FILSAFAT PENDIDIKAN
(Idealisme,Realisme dan Materialisme)
Dosen Pengampu: Farhat Abdullah, M.Pd
Oleh :
Muhammad Ngasomudin
Pendidikan Agama Islam
FAKULTAS AGMA ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM ATTAHIRIYAH
JAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan, filsafat mempunyai peranan yang sangat besar.
Karena, filsafat yang merupakan pandangan hidup ikut menentukan arah dan tujuan proses
pendidikan. Oleh karena itu, filsafat dan pendidikan
mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebab, pendidikan sendiri pada hakikatnya
merupakan proses pewarisan nilai-nilai filsafat, yang dikembangkan untuk
memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan yang lebih baik atau sempurna dari
keadaan sebelumnya.
Dalam pendidikan
diperlukan bidang filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan menurut Al-Syaibany
(Sadulloh, 2003: 37) adalah pelaksanaan pandangan falsafah dan kaidah falsafah
dalam pendidikan. Filsafat itu mencerminkan satu segi dari segi pelaksanaan
falsafah umum dan menitikberatkan kepada pelaksanaan prinsip-prinsip dan
kepercayaan-kepercayaan yang menjadi dasar dari falsafah umum dalam
menyelesaikan masalah-masalah pendidikan secara praktis. Sehingga kita dapat
katakan bahwa filsafat pendidikan itu sendiri adalah ilmu yang mempelajari dan
berusaha mengadakan penyelesaian terhadap masalah-masalah pendidikan yang
bersifat filosofis. Jadi jika ada masalah atas pertanyaan-pertanyaan soal pendidikan yang
bersifat filosofis, wewenang filsafat pendidikanlah untuk menjawab dan
menyelesaikannya.
Secara filosofis, pendidikan adalah hasil dari peradaban suatu bangsa
yang terus menerus dikembangkan berdasarkan cita-cita dan tujuan filsafat serta
pandangan hidupnya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang melembaga di dalam
masyarakatnya. Dengan demikian, muncullah filsafat pendidikan yang menjadi
dasar bagaimana suatu bangsa itu berpikir, berperasaan, dan berkelakuan yang
menentukan bentuk sikap hidupnya.
Ajaran filsafat pendidikan adalah hasil pemikiran sesorang atau
beberapa ahli filsafat pendidikan tentang sesuatu secara
fundamental. Dalam memecahkan suatu masalah terdapat perbedaan di dalam penggunaan cara
pendekatan, hal ini melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang berbeda pula, walaupun
masalah yang dihadapi sama. Perbedaan ini dapat disebabkan pula oleh
factor-faktor lain seperti latar belakang pribadi para ahli
tersebut, pengaruh zaman, kondisi dan alam pikiran manusia di suatu tempat. Dengan perbedaan-perbedaan tersebut
para ahli menyusunnya dalam suatu sistematika dengan kategori tertentu,
sehingga menghasilkan klasifikasi. Dari sinilah kemudian lahir apa yang disebut aliran filsafat pendidikan. Menurut Edward J.Power (Sadulloh, 2003: 98)
aliran filsafat pendidikan terbagi menjadi Aliran idealisme, realisme, humanisme
religius-rasional, pragmatisme, eksistensialisme, merupakan pandangan dalam
filsafat pendidikan yang berpengaruh dalam pengembangan pendidikan. Dalam
makalah ini hanya membahas mengenai aliran idealisme, aliran realisme, aliran
materialisme dan aliran pragmatisme.
B. Rumusan Masalah
1. Bagamaina Konsep Filsafat Pendidikan Idealisme?
2. Bagamaina Konsep Filsafat Pendidikan Realisme?
3. Bagamaina Konsep Filsafat Pendidkan Materialisme?
C. Tujuan
Diharapkan mahasiswa setelah mempelajari makalah ini
mengerti dan memahami tentang bagaimana konsep filsafat pendidikan idealisme,
realisme dan materialisme.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Filsafat
Pendidikan Idealisme
Idealisme berpandangan bahwa
pengetahuan sebenarnya sudah berada dalam jiwa (mind) kita, tetapi membutuhkan
usaha untuk dibawa pada tingkat kesadaran kita melalui suatu proses yang
disebut intropoeksi. Jadi mengetahui adalah berfikir kembali tentang
idea-idea terpendam yang ada di dalam jiwa kita. (Sadulloh, 2003: 27)
Inti yang terpenting dari ajaran ini adalah bahwa manusia
menganggap ruh atau sukma lebih beharga dan lebih tinggi dibandingkan materi
bagi kehidupan manusia. Ruh merupakan hakikat yang sebenarnya, sementara benda
atau materi disebut sebagai penjelmaan dari ruh atau sukma (Akhmad, 2008: 1)
Konsep aliran idealisme berimplikasi
terhadap konsep pendidikannya (Fajar, 2010: 1) yaitu:
Tujuan
Pendidikan. Tujuan pendidikan adalah untuk membantu perkembangan pikiran dan diri pribadi (self) siswa. Sebab itu,
sekolah hendaknya menekankan aktifitas aktifitas intelektual,
pertimbangan-pertimbangan moral, pertimbangan-pertimbangan estetis, realisasi diri, kebebasan, tanggung jawab, dan
pengendalian diri demi mencapai perkembangan pikiran dan diri pibadi.
Kurikulum
Pendidikan. Demi mencapai tujuan pendidikan di atas, kurikulum pendidikan Idealisme berisikan pendidikan liberal dan
pendidikan vokasional/praktis. Pendidikan liberal dimaksudkan untuk
pengembangan kemampuan-kemampuan rasional dan moral, adapun pendidikan vokasional untuk pengebangan
kemampuan suatu kehidupan/pekerjaan. Kurikulumnya
diorganisasi menurut mata pelajaran dan berpusat pada materi pelajaran (subject matter centered).
Metode
Pendidikan. Struktur dan
atmosfir kelas hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir, dan
untuk menggunakan criteria penilaian moral dalam situasi-situasi kongkrit dalam konteks
pelajaran. Metode mengajar hendaknya mendorong siswa memperluas cakrawala; mendorong berpikir reflektif; mendorong pilihan-pilihan
moral pribadi, memberikan keterampilan-keterampilan berpikir logis;
memberikan kesempatan menggunakan pengetahuan untuk masalah-masalah moral dan
social.
Peranan Guru
dan Siswa. Para filsuf
Idealisme mempunyai harapan yang tinggi dari para guru. Guru harus unggul (excellent) agar
menjadi teladan bagi para siswanya, baik secara moral maupun
intelektual. Guru harus unggul dalam pengetahuan dan memahami kebutuhan-kebutuhan serta kemampuan-kemampuan
para siswa; dan harus mendemonstrasikan keunggulan moral dalam
keyakinan dan tingkah lakunya. Guru harus juga melatih berpikir kreatif dalam mengembangkan
kesempatan bagi pikiran siswa untuk menemukan, menganalisis, memadukan,
mensintesa, dan menciptakan aplikasiaplikasi pengetahuan untuk hidup dan berbuat.
B.
Filsafat
Pendidikan Realisme
Tokoh realisme adalah Aristoteles
(384 – 332 SM). Pada dasarnya aliran ini berpandangan bahwa hakekat realitas
adalah fisik dan roh, jadi realitas adalah dualistik. Ada 3 golongan dalam
realisme, yaitu realisme humanistik, realisme sosial, dan realisme
yang bersifat ilmiah. Realisme humanistik menghendaki pemberian pengetahuan
yang luas, ketajaman pengalaman, berfikir dan melatih ingatan. Realisme sosial
berusaha mempersiapkan individu untuk hidup bermasyarakat. Realisme yang
bersifat ilmiah atau realisme ilmu menekankan pada penyelidikan tentang alam.
Francis Bacon (1561–1626) seorang tokoh realisme ilmu berpandangan bahwa alam
harus dikuasai oleh manusia. Pandangannya tentang manusia ditentukan oleh
kemampuan menggunakan pikirannya. (Sadulloh: 2003: 36)
Realisme adalah aliran filsafat yang memandang bahwa
dunia materi diluar kesadaran ada sebagai suatu yang nyata dan penting untuk
kita kenal dengan mempergunakan intelegensi. Objek indra adalah real, yaitu
benda-benda ada, adanya itu terlepas dari kenyataan bahwa benda itu kita
ketahui, atau kita persepsikan atau ada hubungannya dengan pikiran kita.
Menurut realisme hakikat kebenaran itu barada pada kenyataan alam ini, bukan
pada ide atau jiwa.
Aliran realisme juga memiliki
implikasi terhadap dunia pendidikan (Fajar, 2010: 1) sebagai berikut:
Tujuan
Pendidikan. Pendidikan pada dasarnya bertujuan agar para siswa dapat bertahan hidup di dunia yang bersifat alamiah, memperoleh
keamanan dan hidup bahagia. Dengan jalan memberikan pengetahuan yang esensial
kepada para siswa, maka mereka akan dapat bertahan hidup di dalam lingkungan
alam dan sosialnya.
Kurikulum
Pendidikan. Kurikulum
sebaiknya meliputi: (1) sains/IPA dan matematika, (2) Ilmu-ilmu kemanusiaan dan
ilmu-ilmu sosial, serta (3) nilai nilai.
Sains dan
matematika sangat dipentingkan. Keberadaan sains dan matematika dipertimbangkan sebagai lingkup yang sangat penting dalam
belajar. Sebab, pengetahuan tentang alam memungkinkan umat manusia untuk dapat menyesuaikan diri serta tumbuh dan berkembang dalam lingkungan alamnya. Ilmu kemanusiaan
tidak seharusnya diabaikan, sebab ilmu kemanusiaan diperlukan setiap individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Kurikulum hendaknya
menekankan pengaruh lingkungan sosial terhadap kehidupan individu.
Metode
Pendidikan. “Semua belajar tergantung pada pengalaman, baik pengalaman langsung maupun tidak langsung (seperti
melalui membaca buku mengenai hasil pengalaman orang lain), kedua-duanya perlu disajikan
kepada siswa. Metode penyajian hendaknya bersifat logis dan
psikologis. Pembiasaan merupakan metode utama yang diterima oleh para filsuf Realisme yang merupakan
penganut Behaviorisme” (Edward J. Power). Metode mengajar yang
disarankan para filosof Realisme bersifat otoriter. Guru mewajibkan
para siswa untuk dapat menghafal, menjelaskan, dan membandingkan fakta-fakta; mengiterpretasi
hubungan-hubungan, dan mengambil kesimpulan makna-makna baru.
Peranan Guru
dan Siswa. Guru adalah pengelola kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas (classroom is teacher-centered); guru
adalah penentu materi pelajaran; guru harus menggunakan minat siswa yang
berhubungan dengan mata pelajaran, dan membuat mata pelajaran sebagai sesuatu yang kongkrit untuk
dialami siswa. Dengan demikian guru harus berperan sebagai “penguasa pengetahuan; menguasai
keterampilan teknik-teknik mengajar; dengan kewenangan membentuk prestasi
siswa”. Adapun siswa berperan untuk “menguasai pengetahuan yang diandalkan; siswa
harus taat pada aturan dan berdisiplin, sebab aturan yang baik sangat diperlukan untuk belajar,
disiplin mental dan moral dibutuhkan untuk berbagai tingkatan
keutamaan” (Edward J. Power).
Pendidikan yang didasari oleh realisme bertujuan agar peserta didik menjadi
manusia bijaksana secara intelektual yang dapat memiliki hubungan serasi dengan
lingkungan fisik maupun sosial. Implikasi pandangan realisme adalah sebagai
berikut:
1. Tujuan pendidikannya membentuk
individu yang dapat menyelesaikan diri dalam masyarakat dan memilki tanggung
jawab pada masyarakat.
2. Kedudukan peserta didik ialah
memperoleh intruksi dan harus menguasai pengetahuan. Disiplin mental dan moral
diperlukan dalam setiap jenjang pendidikan.
3. Peran guru adalah menguasai materi,
memiliki keterampilan dalam pedagogi untuk mencapai tujuan pendidikan.
4. Kurikulum yang dikembangkan bersifat
konfrehensif yaitu memuat semua pengetahuan yang penting. Kurikulum realis
menghasilkan pengetahuan yang luas dan praktis.
5. Metode yang dilaksanakan didasari
oleh keyakinan bahwa senua pembelajaran tergantung pada pengalaman. Oleh
karenanya pengalaman langsung dan bervariasi perlu dilaksanakan oleh peserta
didik. Metode penyampaian harus logis dan didukung oleh pengetahuan psikologis. (Sadulloh: 2003: 42)
C.
Filsafat
Pendidikan Materialisme
Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah
materi, bukan rohani, bukan spiritual, atau supranatural. Demokritos (460-360
SM), merupakan pelopor pandangan materialisme klasik, yang disebut juga “atomisme”.
Demokritos beserta pengikutnya beranggapan bahwa segala
sesuatu terdiri dari bagian-bagian kecil yang tidak dapat dbagi-bagi lagi (yang
disebut atom-atom). Atom-atom merupakan bagian dari yang terkecil sehingga mata
kita tidak dapat melihatnya.
Menurut Randal dalam Sadulloh (2003: 49) bahwa karakteristik umum materialisme pada abad delapan
belas berdasarkan pada suatu asumsi bahwa realitas dapat dikembangkan pada
sifat-sifat yang sedang mengalami perubahan gerak dalam ruang. Asumsi tersebut
menunjukkan bahwa:
1. Semua sains seperti biologi, kimia, fisika, psikologi,
sosiologi, ekonomi, dan yang lainnya ditinjau dari dasar fenomena materi yang
berhubungan secara kausal (sebab akibat, jadi semua sains merupakan cabang dari
sans mekanika.
2. Apa yang dikatakan “jiwa” dan segala kegiatannya
(berpikir, memahami) adalah merupakan suatu gerakan yang kompleks dari otak,
sistem urat syaraf, atau organ-organ jasmani yang lainnya.
3. Apa yang disebut dengan nilai dan cita-cita, makna dan
tujuan hidup, keindahan dan kesenangan, serta kebebasan, hanyalah sekedar
nama-nama atau semboyang.
Menurut Tohmas Hobbes (Fadliyanur, 2008: 1) Sebagai penganut empiris materialime, ia
berpendapat bahwa pengalaman merupakan awal dari segala pengetahuan, juga awal
pengetahuan tentang asas-asas yang diperoleh dan dikokohkan oleh pengalaman.
Hanya pengalamanlah yang memberikan kepastian. Pengetahuan melalui akal hanya
memiliki fungsi mekanis semata, sebab pengenalan dengan akal mewujudkan
suatu proses penjumlahan dan pengurangan.
Materialisme maupun positivisme pada dasarnya tidak
menyusun konsep pendidikan secara eksplisit. Bahkan menurut Henderson (Agus, 2013: 1), Materialisme belum pernah menjadi penting
dalam menentukan sumber teori pendidikan. Menurut Waini Rasyidin (Anjar, 2011: 1) filsafat positivisme sebagai cabang dari
materialism lebih cenderung menganalisis hubungan faktor-faktor yang
mempengaruhi upaya dan hasil pendidikan secara factual. Memilih aliran
positivisme berarti menolak filsafat pendidikan dan mengutamakan sains
pendidikan.
Pendidikan dalam hal ini proses belajar merupakan proses
kondisionaisasi lingkungan. Hal ini mengandung implikasi bahwa proses
pendidikan (proses belajar) menekankan pentingnya keterampilan dan pengetahuan
akademis yang empiris sebagai hasil kajian sains serta perilaku sosial sebagai
hasil belajar (Fadliyanur, 2008: 1)
Menurut Power (Asmal, 2012: 29) mengemukakan beberapa implikasi pendidikan
positivisem behaviorisme yang bersumber pada filsafat materialisme sebagai berikut
1. Tema
Manusia yang baik efisien dihasilkan dengan
proses pendidikan terkontrol secara ilmiah.
2. Tujuan Pendidikan
Perubahan perilaku mempersiapkan manusia
sesuai dengan kapasitasnya untuk tanggung jawab hidup social dan pribadi yang
kompleks
3. Kurikulum
Isi pendidikan mencakup pengetahuan yang dapat
dipercaya (handal) dan organisasi selalu berhubungan dengan
sasaran perilaku.
4. Metode
Semua pelajaran dihasilkan dengan
kondisionisasi pelajaran berprogram dan kompetensi.
5. Kedudukan Siswa
Tidak ada kebebasan. Perilaku ditentukan oleh
kekuatan dari luar. Pelajaran sudah dirancang. Siswa dipersiapkan untuk hidup.
Mereka dituntut belajar.
6. Peranan Guru
Guru memiliki kekuasaan untuk merancang dan
mengontrol proses pendidikan. Guru dapat mengukur kualitas dan karakter hasil
belajar siswa.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Aliran-aliran filsafat pendidikan
yang memiliki pengaruh terhadap pengembangan pendidikan antara lain idealisme,
realisme, materialisme dan pragmatisme. Idealisme tujuan pendidikannya
menekankan pada aktifitas
intelektual, pertimbangan-pertimbangan moral, pertimbangan-pertimbangan estetis, kebebasan, tanggung jawab, dan pengendalian
diri demi mencapai perkembangan pikiran dan diri pibadi. Realisme tujuan pendidikannya
menekannkanb pada penyesuaian hidup dan tanggung jawab sosial. Materialisme
tujuan pendidikannya menekannkan pada Perubahan
perilaku mempersiapkan manusia sesuai dengan kapasitasnya untuk tanggung jawab
hidup social dan pribadi yang kompleks. Sedangkan pragmatisme tujuan pendidikannya menekankan pada penggunaan
pengalaman sebagai alat menyelesaikan hal-hal baru dalam kehidupan pribadi
maupun kehidupan masyarakat
DAFTAR PUSTAKA
Imam
Barnadib. 2002. Filsafat Pendidikan, Yogyakarta: Adi Cita
Karya Nusa.
Sadulloh, Uyoh. 2015. Pengenatar Filsafat
Pendidikan. Bandung: ALFABETA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar