Hubungan
antara Taksonomi Tujuan Pendidikan dan
Evaluasi
Hasil Belajar
Dosen pengampu
: Dr. Ahmad Zain Sarnoto, M.Pd
(
Makalah ini di buat untuk pengambilan nilai Evaluasi Pendidikan )
Kelas
6 B01
Oleh
:
Nur
Annisa 2014 0286 2080 074
Fakultas
Agama Islam
Universitas
Islam Attahiryah Jakarta
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis haturkan kepada Allah atas segala
rahmat-Nya yang telah memberikan kesempatan waktu bagi penulis dalam menyusun
tugas makalah ini. dan shalawat beserta salam, penulis haturkan kepada
Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini ditulis penulis sebagai tugas mata kuliah
Evaluasi Pendidikan. Tiada
Manusia yang Sempurna, begitupun dengan makalah ini. Masih ada beberapa
kesalahan yang ada tanpa disadari oleh penulis, oleh karena itu penulis
harapkan akan adanya kritik dan saran atas makalah ini yang membangun. dan dari
penulis sendiri kami ucapkan terima kasih, dan semoga makalah ini bermanfaat
bagi kita semua.
Jakarta,
Juli 2017
Penyusun
DAFTAR
ISI
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang ………………………………………………………………….. 1
2. Perumusan
Masalah …………………………………………………………….. 1
3. Tujuan
Masalah ………………………………………..……………………..… 1
BAB II PEMBAHASAN
- Pengertian
Taksonomi……………….....................................................................
2
- Evaluasi Hasil
Belajar............................................................................................. 4
- Hubungan antara
Taksonomi Tujuan Pendidikan dan Evaluasi
Hasil Bleajar.......................................................................................................... 7
BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan
……………………………………………………………………… 8
2. Daftar
Pustaka…………………………………………………………………… 9
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pertanyaan pokok sebelum penilaian ialah apa yang
harus dinilai itu. Terhadap pertanyaan ini kita kembali pada unsur-unsur yang
terdapat dalam proses belajar-mengajar. Ada empat unsur utama proses
belajar-mengajar yakni tujuan-bahan metode dan alat sertta penilaian. Tujuan
sebagai arah dari proses belajar mengajar pada hakikatnya ada adalah rumusan
tingkah laku yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa setelah menerima atau
menempuh pengalaman belajarnya. Bahan adalah seperangkat pengetahuan ilmiah
yang dijabarkan dari kurikulum untuk disampaikan atau dibahas dalam proses
belajar-mengajar agar sampai kepada tujuan yang telah ditetapkan. Metode dan
alat adalah cara atau teknik yang dugunakan dalam mencapai tujuan. Sedangkan
penilaian adalah upaya atau tindakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah
ditetapkan itu tercapai atau tidak. Dengan kata lain, penilaian berfungsi
sebagai alat untuk mengetahui keberhasilan proses dan hasil belajar siswa.
Proses adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa
dalam tujuan pengajaran, sedangkan hasil belajar adalah kemampuan-kemapuan yang
dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Dalam sistem
pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun
tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom
yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah yakni ranah kognitif,
ranah afektif dan ranah psikomotoris.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa yang
dimaksud taksonomi tujuan pendidikan ?
2.
Apa yang
dimaksud evaluasi hasil belajar ?
3.
Apa
hubungan antara taksonomi tujuan pendidikan dan evaluasi hasil belajar ?
C. Tujuan
Penulisan
1.
Untuk
mengetahui apa itu Taksonomi Tujuan Pendidikan
2.
Untuk
mengetahui apa itu Evaluasi Hasil Belajar
3.
Untuk
mengetahui Hubungan antara Taksonomi tujuan pendidikan dan Evaluasi Hasil belajar
BAB II
PEMBAHASAN
A. Taksonomi
Tujuan Pendidikan
1.
Pengertian
taksonomi
Taksonomi berasal dari bahasa Yunani “tassein” yang
berarti untuk mengklasifikasi, dan “nomos” yang berarti aturan. Suatu
pengklasifikasian atau pengelompokan yang disusun berdasarkan ciri-ciri
tertentu. Klasifikasi berhirarki dari sesuatu, atau prinsip yang mendasari
klasifikasi. Klasifikasi bidang ilmu, kaidah, dan prinsip yang meliputi
pengklasifikasian objek.
2.
Arti dan
letak taksonomi tujuan pendidikan
Sejak lahirnya kurikulum PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan) yang kemudian disusul oleh lahirnya kurikulum tahun 1975, telah mulai tertanam kesadaran para guru bahwa tujuan pelajaran harus di rumuskan sebelum proses belajar-mengajar berlangsung. Jadi, tujuan pendidikan bukanlah sesuatu yang perlu di rahasiakan.
Sejak lahirnya kurikulum PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan) yang kemudian disusul oleh lahirnya kurikulum tahun 1975, telah mulai tertanam kesadaran para guru bahwa tujuan pelajaran harus di rumuskan sebelum proses belajar-mengajar berlangsung. Jadi, tujuan pendidikan bukanlah sesuatu yang perlu di rahasiakan.
Tujuan pendidikan dapat dirumuskan pada tiga
tingkatan yaitu:
·
Tujuan
umum pendidikan
·
Tujuan
yang didasarkan atas tingkah laku (taksonomi)
·
Tujuan
yang lebih jelas yang dapat dirumuskan secara operasional
3.
Taksonomi
Bloom
Model taksonomi Bloom merupakan salah satu
pengembangan teori kognitif, yang biasa sering dikaitkan dengan persoalan dalam
merumuskan tujuan pembelajaran dan masalah standar evaluasi atau pengukuran
hasil belajar sebagai pengembangan sebuah kurikulum. Taksonomi Bloom merujuk
pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali
disusun oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan
pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain
tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan
hirarkinya. Adapun prinsip dasar taksonomi tujuan pendidikan
menurut Bloom dan krathwohl, yaitu:
·
Prinsip
metodelogis
·
Prinsip
psikologis
·
Prinsip
logois
·
Prinsip
tujuan
Taksonomi tujuan pendidikan merupakan suatu
kategorisasi tujuan pendidikan, yang umumnya digunakan sebagai dasar untuk
merumuskan tujuan kurikulum dan tujuan pembelajaran. Taksonomi tujuan terdiri
dari domain-domain kognitif, afektif dan psikomotor.
Berbicara tentang taksonomi perilaku siswa sebagai
tujuan belajar, saat ini para ahli pada umumnya sepakat untuk menggunakan
pemikiran dari Bloom (Gulo, 2005) sebagai tujuan pembelajaran, yang dikenal
dengan sebutan taksonomi Bloom (Bloom’s Taxonomy).
Menurut Bloom perilaku individu dapat
diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) ranah, yaitu:
1. Ranah kognitif; ranah yang berkaitan
aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar, di dalamnya mencakup:
a)
pengetahuan (knowledge),
b) pemahaman (comprehension),
c) penerapan (application),
d) penguraian (analysis),
e) memadukan (synthesis),
f) penilaian (evaluation);
2. Ranah afektif; ranah yang berkaitan
aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral
dan sebagainya, di dalamnya mencakup:
a) Pandangan atau pendapat (oponion)
b) sikap atau penilaian (attitude,value)
3. Ranah psikomotor; ranah yang berkaitan
dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular
system) dan fungsi psikis. Ranah ini terdiri dari :
a) kesiapan (set),
b) peniruan (imitation),
c) membiasakan (habitual),
d) menyesuaikan (adaptation)
e) menciptakan (origination).
Taksonomi ini merupakan kriteria yang dapat digunakan
oleh guru untuk mengevaluasi mutu dan efektivitas pembelajarannya. Dalam setiap
aspek taksonomi terkandung kata kerja operasional yang menggambarkan bentuk
perilaku yang hendak dicapai melalui suatu pembelajaran.
B. Evaluasi
Hasil Belajar
1. Pengertian
Evaluasi
Evaluasi (bahasa
Inggris:Evaluation) adalah proses penilaian. Dalam perusahaan,
evaluasi dapat diartikan sebagai proses pengukuran akan efektifitas strategi yang digunakan dalam upaya mencapai tujuan perusahaan. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut
akan digunakan sebagai analisis situasi program berikutnya. Adapun
menururt ahli mereka mendefinisikannya sebagai berikut :
a. Guba dan Lincoln
(hamid hasan, 1988) mendefinisikan evaluasi itu merupakan suatu proses
memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan (evaluation).
b. Wiersma dan jurs evaluasi
adalah suatu proses yang mencakup pungukuran dan mungkin juga berisi
pengambilan keputusan tentang nilai.
c. Arikunto yang
menyatakan bahwa evaluasi merupakan kegiatan mengukur dan menilai.
Sedangkan evaluasi hasil belajar adalah
kegiatan atau cara yang ditujukan untuk mengetahui tercapai atau tidaknya
tujuan pembelajaran dan juga proses pembelajaran yang telah dilakukan. Pada
tahap ini seorang guru dituntut memiliki kemampuan dalam menentukan pendekatan
dan cara-cara evaluasi, penyusunan alat-alat evaluasi, pengolahan, dan
penggunaan hasil evaluasi.
Dari konsep yang di kemukakan oleh Guba dan Lincoln
diatas ada dua karakteristik evaluasi. Pertama, evaluasi
merupakan suatu proses, kedua evaluasi berhubungan dengan nilai.
b. Hasil
belajar sebagai objek penilaian
Pertanyaan pokok sebelum melakukan penilaian ialah
apa yang harus di nilai. Terhadap pertanyaan ini kita kembali kepada
unsur-unsur yang terdapat dalam proses belajar-mengajar. Dalam sistem
pendidikan nasioanal rumusan tujuan pendididikan, baik tujuan kurikuler maupun
tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Bloom yang
secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah yakni ranah kognitif, afektif
dan psikomotoris. Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar.
Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak nilai oleh para
pendidik di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam
menguasai isi bahan pengajaran. Selanjutnya, kami akan memaparkan masing-masing
dari ranah tersebut.
1) Penilaian ranah
kognitif terdiri atas :
a) Tipe hasil
belajar : pengetahuan
Istilah pengatahuan dimaksudkan sebagai terjemahan
dari kataknowledge dalam taksonomi Bloom, pengetahuan adalah aspek
yang paling dasar dalam taksonomi Bloom. Namun, tipe hasil belajar ini menjadi
prasarat bagi tipe hasil belajar berikutnya. Dalam jenjang kemampuan ini
seseorang di tuntut untuk dapat mengenali atau mengetahui adanya konsep, fakta,
dll tanpa harus mengetahui atau dapat menggunakannya. Bentuk soal yang sesuai
untuk mengukur kemampuan ini antara lain: benar-salah, menjodohkan isian atau
jawaban singkat dan pilihan ganda.
b) Tipe hasil
belajar: pemahaman
Kemampuan ini pada umumnya mendapat penekanan dalam
proses belajar-mengajar. Siswa dituntut memahami atau mengerti apa yang di
ajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat memanfaatkan
isinya tanpa harus menghubunkan dengan hal yang lain. Bentuk soal yang sering
di gunakan adalah pilihan ganda atau uraian. Kemampuan pemahaman dapat
dibedakan kedalam tiga kategori yaitu:
·
Menerjemahkan (translation)
·
Menginterprestasi (interprestation)
·
Mengekstrapolasi (extrapolation)
c) Tipe hasil
belajar: penerapan
Penerapan adalah pengguaan abstraksi pada situasi
yang kongkret atau situasi khusus. Dalam jenjang kemampuan ini peserta didik di
tuntut kesanggupan umum, tata cara, ataupun metode-metode, prinsip-prinsip,
serta teori-teori dalam situasi baru dan kongkret. Pengukuran ini umumnya
menggunakan pendekatan pemecahan masalah (problem solving)
d) Tipe hasil belajar:
analisis
Dalam jenjang kemapuan ini seseorang di tuntut untuk
dapat menguraikan situasi atau keadaan tertentu kedalam unsur-unsur atau
komponen-komponen pembentuknya. Kemampuan analisis diklasifikasikan atas tiga
kelompok yaitu :
·
Analisis
unsur
· Analisis hubungan
·
Analisis
prinsip-prinsip yang terorganisasi
e) Tipe hasil
belajar: sintetis
Pada jenjang ini seseorang dituntut untuk dapat
menghasilkan sesuatu yang baru dengan jalan menggabungkan faktor yang ada.
Hasil yang diperoleh dari penggabungan ini dapat berupa: tulisan dan rencana
atau mekanisme.
f) Tipe
hasil belajar: evaluasi
Dalam jenjang kemapuan ini seseorang dituntut untuk
dapat mengevaluasi situasi, keadaan, pernyataan, atau konsep berdasarkan suatu
kriteria tertentu. yang terpenting dalam evaluasi ialah menciptakan kriteria
tertentu. Yang penting dalam evaluasi ialah menciptakan kondisinya sedemikian
rupa sehingga siswa mampu mengembangkan kriteria standar, atau ukuran untuk
mengevaluasi sesuatu.
2. Penilaian ranah afektif
Ranah afektif
meliputi lima jenjang kemapuan yaitu:
a) Meneriama,
yakni semacam kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang
datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi, gejala, dll.
b) Menjawab,
yakni reaksi yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulasi yang datang dari
luar
c) Menilai,
yaitu yang berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau
stimulus.
d) Organisasi,
yakni pengembangan dari nilai kedalam satu sistem organisasi, termasuk hubungan
satu nilai dengan nilai lain, pemantapan dan prioritas nilai yang telah
dimilikinya.
e) Karakteristik
nilai atau internalisasi nilai, yakni keterpaduan sistem nilai yang telah
dimiliki sesorang , yang mempengaruhi kepribadian dan tingkah lakunya.
3. Penilaian ranah psikomotoris
Hasil belajar psikomotoris tampak dalam bentuk
keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Ranah psikomotoris
meliputi tiga tingkatan keterampilan yakni :
a) Keterampilan
motorik (muscular or motor skills) yaitu: memperlihatkan
gerak, menunjukan hasil, menggerakan, menampilkan, melompat dan sebagainya.
b) Manipulasi
benda (manipulation of materials or objects) : menyusun,
membentuk, memindahkan, menggeser, mereparasi, dan sebagainya.
c) Koordinasi
neuromuscular, menghubungkan, mengamati, memotong dan sebagainya.
C. Hubungan
antara taksonomi tujuan pendidikan dan evaluasi hasil belajar
Pada dasarnya kedua pengertian ini sama-sama
mempunyai tujuan yang sama dalam dunia pendidikan. Dengan objek yang sama yaitu
peserta didik, disini dibahas tentang bagaimana tujuan pendidikan tercapai dan
mengukur hasil akhir belajar dengan evaluasi. Dalam sistem pendidikan nasional
rumusan tujuan pendidikan membaginya menjadi tiga ranah, a) ranah kognitif, b)
ranah afektif, c) ranah psikomotoris. Semua ranah ini dilakukan untuk membantu
berjalannya kegiatan belajar mengajar agar tujuan pendidikan yang ditentukan
tercapai, begitu pula dengan evaluasi hasil belajar itu untuk membantu mengukur
seberapa mampu peserta didik menguasai materi yang diajarkan. Tujuan pengajaran
pada intinya adalah diperolehnya bentuk tingkah laku menjadi lebih baik, yang
belum tahu jadi lebih banyak tahu tentang ilmu pengetauan melalui belajar yang
di sampaikan oleh seorang pendidik.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan evaluasi dan taksonomi di atas dapat
diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Evaluasi dalam sistem pendidikan dan pengajaran
adalah komponen yang urgen yang harus dilakukan terutama untuk tujuan
mengetahui pencapaian keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran yang telah
dijalankan.
2. Tujuan pengajaran pada dasarnya adalah
diperolehnya bentuk perubahan tingkah laku baru pada peserta didik yang menurut
Benyamin S Bloom terbagi dalam tiga ranah tujuan pengajaran yakni ranah
kognitif, afektif dan psikomotorik yang dikenal dengan taksonomi Bloom.
3. Taksonomi Bloom dikembangkan dari teori
psikologi kognitif dan dirumuskan pertama kali tahun 1956. Setiap ranah/domain
tersusun atas kategori-kategori atau subkategori yang menunjukkan tingkat
kemampuan yang dapat ditunjukkan oleh peserta didik.
4. Dalam
evaluasi pendidikan taksonomi Bloom dapat digunakan sebagai acuan melakukan
penilaian secara lebih komprehensif dan terperinci mencakup ketiga ranah
(kognitif, afektif dan psikomotor) dan mencakup sub-sub kategorinya.
DAFTAR PUSTAKA
Ari Kunto Suharsisni, “Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan”,
Bumi Aksara ; jakarta : 2012
Daryanto , “Evaluasi Pendidikan”, Rineka
Cipta ; jakarta : 2008
Sanjaya Wina, “ Perencanaan & Desain
Sistem Pembelajaran”, Kencana Prenada Media Grup ; jakarta : 2010
Sudjana Nana, “ Penilaian Hasil Proses
Belajar Mengajar” , PT.Remaja Rusda Karya ; Bandung : 2006

Tidak ada komentar:
Posting Komentar