BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari
– hari kita mungkin sering mendengar kata filsafat. Lalu apakah kita sudah
mengetahui pengertian dari filsafat tersebut? Banyak juga orang yang belum
mengetahui makna sesungguhnya dari filsafat padahal filsafat adalah ilmu yang
penting karena filsafat adalah induk dari segala ilmu pengetahuan. Selain itu
banyak pula yang belum mengetahui ruang lingkup dari filsafat. Sesungguhnya
ruang lingkup filsafat saling berhubungan dengan pengertian filsafat itu
sendiri.
Maka dari itulah kami menyusun makalah ini untuk memberi penjelasan
sedikit tentang Pengertian Filsafat serta Ruang Lingkup Filsafat. Selain
itu, makalah ini juga ditujukan sebagai tugas mata kuliah Filsafat Umum.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Filsafat?
2. Bagaimana Ruang Lingkup dan Objek
Kajian Filsafat?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian Filsafat, serta
2. Untuk mengetahui Ruang Lingkup dan Objek Kajian Filsafat
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Filsafat
Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena
kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep
mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan
percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari
solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi
tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika
berpikir dan logika bahasa. Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari
dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi
sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas
filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat
juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang
biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang
mempertanyakan segala hal.
Secara harfiyah atau etimologi, filsafat berarti cinta
kebijaksanaan dan kebenaran. Istilah ini berasal dari
bahasa Yunani, yang merupakan katan majemuk dari Philia dan Sophia. MenurutPoedjawijatna
filsafat berasal dari kata Arab yang erat hubungannya dengan bahasa Yunani,
bahkan asalnya memang dari kata Yunani, yaitu philosophia, yang
merupakan bentuk kata majemuk dari philodan sophia. Philo
berarti cinta atau keinginan dan karenanya berusaha untuk mencapai yang
diinginkan itu. Sedangkan sophia berarti kebijakan (hikmah) atau kepandaian.
Jadi filsafat adalah keinginan yang mendalam untuk mendapatkan kepandaian atau
cinta pada kebijakan. Harun Nasution juga mengatakan bahwa filsafat
berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafa dengan wazan atau
timbanganfa’lala, fa’lalah dan fi’lal. Kalimat isim
atau kata benda dari katafalsafa ini adalah falsafah dan filsaf.
Dalam bahasa Indonesia, lanjut Harun banyak terpakai kata filsafat, padahal
bukan dari kata falsafah(Arab) dan bukan pula dari philosophy (Inggris),
bahkan juga bukan merupakan gabungan dari dua kata fill (mengisi
atau menempati)dalam bahasa Inggris dengan safah (jahil atau
tidak berilmu) dalam bahasa Arab sehingga membentuk istilah filsafat. Dalam bahasa Indonesia
seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut"filsuf".
Secara terminologi pengertian filsafat memang sangat
beragam, baik dalam ungkapan maupun titik tekannya. Menurut Poedjawijatna,
filsafat adalah sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang
sedalam-dalamnya tentang segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.
Sementara Hasbullah Bakry, mengatakan bahwa filsafat adalah sejenis
pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan,
alam semesta dan manusia. Plato mendefinisikan filsafat adalah pengetahuan
yang berminat mencapai kebenaran asli (hakiki), dan kata Aristoteles
filsafat adalah peengetahuan yang meliputi kebenaran yang tergabung di
dalamnya metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik dan estetika.
Selanjutnya, menurut Immanuel Kant filsafat adalah pengetahuan yang menjadi
pokok pangkal segala pengetahuan yang tercakup di dalamnya empat persoalan,
yaitu : (a) apa yang dapat diketahui, jawabannya adalah metafisika,
(b) apa yang seharusnya diketahui, jawabannya adalah etika, (c)
sampai di mana harapan kita, jawabannya adalah agama dan (d)
apa itu manusia, jawabannya adalah antropologi.
B.
Ruang Lingkup Pembahasan Filsafat ( teologi, cosmologi, epistemologi, logika,
etika, dan estetika )
1. Teologi
Mengkaji
persoalan-persoalan tentang
eksistensi Tuhan yang dibahas secara terlepas dari keprcayaan agama. Eksistensi
Tuhan hendak dipahami secara rasional. Konsekwensinya, Tuhan menjadi sistem
filsafat yang perlu dianalisis dan dipecahkan lewat metode ilmiah. Apabila
Tuhan dilepaskan dari kepercayaan agama, maka hasil analisis dan pembahasan
yang diperoleh bisa berupa satu dari beberapa kemungkinan sebagai berikut :
(a).
Tuhan tidak ada.
(b).
Tidak dapat dipastikan apakah Tuhan ada atau tidak.
(c).
Tuhan ada tanpa dapat dibuktikan secara rasional.
(d). Tuhan
ada, dengan bukti rasional
Para
filsuf terkenal seperti Anselmus, Descartes, Thomas Aquinas dan Immanuel Kant
telah mebuktikan bahwa Tuhan itu benar-benar ada. Bukti-bukti rasional yang
diutarakan adalah :
-
Argumen
Ontologis. Semua manusia memiliki ide tentang
Tuhan. Sementara itu, diketahui pula bahwa kenyataan atau realitas senantiasa
lebih sempurna daripada ide. Dengan demikian, Tuhan pasti ada dan realitas
adaNya pasti lebih sempurna daripada ide manusia tentang Tuhan.
-
Argumen
Kosmologi. Setiap akibat pasti ada sebab. Dunia
(kosmos) adalah akibat, karena itu pasti memiliki sebab di luar dirinya
sendiri. Penyebab adanya dunia itulah Tuhan.
-
Argumen
Teleologis. Segala sesuatu ada tujuannya. Sebagai
contoh, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar dan kaki untuk berjalan.
Karena segala sesuatu memiliki tujuan, itu berarti seluruh realitas tidak
terjadi dengan sendirinya, melainkan dijadikan oleh yang mengatur tujuan itu.
Pengatur tujuan itu adalah Tuhan.
-
Argumen
Moral. Manusia bermoral karena dapat membedakan
yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, dan seterusnya. Itu
menunjukkan bahwa ada dasar dan sumber moralitas. Dasar dan sumber moralitas
itu adalah Tuhan.
Skeptisisme
secara umum meragukan segala keyakinan yang telah digenggam selama ini. Menurut
aliran ini sesungguhnya tak dapat dipastikan apakah Tuhan itu benar-benar ada
atau tidak mungkin saja ada tapi mungkin juga tidak ada. Skepteisisme merupakan
pintu yang terbuka lebar ke arah ateisme (dalam arti teoritis), yaitu suatu
paham yang berupaya mempertanggungjawabkan secara falsafati keyakinan bahwa
Tuhan tidak ada.
Karena
itu, David Hume menegaskan bahwa tidak ada bukti yang benar-benar shahih
tentang adanya Tuhan dan bahwa Dia menyelenggarakan dunia ini. Hume menolak
eksistensi Tuhan dan kebenaran agama, bahkan menolak gagasan tentang Tuhan
serta menganggap bahwa moralitas semata-mata hanya perasaan manusia belaka.
Terhadap perasaan sendiri, akal sehat tidak memiliki wewenang untuk
mengendalikan atau mengawasinya.
Sigmund
Freud (1856-1939) menyatakan bahwa Tuhan memiliki tiga fungsi utama bagi
kehidupan praktis manusia di dunia, yaitu :
-
Tuhan
dianggap penguasa alam. Oleh karena itu dengan menyembahNya, manusia akan dapat
mengatasi kecemasannya terhadap alam yang begitu dahsyat.
-
Keyakinan
agama memperdamaikan manusia dengan nasibnya yang mengerikan, terutama setelah
kematian
-
Tuhan
memelihara dan menjaga agar ketentuan dan peraturan kultur akan
dilaksanakan.
Kehidupan
moral merupakan tempat bagi Tuhan untuk berperan. Segala perbuatan yang baik
akan memperoleh ganjaran dan segala perbuatan yang jahat akan dihukum. Hukuman
itu akan berlangsung nanti setelah kematian, karena di sanalah segala ganti
rugi terhadap kesusahan dan penderitaan akan diperoleh dan kejahatan akan
dibalas setimpal dengan perbuatn manusia. Freud kemudian menyimpulkan bahwa
religi adalah suatu ilusi yang berasal dari semacam infantilisme atau sifat
kekanak-kanakan. Dengan demikian, bagi Freud, Tuhan hanyalah ilusi.
2. Kosmologi
Kosmologi berasal dari bahasa
Yunani, terdiri dari kata kosmos dan logos.
Kosmos berarti dunia, alam atau
ketertiban (lawan dari chaos = kacau balau) dan logos berarti kata
atau ilmu. Jadi kosmologi berarti pembicaraan atau ilmu tentang alam semesta
dan ketertiban yang paling fundamental dari seluruh realitas. Kosmologi
memandang alam semesta sebagai suatu totalitas dari fenomena dan berupaya untuk
memadukan spekulasi metafisika dengan evidensi ilmiah di dalam suatu kerangka
yang koheran. Hal-hal yang biasa disoroti dan dipersoalkan adalah mengenai
ruang dan waktu, perubahan, kebutuhan, kemungkinan-kemungkinan dan keabadian.
Metode yang digunakan bersifat rasional dan justru hal itulah yang
membedakannya dari berbagai kisah asal mula struktur alam.
3. Epistemologi
Istilah
“Epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu “episteme”
yang berarti pengetahuan dan “logos” berarti perkataan, pikiran, atau ilmu. Kata“episteme”
dalam bahasa Yunani berasal dari kata kerja epistamai, artinya menundukan,
menempatkan, atau meletakkan. Maka, secara harfiah
episteme berarti pengetahuan sebagai upaya
intelektual untuk menempatkan sesuatu dalamkedudukan setepatnya.
Bagi suatu ilmu pertanyaan yang mengenai definisi ilmuitu, jenis pengetahuannya,
pembagian ruang lingkupnya, dan kebenaranilmiahnya, merupakan bahan-bahan
pembahasan dari epistemologinya.
Epistemologi
sering juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge).Epistemologi lebih
memfokuskan kepada makna pengetahuan yang berhubungan dengan konsep, sumber,
dan kriteria pengetahuan, jenis pengetahuan, dan lainsebagainya. Beberapa ahli
yang mencoba mengungkapkan definisi dari pada epistemologi adalah P. Hardono
Hadi. Menurut beliau epistemologi adalah cabangfilsafat yang mempelajari
dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasarnya, serta pertanggung
jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Tokoh lain yang
mencoba mendefinisikan epistemologi adalah D.W Hamlyin, beliau mengatakan bahwa
epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan
lingkup pengetahuan, dasar dan pengandaian-pengandaian serta secara
umum hal itu dapat di andalkannya sebagai penegas bahwa orang memiliki
pengetahuan.
Runes dalam
kamusnya menjelaskan bahwa epistemologiy is the branch
of philosophy which invetigates the origin, structure, methods and validity ofknowledge.
Itulah sebabnya kita sering menyebutnya dengan istilah epistemologi untuk
pertama kalinya muncul dan digunakan oleh J.F Ferrier pada tahun 1854(Runes,
1971-1994).
Aliran-aliran
EpistemologiAda beberapa aliran yang berbicara tentang ini, diantaranya:
a. Empirisme
Kata
empiris berasal dari kata Yunani empieriskos yang berasaldari kata empiria,
yang artinya pengalaman. Menurut aliran inimanusia memperoleh pengetahuan
melalui pengalamannya. Dan biladikembalikan kepada kata Yunaninya, pengalaman
yang dimaksudadalah pengalaman inderawi. Manusia tahu es dingin karena
manusiamenyentuhnya, gula manis karena manusia mencicipinya.John Locke
(1632-1704) bapak aliran ini pada zaman modernmengemukakan teori tabula rusa
yang secara bahasa berarti meja lilin.
Maksudnya
adalah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu,lantas
ia memiliki pengetahuan. Mula-mula tangkapan indera yangmasuk itu sederhana,
lama-lama sulit, lalu tersusunlah pengetahuan. Berarti, bagaimanapun kompleks
(sulit) pengetahuan manusia, iaselalu dapat dicari ujungnya pada pengalaman
indera. Sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukan pengetahuan yang
benar.Jadi, pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar.Karena
itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan aliran ini adalah metode
eksperimen. Kesimpulannya bahwa aliran empirisme lemah karena keterbatasan
indera manusia. Misalnya benda yang jauh kelihatan kecil, sebenarnya benda itu
kecil ketika dilihat dari jauh, sedangkan kalau dilihat dari dekat benda itu
besar.
b. Rasionalisme
Secara
singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasarkepastian pengetahuan.
Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia, menurut
aliran ini, memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek. Bapak
aliran ini adalah Descartes (1596-1650). Descartes seorang filosof yang tidak
puas dengan filsafat scholastik yang pandangannya bertentangan, dan tidak ada
kepastian disebabkan oleh kurangnya metode berpikir yang tepat. Dan ia juga
mengemukakan metode baru, yaitu metode keragu-raguan. Jika orang ragu terhadap
segala sesuatu, dalam keragu-raguanitu jelas ia sedang berpikir. Sebab, yang
sedang berpikir itu tentu ada dan jelas ia sedang terang menderang. Cogito Ergo
Sun (saya berpikir,maka saya ada). Rasio merupakan sumber kebenaran. Hanya
rasio sajalah yang dapat membawa orang kepada kebenaran. Yang benar hanya
tindakan akal yang terang benderang yang disebut Ideas Claires el Distictes (pikiran
yang terang benderang dan terpilah-pilah).
Ide
terang benderang inilah pemberian tuhan kepada seorang yang dilahirkan
(idea innatae = ide bawaan). Sebagai pemberian tuhan, maka tak mungkin tak
benar. Karena rasio saja yang dianggap sebagai sumber kebenaran, aliran ini
disebut rasionalisme. Aliran rasionalisme ada dua macam, yaitu dalam bidang
agama dan dalam bidang filsafat.
Dalam bidang agama, aliran rasionalisme adalah lawan dari otoritas dan biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama.
Adapun dalam
bidang filsafat, rasionalisme adalah lawan dari empirisme dan sering berguna
dalam menyusun teori pengetahuan.
c.
Positivisme
Tokoh
aliran ini adalah August Compte (1798-1857). Ia menganut paham empirisme. Ia
berpendapat bahwa indera itu
sangat penting dalam memperoleh pengetahuan. Tetapi harus dipertajam
dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera akan dapat
dikoreksi lewat eksperimen. Eksperimen memerlukan ukuran-ukuran yang jelas.
Misalnya untuk
mengukur jarak kita harus menggunakan alat ukur misalnya meteran, untuk
mengukur berat menggunakan neraca atau timbangan misalnya kiloan. Dan dari
itulah kemajuan sains benar benar dimulai. Kebenaran diperoleh dengan akal dan
didukung oleh bukti empirisnya. Dan
alat bantu itulah bagian dari aliran positivisme. Jadi, pada dasarnya positivisme
bukanlah suatu aliran yang dapat berdiri sendiri. Aliran ini menyempurnakan
empirisme dan rasionalisme.
d.
Intuisionisme
Henri
Bergson (1859-1941) adalah tokoh aliran ini. Iamenganggap tidak hanya indera
yang terbatas. Akal juga terbatas.Objek yang selalu berubah, demikian bargson.
Jadi, pengetahuan kitatentangnya tidak pernah tetap. Intelektual atau akal juga
terbatas. Akal hanya dapat memahami suatu objek bila ia mengonsentrasikan
dirinya pada objek itu, jadi dalam hal itu manusia tidak mengetahui
keseluruhan (unique), tidak dapat memahami sifat-sifat yang
tetap pada objek. Misalnya manusia mempunyai pemikiran yang berbeda- beda. Dengan menyadari kekurangan dari indera dan akal maka
Bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yangdimiliki manusia, yaitu
intuisi.
f. Kritisme
Aliran ini
muncul pada abad ke-18 suatu zaman baru dimana seseorang ahli pemikir yang
cerdas mencoba
menyelesaikan pertentangan antara rasioanalisme dengan empirisme.
Seorang ahli pikir Jerman Immanuel Kant (1724-1804)
mencoba menyelesaikan persoalan diatas, pada awalnya, Kant mengikuti rasionalisme
tetapi terpengaruh oleh aliran empirisme. Akhirnya Kant mengakui peranan akal
harus dan keharusan empiris, kemudian dicoba mengadakan sintesis. Walaupun semua
pengetahuan bersumber pada akal(rasionalisme) tetapi adanya pengertian timbul
dari pengalaman (empirisme). Jadi, metode berpikirnya disebut metode kritis.
Walaupun ia mendasarkan diri dari nilai yang tinggi dari akal, tetapi iatidak
mengingkari bahwa adanya persoalan-persoalan yang melampuiakal.
g.
Idealisme
Idealisme
adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat
dipahami dalam kaitan dengan jiwa dan roh.Istilah idealisme diambil dari kata
idea yaitu suatu yang hadir dalam jiwa. Pandangan ini dimiliki oleh Plato
pada filsafat modern. Idealisme mempunyai argumen epistemologi tersendiri.
Oleh karena itu, tokoh-tokoh yang mengajarkan bahwa materi tergantung pada
spirit tidak disebut idealisme karena mereka tidak
menggunakan argumen epistemologi yang digunakan oleh idealisme. Idealisme
secara umum berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah madzhab epistemologi
yang mengajarkan bahwa pengetahuan apriori (masa bodoh) atau deduktif dapat
diperoleh dari manusia denganakalnya.
4. Logika
Logika
sebagai salah satu cabang filsafat pada dasarnya adalah cara untuk menarik
kesimpulan yang valid. Secara luas logika dapat didefinisikan
sebagai pengkajian untuk berfikir secara sahih. Ada banyak cara menarik kesimpulan. Namun
secara garis besar, semua itu digolongkan menjadi dua cara yaitu logika
induktif dan logika deduktif. Logika induktif erat hubungannya dengan penarikan
kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat
umum. Sedangkan logika deduktif berhubungan dengan penarikan kesimpulan dari
kasus-kasus yang umum menjadi kesimpulan yang bersifat khusus atau individual.
Baik logika induktif maupun logika deduktif, dalam proses penalarannya
mempergunakan premis-premis yang berupa pengetahuan yang dianggap benar. Ketepatan penarikan kesimpulan tergantung dari tiga hal, yakni kebenaran premis mayor,
kebenaran premis minor dan keabsahan pengambilan keputusan. Sekiranya salah
satu dari ketiga unsur tersebut tidak terpenuhi maka kesimpulan yang ditariknya
akan salah.
5. Etika
Etika
(dalam Islam dikenal akhlaq) adalah ilmu yang membahas perbuatan baik dan
perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Etika
berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, ethos dan ethikos.
Ethos berarti sifat, watak dan kebiasaan, sedangkan ethikos berarti susila,
keadaban atau perbuatan dan kelakuan yang baik. Adapun istilah moral berasal
dari bahasa Latin, yaitu mores merupakan bentuk jamak
dari mos, yang berarti adat istiadat atau kebiasaan, watak,
kelakuan, tabiat dan cara hidup. Mempelajari etika bertujuan untuk mendapatkan
konsep yang sama mengenai penilaian baik dan buruk bagi semua manusia dalam
ruang dan waktu tertentu. Etika biasanya disebut ilmu pengetahuan normatif,
sebab etika menetapkan ukuran bagi perbuatan manusia dengan penggunaan norma
tentang baik dan buruk.
Etika
merupakan cabang filsafat yang amat berpengaruh sejak zaman Socrates (470-399
SM). Etika membahas baik dan buruk atau benar tidaknya tingkah laku dan
tindakan manusia serta sekaligus menyoroti kewajiban-kewajiban manusia. Etika
tidak mempersoalkan apa atau siap manusia itu, tetapi bagaimana manusia
seharusnya berbuat dan bertindak.
6. Estetika.
Estetika
adalah cabang filsafat yang membicarakan masalah seni (art) dan
keindahan (beauty). Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, aisthesis yang
berarti penyerapan inderawi, pemahaman intelektual atau bisa juga berarti
pengamatan spritual. Dengan kata lain, estetika merupakan studi filsafat yang
mempersoalkan atau mengkaji hal-ihwal nilai keindahan. Keindahan mengandung
arti bahwa di dalam diri segala sesuatu terdapat unsur-unsur yang tertata
secara tertib dan harmonis dalam satu kesatuan hubungan yang utuh dan
menyeluruh. Bagi ilmu pengetahuan yang beraneka ragam itu, filsafat berfungsi
sebagai pengikat ke arah keseragaman dan kesatuan. Keanekaragaman ilmu
pengetahuan yang berada secara terpisah-pisah antara satu dengan yang lain itu
terjadi seragam, tertata secara tertib dan harmonis dalam satu kesatuan
hubungan yang utuh menyeluruh di dalam obyek, metode dan teori kebenaran
filsafat (Suparlan Suhartono, 2004: 162).
Estetika
dapat dibagi menjadi dua, yaitu estetika deskriptif yang
menguraikan dan melukiskan fenomena-fenomena pengalaman keindahan, dan estetika
normatifyang mempersoalkan dan menyelidiki hakikat, dasar dan ukuran
pengalaman keindahan. Ada pula yang membagi estetika kepada filsafat
seni dan filsafat keindahan. Filsafat seni mempersoalkan
status ontologis dari karya seni dan mempertanyakan pengetahuan apakah yang
dihasilkan oleh seni serta apakah yang dapat diberikan oleh seni untuk
menghubungkan manusia dengan realitas. Sedangkan filsafat keindahan membahas
apakah keindahan itu dan apakah nilai indah itu obyektif atau subyektif.
Menurut
Plato seni atau art adalah keterampilan untuk mereproduksi
sesuatu, baginya apa yang disebut hasil seni tidak lain dari tiruan (imitation).
Contoh, seseorang yang melukis panorama alam yang indah sesungguhnya hanya
meniru panorma alam yang pernah dilihatnya. Jadi karya-karya seni hanyalah
tiruan dari meja, burung, kucing dan sebagainya dimana benda semua itu juga
merupakan tiruan dari bentuk ideal yang ada dalam alam ide. Aristoteles
sependapat dengan Plato tentang seni sebagai tiruan dari berbagai hal yang ada.
Contoh yang dibuat oleh Aristoteles adalah puisi. Dia mengatakan bahwa puisi
merupakan tiruan dari tindakan dan perbuatan manusia yang dinyatakan lewat
kata-kata. Apabila Plato menganggap seni tidak begitu penting, Aristoteles
justru menganggap seni itu penting karena memiliki pengaruh yang besar bagi
manusia. Aristoteles mengatakan bahwa puisi lebih filosofis daripada sejarah.
Pada abad
pertengahan, estetika tidak begitu mendapat perhatian dari para filsuf, karena
gereja Kristen semula bersikap memusuhi seni dengan alasan hal itu bersifat
duniawi dan merupakan produk bangsa kafir Yunani dan Romawi. Namun Augustinus
(354-430) memiliki minat cukup besar terhadap seni, dengan mengembangkan suatu
filsafat Platonisme Kristen yang mengajarkan bentuk-bentuk Platonis. Dia
mengatakan bahwa bentuk-bentuk Platonis juga berada dalam pemikiran Tuhan.
Menurutnya keindahan merupakan salah satu bentuk yang ada dalam pemikiran
Tuhan, oleh karenanya keindahan dalam seni dan alam haruslah memiliki pertalian
yang erat dengan agama. Kendatipun mengikuti pendapat Plato tentang keindahan, namun
dia membantah pendapatnya yang mengatakan bahwa seni itu tiruan. Menurut
Augustinus, hewan juga meniru tapi tidak dapat menghsilkan karya seni.
Kemudian
David Hume mengatakan bahwa keindahan bukanlah suatu kualitas obyektif yang
terletak di dalam obyek-obyek itu sendiri, melainkan berada di dalam pikiran.
Manusia tertarik pada suatu bentuk dan struktur tertentu lalu menyebutnya
indah. Dia mengatakan bahwa apa yang dianggap indah oleh manusia sesungguhnya
amat ditentukan oleh sifat alami manusia, yang dipengaruhi juga oleh kebiasaan
dan preferensi individual. Senada dengan Hume, Immanuel Kant berpendapat bahwa
keindahan itu merupakan penilaian estetis yang semata-mata subyektif.
Menurutnya bahwa pertimbangan estetis memberikan fokus yang amat dibutuhkan untuk
menjembatani segi-segi teori dan praktek dari sifat dasar manusia. Dia
menganggap bahwa kesadaran estetis sebagai unsur yang penting dalam pengalaman
manusia pada umumnya.
Seorang
filsuf Amerika, George Santayana (1863-1952) mengembangkan estetika naturalistis.
Sama dengan Hume dan Kant, dia menolak obyektivitas keindahan. Menurut dia
keindahan identik dengan kesenangan yang dialami manusia ketika ia mangamati
obyek-obyek tertentu. Filsuf Itali, Benedetto Croce (1866-1952) mengembangkan
teori estetika lewat alam pikiran filsafat idealisme. Croce menyamakan seni
dengan intuisi, dan intuisi itu sendiri adalah gambar yang berada dalam alam
pikiran. Dengan demikian, seni berada di alam pikiran seniman. Karya seniman
dalam bentuk fisik sesungguhnya bukan seni, melainkan semata-mata alat bantu
untuk menolong penciptaan kembali seni yang sebenarnya berada di alam pikiran
seniman. Dia juga menyamakan intuisi dengan ekspresi. Karena seni sama dengan
intuisi dan intuisi sama dengan ekspresi, maka seni sama dengan ekspresi. Apa
yang diekspresikan itu tidak lain dari perasaan si seniman.
C. Obyek Kajian Filsafat
Pada
dasarnya setiap ilmu memiliki dua macam obyek, yaitu obyek
material dan obyek formal. Obyek material adalah segala
sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, baik sesuatu yang bersifat konkret
seperti hewan, manusia, pohon, batu, air dan tanah maupun abstrak seperti
nilai-nilai, ide-ide, paham atau aliran dan sebagainya. Contoh, misalnya tubuh
manusia menjadi obyek material bagi ilmu kedokteran. Sedangkan obyek formal
adalah cara pandang tertentu tentang obyek material tersebut, misalnya
pendekatan empiris dan eksperimen dalam ilmu kedokteran.
Filsafat,
sebagai sebuah proses berpikir yang sistematis dan radikal juga memiliki obyek
material dan obyek formal. Obyek material filsafat adalah segala yang ada, baik
yang nampak (dunia empiris) maupun yang tidak nampak (abstrak, metafisika).
Menurut sebagian filosof obyek material filsafat itu menyangkut tiga hal, yaitu
yang ada dalam kenyataan, yang ada dalam fikiran dan yang ada dalam
kemungkinan. Obyek material filsafat pada umumnya sama dengan obyek
penelitian sains, bedanya terletak pada dua pokok, yaitu :
- Pertama sains
menyelidiki obyek material yang empiris, sedangkan filsafat lebih mengarah
kepada yang abstraks.
- Kedua, ada
obyek material filsafat yang memang tidak dapat diteliti oleh sains, seperti
Tuhan, hari akhir (obyek materi yang selamanya tidak empiris).
Jadi
obyek material filsafat lebih luas ketimbang obyek material sains.
Adapun
obyek formal filsafat adalah sifat penyeledikan yang radikal, yakni
keingintahuan tentang hakikat kebenaran sesuatu, dengan cara melakukan
penyelidikan secara mendalam sampai ke akar-akarnya. Dengan kata lain bahwa
obyek formal filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal dan
obyektif tentang sesuatu yang ada untuk dapat mengetahui hakikat yang
sesungguhnya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kata filsafat berasal dari kata Yunani filosofia, yang
berasal dari kata kerja filosofein yang berarti mencintai kebijaksanaan.
Kata tersebut juga berasal dari kata Yunani philosophis yang berasal
dari kata kerja philein yang berarti mencintai, atau philia yang
berarti cinta, dan sophia yang berarti kearifan. Dari kata tersebut
lahirlah kata Inggris Philosophy yang biasanya diterjemahkan sebagai
“cinta kearifan”.
Ada beberapa definisi yang telah diberikan oleh pemikir atau filosof :
·
Plato (427 SM – 348 SM) “Filsafat adalah ilmu
pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli.”
·
Aristoteles (382 SM – 322 SM) “Filsafat adalah
ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu –
ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika.”
·
Al Farabi (870 M – 950 M) “Filsafat ialah ilmu
pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekatnya yang sebenarnya.”
·
Descartes (1590 M – 1650 M) “Filsafat adalah
kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok
penyelidikan.”
·
Immanuel Kant (1724 M – 1804 M) Filsafat adalah
ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan, yang
tercakup di dalamnya beberapa persoalan:
- Apakah yang dapat kita ketahui? (Jawabnya :
Metafisika)
- Apakah yang harus kita kerjakan? (Jawabnya :
Etika)
- Sampai dimanakah harapan kita? (Jawabnya : Agama)
- Apakah yang dinamakan manusia? (jawabnya :
Antropologi)
·
Harun Nasution : “Filsafat adalah berfikir
menurut tata tertib (logika) dan bebas (tidak terikat tradisi, agama atau
dogma) dan dengan sedalam – dalamnya sehingga sampai ke dasar – dasar (akar)
persoalan.”
Seperti ilmu
pengetahuan lainnya, filsafat juga mempunyai objek kajian yang meliputi objek
materi dan objek forma.
1. Objek Materi Filsafat, yaitu hal atau bahan yang diselidiki (hal yang dijadikan
sasaran penyelidikan).
2. Objek Forma Filsafat, yaitu sudut pandang (point of view), dari mana
hal atau bahan tersebut dipandang.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, PT. Remaja
Rosdakarya Bandung, 2000
Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, Jakarta : Logos Wacana
Ilmu, Cet. II 1999
Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, Jakarta :
1999
Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat,
Yogyakarta : Penerbit Kansius, cet. 6, 2001
Suparlan
Suhartono, Dasar-dasar Filsafat, Ar-Ruzz, Jogyakarta, 2004
Miska Muhammad Amien, Epistemologi Islam
Pengantar Filsafat Pengetahaun Islam, UI Press, Jakarta, 1983
Mantap Sangat Bermanfaat.
BalasHapusTambahan Referensi
Pengertian Dan Ruang Lingkup Filsafat
thanks
BalasHapus