PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Mengembangkan Standar Kompetensi Guru
RESUME
Dibuat Guna Untuk Memenuhi
Persyaratan Mata Kuliah
Bidang Studi Perencanaan Pembelajaran
Oleh:
MUHAMMAD NGASOMUDIN
NPM. 201402862080005
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM AT-TAHIRIYAH
JAKARTA 2016
Kata Pengantar
Syukur Alhamdulillah
penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada
kita semua. Sehingga penulis dapat menyusun resume buku yang
berjudul PERENCANAAN PEMBELAJARAN tepat pada waktunya. Dan tidak lupa pula penulis
sanjungkan sholawat serta salam kepada
Nabi Besar Muhamad SAW yang telah membawa kita dari alam yang gelap gulita ke
alam yang terang benderang ini.
Penulis menyadari bahwa
didalam penulisan resume buku ini masih banyak kekurangan dari segi penyusunan dan masih jauh dari kata
sempurna. Untuk itu kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan untuk
penyempurnaan penulisan selanjutnya.
Akhir kata semoga resume buku PERENCANAAN PEMBELAJARAN ini dapat memberikan
manfaat kepada para pembaca. Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis
sampaikan kepada Bapak Dosen Muhammad Alwi, M.Pd yang senantiasa telah
membimbing penulis dari awal sampai akhir didalam mata pelajaran perencanaan
pembelajaran.
Jakarta , Agustus 2016
Muhammad Ngasomudin
Daftar Isi
Kata Pengantar -------------------------------------------------------------------------- i
Daftar Isi ---------------------------------------------------------------------------------- ii
BAB 1 Pendahuluan ------------------------------------------------------------------- 1
A. Standar Kompetensi Guru ---------------------------------------------------- 1
B. Pengembangan Standar Kompetensi --------------------------------------- 2
C. Pemberdayaan Guru ----------------------------------------------------------- 4
BAB 2 Konsep Dasar Perencanaan Pembelajaran --------------------------- 6
A. Pengertian ------------------------------------------------------------------------ 6
B. Dimensi-dimensi perencnaan ------------------------------------------------ 8
C. Manfaat Perencanaan Pengajaran ----------------------------------------- 10
D. Desain Pembelajaran Berbasis Kompetensi ----------------------------- 10
BAB 3 Pengembangan Silabus ---------------------------------------------------- 13
A. Silabus -------------------------------------------------------------------------- 13
B. Silabus dan Kisi-kisi Penilaian -------------------------------------------- 14
BAB 4 Pengembangan Kecakapan ---------------------------------------------- 15
A. Pengantar ----------------------------------------------------------------------- 15
B. Strategi Mengembangkan Kecakapan ------------------------------------ 15
C. Pandangan Tentang Pembelajaran ---------------------------------------- 19
BAB 5 Pengembangan Persiapan Mengajar ---------------------------------- 21
A. Perencanaan dan Implementasi Persiapan
Pengajaran ---------------- 21
B. Prinsip-prinsip Persiapan Mengajar -------------------------------------- 22
C. KomponenKomponen Persiapan Mengajar ----------------------------- 22
D. Rencana Pengajaran dalam Kurikulum 1994 vs
Kurikulum 2004 - 23
E. Model Persiapan Mengajar ------------------------------------------------- 23
BAB 6 Pengelolaan Pembelajaran dan
Pengembangan Bahan Ajar -- 25
A. Pengelolaan Siswa ------------------------------------------------------------ 25
B. Pengelolaan Guru ------------------------------------------------------------- 28
C. Pengelolaan Pembelajaran -------------------------------------------------- 28
D. Pengelolaan Lingkungan Kelas -------------------------------------------- 36
E. Pengembangan Sumber dan Bahan Ajar --------------------------------- 37
BAB 7 Sistem Penilaian dan Program Tindak
Lanjut --------------------- 39
A. Prinsip-prinsip dan Strategi Penilaian
Kelas ---------------------------- 39
B. Ragam Penilaian Kelas ------------------------------------------------------ 42
C. Program Tindak Lanjut ------------------------------------------------------ 45
D. Pelaporan Hasil Penilaian dan Pemanfaatanya
------------------------- 48
BAB 8 Penutup ------------------------------------------------------------------------ 50
Daftar Pustaka ------------------------------------------------------------------------ 51
Pendahuluan
Upaya memperbaiki dan meningkatkan
mutu pendidikan seakan tidak pernah berhenti. Banyak reformasi yang telah,
sedang, dan akan dilaksanakan. Beragam progam inovatif ikut serta memeriahkan
reformasi pendidikan, yakni memperbaiki pola hubungan sekolah dengan lingkunganya
dan dengan pemerintah.
Reformasi pendidikan tidak cukup
hanya dengan perubahan dalam sector kurikkulum, baik struktur maupun prosedur
perumusanya.pembaharuan kurikulum akan lebih bermakna bila diikuti perubahan
praktikpembelajaran di dalam maupun di luar kelas.
Keberhasilan implementasi kurikulum
sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru yang akan menerapkan dan
mengaktualisasikan kurikulum tersebut. Kemampuan guru tersebut terutama
berkaitan dengan pengetahuan dan kemampuan, serta tugas yang dibebankan
kepadanya.
A.
Standar
Kompetensi Guru
Upaya perwujudan pengembangan silabus menjadi persiapan pengajaran
yang implementatif memerlukan kemampuan yang komprehensif. Kemampuam
komprehensif itulah yang dapat menghantarkan guru menjadi tebaga professional.
Walaupun selama ini banyak pihak mengklaim guru seabgai jabatan
professional, tetapi secara realita masihn perlu klarifikasi seacara rasional
dilihat dari penguasaan knowledge-base of teaching-nya.
Standar guru professional sebuah kebutuhan mendasar yang sudah
tidak bias ditawar-tawar lagi. Hal ini tercermin dalam Undang-undang Sistem
Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 pasal 35 ayat 1 bahwa: “Standar nasional
terdiri atas isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan
prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus
ditingkatkan secara berencana dan berkala.”
Standar yang dimaksud adalah suatu kriteria yang telah dikembangkan
dan ditetapkan berdasarkan atas sumber, prosedur dan manajemen yang efektif.
Sedangkan kriteria adalah seuatu yang menggambarkan ukuran keadaan yang
dikehendaki (Suharsimi Arikunto, 1988:98).
Sedangkan kompetensi adalah seperangkat timdakan inteligen penuh
tanggungjawab yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu
melaksanakan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu.
Dengan demikian, kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan
menunjukan kualitas guru dalam mengajar. Kompetensi tersebut akan terwujud
dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan profeional dalam menjalankan fungsinya
sebagai guru. Artinya guru bukan saja harus pinter tapi juga mentransfer
ilmunya kepada peserta didik.
B.
Pengembangan
Kompetensi Guru
Proses pengembangan standar kompetensi guru dapat dilakukan melalui:
1.
Penelitian
Sekurang-kurangnya ada 3 jenis upaya penelitian yang dilakukan
dalam kaitan dengan pengembangan mutu guru:
a.
Mengidentifikasi
masalah pendidikan yang dihadapi terutama tentang mutu kinerja guru.
b.
Mengkaji
prakondisi yang perlu dipenuhi untuk dapat menerapkan suatu standar kompetensi
guru dalam sistem yang ada.
c.
Penelitian yang
melekat di dalam pengembangan standar itu sendiri untuk mengetahui efektifitas
atau kelayakan dari standar yang sedang dikembangkan dalam menghasilkan standar
baku kompetensi guru.
2.
Pengembangan
Upaya pengembangan dalam rangka menghasilkan inovasi yang tepat
untuk diterapkan dalam system yang ada, merupakan tahapan yang sangat penting
dan kritikal.
Ada beberapa hal yamg perlu mendapatkan perhatian yang serius dalam
upaya pengembangan standar kompetensi guru.
a.
Kejelasan
permasalahan dan tujuan yang ingin dicapai dari profesi guru, antisipasi
kendala yang bakal dihadapinya, identifikasi alternatif-alternatif pemecahan,
serta pemgembanga alternative yang dipilih dalam skala terbtas.
b.
Permasalahan
yang jelas serta tujuan yang spesifik, jika perlu dilengkapindengan kriteria
keberhasilan yang dijadikan ukuran, merupakan titik awal yang sangat penting
dalam upaya pengembanga standar kompetensi guru.
c.
Antisipasi
kendala, merupakan langkah yang tidak dapat diabaikan dalam proses pengembangan
ini.
d.
Melalui proses
identifikasi dan seleksi berbagai alternative pemecahan, akan dapat dihasilkan
standar kompetensi yang telah diperhitungkan kekuatan maupun kelemahanya
ditinjau dari permaslahan dan tujuan yang diinginkan maupun kendala-kendala
yang ada.
e.
Sekalipun uji
coba suatu standar kompetensi dalam skala terbatas, kadang-kadang mengandung
kelemahan (terutama dalam prediksi kelaikan large scale implementation).
Yang perlu diperhatikan adalah agar karakteristik lingkungan terbatas dimana
standar kompetensi guru yang akan dikembangkan hendaknya diupayakan sedekat
mungkin dengan karakteristik dunia nyata (the real world), bukan
merupakan situasi yang snagt berbeada dengan lingkunganya.
3.
Manajemen Mutu
Guru
Sekurang-kurangnya teradapat dua hal penting yang perlu
diperhatikan berkenaandengan manajemen peningkatan mutu guru dengan standar
kompetensinya; pertama, adalah upaya melibatkan berbagai pihak terkait sedini
mungkin, kedua adalah penerapan proses diseminasi secara bertahap.
Adanya peran aktif dari berbagai pihak terkait sedidni mungkin
dalam proses pengembangan mutu guru akan membuat standar kompetensi yang
mengiringinya tidak terisolir dari dunia nyata, sehimgga proses transisi dari
tahap pengembangan ke tahap pelaksanaan para guru akan berjalan dengan lancer.
C.
Pemberdayaan
Guru
Pembelajaran atau ungakapan yang lebih dikenal sebelumnya
“pengajaran” adalah upaya untuk mebelajarkan siswa (Degeng, 1989). Aktivitas
belajar pada siswa dapat terjadi dengan direncanakan (by designed) dan
dapat pula terjadi tanpa direncanakan. Belajar agama islam yang direncanakan
adalahn aktifitas pendidikan yang secara sadar dirancag untuk membantu murid
dalam mengembangkan pandangan hidup islami yang selanjutnya diwujudkan dalam
sikap hidup dan keterampilan hidup baik
yang berasifat manual maupun mental spiritual. Sedangkan pendidikan yang tidak
direncanakan adalah fenomena pendidikan yang berupa peristiwa yang tanpa
disengaja atau direncanakan, namun dampaknya dapat mempengaruhi, mengubah, atau
bahkan mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup.
Proses perubahan tingkah laku manusia untuk menjadi muslim, mukmin,
muttaqin dan sebagainya dalam konteks pembelajaran islam, bukanlah kekuasaan manuasia termasuk guru, akan tetapi
dengan sendirinya murid akan memilih dan menentukan jalan hidpnya dengan izin
Allah.
Upaya membelajarkan murid dapat dirancang tidak hanya dalam
berinteraksi dengan guru sebagai satu-satunya sumber belajar, melainkan
berinteraksi dengan semua sumber belajar yang mungkin dapat dipakai untuk
mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.
Dengan demikian, inti dari perencanaan pembelajaran adalah proses
memilih, menetapkan, dan mengembagkan, pendekatan, metode dan teknik
pembelajaran, meanwarkan bahan ajar, menyediakan pengalaman bealajar yang
bermakna, serta mengukur tingkat keberhasilan proses pembelajaran dalam
mencapai hasil pembelajaran.
BAB 2
Konsep Dasar
Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan adalah menyusun langkah-langkah yang akan dilaksanakan
untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Perencanaa tersebeut dapat disusun
sesuai kebutuhan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan keinginan pembuat
perencanaan. Namun yang lebih utama adalah perencanaan yang dibuat harus dapat
dilaksanakan dengan mudah dan sesuai sasaran.
A.
Pengertian
Berkenaan dengan perencanaan, William H. Newman dalam bukunya Administrative
Action Technniques of Organization and Management; mengemukakan bahwa
“perencanaan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. Perencanaan mengandung
rangkaian-rangkaian putusan yang luas
dan penjelasan-penjelasan dari tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program,
penentuan metode-metode dan prosedur tertentu dan penentuan kegiatan berdasarkan
jadwal sehari-hari.”
Sedangkan pengajaran dapat diartikan sebagai suatu proses yang
dilakukan oleh para guru dalam membimbing, membantu, dan mengarahkan peserta
didik utnuk memiliki pengalaman belajar. Dengan kata lain pengajaran adalah
suatu cara bagaimana mempersiapkan pengalaman belajar bagi peserta didik.
(Jones at. al Mulyani Sumantri, 1988:95)
Sampai saat ini riset tentang perencanaan pengajaran masih jarang,
tetapi beberapa konsep dapat membantu guru dalam meningkatkan efektifitas
pembuatan perencanaan pengajaran. Konsep tersebut mengandung dua pemikiran
utama, yaitu proses pengabilan keputusan dan pengetahuan professional tentang
proses pengajaran.
Berdasarkan uraian di atas, konsep perencanaan pengajaran dapat
dilihat dari berbagai sudut pandang, yaitu:
a.
Perencanaan
pengajaran sebagai teknologi adalah suatu
perencanaan yang mendorong penggunaan teknik-teknik yang dapat mengembangkan
tingkah laku kognitif dan teori-teori konstruktif terhadap solusi dan
problem-problem pengajaran.
b.
Perencanaan
pengajaran sebagai suatu system adalah
sebuah susunan dari sumber-sumber dan prosedur-prosedur untuk menggerakan
pembelajran.
c.
Perencanaan
pengajaran sebagai sebuah disiplin adalah cabang dari pengetahuan yang senantiasa memperhatikan
hasil-hasil penelitian dan teori tentang strategi pengajaran dan implementasi
terhadap strategi tersebut.
d.
Perencanaan
pengajaran seabgai sains (science) adalah mengkreasi secara
detail spesifikasi dari pengembanagan, implementasi, evaluasi dan pemeliharaan
akan situasi maupun fasilitas pembelajaran terhadap unit-unit yang luas maupun
yang lebih sempit dari materi pembelajaran dengann segala tingkatan
kompleksitasnya.
e.
Perencanaan
pengajaran sebagai sebuah proses adalah
pengembanagan pengajaran secara sistemik yang digunakan secara khusus atas
dasar teori-teori pembelajaran dan pengajaran untuk menjamin kualitas pembelajaran.
f.
Perencanaan
pengajaran seabagai sebuah realitas adalah ide pengajarn dikembangakan dengan memberikan hubungan
pengajaran dari waktu ke waktu dalam suatu proses yang dikerjakan perencanaan
dengan mengecek secara cermat bahwa semua kegiatan telah sesuai dengan tuntutan
sains dan dilaksanakan secar sistematik.
Dengan mengacu keapada berbagai sudut pandang tersebut, maka
perencanaa program pengajaran harus sesuai dengan konsep pendidikan dan
pengajaran yang dianut dalam kurikulum. Kurikulum khususnya silabus menjadi
acuan utama dalam penyusunan program pemhajaran, namun kondisi sekolaah/
madrasah da lingkungan sekitar, kondisi siswa dan guru merupakan hal penting
jamgan sampai diabaikan.
B.
Dimensi-dimensi
Perencanaan
Berbicara tentang dimensi perencanaan pengajaran yakni berkaitan
denagan cakupan dan sifat-sifat dari beberapa karakteristik yang ditemukan
dalam perencanaan pengajaran. Pertimbangan terhadap dimensi-dimensi itu menurut
harjanto (1997:5) memungkinkan diadakanya perencanaan komprehensif yang menalar
dan efisien, yakni:
1.
Signifikansi
Tingkat signifikansi tergantung pada tujuan pendidikan yang
diajukan dan signifikasi dapat ditentukan berdasarkan kriteria-kriteria yang
dibangun selama proses perencanaan.
2.
Feasilibitas
Maksudnya perencanaan harus disusun berdasarkan pertimbangan
realistis baik yang berkaitan dengan
biaya maupun pengimplementasianya.
3.
Relevansi
Konsep relevansi berkaitan dengan jaminan bahwa perencanaan
memungkinkan penyelesaian persoalan secara lebih spesifik pada waktu yang tepat
agar dapat dicapai tujuan spesifik secara optimal.
4.
Kepastian
Konsep kepastian minimum diharapkan dapat mengurangi
kejadian-kejadian yang tidak terduga.
5.
Ketelitian
Prinsip utama yang perlu diperhatikan ialah agar perencanaan
pengajaran disusun secara sederhana, serta perlu diperhatikan secara sensitif
kaitan-kaitan yang pasti terajdi antara berbagai komponen.
6.
Adaptabilitas
Diakui bahwa perencanaan pengajaran besifat dinamis, sehingga perlu
senantiasa mencari informasi sebagai umpan balik.
7.
Waktu
Factor yang berkaitan dengan waktu cukup banyak, selain
keterlibatan perencanaan dalam memprediksi masa depan, juga validasi dan
realibilitas analisis yang dipakai, serta kapan menilai kebutuhan kependidikan
masa kini dalam kaitanya dengan masa mendatang.
8.
Monitoring
Monitoring merupakan pengembangan kriteria untuk menjamin bahwa
berbagai komponen bekerja secara efektif.
9.
Isi perencanaan
Isi perencanaan merujuk pada hal-hal yang akan direncanakan.
Perencanaan pengajaran yang baik perlu memuat:
a.
Tujuan apa yang
diinginkan
b.
Program dan
layanan
c.
Tenaga manusia
d.
Keuangan
e.
Bangunan fisik
f.
Struktur
organisai
g.
Konteks social
Pengembangan program pengajaran dimaksud adalah rumusan-rumusan
tenatang apa yang akan dilakukan guru dan peserta didik dalam proses
pembelajaran untuk mencapai tujuan, sebelum kegiatan belajar mengajar
sesungguhnaya dlaksanakan.
C.
Manfaat
Perencanaan Pengajaran
Perencanaa pengajaran memainkan peran penting dalam memandu guru untuk
melaksnakan tugas sebagai pendidik dalam melayani kebutuhan belajar siswanya.
Terdapat beberapa manfaat perencanaan penagajaran dalam proses
belajar mengajar yaitu:
1.
Sebagai petujuk
arah kegiatan dalam mencapai tujuan.
2.
Sebagai pola
dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terlibat dalam
kegiatan.
3.
Sebagai pedoman
kerja bagi setiap unsur, baik unsur guru maupun unsur murid.
4.
Seabagai alat
ukur efektif tidaknya suatu kerjaan.
5.
Untuk bahan
penyusunan data agar terjadi keseimbangan kerja.
6.
Untuk menghemat
waktu, tenaga, alat-alat dan biaya.
D.
Desain
Pembelajaran Berbasis Kompetensi
Pendidikan berbasis kompetensi menitikberatkan pengembangan
kemampuan untuk melakukan kemampuan (kompetensi) tugas-tugas tertentu yang sesuai
dengan standar performansi yang telah ditetapkan. “Competency Based Education
is Geared toward preparing individuals to perform identified competency”
(Scharg 1987, h 22).
Rumusan ini menunjukan bahwa pendidikan mengacu pada upaya
penyiapan individu agar mampu melakukan perangkat kompetensi yang diperlukan.
Suatu program pendidikan berbasis kompetensi harus mengandung empat unsur
pokok, yaitu:
1.
Pemilihan
kompetensi yang saesuai.
2.
Spesifikasi
indikator-indikator evaluai utnuk menentukan keberhasilan pencapaian
kompetensi.
3.
Pengembangan
system pengajaran.
4.
Penilaian.
Kegiatan pembelajaran diarahkanuntuk memperdayakan semua potensi
peserta didik untuk menguasai kompetensin yang diharapkan. Kegiatan
pembelajaran mengembangkan kemampuan untuk mengetahuai, memahami, mealakukan
sesuatu, hidup dalam kebersamaan dan mengaktualisasikan diri.
Langkah-langkah pengembangan tersebut sebagaimana dikembangkan oleh
Stanley Elam (1971) dalam Oemar Hamalik (2002:92) sebagai berikut:
Langkah ke-1
Spesifikasi asumsi-asumsi atau preposisi-preposisi yang mendasar.
Langkah ke-2
Mengidentifikasi kompetensi.
Langkah ke-3
Menggambarkan secara spesifik Kompetensi-kompetensi.
Langkah ke-4
Menentukan tingkat-tingkat kriteria dan jenis assessment.
Langkah ke-5
Pengelompokan dan penyusunan tujuan pengajaran.
Langkah ke-6
Desain strategi pembelajaran.
Langkah ke-7
Mengorganisasikan system pengelolaan.
Langkah ke-8
Melaksanakan percobaan program.
Langkah ke-9
Menilai desain pembelajaran.
Langkah ke-10
Memperbaiki program.
BAB 3
Pengembangan Silabus
Silabus dikembangkan oleh guru melalui forum Musyawarah Guru Mata
Pelajaran (MGMP) atau Kelompok Kerja Guru (KKG). Pengembangan silabus dengan
memperhatikan langkah-langkah pengembangan yang akan diuraikan berikut ini.
A.
Silabus
1.
Pengertian
Silabus
Silabus adalah ancangan pembelajaran yang berisi rencana bahan ajar
mata pembelajaran tertentu pada jenjang dan kelas tertentu, sebagai hasil dari
seleksi, pengelompokan, pengurutan dan penyajian materi kurikulum, yang
dipertimbangkan berdasarkan ciri dan kebutuhan daerah setempat.
2.
Isi Silabus
Pada umumnya suatu silabus paling sedikit harus mencakup
unsur-unsur:
a.
Tujuan mata
pelajaran yang akan diajarkan
b.
Sasaran-sasaran
mata pelajaran
c.
Keterampilan
yang diperlukan agar dapat menguasai mata pelajaran tersebut dengan baik
d.
Urutan topik
yang diajarkan
e.
Aktivitas dan
sumber-sumber belajar pedukung keberhasilan pengajaran
f.
Berbagai teknik
evaluasi yang digunakan
3.
Manfaat Silabus
Silabus bermanfa’at sebagai pedoman dalam pengembangan
pembelajaran, seperti pembuatan rencaan pembelajaran, pengelolaan kegiatan
pembelajaran dan pengembangan system penilaian.
4.
Prinsip Pengembangan
Silabus
Beberapa prinsip yang mendasari pengembanagan silabus antara lain:
ilmiah, memperhatikan perkembangan dan kebutuhan siswa, sistematis, relevansi,
konsisten dan kecukupan.
5.
Langkah-langkah
Pengembangan Silabus
Secara umum proses pengembangan silabus berbasis kompetensi terdiri
atas tujuh langkah utama sebagaimana tercantum dalam Buku Pedoman Umum
Pengembangan Silabus (Depdiknas, 2004) yaitu: (1) penulisan identitas mata
pelajaran; (2) perumusan standar kompetensi; (3) penentuan kompetensi dasar;
(4) penentuan materi pokok dan uraiannya; (5) penentuan pengalaman belajar; (6)
penentuan alokasi waktu; dan (7) penentuan sumber bahan.
B.
Silabus dan
Kisi-kisi Penilaian
silabus dan system penilaian berfungsi untuk mengetahui kemajuan
belajar siswa mendiagnosis kesulitan belajar, memberikan umpan balik, melakuka
perbaikan, memotivasi guru agar mengajar lebih baik, dan memotivasi siswa agara
belajar lebih baik. Prinsip-prinsip yang harus dipenuhi adalah: valid,
mendidik, berorientasi pada kompetensi, adil dan objektif, terbuka,
berkesinambungan, menyeluruh dan bermakna.
BAB 4
Pengembangan Kecakapan
A.
Pengantar
Keterkaitan antara iman, ilmu dan amal, antara iman islam dan
ihsan, antara fiqh, tauhid dan tasawuf, merupakan tali tiga sepilin. Iman bisa
menunjukan jiwa manusia kehadirat Allah SWT. Ilmu dapat mengantarkan jati diri
manusia pada martabat yang mulia. Sedangkan amal shalih yang dilandasi dengan
iman dan ilmu dapat menjamin keuntungan kesejahteraan dunia dan akhirat.
Pendidikan pada dewasa iniyang diselenggarakan dengan menitik
beratkan pada transmisi sains yang tanpa karakter, sehingga proses dehumanisasi
dalam proses pembangunan karakter bangsa sering
terjadi.
Secara konseptual pendidikan nasional mendukung gagasan tentang
pendidikan terpadu sebagaimana tertuang dalam rumusan pendidikan nasional yaitu
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dann
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung
jawab. Rumusan tersebut jelas mengisyaratkan betapa pentingnya keterpaduan dalam
mengembangkan kualitas manusia pada semua dimensinya.
B.
Strategi
Mengembangkan Kecakapan
Sesuai dengan fitrahnya
mnusia terdiri dari tiga dimensi, yaitu jasad, akal dan ruh. Ketiga dimensi
dalam diri manusia harus dipelihara agar seimbang (tawazun).
Gagne dalam winkel, (1996:369) menyatakan bahwa fase dalam kegiatan
membelajarkan adalah sebagai berikut:
1.
Fase motivasi:
Peran guru dalam hal ini adalah menimbulkan motivasi belajar siswa
dan menyadarkan siswa akan tujuan pembelajaran yang harus dicapai.
2.
Fase menaruh
perhatian (attention, alertness):
Siswa secara khusus memperhatikan hal yang akan dipelajari,
ssehingga konsentrasi terjamin.
3.
Fase
pengolahan:
Dalam hal ini siswa harus menggali siasat-siasat yang pernah
digunakanya; mana yang cocok untuk problem ini, jika tidak tersedia siasat maka
siswa harus menciptakan siasat baru dan hal ini membutuhkan pikiran kreatif,
paling sedikit pikiran terarah.
4.
Fase umpan
balik (feedback, reinforcement):
Siswa mendapat koonfirmasi tentang tepat tidaknya penyelesaian yang
ditemukanya; komunikasi ini dapat meningkatkan atau menurunkan motivasi siswa
utnutk berusaha memeras otak lagi dilain kesempatan.
Fase-fase
tersebut dapat diaplikasikan pada kegiatan pada kemampuan kognitif, afektif,
maupun psikomotor.
a.
Pengembangan
Pola Pikir (Kognitif)
Pembinaan pola pikir, yakni pembinaan kecerdasa dan ilmu
pengetahuan yang luas dan mendalam sebagai penjabaran dari sifat fathonah Rasulullah.
Seorang fathonah itu tidak saja cerdas tetapi juga memiliki
kebijaksanaan dan kearifan dalam berpikir dan bertindak.
Berikut ini adalah beberapa masukan bagi guru untuk mengembangkan
kecakapan belajar berdasarkan fase belajar yang telah dikemukakan oleh Gagne
(1988):
1)
Guru membuat
perhatian siswa terpusat pada tugas belajar yang dihadapi (arousal,
alertness).
2)
Guru mengarahkan
perhatian siswa supaya khusus memperhatikan unsur pokok dalam materi pelajaran
(selection perception).
3)
Tugas guru
mencernakan materi pelajaran dan menuangkanya dalam bentuk suatu perumusan
verbal, skema atau bagan.
4)
Dan yang
terakhir guru harus dengan segera memberikan umpan balik prestasi yang
ditunjukan/ didemonstrasikan siswa.
b.
Pengembangan
Sikap (Afektif)
Afektif, yakni pembinaan sikap mental (mental attitude) yang
mantap dan matang sebagai penjabaran dari sikap amanah Rasulullah. Indicator
dari seseorang yang mempunyai kecerdasan ruhaniah adalah sikapnya yang selalu
ingin menampilkan sikap yang ingin dipercaya (kredibel), menghormati dan
dihormati. Sikap hormat dan dipercaya hanya dapat tumbuh apabila kita meyakini
sesusatu yang kita anggap benar sebagai prinsip-prinsip yang tidak dapat
digugat lagi.
Bersikap inilah yang kemudian harus disertai strategi
belajar-mengajar yang sudah didahului oleh konsep bermain dan belajar. Apabila
bermain memberikan kebebasan, dan belajar mengajak anak untuk memahami, maka
bersikap mempertahankan prinsip dan menunjukan keinginan yang lahir dari dalam
diri secara bertanggung jawab.
Menghafal tentu ada gunanya, namun jika konsep pembelajaran yang
terlalu menekankan pada aspek hafalan akan melahirkan anak didik yang kurang
kreatif dan berani dalam mengungkapkan pendapatnya sendiri.
Mengajarkan sikap lebih pada soal memberikan teladan bukan pada
tataran teoritis. Memang untuk mengajarkan anak, seorang guru perlu memberikan
pengetahuan sebagai landasan. Tetapi proses pemberitahuan pengetahuan ini harus
dilandasi dengan contoh/ keteladanan.
Sikap merupakan sesuatu yang kompleks, karena sikap tidak lepas
dari komponen-komponen lainya seperti kognitif dan konatif. Terdapat proses
yang terjadi pada seseorang untuk memunculkan sikap yang positif maupun
negates, di antaranya:
1)
Proses
pengkondisian (Conditionning)
Proses pengkondisian ini telah dicontohkan oleh Rasulullah ketika
kota Makkah sudah tidak lagi memungkinkan penyebaran dan penegakan ajaran islam
maka beliau hijrah ke kota Madinah. Di sanalah Beliau memupuk keimanan para
sahabatnya, di sanalah Beliau menanamkan rasa persaudaraan, tenggang rasa,
empati atas penderitaan orang lain, kasih sayang, pengendaliaan diri, komitmen
dan antisipatif, sportif dan terbuka.
2)
Belajar dari
Model (Human Modelling)
Pertunjukan timgkah laku tertentu yang dimunculkan oleh seseorang
yang dihormati, dan dikagumi dan dipercaya oleh anak, senantiasa akan
mempengaruhi sikap ndan perilakunya. Anak yang menyaksikan tingkah laku
tersebut akan cenderung meniru (imitasi) dan berbuat yang sama.
c.
Pengembangan
Psikomotor
Psikomotor, yakni pembinaan tingkah laku dengan akhlak mulia
sebagai penjabaran dari sifat shidiq Rasulullah dan pembinaan
keterampilan dan kepemimpinan yang visioner dan bijaksana sebagai penjabaran
sifat tabligh Rasulullah.
Belajar keterampilam motoric menuntut kemampuan untuk merangkaukan
gerak-gerik jasmani sampai dengan satu keseluruhan yang harus dilakukan dengan
tulus karena Allah. Walaupun belajar motorik mengutamakan gerakan-gerakan
persendian dalam tubuh, namun diperlukan pengamatan melalui alat indera dan
secara kognitif. Yang melibatkan pengetahuan dan pengalaman. Karena
kompleksitas ini, oleh para psikolog belajar, disebut belajar “persptual
motor skill”. Sebagai indicator kecakapan dari aspek psikomotor berikut
pendapat Kenneth dalam Rosyada, (2004:141) meliputi: 1) observing
(memperhatikan); 2) imitation (peniruan); 3) practicing
(pembiasaan); 4) adapting (penyesuaian).
Diriwayatkan pada suatu hari Rasulullah SAW melihat seorang anak
yang sedang menguliti kmbing, namun ia salah dalam mengerjakanya. Maka beliau
menyingsingkan lengan dan memberi contoh kepada anak itu cara menguliti kambing
yang benar. Setelah selesai contoh itu, anak terssebut memfungsikan otaknya,
berpikir tentang cara yang baru saja diajarkan Nabi SAW.
C.
Pandangan
Tentang Pembelajaran
Menumbuhkan motivasi, menarik perhatian dan proses pengkondisian
dan modeling merupakan metode pendidikan modern, tetapi perlu diingat bahwa hal
tersebut pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW dengan ungkapan-ungkapan
haditsnya:
“Apakah engkau tahu kemanakah perginya matahari?” (Shahih al-Jami’ ash Shaghir, juz, 1 h.89)
“Apakah engkau mau hatimu menjadi lembut dan kebutuhanmu
terpenuhi?” (Shahih
al-Jami’ ash Shaghir, juz, 1 h.81)
“Apakah engkau ingin menjadi seperempat penduduk surga?” (Shahih al-Jami’ ash Shaghir, juz, 1 h.84)
Pelajaran yang dapat diambil dari pernyataan Rasulullah tersebut
adalah:
1.
Ketika
pertanyaan itu diajukan, dapat memotivasi pendengar untuk menjawab pertanyaan
tersebut.
2.
Pertanyaan
tersebut dapat menajadikan pendengar mearasa ditantang oleh pembicara, maka
terjadilah interaksi.
3.
Pertanyaan
tersebut dapat mencapai tiga tujuan moral dan edukasi, yaitu: kognitif, emosi
dan kinetic.
4.
Pertanyaan juga
dapat lebih menonjolkan informasi/ pengetahuan.
5.
Pertanyaan yang
dapat membuat rangsangan bagi pendengarnya, sehingga dia begitu antusias untuk
mengetahui jawabanya sebelum meninggalkan tempat.
BAB 5
Pengembangan Persiapan Mengajar
Persiapan mengajar pada hakikatnya memproyesikan tentang apa yang
akan dilakukan. Dengan demikian, persiapan mengajar adalah memperkirakan
tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran.
Membuat rencana mengajar merupakan tugas guru yang paling utama.
Rencana mengajar merupakan realisasi dari pengalaman belajar siswa yang telah
diteteap pada tahapan penentuan pengalaman. Guru dapat mengembangkan rencana
pengajaran dalam berbagai bentuk (Lembar Kerja Siswa, Lembar Informasi, dan
lain-lain), sesuai dengan strategi pembelajaran dan penilaian yang akan
digunakan.
Guru , murid, dan bahan ajar merupakan unsur yang dominan dalam
proses pembelajaran. Ketiga unsur ini saling berkaitan, mempengaruhi serta
tunjang menunjang antara satu dengan yang lainya. Jika salah satu unsur tidak
ada, maka kedua unsur yang lainya tidak dapa berhubungan secara wajar dan
proses pembelajaran tidak akan berlangsung dengan baik.
A.
Perencanaan dan
Implementasi Persiapan Pengajaran
Pekerjaan mengajar merupakan pekerjaan yang kompleks dan sifatnya dimensional. Berkenaan dengan hal
tersebut, guru palng sedikit harus menguasai berbagai teknik yang erat
hubunganya dengan kegiatan-kegiatan penting dalam pengajaran.
Kerangka perencanaan dan implementasi pengajaran melibatkan uruta
langkah-langkah yang sangat penting bagi para guru dalam mempersiapkan pelaksanaan
rencana pengajaran.
Kerangka tersebut membatasi banyaknya aktivitas khusus yang akan
diselesaikan oleh guru, yaitu hanya enam aktivitas terutama bagi guru baru yang
sudah dianggap cukup berat untuk mulai karirnya sebagai tenaga yang
professional. Aktivitas pertama “mendiagnosa kebutuhan peserta didik”.
Aktivitas kedua “memilih isi dan menentukan sasaran”. Aktivits ketiga
“mengidentifikasi teknik-teknik pembelajaran”. Aktivitas keempat “merencanakan aktivitas, merumuskan
unit-unti dan merencanakan pelajaran”. Aktivitas kelima “memberikan
motivasi dan implementasi program”. Aktivitas keenam “pengukuran,
evaluasi, dan penentuan tingkat”.
B.
Prinsip-prinsip
Persiapan Mengajar
Untuk membuat perencanaan yang baik dan dapat menyelenggarakan
proses pembelajaran yang ideal, setiap guru harus mengetahui unsur-unsur
perencanaan yang baik, antara lain: mengidentifikasi kebutuhan siswa, tujuan
yang hendak dicapai, berbagai strategi dan scenario yang relevan di gunakan
guna mencapai tujuan, dan kriteria evaluasi (Hunt, 1999:24). Bersaman dengan
hal itu peran guru dalam mengembanagkan strategi amat penting, karena aktivitas
siswa sangat dipengaruhi oleh sikap dan perilaku guru di dalam kelas. Jika
mereka antusias memperhatikan aktivitas dan kebutuhan-kebutuhan siswa, maka
siswa-siswa tersebut pun akan mengembangkan aktivitas-aktivitas belajarnya
dengan baik, antusias, giat dan serius (Dede Rosyada, 2004:123).
C.
KomponenKomponen
Persiapan Mengajar
Penyusunan program pembelajaran akan bermuara pada persiapan
mengajar, sebagai produk program jangka pendek yang mencakup komponen kegiatan
belajar dan proses pelaksanaan program.
Agar guru dapat membuat persiapan mengajar yang efektif dan
berhasil guna, dituntut untuk memahami berbagai aspek yang berkaitan dengan
pengembangan persiapan mengajar, baik berkaitan dengan hakikat, fungsi, prinsip
maupun prosedur pengembangan persiapan mengajar, serta mengukur efektivitas
mengajar.
D.
Rencana
Pengajaran dalam Kurikulum 1994 vs Kurikulum 2004
Dalam kurikulum 1994 kita menggunakan prosedur kerja sama, dengan
kewajiban guru membuat Program Satuan Pembelajaran (PSP) untuk setiap
pokok bahasan yang tidak mutlak disampaikan dalam satu kali pertemuan, tapi
mungkin 2, 3, 4, bahkan 5 kali pertemuan. Sedangkan untuk rencana pemebelajaran
harian menggunakan Rencana Pembelajaran (RP) yang dibuat setiap akan
mengajar. Sedangkan dalam kurikulum 2004 kita menganal dengan istilah Silabus, yaitu garis besar,
ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok materi pembelajaran. Pengembangan silabus
dan system penilaian merupakan urutan penyajia bagian-bagian dari silabus dan
system penilaian suatu mata pelajaran. Rencana pembelajaran yang merupakan
program harianbersifat aplikatif di kelas, disusun oleh guru untuk satu atau
beberapa kali pertemuan, untuk mencapai target satu kompetensi dasar.
E.
Model Persiapan
Mengajar
Memang tidak ada format baku dalam penyusunan persiapan mengajar.
Dengan demikian guru diharap dapat mengembangkan format-format baru. Tidak
perlu ada keseragaman format, karena pada hakikatnya silabus dan rencana
pengajaran adalah “program” guru mengajar. Dalam hal ini, akan disajikan
beberapa model persiapan mengajar sebagai bahan pembanding dan stimulus untuk
lahirnya model-model baru.
1.
Model ROPES
Hunt tidak mengkategorikan perencanaan pengajaran menjadi rencana
smester, mingguan, dan harian. Akan tetapi Hunts menyebutnya rencana prosedur
pembelajaran seabgai persiapan mengajar yang disebutnya ROPES (Review,
Overview, Presentation, Exercise, Summary).
2.
Model Satuan
Pelajaran
Pembelajaran atau proses belajar mengajar adalah proses yang diatur
dengan langkah-langkah tertentu, agar pelaksanaanya mencapai hasil yang
diharapkan. Langkah-langkah tersebut biasanya diungkapkan dalam bentuk
perencanaan mengajar.
Rencana menagajar atau persiapan mengajar atau lebih dikenal satuan
pelajaran adalah program kegiatan belajar menagajar dalam satuan terkecil (Sudjana,
2002: 137). Hal senada juga dikemukakan oleh Syaodih, (1988: 218) bahwa guru
mengembangkan perencanaan dalam bidangnya dalam jangka waktu satu tahun atau
satu semester, satu mingggu atau bebrapa jam saja.
BAB 6
Pengelolaan
Pembelajaran dan Pengembangan Bahan Ajar
Pengelolaan pembelajaran merupakan suatu proses penyelenggaraan
interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada susatu
lingkungan belajar. Menurut Dunkin dan Biddle (1974:38) proses pembelajaran
berada dalam empat variable interaksi, yaitu: 1) variable pertanda (presage
variables) berupa pendidik; 2) variable konteks (contex variables) berupa
peserta didik; 3) variable proses (process variables); dan 4) variable produk
(product variables) berupa perkembangan peserta didik baik dalam jangka pendek
maupun jangka panjang. Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang optimal, maka
keempat variable tersebut harus dikelola denagn baik. Berikut uraian
pengeloalaan variable pembelajaran.
A.
Penegelolaan
Siswa
Guru dapat mengatur dan merekayasa segala sesuatunya. Guru dapat
mengatur siswa berdasarkan situasi yang ada ketika proses belajar mengajar
berlangsung. Menurut Andree, 1982 ada bebrapa macam pengelompokan siswa,
diantaranya:
·
Task planning
groups
·
Teaching groups
·
Seating groups
·
Joint learning
groups
·
Collaborative
groups
1.
Masalah Siswa
Pengelompokan siswa tersebut terkadang malah menimbulkan masalah
baru bagi guru. Untuk membantu guru menghadapi masalah tersebut, Pollard dalam
Hilda Karli (2004:26) mengelompokan kepribadian siswa menjadi 5 kelompok besar,
yaitu:
1)
Impulsivity/
Reflekxivity
2)
Extroversion/
Intriversion
3)
Anxiety/
Adjustment
4)
Vacillation/
Perseverance
5)
Competitiveness/
Collaborativeness
Dua kategori pokok tentang pengelolaan masalah siswa, yaitu
nmasalah individual dan masalah kelompok. Pengklasifikasian ini agak banyak
menanggung risiko, sebab masalah individual dan masalah kelompok, seperti juga
masalah pengelolaan kelas, sering berkaitan.
a.
Masalah
individu
Kategori masalah individu dalam pengelolaan siswa menurut Dreikurs
dan Cassel didasarkan pada asumsi bahwa tingkah laku manusia mempunyai maksud
dan tujuan. Setiap individu mempunyain kebutuhan pokok untuk menjadi dan merasa
berguna. Jika individu ini merasa putus asa dalam mengembangkan rasa memiliki
harga diri melalui nilai yang dapat diterima secara social, ia akan berkelakuan
buruk.
b.
Masalah
kelompok
Johnson dan Bany mengidentifikasi tujuh masalah kelompok dalam
pengelolaan kelas, yaitu (1) kurangnya kesatuan, (2) ketidaktaatan terhadap
standar tindakan dan prosedur kerja, (3) reaksi negative terhadap pribadi
anggota, (5) kecendrungan daanya gangguan, kemacetan pekerjaan, dan kelakuan
yangb dibuat-buat, (6) ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan
lingkungan, dan (7) semangat juang yang rendah dan adanya sikap bermusuhan.
Kurangnya kesatuan, ditandai dengan konflik-konflik antara individu
dan sub kelompok. Misalnya, konflik antara jenis kelamin dan atau ras dengan
murid dari jenis kelamin atau ras yang lain. Suasana kelas seperti ini ditandai
dengan konflik, permusuhan, ketegangan. Murid merasa tidak puas dengan kelompok
dan berpendapat kelompok tidak menarik. Akhirnya murid tidak saling mendukung.
2.
Pemecahan
Masalah Siswa
Pengelolaan siswa merupakan kegiatan atau tindakan guru dalam
rangka penyediaan kondisi yang optimal agar proses belajar mengajar berlangsung
efektif. Tindakan tesebut dapat berupa tindakan yang bersifat pencegahan dan
atau tindakan yang bersifat korektif. Tindakan yang bersifat pencegahan
(preventif) yaitu dengan jalan menyediakan kondisi baik fisik maupun kondisi
sosio emosional sehongga terasa benar oleh siswa rasa kenyamanan dan keamanan
untuk bealajar.
a.
Usaha yang
Bersifat Pencegahan
Tindakan pencegahan adalah tindakan yang dilakukan sebelu munculnya
tingkah laku yang menyimpang yang menganggu kondisi optimal berlangsungnya
pembelajaran.
Menurut Mulyani Sumantri (1999:283) dalam mengembangkan
keterampilan mengelola siswa yang bersifat preventif, guru dapat menggunakan
kemampuan dengan cara:
a)
Menunjukkan
sikap tanggap
b)
Membagi
perhatian
c)
Memusatkan
perhatian kelompok
d)
Memberi
petunjuk-petunjuk yang jelas
e)
Menegur
f)
Memberikan
penguatan
b.
Usaha yang
Bersifat Penyembuhan (Kuratif)
Berkenaan dengan kegiatan yang bersifat penyembuhan Johar Permana
(200:61) mengemukakan langkah-langkah sebagai berikut:
a)
Mengidentifikasi
Masalah
b)
Menganalisis
Masalah
c)
Menilai
alternatif-alternatif Pemecahan
d)
Mendapatkan
Balikan
B.
Pengelolaan
Guru
Pengetahuan adalah abtraksi dari apa yang dapat diketahui dalam
jiwa orang yang mengetahuinya. Pada dasarnya pengetahuan tidak bersifat
spontan, melainkan pengetahuan harus diajarkan diapelajari. Dengan kata lain
pengetahuan itu harus diusahakan. Awal pengetahuan terjadi karena pancaindera
berinteraksi dengan alam nyata.
Guru harus dapat menempatkan diri dan menciptakan suasan yang
kondusif, karena fungsi guru disekolah sebagai “Bapak” kedua yang bertangggung
jawab atas pertumbuhan dan perkembanagan jiwa anak. Ki Hajar Dewantara telah
menggariskan pentingnya peranan guru dalam proses pendidikan denagan ungkapan:
·
Ing ngarso sung
tulada berarti didepan memberikan teladan.
·
Ing madya
mangun karso berarti
ditengah menciptakan ruang untuk berprakarsa.
·
Tut wuri
handayani artinya dari belakang memberikan
dorongan dan arahan.
C.
Pengelolaan
Pembelajaran
pikiran-pikiran utama yang terdapat dalam prinsip, strategi, dan
tahapan KBM PAI mencerminkan bahwa pembelajaran PAI tidak sesederhana dalam
proses penyampaianya.
1.
Prinsip-prinsip
Pembelajaran
Cara-cara berkomikasi dengan siswa ternyata kita temukan pada diri
Rasulullah sebaimana diriwayatkan oleh sayyidah aisyah:
“Rasulullah tidak berbicara dengan sambung menyambung (nyerocos)
seperti yang kalian lakukan ini. Akan tetapi pembicaraan Rsulullah
terpisah-pisah dengan jeda. Jika seseorang menghitung kata-katanya, tentu ia
dapat menghtungnya, dan jika Rasulullah mengucapkan satu kalimat, dia
mengulanginya sebanyak tiga kali agar dapat diingat”.
2.
Prosedur
Pembelajaran
Perekayasaan proses pembelajaran dapat didesain oleh guru
sedemikian rupa. Idealnya kegiatan untuk siswa pandai harus berbeda dengan
kegiatan untuk siswa sedang atau kurang, walaupun untuk memahami satu jenis
konsep yang sama karena setiap siswa memiliki keunikan maasing-masing. Hal ini
menunjukan bahwa pemahaman terhadap pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran
tidak bias diabaikan.
a.
Pendekatan
Kenyataan saat ini menunjukan bahwa dala pendidikan islam kurang
menekankan untuk bagaimana mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif
menjadi makna dan nilai yang mampu melekat pada pribadi-pribadi yang kokoh.
Titik pendekatan yang selama ini berkembang adalah lebih pada naturalistic-posivistik
yang mengacu pada koherensi kognitif dari pada bagaimana “perasaan
beragama” menyentuh wilayah moral-praksis. Padahal selama tidak menggeser prinsip-prinsip dan nilai-nilai
keagamaan yang ada dari kebenaran Tuhan, maka perubahan
paradigmatic-metodologis dapat dibenarkan sesuai denagan situasi dan kondisi
social kemasyarakatan, perkembanagan ekonomi, fluktuasi politik, dan
perkembanagan IPTEK yang tidak mengenal titik henti (Tolkhah, 2004:208).
Sedangkan Depag (2004) menyajikan konsep pendekatan terpadu dalam
pembelajaran agama islam yang meliputi:
1)
Keimanan
2)
Pengamalan
3)
Pembiasaan
4)
Rasional
5)
Emosional
6)
Fungsional
7)
Keteladanan
b.
Metode
Proses belajar menagajar merupakan interaksi yang dilakukan antara
guru dengan peserta didik dalam suatu pengajaran untuk mewujudkan tujuan yang
ditetapkan. Metodologi pendidikan adalah jalan yang kita lalui untuk memberikan
kepahaman atau pengertian kepada anak didik, atau segala macam pendidikan yang
diberikan.
Berikut ini beberapa metode yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran.
1)
Metode Ceramah
Metode ini merupakan cara
menyampaikan materi ilmu pengetahuan dan agama kepada anak didik dilakukan
secara lisan. Yang perlu diperhatikan, hendaknya ceramah mudah diterima,
isisnya mudah dipahami, serta mampu untuk menstimulasi pendengar (anak didik)
untuk melakukan hal-hal yang baik dan benar dari sisi ceramah yang disampaikan.
dalam proses pembelajaran disekolah, tujuan metode ceramah adalah menyampaian
bahan yang bersifat informasi (komnsep, pengertian, prinsip-prinsip) yang
banyak serta luas.
2)
Metode Tanya
Jawab
Metode tanya jawab adalah mengajukan pertanyaan kepada peserta
didik. Metode inoi dimaksudkan untuk merangsang untuk berpikir dan
membimbingnya dalam mencapai kebenaran.
3)
Metode Tulisan
Metode tulisan adalah metode mendidik dengan huruf atau symbol
apapun, ini merupakan suatu hal yang sangat penting dan merupakan jembatan
untuk mengetahui segala sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui.
4)
Metode Diskusi
Metode diskusi merupakan salah satu cara mendidik yang berupaya
memecahkan masalah yang dihadapi, baik dua orang atau lebih yang masing-masing
mengajukan argumentasinya untuk memperkuat pendapatnya. Untuk mndapatkan hal
yang disepakati, tentunya masing-masing menghilangkan perasaan subjektivitas
dan emosionalitas yang akan mengurangi bobot pikir dan pertimbangan akal yang
semestinya.
5)
Metode
Pemecahan Masalah (problem solving)
Metode pemecahan masalah merupakan cara memeberikan pengertian
dengan menstimulasi anak didik untuk memperhatikan, menelaah dan berpikir
tentang sesusatu masalah untuk selanjuutnya menganalisis masalah tersebut
sebagai upaya untuk memecahkan masalah.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam metode pemecahan masalah
adalah sebagai berikut.
·
Adanya masalah
yang jelas untuk dipecahkan
·
Mencari data
dan keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masala tersebut.
·
Menetapkan
jawaban sementara dari maslah tersebut.
·
Menguji jawaban
sementara tersebut.
·
Menarik
kesimpulan.
6)
Metode Kisah
Pendidikan dalam metode ini dapat membuka kesan mendalam dalam jiwa
seseorang (peserta didik), sehingga dapat mengubah hati nuraninya dan berupaya
melakukan hal-hal yang baik dan menjauhkan dari perbuatan yang buruk sebagai
dampak dari kisah-kisah itu, apalagi penyampaian kisah-kisah tersebut dilakukan
denga cara menyentuh hati dan perasaan.
7)
Metode
Perumpamaan
Metode perumpamaan (al-amtsal) adalah suatu metode yang digunakan
untuk mengungkapkan suatyu sifat dann hakikat dari realitas sesuatu.perumpamaan
dapat dilakukan dengan men-tasybih-kan sesuatu (menggambarkan sesuatu
denagn sesuatu yang lain yang serupa), seperti mengumpamakan sesuayu yang
rasional-abstrak dengan sesuatu yang bias diindera.
8)
Metode
Pemahaman dan Penalaran (al-ma’rifah wa al-nazhariyah)
Metode ini dilakuka dengan membangkitkan akal dan kemampuan
berpikir anak didik secara logis. Metode ini adalah metode mendidik dengan
membimbing anak didik untuk dapat memahami problema yang dihadapi denagn
menemukan jalan keluar yang benar dari berbagai macam kesulitan dengan melatih
anak didik menggunakan pikiranya dalam mendata dan menginventarisasi masalah,
meluruskan yang bengkok, dan mengambil yangb benar.
9)
Metode Perintah
Berbuat Baik dan Saling Menasihati
Dengan metode ini anak didik diperintahkan untuk berbuat baik dan
saling menasihati agar berlaku benar dan memakan makanan yang halal, dan
diperintahkan juga untuk saling menasihati agar meninggalkan yang salah, yang
buruk, dan segala perbuatan yang haram dan semisalnya.
Wujud dari proses pemberian nasihat kepada anak didik di sekolah
bias bersifat:
·
Memelihara
(preservative)
·
Mencegah
(preventif)
·
Menyembuhkan
(curative)
·
Merehabilitasi
(rehabilitation)
Pemberian
nasihat dapat dilakukan dengan:
·
Teguran secara
langsung
·
Teguran tidak
langsung
10)
Metode Suri
Tauladan
Konsep keteladanan ini sudah diberikan dengan cara Allah mengutus
Nabi SAW untuk menjadi panutan yang baik bagi ummat islam sepanjang sejarah dan
bagi semua manusia di setiap masa dan tempat. Beliau bagaikan lampu terang dan
bulan petunjuk jalan. Keteladanan ini senantiasa dipupuk, dipelihara dan dijaga
oleh para pengemban risalah. Guru harus memiliki sifat tertentu sebab guru
merupakan naskah asli yang hendak dikopi.
11)
Metode Hikmah
dan Mau’izhah Hasanah
Hikmah mengandung pengertian perkataan tegas dan benar antar hak
dan yang bathil. Penggunaan metode hikmah adalah upaya menuntut orang lain
mengguanakan akalanya untuk mendapatkan kebenaran dan kebaikan, namun untuk itu
diperlukan penjelas yang rasiona, keterangan yang tegas dan apa yang
dikemukakan dengan dasar atau alasan yang benar beserta bukti yang nyata. Untuk
mewujudkan hikmah, maka dibutuhkan dua hal, yaitu adanya akal yang rasional dan
ilmu.
12)
Metode
peringatan dan pemberian motivasi
Seorang anak harus memiliki motivasi yang kuat dalam pendidikan
(menuntut ilmu) sehingga pendidikan menjadi efektif. Memotivasi anak adalah
suatu kegiatan memberi dorongan agar anak bersedia dan mau mengerjakan kegiatan
atau perilaku yang diharapkan oleh orang tua atau guru. Anak yang memliki
motivasi akan memungkinkan ia untuk mengembangkan dirinya sendiri. Contoh
memotivasi anak adalah membuat senang hati anak, membantu anak agar terpancing
untuk melakukan sesuatu, kelembutan, menyayanginya dan mencintainya.
Desakan atau Drive diartikan sebagai dorongan yang diarahkan
kepada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmani. Motif adalah dorongan yang
terarah kepada pemenuhan kebutuhan psikis atau rohaniah. Kebutuhan adalah
merupakan suatu keadaan dimana individu
merasakan adanya kekurangan, atau ketiadaan sesuatu yang diperlukannya.
Sedangkan Wish adalah harapan untuk mendapatkan atau memiliki sesuatu
yang dibuutuhkan. Kondisi-kondisi yang mendorong individu untuk melakukan
kegiatan disebut motivasi.
13)
Metode Praktik
Metode praktik dimaksudkan supaya mendidik dengan memberikan materi
pendidikan baik menggunakan alat, atau benda, seraya di peragakan, dengan harap
anak didik menjadi jeals dan gamblang sekaligus dapat mempraktikan materi yang
dimaksud.
14)
Metode
Karyawisata
Agama islam memerintahkan kepada umat manusia untuk mengadakan
perjalanan dimuka bumi, menggali serta memperhatikan peninggalan-peninggalan
sejarah, memperhatikan keindahan alam, memperhatikan lingkunagan, dan
memperhatikan beraneka ragam ciptaan Allah SWT termasuk memperhatikan diri kita
sendiri dengan tujuan mengambil hikmah.
15)
Pemberian
Ampunan dan Bimbingan
Metode ini dilakukan dalam rangka memberi kesempatan kepada anak
didik untuk memperbaiki tingkah lakunya dan mengembangkan dirinya.
Bimbingan orangtua kepada anaknya, guru kepada muridnya perlu
diberikan dengan memberikan alasan, penjelasan, pengraha dan diskusi-diskusi.
Juga bias dilakukan dengan teguran, mencari tau penyebab masalah dan kritika
sehingga tingkah laku anak berubah.
16)
Metode Kerja
Sama
Yang dimaksudkan daengan metode kerja sama ialah upaya saling
membantu antar dua orang atau lebih,
antara individu dengan kelompok, ntara kelompok dengan kelompok lainya dalam
melaksanakan tugas atau menyelesaikan problema yang dihadapi dan atau menggarap
berbagai program yang bersifat prospektif guna mewujudkan kemaslahatan dan
kesejahteraan bersama.
17)
Metode
Pentahapan (Tadrij)
Metode ini adalah penyampaian secara bertahap sesuai dengan proses
pekembanga anak didik. Artinya dilaksanakan dengan cara pemberian materi
pendidikan dengan beratahap, sedikit demi sedikit, dan berangsur-angsur.
c.
Teknik
Proses kegiatan belajar mengajar tidaklah berdiri sendiri,
melainkan terkait dengan komponen materi dan waktu. Langkah pembelajaran memuat
rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh guru dab siswa secara berurutan
sehingga cocok dengan pertumbuhan dan pekembanagan siswa.
D.
Pengelolaan
Lingkungan Kelas
Iklim belajar yang kondusif merupakan tulang punggung dan factor
pendorong yang dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi proses pembelajaran,
sebaliknya iklim belajar yang kurang
menyenangkan akan menimbulkan kejenuhan dan rasa bosan.
Iklim belajar yang kondusif harus ditunjang oleh berbagai fasilitas
belajar yangmenyenangkan, seperti:
sarana, laboratorium, pengaturan lingkungan, penampilan dan sikap guru,
hubungan yang harmonis antara peserta didik dan guru dan diantara peserta didik
itu sendiri, serta penatan organisasi dan bahan pembelajaran secara tepat,
sesuai dengan perkembangan dan kemampuan peserta didik. Iklim belajar yang
menyenangkan akan membangkitkan semangat dan menumbuhkan aktivitas serta
kreativitas peserta didik (E. Mulyasa, 2004:15).
Kondisi Fisik
Lingkungan fisik tempat belajar memepunyai pengaruh penting
terhadap hasil pembekajaran. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi
syarat minimal mendukung mningkatnya intensitas proses pembelajaran dan
mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Lingkungan
fisik yang dimaksud meluputi:
1.
Ruang tempat
berlangsungan proses belajar mengajar
2.
Pengaturan
tempat duduk
3.
Ventilasi dan
pengaturan cahaya
4.
Pengaturan
penyimpanan barang-barang
E.
Pengembangan
Sumber dan Bahan Ajar
Agar menghasilkan tamatan yang mempunyai kemampuan utuh seperti
yang diharapkan pada kurikulum 2004 diperlukan pengembangan pembelajaran untuk
kompetensi yang sistematis dan terpadu, agar siswa dapat menguasai setiap
kompetensi secara tuntas (mastery learning).
1.
Sumber Belajar
Sering kita denhgar istilah sumber belajar ( learning resource),
orang juga banyak yang memanfaatkan sumber belajar, namun umumnya yang
diketahuhi hanya perpustakaan dan buku sebagai sumber belajar. Padahal secara
tidak terasa apa yang mereka gunakan, orang, dan benda tertentu adalah termasuk
sumber belajar.
Sumber belajar akan menjadi bermakna bagi peserta didik maupun guru
apabila sumber belajar diorganisir melalui satu rancangan yang memungkinkan
seserorang dapat memanfaatkanya sebagai sumber belajar.
2.
Bahan Ajar
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu
guru/instructor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang
dimaksud bias berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.
Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis
sehingga tercipta lingkungan atau
suasana yang memungkinkan siswa belajara dengan baik. Dengan demikin, bentuk
bahan ajar paling tidak dapat dikelompokan menjadi empat, yaitu:
a.
Bahan cetak (printed)
antar lain; handout buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet,
wallchart, foto/gambar, model/maket.
b.
Bahan ajar
dengar (audio) seperti; kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk
audio.
c.
Bahan ajar
pandang dengar (audio visual) seperti; video compact disk, film.
d.
Bahan ajar
interaktif (interactive teaching material) seperti; compact disk
interaktif.
BAB 7
Sistem Penilaian dan Program Tindak
Lanjut
Evaluasi merupakan pengukuran ketercapaian program pendidikan,
perencanaan suatu program substansi pendidikan termasuk kuurikulum dan
pelaksanaanya, pengadaaan dan peningkatan kemampuan guru, pebgelolaan
pendidikan, dan reformasi pendidikann secara keseluruhan.
A.
Prinsip-prinsip
dan Strategi Penilaian Kelas
1.
Pengertian
Penilaian Otentik (Authentic Assesment)
penilaian otentik adalah proses pengumpulan informasi oleh guru
tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan anak didik
melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukan
secara tepat bahwa tujuan pembelajaran dan kemampuan (kompetensi) telah
benar-benar dikuasai dan dicapai.
Berikut adalah prinsip-prinsip penilaian otentik:
a.
Proses
penilaian harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran,
bukan bagian terpisah dari proses pembelajaran.
b.
Penilaian harus
mencerminkan masalah dunia nyata, bukan masalah dunia sekolah.
c.
Penilaian harus
menggunakan berabgai ukuran, metode dan kriteria yang sesuai dengan
karakteristik dan esensi pengalaman belajar.
d.
Penilaian harus
bersifat holistic yang mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran.
2.
Tujuan
Penilaian Kelas
Tujuan penilaian dikelas oleh guru hendaknya diarahka pada empat
tujuan berikut:
a.
Penelusuran (keeping
track), yaitu untuk menelusuri agar proses pembelajaran anak didik tetap
sesuai denagn rencana.
b.
Pengecekan (checking-up),
yaitu untuk mengecek adakah kelemahan-kelemahan yang dialami anak didik dalam
proses pembelajaran.
c.
Pencarian (finding
–out), yaitu untuk mencari dan menemukan hal-hal yang menyebabkan
terjadinya kelemahan dan kesalahan proses pembelajaran.
d.
Penyimpulan (summing-up),
yaitu untuk menyimpulkan apakah anak didik telah menguasai menyeluruh
kompetensi yang ditetapkan oleh kurikulum yang ditetapkan.
3.
Fungsi
Penilaian Kelas
Penilaian kelas yang disusun secara berencana dan sistematis oleh
guru memiliki fungsi motivasi, balajar tuntas, efektivitas pengajaran dan umpan
balik.
a.
Fungsi motivasi
Penilaian yang dilakukan oleh guru di kelas harus mendorong
motivasi siswa untuk belajar.
b.
Fungsi belajar
tuntas
Penilaian di kelas harus diarahkan untuk memantau ketuntasan
belajar siswa.
c.
Fungsi sebagai
indicator efektivitas pengajaran
Disamping untuk memantau belajar siswa, penilaian kelas juga dapat
digunakan untuk melihat seberapa jauh proses belajar mengajar telah berhasil.
d.
Fungsi umpan
balik
Hasil penilaian harus dianalisis oleh guru sebagai bahan umpan
balik bagi siswa dan guru itu sendiri.
4.
Prinsip
Penilaian Kelas
Agar penilaian kelas memenuhi tujuan dan fungsi sebagaimana
dijelaskan diatas, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.
Mengacu kemampuan
(competency referenced)
Penilaian kelas perlu disusun dan dirancang untuk mengukur apakah
siswa telah menguasai kemampuan sesuai dengan target yang ditetapkan dalam
kirikulum.
b.
Berkelanjutan (continuous)
Penilaian kelas yang dilakukan olleh guru harus merupakan proses
yang berkelanjutan dalam rangkaian rencana mengajar guru selama satu semester
dan tahun ajaran.
c.
Didaktis
Alat yang akan digunakan untuk penilaian kelas berupa tes maupun
non-tes harus dirancang baik isi, format, maupun tata letak (lay out)
dan tampilanya agar siswa menyenangi dan menikmati kegiatan penilaian.
d.
Menggali
informasi
Penilaian kelas yang baik harus memberikan informasi yang cukup
bagi gugru untuk mengambil keputusan dan umpan balik.
e.
Melihat yang
benar dan yang salah
Dalam melaksanakan penilaian, guru hendaknya melakukan analisis
terhadap hasil penilaian dan kerja siswa secara seksama untuk melihat adanya
kesalahan yang secara umum terjadi pada siswa sekaligus melihat hal-hal yang
positif yang diberikan siswa.
5.
Prosedur dan
Metode Penilaian
Penilaian kelas yang baik mensyaratkan adanya keterkaitan
langsungdengan aktivitas proses belajar mengajar (PBM). Demikian pula, PBM akan
berjalan efektif apabila didukung oleh penilaian kelas yang efektif oleh guru.
Penilaian merupakan bagian integral dari proses belajar mengajar. Kegiatan
penilaian harus dipahami sebagai kegiatan untuk mengefektifkan proses belajar
mengajar agar sesuai dengan yang diharapkan.
Diterapkanya standar kompetensi membawa implikasi pada orientasi
dan strategi penilaian di kelas oleh guru yang lebih menerapkan prinsip-prinsip
pembelajaran tuntas. Penilaian kelas harus bersifat otentik, yakni penilaian
yang menggunakan berbagai metode dan teknik yang sesuai dengan tujuan dan
proses serta pengalaman belajar siswa. Penilaian kelas harus merupakan bagian
integral dari keseluruhan proses belajar mengajar, agar tujua dan fungsi
penilaian l;ebih berdaya guna bagi perbaikan belajar anak, berbagai metode dan
teknik harus digunakan dalam melakukan penilaian kelas.
B.
Ragam Penilaian
Kelas
1.
Tes Tertulis
Tes tertulis merupakan tes dalam bentuk bahan tulisan (baik soal
maupun jawabanya). Dalam menjawab soal siswa tidak selalu harus merespon dalam
bentuk menulis kalimat jawaban tetapi juga dapat dalam bentuk mewarnai, memberi
tanda, menggambar grafik, diagram dan sebagainya.
2.
Penilaian
Kinerja (Performance Assessment)
Penilaian kerja merupakan penilaian dengan berbagai macam tugas dan
situasi dimana peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman dan
pengaplikasian pengetahuan yang mendalam, serta keterampilan diberbagai macam
konteks. Jadi boleh dikatakan bahwa performance assessment adalah suatu
penilaian yang meminta peserta tes mendemonstrasikan dan mengaplikasikan
pengetahuan ke dalam berbagai macam konteks sesuai dengan kriteria yang
diinginkan.
3.
Penilaian
Portofolio
Portofolio merupakan kumpulan atau berkas pilihan yang dapat
memberikan informasi bagi suatu penilaian.
4.
Penilaian
Proyek
a.
Konsep Penilaian
Proyek
Yang dimaksud proyek adalah tugas yang harus diselesaikan dalam
periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari pengumpulan,
pengorganisasian, pengevaluasian, hingga penyajian data.
b.
Konteks dan Tujuan
Penilaian Proyek
Di kelas, guru mungkin menekankan penilaian proyek pada prosesnya
dan menggunakanya sebagai sarana untuk menggembangkan dan memonitor
keterampilan siswa dalam merencanakan, menyelidiki, dan menganalisis proyek.
c.
Perencanaan
Penilaian Proyek
Dalam perencanaan penilaian proyek terdapat tiga hal yang perlu
dipertimbangkan:
·
Kemampuan
pengelolaan
·
Relevansi
·
Keaslian
d.
Judging Proyek
·
Metode
Judgement
Proyek dapat dinilai secara holistic maupun analitik pada proses
maupun produknya. Secara holistic nilai tunggal mencerminkan kesan umum, sedangkan
secara analitik, nilai diberikan pada beberapa aspek.
·
Keterbandingan
Judgement
Di kelas keterbandingan nilai proyek tidaklah begitu penting. Akan
tetapi guru harus tetap yakin bahwa nilainya dapat dimengerti siswa.
e.
Estimasi dan
Pelaporan Prestasi
Penilaian proyek merupakan salah satu bukti untuk di tempatkan pada
peta kemajuan belajar siswa. Nilaianya dapat dilakukan secara subjektif maupun
objektif.
5.
Penilaian Hasil
Kerja (Product Assessment)
Penilaian hasil kerja siswa merupakan penilaian terhadap
keterampilan siswa dalam membuat suatu produk benda tertentu dan kualitas
produk tersebut.
6.
Penilaian Sikap
Menurut Klausmeier (1985), ada tiga model belajar dalam rangka
pembentukan sikap. Model-model ini sesuai dengan kepentingan penerapan dalam
dunia pendidikan. Tiga model tersebut adalah:
a.
Mengamati dan
meniru
b.
Menerima
penguatan
c.
Menerima
informasi verbal
7.
Penilaian Diri
(Self Assessment)
penilaian diri ditingkat kelas (PDK) atau classroom Self
Assessment (CSA) adalah penilaian yang dilakukan sendiri oleh guru atau
siswa yang bersangkutan untuk kepentingan pengelolaan kegiatan belajar mengajar
(KBM) ditingkat kelas.
8.
Peta
Perkembangan Hasil Belajar
Laporan hasil belajar yang dibuat dalam bentuk garis continuum
(grafik perkembangan) yang memuat deskripsi dan uraian perkembangan kemampuan
atau kompetensi hasil belajar siswa dinamakan peta perkembangan hasil belajar.
Dari peta tersebut dapat dipahami bahwa perkembangan kemajuan belajar siswa
bersifat multidimensional, yaitu kemajuan atau perkembangan belajar siswa dalam
semua bidang studi secara simultan.
9.
Analisis
Instrumen
Suatu instrument sebaiknya dianalisis sebelum digunakan. Ada dua
model analisis yang dapat dilakukan, yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif.
10.
Evaluasi Hasil
Penilaian
Guru harus melakukan evaluasi hasil tes dan menetapkan standar
keberhasilan. Evaluasi terhadap hasil belajar bertujuan untuk mengetahui
ketuntasan siswa dalam menguasai kompetensi dasar.
C.
Program Tindak
Lanjut
Tidak bias dipungkiri bahwa tujuan utama dari kegiatan belajar
mengajar didalam kelas adalah agar murid
dapat menguasai bahan-bahan belajar sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah
ditetapkan. Untuk itu guru melakukan berbagai upaya mulai dari penyusunan
rencana pelajaran, pengguanaan strategi belajarv mengajar yang relevan, sampai
dengan pelaksanaan penilaian dan umpan balik.
1.
Masalah-masalah
Belajar
Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh
seseorang murid dan menghambat
kelancaran proses belajarnya. Pada dasarnya, masalah-maslah bealajar dapat
digolongkan atas:
a.
Sangat cepat
dalam belajar
b.
Keterlambatan
akademik
c.
Lambat belajar
d.
Penempatan
kelas
e.
Kurang motif
dalam belajar
f.
Sikap dan
kebiasaan buruk
g.
Kehadiran
dimadrasah
2.
Identifikasi
Murid Bermasalah
Sesuai dengan fungsi bimbingan, hal pertama dan paling awal harus
dilakukan dalam rangkaian kegiatan layanan bimbingan belajar adalah menentukan
siapa murid yang mengalami masalah dalam belajar. Penentuan siapa murid yang
mengalami masalah belajar dapat dilakukan dengan menggunakan prosedur sebagai
berikut:
a.
Penilaian Hasil
Belajar
b.
Pemanfaatan
Hasil Tes Inteligensi
c.
Pengamatan (Observasi)
3.
Pengungkapan
Sebab-sebab Masalah Belajar
Setelah guru mengetahui siapa murid yang bermasalah dalam belajar
dan apa jenis masalah yang dialaminya, selanjutnya guru perlu mengungkapkanya
mengapa masalah itu terjadi. Usaha ini didasarkan pada anggapan bahwa guru
tidak dapat mengambil keputusan yang bijaksana tentang bagaimana membantu
mengatasi masalah yang dialami oleh murid dalam belajar, jika guru itu sendiri
tidak memilikigambaran yang jelas tentang masalah yang sesungguhnya mengapa
masalah itu terjadi.
a.
Faktor-faktor
yang Bersumber dari Murid
1)
Tingkat
kecerdasan rendah
2)
Kesehatan
sering terganggu
3)
Alat
penglihatan dan pendengaran kuran berfungsi dengan baik
4)
Gangguan alat
perseptual
5)
Tidak menguasai
cara-cara belajar yang baik
b.
Factor-faktor
yang Bersumber dari Lingkungan Keluarga
1)
Kemampuan
ekonomi orang tua kurang memadai
2)
Anak kurang
mendapat perhatian dan pengawasan dari orang tua
3)
Harapan orang
tua terlalu tinggi terhadap anak
4)
Orang tua pilih
kasih terhadap anak
c.
Factor-faktor
yang Bersumber dari Lingkungan Sekolah/Madrasah dan Masyarakat
Masalah-masalah yang dialami murid dalam belajar tidak saja
bersumber dari keadaan rumah tangga atau keadaan murid, tetapi juga dapat
bersumber dari sekolah/madrasah atau lembaga pendidikan itu sendiri.
4.
Membantu Murid
Mengatasi Masalah Belajar
Berkenaan dengan maslah-masalah yang dihadapi murid dalam belajar,
ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru, antara lain melaksanakan
pengajaran perbaikan, pengajaran pengayaan, pembinaan sikap dan kebiasaan
belajar baik, dan peningkatan motivasi belajar.
a.
Program
perbaikan
Pengajaran perbaikan merupakan bentuk khusus dari pengajaran yang
diberikan kepada seseorang atau beberapa orang murid yangb mengalami kesulitan
belajar.
b.
Program
pengayaan
Pengajaran pengayaan adalah suatu bentuk pengajaran yang khusus
diberikan murid-murid yang sangat cepat dalam belajar.
c.
Program akselerasi
(Percepatan)
Program akselerasi memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
melalui masa belajar di sekolah dengan waktu yang relative cepat.
D.
Pelaporan Hasil
Penilaian dan Pemanfaatanya
Laporan hasil belajar siswa mencakup ranah kognitif, psikomotor,
afektif. Informasi ranah kognitif dan psikomotor diperoleh dari system
penilaian yang digunakan untuk mata pelajaran yang sesuai dengan tuntutan
kompetensi dasar. Informasi ranah afektif diperoleh melalui kuisioner,
inventori, dan pengamatan yang sistematik
1.
Pelaporan Hasil
Penilaian
Hasil penilaian ranah kognitif dan psikomotor dapat berupa nilai
angka maupun deskripsi kualitatif terhadap kompetensi dasar tertentu.
a.
Laporan untuk
siswa dan orangtua
Laporan yang dibuat oleh guru untuk siwa dan orangtua berisi catatn
prestasi belajar siswa.
b.
Laporan untuk
sekolah
Laporan yang dibuat guru untuk pihak sekolah sebaiknya lebih
lengkap.
c.
Laporan untuk
masyarakat
Pada umumnya laporan untuk masyarakat berkenaan dengan jumlah
lulusan sekolah. Setiap siswa yang lulus membawa bukti bahwa mereka memiliki
suatu pengetahuan dan keterampilan tertentu.
2.
Pemanfaatan
Hasil Penilaian
a.
Untuk siswa
Untuk memberi informasi yang akurat agar dapat dimanfaatkan oleh
siswa seoptimal mungkin, maka laporan yang diberikan kepada siswa harus berisi;
1) hasil pencapaian belajar siswa, 2) kekuatan dan kelemahan siswa dalam semua
mata pelajaran, 3) minat siswa pada masing-masing mata peajaran.
b.
Untuk orangtua
Untuk memenuhi kebutuhan orangtua dalam meningkatkan hasil belajar,
bentuk laporan hasil belajar harus mecakup semua ranah, serta deskripsi yang
lebih rinci tentang kelemahan, kekuatan, dan keterampilan puteranya dalam
melakukan tugas, serta minat terhadap mata pelajaran.
c.
Untuk guru dan
kepala sekolah/madrasah
Hasil penilaian digunakan guru dan sekolah/madrasah untuk
mengetahui kekuatan dan kelemahan siswa dalam satu kelas dan sekolah dalam
semua mata pelajaran. Hasil penilaian harus dapat mendorong guru untuk mengajar
lebih baik, membantu guru untuk menentukan strategi mengajar yang kebih tepat,
dan mendorong sekolah agar memberi fasilitas belajar lebih baik.
Laporan hasil belajar untuk guru dan kepala sekolah harus mencakup
hasil belajar dalam semua ranah untuk semua pelajaran.
BAB 8
Penutup
Pengajaran di ruang kelas merupakan salah satu usaha proses
pendidikan kepada siswa. Penegetahuan, konsep, dan keterampilan membaca,
menulis, berhitung, dan sikap yang tepat sebagai alat untuk belajar lebih
lanjut yang harus dibangun pada awal pendidikan siswa yang secara luas disebut
“keterampilan pendidikan dasar.”
Sebagai tenaga professional, guru harus menyiapkan perencanaan
pengajaran yang aplikatif. Akan tetapi sebelum merencanakan pengajaran, guru
harus memahami terlebih dahulu kurikulum
Merencanakan pengajaran dalam bentuk persiapan mengajar yang
diturunkan dari silabus, membutuhkan keterampilan professional guru dalam
mencari dan menafsirkan kompetensi-kompetensi untuk mengimplementasikan
kurikulum tersebut.
Pendekatan secara sistematis dalam perencanaan dan pengembangan
saran serta alat untuk mencapai kebutuhan dan standar kompetensi mutlak
diperlukan.
Daftar Pustaka
Majid, Abdul. 2011. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar