MAKALAH EVALUASI PAI II
ANALISIS ITEM TES HASIL BELAJAR
Dosen: Dr. Ahmad Zain Sarnoto, M.Pd
Oleh:
Ahmad Zainuri
(11020274)
FAKULTAS
AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM ATTAHIRIYYAH
JAKARTA
1438 H/2017 M
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah S.W.T yang telah melimpahkan
rahmat, taufiq, serta hidayahNya kepada kita, yang pada kesempatan kali ini
saya dapat menuangkan tinta untuk mengukir ilmu pengetahuan yang sangat di
butuhkan dan semoga dapat bermanfaat bagi penulis serta semoga pula bermanfaat
bagi pembaca.
Sholawat serta salam marilah selalu dan selalu kita hadirkan keharibaan
Rasulullah muhammad SAW sebagai uswah al-hasanah yang senantiasa di harapkan
syafaatnya di hari kiamat.
Tidak lupa saya sampaikan banyak terima kasih kepada Bpk. Dr. Ahmad Zain
Sarnoto,M.Pd Selaku dosen pembimbing mata kuliah evaluasi PAI II, untuk ridho
dan barokah dari beliau sangat saya harapkan menuju jalan ilmu yang manfaat.
Terimah kasih juga atas semua pihak yang telah membantu terselesaikannya
penulisan makalah ini.
saya
sangat mengharap kritik dan saran dari pembaca sehingga makalah atau ilmu ini
bisa lebih senpurna dan bermanfaat bagi penulis, terlebih lagi bermanfaat bagi
pembaca. Amin.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah....................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................. 2
C. Tujuan................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian analisis
tes hasil belajar ..................................................... 3
B. Fungsi analisis tes
hasil belajar ............................................................ 5
C. Cara menganalisis
butir tes hasil belajar.............................................. 6
BAB III PENUTUP
Kesimpulan................................................................................................ 13
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 14
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu
sarana peningkat kualitas hidup manusia. Lembaga pendidikan, sekolah misalnya
memegang peranan yang cukup penting dalam proses pendidikan. Guru sebagai
pelaksana pendidikan juga berperan sebagai pendidik sekaligus fasilitator yang
mengarahkan siswanya untuk mencapai tujuan pendidikan.
Untuk mencapai tujuan
pendidikan, seorang guru harus mengadakan evaluasi. Dengan evaluasi, maka maju
dan mundurnya kualitas pendidikan dapat diketahui, dan dengan evaluasi pula,
kita dapat mengetahui titik kelemahan serta mudah mencari jalan keluar untuk
berubah menjadi lebih baik ke depan Evaluasi pada dasarnya sebagai dasar
keputusan, menyusun kebijakan, maupun progam selanjutnya, keputusan apakah akan
dilanjutkan, diperbaiki atau dihentikan.
Evaluasi adalah suatu proses
merencanakan, memperoleh, dan rnenyediakan informasi yang sangat diperlukan
untuk membuat alternatif-alternatif keputusan. Berdasarkan pengertian tersebut
maka setiap kegiatan evaluasi atau penilaian merupakan suatu proses yang
sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data. Sehubungan dengan
hal tersebut di dalam proses pembelajaran perlu adanya teknik dalam menyusun
dan melaksanakan tes hasil belajar. Setelah tes hasil belajar (THB) di tulis
sesuai dengan kaidah penulisan butir THB yang baik dan kisi-kisi yang di
rencanakan, maka THB tersebut secara teoritik sudah baik. THB yang baik harus
teruji dalam dua tahap pengujian, yaitu secara teoritik dan empiric. Untuk
menguji apakah THB baik secara empirik maka harus di lakukan uji coba untuk
membakukan THB sebagai THB yang baik. Analisis di lakukan atas data hasil uji
coba baik dalam butir maupun perangkatnya.
B.
Rumusan Masalah
2.
Apa saja manfaat analisis butir tes hasil belajar?
3.
Bagaimana cara mengaanalisis butir tes hasil belajar?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian dari analisis butir tes hasil belajar
2.
Untuk mengetahui manfaat analisis butir tes hasil belajar
3.
Untuk mengetahui cara menganalisis butir tes hasil belajar
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Analisis Tes Hasil
Belajar
Kata tes berasal dari bahasa
Prancis kuno yang berarti piring untuk menyisihkan logam-logam mulia yang
dimaksud disini adalah dengan menggunakan alat berupa piring akan dapat
diperoleh jenis-jenis logam mulia yang bernilai tinggi. Dalam perkembangannya
dan seiirng kemujuan zaman tes berate ujian atau percobaan. Ada beberapa
istilah yang memerlukan penjelasan sehubungan dengan uraian diatas yaitu test,
testing, tester dan testee, yang masing-masing mempunyai pengertian berbeda
namun erat kaitannya dengan tes.
1.
Tes adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan
penilaian,
2.
Testing berarti saat dilaksanakannya pengukuran dan penilaian atau saat
pengambilan tes,
3.
Tester artinya orang yang melaksanakan tes atau orang yang diserahi untuk
melaksanakan pengambilan tes terhadap para responden,
4.
Testee adalah pihak yang sedang dikenai tes.
Suatu tes akan berisiskan
pertanyaan-pertanyaan dan atau soal-soal yang harus dijawab dan atau dipecahkan
oleh individu yang dites (testee), maka disebut tes hasil belajar (achievement
test). Berdasarkan pendapat itu, tes hasil belajar biasanya terdiri dari
sejumlah butir soal yang memiliki tingkat kesukaran tertentu (ada yang mudah,
sedang, dan sukar). Tes tersebut harus dapat dikerjakan oleh siswa dalam waktu
yang sudah ditentukan. Oleh karena itu, tes hasil belajar merupakan power test.
Maksudnya adalah mengukur kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan atau
permasalahan. Soal-soal yang terdapat dalam tes hasil belajar seharusnya
dilakukan analisis terlebih dahulu agar soal yang diberikan bersifat baik dan
bermutu.
Arikunto, Suharsimi (2010) berpendapat
bahwa kegiatan analisis butir soal merupakan kegiatan penting dalam penyusunan
soal agar diperoleh butir soal yang bermutu. Tujuan kegiatan ini adalah:
mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu
sebelum digunakan, meningkatkan kualitas butir tes melalui revisi atau membuang
soal yang tidak efektif, mengetahui informasi diagnostik pada siswa apakah
mereka telah memahami materi yang telah diajarkan. Soal yang bermutu adalah
soal yang dapat memberikan informasi setepat-tepatnya tentang siswa mana yang
telah menguasai materi dan siswa mana yang belum menguasai materi.[1] Selanjutnya menurut Purwanto (2009), analisis
butir soal dapat dilakukan secara kualitatif (berkaitan dengan isi dan
bentuknya) dan kuantitatif (berkaitan dengan ciri-ciri statistiknya). Analisis
kualitatif mencakup pertimbangan validitas isi dan konstruksi, sedangkan
analisis kuantitatif mencakup pengukuran validitas dan reliabilitas butir soal,
kesulitan butir soal serta diskriminasi soal. Kedua teknik ini masing-masing
memiliki keunggulan dan kelemahan, oleh karena itu teknik terbaik adalah
menggunakan atau memadukan keduanya. Dalam menganalisis hasil tes ada 4 cara
untuk menilai tes, yaitu :
1.
Meneliti secara jujur soal-soal yang sudah disusun, kadang-kadang dapat
diperoleh jawaban ketidak jelasan perintah atau bahasa, taraf kesukaran, dan
lain-lain keadaan soal tersebut.
2.
Mengadakan analisis soal (item analysis). Analisis soal adalah suatu
prosedur yang sistematis yang akan memberikan informasi-informasi yang sangat
khusus terhadap butir tes yang kita susun.
3.
Mengadakan checking validitas. Validitas yang paling penting dari tes
buatan guru adalah validitas kurikuler, kita harus merumuskan tujuan setiap
bagian pelajaran secara khusus dan jelas sehingga setiap soal dapat kita
jodohkan dengan setiap tujuan khusus tersebut.
4.
Mengadakan checking reliabilitas. Salah satu indicator untuk tes yang
mempunyai reliabilitas yang tinggi adalah bahwa kebanyakan dari soal-soal tes
itu mempunyai daya pembeda tinggi.[2]
B.
Fungsi Analisis Tes Hasil Belajar
Berdasarkan pendapat yang
diungkapkan oleh Anastasia dan Urbina (1997) dalam Suprananto (2012), analisis
butir soal memiliki banyak manfaat, diantaranya yakni:
1.
Membantu pengguna tes dalam mengevaluasi kualitas tes yang digunakan
2.
Relevan bagi penyusunan tes informal seperti tes yang disiapkan guru untuk
siswa dikelas,
3.
Mendukung penulisan butir soal yang efektif
4.
Secara materi dapat memperbaiki tes di kelas
5.
Meningkatkan validitas soal dan reliabilitas.
Selain itu, data hasil
analisis butir soal juga sangat bermanfaat sebagai dasar untuk:
1.
Diskusi tentang efisien hasil tes,
2.
Kerja remedial,
3.
Peningkatan secara umum pembelajaran di kelas,
4.
Peningkatan keterampilan pada kontruksi tes.
Berdasarkan uraian di atas
menunjukkan bahwa analisis butir soal memberikan manfaat:
1.
Menentukan soal-soal yang cacat atau tidak berfungsi dengan baik,
2.
Meningkatkan butir soal melalui tiga komponen analisis yaitu, tingkat
kesukaran, daya pembeda dan pengecoh soal
3.
Merevisi soal yang tidak relevan degan materi yang diajarkan, ditandai
dengan banyaknya anak yang tidak dapat menjawab butir soal tertentu.
C. Cara menganalisis butir tes hasil belajar
Penganalisisan terhadap
butir-butir soal dapat dilakukan dari tiga segi yaitu: teknik analisis
kesukaran item soal, teknik anallisis daya pembeda, dan teknik analisis fungsi
distraktor. Berikut penjelasannya:
1. Teknik analisis Kesukaran
Item Soal
Bermutu atau tidanya butir-butir soal, pertama-tama dapat diketahui dari
derajat kesukaran atau taraf kesulitan yang dimiliki oleh masing-masing butir
item tersebut. Butir-butir tersebut dapat dinyatakan sebagai butir-butir item
yang baik, apabila butir-butir item tersebut tidak terlalu sukar dan tidak pula
terlalu mudah dengan kata lain derajat kesukaran item itu adalah sedang atau
cukup. Bilangan yang menunjukan sukar dan mudahnya sesuatu soal disebut indeks
kesukaran (difficuly index). Besarnya indeks kesukaran antara 0,00 sampai
dengan 1,0. Indeks kesukaran ini menunjukkan taraf kesukaran soal. Soal dengan
indeks kesukaran 0,0 menunjukkan bahwa soal itu terlalu sukar, sebaliknya
indeks 1,0 menunjukkan bahwa soalnya terlalu mudah. Angka indeks kesukaran item
ini dapat diperoleh dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Dubois
yaitu:
P = Np/N
Keterangan:
P : Angka indeks kesukaran item soal Np : Banyaknya testee yang dapat menjawab dengan betul terhadap butir item yang bersangkutan N : Jumlah testee yang mengikuti tes Menurut ketentuan yang sering diikuti, indeks kesukaran sering di klasifikasikan sebagai berikut:
·
Soal dengan P 0,00 sampai 0,30 adalah soal sukar
·
Soal dengan P 0,30 sampai 0,70 adalah soal sedang
·
Soal dengan P 0,70 sampai 1,00 adalah mudah
2.
Teknink Analisis Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa
yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan
rendah). Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks
diskriminasi, disingkat D (d besar). Seperti halnya indeks kesukaran, indeks
diskriminasi (daya pembeda) ini berkisar antara 0,00 sampai 1,00. Daya pembeda
suatu butir menyatakan seberapa jauh kemampuan butir tersebut mampu membedakan
antara kelompok testi (siswa) pandai dengan kelompok testi (siswa) lemah. Daya
pembedaan (D) butir tes dihitung dengan rumus :
D = PH - PL
Keterangan:
D = Indeks Daya Pembeda
PH = Proporsi Siswa kelompok atas yang menjawab benar butir tes
PL = Proporsi siswa kelompok bawah yang menjawab benar butir tes
Daya pembeda ini sekurang-kurangnya harus berkualitas cukup kriteria yang
digunakan untuk menetukan indeks daya pembeda adalah sebagai berikut
Tabel 1 Penafsiran Indeks Daya Pembeda Kategori Indeks Daya Pembeda
:
0,40 < D Butir sangat baik
0,30 < D ≤ 0,40 Butir baik
0,20 < D ≤ 0,30 Butir cukup
D ≤ 0,20 Butir jelek
3. Analisis Fungsi Distraktor (Pengecoh)
Analisis butir juga dilakukan dengan memerhatikan pengecoh. Pengecoh
(distractor) yang juga dikenal dengan istilah penyesatatau penggoda adalah
pilihan jawaban yang bukan merupakan kunci jawaban.pengecoh bukan sekedar
pelengkap pilihan.Pengecoh diadakan untuk menyesatkan siswa agar idak mememilih
kunci jawaban pengecoh menggoda siswa yang kurang begitu memahami materi
pelajaran untuk memilihnya.Agar dapat melakukan fungsinya untuk mengecoh maka
pengecoh harus dibuat semirip mungkin dengan kunci jawaban.
Pengecoh dikatakan berfungsi efektif apabila paling tidak ada siwa yang
terkecoh memilih.Pengecoh yang sama sekali tidak dipilih tidak dapat melakukan
fungsinya sebagai pengecoh karena terlalu mencolok dan dimengerti oleh semua
siswa sebagai penggecoh soal. Pengecoh yang berdasarkan hasil uji coba tidak
efektif direkomendasikan untuk diganti dengan pengecoh yang lebih menarik.
Pada saat membicarakan tentang tes obyektif bentuk multiple choice item
telah dikemukakan bahwa pada tes obyektif multiple choice item tersebut untuk
setiap butir item yang dikeluarkan dalam tes telah dilengkapi dengan beberapa
kemungkian jawab, atau yang sering dikenal dengan istilah option atau
alternatif.
Option atau alternatif itu jumlahnya berkisar antara tiga smpai dengan lima
buah, dan dari kemungkinan – kemungkinan jawab yang terpasang pada setiap pada
setiap butir item itu salah satunya adalah merupakan jawaban betul atu disebut
dengan kunci jawaban; sedangakan sisanya adalah merupakan jawaban salah.
Jawaban salah itulah yang bisa dikenal dengan istilah distraktor (distraktor
merupakan jawaban pengecoh). Tujuan utama dari pemasangan distraktor pada
setiap butir item itu adalah agar dari sekian banyak testee yang mengikuti tes
ada yang tertarik atau terangsang uuntuk memilihnya, sebab mereka menyangka
bahwa distraktor yang mereka pilih itu merupakan jawaban betul. Jadi mereka
terkecoh, menganggap bahwa distraktor yang terpasang pada item itu sebagai
kunci jawaban item, pada hal bukan. Tentu saja,makin banyak testee yang
terkecoh, maka kita dapat menyatakan bahwa distraktor itu semakin dapat
menjalankan fungsinyadengan sebaik – baiknya. Sebaliknya, apabila distraktor
yang dipasang pada setiap butir item itu tidak laku maksudnya tak ada seorang
pun dari sekian banyak testee yang merasa tertarik atau terangsang untuk
memilih distraktor tersebut sebagai jawaban betul, maka hal ini mengandung
makna bahwa distraktor tersebut tidak menjalankan fungsinya dengan baik.
4. Analisis Butir Tes Pilihan
Ganda
Analisis butir adalah proses
menguji respon-respon siswa untuk masing-masing butir tes dalam upaya
menjustifikasi kualitas item. Kualitas item, khususnya direpresentasi oleh daya
beda item, tingkat kesukaran item, dan khusus untuk tes pilihan ganda tidak
kalah pentingnya adalah keefektifan pengecoh (Mehrens & Lehmann, 1984).
Untuk melakukan analisis butir, Guru dianjurkan melakukan langkah-langkah
berikut:
1) Periksa hasil pekerjaan siswa
dan berikan skor secara teliti dan cermat, kemudian masukkan skor-skor tersebut
dalam Tabel 2.
2) Urutkan skor siswa dari yang
tertinggi hingga yang terendah. Langkah ini dilakukan hanya mengubah skor-skor
pada Tabel 2 dengan mengurutkan dari skor tertinggi hingga terendah, seperti
pada Tabel 3.
3) Tetapkan kelompok atas (KA)
dan kelompok (KB) dari skor-skor siswa yang telah diurutkan seperti pada Tabel
2. Jumlah KA atau KB disesuaikan dengan jumlah responden seluruhnya. Untuk
jumlah responden relatif banyak (sekitar 100), dapat digunakan angka 30%, 27%,
25%. Tetapi untuk jumlah responden relatif sedikit, jumlah tersebut dapat
disesuaikan, bahkan jika hanya 40 orang, maka KA atau KB dapat ditetapkan 20.
4) Hitung jumlah siswa baik pada
KA maupun pada KB untuk masing-masing pilihan jawaban.
5) Sebagai contoh, misalkan
jumlah responden seluruhnya adalah 40, maka KA = 20 dan KB = 20. Jumlah siswa
pada KA dan KB yang menjawab pada masing-masing pilihan disajikan pada Tabel 4.
6) Hitung Ideks Kesukaran Butir
(IKB) dengan formula: dengan IKB = Ideks Kesukaran
Item, R = jumlah responden yang menjawab benar, dan T = jumlah responden
seluruhnya. IKB dapat bernilai 0,00-1,00; IKB: 0,00 – 0,20 adalah sangat sukar,
0,20-0,40 sukar, 0,40-0,60 sedang, 0,60-0,80 mudah, dan 0,80-1,00 sangat mudah.
Biasanya butir yang ditoleransi sebagai tes standar adalah yang memiliki IKB =
0,30-0,70. Berdasarkan contoh pada Tabel 4, maka IKB = 20/40x100% = 50% =
0,50. Berdasarkan kriteria IKB tersebut, maka butir yang memiliki IKB =
0,50 termasuk butir sedang, tetapi masih ditoleransi untuk dapat digunakan
sebagai butir standar. Apabila jumlah responden relatif banyak, maka Guru
menetapkan KA = KB = 27% dari jumlah responden seluruhnya. Misalkan N = 100,
maka KA = KB = 27, dan menurut formula (1), maka T = 54. Sedangkan R tentunya
menyesuaikan dengan jumlah siswa dari semua kelompok yang mampu menjawab benar.
Dengan demikian, IKB akan dapat dihitung dengan menggunakan formula (1).
7) Hitung Indek Dayabeda Butir
(IDB) dengan formula berikut: dengan IDB = Indeks Dayabeda
Butir, RKA = jumlah responden Kelompok Atas yang menjawab benar, RKB = jumlah
responden Kelompok Bawah yang menjawab benar, dan T = jumlah responden
seluruhnya. Nilai IDB bergerak dari –1,00 s.d +1,00. Apabila IDB bernilai
positif, butir tersebut memiliki dayabeda yang positif, yang berarti bahwa
porsi siswa yang lebih tahu tentang jawaban benar lebih besar dibandingkan
dengan porsi siswa yang tidak tahu. Apabila IDB bernilai nol, butir tersebut
memiliki dayabeda nol, artinya butir tersebut tidak mampu membedakan antara
siswa tahu jawaban benar dengan siswa yang tidak tahu. Hal ini terjadi, karena
beberapa hal, yaitu: (1) butir terlalu mudah atau terlalu sukar, sehingga mungkin
semua siswa salah atau semua siswa benar, (2) butir tersebut membingungkan
sebagai akibat konstruksinya ambigu (mungkin menimbulkan penapsiran ganda).
Apabila porsi siswa yang tidak tahu jawaban benar lebih banyak dibandingkan
dengan yang tahu, maka IDB menjadi negatif. Hal ini bisa terjadi mungkin
disebabkan karena konstruksi tes bersifat ambigu, atau kunci jawabannya yang
salah. Secara umum, semakin tinggi IDB suatu butir semakin besar kemungkinan
butir tersebut mampu membedakan antara siswa yang tahu jawaban benar dengan
siswa yang tidak tahu. Kriteria IDB dapat diacu, rentangan berikut, IDB:
0,00-20,00 adalah sangat rendah, 0,20-0,40 adalah rendah, 0,40-0,60 adalah
sedang, 0,60-0,80 adalah tinggi, 0,80-1,00 adalah sangat tinggi. Untuk tes
standar dianjurkan menggunakan tes yang memiliki IDB > 0,20. Untuk contoh
pada Tabel 4, berarti RKA = 12, RKB = 8, sehingga dapat dihitung IDB = 0,20,
yang beraktegori rendah.
8) Menentukan keefektifan pengecoh (distracters effectiveness). Kriterianya,
adalah pengecoh akan efektif apabila jumlah siswa KB lebih banyak memilih
dibandingkan jumlah siswa KA. Pada contoh Tabel 4, dapat diestimasi bahwa
pilihan A dan D adalah efektif, sedangkan pilihan B dan E tidak efektif.
5. Analisis Butir untuk Tes
Essai
Untuk tes essay, analisis butir hanya menyangkut IKB dan IDB.
Prosedur analisisnya adalah sebagai berikut.
1. Lakukan koreksi terhadap
semua jawaban responden pada semua butir tes, kemudian tabulasi ke dalam tabel
kerja, seperti Tabel 5. Pada Tabel 5, dicontohkan skor maksimum tiap item
adalah 5 dan skor minimumnya adalah 0.
2. Urutkan skor-skor responden
tersebut dari yang tertinggi ke yang terendah, seperti pada Tabel 6.
3. Berdasarkan Tabel 6, tetapkan
25% dari urutan nomor 1 ke bawah sebagai KA dan 25% dari urutan terakhir ke
atas sebagai KB.
4. Hitung jumlah skor-skor untuk
masing-masing butir baik pada KA maupun pada KB.
5. Tentukan IKB dan IDB
masing-masing dengan formula-formula berikut: dengan ∑H = jumlah skor
Kelompok Atas (KA), ∑L = jumlah skor Kelompok Bawah (KB), N = jumlah responden
pada KA atau KB, Scoremax = skor tertinggi butir, dan Scoremin = skor terendah
butir. Kriteria IKB dan IDB dapat diacu ketentuan yang berlaku pada analisis
butir tes pilihan ganda.
Sebagai contoh, misalkan
untuk sebuah butir tes yang dijawab oleh 30 responden pada KA dan KB, diperoleh
sebaran butir seperti pada Tabel 7. Berdasarkan data pada tabel 7, dan
dengan menggunakan formula (3) dan (4) dapat dihitung IKB dan IDB sebagai
berikut. Hasil analisis menunjukkan bahwa butir tes tersebut memiliki IKB dengan
kategori sedang dan IDB yang berkategori sangat rendah.
BAB III
KESIMPULAN
KESIMPULAN
1. Analisis butir tes hasil
belajar merupakan power test. yakni kegiatan yang dilakukan secara sistematis
terhadap butir tes yang diujikan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menjawab
pertanyaan atau permasalahan. Soal-soal yang terdapat dalam tes hasil belajar
seharusnya dilakukan analisis terlebih dahulu agar soal yang diberikan bersifat
baik dan bermutu.
2. Manfaat analisis butir tes
hasil belajar Menentukan soal-soal yang cacat atau tidak berfungsi dengan baik,
meningkatkan butir soal melalui tiga komponen analisis yaitu, tingkat
kesukaran, daya pembeda dan pengecoh soal dan merevisi soal yang tidak relevan
degan materi yang diajarkan yang ditandai dengan banyaknya anak yang tidak
dapat menjawab butir soal tertentu.
3. Tes hasil belajar biasanya
berupa soal-soal yang terdiri dari soal pilihan ganda dan soal uraian.
Penganalisisan terhadap butir-butir soal dapat dilakukan dari tiga segi yaitu
Teknik analisis kesukaran item soal Teknik anallisis daya pembedaTeknik
analisis fungsi distraktor
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2010.
Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan Ed. Revisi, Cet. II . Jakarta: Bumi Aksara
Purwanto. 2009. Evaluasi
Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Santyasa, I Wayan. 2005.
Analisis Butir Dan Konsistensi Internal Tes. Institut Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Negeri Singaraja
Sudjiono, Anas. 2007.
Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Suprananto, Kusaen. 2012.
Pengukuran dan Penilaian Pendidikan . Yogyakarta: Graha Ilmu.
[1] Arikunto, Suharsimi. 2010. Dasar – Dasar Evaluasi
Pendidikan Ed. Revisi, Cet. II. Jakarta: Bumi Aksara

Tidak ada komentar:
Posting Komentar