BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tidak banyak para ahli pendidikan Islam
mengungkapkan atau membahas pendidikan Islam sebelum masa kenabian ke-publik.
Barangkali pemahaman itu telah sama-sama dimengerti, bahwa pendidikan Islam
hanya ada ketika Islam telah menjadi nubuah Muhammad saw, sehingga konotasinya,
hanya setelah diangkat jadi Nabi saja Muhammad saw dikatakan telah menjadi
Islam atau muslim. Maka, pendidikan Islam serta merta pula mengawali
periodenya, karena sang ‘pemula’
adalah seorang yang beragama Islam. Berangkat dari pemahaman seperti demikian,
boleh dikatakan, dengan sendirinya, disetiap aktifitas Muhammad saw merupakan
proses pendidikan Islam itu sendiri. Dimulai dari dakwah Muhammad saw secara
sembunyi-sembunyi hingga perintah dakwah terang-terangan kepada masyarakat Arab
secara khusus dan untuk manusia secara umum.
Dengan demikian, maka pemahaman tersebut akan sedikit terusik bila
disodorkan sebuah pertanyaan, apakah sebelum Muhammad saw diangkat secara resmi
oleh Allah swt menjadi utusanNya, tidak beragama Islam atau seorang Muslim?
Jika diikuti pengertian muslim sebagai orang yang berserah diri kepada Allah
swt, sebagaimana para nabi dan rasul terdahulu juga menyebut dirinya seorang
muslim. Maka Muhammad saw secara terang-terangan memang belum pernah
menyebutkan dirinya seorang muslim, kecuali setelah diangkat jadi utusanNya.
B. Rumusan Masalah
1. Sejarah Pendidikan Islam pada masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti
Abbasiyah
2. Lembaga Pendidikan Islam yang di dirikan pada masa Rasulullah,
Khulafaurrasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah
3. Metode Pendidikan Pada Masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Dinasti Umayyah
dan Dinasti Abbasiyah
C. Tujuan
1.
Untuk memberikan wawasan tentang Sejarah Pendidikan
Islam pada masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti
Abbasiyah
2.
Untuk memberikan wawasan tentang Lembaga Pendidikan
Islam yang di dirikan pada masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Dinasti Umayyah,
Dinasti Abbasiyah
3.
Untuk memberikan wawasan tentang Metode Pendidikan Pada
Masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Pendidikan Islam pada masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Dinasti
Umayyah, Dinasti Abbasiyah
1. Sejarah Pendidikan Islam pada masa Rasulullah:
Pendidikan islam pada
masa nabi muhammad saw. Dibedakan menjadi dua periode yaitu periode mekkah dan periode madinah. Pokok
pembinaan pendidikan islam di kota Makkah adalah pendidikan tauhid, titik beratnya adalah menanamkan
nilai-nilai tauhid ke dalam jiwa
setiap individu muslim, agar jiwa mereka terpancar sinar tauhid dan tercermin dalam perbuatan dan tingkah laku dalam
kehidupan sehari-hari.
Pokok pembinaan
pendidikan islam di kota Madinah dapat dikatakan sebagai pendidikan sosial dan politik. Yang merupakan
kelanjutan dari pendidikan tauhid di Makkah, yaitu pembinaan di bidang pendidikan sosial dan politik agar
dijiwai oleh ajaran , merupakan
cermin dan pantulan sinar tauhid tersebut.
Kondisi sosial budaya, ekonomi, politik, keberagaman, dan pendidikan
masyarakat arab sebelum islam :
1. Sosial Budaya
Masyarakat arab sebelum islam disebut masyarakat jahiliyah. Masyarakat
jahiliyah menerut phillip k. Hitti adalah suatu masyarakt yang dikelnal dengan
masa kebodohan, ketidaktahuan, atau kebiadaban. Pada saat itu masyarakat arab
tidak pandai baca-tulis. Mereka juga memeluk agma watsani, yang bertuhanan
kepada banyak berhala serta dikenal dengan prilaku kasar, bermoralitas
rendah.kekuasaan yang berlaku saat iu adalah sistem diktator. Hasan ibrahim
hasan, menjelaskan lebih lanjut, bahwa kondisi kemasyarakatan arab jahiliyah
adalah, adanya solidaritas atara sesama anggota auatu kabilah lain sama sekali
tidak ada.
2. Ekonomi
Ekonomi mengikuti kondisi sosial, yang bisa dilihat dan jalan kehidupan
bangsa arab. Pandangan merupakan sarana yang paling dominan untuk memenuhi
kebutuhan hidup. Sementara kondisi yang aman sebenarya tidak perna terwujud
dijazirah arab kecuali bulan-bulan suci. Menurut abudin nata dan fauzan, dalam
hal perekonomian bangsa arab pra-islam, berada dalam kondisi kesesatan,
terlihat dari sikap mereka dalam menghalalkan segala cara untuk mendapatkan
uang atau sesuatu yang diperlukan, seperti mencuri, berjudi, merampok,
menipu,mmeras, atau melipatgandakan bunga (riba) kepada orang yang meminjam uang
kepadanya.
3. Politik
Bangsa arab sebelum islam, belum mengenal sistem pemerintahan yang lengkap
seperti pada masa sekarang, kalaupun ada belum belum sempurna oraganisasi
politiknya, menurut hasan ibrahim, mereka tidak memiliki peradilan tempat
memperoleh kepastian hukum tentang suatu kasus atau memvonis suatu tindakan
pelangaran. Kesesatan dalam bidang politik antara lain terlihat dalam sikap
mereka (para penguasa) yang diktator, otoriter, zalim, dan korup.
4. Keberagamaan
Keberagamaan mayoritas bangsa arab jahiliyah sudah jauh dari kekayaan yang
dibawa oleh nabi ibrahim yaitu menyakini adanya Allah SWT sebagai rabb
al-alamin. Mereka menganut agama watsani (penyembah bahala). Setiap kabilah
atau suku mempunyai patung (bahala) sendiri sebagai pusat penyembahan.
Diantaranya ada yang disebut shanam,
berhala berbentuk manusia, terbuat dari logam atau kayu, wathan terbuat
dan batu dan nushud adalah batu karang tanpa suatu bentuk tertentu.
Pada masa Rasulullah dibagi menjadi dua periode, yaitu periode Mekkah dan
periode Madinah.
a. Periode Mekkah
Lembaga Pendidikan Islam, adapun lembaga pendidikan Islam adalah rumah
Al-Arqom Ibn Abi Arqom. Rumah Al-Arqom ibn Abi Arqam adalah tempat pertama
berkumpulnya kaum muslimin beserta Rasulullah untuk beajar hokum-hukum dan
dasar-dasar ajaran Islam. Rumah ini merupakan lembaga pendidikan pertama atau
madarasah yang pertama sekali dalam Islam, adapun yang mengajar di lembaga
tersebut adalah Rasulullah sendiri.
Materi pendidikan Islam, dengan turunnya perintah kepada Nabi supaya
mengajarkan Islam kepada kerabat nabi dan umatnya secara luasdan
terang-terangan maka nabi bukan hanya berdakwah di lingkungan keluarga dan
dikalangan penduduk Mekkah saja, tetapi juga pada penduduka di luar Mekkah,
terutama mereka yang dating ke Mekkah. Baik dalam rangka ibadah haji maupun
perdagangan. Sedangkan materi pendidikan Islam pada waktu itu adalah:
Tauhid: Bahwa Allah pencipta alam semesta yang sebenarnya, Allah yang
memberikan Nikmat, Allah telah membimbing dan mendidika manusia dengan kasih
sayang, Allah adalah Malik (Raja), Allah yang membimbing dan member pettunjuk
pada manusia.
Al-Qur’an: dalam pembelajaran Al-Qur’an kepada umatnya Nabi Muhammmad SAW selalu menganjurkan pada umatnya supaya
Al-Qur’an di hafal dan selalu di baca, dan diwajibkan membacanya dan
ayat-ayatnya dalam shalat. Selanjutnya untuk memantapakan al-qur’an dalam
hafalan mereka, nabi Muhammad SAW selalu mengadakan evaluasi terhadap hafalan
sahabat tersebut.
b. Periode Madinah
Lembaga Pendidikan Islam setelah Nabi Hijrah Ke Madinah, disamping kuttab
adalah masjid dan Suffah. Masjid, sebagai kegiatan Nabi Muhammad SAW bersama
kaum muslimin, Nabi secara bersama membina masyarakat baru, masyarakat yang
disinari oleh tauhid, dan mencerminkan persatuan dan kesatuan umat. Di masjid
itulah beliau bermusyawarah mengenai berbagai urusan, mendirikan shalat
berjamaah, membacakan al-qura’an maupun membacakan ayat-ayat yang baru
diturunkan. Dengan demikian, masjid itu merupakan pusat pendidikan pusat
pendidikan dan pengajaran.
Suffah, pada masa Rasulullah SAW, shuffah adalah suatu tempat yang telah
dipakai utnuk aktifitas pendidikan. Biasanya tempat ini menyediakan pemondokan
bagi pendatang baru dan mereka yang tergolong miskin. Disini para siswa
diajarkan membaca dan menghapalkan al-qu’ran secra benar, dan diajarakan pula
islam dibawah bimbingan langsung dari nabi. (Ramayulius,2011).
2.
Sejarah Pendidikan
Islam pada masa Khulafaurrasyidin:
ketika Rasulullah SAW masih hidup, ia tidak meninggalkan pesan apapun
sebagai pengantinya. Sewaktu Rasulullah wafat masalah tersebut cukup serius
dibicarakan oleh kaum muslimin. Para pembuka islam bahwa pengganti beliau
disebut khalifah. Berate pengganti khalifah sebagai pengganti hanya
menggantikan nabi Muhammad sebagai pemimpin agama dan pemimpin pemerintahan.
Sedangkan sebagai nabi dan Rasul Muhammad tidak bisa digantikan karena beliau
adalah Nabi dan Rasul yang terakhir.ada empat orang khalifah pengganti beliau,
dan keempat khalifah tersebut disebut khulafah Al-Rasidin. Keempat khalifah
tersebut adalah Abu Bakar Sidiq, Abu Bakar Umar bin Khattab, Usman Bin Affan,
dan Ali Bin Abi Thalib.
1. Pada Masa Abu Bakar Ash-sidiq
Banyak para sahabat yang hafal Al-Qur’an meninggal atau gugur dalam
menegakkan agama Islam. Pendidikan Islam pada masa itu belum ada yang secara
formal, maka Umar bin Khattab menyarankan khalifah Abu Bakkar Ash-sidiq untuk
mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian untuk merealisasikan saran tersebut,
di putuskan Zaid bin Tsabit ditugaskan untuk mengumpulkan semua tulisan
Al-Qur’an yang masih berserakan. lembaga pendidikan masih sama dengan lembaga
pendidikan pada masa Nabi, namun dari segi kualitas dan kuantitasnya sudah
banyak mengalami perkrmbangan, diantaranya: 1) Kuttab, pada masa Abu Bakar
lembaga pendidikan mencapai tingkat kemajuan yang berarti. Kemajuan lembaga
kuttab ini terjadi ketika umat muslim telah menaklukan beberapa daerah dan
menjalin kontak dengan bangsa-bangsa yang lebih maju lembaga pendidikan ini menjadi sangat penting
sehingga para ulama berpendapat bahwa mengajarkan Al-Qur’an merupakan fardhu
kifayah. Materi pendidikannya: membaca, menulis dan menghafal Al-Qur’an ,
pokok-poko agama seperti keimana, ibadah, akhlak dan muamalat. 2) Masjid,
merupakan lembaga pendidikan lanjutan setelah anak-anak tamat belajar dari
kuttab. Di masjid ini ada dua tingkat pendidikan, yaitu tingkat menengah dan
tingkat tinggi. Yang membedakan kedua tingkat tersebut adalah tingkat menengah,
gurunya belum mencapai status guru besar.
Sedangkan pada tingkat tinggi, pengajarnya adalah ulam yang mempunyai
pengetahuan yang mendalam dan integritas kesalehan dan keimanan yang diakui
oleh masyarakat. Materinya adalah Al-Qur’an dan tafsirnya, hadis dan syarahnya
serta fiqh.
2. Pada Masa Umar bin Khattab
Lembaga pendidikan pada masa khalifah Umar bin Khattab, sama dengan masa
Abu Bakar. Namun dari segi kemajuan pendidikan begitu pesat, sebab selama Umar
bin Khattab pemerintah Negara dalam keadaan stabil dan aman, hal ini
menyebabkan ditetapkannya masjid sebagai pusat pendidikan, dan juga
terbentuknya pusat-pusat pendidikan di berbagai kota. Materi pendidikan pada
masa Umar bin Khattab adalah materi pada kuttab pada masa Abu Bakar dan di
tambah dengna beberapa mata pelajaran dan keterampilan. Ketika Umar bin Khattab
di angkat menjadi khalifah, ia menginstruksikan pada pendidik agar anak-anak di
ajarkan: berenag, mengendarai onta, memanah, membaca, menghafal syair-syair
yang mudah dan pribahasa. Materi pendidikan pada tingkat menengah dan tingkat
tinggi terdiri dari adalah Al-Qur’an dan tafsirnya, hadis dan syarahnya serta
fiqh (tasyri). Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan duniawi dan ilmu filsafat belum
dikenal pada masa itu. Hal ini dimungkinkan mengingat konstruk social
masyarakat ketika itu masih dalam pengembangan wawasan keislaman yan lebih
difokuskan pada pemahaman al-quran dan hadist secara literal. Pendidik pada
masa Umar bin Khattab pada masa khalifah umar yang menjadi pendidik adalah
beliau sendiri, serta guru-guru yang beliau angkat. Umra merupakan seorang
pendidik yang sering melakukn penyukuhan pendidikan dikota madinah. Beliau juga
menerapkan pendidikan dimasjid-masjid dan ;pasar-pasar serta mengangkat dan
menunjuk guru-guru untuk tiap daerah
yang ditaklukan itu, dengan mengajar tugas isi al-quran dan ajaran islam
lainya, seperti fiqih kepada penduduk yang baru masuk islam, disamping bekiau
sendiri sebagai pendidikan.
3. Pada Masa Usman bin Affan
Pada masa khalifah
Usman kedudukan peradaban Islam tidak jauh berbeda demikian juga pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa
sebelumnya. Para sahabat diperbolehkan dan diberi kelonggaran meninggalkan Madinah untuk mengajarkan
ilmu-ilmu yang
dimiliki. Dengan tersebarnya sahabat-sahabat besar keberbagai daerah meringankan umat Islam untuk belajar Islam
kepada sahabat-sahabat yang tahu banyak ilmu Islam di daerah mereka sendiri atau daerah terdekat.
Pada masa khalifah
usman bin affan pelaksanaan pendidikan islam ditinjau dari aspek lembaga dan
materi, tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. pendidikan dimasa ini hanya
melanjutkan apa yang telah ada sebelumnya, namun sedikit terjadi perubahan yang
mewarnai pendidikan islam. Pola pendidikan pada masa usman ini lebih merakyat
dan lebih mudah dijangkau oleh seluaruh peserta didik yang ingin yang
mempelajari ajaran islam karena pusat pendidikan lebih banyak, sebab pada masa
ini para sahabat bisa memilih tempat yang mereka inginkan untuk memberikan
pendidikan kepada masayarakat. Pelaksanaan pendidikan pada masa ini diserahkan
pada masyarakat, dengan masyarakatla yang lebih banyak inisiatif dalam
melaksanakan pendidikan termaksud pengangkatan para pendidik. Walaupun demikian
ada usaha yang sangat cemerlang yang menentukan yang dilakukan Usman bin Affan,
yang sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan islam dimasa yang akan
dating, usaha tersebut adalah terjadinya kodifikasih al-quran.
4. Pada Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib
Pada masa Ali bin abi
Thalib tidak terlihat perkembangan pendidikan yang berarti karena pada masa ini
telah terjadi kekacawan politik dan pemberontakan, sehingga dimasa ia berkuasa
pemerintahannya tidak setabil. Dengan kericuan politik pada masa Ali berkuasa,
kegiatan pendidikan islam terdapat hambatan dan ganguan. Pada saat itu Ali bin
Thalib tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan sebab keseluruan
perhatianya ditumpakan kepada masalah keamanan didalam pemerintahanya. Menurut
Mahmud Yunub bahwa pusat pendidikan pada masa Khulafah Rasidin adalah sebagai
berikut : Madrasah mekkah, madrasah madinah, madrasah basrah, madrasah kuffah,
madrah damsyik, madrasah fistab. (Mahmud Yunus, 1989).
3.
Sejarah Pendidikan
Islam pada masa Dinasti Umayyah:
Selama lebih kurang 90 tahun Daulah Umayyah berkuasa telah banyak perubahan
dan pembaharuan yang mereka lakukan. Khalifah-khalifah besar Daulah Umayyah
adalah Mu’awiyah ibn Abi Sofyan (661-680M), Abdul Malik ibn Marwan (685-705 M),
Al Walid ibn Abdul Malik (705-715M), Umar ibn Aziz (717-720 M) dan Hisyam ibn
al-Malik (724-743). Secara umum kemajuan-kemajuan yang telah dilakukan oleh
DaulahUmayyah adalah perluasan daerah-daerah kekuasaan islam, pertumbuhan
partai politik, penyusunan organisasi negara dan pemerintah, perkembangan ilmu
pengetahuan, pertumbuhan dan perkembangan hukum islam, dan perkembangan seni
budaya. Pada masa yang kurang seabad itu islam telah tersebar hampir mengenai
separuh dunia. Dan tak sampai dua abad dari detik kelahiranya bendera islam
telah berkibar anatar pegunungan pyrenia dan Himalaya, antara padnag pasir di
tengah Asia sampai kepadang pasir dibenua Afrika.
Pada masa Dinasti Umayyah , terdapat berbagai kebijakan yang dilakukan oleh
para khalifah, yang menyebabkan berkembangnya system pemerintahan. Diantara
kebijakan yang dilakukan adalah : pemisahan kekuasaan, pembagian wilayah,
bidang administrasi pendidikan, organisasi keuangan, organisasi ketentaraan,
organisasi kehakiman, bidang social dan budaya, bidang seni dan sastra, bidang seni rupa dan bidang
arsitektur.
4.
Sejarah Pendidikan Islam
pada masa Dinasti Abbasiyah:
Kemajuan yang dicapai oleh Daullah Abbasiyyah, khususnya dalam bidang ilmu
merupakan puncak kejayaan islam sepanjang sejarah. Hal ini disebabkan karena
(1) situasi dan kondisi yang sangat menunjang (2) keterlibatan semua pihak
secara ikhlas secara bersunggu-sunggu (3) adanya kemerdekaan dan kebebasan
berpikir membuat umat islam mejadi sangat dinamis dan kreatif, jauh dari sikap
fatalis dan taklid, perkembangan ini juga membawa Daulah Abbasiyyah ketempat
utama dan terhormat dalam kebudayaan, peradaban serta dunia pemikiran atau
filsafat.
Pada masa ini telah dilahirkan Ulama-Ulama besar seperti Imam Malik, Iman
Abi Hanifah, Imam Syafei dan Imam Hambal
dalam bidnag hukum, Imam Asy’ari, Imam Almaturidi, pembuka-pembuka
mu’tazila seperti wasil bin Atha, Abu Alhuzail, Alnazam dan Aljubba’i dlaam
bidang teologi, zunnun Almisri, abu yazid, Albustami dll.
B.
Lembaga Pendidikan
Islam yang di dirikan pada masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Dinasti Umayyah,
Dinasti Abbasiyah
1.
Lembaga Pendidikan
Islam yang di dirikan pada masa Rasulullah
Lembaga-lembaga
pendidikan yang didirikan pada pada masa masa rosulullah saw. Yaitu berupa masjid,suffah dan halaqoh.
a. Periode Mekkah
Lembaga Pendidikan Islam, adapun lembaga pendidikan Islam adalah rumah
Al-Arqom Ibn Abi Arqom. Rumah Al-Arqom ibn Abi Arqam adalah tempat pertama
berkumpulnya kaum muslimin beserta Rasulullah untuk beajar hokum-hukum dan
dasar-dasar ajaran Islam. Rumah ini merupakan lembaga pendidikan pertama atau
madarasah yang pertama sekali dalam Islam, adapun yang mengajar di lembaga tersebut
adalah Rasulullah sendiri.
b. Periode Madinah
Ø
Kuttab
Kuttab berasal dari
bahasa Arab Katattib yang berarti “Mengajar Menulis” tempat belajar yang lahir
pada masa awal Islam. Pada awalnya kuttab berfungsi sebagai tempat memberikan
pengajaran, menulis, dan membaca pada anak-anak.
Ø
Masjid
Masjid, sebagai
kegiatan Nabi Muhammad SAW bersama kaum muslimin, Nabi secara bersama membina
masyarakat baru, masyarakat yang disinari oleh tauhid, dan mencerminkan
persatuan dan kesatuan umat. Di masjid itulah beliau bermusyawarah mengenai
berbagai urusan, mendirikan shalat berjamaah, membacakan al-qura’an maupun
membacakan ayat-ayat yang baru diturunkan. Dengan demikian, masjid itu
merupakan pusat pendidikan pusat pendidikan dan pengajaran.
Ø
Suffah
Pada masa Rasulullah SAW,
shuffah adalah suatu tempat yang telah dipakai utnuk aktifitas pendidikan.
Biasanya tempat ini menyediakan pemondokan bagi pendatang baru dan mereka yang
tergolong miskin. Disini para siswa diajarkan membaca dan menghafalkan
al-qu’ran secra benar, dan diajarakan pula islam dibawah bimbingan langsung
dari nabi. (Ramayulius,2011)
Ø Halaqoh
Halaqoh pada zaman nabi
yang membentuk lingkaran dan Rosulullah menjelaskan pendidikan Islam.
2.
Lembaga Pendidikan
Islam yang di dirikan pada masa Khulafaurrasyidin
a.
Khalifah Abu Bakar RA
Ø Kuttab
Pada masa Abu Bakar
lembaga pendidikan mencapai tingkat kemajuan yang berarti. Kemajuan lembaga
kuttab ini terjadi ketika umat muslim telah menaklukan beberapa daerah dan
menjalin kontak dengan bangsa-bangsa yang lebih maju lembaga pendidikan ini menjadi sangat penting
sehingga para ulama berpendapat bahwa mengajarkan Al-Qur’an merupakan fardhu
kifayah. Materi pendidikannya: membaca, menulis dan menghafal Al-Qur’an ,
pokok-poko agama seperti keimana, ibadah, akhlak dan muamalat.
Ø
Masjid
Merupakan lembaga
pendidikan lanjutan setelah anak-anak tamat belajar dari kuttab. Di masjid ini
ada dua tingkat pendidikan, yaitu tingkat menengah dan tingkat tinggi. Yang
membedakan kedua tingkat tersebut adalah tingkat menengah, gurunya belum
mencapai status guru besar. Sedangkan
pada tingkat tinggi, pengajarnya adalah ulam yang mempunyai pengetahuan yang
mendalam dan integritas kesalehan dan keimanan yang diakui oleh masyarakat.
Materinya adalah Al-Qur’an dan tafsirnya, hadis dan syarahnya serta fiqh.
b.
Khalifah Umar Bin Khattab
Lembaga pendidikan pada masa khalifah Umar bin Khattab, sama dengan masa
Abu Bakar yaitu Masjid dan Kuttab.
Namun dari segi kemajuan pendidikan begitu pesat, sebab selama Umar bin Khattab
pemerintah Negara dalam keadaan stabil dan aman, hal ini menyebabkan
ditetapkannya masjid sebagai pusat pendidikan, dan juga terbentuknya
pusat-pusat pendidikan di berbagai kota.
Kuttab, Materi pendidikan pada masa Umar bin Khattab adalah materi pada kuttab pada
masa Abu Bakar dan di tambah dengna beberapa mata pelajaran dan keterampilan.
Ketika Umar bin Khattab di angkat menjadi khalifah, ia menginstruksikan pada
pendidik agar anak-anak di ajarkan: berenag, mengendarai onta, memanah,
membaca, menghafal syair-syair yang mudah dan pribahasa. Materi pendidikan pada
tingkat menengah dan tingkat tinggi terdiri dari adalah Al-Qur’an dan
tafsirnya, hadis dan syarahnya serta fiqh (tasyri). Ilmu-ilmu yang berkaitan
dengan duniawi dan ilmu filsafat belum dikenal pada masa itu.
c.
Khalifah Usman Bin Affan RA
Pada masa khalifah
Usman bin Affan Pelaksanaan pendidikan yaitu di pusatkan pada Masjid dan Kuttab, akan tetapi pada
masa ini pendidikan diserahkan pada masyarakat, dengan masyarakatla yang lebih
banyak inisiatif dalam melaksanakan pendidikan termaksud pengangkatan para
pendidik. Walaupun demikian ada usaha yang sangat cemerlang yang menentukan
yang dilakukan Usman bin Affan, yang sangat besar pengaruhnya terhadap
pendidikan islam dimasa yang akan dating, usaha tersebut adalah terjadinya
kodifikasih al-quran.
d.
Khalifah Ali bin Abi Thalib
Pada masa Ali bin abi Thalib tidak terlihat perkembangan pendidikan yang
berarti karena pada masa ini telah terjadi kekacawan politik dan pemberontakan,
sehingga dimasa ia berkuasa pemerintahannya tidak setabil. Dengan kericuan
politik pada masa Ali berkuasa, kegiatan pendidikan islam terdapat hambatan dan
ganguan. Pada saat itu Ali bin Thalib tidak sempat lagi memikirkan masalah
pendidikan sebab keseluruan perhatianya ditumpakan kepada masalah keamanan
didalam pemerintahanya.
3.
Lembaga Pendidikan
Islam yang di dirikan pada masa Dinasti Umayyah
Pada masa ini didirikan lembaga pendidikan:
Ø Kuttab, kuttab sebenarnya sudah ada semenjak pada masa khulafah rasidin, namun
pada masa ini kuttab dilaksanakan didekat masjid dan gurunya tidak dibayar.
Pada masa khalifah umayah, kuttab bukan hanya didekat masjid tetapi juga
dirumah guru dan istana.
Ø Istana, pendidikan diistana tidak hanya tingkat rendah, tapi berlanjut pada
pengajaran tingkat tinggi sebgai mana halaqah, masjid, dan masdrasah. Guru
istana dinamakan muaddib. Tujuan pendidikan istana bukan saja mengajarkan ilmu
pengetahuan bahkan muaddib harus mendidik akal, hati, dan jasmani anak.
Ø
Badi’ah, dengan adanya arabisasi oleh Khalifah Abdul Malik ibn
Marwan, maka munculah istilah Badi’ah yaitu dusun badui di Padang Sahara yang
masih fasih dan fmurni bahasa arabnya sesuai dengan kaidah bahasa arab itu.
Akibat dari arabisasi inilah muncul ilmu qawaid dan cabang ilmu lainnya untuk
mempelajari bahasa Arab. Bahasa arab ini sudah samapai ke Irak, Syiria, Mesir,
Libanon, Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko, di samping Sadi Arabia, Yaman,
Emirat Arab, dan sekitarnya di samping Saudi Arabia.
Ø
Perpustakaan, Al-Hakam Ibn Nasir
(350 H/ 961 M) mendirikan perpustakaan yang besar di Qutubah (Cordova).
Perpustakaan ini tidak hanya dipergunakan untuk membaca buku, tetapi juga
disana disediakan ruangan untuk melaksanakan proses pembelajaran yang dibimbing
oleh para ulama sesuai dengan bidang keahlaiannya.
Ø
Bamarista (Rumah Sakit), rumah sakit selain
berfungsi untuk mengobati dan merawat orang sakit, tetapi juga tempat mendidik
para calon tenaga medis dan perawat, dan juga mempelajar ilmu kedokteran.
a. Pola pendidikan pada masa Dinasti Umayyah
Pada masa daulah umayyah pola pendidikan bersifat desentralisasi, tidak
memiliki tingkatan dan standar umur. Kajian keilmuan pada priode ini
didamaskus, kuffah, mekkah, madinah, mesir, cordova, dan beberapa kota lainya
seperti : bassrah dan kuffah, damsyik, dan palestina serta fistat. (Bachtiar
Zabri
b. Pengembangan Ilmu Pengetahuan pada Masa Dinasti Umayyah
Di antara ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu adalah:
1) Ilmu Agama, seperti Al-Qur’an, Hadis, dan Fiqh.
2) Ilmu Sejarah dan Geografi, yaitu segala ilmu yang
membahas tentang perjalanan hidup, kisah dan riwayat.
3) Ilmu pengetahuan bidang bahasa.
4) Bidang filsafat
5) Seni sastra arab
6) Seni kaligrafi dan seni arsitektur (Ramayulius,
2011)
4.
Lembaga Pendidikan
Islam yang di dirikan Pada Masa Dinasti Abbasiyah
a.
Pada masa Abbasiyah sekolah-sekolah terdiri dari beberapa tingkat, yaitu:
Ø
Tingkat sekolah rendah
Namanya Kuttab sebagai
tempat belajar bagi anak-anak. Di samping Kuttab ada pula anak-anak belajar di
rumah, di istana, di took-toko dan di pinggir-pinggir pasar. Adapun pelajaran
yang diajarkan meliputi: membaca Al-Qur’an dan menghafalnya, pokok-pokok ajaran
islam, menulis, kisah orang-orang besar islam, membaca dan menghafal
syair-syair atau prosa, berhitung, dam juga pokok-pokok nahwu shorof ala
kadarnya (Badri Yatim, 2000)
Ø
Tingkat sekolah
menengah
yaitu di masjid dan
majelis sastra dan ilmu pengetahuan sebagai sambungan pelajaran di kuttab.
Adapun pelajaran yang diajarkan melipuri: Al-Qur’an, bahasa Arab, Fiqih,
Tafsir, Hadits, Nahwu, Shorof, Balaghoh, ilmu pasti, Mantiq, Falak, Sejarah,
ilmu alam, kedokteran, dan juga music.
Ø
Tingkat perguruan
tinggi
Seperti Baitul Hikmah di Bagdad dan Darul Ilmu di Mesir (Kairo), di masjid
dan lain-lain. Pada tingkatan ini umumnya perguruan tinggi terdiri dari dua
jurusan:
1) Jurusan ilmu-ilmu agama dan Bahasa Arab serta kesastraannya. Ibnu Khaldun
menamainya ilmu itu dengan Ilmu Naqliyah. Ilmu yang diajarkan pada jurusan ini
meliputi: Tafsir Al-Qur’an, Hadits, Fiqih, Nahwu, Sharaf, Balaghoh, dan juga
Bahasa Arab.
2) Jurusan ilmu-ilmu hikmah (filsafat), Ibnu Khaldun menamainya dengan Ilmu
Aqliyah. Ilmu yang diajarkan pada jurusan ini meliputi: Mantiq, ilmu alam dan
kimia, Musik, ilmu-ilmu pasti, ilmu ukur, Falak, Ilahiyah (ketuhanan), ilmu
hewan, dan juga kedokteran (Musyrifah Sunanto, 2004).
b. Perkembangan ilmu pengetahuan di masa Abbasiyah
Pada masa abbsiyah ini terdapat perkembangan ilmu pengetahuan, antara lain
sebagai berikut:
1) Menerjemahkan buku-buku dari bahasa asing (Yunani,Syiria Ibrani, Persia,
India, Mesir, dan lain-lain) ke dalam bahasa Arab. Buku-buku yang diterjemahkan
meliputi ilmu kedokteran, mantiq (logika), filsafat, aljabar, pesawat, ilmu
ukur, ilmu alam, ilmu kimia, ilmu hewan, dan ilmu falak.
2) Pengetahuan keagamaan seperti fikih, usul fikih, hadis, mustalah hadis,
tafsir, dan ilmu bahasa semakin berkembang karena di zaman Bani Umayyah usaha
ini telah dirintis. Pada masa ini muncul ulama-ulama terkenal seperti Imam Abu
Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Hambali, Imam Bukhari, Imam Muslim,
Hasan Al Basri, Abu Bakar Ar Razy, dan lain-lain
3) Sejak upaya penerjemahan meluas, kaum muslim dapat mempelajari ilmu-ilmu
ilmu-ilmu itu langsung dalam bahasa arab sehingga muncul sarjana-sarjana muslim
yang turut memperluas peyelidikan ilmiah, memperbaiki atas kekeliruaan
pemahaman kesalahan pada masa lampau, dan menciptakan pendapat-pendapat atau
ide baru (Zuhairini, Moh. Kasiran. Dkk, 1985)
Pada intinya lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan pada pada masa
masa rosulullah saw. Yaitu berupa masjid,suffah dan halaqoh. Pada masa khulafaur rosydin
lembaga-lembaga pendidikan tidak jauh berbeda dari masa rosullullah saw. yaitu berupa masjid,suffah,halaqoh, dan kuttab atau
maktab,,selanjutnya pada masa bani umayyah disinilah mulai banyak didirikan lembaga-lembaga yaitu
diantarnya, madrasah mekah, madrasah madinah, madrasah kuffah, madrasah kuffah, madrasah damsyik (syam), madrsah
fistat (mesir). selanjutnya pada masa abbasiyah lembaga-lembaga pendidikan lebih maju yaitu diantaranya, Madrasah
baitul hikmah, madrasah nidhamiyyah, majlis munadaroh, rumah sakit, gedung perpustakaan.
C.
Metode Pendidikan Pada
Masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah
Pada Masa Rasulullah lembaga pendidikan islam adalah rumah al-Arqam ibn Abi Arqam. Rumah
al-Arqam ibn Abi Arqam adalah lembaga pendidikan pertama atau Madrasah yang
pertama kali dalam islam, pada masa itu metode pendidikan islam dirumah
Al-Arqam sangat sederhana sekali dan pendidikan dilembaga ini dilaksanakan
dalam bentuk ceramah dan kemudian diikuti dengan praktek beragama yang
berkaitan dengan ibadah, terutama ibadah shalat (Ramayulius, 2011). Metode yang
digunakan Rasulullah dalam mendidik sahabatnya antara lain: (1) metode ceramah,
menyampaikan wahyu yang baru diterimanya dan memberikan
penjelasan-penjelasanserta keterangan-keterangannya; (2) dialog, misalnya dialg
antara Rasulullah dengan Mu’az ibn Jabal ketika Mu’az akan diutus sebagai kadi
ke negeri Yaman; (3) diskusi ata tanya jawab, sering sahabat bertanya kepada
Rasulllah tentang suatu hukaum, kemudian rsul menjawab; (4) metode perumpamaan,
misalnya orang mukmin itu laksana satutubuh, bila sakit salah satu anggota
tubuh maka anggota tubuh lainnya akan turut merasakannya; (5)metode kisah,
misalnya kisah beliau dalam perjalanan isra’ dan miraj; (6) metode pembiasaan,
membiasakan kaum muskimin shalat berjamaah; (7) metode hafalan, misalnya para
sahabat dianjurkan untuk menjaga al-Qur’an dengan menghafalnya (Moh. Untung Slamet,
2005)
Pada Masa Khulafahurrasydin lembaga pendidikan islam pada masa itu sudah berkembang, lembaga
pendidikannya sama dengan masa abu bakar, pendidikan pada masa itu berada di
bawah pengaturan Guburnur. Disamping itu kemajuan dalam bidang pendidikan juga
terdapat kemajuan berbagai bidang, seperti pos pengiriman surat, kepolisian,
baitul mal, dan sebagainya. Pada masa khulafaur rosyidin metode-metode yang digunakan yaitu dengan
membaca,menulis dan menghafalkan,diskusi atau
Pada Masa Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah, pada masa umayyah dan abbasiyah,tidak bjauh beda dari sebelumnya yaitu menulis,ceramah,
menghafal,diskusi kelompok,halaqoh,halaqoh dan lain sebagainya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesimpulan uraian di atas, bahwa pendidikan Islam telah ada ketika
pra kenabian Muhammad saw. Bisa dijelaskan bahwa sejarah telah mencatat,
ternyata nabi Muhammad saw telah melangsungkan pendidikan yang luar biasa.
Pendidikan yang kurikulumnya dirancang oleh Allah swt, kelas belajar adalah
masyarakat Quraisy, dan semua peristiwa adalah materi-materi yang disuguhkan
kepada nabi Muhammad saw sebagai murid. Dengan kata lain, nabi Muhammad saw dengan materi-materi belajar
menggunakan pendekatan partisipatoris yang terlibat langsung dengan
kejadian yang dikehendaki oleh materi ajar yang disusun oleh Allah swt.
Atau bisa juga disebut dengan metode partisipatoris dan role playing atau seni
peran, metode ini memungkinkan peserta didik merasakan langsung
peristiwa, pengalaman-pengalaman pembelajaran sehingga lebih mudah menyerap dan
memaknai hasil pembelajaran tersebut.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Amini,
Ibrahim, Mengapa Nabi Diutus, Jakarta: Alhuda, 2006
Dahar,
Ratna Wilis, Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Penerbit
Erlangga, 2011
Dimyati
dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2009
Amin,
Syamsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: AMZAH, 2009
Maryam,
Siti dkk, Sejarah Peradaban Islam Masa klasik hingga Modern, Yogyakarta:
LESFI, 2009, Cet, III
Sidigizalba,
Ilmu, Filsafat, dan Islam tentang manusia dan Agama¸Jakarta: Bulan Bintang,
1992, cet III
Hasbullah,
Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta: Radja Grafindo Persada, 2008 Edisi
Revisi
Ramayulis
dan Samsul Nizar, Ensiklopedia Tokoh Pendidikan Islam, Jakarat: PT.
Ciputat Press Group, 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar