Jumat, 08 Mei 2020

MAKALAH SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM (Masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah)


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Tidak banyak para ahli pendidikan Islam mengungkapkan atau membahas pendidikan Islam sebelum masa kenabian ke-publik. Barangkali pemahaman itu telah sama-sama dimengerti, bahwa pendidikan Islam hanya ada ketika Islam telah menjadi nubuah Muhammad saw, sehingga konotasinya, hanya setelah diangkat jadi Nabi saja Muhammad saw dikatakan telah menjadi Islam atau muslim. Maka, pendidikan Islam serta merta pula mengawali periodenya, karena sang pemula adalah seorang yang beragama Islam. Berangkat dari pemahaman seperti demikian, boleh dikatakan, dengan sendirinya, disetiap aktifitas Muhammad saw merupakan proses pendidikan Islam itu sendiri. Dimulai dari dakwah Muhammad saw secara sembunyi-sembunyi hingga perintah dakwah terang-terangan kepada masyarakat Arab secara khusus dan untuk manusia secara umum.
Dengan demikian, maka pemahaman tersebut akan sedikit terusik bila disodorkan sebuah pertanyaan, apakah sebelum Muhammad saw diangkat secara resmi oleh Allah swt menjadi utusanNya, tidak beragama Islam atau seorang Muslim? Jika diikuti pengertian muslim sebagai orang yang berserah diri kepada Allah swt, sebagaimana para nabi dan rasul terdahulu juga menyebut dirinya seorang muslim. Maka Muhammad saw secara terang-terangan memang belum pernah menyebutkan dirinya seorang muslim, kecuali setelah diangkat jadi utusanNya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Sejarah Pendidikan Islam pada masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah
2.      Lembaga Pendidikan Islam yang di dirikan pada masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah
3.      Metode Pendidikan Pada Masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah

C.    Tujuan
1.         Untuk memberikan wawasan tentang Sejarah Pendidikan Islam pada masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah
2.         Untuk memberikan wawasan tentang Lembaga Pendidikan Islam yang di dirikan pada masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah
3.         Untuk memberikan wawasan tentang Metode Pendidikan Pada Masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah Pendidikan Islam pada masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah

1.    Sejarah Pendidikan Islam pada masa Rasulullah:
Pendidikan islam pada masa nabi muhammad saw. Dibedakan menjadi dua periode yaitu periode mekkah dan periode madinah. Pokok pembinaan pendidikan islam di kota Makkah adalah pendidikan tauhid, titik beratnya adalah menanamkan nilai-nilai tauhid ke dalam jiwa setiap individu muslim, agar jiwa mereka terpancar sinar tauhid dan tercermin dalam perbuatan dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.
Pokok pembinaan pendidikan islam di kota Madinah dapat dikatakan sebagai pendidikan sosial dan politik. Yang merupakan kelanjutan dari pendidikan tauhid di Makkah, yaitu pembinaan di bidang pendidikan sosial dan politik agar dijiwai oleh ajaran , merupakan cermin dan pantulan sinar tauhid tersebut.
Kondisi sosial budaya, ekonomi, politik, keberagaman, dan pendidikan masyarakat arab sebelum islam :
1.      Sosial Budaya
Masyarakat arab sebelum islam disebut masyarakat jahiliyah. Masyarakat jahiliyah menerut phillip k. Hitti adalah suatu masyarakt yang dikelnal dengan masa kebodohan, ketidaktahuan, atau kebiadaban. Pada saat itu masyarakat arab tidak pandai baca-tulis. Mereka juga memeluk agma watsani, yang bertuhanan kepada banyak berhala serta dikenal dengan prilaku kasar, bermoralitas rendah.kekuasaan yang berlaku saat iu adalah sistem diktator. Hasan ibrahim hasan, menjelaskan lebih lanjut, bahwa kondisi kemasyarakatan arab jahiliyah adalah, adanya solidaritas atara sesama anggota auatu kabilah lain sama sekali tidak ada.
2.      Ekonomi
Ekonomi mengikuti kondisi sosial, yang bisa dilihat dan jalan kehidupan bangsa arab. Pandangan merupakan sarana yang paling dominan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sementara kondisi yang aman sebenarya tidak perna terwujud dijazirah arab kecuali bulan-bulan suci. Menurut abudin nata dan fauzan, dalam hal perekonomian bangsa arab pra-islam, berada dalam kondisi kesesatan, terlihat dari sikap mereka dalam menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang atau sesuatu yang diperlukan, seperti mencuri, berjudi, merampok, menipu,mmeras, atau melipatgandakan bunga (riba) kepada orang yang meminjam uang kepadanya.
3.      Politik
Bangsa arab sebelum islam, belum mengenal sistem pemerintahan yang lengkap seperti pada masa sekarang, kalaupun ada belum belum sempurna oraganisasi politiknya, menurut hasan ibrahim, mereka tidak memiliki peradilan tempat memperoleh kepastian hukum tentang suatu kasus atau memvonis suatu tindakan pelangaran. Kesesatan dalam bidang politik antara lain terlihat dalam sikap mereka (para penguasa) yang diktator, otoriter, zalim, dan korup.
4.      Keberagamaan
Keberagamaan mayoritas bangsa arab jahiliyah sudah jauh dari kekayaan yang dibawa oleh nabi ibrahim yaitu menyakini adanya Allah SWT sebagai rabb al-alamin. Mereka menganut agama watsani (penyembah bahala). Setiap kabilah atau suku mempunyai patung (bahala) sendiri sebagai pusat penyembahan. Diantaranya ada yang disebut shanam,  berhala berbentuk manusia, terbuat dari logam atau kayu, wathan terbuat dan batu dan nushud adalah batu karang tanpa suatu bentuk tertentu.

Pada masa Rasulullah dibagi menjadi dua periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah.
a.       Periode Mekkah
Lembaga Pendidikan Islam, adapun lembaga pendidikan Islam adalah rumah Al-Arqom Ibn Abi Arqom. Rumah Al-Arqom ibn Abi Arqam adalah tempat pertama berkumpulnya kaum muslimin beserta Rasulullah untuk beajar hokum-hukum dan dasar-dasar ajaran Islam. Rumah ini merupakan lembaga pendidikan pertama atau madarasah yang pertama sekali dalam Islam, adapun yang mengajar di lembaga tersebut adalah Rasulullah sendiri.
Materi pendidikan Islam, dengan turunnya perintah kepada Nabi supaya mengajarkan Islam kepada kerabat nabi dan umatnya secara luasdan terang-terangan maka nabi bukan hanya berdakwah di lingkungan keluarga dan dikalangan penduduk Mekkah saja, tetapi juga pada penduduka di luar Mekkah, terutama mereka yang dating ke Mekkah. Baik dalam rangka ibadah haji maupun perdagangan. Sedangkan materi pendidikan Islam pada waktu itu adalah:
Tauhid: Bahwa Allah pencipta alam semesta yang sebenarnya, Allah yang memberikan Nikmat, Allah telah membimbing dan mendidika manusia dengan kasih sayang, Allah adalah Malik (Raja), Allah yang membimbing dan member pettunjuk pada manusia.
Al-Qur’an: dalam pembelajaran Al-Qur’an kepada umatnya Nabi Muhammmad  SAW selalu menganjurkan pada umatnya supaya Al-Qur’an di hafal dan selalu di baca, dan diwajibkan membacanya dan ayat-ayatnya dalam shalat. Selanjutnya untuk memantapakan al-qur’an dalam hafalan mereka, nabi Muhammad SAW selalu mengadakan evaluasi terhadap hafalan sahabat tersebut.
b.      Periode Madinah
Lembaga Pendidikan Islam setelah Nabi Hijrah Ke Madinah, disamping kuttab adalah masjid dan Suffah. Masjid, sebagai kegiatan Nabi Muhammad SAW bersama kaum muslimin, Nabi secara bersama membina masyarakat baru, masyarakat yang disinari oleh tauhid, dan mencerminkan persatuan dan kesatuan umat. Di masjid itulah beliau bermusyawarah mengenai berbagai urusan, mendirikan shalat berjamaah, membacakan al-qura’an maupun membacakan ayat-ayat yang baru diturunkan. Dengan demikian, masjid itu merupakan pusat pendidikan pusat pendidikan dan pengajaran.
Suffah, pada masa Rasulullah SAW, shuffah adalah suatu tempat yang telah dipakai utnuk aktifitas pendidikan. Biasanya tempat ini menyediakan pemondokan bagi pendatang baru dan mereka yang tergolong miskin. Disini para siswa diajarkan membaca dan menghapalkan al-qu’ran secra benar, dan diajarakan pula islam dibawah bimbingan langsung dari nabi. (Ramayulius,2011).

2.      Sejarah Pendidikan Islam pada masa Khulafaurrasyidin:
ketika Rasulullah SAW masih hidup, ia tidak meninggalkan pesan apapun sebagai pengantinya. Sewaktu Rasulullah wafat masalah tersebut cukup serius dibicarakan oleh kaum muslimin. Para pembuka islam bahwa pengganti beliau disebut khalifah. Berate pengganti khalifah sebagai pengganti hanya menggantikan nabi Muhammad sebagai pemimpin agama dan pemimpin pemerintahan. Sedangkan sebagai nabi dan Rasul Muhammad tidak bisa digantikan karena beliau adalah Nabi dan Rasul yang terakhir.ada empat orang khalifah pengganti beliau, dan keempat khalifah tersebut disebut khulafah Al-Rasidin. Keempat khalifah tersebut adalah Abu Bakar Sidiq, Abu Bakar Umar bin Khattab, Usman Bin Affan, dan Ali Bin Abi Thalib.

1.      Pada Masa Abu Bakar Ash-sidiq
Banyak para sahabat yang hafal Al-Qur’an meninggal atau gugur dalam menegakkan agama Islam. Pendidikan Islam pada masa itu belum ada yang secara formal, maka Umar bin Khattab menyarankan khalifah Abu Bakkar Ash-sidiq untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian untuk merealisasikan saran tersebut, di putuskan Zaid bin Tsabit ditugaskan untuk mengumpulkan semua tulisan Al-Qur’an yang masih berserakan. lembaga pendidikan masih sama dengan lembaga pendidikan pada masa Nabi, namun dari segi kualitas dan kuantitasnya sudah banyak mengalami perkrmbangan, diantaranya: 1) Kuttab, pada masa Abu Bakar lembaga pendidikan mencapai tingkat kemajuan yang berarti. Kemajuan lembaga kuttab ini terjadi ketika umat muslim telah menaklukan beberapa daerah dan menjalin kontak dengan bangsa-bangsa yang lebih maju lembaga  pendidikan ini menjadi sangat penting sehingga para ulama berpendapat bahwa mengajarkan Al-Qur’an merupakan fardhu kifayah. Materi pendidikannya: membaca, menulis dan menghafal Al-Qur’an , pokok-poko agama seperti keimana, ibadah, akhlak dan muamalat. 2) Masjid, merupakan lembaga pendidikan lanjutan setelah anak-anak tamat belajar dari kuttab. Di masjid ini ada dua tingkat pendidikan, yaitu tingkat menengah dan tingkat tinggi. Yang membedakan kedua tingkat tersebut adalah tingkat menengah, gurunya belum mencapai status guru besar.  Sedangkan pada tingkat tinggi, pengajarnya adalah ulam yang mempunyai pengetahuan yang mendalam dan integritas kesalehan dan keimanan yang diakui oleh masyarakat. Materinya adalah Al-Qur’an dan tafsirnya, hadis dan syarahnya serta fiqh.

2.      Pada Masa Umar bin Khattab
Lembaga pendidikan pada masa khalifah Umar bin Khattab, sama dengan masa Abu Bakar. Namun dari segi kemajuan pendidikan begitu pesat, sebab selama Umar bin Khattab pemerintah Negara dalam keadaan stabil dan aman, hal ini menyebabkan ditetapkannya masjid sebagai pusat pendidikan, dan juga terbentuknya pusat-pusat pendidikan di berbagai kota. Materi pendidikan pada masa Umar bin Khattab adalah materi pada kuttab pada masa Abu Bakar dan di tambah dengna beberapa mata pelajaran dan keterampilan. Ketika Umar bin Khattab di angkat menjadi khalifah, ia menginstruksikan pada pendidik agar anak-anak di ajarkan: berenag, mengendarai onta, memanah, membaca, menghafal syair-syair yang mudah dan pribahasa. Materi pendidikan pada tingkat menengah dan tingkat tinggi terdiri dari adalah Al-Qur’an dan tafsirnya, hadis dan syarahnya serta fiqh (tasyri). Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan duniawi dan ilmu filsafat belum dikenal pada masa itu. Hal ini dimungkinkan mengingat konstruk social masyarakat ketika itu masih dalam pengembangan wawasan keislaman yan lebih difokuskan pada pemahaman al-quran dan hadist secara literal. Pendidik pada masa Umar bin Khattab pada masa khalifah umar yang menjadi pendidik adalah beliau sendiri, serta guru-guru yang beliau angkat. Umra merupakan seorang pendidik yang sering melakukn penyukuhan pendidikan dikota madinah. Beliau juga menerapkan pendidikan dimasjid-masjid dan ;pasar-pasar serta mengangkat dan menunjuk guru-guru untuk  tiap daerah yang ditaklukan itu, dengan mengajar tugas isi al-quran dan ajaran islam lainya, seperti fiqih kepada penduduk yang baru masuk islam, disamping bekiau sendiri sebagai pendidikan.

3.      Pada Masa Usman bin Affan
Pada masa khalifah Usman kedudukan peradaban Islam tidak jauh berbeda demikian juga pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Para sahabat diperbolehkan dan diberi kelonggaran meninggalkan Madinah untuk mengajarkan ilmu-ilmu  yang dimiliki. Dengan tersebarnya sahabat-sahabat besar keberbagai daerah meringankan umat Islam untuk belajar Islam kepada sahabat-sahabat yang tahu banyak ilmu Islam di daerah mereka sendiri atau daerah terdekat.
Pada masa khalifah usman bin affan pelaksanaan pendidikan islam ditinjau dari aspek lembaga dan materi, tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. pendidikan dimasa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada sebelumnya, namun sedikit terjadi perubahan yang mewarnai pendidikan islam. Pola pendidikan pada masa usman ini lebih merakyat dan lebih mudah dijangkau oleh seluaruh peserta didik yang ingin yang mempelajari ajaran islam karena pusat pendidikan lebih banyak, sebab pada masa ini para sahabat bisa memilih tempat yang mereka inginkan untuk memberikan pendidikan kepada masayarakat. Pelaksanaan pendidikan pada masa ini diserahkan pada masyarakat, dengan masyarakatla yang lebih banyak inisiatif dalam melaksanakan pendidikan termaksud pengangkatan para pendidik. Walaupun demikian ada usaha yang sangat cemerlang yang menentukan yang dilakukan Usman bin Affan, yang sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan islam dimasa yang akan dating, usaha tersebut adalah terjadinya kodifikasih al-quran.

4.      Pada Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib
Pada masa Ali bin abi Thalib tidak terlihat perkembangan pendidikan yang berarti karena pada masa ini telah terjadi kekacawan politik dan pemberontakan, sehingga dimasa ia berkuasa pemerintahannya tidak setabil. Dengan kericuan politik pada masa Ali berkuasa, kegiatan pendidikan islam terdapat hambatan dan ganguan. Pada saat itu Ali bin Thalib tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan sebab keseluruan perhatianya ditumpakan kepada masalah keamanan didalam pemerintahanya. Menurut Mahmud Yunub bahwa pusat pendidikan pada masa Khulafah Rasidin adalah sebagai berikut : Madrasah mekkah, madrasah madinah, madrasah basrah, madrasah kuffah, madrah damsyik, madrasah fistab. (Mahmud Yunus, 1989).
3.    Sejarah Pendidikan Islam pada masa Dinasti Umayyah:
Selama lebih kurang 90 tahun Daulah Umayyah berkuasa telah banyak perubahan dan pembaharuan yang mereka lakukan. Khalifah-khalifah besar Daulah Umayyah adalah Mu’awiyah ibn Abi Sofyan (661-680M), Abdul Malik ibn Marwan (685-705 M), Al Walid ibn Abdul Malik (705-715M), Umar ibn Aziz (717-720 M) dan Hisyam ibn al-Malik (724-743). Secara umum kemajuan-kemajuan yang telah dilakukan oleh DaulahUmayyah adalah perluasan daerah-daerah kekuasaan islam, pertumbuhan partai politik, penyusunan organisasi negara dan pemerintah, perkembangan ilmu pengetahuan, pertumbuhan dan perkembangan hukum islam, dan perkembangan seni budaya. Pada masa yang kurang seabad itu islam telah tersebar hampir mengenai separuh dunia. Dan tak sampai dua abad dari detik kelahiranya bendera islam telah berkibar anatar pegunungan pyrenia dan Himalaya, antara padnag pasir di tengah Asia sampai kepadang pasir dibenua Afrika.
Pada masa Dinasti Umayyah , terdapat berbagai kebijakan yang dilakukan oleh para khalifah, yang menyebabkan berkembangnya system pemerintahan. Diantara kebijakan yang dilakukan adalah : pemisahan kekuasaan, pembagian wilayah, bidang administrasi pendidikan, organisasi keuangan, organisasi ketentaraan, organisasi kehakiman, bidang social dan budaya, bidang  seni dan sastra, bidang seni rupa dan bidang arsitektur.
4.    Sejarah Pendidikan Islam pada masa Dinasti Abbasiyah:
Kemajuan yang dicapai oleh Daullah Abbasiyyah, khususnya dalam bidang ilmu merupakan puncak kejayaan islam sepanjang sejarah. Hal ini disebabkan karena (1) situasi dan kondisi yang sangat menunjang (2) keterlibatan semua pihak secara ikhlas secara bersunggu-sunggu (3) adanya kemerdekaan dan kebebasan berpikir membuat umat islam mejadi sangat dinamis dan kreatif, jauh dari sikap fatalis dan taklid, perkembangan ini juga membawa Daulah Abbasiyyah ketempat utama dan terhormat dalam kebudayaan, peradaban serta dunia pemikiran atau filsafat.
Pada masa ini telah dilahirkan Ulama-Ulama besar seperti Imam Malik, Iman Abi Hanifah, Imam Syafei dan Imam Hambal  dalam bidnag hukum, Imam Asy’ari, Imam Almaturidi, pembuka-pembuka mu’tazila seperti wasil bin Atha, Abu Alhuzail, Alnazam dan Aljubba’i dlaam bidang teologi, zunnun Almisri, abu yazid, Albustami dll.
B.     Lembaga Pendidikan Islam yang di dirikan pada masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah

1.      Lembaga Pendidikan Islam yang di dirikan pada masa Rasulullah
Lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan pada  pada masa masa rosulullah saw. Yaitu berupa masjid,suffah dan halaqoh.
a.       Periode Mekkah
Lembaga Pendidikan Islam, adapun lembaga pendidikan Islam adalah rumah Al-Arqom Ibn Abi Arqom. Rumah Al-Arqom ibn Abi Arqam adalah tempat pertama berkumpulnya kaum muslimin beserta Rasulullah untuk beajar hokum-hukum dan dasar-dasar ajaran Islam. Rumah ini merupakan lembaga pendidikan pertama atau madarasah yang pertama sekali dalam Islam, adapun yang mengajar di lembaga tersebut adalah Rasulullah sendiri.
b.      Periode Madinah
Ø  Kuttab
Kuttab berasal dari bahasa Arab Katattib yang berarti “Mengajar Menulis” tempat belajar yang lahir pada masa awal Islam. Pada awalnya kuttab berfungsi sebagai tempat memberikan pengajaran, menulis, dan membaca pada anak-anak.
Ø  Masjid
Masjid, sebagai kegiatan Nabi Muhammad SAW bersama kaum muslimin, Nabi secara bersama membina masyarakat baru, masyarakat yang disinari oleh tauhid, dan mencerminkan persatuan dan kesatuan umat. Di masjid itulah beliau bermusyawarah mengenai berbagai urusan, mendirikan shalat berjamaah, membacakan al-qura’an maupun membacakan ayat-ayat yang baru diturunkan. Dengan demikian, masjid itu merupakan pusat pendidikan pusat pendidikan dan pengajaran.
Ø  Suffah
Pada masa Rasulullah SAW, shuffah adalah suatu tempat yang telah dipakai utnuk aktifitas pendidikan. Biasanya tempat ini menyediakan pemondokan bagi pendatang baru dan mereka yang tergolong miskin. Disini para siswa diajarkan membaca dan menghafalkan al-qu’ran secra benar, dan diajarakan pula islam dibawah bimbingan langsung dari nabi. (Ramayulius,2011)
Ø  Halaqoh
Halaqoh pada zaman nabi yang membentuk lingkaran dan Rosulullah menjelaskan pendidikan Islam.

2.      Lembaga Pendidikan Islam yang di dirikan pada masa Khulafaurrasyidin
a.       Khalifah Abu Bakar RA
Ø  Kuttab
Pada masa Abu Bakar lembaga pendidikan mencapai tingkat kemajuan yang berarti. Kemajuan lembaga kuttab ini terjadi ketika umat muslim telah menaklukan beberapa daerah dan menjalin kontak dengan bangsa-bangsa yang lebih maju lembaga  pendidikan ini menjadi sangat penting sehingga para ulama berpendapat bahwa mengajarkan Al-Qur’an merupakan fardhu kifayah. Materi pendidikannya: membaca, menulis dan menghafal Al-Qur’an , pokok-poko agama seperti keimana, ibadah, akhlak dan muamalat.
Ø  Masjid
Merupakan lembaga pendidikan lanjutan setelah anak-anak tamat belajar dari kuttab. Di masjid ini ada dua tingkat pendidikan, yaitu tingkat menengah dan tingkat tinggi. Yang membedakan kedua tingkat tersebut adalah tingkat menengah, gurunya belum mencapai status guru besar.  Sedangkan pada tingkat tinggi, pengajarnya adalah ulam yang mempunyai pengetahuan yang mendalam dan integritas kesalehan dan keimanan yang diakui oleh masyarakat. Materinya adalah Al-Qur’an dan tafsirnya, hadis dan syarahnya serta fiqh.

b.      Khalifah Umar Bin Khattab
Lembaga pendidikan pada masa khalifah Umar bin Khattab, sama dengan masa Abu Bakar yaitu Masjid dan Kuttab. Namun dari segi kemajuan pendidikan begitu pesat, sebab selama Umar bin Khattab pemerintah Negara dalam keadaan stabil dan aman, hal ini menyebabkan ditetapkannya masjid sebagai pusat pendidikan, dan juga terbentuknya pusat-pusat pendidikan di berbagai kota.
Kuttab, Materi pendidikan pada masa Umar bin Khattab adalah materi pada kuttab pada masa Abu Bakar dan di tambah dengna beberapa mata pelajaran dan keterampilan. Ketika Umar bin Khattab di angkat menjadi khalifah, ia menginstruksikan pada pendidik agar anak-anak di ajarkan: berenag, mengendarai onta, memanah, membaca, menghafal syair-syair yang mudah dan pribahasa. Materi pendidikan pada tingkat menengah dan tingkat tinggi terdiri dari adalah Al-Qur’an dan tafsirnya, hadis dan syarahnya serta fiqh (tasyri). Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan duniawi dan ilmu filsafat belum dikenal pada masa itu.

c.       Khalifah Usman Bin Affan RA
Pada masa khalifah Usman bin Affan Pelaksanaan pendidikan yaitu di pusatkan pada Masjid dan Kuttab, akan tetapi pada masa ini pendidikan diserahkan pada masyarakat, dengan masyarakatla yang lebih banyak inisiatif dalam melaksanakan pendidikan termaksud pengangkatan para pendidik. Walaupun demikian ada usaha yang sangat cemerlang yang menentukan yang dilakukan Usman bin Affan, yang sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan islam dimasa yang akan dating, usaha tersebut adalah terjadinya kodifikasih al-quran.

d.      Khalifah Ali bin Abi Thalib
Pada masa Ali bin abi Thalib tidak terlihat perkembangan pendidikan yang berarti karena pada masa ini telah terjadi kekacawan politik dan pemberontakan, sehingga dimasa ia berkuasa pemerintahannya tidak setabil. Dengan kericuan politik pada masa Ali berkuasa, kegiatan pendidikan islam terdapat hambatan dan ganguan. Pada saat itu Ali bin Thalib tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan sebab keseluruan perhatianya ditumpakan kepada masalah keamanan didalam pemerintahanya.

3.      Lembaga Pendidikan Islam yang di dirikan pada masa Dinasti Umayyah
Pada masa ini didirikan lembaga pendidikan:
Ø  Kuttab, kuttab sebenarnya sudah ada semenjak pada masa khulafah rasidin, namun pada masa ini kuttab dilaksanakan didekat masjid dan gurunya tidak dibayar. Pada masa khalifah umayah, kuttab bukan hanya didekat masjid tetapi juga dirumah guru dan istana. 
Ø  Istana, pendidikan diistana tidak hanya tingkat rendah, tapi berlanjut pada pengajaran tingkat tinggi sebgai mana halaqah, masjid, dan masdrasah. Guru istana dinamakan muaddib. Tujuan pendidikan istana bukan saja mengajarkan ilmu pengetahuan bahkan muaddib harus mendidik akal, hati, dan jasmani anak.
Ø  Badi’ah, dengan adanya arabisasi oleh Khalifah Abdul Malik ibn Marwan, maka munculah istilah Badi’ah yaitu dusun badui di Padang Sahara yang masih fasih dan fmurni bahasa arabnya sesuai dengan kaidah bahasa arab itu. Akibat dari arabisasi inilah muncul ilmu qawaid dan cabang ilmu lainnya untuk mempelajari bahasa Arab. Bahasa arab ini sudah samapai ke Irak, Syiria, Mesir, Libanon, Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko, di samping Sadi Arabia, Yaman, Emirat Arab, dan sekitarnya di samping Saudi Arabia.
Ø  Perpustakaan, Al-Hakam Ibn Nasir (350 H/ 961 M) mendirikan perpustakaan yang besar di Qutubah (Cordova). Perpustakaan ini tidak hanya dipergunakan untuk membaca buku, tetapi juga disana disediakan ruangan untuk melaksanakan proses pembelajaran yang dibimbing oleh para ulama sesuai dengan bidang keahlaiannya.
Ø  Bamarista (Rumah Sakit), rumah sakit selain berfungsi untuk mengobati dan merawat orang sakit, tetapi juga tempat mendidik para calon tenaga medis dan perawat, dan juga mempelajar ilmu kedokteran.

a.       Pola pendidikan pada masa Dinasti Umayyah
Pada masa daulah umayyah pola pendidikan bersifat desentralisasi, tidak memiliki tingkatan dan standar umur. Kajian keilmuan pada priode ini didamaskus, kuffah, mekkah, madinah, mesir, cordova, dan beberapa kota lainya seperti : bassrah dan kuffah, damsyik, dan palestina serta fistat. (Bachtiar Zabri

b.      Pengembangan Ilmu Pengetahuan pada Masa Dinasti Umayyah
Di antara ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu adalah:
1)      Ilmu Agama, seperti Al-Qur’an, Hadis, dan Fiqh.
2)      Ilmu Sejarah dan Geografi, yaitu segala ilmu yang membahas tentang perjalanan hidup, kisah dan riwayat.
3)      Ilmu pengetahuan bidang bahasa.
4)      Bidang filsafat
5)      Seni sastra arab
6)      Seni kaligrafi dan seni arsitektur (Ramayulius, 2011)

4.      Lembaga Pendidikan Islam yang di dirikan Pada Masa Dinasti Abbasiyah
a.       Pada masa Abbasiyah sekolah-sekolah terdiri dari beberapa tingkat, yaitu:
Ø  Tingkat sekolah rendah
Namanya Kuttab sebagai tempat belajar bagi anak-anak. Di samping Kuttab ada pula anak-anak belajar di rumah, di istana, di took-toko dan di pinggir-pinggir pasar. Adapun pelajaran yang diajarkan meliputi: membaca Al-Qur’an dan menghafalnya, pokok-pokok ajaran islam, menulis, kisah orang-orang besar islam, membaca dan menghafal syair-syair atau prosa, berhitung, dam juga pokok-pokok nahwu shorof ala kadarnya (Badri Yatim, 2000)
Ø  Tingkat sekolah menengah
yaitu di masjid dan majelis sastra dan ilmu pengetahuan sebagai sambungan pelajaran di kuttab. Adapun pelajaran yang diajarkan melipuri: Al-Qur’an, bahasa Arab, Fiqih, Tafsir, Hadits, Nahwu, Shorof, Balaghoh, ilmu pasti, Mantiq, Falak, Sejarah, ilmu alam, kedokteran, dan juga music.
Ø  Tingkat perguruan tinggi
Seperti Baitul Hikmah di Bagdad dan Darul Ilmu di Mesir (Kairo), di masjid dan lain-lain. Pada tingkatan ini umumnya perguruan tinggi terdiri dari dua jurusan:
1)      Jurusan ilmu-ilmu agama dan Bahasa Arab serta kesastraannya. Ibnu Khaldun menamainya ilmu itu dengan Ilmu Naqliyah. Ilmu yang diajarkan pada jurusan ini meliputi: Tafsir Al-Qur’an, Hadits, Fiqih, Nahwu, Sharaf, Balaghoh, dan juga Bahasa Arab.
2)      Jurusan ilmu-ilmu hikmah (filsafat), Ibnu Khaldun menamainya dengan Ilmu Aqliyah. Ilmu yang diajarkan pada jurusan ini meliputi: Mantiq, ilmu alam dan kimia, Musik, ilmu-ilmu pasti, ilmu ukur, Falak, Ilahiyah (ketuhanan), ilmu hewan, dan juga kedokteran (Musyrifah Sunanto, 2004).

b.      Perkembangan ilmu pengetahuan di masa Abbasiyah
Pada masa abbsiyah ini terdapat perkembangan ilmu pengetahuan, antara lain sebagai berikut:
1)      Menerjemahkan buku-buku dari bahasa asing (Yunani,Syiria Ibrani, Persia, India, Mesir, dan lain-lain) ke dalam bahasa Arab. Buku-buku yang diterjemahkan meliputi ilmu kedokteran, mantiq (logika), filsafat, aljabar, pesawat, ilmu ukur, ilmu alam, ilmu kimia, ilmu hewan, dan ilmu falak.
2)      Pengetahuan keagamaan seperti fikih, usul fikih, hadis, mustalah hadis, tafsir, dan ilmu bahasa semakin berkembang karena di zaman Bani Umayyah usaha ini telah dirintis. Pada masa ini muncul ulama-ulama terkenal seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Hambali, Imam Bukhari, Imam Muslim, Hasan Al Basri, Abu Bakar Ar Razy, dan lain-lain
3)      Sejak upaya penerjemahan meluas, kaum muslim dapat mempelajari ilmu-ilmu ilmu-ilmu itu langsung dalam bahasa arab sehingga muncul sarjana-sarjana muslim yang turut memperluas peyelidikan ilmiah, memperbaiki atas kekeliruaan pemahaman kesalahan pada masa lampau, dan menciptakan pendapat-pendapat atau ide baru (Zuhairini, Moh. Kasiran. Dkk, 1985)
Pada intinya lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan pada  pada masa masa rosulullah saw. Yaitu berupa masjid,suffah dan halaqoh. Pada masa khulafaur rosydin lembaga-lembaga pendidikan tidak jauh berbeda dari masa rosullullah saw. yaitu berupa masjid,suffah,halaqoh, dan kuttab atau maktab,,selanjutnya pada masa bani umayyah disinilah mulai banyak didirikan lembaga-lembaga yaitu diantarnya, madrasah mekah, madrasah madinah, madrasah kuffah, madrasah kuffah, madrasah damsyik (syam), madrsah fistat (mesir). selanjutnya pada masa abbasiyah lembaga-lembaga pendidikan lebih maju yaitu diantaranya, Madrasah baitul hikmah, madrasah nidhamiyyah, majlis munadaroh, rumah sakit, gedung perpustakaan.

C.    Metode Pendidikan Pada Masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah
Pada Masa Rasulullah  lembaga pendidikan islam  adalah rumah al-Arqam ibn Abi Arqam. Rumah al-Arqam ibn Abi Arqam adalah lembaga pendidikan pertama atau Madrasah yang pertama kali dalam islam, pada masa itu metode pendidikan islam dirumah Al-Arqam sangat sederhana sekali dan pendidikan dilembaga ini dilaksanakan dalam bentuk ceramah dan kemudian diikuti dengan praktek beragama yang berkaitan dengan ibadah, terutama ibadah shalat (Ramayulius, 2011). Metode yang digunakan Rasulullah dalam mendidik sahabatnya antara lain: (1) metode ceramah, menyampaikan wahyu yang baru diterimanya dan memberikan penjelasan-penjelasanserta keterangan-keterangannya; (2) dialog, misalnya dialg antara Rasulullah dengan Mu’az ibn Jabal ketika Mu’az akan diutus sebagai kadi ke negeri Yaman; (3) diskusi ata tanya jawab, sering sahabat bertanya kepada Rasulllah tentang suatu hukaum, kemudian rsul menjawab; (4) metode perumpamaan, misalnya orang mukmin itu laksana satutubuh, bila sakit salah satu anggota tubuh maka anggota tubuh lainnya akan turut merasakannya; (5)metode kisah, misalnya kisah beliau dalam perjalanan isra’ dan miraj; (6) metode pembiasaan, membiasakan kaum muskimin shalat berjamaah; (7) metode hafalan, misalnya para sahabat dianjurkan untuk menjaga al-Qur’an dengan menghafalnya (Moh. Untung Slamet, 2005)
Pada Masa Khulafahurrasydin lembaga pendidikan islam pada masa itu sudah berkembang, lembaga pendidikannya sama dengan masa abu bakar, pendidikan pada masa itu berada di bawah pengaturan Guburnur. Disamping itu kemajuan dalam bidang pendidikan juga terdapat kemajuan berbagai bidang, seperti pos pengiriman surat, kepolisian, baitul mal, dan sebagainya. Pada masa khulafaur rosyidin metode-metode yang digunakan yaitu dengan membaca,menulis dan menghafalkan,diskusi atau
Pada Masa Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah, pada masa umayyah dan abbasiyah,tidak bjauh beda dari sebelumnya yaitu menulis,ceramah, menghafal,diskusi kelompok,halaqoh,halaqoh dan lain sebagainya.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kesimpulan uraian di atas, bahwa pendidikan Islam telah ada ketika pra kenabian Muhammad saw. Bisa dijelaskan bahwa sejarah telah mencatat, ternyata nabi Muhammad saw telah melangsungkan pendidikan yang luar biasa. Pendidikan yang kurikulumnya dirancang oleh Allah swt, kelas belajar adalah masyarakat Quraisy, dan semua peristiwa adalah materi-materi yang disuguhkan kepada nabi Muhammad saw sebagai murid. Dengan kata lain, nabi Muhammad saw dengan materi-materi belajar menggunakan pendekatan partisipatoris yang terlibat langsung dengan kejadian yang dikehendaki oleh materi ajar yang disusun oleh Allah swt. Atau bisa juga disebut dengan metode partisipatoris dan role playing atau seni peran, metode ini memungkinkan peserta didik merasakan langsung peristiwa, pengalaman-pengalaman pembelajaran sehingga lebih mudah menyerap dan memaknai hasil pembelajaran tersebut.    



DAFTAR KEPUSTAKAAN

Amini, Ibrahim, Mengapa Nabi Diutus, Jakarta: Alhuda, 2006

Dahar, Ratna Wilis, Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2011

Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2009

Amin, Syamsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: AMZAH, 2009

Maryam, Siti dkk, Sejarah Peradaban Islam Masa klasik hingga Modern, Yogyakarta: LESFI, 2009, Cet, III

Sidigizalba, Ilmu, Filsafat, dan Islam tentang manusia dan Agama¸Jakarta: Bulan Bintang, 1992, cet III

Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta: Radja Grafindo Persada, 2008 Edisi Revisi

Ramayulis dan Samsul Nizar, Ensiklopedia Tokoh Pendidikan Islam, Jakarat: PT. Ciputat Press Group, 2010


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LAPORAN KKL ( KULIAH KERJA LAPANGAN ) FAI UNIAT (Universitas Islam Attahiriyah)

https://drive.google.com/folderview?id=1QsYXAAC12ZFAC3ZtvdvvHF_AnsawW8n5