BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Masalah
Zaman sekarang yang semakin
berkembangnya teknologi berdampak pada pola pikir yang serba cepat dan instan.
Memang semakin maju dan semakin baik, tetapi disisi lain ada dampak negatif
yang sedang melanda negara kita, tentunya Negara Indonesia tercinta. Masalahnya
ialah bencana korupsi, kolusi, nepotisme.
Salah satu faktor bencana korupsi tersebut
karena tidak adanya sikap berlaku adil dan jujur dari dalam diri para
pejabat pemerintahan, yang serba instan membuat sikap tersebut jarang
diterapkan.
Menerapkan sikap adil dan jujur
sebenarnya tidaklah sulit. Dimulai dengan niat yang sungguh-sungguh dan
dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari, maka sifat itu akan tertanam pada diri
kita dengan sendirinya.
Untuk itu, dengan sulitnya sikap adil
dan jujur zaman sekarang karena berbagai faktor, kami akan membahas
sedikit tentang “Bersikap Adil da jujur” dengan berbagai sumber-sumber yabg
kami peroleh, agar mengetahui lebih dalam tentang sikap berlaku adil
dan jujur.
B.
Rumusan Masalah
1.Apa pengertian Berlaku adil
dan Jujur ?
2.Apa keutamaan berlaku adil
dan jujur ?
3.Apa Hikmah Berbuat adil dan
jujur ?
BAB II
PEMBAHASAN
Berlaku Adil dan Jujur
A.
Pengertian sifat keadilan
Keadilan barasal dari kata adil, artinya dapat
meletakkan sesuatu pada tempatnya. Misalnya dalam menetapkan hukum, yang salah
disalahkan dan yang benar di benarkan, dengan tidak membedakan yang diadili.
Sifat adil artinya, suatu sifat yang teguh, kukuh yang tidak menunjukkan
memihak kepada seorang atau golongan. Adil itu sikap mulia dan sikap yang lurus
tidak terpengaruh karena factor keluarga, hubungan kasih sayang, kerabat karib,
golongan dan sebagainya.
Sesungguhnya ALLAH SWT. maha adil dan ALLAH
SWT menetapkan bahwa setiap manusia masing-masing bertanggung jawab atas
perbuatannya sendiri. Seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain
dan tidak memperoleh pahalah selain apa yang diusahakannya sendiri. Terhadap
semua hasil seseorang itu, nantinya ALLAH SWT akan membalas dengan yang
setimpal dan penuh keadilan.
Sebagaimana dalam firman ALLAH SWT yang
artinya :
(yaitu) bahwasanya seorang berdosa tidak akan
memikul dosa orang ain dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain
apa yang telah diusahakan. dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan
(kepadanya). kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasanm yang paling
sempurna dan bahwasanya kepada tuhanmulaqh kesudahan (segala sesuatu).
Sesungguhnya ALLAH SWT menyuruh manusia untuk
berlaku adil sebagaimana firmannya yang artinya:
Sesungguhnya ALLAH menyuruh (kamu) berlaku
adil dan berbuat kebajikan, memberikan kepada kaum kerabat, dan ALLAH melarang
dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran
kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
Berlaku adil dapat dikelompokkan menjadi 4
yaitu
1.
Berlaku adil kepada ALLAH SWT.
Berlaku adil kepada ALLAH SWT. artinya harus
dapat menempatkan ALLAH pada tempat-Nya yang benar, yakni sebagai makhluk ALLAH
SWT, dengan teguh melaksanaka apa yang diwajibkan kepada kita, sehingga
benar-benar ALLAH sebagai tuhan kita.
Untuk mewujudkan keadilan kita kepada allah,
maka kita wajib beriman kepada ALLAH SWT, tidak menyekutukanNya dengan sesuatu
yang lain, mengimani Nabi Muhammad SAW sebagai utusannya. menjunjung tinggi
petunjuk dan kebenaran dari padanya, yaitu mengimani Al Qur’an sebagai
wahyu ALLAH, menaati ketentuannya yaitu melaksanakan perintahnya dan
meninggalkan larangan-larangannya. Menyembah kepadanya yaitu melaksanakan
Shalat, Zakat, Puasa dan sebagainya.
2.
Berlaku adil pada diri sendiri
Artinya menempati diri pribadi pada tempat
yang baik dan benar. Untuk itu kita harus teguh, kukuh menempatkan diri kita
agar tetap terjaga dan terpelihara daam kebaikan dan keselamatan. Jangan
menganiayah diri sendiri dengan mengikuti hawa nafsu, minum-minuman keras,
dusta, enggan berbuat baik dan jangan berbuat kemudharatan (keburukan) yang
akibatnya akan buruk pula pada kesehatan, jiwa harta dan kehormatan diri. kita
harus menjaga dan memelihara agar diri sendiri hidup selamat bahagia didunia
dan diakhirat kelak. Kita harus jujur- terhadap diri sendiri, jika diri kita
berbuat salah, kita harus berani mengoreksi.
3.
Berlaku adil kepada orang lain
Artinya menempatkan orang lain pada tempat
yang sesuai, layak dan benar. Kita harus memberi hak orang lain dengan jujur
dan benar, tidak mengurangi sedikitpun hak yang harus diterimah. Tidak boleh
menyakiti dan merugikan orang lain, baik berupa material maupun non material.
Kalau kita menjadi hakim, putuskanlah perkara yang adil. Kalau menjadi pelayan
masyarakat, maka layanilah itu dengan baik dan adeil.
4.
Berlaku adil kepada makhluk lain.
Artinya dapat menempatkan pada tempat yang
sesuai, misalnya adil pada binatang, harus menempatkannya pada tempat yang
layak menurut kebiasaan binatang tersebut. Jika memelihara binatang harus
disediakan tempat dan maka nannya yang memadai. Jika binatang itu akan
dimanfaatkan untuk kendaraan atau usaha pertanian, hendaknya dengan cara yang
wajar, jangan member beban yang malampaui batas. demikian pua jika hendak dimakan,
maka hendaklah disembelih dengan cara yang telah ditentukan oleh ajaran agama,
dengan cara yang baik yang tidak menimbulkan kesakitan bagi binatang itu.
Menjaga kelestarian lingkungan juga termasuk berbuat adil kepada makhluk lain.
B.
Keutamaan Berbuat Adil
Keutamaan berbuat adil adalah:
1.
Terciptanya rasa aman, tenang dan tentram
dalam jiwa dan ada rasa khawatir kepada orang lain, karena tidak pernah
melakukan perbuatan yang merugikan atau menyakiti orang lain.
2.
Membentuk pribadi yang dapat melaksanakan
kewajiban dengan baik, taat dan patuh kepada ALLAH SWT, melaksanakan
perintahnya dan menjauhi larangannya.
3.
Menciptakan ketenteraman dan kerukunan hidup,
hubungan yang harmonis dan tertib dengan orang lain.
4.
Dalam memanfaatkan alam sekitar untuk
kemasyalatan dan kebaikan hidup di dunia dan di akhirat.[1]
C.
Kewajiban Berlaku Adil
Wahai manusia bertakwalah
kepada Allah, dan ketahuilah bahwa Allah ta’ala memerintahkan berbuat adil dan
mengabarkan bahwa Ia mencintai orang-orang yang adil. Allah ta’ala
berfirman :”Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil dan baik”.
(AnNahl : 90) “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang adil”. (AlMaidah
:42) Adil adalah sikap tengah-tengah dalam segala sesuatu dan keadilan adalah
karakter yang mengharuskan seseorang menjaga diri dari hilangnya kehormatannya.
Rasulullah berkata “Orang yang adil di sisi Allah di atas mimbar dari cahaya,
mereka adalah orang-orang yang adil dalam hokum dan keluarga”. (HR.
Muslim) Sungguh kedudukan adil dalam Islam sangat agung dan pahalanya
banyak di sisi Allah. Keadilan itu banyak macamnya dan tiap orang haruslah adil
sesuai dengan tanggung jawabnya dalam kehidupan ini. Maka seorang pemimpin
wajib adil terhadap rakyatnya. Allah ta’ala berfirman :
”Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu
menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan memerintah kamu apabila
menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil,
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.”. (An-Nisa :58)
D.
Pengertian Jujur
Kata jujur sudah tidak asing
lagi bagi kita, karena hampir setiap hari mendengar kata jujur. Namun belum
tentu tahu makna jujur dan tentunya sudah banyak yang tahu atau
mengerti tentang makna jujur, ada juga di kalangan masyarakat kalau ditanya
tentang jujur, ia tahu tetapi tidak bisa mengartikan jujur dengan merangkai
kata-kata untuk menjadi kalimat yang mendefinisikan tentang jujur.
“Jujur adalah
sebuah kata yang telah dikenal oleh hampir semua orang. Bagi yang telah
mengenal kata jujur mungkin sudah tahu apa itu arti atau makna dari kata jujur
tersebut. Namun masih banyak yang tidak tahu sama sekali dan ada juga hanya
tahu maknanya secara samar-samar. Berikut saya akan mencoba memberikan
pemahaman sebatas mampu saya tetang makna dari kata jujur ini”
Jujur itu merupakan sifat yang
tertanam dalam diri manusia antara menyampaikan dengan kenyataan itu sama tanpa
ada tambahan atau kurang satu patah kata pun. Maka jika apapun yang terjadi
seseorang tersebut talah mengakuinya, entah itu membuat orang lain senang atau
justru membuat orang lain tersakiti.
Ada pepatah jawa mengatakan
“Jujur ajur” atau dalam bahasa Indonesia “Jujur akan hancur” maksudnya dari
kata-kata tersebut ialah jika seseorang bersikap jujur tetapi justru membuatnya
hancur dengan apa yang telah menjadi tujuannya. Pepatah tersebut memang
mengunutngkan tetapi yang namanya jujur pasti akan ketahuan juga. Maka
sebaiknya kita selalu bersikap jujur walaupun itu pahit.
“Jika kejujuran kita membuat
resah hati seseorang, jika keterusterangan kita mengganggu tidur malam seseorang,
jika apa yang keluar dari suara hati ini menjadikan diri orang lain tersakiti.
Maka mohonlah maaf pafanya, atas ketidakkuasaan hati untuk memendam perasaan.
Kejujuran memang berat, dan terkadang kita dibuat tidak berdaya dan serba salah
dengan kejujuran itu sendiri. Antara ya dan tidak, antara suka dan benci,
antara menerima dan menolak, antara mengakui dan menutupi, sulit memang untuk
bisa mengatakan “tidak” tanpa harus menyakiti kesucian hati. Kalau penulis
sendiri ditanya seperti itu, sementara hati ini belum berpikir ke situ, penulis
pun akan.”
Jika tidak sama antara
penyampaian dan kenyataan maka dapat dikatakan berdusta atau bohong.
Sebenarnya jika tidak jujur, sama saja tidak percaya dengan kemampuan diri
sendiri atau boleh di bilang tidak ada rasa kepercayaan diri, dan telah
membohongi diri sendiri dan juga orang lain yang bersangkutan. Hal itu tidak
baik untuk kebiasaan sehari hari jika tidak ada rasa kejujuran, dan hidup
ini akan selalu menggantungkan kepada orang lain untuk menjalani kehidupan
sehari-hari.
“Jujur adalah tidak berbohong.
Ya benar sekali, jujur adalah tidak berbohong. Sesederhana itu saja. Meskipun
dalam prakteknya, kadang sesuatu yang simpel itu tiba tiba berubah menjadi
rumit. Penyebabnya macam macam. Dan saya rasa, kita bisa menalarnya sendiri
tentang itu”.[3]
E.
Bentuk, macam, dan aneka pegelompokan
kejujuran
1.
Jujur niat dan kemauan (shidqu an-niyyah wa al-'azm)
Adalah melakukan segala sesuatu dilandasi
motivasi dalam kerangka hnaya mengharap ridha Allah swt. Nilai sebuah amal di
hadapan Allah swt. sangat ditentukan oleh niat atau motivasi seseorang.
Rasulullah saw. dalam sebuah hadits yang sangat populer menyatakan bahwa
sesungguh-nya segala amal manusia ditentukan oleh niatnya. Selain itu, seorang
muslim harus senantiasa menimbang-nimbang dan menilai segala sesuatu yang akan
dilakukan apakah benar dan bermanfaat. Apabila ia sudah yakin akan kebenaran
dan kemanfaatan sesuatu yang akan dilakukan, maka tanpa ragu-ragu lagi akania
lakukan. Kadang sesuatu yang benar belum tentu bermanfaat di masyarakat
tertentu. Demikian juga sesuatu yang bermanfaat belum tentu benar. Oleh karena
itu, pertim-bangan benar dan bermanfaat secara bersamaan perlu dikedepankan.
2.
Jujur dalam perkataan (shidqu al-lisan)
Jujur dalam bertutur kata adalah bentuk
kejujuran yang paling populer di tengah masyarakat. Orang yang selalu berkata
jujur akan dikasihi oleh Allah swt. dan dipercaya oleh orang lain. Sebaliknya,
orang yang berdusta, meski hanya sekali apalagi sering berdusta maka akan
kehilangan kepercayaan dari masyarakat. Rasulullah mengingatkan:
عَنْ
عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :«
اضْمَنُوا
لِى سِتًّا مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَضْمَنُ لَكُمُ الْجَنَّةَ اصْدُقُوا إِذَا
حَدَّثْتُمْ وَأَوْفُوا إِذَا وَعَدْتُمْ وَأَدُّوا إِذَا اؤْتُمِنْتُمْ
وَاحْفَظُوا فُرُوجَكُمْ وَغُضُّوا أَبْصَارَكُمْ وَكُفُّوا أَيْدِيَكُمْ
"Jaminlah kepadaku enam perkara dari dirt kalian, niscaya aku men-jamin bagi kalian surga: jujurlah jika berbicara, pemihilah jika berjanji, tunaikan jika dipercaya, jagalah kemahian kalian, tiinduk-kanlah pandangan, dan tahanlah tangan kalian" (HR. Ahmad)
"Barangsiapa berkata
kepada anak kecil, kemari soya beri korma ini, kemudian dia tidak memberinya,
maka dia telah melakukan kebo-hongan" (HR. Ahmad) Orang yang sering
mengingkari janji juga akan kehilangan kepercayaan orang lain, bahkan akan
mendapatkan label munafik, sebagaimana sabda Rasulullah:“Ciri-ciri orang
munafik ada tiga, yaitu: jika berkata ia dusta, jika berjanji, ia ingkar, dan
jika dipercaya, ia berkhianat” (HR. Bukhari Muslim)
Sementara itu, Allah memberi
pujian orang-orang yang jujur dalam berjanji. Dia memuji Nabi Ismail a.s. yang
menepati janji-nya sebagai berikut:
“Dan ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ismail di dalam al-Qur 'an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang jujur janjinya, dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi” (Qs. Maryam: 54)
“Dan ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ismail di dalam al-Qur 'an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang jujur janjinya, dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi” (Qs. Maryam: 54)
3.
Jujur dalam bermu'amalah (shidq al-mu 'amalah)
Jujur dalam niat, lisan dan jujur dalam
berjanji tidak akan sempurna jika tidak dilengkapi dengan jujur ketika
berinteraksi atau bermu'amalah dengan orang lain. Seorang muslim tidak pernah
menipu, memalsu, dan berkhianat sekalipun terhadap non muslim.
Ketika ia menjual tidak akan me-ngurangj
takaran dan timbangan. Pada saat membeli tidak akan memperberat timbangan dan
menambah takaran. Orang yang jujur dalam bermu'amalah juga senantiasa bersikap
santun, tidak sombong dan tidak pamer (riya). Jika orang tersebut melakukan
atau meninggalkan sesuatu, semuanya da¬lam koridor Allah swt.Ia tidak tamak dan
serakah dalam bermu'amalah. Barang siapa yang selalu bersikap jujur dalam
bermu'amalah maka dia akan menjadi kepercayaan masya¬rakat. Semua orang akan
merasa nyaman dan aman berinteraksi dan bermu'amalah dengannya.
4.
Jujur dalam berpenampilan sesuai kenyataan
(shidq al-hal)
Seorang yang jujur akan senantiasa menampilkan
diri apa adanya sesuai kenyataan yang sebenarnya. Ia tidak memakai topeng dan
baju kepalsuan, tidak mengada-ada dan menampilkan diri secara bersahaja. Rasulullah
saw. bersabda:
عَنْ
أَسْمَاءَ أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي ضَرَّةً فَهَلْ
عَلَيَّ جُنَاحٌ إِنْ تَشَبَّعْتُ مِنْ زَوْجِي غَيْرَ الَّذِي يُعْطِينِي فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ
يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ
“Seorang perempuan bertanya, :
Ya Rasulullah, aku mempunyai kebutuhan. Maka apakah aku berdosa jika aku
berpura-pura telah dicukupi kebutuhanku oleh suamiku dengan apa yang tidak
diberikan kepadaku? Rasul bersabda : orang yang berpura-pura tercukupi dengan
apa yang tidak diterimanya sama dengan orang yang memakai dua pakaian palsu” (HR Bukhari)
Maksud hadits ini adalah orang
yang berhias dengan sesuatu yang bu-kan miliknya supaya kelihatan kaya, ia sama
seperti orang yang memakai dua kepribadian. Orang yang memiliki sifat shidq
al-hal tidak akan memak-sakan diri untuk memiliki dan menikmati sesuatu yang di
luar jangkauan kemampuannya. Dia sudah merasa cukup dan bersyukur dengan apa
yang telah dimilikinya sembari berikhtiar untuk menggapai keinginan-keinginan
yang diharapkannya .
F.
Hikmah Jujur
1.
Jujur adalah tindakan yang mulia.
2.
Dengan jujur kita akan dipercaya orang lain.
Jika ada orang yang memberi amanah atau tugas kepada kita, kalau kita jujur.
Maka orang itu dengan rasa penuh percaya memberikan amanah atau tugas itu
kepada kita.
3.
Dengan bertindak maupun berkata jujur. Kita
tidak akan membohongi diri sendiri maupun orang lain.
4.
Dengan jujur hidup kia tidak akan terasa
was-was. Karena tidak di tutupi oleh kebohongan.
5.
Kalau kita pernah berbohong sekali, maka kita
akan berbohong lagi untuk menutupi kebohongan sebelumnya.
6.
Orang jujur lebih tinggi kehormatannya
dibandingakan dengan orang yang tidak jujur atau berbohong.[4]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sifat adil artinya, suatu sifat
yang teguh, kukuh yang tidak menunjukkan memihak kepada seorang atau golongan.
Adil itu sikap mulia dan sikap yang lurus tidak terpengaruh karena factor
keluarga, hubungan kasih sayang, kerabat karib, golongan dan sebagainya.Berlaku
adil dapat dikelompokkan menjadi 4 yaitu :
1.
Berlaku adil kepada ALLAH SWT.
2.
Berlaku adil pada diri sendiri
3.
Berlaku adil kepada orang lain
4.
Berlaku adil kepada makhluk lain.
Kejujuran merupakan sifat yang tertanam pada
diri manusia yang pada dasarnya kemauan pada diri manusia itu sendiri dengan
membiasakan diri dan rasa kepercayaan diri yang kuat akan cenderung berdampak
positif dari pada negative. Jika menerapkan sikap jujur, secara tidak langsung
kita telah melatih kemampuan kita. Sampai dimana kemampuan kita? Itu pernyataan
yang akan timbul dan terjawab sendiri dengan hasil yang di peroleh.
DAFTAR PUSTAKA
Soeyoeti, Zarkowi. Pendidikan
Agama Islam. Jakarta: Direktora Jendral Pembina Kelembagaan Agama Islam.
1995/1996
[1] . Soeyoeti, Drs. H
Zarkowi.1995/1996.pendidikan agama islam untuk smu.jakarta:direktora
jendral Pembina kelembagaan agama islam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar