Jumat, 08 Mei 2020

MAKALAH ULUMUL QUR'AN (Pengertian, Ruang lingkup & Cabang-cabang/pokok bahasan)


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Karena itu, ada anggapan bahwa setiap orang yang mengerti bahasa Arab dapat mengerti isi Al-Qur’an. Lebih dari itu, ada orang yang telah merasa telah dapat memahami dan menafsirkan Al-Qur’an dengan bantuan terjemahannya sekalipun tidak mengerti bahasa Arab. Padahal orang Arab sendiri banyak yang tidak mengerti kandungan Al-Qur’an. Bahkan diantara para sahabat dan tabi’in ada yang salah memahami Al-Qur’an karena tidak memiliki kemampuan untuk memahaminya. Oleh karena itu, untuk dapat mengetahui isi kandungan Al-Qur’an secara benar diperlukanlah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana cara menafsirkan Al-Qur’an, yaitu “Ulum AL-Qur’an”.
‘Ulum Al-Qur’an merupakan ilmu yang sangat diperlukan untuk mengungkapkan rahasia-rahasia yang terkandung dalam al-Qur’an sebagai sumber segala hikmah. Dan semakin tampak keluhurannya karena hendak memperkokoh tali ikatan dengan Al-Qur’an sebagai pegangan manusia dalam kehidupannya untuk mencapai kebahagiaan di dunia maupun di akhierat, Asy-Syurbashi telah mencatat : “Karya yang termulia ialah buah kesanggupan menafsirkan dan menta’wilkan Al-Qur’an”. Untuk dapat bisa menafsirkan Al-Qur’an diperlukan pengetahuan yang cukup yakni ‘Ulum Al-Qur’an.

B.    Rumusan Masalah
1.     Apakah pengertian ‘Ulum Al-Qur’an?
2.     Apakah yang menjadi ruang lingkup pembahasan ‘Ulum Al-Qur’an?
3.     Apa sajakah cabang-cabang (Pokok bahasan) ‘Ulum Al-Qur’an?

C.    Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah :
1.     Untuk mengetahui pengertian  ‘Ulum Al-Qur’an
2.     Untuk mengetahui ruang lingkup pembahasan ‘Ulum Al-Qur’an
3.     Untuk mengetahui cabang-cabang (Pokok bahasan) ‘Ulum Al-Qur’an.



BAB II
PEMBAHASAN
A.   Pengertian  Ulum Al-Qur’an
Perkataan Ulum Al-Qur’an berasal dari Bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu “ulum” dan “Al-Qur’an”. Kata “ulum”adalah bentuk jamak dari kata “ilm” yang berarti ilmu-ilmu. “Al-Qur’an” adalah Kitab Suci umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. untuk menjadi pedoman hidup bagi manusia. Kata “ulum” yang disandarkan kepada kata “Al-Qur’an” telah memberikan pengertian bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an, baik dari segi keberadaannya sebagai Al-Qur’an maupun dari segi pemahaman terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnya.
Secara Istilah, para ulama telah merumuskan berbagai definisi Ulum Al-Qur’an. Al-Zarqani merumuskan definisi ‘Ulum Al-Qur’an yaitu Beberapa pembahasan yang berhubungan dengan Al-Qur’an al-Karim, dari segi turunnya, urut-urutannya, pengumpulannya, penulisannya, bacaannya, penafsirannya, kemukjizatannya, nasikh dan mansukhnya, penolakan hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan terhadapnya, dan sebagainya. (1)
Menurut Manna’ al-Qaththan ‘Ulum Al-Qur’an yaitu Ilmu yang mencakup pembahasan – pembahasan yang berhubungan dengan Al-Qur’an, dari segi pengetahuan tentang sebab-sebab turunnya, pengumpulan Al-Qur’an dan urut-urutannya, pengetahuan tentang ayat-ayat Makkiah dan Maddaniah, dan hal-hal lain yang ada hubungannya dengan Al-Qur’an. (2)
  
B.    Ruang Lingkup Pembahasan Ulum Al-Qur’an
Ulum Al-Qur’an adalah suatu ilmu yang mempunyai ruang lingkup pembahasan yang luas. ‘Ulum Al-Qur’an meliputi semua ilmu yang ada kaitannya dengan Al-Qur’an, baik berupa ilmu-ilmu Agama, seperti ilmu tafsir maupun ilmu-ilmu bahasa Arab, seperti ilmu balaghah dan ilmu i’rab Al-Qur’an. Ilmu-ilmu yang tersebut dalam definisi ini berupa ilmu tentang sebab turun ayat-ayat Al-Qur’an, urutan-urutannya, pengumpulannya, penulisannya, qiraatnya, tafsirnya, kemukjizatannya, nasikh dan mansukhnya, ayat-ayat Makkiah dan Madaniah, ayat muhkamah dan mutasyabihahnya, hanyalah sebagian dari pembahasan pokok ‘Ulum Al-Qur’an. Disamping itu masih banyak lagi ilmu-ilmu yang tercakup didalamnya, seperti Ilmu Gharib al-Qur’an, Ilmu Badai’ al-Qur’an, Ilmu Tanasub Ayat al-Qur’an, Ilmu Aqsam al-Qur’an, Ilmu Amtsal al-Qur’an, Ilmu Jidal Al-Qur’an, Ilmu Adab Tilawah al-Qur’an, dan sebagainya. Bahkan, sebagian ilmu ini masih dapat dipecah kepada beberapa cabang dan macam ilmu yang masing-masing mempunyai objek kajian tersendiri. Setiap objek dari ilmu-ilmu ini menjadi ruang lingkup pembahasan Ulum Al-Qur’an.
Demikian luasnya ruang lingkup kajian ‘Ulum Al-Qur’an, Ash-Shiddieqy (3) memandang segala macam pembahasan ‘Ulum Al-Qur’an itu kembali kepada beberapa pokok persoalan saja sebagai berikut.
Pertama, persoalan nuzul. Persoalan ini menyangkut dengan ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah yang disebut Makkiah, ayat-ayat yang diturunkan di Madinah yang disebut Madaniah, ayat-ayat yang diturunkan ketika Nabi berada di kampung yang disebut Hadhariah. Ayat-ayat yang diturunkan ketika Nabi dalam suatu perjalanan disebut Safariah, ayat-ayat yang diturunkan di waktu siang hari disebut Nahariah, yang diturunkan pada malam hari disebut Lailiah, yang diturunkan di musim dingin disebut Syitaiah, yang diturunkan di musim panas disebut Shaifia, dan yang diturunkan ketika Nabi di tempat tidur disebut Firasyiah. Persoalan ini juga meliputi hal yang menyangkut sebab-sebab turun ayat, yang mula-mula turun, yang terakhir turun, yang berulang-ulang turun, yang turun terpisah-pisah, yang turun sekaligus, yang pernah diturunkan kepada seorang Nabi, dan yang belum pernah turun sama sekali.
Kedua, persoalan sanad. Persoalan ini meliputi hal-hal yang menyangkut sanad yang mutawatir, yang ahad, yang syaz, bentuk-bentuk qiraat Nabi, para periwayat dan para penghafal Al-Qur’an, dan cara tahammul (penerimaan riwayat).
Ketiga, persoalan ada’ al-qiraah (cara membaca Al-Qur’an). Hal ini menyangkut waqf (cara berhenti), ibtida’ (cara memulai), imalah madd (bacaan yang dipanjangkan), takhfif hamzah ( meringankan bacaan hamzah), idham (memasukkan bunyi huruf yang sakin kepada bunyi huruf sesudahnya).
Keempat, pembahasan yang menyangkut lafal Al-Qur’an yaitu tentang yang gharib (pelik), mu’rab (menerima perubahan akhir kata), majaz (metafora), musytarak (lafal yang mengandung lebih dari satu makna), muradif (sinonim), isti’arah (metafor), dan tasybih (penyerupaan).
Kelima, persoalan makna Aql-Qur’an yang berhubungan dengan hukum, yaitu ayat yang bermakna ‘amm (umum) dan tetap dalam keumumannya, ‘amm (umum) yang dimaksudkan khusu, ‘amm (umum) yang dikhusukna oleh Sunnah, yang nash, yang zahir, yang mujmal (bersifat global), yang mufashshal (dirinci), yang manthuq (makna yang berdasarkan pengutaraan), yang mafhum (makna yang berdasarkan pemahaman), muthlaq (tidak terbatas), yang muqayyad (terbatas), yang muhkam (kukuh, jelas) yang mutasyabih (samar), yang musykil (maknanya pelik), yang nasikh (menghapus) dan mansukh (dihapus), muqaddam (didahulukan , muakhhar (dikemudiankan), ma’mul (diamalkan) pada waktu tertentu, dan yang vhanya ma’mul (diamalkan) oleh seorang saja.
Keenam, persoalan makna Al-Qur’an yang berhubungan dengan lafal, yaitu fasbl (pisah), wasbl (berhubung), ijaz (singkat), ithnah (panjang) musawah (sama), dan qasbr (pendek).
Dari keterangan diatas dapat dipahami bahwa pada dasarnya, dan yang menjadi pokok pembahasan ‘Ulum Al-Qur’an itu adalah ilmu-ilmu Agama dan Bahasa Arab. Namun, melihat kenyataan adanya ayat-ayat yang menyangkut berbagai aspek kehidupan dan tuntutan yang semakin besar kepada petunjuk Al-Qur’an, maka untuk menafsirkan ayat-ayat menyangkut disiplin ilmu tertentu memerlukan pengetahuan tentang ilmu tersebut.


C.    Cabang – cabang pokok pembahasan Ulum Al-Qur’an
            Menurut T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, ada tujuh belas ilmu-ilmu AlQur’an yang terpokok. (4)
1.     Ilmu Mawathin Al-Nuzul
        Ilmu ini menerangkan tempat-tempat turun ayat, masanya, awalnya, dan akhirnya. Di antara kitab yang membahas ilmu ini adalah Al-Itqan fi b’Ulum al-Qur’an karya Al-Suyuthi.

2.      Ilmu Tawarikh al-Nuzul
        Ilmu ini menjelaskan masa turun ayat dan urutan turunnya satu persatu, dari permulaan turunnyasampai akhirnya serta urutan turun surah dengan sempurna.

3.      Ilmu Asbab al-Nuzul
        Ilmu ini menjelaskan sebab-sebab turun ayat. Di antara kitab yang penting dalam hal ini adalah kitab Lubab al-Nuqul  karya Al-Suyuthi. Namun, perlu diingat bahwa banyak riwayat kitab ini yang tidak  sahih.

4.      Ilmu Qiraat
        Ilmu ini menerangkan bentuk-bentuk bacaan Al-Qur’an yang telah diterima dari Rasul SAW. Ada sepuluh qiraat  yang sah dan beberapa macam pula yang tidak sah. Tulisan Al-Qur’an yang beredar di Indonesia adalah menurut qiraat Hafsh, salah satu qiraat yang tujuh. Kitab yang paling baik untuk mempelajari ilmu ini adalah Al-Nasyr fi al-Qiraat al-‘Asyr  karangan Imam Ibn al-Jazari.

5.      Ilmu Tajwid
        Ilmu yang menerangkan cara membaca Al-Qur’an dengan baik. Ilmu ini menerangkan di mana tempat memulai, berhenti, bacaan yang panjang dan yang pendek, dan sebagainya.

6.      Ilmu Gharib al-Qur’an
        Ilmu ini menjelaskan makna kata-kata yang pelik dan tinggi. Ilmu ini menerangkan makna kata-kata yang ganjil dan tidak terdapat dalam kamus-kamus bahasa Arab yang baiasa atau tidak terdapat dalam percakapan sehari-hari. Diantara kitab penting dalam ilmu ini adalah Al-Mufradatli Alfaz al-Qur’an al-Karim karangan Al-Raghib al-Ashfahani. Kitab ini seperti sangat penting bagi seorang mufassir atau penerjemah Al-Qur’an.

7.      Ilmu I’rab Al-Qur’an
        Ilmu ini menerangkan baris kata-kata Al-Qur’an dan kedudukannya dalam susunan kalimat. Di antara kitab penting dalam ilmu ini adalah Imla’ ar-Rahman karangan Abd al-Baqa al-‘Ukbari.

8.      Ilmu Wujuh wa al-Nazair
        Ilmu ini menerangkan kata-kata Al-Qur’an yang mengandung banyak arti dan menerangkan makna yang dimaksud pada tempat tertentu. Ilmu ini dapat dipelajari dalam kitab Mu’tarak al-Aqran karangan Al-Suyuthi.

9.      Ilmu Ma’rifah al-Muhkam wa al-Mutasyabih
        Ilmu ini menjelaskan ayat-ayat yang dipandang muhkam (jelas maknanya) dan yang mutasyabih (samar maknanya, perlu ditakwil). Salah satu kitab menyangkut ilmu ini ialah Al-Manzumah al-Sakhawiah karangan Al-Sakhawi.

10.  Ilmu Nasikh wa al-Mansukh
        Ilmu ini menerangkan ayat-ayat yang dianggap mansukh (yang dihapuskan) oleh sebagian para mufassir. Di antara kitab-kitab yang membahas hal ini ialah Al-Nasikh wa al-Mansukh karangan Abu Ja’far al-Nahhas, Al-Itqan karangan Al-Suyuthi, Tarikh Tasyri’ dan Ushul al-Fiqh karangan Al-Khudhari.

11. Ilmu Badai’ al-Qur’an
        Ilmu ini bertujuan menampilkan keindahan-keindahan Al-Qur’an, dari sudut kesusastraan, keanehan-keanehan, dan ketinggian balaghahnya. Al-Suyuthi mengungkapkan yang demikian dalam kitabnya Al-Itqan.

12. Ilmu I’jaz Al-Qur’an
        Ilmu ini menerangkan kekuatan susunan dan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an sehingga dapat membungkemkan para sastrawan Arab. Di antara kitab yang membahas ilmu ini adalah I’jaz Al-Qur’an karangan Al-Bagillani.

13. Ilmu Tanasub Ayat al-Qur’an
        Ilmu ini menerangkan persesuaian dan keserasian antara suatu ayat dan ayat yang di depan dan yang dibelakangnya. Di antara kitab yang memamparkan ilmu ini ialah Nazm al-Durar  karangan Ibrahim al-Biqa’i.
                                                                                                            
14. Ilmu Aqsam al-Qur’an
        Ilmu ini menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah Tuhan yang terdapat dalam Al-Qur’an. Ibn al-Qayyim telah membahasnya dalam kitabnya Al-Tibyan.

15. Ilmu Amtsal al-Qur’an
        Ilmu ini menerangkan maksud perumpamaan-perumpamaan yang dikemukakan Al-Qur’an. Al-Mawardi telah membahasnya dalam kitabnya berjudul Amtsal al-Qur’an.

16. Ilmu Jidal al-Qur’an
        Ilmu ini membahas bentuk-bentuk dan cara-cara debat dan bantahan Al-Qur’an yang dihadapkan kepada kamu Musyrik yang tidak bersedia menerima kebenaran dari Tuhan. Najmuddin telah mengumpulkan ayat-ayat yang menyangkut ilmu ini.

17. Ilmu Adab Tilawah al-Qur’an
        Ilmu ini memaparkan tata cara dan kesopanan yang harus diikuti ketika membaca Al-Qur’an. Imam Al-Nawawi telah memaparkannya dalam kitabnya berjudul Kitab al-Tibyan.

        Inilah tujuh belas macam ilmu Al-Qur’an yang sangat ditekankan oleh Ash-Shiddieqy untuk dimakhirkan oleh setiap orang yang bermaksud menafsirkan atau menerjemahkan Al-Qur’an.
        Dari uraian diatas, dapat dipahami bahwa Ulum Al-Qur’an merupakan kumpulan berbagai ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an. Pada dasarnya, ilmu-ilmu ini adalah ilmu Agama dan bahasa Arab. Karena Ulum Al-Qur’an ialah segala ilmu-ilmu yang mempunyai hubungan dengan Al-Qur’an.

                                                             
BAB III
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
            Menurut bahasa ‘Ulum Al-Qur’an berarti Ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an dan secara istilah ada dua pendapat ulama yang berbeda mengenai pengertian ‘Ulum Al-Qur’an, menurut Al-Zarqani definisi Ulumul Qur’an adalah beberapa pembahasan yang berhubungan dengan Al-Qur’an al-Karim, dari segi turunnya, urutan-urutannya, pengumpulannya, penulisannya, bacaannya, penafsirannya, kemukjizatannya, nasikh dan mansukhnya, penolakan hal-hal yang bias menimbulkan keraguan terhadapnya, dan sebagainya. Sedangkan menurut Manna’ al-Qaththan ‘Ulum Al-Qur’an adalah ilmu yang mencakup pembahasan-pembahasan yang berhubungan dengan Al-Qur’an, dari segi pengetahuan tentang sebab-sebab turunnya, pengumpulan dan urutan-urutannya, pengetahuan tentang ayat-ayat Makkah dan Madinah, dan hal-hal lain yang ada hubungannya dengan Al-Qur’an.
Ruang lingkup kajian Ulum Al-Qur’an, Ash-Shiddieqy memandang segala macam pembahasan Ulum Al-Qur’an itu kembali kepada beberapa pokok persoalan saja yaitu Nuzul (turunnya ayat Al-Qur’an), Sanad, Ada’ al-qira’ah (cara membaca Al-Qur’an), Lafal Al-Qur’an, Makna Al-Qur’an yang berhubungan dengan hukum, Makna Al-Qur’an yang berhubungan dengan lafal.
Cabang-cabang pembahasan ‘Ulum Al-Qur’an Ash-Shiddieqy terbagi atas tujuh belas ilmu-ilmu Al-Qur’an yang terpokok yaitu Ilmu Mawathin al-Nuzul, Ilmu Tawarikh al-Nuzul, Ilmu Asbab al-Nuzul, Ilmu Qiraat, Ilmu Tajwid, Ilmu gharib Al-Qur’an, Ilmu I’rab al-Qur’an, Ilmu Wujub wa al-Nazair, Ilmu Ma’rifah al-Muhkam wa al-Mutasyabih, Ilmu Nasikh wa al-Mansukh, Ilmu Badai’ al-Qur’an, Ilmu I’jaz al-Qur’an, Ilmu Tanasub Ayat al-Qur’an, Ilmu Aqsam al-Qur’an, Ilmu Amtsal al-Qur’an, Ilmu Jidal al-Qur’an, Ilmu Adab Tilawah al-Qur’an.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Zarqani, Muhammad Abd al-‘azam, Manahil al-‘irfan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Fikr, 1998) Jilid 1, H. 27
Al-Qathtan, Manna’, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an. Al-Syarikh al-Muttahidah li al-Tauzi, (Beirut: 1973) H. 15-16
T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, (Jakarta: Bulan Bintang, 1972) H. 103-104
T.M. Hasbi Ash –Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, op.cit., Hlm. 105-108




(1) Al- Zarqani, Muhammad Abd al-‘azim, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an (Beirut: Dar al-Fikr, 1998) Jilid 1, H. 27. (2) Al-Qathtan, Manna’, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an. Al-Syarikh al-Muttahidah li al-Tauzi, (Beirut: 1973) H. 15-16
(3) T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, (Jakarta: Bulan Bintang, 1972) H. 103-104.
(4) Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, op. cit., Hlm. 105-108

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LAPORAN KKL ( KULIAH KERJA LAPANGAN ) FAI UNIAT (Universitas Islam Attahiriyah)

https://drive.google.com/folderview?id=1QsYXAAC12ZFAC3ZtvdvvHF_AnsawW8n5