Sabtu, 09 Mei 2020

MAKALAH PENGEMBANGAN KURIKULUM (Jenis-jenis dan Model Pengembangan Kurikulum)


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LAtar Belakang
Di dalam pendidikan dibutuhkan dengan yang namanya kurikulum, yang akan membantu dalam tercapainya tujuan pendidikan Nasional. Berbagai jenis dalam pengembangan kurikulum dipakai oleh pemerintahan Indonesia dalam mencapai cita-cita bangsa yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencetak generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia serta berbudi pekerti yang luhur. Hal ini diperlukan adanya kerja sama antara Pemerintah pusat, administrator, kepala kantor wilayah pendidikan, kebudayaan, serta peranan guru dalam pendidikan.
Banyak model dalam pengembangan kurikulum yang dapat digunakan. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja berdasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut serta konsep pendidikan yang digunakan. Model pengembangan kurikulum dalam sistem pendidikan dan pengolaan yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan yang desentralisasi. Model pengembangan dalam kurikulum yang bersifat subjek akademis berbeda dengan kurikulum humanistik, teknologis dan rekonstruksi sosial.

B.     Rumusan Masalah
1.      Jenis Kurikulum
2.      Model Pengembangan Kurikulum

C.    Tujuan
Untuk mengetahui dan memahami jenis-jenis dan model pengembangan kurikulum.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Jenis Kurikulum
Jenis kurikulum atau sering dikenal dengan organisasi kurikulum adalah pola atau bentuk penyusunan bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada murid-murid. Organisasi kurikulum sangat erat hubungan dengan tujuan pendidikan yang hendak dicapai karena pola-pola yang berbeda akan mengakibatkan isi dan cara penyampaian pelajaran berbeda pula.
Adapun organisasi kurikulum tersebut yaitu:

1.      Kurikulum Mata Pelajaran Terpisah
Kurikulum ini di pahami sebagai kurikulum mata pelajaran yang terpisah satu sama lainnya. Kurikulum mata pelajaran terpisah (separated subject curriculum), bahkan kurikulumnya dimaksudkan dalam bentuk mata pelajaran yang terpisah-pisah, yang kurang mempunyai keterkaitan dengan mata pelajaran lainnya. Konsekuensinya adalah anak didik di haruskan mengambil mata pelajaran semakin banyak.
Mata pelajaran disusun sedemikian rupa secara logis dan sistematis, sehingga murid dapat mempelajarinya dengan baik. Akibat dari penggunaan bentuk kurikulum semacam ini adalah bila muncul suatu cabang baru dalam ilmu pengetahuan, maka mata pelajaran menjadi bertambah.
Keunggulan dari bentuk organisasi separated subject curriculum yang paling menonjol adalah karena bahan pelajaran disusun secara logis dan sistematis. Sehingga metode untuk mempelajarinya dapat efektif, demikian juga metode untuk mengorganisasi pengetahuan. Siswa dapat menghipun sebanyak mungkin ilmu pengetahuan secara efektif dan ekonomis. Dengan mempelajari mata pelajaran seseorang dapat mengikuti suatu disiplin ilmu pengetahuan tertentu, juga berlatih untuk menggunakan sistem berfikir tertentu, sehingga kekuatan intelektualnya berkembang.
Penilaian lebih mudah karena biasanya bahan pelajaran ditentukan berdasarkan buku-buku pelajaran tertentu sehingga dapat diadakan ujian umum atau tes hasil belajar yang seragam diseluruh negara.
Manfaat praktis lainnya adalah karena bentuk kurikulum ini sudah lama digunakan, maka pada umumnya banyak perguruan tinggi menetapkan syarat masuk berdasarkan kemampuan dalam mata pelajaran. Juga pada umumnya guru sudah terbiasa dan terdidik dalam mata pelajaran terpisah-pisah sehingga dipandang lebih mudah dilaksanakan.
Selain mempunyai keunggulan, terdapat pula berbagai kelemahan. Kelemahan yang paling menonjol adalah, oleh sebab  kurikulum terdiri dari mata pelajaran terpisah-pisah, tidak dapat mengembangkan kemampuan berfikir aktif dan terpadu. Isi kurikulum merupakan warisan kebudayaan masa lampau, bukan masalah-masalah yang dihadapi pada situasi sekarang. Ini menyebabkan tidak diperhatikan prinsip psikologis yaitu minat dan motivasi. Sehingga apa yang dipelajari sering kali mudah dilupakan, juga tidak sesuai dengan kondisi yang dihadapi dan dibutuhkan anak.

2.      Kurikulum Berkorelasi
Kurikulum jenis ini mengandung makna bahwa sejumlah mata pelajaran dihubungankan antara yang satu dengan yang lain, sehingga ruang lingkup bahan yang tercakup semakin luas. Korelasi kurikulum tersebut dengan memperhatikan tipe korelasinya yakni:
a.       Korelasi oksional/incidental;
b.      Korelasi etis;
c.       Korelasi sistematis.

Beberapa kebaikan Correlated Curriculum yaitu dengan korelasi pengetahuan siswa lebih integral, tidak terlepas-lepas. Dengan melihat hubungan erat antara mata pelajaran satu dengan yang lain, minat siswa bertambah. Korelasi memberikan pengertian yang lebih luas dan mendalam karena memandang dari berbagai sudut. Dengan korelasi maka yang diutamakan adalah pengertian dan prinsip-prinsip bukan pengetahuan akan fakta, dengan begitu memungkinkan penggunaan pengetahuan secara fungsional bagi siswa.
Adapun disamping kebaikan yang ada, terdapat kelemahan pada Correlated Curriculum yaitu sulit untuk menghubungkan dengan masalah-masalah yang hangat dalam kehidupan sehari-hari sebab dasarnya subject centered. Tidak memberikan pengetahuan yang sistematis dan mendalam untuk sesuatu mata pelajaran sehingga hal ini dipandang kurang cukup untuk bekal mengikuti pelajaran di perguruan tinggi.

3.      Broad Fields Curriculum
Broad fields merupakan bentuk organisasi kurikulum yang dibuat dengan melebur mata pelajaran sejenis ke dalam satu bidang studi.
Phenik, merupakan orang yang pertama mencetuskan tipe organisasi broad fields ini. Keinginan Phenik adalah agar supaya para pendidik mengerti jenis-jenis arti perkembangan kebudayaan yang efektif, manfaat yang didapatkan dari berbagai disiplin ilmu , dan upaya mendidik anak agar menghasilkan sesuatu masyarakat yang civilized.
Kita mengenal lima macam broad fields dalam kurikulum, yaitu:
a.       Ilmu pengetahuan sosial (social studies): ilmu bumi, sejarah, civics, ekonomi, dan sejenisnya.
b.      Bahasa (language arts): membaca, tata bahasa, menulis, mengarang, menyimak, pengetahuan bahasa.
c.       Ilmu pengetahuan alam (natural sciences): ilmu alam, ilmu hayat, ilmu kimia, ilmu kesehatan, biologi.
d.      Matematika: berhitung, aljabar, ilmu ukur sudut, bidang dan ruang, dan statistik.
e.       Kesenian: seni tari, seni suara, seni lukis, seni pahat, dan seni drama.

Soetopo dan Soemanto mengemukakan bahwa keunggulan kurikulum broad fields ialah adanya kombinasi mata pelajaran akan semakin dirasakan kegunaannya, sehingga memungkinkan pengadaan mata pelajaran yang kaya akan pengertian dan mementingkan prinsip dasar serta generalisasi. Sementara itu kelemahannya ialah hanya memberikan pengetahuan secara sketsa, abstrak, kurang logis dari suatu mata pelajaran.

4.      Kurikulum Terpadu
Kurikulum terpadu (integrated curriculum) merupakan suatu produk dari usaha pengintegrasian bahan pelajaran dari berbagai macam masalah tertentu yang memerlukan solusinya dengan materi atau bahan dari berbagai disiplin ilmu atau mata pelajaran.
Integrated curriculum mempunyai ciri yang sangat fleksibel dan tidak menghendaki hasil belajar yang sama dari semua anak didik. Guru, orang tua, dan anak didik merupakan komponen-komponen yang bertanggung jawab dalam proses pengembangannya. Di sisi lain, kurikulum ini juga mengalami kesulitan-kesulitan bagi anak didik terutama apabila dipandang dari ujian akhir atau test akhir atau tes masuk uniform. Sebagai persiapan studi perguruan tinggi yang memerlukan pengetahuan yang logis, sistematis, kurikulum jenis ini akan mengalami kekuatan. Meskipun demikian selama percobaan delapan tahun (1932-1940), dengan kurikulum terpadu dapat mengikuti pelajaran dengan baik, dan tidak kalah dengan prestasi anak didik lain yang menggunakan kurikulum konvensional, dan justru mereka memiliki nilai tambah dalam hal perkembangan dan kemantapan kepribadian dan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan.

B.     Model Pengembangan Kurikulum
Untuk memantapkan pemahaman dan pengembangan kurikulum, berikut akan disajikan pengembangan kurikulum, yang merupakan hasil penelitian para ahli pendidikan dan kurikulum di berbagai Negara.
Model kurikulum yang di sajikan pada makalah ini meliputi model Administratif, model akar rumput (grass-Roots), model demontrasi, model sistematik dari beauchamp, model taba, model hubungan interpersonal dari Rogers, model penelitian tindakan, model teknis emerging.

1.      Model Administratif (Line Staff)
Pengembanagan kurikulum model ini merupakan model yang paling di kenal, karena di kembangkan dari atas ke bawah (sentralis). Model ini inisiatifnya menggunakan prosedur administratif, sehingga dinas pendidikan memiliki beberapa komisi, dari komis tingakat atas ( Puskur ) yang menentukan kebijakan kurikulum sampai komisi tingkat bawah ( sekolah ) yang melaksanakan kurikulum tersebut dalam kegiatan pembelajaran.

2.      Model Akar Rumput (Grass-Roots)
Pengembanagan kurikulum Akar Rumput sangat bertolak bealakang dengan model administratif dalam beberapa poin yang sangan berarti, misalnya dalam hal inisiatif guru, dan pembuatan keputusan dalam pengembangan program pembelajaran. Model akar rumput yang berorientasi demokratis mengakui dua hal saebagai berikut:
a.       Kurikulum hanya dapat diimplementasikan dengan sukses apabila gur di libatkan dalam proses penyususnan  dan pengembanganya;
b.      Tidak hanya orang-orang professional, tetapi peserta didik, guru, dan anggota masyarakat lainya harus di ikut sertakan dalam perencanaan kurikulum.
Kelemahan model Grass Roots antara lain disebabkan oleh tuntutan berbagai pihak dalam pengembangan kurikulum, padahal tidak semua orang mengerti dan tertarik untuk melibatkan dirinya.


3.      Model Demonstrasi
Model demonstrasi direncanakan untuk mengantarkan perubahan kurikulum dalam skala kecil. Smith, Stanley, dan Shores mengemukakan dua model demonstrasi:
a.       Sekelompok guru diorganisir dalam sekolah, dengan tugas mengembangkan suatu proyek eksperimen kurikulum. Model ini merupakan model variasi dari rekayasa kurikulum model administratif;
b.      Model yang kedua nampaknya tidak begitu formal dibandingkan dengan yang pertama, disini guru-guru yang merasa tertarik dengan kurikulum melakukan eksperimen dalam area tertentu dengan tujuan menemukan alternatif penerapan kurikulum (curriculum practice). Model kedua ini mempresentasikan pendekatan grass roots dalam reakayasa kurikulum.
Ada beberapa keuntungan model Demonstrasi, antara lain:
a.       Pengembanagn kurikulum ini telah teruji dalam situasi eksperimen;
b.      Model ini dapat dighunakan perbaikan kurikulum secara menyeluruh;
c.       Karena model ini dilakukan dalam skala kecil, maka memudahkan perubahan kurikulum, dan menghindarkan kesenjangan antara dokumen dan implementasi;
d.      Model demonstrasi, khususnya dalam bentuk akar rumput dapat meningkatkan inisiatif guru, dan memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan program-program baru.

4.      Model Sistemik dari Beauchamp
Secara umum, model ini sudah di anggap lengkap, Beauchamp mengidentifikasi serangkaian pembuatan keputusan penting, yang berpengaruh dalam penerapan kurikulum.
a.       Arena untuk rekayasa kurikulum;
b.      Memilih dan melibatkan:
1)      Spesialis;
2)      Guru kelas;
3)      Para profesional dalam system sekolah;
4)      Para professional ditambah beberapa anggota masyarakat dari berbagai lapisan yang diambil secara representative.
c.       Organisasi dan prosedur perencanaan kurikulum
d.      Implementasi kurikulum;
e.       Evaluasi kurikulum.

5.      Model Taba
Model ini merupakan bentuk urutan tradisional yang paling seaderhana dari pengembangan kurikulum untuk diseleksi para komite:
a.       Untuk menguji wilayah dan mengembangkan suatu tujuan;
b.      Merumuskan disain kurikulum berdasarkan tujuan tertentu;
c.       Menyusun unit-unit kurikulum sesuai dengan kerangka kerja dalam disain;
d.      Melaksanakan kurikulum pada tingkat keals.
Taba menganjurkan membalikan urutan-urutan tradisional yang dimulai dengan disain umum, untuk menghindari kesenjangan antara teori dan praktek dan memberikan kemudahan apabila diperkenalkan dengan sekolah lain. Taba mengembalikan lima langkah rekayasa kurikulum:
a.       Menyelenggarakan “pilot projek” oleh kelompok guru, untuk menjembatani kesenjanangan antara teori dan praktek. Hal ini dilakukan melalui berbagai pelaksanaan tugas;
b.      Mengetes unit eksperimental pada kelas lain dengan kondisi yang berbeda;
c.       Mengadakan revisi dan konsolidasi dari unit kurikulum;
d.      Mengembangkan suatu kearangka kerja dalam skala terbatas, bukan pengembalian disain kurikulum secara keseluruhan;
e.       Mendiseminasikan unit-unit kurikulum ke sekolah-sekolah lain.
Kelebihan utama pengembangan kurikulum model ini adalah memungkinkan terjadinya integrasi antara teori dan praktek. Dalam hal ini orang akan mampu menjalanka sesuatu, jika menyadari apa yang akan di laksanakanya.

6.      Model Hunbungan Interpersonal dari Rogers
Model ini didasarkan atas kebutuhan untuk menciptakan serta memelihara suasana yang baik terhadap perubahan. Sesuatu yang harus diperlukan untuk menghasilkan system pendidikan ialah “suasana yang sesuai bagi pertumbuhan, sehingga inovasi bukan sesuatu yang ditakuti, melainkan kemampuan kreatif dari pendidik dan tenaga kependidikan, serta peserta didik din pupuk bukan dihalanginya.
Sedidkitnya terdapat empat langkah yang harus dilakukan untuk menjalin interpersonal dalam pengembangan kurikulum model Rogers.
a.       Memilih target sistem pendidikan, kriteria untuk memilih ini hanyalah bahwa satu atau lebih dari individu berada dalam posisi pemimpin.
b.      Kelompok intensif diantara para guru.
c.       Pengembangan pengalaman kelompok intensif untuk unit kelas atau pembealajaran.
d.      Berhubungan dengan keterlibatan kelompok intensif dari orang tua peserta didik, untuk menciptakan hubungan sesama orang tua, anak dan sekoalah.
Pengembangan model interpersonal ini menuntut guru professional, yang dinamis dan siap melakukan perubahan, termasuk melakukan perubahan dalam caranya berpikir dan bertindak.

7.      Model Penelitian Tindakan
Model ini di kembangkan oleh Smith, Stanley, dan Shores, berdasarkan asumsi bahwa perubahan kurikulum adalah perubahan social, yaitu proses yang melibatkan berbagai kepribadian orang tua, peserta didik, guru, struktur system sekolah, dan hubungan individu serta keolompok, baik di sekolah maupun di masyarakat.
Langkah-langkah yang perlu di ambil dalam model ini ialah:
a.       Penelaahan berbagai masalah kurikulum, dengan cara menemukan fakta secara luas untuk dijadikan sesuatu masalah, mengidentifikasi berbagai faktor, kekuatan serta syarat yangb harus diambil jika masalah tersebut perlu dipecahkan;
b.      Penerapan berbagai keputusan yang berhubungan dengan masalah pertama
Kegiatan ini dilaksanakan dengan mencari data atau fakta. Untuk itu, perlu menyediakan data untuk penilaian, memberi pandangan baru untuk suatu perencanaan kurikulum, menemukan data tambahan untuk perubahan rencana keseluruhan sebagai sumber yang berharga dalam menentukan keputusan.
Secara keseluruhan model ini bermaksud menghindari berbagai kekurangan yang terdapat dalam model lain, sehingga pengembangan kurikulum tidak harus menunggu instruksi atau perintah.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berbagai jenis kurikulum baik dari kurikulum mata pelajaran terpisah, kurikulum berkorelasi, broad fields curriculum, kurikulum terpadu,  semua itu bertujuan untuk mencapai sistem belajar mengajar yang efektif dan efisien bagi pendidik dan peserta didik.
Model pengembangan kurikulum merupakan alternatif guna untuk mendesain (designing), menerapkan (impelementation), dan mengevaluasi (evaliatoon) suatu kurikulum. Banyak macam model pengembangan kurikulum yakni: Model administratif (Line Staff), model akar rumput (Grass-Roots), model demonstrasi, model sistemik dari Beauchamp, model taba, model hubungan interpersonal dari Rogers, model penelitian tindakan.
Pengembangan kurikulum di Indonesia dari tahun 1964 sampai dengan tahun 2006/2007 yakni dari kurikulum sistem guru mengajarkan muridnya dengan sistem satu arah (guru aktif dan murid pasif), mulai pengenalan sistem semesteran bagi SMP dan SMA dan cawu bagi tingkat dasar (SD), adanya sistem wajib belajar 9 tahun, kemudian adanya sistem kurikulum berbasis kompetisi (KBK), sampai pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).




DAFTAR PUSTAKA
Ali, Moh. Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung: Sinar Baru, 1989.
Chasanatin, Haiatin. Pengembangan Kurikulum. Metro: STAIN Jurai Siwo Metro, 2012.
Mulyasa, E. Kurikulum Yang Disempurnakan. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2009.
Sanjaya, Wina. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: KENCANA, 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LAPORAN KKL ( KULIAH KERJA LAPANGAN ) FAI UNIAT (Universitas Islam Attahiriyah)

https://drive.google.com/folderview?id=1QsYXAAC12ZFAC3ZtvdvvHF_AnsawW8n5