pelajaran
tertentu.
Tes formatif adalah tes hasil belajar yang bertujuan untuk mengetahui
sudah sejauh manakah peserta didik telah terbentuk sesuai dengan tujuan
pengajaran yang telah ditentukan setelah mereka mengikuti proses pembelajaran
dalam jangka waktu tertentu. Perlu diketaui bahwa istilah “formatif” itu berasal
dari kata “form” yang berarti “bentuk”.
Tes formatif ini biasa dilaksanakan ditengah-tengah perjalanan program
pengajaran, yaitu dilaksanakan pada setiap kali satuan pelajaran atau subpokok
bahasan berakhir atau dapat diselesaikan. Disekolah-sekolah tes formatif ini
biasa dikenal dengan istilah “ulangan harian”.
Tes sumatif adalah tes hasil belajar yang dilaksanakan setelah sekumpulan
satuan program pengajaran selesai diberikan. Di sekolah, tes ini dikenal dengan
istilah “Ulangan Umum”. Dimana hasilnya digunakan untuk mengisi nilai rapor
atau mengisi ijazah. Tes sumatif ini pada umumnya disusun atas dasar materi
pelajaran yang telah diberikan selama satu catur wulan atau satu semester.
Dengan demikian materi tes sumatif itu jauh lebih banyak ketimbang materi tes
formatif.
Tes sumatif dilaksanakan secara tertulis, agar semua siswa memperoleh
soal yang sama. Butir-butir soal yang dikemukakan dalam tes sumatif ini ini
pada umumnya juga lebih sulit atau lebih berat daripada butir-butir soal tes
formatif.
Hasil evaluasi sumatif dipakai untuk membuat keputusan penting bagi
peserta didik, misalnya penentuan kenaikan kelas, kelulusan sekolah, dan
membuat keputusan lainnya yang terkait dengan kepentingan peserta didik.
Ditilik dari segi aspek kejiwaan yang ingin diungkap, tes
setidak-tidaknya dapat dibedakan menjadi lima golongan, yaitu:
a)
Tes intelegensi, yakni tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk
mengungkap atau mengetahui tingkat kecerdasan seseorang.
b)
Tes kemampuan, yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap
kemampuan dasar atau bakat khusus yang dimiliki.
c)
Tes sikap, yakni salah satu jenis tes yang dipergunakan untuk mengungkap
predisposisi atau kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu respon tertentu
terhadap dunia sekitarnya, baik berupa individu-individu maupun obyek-obyek
tertentu.
d)
Tes kepribadian, yakni tes yang dilaksanakan dengan tujuan mengungkap
ciri-ciri khas dari seseorang yang banyak sedikitnya bersifat lahiriah, seperti
gaya bicara, cara berpakaian, nada suara, hobi atau kesenangan, dan lain-lain.
e)
Tes hasil belajar, yang juga sering dikenal dengan istilah tes
pencapaian, yakni tes yang biasa digunakan untuk mengungkap tingkat pencapaian
atau prestasi belajar.
Ditilik dari segi banyaknya orang yang mengikuti tes, tes dapat dibedakan
menjadi dua golongan, yaitu:
Apabila
ditinjau dari segi cara mengajukan pertanyaan dan cara memberikan jawabannya,
tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
a)
Tes tertulis, yakni jenis tes dimana dalam mengajukan butir-butir
pertanyaan atau soalnya dilakukan secara tertulis, dan dalam memberikan
jawabannya juga tertulis.
b)
Tes lisan, yakni jenis tes dimana dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan
atau soalnya dilakukan secara lisan, dan memberikan jawabannya secara lisan
pula.
Dengan tehnik nontes maka penilaian
atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa menguji
peserta didik, melainkan dilakukan dengan melakukan pengamatan secara
sistematis (observation), melakukan wawancara (interview),
menyebarkan angket (questionnaire), dan memeriksa atau meneliti
dokumen-dokumen (documentary analysis). Tehnik nontes ini pada umumnya
memegang peranan yang penting dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta
didik dari segi ranah sikap hidup (affective domain) dan ranah
keterampilan (psychomotoric domain), sedangkan tehnik tes sebagaimana
telah dikemukakan sebelum ini, lebih banyak digunakan untuk mengevaluasi hasil
belajar peserta didik dari segi ranah proses berfikirnya(cognitive domain).
Pengamatan atau observasi adalah suatu tehnik yang dilakukan dengan cara
mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis. Atau
bisa juga diartikan sebagai sebuah cara menghimpun data yang dilakukan oleh
guru kepada peserta didiknya dengan cara pengamatan yang teliti dan mencatat
hasil pengamatan secara sistematis. Ada tiga macam observasi:
1)
Observasi partisipan, yaitu observasi yang dilakukan oleh pengamat, tetapi dalam observasi itu pengamat
memasuki dan mengikuti kegiatan kelompok yang sedang diamati.
2)
Observasi sistematik, yaitu observasi dimana faktor –faktor yang diamati
sudah didaftar secara sistematis, dan sudah diatur menurut kategorinya. Berbeda
dengan observasi partisipan, maka dalam observasi sistematik ini pengamat
berada diluar kelompok.
3)
Observasi eksperimental, observasi ini terjadi jika pengamat tidak
berpartisipasi dalam kelompok. Dalam hal ini ia dapat mengendalikan unsure-unsur
penting dalam situasi sedemikian rupa sehingga situasi dapat diatur sesuai
dengan tujuan evaluasi.
Wawancara adalah tehnik evaluasi yang menekankan adanya pertemuan secara
langsung antara evaluator dengan yang dievaluasi. Ada dua jenis wawancara yang dapat
dipergunakan sebagai alat evaluasi, yaitu:
1)
Wawancara/interview terpimpin, yaitu interview yang dilakukan oleh subjek
evaluasi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sudah disusun
terlebih dahulu.
2)
Interview bebas, yakni materi yang ditanyakan bebas dan tidak terstruktur
akan tetapi mempunyai tujuan, serta responden mempunyai kebebasan untuk
mengutarakan pendapatnya, tanpa dibatasi oleh patokan-patokan yang telah dibuat
oleh subjek evaluasi.
Angket juga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam rangka penilaian
hasil belajar. Berbeda dengan wawancara dimana penilai berhadapan secara
langsung dengan peserta didik atau dengan pihak lainnya, maka dengan
menggunakan angket pengumpulan data sebagai bahan penilaian hasil belajar jauh
lebih praktis, menghemat waktu dan tenaga. Tentang macam angket/kuesioner dapat ditinjau
dari beberapa segi:
Evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan atau keberhasilan belajar
peserta didik tanpa menguji (tehnik nontes) juga dapat dilengkapi atau
diperkaya dengan melakukan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen. Misalnya
dokumen yang memuat informasi mengenai riwayat hidup, seperti kapan dan dimana
peserta didik dilahirkan, agama yang dianut, apakah ia pernah meraih kejuaraan
sebagai siswa yang berprestasi di sekolahnya.
Berbagai informasi diatas tadi bukan tidak mungkin pada suatu saat
tertentu sangat diperlukan sebagai bahan pelengkap bagi pendidik dalam melakukan
evaluasi hasil belajar terhadap peserta didiknya.
Secara garis besar ada
dua macam bentuk penilaian, yaitu bentuk tes subjektif dan bentuk tes objektif.
Berikut penjelasannya:
Tes subjektif ini biasa disebut juga sebagai tes essay atau essay examination. Yang dimaksud dengan
tes essay adalah tes yang berbentuk pertanyaan tulisan, yang jawabannya
merupakan karangan (essay) atau kalimat yang panjang-panjang. Tes esai
merupakan bentuk penilaian yang paling dikenal dan banyak digunakan oleh
guru-guru disekolah dari dulu sampai sekarang. Umumnya tes esai ini berjumlahkan
lima sampai sepuluh item soal saja.
Menurut sejarah yang ada lebih dahulu itu adalah bentuk tes subjektif ini
/ tes esai. Akan tetapi karena bentuk ini banyak kelemahan-kelemahan, maka para
ahli pendidikan berusaha untuk menyusun tes dalam bentuk yang lain, yaitu tes
objektif.
Meskipun demikian, tidak berarti bentuk esai ditinggalkan sama sekali.
Bentuk esai dapat digunakan untuk mengukur kegiatan belajar yang sulit diukur
oleh bentuk objektif. Dilihat dari luas sempitnya materi yang ditanyakan, maka
tes bentuk esai atau bisa juga disebut uraian, dapat dibagi menjadi dua bentuk,
yaitu uraian terbatas ( restricted
respons items ) dan uraian bebas (
extented respons items ).
artinya butir soal itu hanya menyangkut masalah utama yang dibicarakan
tanpa memberikan arahan tertentu dalam menjawabnya.
artinya peserta didik diberi kebebasan untuk menjawab soal yang
ditanyakan, namun arah jawaban dibatasi sedemikian rupa sehingga kebebasan
tersbut menjadi bebas yang terarah.
Tes Objektif sering juga disebut tes dikotomi ( dichotomously scored item ) karena jawabannya antara benar atau
salah dan skornya antara 1 atau 0. Disebut tes objektif karena penilaiannya
objektif. Siapapun yang mengoreksi jawaban tes ini maka hasilnya akan sama
karena kunci jawabannya sudah jelas dan pasti. Tes objektif terdiri atas
beberapa bentuk, yaitu benar-salah, pilihan ganda, menjodohkan, dan melengkapi
jawaban atau jawaban singkat. Sebagaimana dikemukakan oleh Witherington ( 1952
) bahwa , “There are many varietes of
there new test, but four kinds are in most common use, true false,
multiple-choice, completion, matching”.
Tes benar salah adalah butir soal atau tugas yang berupa pernyataan yang
jawabannya menggunakan pilihan pernyataan benar atau salah. Alternatif jawaban
bisa berbentuk
Tes pilihan ganda ini umumnya terdiri atas kalimat pokok yang berupa
pernyataan yang belum lengkap dan diikuti oleh empat sampai lima kemungkinan
jawaban yang dapat melengkapi pernyataan tersebut. Pelajar harus memilih salah
satu diantara kemungkinan jawaban tersebut.
Tes menjodohkan ini sering dikenal dengan sebutan tes matching, tes
mencari pasangan, tes menyesuaikan, tes mencocokkan, dan tes mempertandingkan.
Jadi dalam tes ini disediakan dua kelompok bahan dan peserta didik harus
mencari pasangan yang sesuai antara kelompok pertama dengan kelompok kedua
sesuai petunjuk yang diberikan dalam tes tersebut.
Bentuk evaluasi secara
umum ada 2, yaitu subjektif dan objekti. Subjektif terbagi lagi menjadi 2 yaitu
uraian bebas dan terbatas. Sedangkan objektif terbagi menjadi 4, yaitu pilihan
ganda, benar-salah, menjodohkan, dan tes melengkapi jawaban. Sedangkan teknik
evaluasi secara umum ada 2, yaitu teknik tes dan teknik non tes.
Teknik tes dibagi
menjadi 4 bagian, yaitu :
a.
Berdasarkan fungsinya teknik tes dibagi menjadi 6,
yaitu teknik seleksi, teknik awal, teknik akhir, teknik diagnostik, teknik
formatif, dan teknik sumatif
b.
Berdasarkan aspek psikisnya dibagi menjadi 4, yaitu :
teknik intelegensi, kemampuan, kepribadian, dan prestasi hasil belajar
c.
Berdasarkan jumlah peserta didiknya dibagi menjadi 2
yaitu : teknik individual dan teknik kelompok
d.
Berdasarkan pertanyaannya dibagi menjadi 2 juga yaitu
: teknik tertulis dan teknik lisan
Sedangkan untuk teknik
non tes dibagi menjadi 4, yaitu : pengamatan, wawancara, angket dan pemeriksaan
dokumen.
Arikunto, Suharsimi.
2007. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara.
Daryanto. 2014.
Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.
Sudijono, Anas. 2011. Pengantar
Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers.
Sukardi. 2008. Evaluasi
Pendidikan, Yogyakarta: Bumi Aksara.
Thoha, Chabib. 2001. Tehnik
Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar