Senin, 14 September 2015

MAKALAH FILSAFAT (Pengertian, Ruang Lingkup dan Objek Kajian Filsafat)


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari – hari kita mungkin sering mendengar kata filsafat. Lalu apakah kita sudah mengetahui pengertian dari filsafat tersebut? Banyak juga orang yang belum mengetahui makna sesungguhnya dari filsafat padahal filsafat adalah ilmu yang penting karena filsafat adalah induk dari segala ilmu pengetahuan. Selain itu banyak pula yang belum mengetahui ruang lingkup dari filsafat. Sesungguhnya ruang lingkup filsafat saling berhubungan dengan pengertian filsafat itu sendiri.
Maka dari itulah kami menyusun makalah ini untuk memberi penjelasan sedikit tentang Pengertian Filsafat serta Ruang Lingkup Filsafat. Selain itu, makalah ini juga ditujukan sebagai tugas mata kuliah Filsafat Umum.

B. Rumusan Masalah
1.     Apa yang dimaksud dengan Filsafat?
2.     Bagaimana Ruang Lingkup dan Objek Kajian Filsafat?

C. Tujuan
1.     Untuk mengetahui pengertian Filsafat, serta
2.     Untuk mengetahui Ruang Lingkup dan Objek Kajian Filsafat


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Filsafat

Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa. Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.
Secara harfiyah atau etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan dan kebenaran. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yang merupakan katan majemuk dari Philia dan Sophia. MenurutPoedjawijatna filsafat berasal dari kata Arab yang erat hubungannya dengan bahasa Yunani, bahkan asalnya memang dari kata Yunani, yaitu philosophia, yang merupakan bentuk kata majemuk dari philodan sophia. Philo berarti cinta atau keinginan dan karenanya berusaha untuk mencapai yang diinginkan itu. Sedangkan sophia berarti kebijakan (hikmah) atau kepandaian. Jadi filsafat adalah keinginan yang mendalam untuk mendapatkan kepandaian atau cinta pada kebijakan. Harun Nasution juga mengatakan bahwa filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafa dengan wazan atau timbanganfa’lala, fa’lalah dan fi’lal. Kalimat isim atau kata benda dari katafalsafa ini adalah falsafah dan filsaf. Dalam bahasa Indonesia, lanjut Harun banyak terpakai kata filsafat,  padahal bukan dari kata falsafah(Arab) dan bukan pula dari philosophy (Inggris), bahkan juga bukan merupakan gabungan dari dua kata fill (mengisi atau menempati)dalam bahasa Inggris dengan safah (jahil atau tidak berilmu) dalam bahasa Arab sehingga membentuk istilah filsafatDalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut"filsuf".
Secara terminologi pengertian filsafat memang sangat beragam, baik dalam ungkapan maupun titik tekannya. Menurut Poedjawijatna, filsafat adalah sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya tentang segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka. Sementara Hasbullah Bakry, mengatakan bahwa filsafat adalah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia. Plato mendefinisikan filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli (hakiki), dan kata Aristoteles filsafat adalah peengetahuan yang meliputi kebenaran yang tergabung di dalamnya metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik dan estetika. Selanjutnya, menurut Immanuel Kant filsafat adalah pengetahuan yang menjadi pokok pangkal segala pengetahuan yang tercakup di dalamnya empat persoalan, yaitu : (a) apa yang dapat diketahui, jawabannya adalah metafisika, (b) apa yang seharusnya diketahui, jawabannya adalah etika, (c) sampai di mana harapan kita, jawabannya adalah agama dan (d) apa itu manusia, jawabannya adalah antropologi.

B. Ruang Lingkup Pembahasan Filsafat ( teologi, cosmologi, epistemologi, logika, etika, dan estetika )
1. Teologi
Mengkaji persoalan-persoalan tentang eksistensi Tuhan yang dibahas secara terlepas dari keprcayaan agama. Eksistensi Tuhan hendak dipahami secara rasional. Konsekwensinya, Tuhan menjadi sistem filsafat yang perlu dianalisis dan dipecahkan lewat metode ilmiah. Apabila Tuhan dilepaskan dari kepercayaan agama, maka hasil analisis dan pembahasan yang diperoleh bisa berupa satu dari beberapa kemungkinan sebagai berikut :
(a). Tuhan tidak ada.
(b). Tidak dapat dipastikan apakah Tuhan ada atau tidak.
(c). Tuhan ada tanpa dapat dibuktikan secara rasional.
(d). Tuhan ada, dengan bukti rasional

Para filsuf terkenal seperti Anselmus, Descartes, Thomas Aquinas dan Immanuel Kant telah mebuktikan bahwa Tuhan itu benar-benar ada. Bukti-bukti rasional yang diutarakan adalah :
-          Argumen Ontologis. Semua manusia memiliki ide tentang Tuhan. Sementara itu, diketahui pula bahwa kenyataan atau realitas senantiasa lebih sempurna daripada ide. Dengan demikian, Tuhan pasti ada dan realitas adaNya pasti lebih sempurna daripada ide manusia tentang Tuhan.
-          Argumen Kosmologi. Setiap akibat pasti ada sebab. Dunia (kosmos) adalah akibat, karena itu pasti memiliki sebab di luar dirinya sendiri. Penyebab adanya dunia itulah Tuhan.
-          Argumen Teleologis. Segala sesuatu ada tujuannya. Sebagai contoh, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar dan kaki untuk berjalan. Karena segala sesuatu memiliki tujuan, itu berarti seluruh realitas tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan dijadikan oleh yang mengatur tujuan itu. Pengatur tujuan itu adalah Tuhan.
-          Argumen Moral. Manusia bermoral karena dapat membedakan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, dan seterusnya. Itu menunjukkan bahwa ada dasar dan sumber moralitas. Dasar dan sumber moralitas itu adalah Tuhan.

Skeptisisme secara umum meragukan segala keyakinan yang telah digenggam selama ini. Menurut aliran ini sesungguhnya tak dapat dipastikan apakah Tuhan itu benar-benar ada atau tidak mungkin saja ada tapi mungkin juga tidak ada. Skepteisisme merupakan pintu yang terbuka lebar ke arah ateisme (dalam arti teoritis), yaitu suatu paham yang berupaya mempertanggungjawabkan secara falsafati keyakinan bahwa Tuhan tidak ada.
Karena itu, David Hume menegaskan bahwa tidak ada bukti yang benar-benar shahih tentang adanya Tuhan dan bahwa Dia menyelenggarakan dunia ini. Hume menolak eksistensi Tuhan dan kebenaran agama, bahkan menolak gagasan tentang Tuhan serta menganggap bahwa moralitas semata-mata hanya perasaan manusia belaka. Terhadap perasaan sendiri, akal sehat tidak memiliki wewenang untuk mengendalikan atau mengawasinya.

Sigmund Freud (1856-1939) menyatakan bahwa Tuhan memiliki tiga fungsi utama bagi kehidupan praktis manusia di dunia, yaitu :
-          Tuhan dianggap penguasa alam. Oleh karena itu dengan menyembahNya, manusia akan dapat mengatasi kecemasannya terhadap alam yang begitu dahsyat.
-          Keyakinan agama memperdamaikan manusia dengan nasibnya yang mengerikan, terutama setelah kematian
-          Tuhan memelihara dan menjaga agar ketentuan dan peraturan kultur akan dilaksanakan. 

Kehidupan moral merupakan tempat bagi Tuhan untuk berperan. Segala perbuatan yang baik akan memperoleh ganjaran dan segala perbuatan yang jahat akan dihukum. Hukuman itu akan berlangsung nanti setelah kematian, karena di sanalah segala ganti rugi terhadap kesusahan dan penderitaan akan diperoleh dan kejahatan akan dibalas setimpal dengan perbuatn manusia. Freud kemudian menyimpulkan bahwa religi adalah suatu ilusi yang berasal dari semacam infantilisme atau sifat kekanak-kanakan. Dengan demikian, bagi Freud, Tuhan hanyalah ilusi.
2. Kosmologi
Kosmologi berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari kata kosmos dan logos. Kosmos berarti dunia, alam  atau ketertiban (lawan dari chaos = kacau balau) dan logos berarti kata atau ilmu. Jadi kosmologi berarti pembicaraan atau ilmu tentang alam semesta dan ketertiban yang paling fundamental dari seluruh realitas. Kosmologi memandang alam semesta sebagai suatu totalitas dari fenomena dan berupaya untuk memadukan spekulasi metafisika dengan evidensi ilmiah di dalam suatu kerangka yang koheran. Hal-hal yang biasa disoroti dan dipersoalkan adalah mengenai ruang dan waktu, perubahan, kebutuhan, kemungkinan-kemungkinan dan keabadian. Metode yang digunakan bersifat rasional dan justru hal itulah yang membedakannya dari berbagai kisah asal mula struktur alam.
3. Epistemologi
Istilah “Epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu “episteme” yang berarti pengetahuan dan “logos” berarti perkataan, pikiran, atau ilmu. Kata“episteme” dalam bahasa Yunani berasal dari kata kerja epistamai, artinya menundukan, menempatkan, atau meletakkan. Maka, secara harfiah episteme berarti pengetahuan sebagai upaya intelektual untuk menempatkan sesuatu dalamkedudukan setepatnya. Bagi suatu ilmu pertanyaan yang mengenai definisi ilmuitu, jenis pengetahuannya, pembagian ruang lingkupnya, dan kebenaranilmiahnya, merupakan bahan-bahan pembahasan dari epistemologinya.
Epistemologi sering juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge).Epistemologi lebih memfokuskan kepada makna pengetahuan yang berhubungan dengan konsep, sumber, dan kriteria pengetahuan, jenis pengetahuan, dan lainsebagainya. Beberapa ahli yang mencoba mengungkapkan definisi dari pada epistemologi adalah P. Hardono Hadi. Menurut beliau epistemologi adalah cabangfilsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan,  pengandaian-pengandaian dan dasarnya, serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Tokoh lain yang mencoba mendefinisikan epistemologi adalah D.W Hamlyin, beliau mengatakan bahwa epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengandaian-pengandaian serta secara umum hal itu dapat di andalkannya sebagai penegas bahwa orang memiliki pengetahuan.
Runes dalam kamusnya menjelaskan bahwa epistemologiy is the branch of philosophy which invetigates the origin, structure, methods and validity ofknowledge. Itulah sebabnya kita sering menyebutnya dengan istilah epistemologi untuk pertama kalinya muncul dan digunakan oleh J.F Ferrier pada tahun 1854(Runes, 1971-1994).

Aliran-aliran EpistemologiAda beberapa aliran yang berbicara tentang ini, diantaranya:
a. Empirisme
Kata empiris berasal dari kata Yunani empieriskos yang berasaldari kata empiria, yang artinya pengalaman. Menurut aliran inimanusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan biladikembalikan kepada kata Yunaninya, pengalaman yang dimaksudadalah pengalaman inderawi. Manusia tahu es dingin karena manusiamenyentuhnya, gula manis karena manusia mencicipinya.John Locke (1632-1704) bapak aliran ini pada zaman modernmengemukakan teori tabula rusa yang secara bahasa berarti meja lilin.
Maksudnya adalah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu,lantas ia memiliki pengetahuan. Mula-mula tangkapan indera yangmasuk itu sederhana, lama-lama sulit, lalu tersusunlah pengetahuan. Berarti, bagaimanapun kompleks (sulit) pengetahuan manusia, iaselalu dapat dicari ujungnya pada pengalaman indera. Sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukan pengetahuan yang benar.Jadi, pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar.Karena itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan aliran ini adalah metode eksperimen. Kesimpulannya bahwa aliran empirisme lemah karena keterbatasan indera manusia. Misalnya benda yang jauh kelihatan kecil, sebenarnya benda itu kecil ketika dilihat dari jauh, sedangkan kalau dilihat dari dekat benda itu besar. 
b. Rasionalisme
Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasarkepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia, menurut aliran ini, memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek. Bapak aliran ini adalah Descartes (1596-1650). Descartes seorang filosof yang tidak puas dengan filsafat scholastik yang pandangannya bertentangan, dan tidak ada kepastian disebabkan oleh kurangnya metode berpikir yang tepat. Dan ia juga mengemukakan metode baru, yaitu metode keragu-raguan. Jika orang ragu terhadap segala sesuatu, dalam keragu-raguanitu jelas ia sedang berpikir. Sebab, yang sedang berpikir itu tentu ada dan jelas ia sedang terang menderang. Cogito Ergo Sun (saya berpikir,maka saya ada). Rasio merupakan sumber kebenaran. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang kepada kebenaran. Yang benar hanya tindakan akal yang terang benderang yang disebut Ideas Claires el Distictes (pikiran yang terang benderang dan terpilah-pilah).
Ide terang benderang inilah pemberian tuhan kepada seorang yang dilahirkan (idea innatae = ide bawaan). Sebagai pemberian tuhan, maka tak mungkin tak benar. Karena rasio saja yang dianggap sebagai sumber kebenaran, aliran ini disebut rasionalisme. Aliran rasionalisme ada dua macam, yaitu dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama, aliran rasionalisme adalah lawan dari otoritas dan biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama. 
Adapun dalam bidang filsafat, rasionalisme adalah lawan dari empirisme dan sering berguna dalam menyusun teori pengetahuan.
c. Positivisme
Tokoh aliran ini adalah August Compte (1798-1857). Ia menganut paham empirisme. Ia berpendapat bahwa indera itu sangat penting dalam memperoleh pengetahuan. Tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera akan dapat dikoreksi lewat eksperimen. Eksperimen memerlukan ukuran-ukuran yang jelas. Misalnya untuk mengukur jarak kita harus menggunakan alat ukur misalnya meteran, untuk mengukur berat menggunakan neraca atau timbangan misalnya kiloan. Dan dari itulah kemajuan sains benar benar dimulai. Kebenaran diperoleh dengan akal dan didukung oleh bukti empirisnya. Dan alat bantu itulah bagian dari aliran positivisme. Jadi, pada dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran yang dapat berdiri sendiri. Aliran ini menyempurnakan empirisme dan rasionalisme. 
d. Intuisionisme
Henri Bergson (1859-1941) adalah tokoh aliran ini. Iamenganggap tidak hanya indera yang terbatas. Akal juga terbatas.Objek yang selalu berubah, demikian bargson. Jadi, pengetahuan kitatentangnya tidak pernah tetap. Intelektual atau akal juga terbatas. Akal hanya dapat memahami suatu objek bila ia mengonsentrasikan dirinya pada objek itu, jadi dalam hal itu manusia tidak mengetahui keseluruhan (unique), tidak dapat memahami sifat-sifat yang tetap pada objek. Misalnya manusia mempunyai pemikiran yang berbeda- beda. Dengan menyadari kekurangan dari indera dan akal maka Bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yangdimiliki manusia, yaitu intuisi.
f. Kritisme
Aliran ini muncul pada abad ke-18 suatu zaman baru dimana seseorang ahli pemikir yang cerdas mencoba menyelesaikan pertentangan antara rasioanalisme dengan empirisme. Seorang ahli pikir Jerman Immanuel Kant (1724-1804) mencoba menyelesaikan persoalan diatas, pada awalnya, Kant mengikuti rasionalisme tetapi terpengaruh oleh aliran empirisme. Akhirnya Kant mengakui peranan akal harus dan keharusan empiris, kemudian dicoba mengadakan sintesis. Walaupun semua pengetahuan bersumber pada akal(rasionalisme) tetapi adanya pengertian timbul dari pengalaman (empirisme). Jadi, metode berpikirnya disebut metode kritis. Walaupun ia mendasarkan diri dari nilai yang tinggi dari akal, tetapi iatidak mengingkari bahwa adanya persoalan-persoalan yang melampuiakal.
g. Idealisme
Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitan dengan jiwa dan roh.Istilah idealisme diambil dari kata idea yaitu suatu yang hadir dalam jiwa. Pandangan ini dimiliki oleh Plato pada filsafat modern. Idealisme mempunyai argumen epistemologi tersendiri. Oleh karena itu, tokoh-tokoh yang mengajarkan bahwa materi tergantung pada spirit tidak disebut idealisme karena mereka tidak menggunakan argumen epistemologi yang digunakan oleh idealisme. Idealisme secara umum berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah madzhab epistemologi yang mengajarkan bahwa pengetahuan apriori (masa bodoh) atau deduktif dapat diperoleh dari manusia denganakalnya.
4. Logika
Logika sebagai salah satu cabang filsafat pada dasarnya adalah cara untuk menarik kesimpulan yang valid. Secara luas logika dapat didefinisikan sebagai pengkajian untuk berfikir secara sahih. Ada banyak cara menarik kesimpulan. Namun secara garis besar, semua itu digolongkan menjadi dua cara yaitu logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan logika deduktif berhubungan dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus yang umum menjadi kesimpulan yang bersifat khusus atau individual. Baik logika induktif maupun logika deduktif, dalam proses penalarannya mempergunakan premis-premis yang berupa pengetahuan yang dianggap benar. Ketepatan penarikan kesimpulan tergantung dari tiga hal, yakni kebenaran premis mayor, kebenaran premis minor dan keabsahan pengambilan keputusan. Sekiranya salah satu dari ketiga unsur tersebut tidak terpenuhi maka kesimpulan yang ditariknya akan salah.
5. Etika
Etika (dalam Islam dikenal akhlaq) adalah ilmu yang membahas perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Etika berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, ethos dan ethikos. Ethos berarti sifat, watak dan kebiasaan, sedangkan ethikos berarti susila, keadaban atau perbuatan dan kelakuan yang baik. Adapun istilah moral berasal dari bahasa Latin, yaitu mores merupakan bentuk jamak dari mos, yang berarti adat istiadat atau kebiasaan, watak, kelakuan, tabiat dan cara hidup. Mempelajari etika bertujuan untuk mendapatkan konsep yang sama mengenai penilaian baik dan buruk bagi semua manusia dalam ruang dan waktu tertentu. Etika biasanya disebut ilmu pengetahuan normatif, sebab etika menetapkan ukuran bagi perbuatan manusia dengan penggunaan norma tentang baik dan buruk.
Etika merupakan cabang filsafat yang amat berpengaruh sejak zaman Socrates (470-399 SM). Etika membahas baik dan buruk atau benar tidaknya tingkah laku dan tindakan manusia serta sekaligus menyoroti kewajiban-kewajiban manusia. Etika tidak mempersoalkan apa atau siap manusia itu, tetapi bagaimana manusia seharusnya berbuat dan bertindak.
6. Estetika.
Estetika adalah cabang filsafat yang membicarakan masalah seni (art) dan keindahan (beauty). Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, aisthesis yang berarti penyerapan inderawi, pemahaman intelektual atau bisa juga berarti pengamatan spritual. Dengan kata lain, estetika merupakan studi filsafat yang mempersoalkan atau mengkaji hal-ihwal nilai keindahan. Keindahan mengandung arti bahwa di dalam diri segala sesuatu terdapat unsur-unsur yang tertata secara tertib dan harmonis dalam satu kesatuan hubungan yang utuh dan menyeluruh. Bagi ilmu pengetahuan yang beraneka ragam itu, filsafat berfungsi sebagai pengikat ke arah keseragaman dan kesatuan. Keanekaragaman ilmu pengetahuan yang berada secara terpisah-pisah antara satu dengan yang lain itu terjadi seragam, tertata secara tertib dan harmonis dalam satu kesatuan hubungan yang utuh menyeluruh di dalam obyek, metode dan teori kebenaran filsafat (Suparlan Suhartono, 2004: 162).
Estetika dapat dibagi menjadi dua, yaitu estetika deskriptif yang menguraikan dan melukiskan fenomena-fenomena pengalaman keindahan, dan estetika normatifyang mempersoalkan dan menyelidiki hakikat, dasar dan ukuran pengalaman keindahan. Ada pula yang membagi estetika kepada filsafat seni dan filsafat keindahan. Filsafat seni mempersoalkan status ontologis dari karya seni dan mempertanyakan pengetahuan apakah yang dihasilkan oleh seni serta apakah yang dapat diberikan oleh seni untuk menghubungkan manusia dengan realitas. Sedangkan filsafat keindahan membahas apakah keindahan itu dan apakah nilai indah itu obyektif atau subyektif.
Menurut Plato seni atau art adalah keterampilan untuk mereproduksi sesuatu, baginya apa yang disebut hasil seni tidak lain dari tiruan (imitation). Contoh, seseorang yang melukis panorama alam yang indah sesungguhnya hanya meniru panorma alam yang pernah dilihatnya. Jadi karya-karya seni hanyalah tiruan dari meja, burung, kucing dan sebagainya dimana benda semua itu juga merupakan tiruan dari bentuk ideal yang ada dalam alam ide. Aristoteles sependapat dengan Plato tentang seni sebagai tiruan dari berbagai hal yang ada. Contoh yang dibuat oleh Aristoteles adalah puisi. Dia mengatakan bahwa puisi merupakan tiruan dari tindakan dan perbuatan manusia yang dinyatakan lewat kata-kata. Apabila Plato menganggap seni tidak begitu penting, Aristoteles justru menganggap seni itu penting karena memiliki pengaruh yang besar bagi manusia. Aristoteles mengatakan bahwa puisi lebih filosofis daripada sejarah.
Pada abad pertengahan, estetika tidak begitu mendapat perhatian dari para filsuf, karena gereja Kristen semula bersikap memusuhi seni dengan alasan hal itu bersifat duniawi dan merupakan produk bangsa kafir Yunani dan Romawi. Namun Augustinus (354-430) memiliki minat cukup besar terhadap seni, dengan mengembangkan suatu filsafat Platonisme Kristen yang mengajarkan bentuk-bentuk Platonis. Dia mengatakan bahwa bentuk-bentuk Platonis juga berada dalam pemikiran Tuhan. Menurutnya keindahan merupakan salah satu bentuk yang ada dalam pemikiran Tuhan, oleh karenanya keindahan dalam seni dan alam haruslah memiliki pertalian yang erat dengan agama. Kendatipun mengikuti pendapat Plato tentang keindahan, namun dia membantah pendapatnya yang mengatakan bahwa seni itu tiruan. Menurut Augustinus, hewan juga meniru tapi tidak dapat menghsilkan karya seni.
Kemudian David Hume mengatakan bahwa keindahan bukanlah suatu kualitas obyektif yang terletak di dalam obyek-obyek itu sendiri, melainkan berada di dalam pikiran. Manusia tertarik pada suatu bentuk dan struktur tertentu lalu menyebutnya indah. Dia mengatakan bahwa apa yang dianggap indah oleh manusia sesungguhnya amat ditentukan oleh sifat alami manusia, yang dipengaruhi juga oleh kebiasaan dan preferensi individual. Senada dengan Hume, Immanuel Kant berpendapat bahwa keindahan itu merupakan penilaian estetis yang semata-mata subyektif. Menurutnya bahwa pertimbangan estetis memberikan fokus yang amat dibutuhkan untuk menjembatani segi-segi teori dan praktek dari sifat dasar manusia. Dia menganggap bahwa kesadaran estetis sebagai unsur yang penting dalam pengalaman manusia pada umumnya.
Seorang filsuf Amerika, George Santayana (1863-1952) mengembangkan estetika naturalistis. Sama dengan Hume dan Kant, dia menolak obyektivitas keindahan. Menurut dia keindahan identik dengan kesenangan yang dialami manusia ketika ia mangamati obyek-obyek tertentu. Filsuf Itali, Benedetto Croce (1866-1952) mengembangkan teori estetika lewat alam pikiran filsafat idealisme. Croce menyamakan seni dengan intuisi, dan intuisi itu sendiri adalah gambar yang berada dalam alam pikiran. Dengan demikian, seni berada di alam pikiran seniman. Karya seniman dalam bentuk fisik sesungguhnya bukan seni, melainkan semata-mata alat bantu untuk menolong penciptaan kembali seni yang sebenarnya berada di alam pikiran seniman. Dia juga menyamakan intuisi dengan ekspresi. Karena seni sama dengan intuisi dan intuisi sama dengan ekspresi, maka seni sama dengan ekspresi. Apa yang diekspresikan itu tidak lain dari perasaan si seniman.

C. Obyek Kajian Filsafat
Pada dasarnya setiap ilmu memiliki dua macam obyek, yaitu obyek material dan obyek formal. Obyek material adalah segala sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, baik sesuatu yang bersifat konkret seperti hewan, manusia, pohon, batu, air dan tanah maupun abstrak seperti nilai-nilai, ide-ide, paham atau aliran dan sebagainya. Contoh, misalnya tubuh manusia menjadi obyek material bagi ilmu kedokteran. Sedangkan obyek formal adalah cara pandang tertentu tentang obyek material tersebut, misalnya pendekatan empiris dan eksperimen dalam ilmu kedokteran.
Filsafat, sebagai sebuah proses berpikir yang sistematis dan radikal juga memiliki obyek material dan obyek formal. Obyek material filsafat adalah segala yang ada, baik yang nampak (dunia empiris) maupun yang tidak nampak (abstrak, metafisika). Menurut sebagian filosof obyek material filsafat itu menyangkut tiga hal, yaitu yang ada dalam kenyataan, yang ada dalam fikiran dan yang ada dalam kemungkinan. Obyek material filsafat pada umumnya sama dengan obyek penelitian sains, bedanya terletak pada dua pokok, yaitu : 
- Pertama sains menyelidiki obyek material yang empiris, sedangkan filsafat lebih mengarah kepada yang abstraks. 
- Kedua, ada obyek material filsafat yang memang tidak dapat diteliti oleh sains, seperti Tuhan, hari akhir (obyek materi yang selamanya tidak empiris).
Jadi obyek material filsafat lebih luas ketimbang obyek material sains.
Adapun obyek formal filsafat adalah sifat penyeledikan yang radikal, yakni keingintahuan tentang hakikat kebenaran sesuatu, dengan cara melakukan penyelidikan secara mendalam sampai ke akar-akarnya. Dengan kata lain bahwa obyek formal filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal dan obyektif tentang sesuatu yang ada untuk dapat mengetahui hakikat yang sesungguhnya.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kata filsafat berasal dari kata Yunani filosofia, yang berasal dari kata kerja filosofein yang berarti mencintai kebijaksanaan. Kata tersebut juga berasal dari kata Yunani philosophis yang berasal dari kata kerja philein yang berarti mencintai, atau philia yang berarti cinta, dan sophia yang berarti kearifan. Dari kata tersebut lahirlah kata Inggris Philosophy yang biasanya diterjemahkan sebagai “cinta kearifan”.
Ada beberapa definisi yang telah diberikan oleh pemikir atau filosof :
·       Plato (427 SM – 348 SM) “Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli.”
·       Aristoteles (382 SM – 322 SM) “Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu – ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika.”
·       Al Farabi (870 M – 950 M) “Filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekatnya yang sebenarnya.”
·       Descartes (1590 M – 1650 M) “Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan.”
·       Immanuel Kant (1724 M – 1804 M) Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan, yang tercakup di dalamnya beberapa persoalan:
- Apakah yang dapat kita ketahui? (Jawabnya : Metafisika)
- Apakah yang harus kita kerjakan? (Jawabnya : Etika)
- Sampai dimanakah harapan kita? (Jawabnya : Agama)
- Apakah yang dinamakan manusia? (jawabnya : Antropologi)
·       Harun Nasution : “Filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dan bebas (tidak terikat tradisi, agama atau dogma) dan dengan sedalam – dalamnya sehingga sampai ke dasar – dasar (akar) persoalan.”

Seperti ilmu pengetahuan lainnya, filsafat juga mempunyai objek kajian yang meliputi objek materi dan objek forma.
1.     Objek Materi Filsafat, yaitu hal atau bahan yang diselidiki (hal yang dijadikan sasaran penyelidikan).
2.     Objek Forma Filsafat, yaitu sudut pandang (point of view), dari mana hal atau bahan tersebut dipandang.


DAFTAR PUSTAKA
 Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, PT. Remaja Rosdakarya Bandung,  2000

Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, Cet. II 1999

Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, Jakarta : 1999

Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, Yogyakarta : Penerbit Kansius, cet. 6, 2001


Suparlan Suhartono, Dasar-dasar Filsafat, Ar-Ruzz, Jogyakarta, 2004

Miska Muhammad Amien, Epistemologi Islam Pengantar Filsafat Pengetahaun Islam, UI Press, Jakarta, 1983


2 komentar:

LAPORAN KKL ( KULIAH KERJA LAPANGAN ) FAI UNIAT (Universitas Islam Attahiriyah)

https://drive.google.com/folderview?id=1QsYXAAC12ZFAC3ZtvdvvHF_AnsawW8n5