BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tradisi pemikiran Barat dewasa ini merupakan
paradigma bagi pengembangan budaya Barat dengan implikasi yang sangat luas dan
mendalam di semua segi dari seluruh lini kehidupan. Memahami tradisi pemikiran
Barat sebagaimana tercermin dalam pandangan filsafatnya merupakan kearifan
tersendiri, karena kita akan dapat melacak segi-segi positifnya yang layak kita
tiru dan menemukan sisi-sisi negatifnya untuk tidak kita ulangi.
Ditinjau dari sudut sejarah, filsafat Barat memiliki
empat periodisasi. Periodisasi ini didasarkan atas corak pemikiran yang dominan
pada waktu itu. Pertama, adalah zaman Yunani Kuno, ciri yang menonjol dari
filsafat Yunani kuno adalah ditujukannya perhatian terutama pada pengamatan
gejala kosmik dan fisik sebagai ikhtiar guna menemukan asal mula (arche)
yang merupakan unsur awal terjadinya gejala-gejala. Para filosof pada masa ini
mempertanyakan asal usul alam semesta dan jagad raya, sehingga ciri pemikiran
filsafat pada zaman ini disebut kosmosentris.
Kedua, adalah zaman Abad Pertengahan, ciri pemikiran filsafat pada zaman ini di
sebut teosentris. Para filosof pada masa
ini memakai pemikiran filsafat untuk memperkuat dogma-dogma agama Kristiani,
akibatnya perkembangan alam pemikiran Eropa pada abad pertengahan sangat
terkendala oleh keharusan untuk disesuaikan dengan ajaran agama, sehingga
pemikiran filsafat terlalu seragam bahkan dipandang seakan-akan tidak penting
bagi sejarah pemikiran filsafat sebenarnya. Ketiga, adalah zaman Abad Modern,
para filosof zaman ini menjadikan manusia sebagai pusat analisis filsafat, maka
corak filsafat zaman ini lazim disebut antroposentris.
Filsafat Barat modern dengan demikian memiliki corak yang berbeda dengan
filsafat Abad Pertengahan. Letak perbedaan itu terutama pada otoritas kekuasaan
politik dan ilmu pengetahuan. Jika pada Abad Pertengahan otoritas kekuasaan
mutlak dipegang oleh Gereja dengan dogma-dogmanya, maka pada zaman Modern
otoritas kekuasaan itu terletak pada kemampuan akal manusia itu sendiri. Manusia
pada zaman modern tidak mau diikat oleh kekuasaan manapun, kecuali oleh
kekuasaan yang ada pada dirinya sendiri yaitu akal. Kekuasaan yang mengikat itu
adalah agama dengan gerejanya serta Raja dengan kekuasaan politiknya yang
bersifat absolut. Keempat, adalah Abad Kontemporer dengan ciri pokok pemikiran logosentris,
artinya teks menjadi tema sentral diskursus filsafat.
B. Rumusan Masalah
1.
Pengertian Filasafat Cosmosentris ?
2.
Sejarah Hidup dan Pemikiran Thales ?
3.
Sejarah Hidup dan Pemikiran Anaximenes ?
4.
Sejarah Hidup dan Pemikiran Anaximandros ?
5.
Sejarah Hidup dan Pemikiran Heraklitos ?
C. Tujuan
1.
Untuk Mengetahui Pengertian Filasafat Cosmosentris.
2.
Untuk Mengetahui Sejarah Hidup dan Pemikiran Thales.
3.
Untuk Mengetahui Hidup dan Pemikiran Anaximenes.
4.
Untuk Mengetahui Sejarah Hidup dan Pemikiran Anaximandros.
5.
Untuk Mengetahui Sejarah Hidup dan Pemikiran Heraklitos.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Filsafat Cosmosentris
Kosmologi adalah ilmu yang
mempelajari struktur dan sejarah alam semesta berskala besar. Secara
khusus,ilmu ini berhubungan dengan asal mula dan evolusi dari suatu subjek. Kosmologi
dipelajari dalam astronomi, filosofi,
dan agama. Kosmologi berasal dari kata
Yunani kosmos dan logos. Sedangkan Cosmosentris berarti bersifat kosmologi. Kosmos berarti susunan, atau ketersusunan yang
baik. Lawannya ialah khaos yang
berarti kacau balau. Sedangkan logos juga berarti keteraturan, sekalipun dalam
kosmologi lebih tepat di artikan
sebagai azas-azas rasional.
Dalam sejarah filsafat barat, tercatat Phytagoras (580 ±
500 SM) merupakan orang yang
pertama kali memakai istilah kosmos sebagai terminologi filsafat. Bahkan dalam tradisi
Aristotelian, penyelidikan tentang
keteraturan alam disebut sebagai fisika (bukan dalam pengertian modern),
dan filsafat Skolastik memakai nama
filsafat alami (philosophia
naturalis) untuk menyebut hal yang sama.
Istilah kosmologi (cosmology) dipakai pertama
kali oleh Christian von
Wolff dalam bukunya Discursus
Praeliminaris de Philosophia in Genere tahun 1728,
dengan menempatkannya dalam skema pengetahuan filsafat sebagai cabang dari metafisika dan dibedakan
dengan cabang-cabang metafisika yang lain seperti ontologi, teologi metafisik, maupun psikologi metafisik.
Dengan demikian, sejak klasifikasi Christian, kosmologi dimengerti sebagai
sebuah cabang f ilsafat yang membicarakan asal mula dan susunan alam semesta dan
dibedakan dengan ontology atau metafisika
umum yang merupakan
suatu telaah tentang watak-watak umum dari realitas natural dan supernatural juga dibedakan
dengan filsafat alam (The philosophy of nature) yang menyelidiki hukum-hukum dasar, proses dan klasifikasi objek-objek
dalam alam. Namun
demikian, walau secara definitive kosmologi dibedakan dengan ontologi maupun filsafat alam,
pemilahan yang tegas dalam
analisis konseptual antara
ketiga bidang tersebut merupakan
suatu usaha yang sulit dikerjakan,
mengingat objek
material dan objek formal yang hampir sama.
Topik utama kosmologi
filsafat menurut Hegel adalah tentang kontingensi
(kemestian yang merujuk pada hukum),
kepastian, keabadian, batas-batas dan hokum formal dunia, kebebasan manusia,
dan asal mula kejahatan. Namun rata-rata filsuf hanya mempersoalkan hakikat dan
hubungan antara ruang dan waktu, dan persoalan tentang hakikat kebebasan dan
asal mula kejahatan sebagai materi telaah di luar bidang kosmologi. Secara umum
bangunan pemikiran kosmologi filsafat berpijak pada prinsip-prinsip ilmu
ataupun dalil-dalil metafisis, sehingga pada satu sisi berkaitan dengan fakta-fakta empiris, pada sisi
lain berhubungan dengan kebenaran metafisis
tertentu.
Dengan demikian dari pijakan ini
mudah dilihat bahwa kosmologi filsafat
memiliki nilai bila dia mampu memberi kerangka pemahaman terhadap
peristiwa-peristiwa alami/kodrati, batas- batas dan hukum ruang-waktu
dunia, dan bagaimana keterbatasan manusiawi tersebut mampu diatasi.
Secara historis perkembangan
kosmologi filsafat (barat) dimulai dari filsuf-filsuf alam pra-Sokratik, yang kemudian persoalan-persoalannya
oleh Plato dalam Timaeus dan oleh Aristoteles
dalam Physics di sistematisir dan
diperluas. Secara umum kosmologi filsafati di Yunani, dengan berbagai varian
pemikiran, sepakat bahwa ruang jagad raya ini terbatas dan di bawah pengaruh
hukum- hukum yangt idak dapat
dirubah, yang memiliki ketentuan dan irama tertentu. Perkembangan berikut, pada
Abad Tengah, mulai diperkenalkan konsep-konsep penciptaan dan kiamat, keajaiban
dan pemeliharaan oleh Tuhan dalam kosmologi. Seirama dengan perkembangan ilmu empiris, kosmologi filsafa jaman modern sebagaimana dikemukakan oleh
Descartes, Leibniz, maupun Newton mengalihkan kecenderungan yang muncul pada
Abad tengah kepada corak pemikiran yang lebih dekat dengan pemikiran Yunani. Bahkan
sejak Immanuel Kant, telaah
kosmologi filsafati selalu dalam
kaitan dengan isue-isue metafisika. Varian
lain yang berkembang dan perlu disebut adalah kosmologi modern yang lebih positif sebagaimana dikemukakan oleh Pierce, yang menyatakan bahwa pokok soal yang harus
dijawab oleh kosmologi adalah tiga
hal, yakni, prinsip-prinsip tentang perubahan, hukum, dan kontingensi kosmis.
Varian pengimbang yang lain
untuk pemikiran kontemporer adalah Whitehead,
dengan mengembalikan kosmologi pada lingkup hukum kodrat yang lebih luas terkait
dengan kebudayaan dan ilmu.
Secara sistematis, kosmologi filsafat dibedakan dalam
empat kelompok varian besar dengan dasar pengelompokan:
1.
berpijak dari keyakinan ontis
bahwa hakikat dunia itu jamak
ataukah tunggal (monisme, pluralisme)
2.
Kedudukan manusia dalam kosmis (subjektivistis, objektivistis)
3.
Esensi dan substansi manusia dengan esensi dan substansi dunia yanglain
(penonjola perbedaan antara esensi dan substansi manusia dengan esensi dan
substansi dunia yanglain pada: Husserl, Scheler, Hartman, dan Heidegger;
pengutamaan pada kesamaan antara esensi dan substansi pengkosmos-pengkosmos pada:
panpsikisme dan Whitehead)
4.
pendekatan sintesis (Bergson, Theilard de Chardin, dan kosmologi
Pancasila)
Klasifikasi yang dilakukan Bakker yang masih searah dengan
kecenderungan kosmologi post-Kantian,
yakni mengaitkan telaah
kosmologi dengan metafisika, membawa kajian kosmologi pada pendekatan integratif dengan
bidang-bidang pokok filsafat yang lain, baik itu metafisika, epistemologi, aksiologi,
maupun filsafat manusia. Terdapat dua konsekuensi yang
meski diterima, bila pendekatan
demikian yang dianut, yakni,
Pertama, kajian
kosmologi
Filsafati menjadi kajian
yang arbriter, dalam arti varian- varian pandangan metafisis dan pendekatan (orientasi epistemologis) meski dipertimbangkan
dalam suatu telaah yang komprehensif dan dialogis,
karena tanpa titik awal yang demikian yang terjadi adalah penghakiman atas suatu metafisika/ epistemologi oleh metafisika/epistemologi
yang lain. Sebuah dimensi meta-metodologi-filsafat yang kurang disadari dalam telaah-telaah
filsafat. Kedua, jangkar kajian pada faktisitas-kedirian dari
aku (subjek eksistensial) sebagaimana mencul dalam pendekatan antropologi metafisis, membuka peluang untuk mengkaji
kosmologi filsafat tidak hanya pada
tingkat tradisi besar para filsuf
namun juga berangkat dari tradisi
kecil manusia yang bukanf ilsuf dengan kerangka pendekatan sosio-empiris.
Dengan pendekatan sosiologi (pengetahuan) filsafat, secara
empiris bisa dilacak jangkar-jangkar sosial dari sesuatu yang sudah dianggap
sebagai suatu pandangan dunia dari masyarakat tertentu, baik itu berkaitan
dengan pandangan dunia secara holistik,
maupun aspek-aspek pemahaman tertentu dari pandangan dunia
masyarakat tersebut. Dari pandangan dunia tersebut
dapat di jabarkan pemahaman manusia tentang
dunianya, yakni aspek
kosmologi tentang waktu, terutama berkaitan
dengan keyakinan (antropologis) orang tentang adanya pengaruh waktu (watak tahun,
bulan, hari, dan jam) terhadap
manusia.
2.
Sejarah Hidup dan Pemikiran Thales ?
Thales adalah seorang filsuf yang mengawali
sejarah filsafat
Barat pada abad ke-6 SM. Sebelum Thales,
pemikiran Yunani dikuasai cara berpikir mitologis dalam
menjelaskan segala sesuatu. Pemikiran Thales dianggap sebagai kegiatan
berfilsafat pertama karena mencoba menjelaskan dunia dan gejala-gejala di
dalamnya tanpa bersandar pada mitos melainkan pada rasio manusia. Ia juga
dikenal sebagai salah seorang dari Tujuh Orang Bijaksana (dalam bahasa Yunani hoi hepta sophoi), yang oleh Aristoteles diberi gelar filsuf yang pertama. Selain
sebagai filsuf, Thales juga dikenal sebagai ahli geometri, astronomi, dan politik. Bersama dengan Anaximandros dan Anaximenes, Thales digolongkan ke dalam Mazhab
Miletos. Thales
tidak meninggalkan bukti-bukti tertulis mengenai pemikiran filsafatnya. Pemikiran
Thales terutama didapatkan melalui tulisan Aristoteles tentang dirinya. Aristoteles
mengatakan bahwa Thales adalah orang yang pertama kali memikirkan tentang asal
mula terjadinya alam semesta. Karena itulah, Thales juga dianggap sebagai
perintis filsafat
alam (natural philosophy).
Riwayat Hidup Thales
Thales (624-546 SM) lahir di kota Miletus
yang merupakan tanah perantauan orang-orang Yunani diAsia Kecil. Situasi Miletos yang makmur memungkinkan
orang-orang di sana untuk mengisi waktu dengan berdiskusi dan berpikir tentang
segala sesuatu. Hal itu merupakan awal dari kegiatan berfilsafat sehingga tidak
mengherankan bahwa para filsuf Yunani pertama lahir di tempat ini.
Thales adalah seorang saudagar yang sering berlayar
ke Mesir. Di Mesir, Thales mempelajari ilmu ukur dan
membawanya ke Yunani. Ia dikatakan dapat mengukur piramida dari bayangannya saja. Selain itu, ia juga
dapat mengukur jauhnya kapal di laut dari pantai. Kemudian Thales menjadi
terkenal setelah berhail memprediksi terjadinya gerhana matahari pada tanggal
28 Mei tahun 585 SM. Thales dapat melakukan prediksi tersebut karena ia
mempelajari catatan-catatan astronomis yang tersimpan di Babilonia sejak 747 SM. Di dalam bidang politik, Thales
pernah menjadi penasihat militer dan teknik dari Raja Krosus di Lydia. Selain itu, ia juga pernah menjadi penasihat
politik bagi dua belas kota Iona.
Pemikiran Thales
a.
Air
sebagai Prinsip Dasar Segala Sesuatu
Thales menyatakan bahwa air adalah
prinsip dasar (dalam bahasa
Yunani arche)
segala sesuatu. Air menjadi pangkal, pokok, dan dasar dari segala-galanya yang
ada di alam semesta. Berkat kekuatan dan daya kreatifnya sendiri, tanpa ada
sebab-sebab di luar dirinya, air mampu tampil dalam segala bentuk, bersifat
mantap, dan tak terbinasakan. Argumentasi Thales terhadap pandangan tersebut
adalah bagaimana bahan makanan semua makhluk hidup mengandung air dan bagaimana
semua makhluk hidup juga memerlukan air untuk hidup. Selain itu, air adalah zat
yang dapat berubah-ubah bentuk (padat, cair, dan gas) tanpa menjadi berkurang. Selain
itu, ia juga mengemukakan pandangan bahwa bumi terletak di atas air. Bumi
dipandang sebagai bahan yang satu kali keluar dari laut dan kemudian
terapung-apung di atasnya.
b.
Pandangan
tentang Jiwa
Thales berpendapat bahwa segala sesuatu
di jagat raya memiliki jiwa. Jiwa tidak hanya terdapat di dalam benda hidup
tetapi juga benda mati. Teori tentang materi yang berjiwa ini disebut hylezoisme.
Argumentasi Thales didasarkan pada magnet yang dikatakan memiliki jiwa karena
mampu menggerakkan besi.
c.
Teorema
Thales
Di dalam geometri, Thales dikenal karena
menyumbangkan apa yang disebut teorema Thales, kendati belum tentu seluruhnya
merupakan buah pikiran aslinya. Teorema Thales berisi sebagai berikut:
1.
Sebuah
lingkaran terbagi dua sama besar oleh diameternya.
2.
Sudut
bagian dasar dari sebuah segitiga samakaki adalah sama besar.
3.
Jika ada
dua garis lurus bersilangan, maka besar kedua sudut yang saling berlawanan akan
sama.
4.
Sudut yang
terdapat di dalam setengah lingkaran adalah sudut siku-siku.
5.
Sebuah
segitiga terbentuk bila bagian dasarnya serta sudut-sudut yang bersinggungan
dengan bagian dasar tersebut telah ditentukan.
d.
Pandangan
Politik
Berdasarkan catatan Herodotus, Thales pernah memberikan nasihat kepada orang-orang
Ionia yang sedang terancam oleh serangan dari Kerajaan
Persia pada
pertengahan abad ke-6 SM. Thales menyarankan orang-orang Ionia untuk membentuk pusat pemerintahan dan
administrasi bersama di kota Teos yang memiliki posisi sentral di seluruh
Ionia. Di dalam sistem tersebut, kota-kota lain di Ionia dapat dianggap seperti
distrik dari keseluruhan sistem pemerintahan Ionia. Dengan demikian, Ionia
telah menjadi sebuah polis yang bersatu dan tersentralisasi.
3.
Sejarah Hidup dan
Pemikiran Anaximenes
Anaximenes adalah seorang filsuf yang berasal dari kota Miletos, sama
seperti Thales dan Anaximandros. Anaximenes hidup sezaman dengan kedua filsuf tersebut, kendati ia lebih
muda dari Anaximandros. Ia disebut di dalam tradisi filsafat
Barat, bersama dengan Thales dan Anaximandros, sebagai
anggota Mazhab Miletos. Anaximenes adalah teman, murid, dan pengganti dari Anaximandros.
Sebagaimana kedua filsuf Miletos yang lain, ia berbicara tentang filsafat alam,
yakni apa yang menjadi prinsip dasar (arche) segala sesuatu.
Riwayat Hidup Anaximenes
Tentang riwayat hidupnya,
tidak banyak yang diketahui. Anaximenes mulai terkenal sekitar tahun 545 SM,
sedangkan tahun kematiannya diperkirakan sekitar tahun 528/526 SM. Ia
diketahui lebih muda dari Anaximandros. Ia menulis satu buku, dan dari buku tersebut
hanya satu fragmen yang masih tersimpan hingga kini.
Pemikiran Anaximenes
a.
Udara sebagai prinsip
dasar segala sesuatu
Salah satu kesulitan untuk
menerima filsafat Anaximandros tentang to apeiron yang
metafisik adalah bagaimana menjelaskan hubungan saling memengaruhi antara yang
metafisik dengan yang fisik. Karena itulah, Anaximenes tidak lagi melihat
sesuatu yang metafisik sebagai prinsip dasar segala sesuatu, melainkan kembali
pada zat yang bersifat fisik yakni udara. Tidak seperti air yang
tidak terdapat di api (pemikiran Thales), udara merupakan zat yang terdapat di
dalam semua hal, baik air, api, manusia, maupun segala sesuatu. Karena itu,
Anaximenes berpendapat bahwa udara adalah prinsip dasar segala sesuatu. Udara
adalah zat yang menyebabkan seluruh benda muncul, telah muncul, atau akan
muncul sebagai bentuk lain. Perubahan-perubahan tersebut berproses dengan
prinsip "pemadatan dan pengenceran" (condensation and rarefaction.
Bila udara bertambah kepadatannya maka muncullah berturut-turut angin, air,
tanah, dan kemudian batu. Sebaliknya, bila udara mengalami pengenceran, maka
yang timbul adalah api. Proses pemadatan dan pengenceran tersebut meliputi
seluruh kejadian alam, sebagaimana air dapat berubah menjadi es dan uap, dan
bagaimana seluruh substansi lain dibentuk dari kombinasi perubahan udara.
b.
Tentang Alam Semesta
Pembentukan alam semesta
menurut Anaximenes adalah dari proses pemadatan dan pengenceran udara yang
membentuk air, tanah, batu, dan sebagainya. Bumi, menurut Anaximenes, berbentuk
datar, luas, dan tipis, hampir seperti sebuah meja. Bumi dikatakan melayang di
udara sebagaimana daun melayang di udara. Benda-benda langit seperti bulan,
bintang, dan matahari juga melayang di udara dan mengelilingi bumi. Benda-benda
langit tersebut merupakan api yang berada di langit, yang muncul karena
pernapasan basah dari bumi. Bintang-bintang tidak
memproduksi panas karena jaraknya yang jauh dari bumi. Ketika bintang, bulan, dan matahari
tidak terlihat pada waktu malam, itu disebabkan mereka tersembunyi di belakang
bagian-bagian tinggi dari bumi ketika mereka mengitari bumi. Kemudian
awan-awan, hujan, salju, dan fenomena alam lainnya terjadi karena pemadatan
udara.
c.
Tentang Jiwa
Jiwa manusia dipandang
sebagai kumpulan udara saja. Buktinya, manusia perlu bernapas
untuk mempertahankan hidupnya. Jiwa adalah yang mengontrol tubuh dan menjaga
segala sesuatu pada tubuh manusia bergerak sesuai dengan yang seharusnya. Karena itu, untuk
menjaga kelangsungan jiwa dan tubuh. Di sini, Anaximenes mengemukakan
persamaan antara tubuh manusiawi dengan jagat raya berdasarkan kesatuan prinsip
dasar yang sama, yakni udara. Tema tubuh sebagai mikrokosmos (jagat raya kecil)
yang mencerminkan jagat raya sebagai makrokosmos adalah tema yang akan sering
dibicarakan di dalam Filsafat Yunani. Akan tetapi, Anaximenes belum menggunakan istilah-istilah tersebut
di dalam pemikiran filsafatnya.
4.
Sejarah Hidup dan
Pemikiran Anaximandros
adalah seorang filsuf
dari Mazhab Miletos dan merupakan
murid dari Thales. Seperti
Thales, dirinya danAnaximenes tergolong
sebagai filsuf-filsuf dari Miletos yang menjadi perintis filsafat Barat. Anaximandros adalah filsuf pertama
yang meninggalkan bukti tulisan berbentuk prosa. Akan tetapi, dari tulisan
Anaximandros hanya satu fragmen yang masih tersimpan hingga kini.
Riwayat
Hidup Anaximandros
Menurut Apollodorus, seorang penulis Yunani kuno, Anaximandros (610-546 SM) telah
berumur 63 tahun pada saat Olimpiade ke-58
yang dilaksanakan tahun 547/546 SM. Karena itu, diperkirakan Anaximandros lahir
sekitar tahun 610 SM. Kemudian disebutkan pula bahwa Anaximandros meninggal
tidak lama setelah Olmpiade tersebut usai, sehingga waktu kematiannya
diperkirakan pada tahun 546 SM.
Menurut tradisi Yunani kuno, Anaximandros
memiliki jasa-jasa di dalam bidang astronomi dan geografi. Misalnya saja,
Anaximandros dikatakan sebagai orang yang pertama kali membuat peta bumi. Usahanya
dalam bidang geografi dapat dilihat ketika ia memimpin ekspedisi dari Miletos
untuk mendirikan kota perantauan baru ke Apollonia di Laut Hitam. Selain
itu, Anaximandros telah menemukan, atau mengadaptasi, suatu jam matahari
sederhana yang dinamakan gnomon. Ditambah lagi, ia mampu memprediksi kapan
terjadi gempa bumi. Kemudian ia juga menyelidiki fenomena-fenomena
alam seperti gerhana, petir, dan juga mengenai asal mula kehidupan, termasuk asal-mula
manusia. Kendati ia lebih muda 15 tahun dari Thales, namun ia meninggal
dua tahun sebelum gurunya itu.
Pemikiran Anaximandros
a.
To Apeiron sebagai
prinsip dasar segala sesuatu
Meskipun Anaximandros merupakan murid Thales,
namun ia menjadi terkenal justru karena mengkritik pandangan gurunya mengenai
air sebagai prinsip dasar (arche) segala sesuatu. Menurutnya,
bila air merupakan prinsip dasar segala sesuatu, maka seharusnya air terdapat
di dalam segala sesuatu, dan tidak ada lagi zat yang berlawanan dengannya. Namun kenyataannya, air dan api saling
berlawanan sehingga air bukanlah zat yang ada di dalam segala sesuatu. Karena
itu, Anaximandros berpendapat bahwa tidak mungkin mencari prinsip dasar
tersebut dari zat yang empiris. Prinsip dasar itu haruslah pada sesuatu yang
lebih mendalam dan tidak dapat diamati oleh panca indera. Anaximandros
mengatakan bahwa prinsip dasar segala sesuatu adalah to apeiron.
To apeiron berasal
dari bahasa Yunani a=tidak
dan eras=batas. Ia merupakan suatu prinsip abstrak yang menjadi prinsip dasar
segala sesuatu. Ia bersifat ilahi, abadi, tak terubahkan, dan meliputi segala
sesuatu. Dari prinsip inilah berasal segala sesuatu yang ada di dalam jagad
raya sebagai unsur-unsur yang berlawanan (yang panas dan dingin, yang kering
dan yang basah, malam dan terang). Kemudian kepada prinsip ini juga semua pada
akhirnya akan kembali.
b.
Pandangan tentang Alam Semesta
Dengan prinsip to apeiron,
Anaximandros membangun pandangannya tentang alam semesta. Menurut Anaximandros,
dari to apeiron berasal segala sesuatu yang berlawanan, yang
terus berperang satu sama lain. Yang panas membalut yang dingin sehingga yang
dingin itu terkandung di dalamnya. Dari yang dingin itu terjadilah yang cair
dan beku. Yang beku inilah yang kemudian menjadi bumi. Api yang membalut
yang dingin itu kemudian terpecah-pecah pula. Pecahan-pecahan tersebut
berputar-putar kemudian terpisah-pisah sehingga terciptalah matahari, bulan,
dan bintang-bintang. Bumi dikatakan berbentuk silinder, yang lebarnya tiga kali
lebih besar dari tingginya. Bumi tidak jatuh karena kedudukannya berada
pada pusat jagad raya, dengan jarak yang sama dengan semua benda lain.
Mengenai bumi, Thales telah menjelaskan bahwa
bumi melayang di atas lautan. Akan tetapi, perlu dijelaskan pula mengenai asal
mula lautan. Anaximandros menyatakan bahwa bumi pada awalnya dibalut oleh udara
yang basah. Karena berputar terus-menerus, maka berangsur-angsur bumi
menjadi kering. Akhirnya, tinggalah udara yang basah itu sebagai laut pada
bumi.
c.
Pandangan tentang Makhluk Hidup
Mengenai terjadinya makhluk hidup di bumi,
Anaximandros berpendapat bahwa pada awalnya bumi diliputi air semata-mata. Karena
itu, makhluk hidup pertama yang ada di bumi adalah manusia. Karena panas
yang ada di sekitar bumi, ada laut yang mengering dan menjadi daratan. Di
ditulah, mulai ada makhluk-makhluk lain yang naik ke daratan dan mulai
berkembang di darat. Ia berargumentasi bahwa tidak mungkin manusia yang
menjadi makhluk pertama yang hidup di darat sebab bayi manusia memerlukan
asuhan orang lain pada fase awal kehidupannya. Karena itu, pastilah
makhluk pertama yang naik ke darat adalah sejenis ikan yang beradaptasi di
daratan dan kemudian menjadi manusia.
manusia adalah suatu bagian dalam dunia ini
yang ada setealah dunia dan segala makhluk hidup yang ada, itu dikarenakan
tidak mungkin manusia dapat hidup tanpa adanya bahan makanan dan lainnya.
5.
Sejarah Hidup dan
Pemikiran Herakleitos
adalah
seorang filsuf yang tidak tergolong mazhab apapun. Di dalam tulisan-tulisannya,ia
justru mengkritik dan mencela para filsuf dan tokoh-tokoh terkenal, seperti Homerus, Arkhilokhos, Hesiodos, Phythagoras, Xenophanes, dan Hekataios. Meskipun ia berbalik dari ajaran filsafat yang umum pada
zamannya, namun bukan berarti ia sama sekali tidak dipengaruhi oleh
filsuf-filsuf itu.
Herakleitos
diketahui menulis satu buku, namun telah hilang. Yang tersimpan hingga kini
hanya 130 fragmen yang terdiri dari pepatah-pepatah pendek yang seringkali
tidak jelas artinya. Pemikiran filsafatnya memang tidak mudah dimengerti
sehingga ia dijuluki "si gelap" (dalam bahasa Inggris the obscure).
Riwayat
Hidup Herakleitos
Herakleitos diketahui berasal dari Efesus di Asia Kecil. Ia hidup di
sekitar abad ke-5 SM (540-480 SM). Ia hidup sezaman dengan Pythagoras dan
Xenophanes, namun lebih muda usianya dari mereka. Akan tetapi, Herakleitos
lebih tua usianya dari Parmenides sebab ia
dikritik oleh filsuf tersebut.
Selain bahwa ia berasal dari keluarga terhormat
di Efesus, tidak ada informasi lain mengenai riwayat hidupnya, sebab kebanyakan
adalah cerita fiksi. Tidak ada sumber yang menyebutkan bahwa ia pernah
meninggalkan kota asalnya, yang pada waktu itu merupakan bagian dari
kekaisaran Persia.
Jika melihat karya-karya yang ditinggalkannya,
tampak bahwa watak Herakleitos sombong dan tinggi hati. Selain mencela
filsuf-filsuf di atas, ia juga memandang rendah rakyat yang bodoh dan
menegaskan bahwa kebanyakan manusia jahat. Selain itu, ia juga mengutuk warga
negara Efesus.
Pemikiran Herakleitos
a.
Segala Sesuatu Mengalir
Pemikiran Herakleitos yang paling terkenal
adalah mengenai perubahan-perubahan di alam semesta. Menurut Herakleitos, tidak ada satu pun hal
di alam semesta yang bersifat tetap atau permanen. Tidak ada sesuatu yang
betul-betul ada, semuanya berada di dalam proses menjadi.
Ia terkenal dengan ucapannya panta rhei kai uden menei yang
berarti, “semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap.”
Perubahan
yang tidak ada henti-hentinya itu dibayangkan Herakleitos dengan dua cara:
·
Pertama, seluruh kenyataan adalah seperti
aliran sungai yang mengalir. "Engkau tidak dapat turun dua kali ke sungai
yang sama," demikian kata Herakleitos.
Maksudnya di sini, air sungai selalu bergerak sehingga tidak pernah
seseorang turun di air sungai yang sama dengan yang sebelumnya.
·
Kedua, ia menggambarkan seluruh kenyataan
dengan api. Maksud api di sini lain dengan konsep mazhab Miletos yang
menjadikan air atau udara sebagai prinsip dasar segala sesuatu. Bagi
Herakleitos, api bukanlah zat yang dapat menerangkan perubahan-perubahan segala
sesuatu, melainkan melambangkan gerak perubahan itu sendiri. Api senantiasa mengubah apa saja yang
dibakarnya menjadi abu dan asap, namun api tetaplah api yang sama. Karena itu,
api cocok untuk melambangkan kesatuan dalam perubahan.
b.
Logos
Segala sesuatu yang terus berubah di alam
semesta dapat berjalan dengan teratur karena adanya logos. Pandangan
tentang logos di sini tidak boleh disamakan begitu saja dengan
konsep logos pada mazhab Stoa. Logos adalah
rasio yang menjadi hukum yang menguasai segala-galanya dan menggerakkan segala
sesuatu, termasuk manusia. Logos juga dipahami sebagai sesuatu yang
material, namun sekaligus melampaui materi yang biasa. Hal ini disebabkan
pada masa itu, belum ada filsuf yang mampu memisahkan antara yang rohani dan
yang materi.
c.
Segala Sesuatu Berlawanan
Menurut Herakleitos, tiap benda terdiri dari
yang berlawanan. Meskipun demikian, di dalam perlawanan tetap terdapat
kesatuan. Singkatnya, dapat dikatakan bahwa “yang satu adalah banyak dan yang
banyak adalah satu.” Anaximenes juga
memiliki pandangan seperti ini, namun perbedaan dengan Herakleitos adalah
Anaximenes mengatakan pertentangan tersebut sebagai ketidak adilan, sedangkan
Herakleitos menyatakan bahwa pertentangan yang ada adalah prinsip
keadilan. Kita tidak akan bisa mengenal apa itu 'siang' tanpa kita
mengetahui apa itu malam. Kita tidak akan mengetahui apa itu kehidupan tanpa
adanya realitas kematian. Kesehatan juga dihargai karena ada penyakit. Demikianlah
dari hubungan pertentangan seperti ini, segala sesuatu terjadi dan
tersusun. Herakleitos menegaskan prinsip ini di dalam kalimat yang
terkenal: "Perang adalah bapak segala sesuatu." Perang yang dimaksud
di sini adalah pertentangan.
Melalui
ajaran tentang hal-hal yang bertentangan tetapi disatukan oleh logos,
Herakleitos disebut sebagai filsuf dialektis yang pertama di dalam sejarah
filsafat.
DAFTAR PUSTAKA
Simon Petrus L.
Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius.
Juhaya S.
Praja. 2005. Aliran-Aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Kencana.
Linda Smith,
William Raeper. 2000. Ide-Ide Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang.
Yogyakarta: Kanisius.
Bertens.
1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius.
Richard
McKirahan. 2003. "Presocratic Philosophy". In The Blackwell
Guide to Ancient Philosophy. Christopher Shields (Ed.). Malden: Blackwell
Publishing. P. 5-6.
Keimpe Algra.
1999. "The Beginning of Cosmology". In The Cambridge
Companion to Early Philosophy. A.A. Long (Ed.). London: Cambridge
University Press. P. 45-65.
Jonathan
Barnes. 2001. Early Greek Philosophy. London: Penguin.
W.K.C. Guthrie.
1985. A History of Greek Philosophy Volume 1. London: Cambridge
University Press.
Kurt A.
Raaflaur. 2005. "Poets, lawgivers, and the beginnings of political
reflection in archaic Greece". In The Cambridge History of Greek
and Roman Political Thought. Cristopher Rowe (Ed.). P. 43.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar