BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Renaissance merupakan titik awal dari sebuah peradaban modern di
Eropa. Sebuah titik awal dalam perkembangan ilmu pengetahuan yang sebelumnya
terbatas akibat dogma gereja. Essensi dari semangat Renaissance salah satunya
adalah pandangan manusia bukan hanya memikirkan nasib di akhirat seperti
semangat Abad Tengah, tetapi mereka harus memikirkan hidupnya di dunia ini.
Renaissance menjadikan manusia lahir ke dunia untuk mengolah, menyempurnakan
dan menikmati dunia ini. Penulisan makalah Renaissance ini diharapkan
bermanfaat bagi pembacanya dalam rangka semangat untuk terus berkarya dengan
pemikiran dan tidak menyerah dalam situasi suram seperti The Dark Age sekalipun
dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
B. Rumusan
Makalah
1.
Pengertian dan Sejarah Renaissance
2.
Zaman Jahiliyah di Nusantara
3.
Periode Pembenihan Renaissance
4.
Periode Pertumbuhan Renaissance
C.
Tujuan
Untuk mengetahui pengertian,
sejarah serta pertumbuhan Renaissance di Indonesia
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian dan Sejarah Renaissance
Istilah
renaissance bermakna kelahiran kembali atau kebangkitan kembali. Istilah ini
mengacu kepada sejarah dunia Barat –khususnya Eropa dan memang berawal dari
Eropa– sejak perioda abad ke-15 menurut satu sumber, atau abad ke-16 menurut
sumber lain. Karena itu kita perlu menelusuri secara singkat sejarah Barat, dan
kebangkitan tersebut tidak terlepas dari hubungan yang sedemikian lama antara
dunia barat dengan dunia Timur.
Mungkin muncul pertanyaan, apa yang
bangkit kembali atau lahir kembali?
Dalam
sejarah dunia Barat dikenal dengan Zaman Kegelapan (Dark Ages) atau Abad
Pertengahan (Middle Ages). Pada perioda tersebut segala prestasi kemanusiaan
yang pernah dicapai dunia Barat rusak atau hilang. Dunia Barat mengalami perioda
kemandegan terutama di bidang pemikiran akibat pengaruh gereja-negara yang
sedemikian besar, dalam arti menindas. Segala faham atau pemikiran yang
menyimpang dari dua lembaga tersebut dilarang, bahkan para pendukungnya yang
masih bertahan diburu. Berbagai tuduhan diberikan semisal murtad, sesat atau
bid’ah. Suasana macam ini jelas tidak memberi kesegaran untuk berfikir.
Umumnya
orang menilai perioda suram tersebut bermula pada tahun 476, ketika Kerajaan
Romawi Barat runtuh oleh serbuan bangsa Jerman yang waktu itu masih primitif.
Kota Roma ditaklukan, warga ditangkap atau dibantai serta berbagai aset dijarah
atau dirusak. Hal tersebut merupakan peristiwa yang memilukan bagi Barat karena
pada zaman tersebut ada anggapan umum bahwa kerajaan runtuh berarti peradaban
runtuh. Perioda ini dianggap berakhir pada tahun 1492, ketika itu kekuasaan
kaum Muslim di Eropa Barat dapat dihapus oleh persekutuan Castilia-Aragon yang
kelak membentuk Kerajaan Spanyol. Disamping itu, tahun tersebut diisi oleh
peristiwa spektakuler Christoforus Columbus menemukan benua Amerika. Peristiwa
tersebut agaknya perlu diteliti ulang, sesungguhnya Columbus hanya mencapai
gugusan pulau di Laut Karibia, lepas pantai benua Amerika. Juga sesungguhnya
sebelum Columbus sudah ada beberapa pelayaran menjangkau benua tersebut antara
lain bangsa Arab, Berber dan konon Cina. Tetapi dampaknya tidak sedahsyat
pelayaran Columbus.
Ketika
Barat mengalami masa suram, dunia Timur masih bertahan menampilkan berbagai
prestasi kemanusiaan yang telah ada sejak sekitar 5000 BC, ketika peradaban
manusia pertama lahir di Timur. Sejak itu berbagai kerajaan dan peradaban
tampil silih berganti memberi sumbangsih kepada kemanusiaan, termasuk ke dunia
Barat.
Setelah
sekian lama menyerap pengaruh Timur, Barat bangkit sekitar tahun 1000 BC di
Yunani, kemudian diwarisi oleh Romawi. Pada perioda 1000 BC – 500 AD Barat
boleh dibilang tampil imbang dengan Timur. Kemudian sebagai akibat Romawi Barat
runtuh, sekitar perioda 500-1500 Timur kembali mengungguli Barat. Barat terpaksa
belajar lagi kepada Timur untuk bangkit kembali. Perioda bangkit kembali itulah
disebut Renaissance.
Pada abad ke-7 di Timur muncul
suatu kekuatan sekaligus peradaban yang kelak memberi banyak sumbangsih bagi
manusia tetapi sekaligus sering atau sengaja dilupakan, yaitu Islam. Dirintis
oleh Nabi Muhammad SAW (570-632) di Arabia, setelah mengalami perjuangan pahit
menyebar Islam dan mempersatukan Arab, terbentuklah umat baru dan negara baru
yaitu Muslim.
Negara
baru tersebut menghadapi masalah berat: terkepung oleh dua kekuatan raksasa
(super power) saat itu di kawasan yang terbentang dari Afrika Utara hingga Asia
Tengah, yaitu Kerajaan Romawi Timur (Bizantium) dan Kerajaan Persia (Sassanida)
yang cenderung menindas sehingga rakyat mengharap kebebasan. Walaupun kedua
negara tersebut mengalami perang yang menguras tenaga dan kebobrokan dalam
negeri, agaknya masih tangguh dibanding Muslim.
Diawali oleh gangguan dua super
power tersebut terhadap stabilitas Arabia, kaum Muslim bergerak ke luar Arabia
melawan keduanya sekaligus. Singkat cerita, Persia dapat ditaklukan sepenuhnya
dan Bizantium kehilangan banyak wilayahnya. Penaklukan relatif cepat tersebut
sedikit banyak juga karena didukung oleh rakyat kedua negara tersebut. Gerak
maju kaum Muslim tersebut menampilkan imperium baru yang membentang dari Iberia
hingga Turkistan.
Kaum
Muslim menaklukan wilayah yang sebagian besar telah berperadaban canggih dari
warisan semisal Arabia, Mesir, Mesopotamia, Levant, Yunani, Romawi dan Persia.
Wilayah sebelah timur berbatasan dengan Cina dan India sehingga kaum Muslim
mengenal peradaban kedua bangsa tersebut. Selama perioda 700-1400 kaum Muslim
menerima berbagai peradaban tersebut, mengolah dan memberi peradaban tersebut
kepada Barat. Barat tidak punya pilihan kecuali menerima mengingat wilayah
mereka berbatasan dengan imperium Muslim, walau hubungan Timur-Barat pada
perioda tersebut sempat rusak oleh perang salib (1095-1291). Perang tersebut
adalah usaha Barat untuk merebut kembali wilayah yang pernah dijajahnya, yaitu Afrika
Utara dan Asia Barat. Juga dapat dianggap semacam cikal bakal perang kolonial
yang kelak dikobarkan pada abad ke-16.
Dengan
demikian sesungguhnya Renaissance yang kelak mengantar Barat mencapai kemajuan
dalam berbagai bidang sebagian besar adalah proses belajar yang lama dari kaum
Muslim, yang antara lain dari bangsa Arab, Persia, Kurdi, Berber dan Turki.
Mereka bangkit melawan penindasan gereja-negara. Yang sangat menonjol dari
gerakan tersebut adalah kelompok Protestan. Tak dapat disangkal, perubahan
tersebut meminta waktu yang lama dan korban yang banyak. Hal tersebut kelak
juga terjadi di Nusantara, walau tidak sepenuhnya mirip.
Ini perlu dijelaskan khususnya
kepada siapapun yang kagum atau minder kepada Barat.
Kebangkitan
kembali Barat juga mencakup penjelajahan dan penjajahan ke seantero dunia.
Kemajuan teknologi hasil belajar yang lama semisal penciptaan senjata api,
kompas, mesin cetak, kapal layar dan pemetaan membantu dan makin merangsang
hasrat imperialisme, yaitu hasrat yang memang sudah ada sejak Barat masih
primitif. Indonesia termasuk yang kena dampak itu, karena orang Barat sukses
mencapai wilayah tersebut. Bahkan Indonesia adalah tujuan pokok imperialisme
karena penghasil rempah-rempah. Hasil bumi tersebut sangat diperlukan Barat
saat itu untuk bumbu dan mengawetkan bahan makanan.
Jika
abad ke-16 merupakan awal kebangkitan Barat, justru bagi Indonesia adalah awal
keruntuhan. Imperium Majapahit setelah sekian lama tampil dominan di Asia
Tenggara, runtuh akibat konflik intern, beberapa wilayah taklukan memisahkan
diri. Peristiwa tersebut juga sedikit banyak mempengaruhi perkembangan
peradaban. Dan kedatangan bangsa Portugis dan disusul oleh bangsa-bangsa Barat
lainnya sungguh tepat waktunya, Nusantara –bahkan Asia Tenggara– dalam proses
perpecahan. Keruntuhan Majapahit dan kedatangan imperialisme Barat berakibat
prestasi kemanusiaan yang pernah dicapai menjadi rusak atau hilang, mirip
dengan nasib Barat pada abad ke-5 sebagaimana telah dijelaskan di atas. Pelan
tapi pasti bangsa Indonesia bergerak menuju keterbelakangan. Mungkin perioda
1500 hingga kini layak disebut zaman jahiliyah.
B.
Zaman Jahiliyah di Nusantara
Seiring
dengan proses Majapahit runtuh dan imperialisme Barat hadir, di Nusantara
muncul beberapa kerajaan yang bertekad memulihkan capaian prestasi yang pernah
diraih sebelumnya. Aceh, Demak, Banten, Palembang, Mataram, Goa, Ternate dan
Tidore adalah beberapa contoh. Negara-negara tersebut sempat meraih puncak
kejayaan –mungkin setaraf dengan Renaissance Barat– tetapi relatif tidak lama.
Satu demi satu beberapa negeri di seantero Nusantara ditaklukan imperialis
Barat, sehingga tak banyak yang tersisa dari prestasi tersebut. Imperialis
Barat banyak menghancurkan bukti fisiknya semisal beberapa bangunan di Aceh dan
Banten.
Negara
yang pertama ditaklukan adalah Kerajaan Malaka tahun 1511 oleh bangsa Portugis.
Berulang-ulang usaha merebut kembali dilaksanakan tetapi gagal. Tahun
berikutnya gerak maju mencapai Ambon di Kepulauan Maluku dan Timor di Kepulauan
Sunda Kecil. Usaha menaklukan Jawa dapat digagalkan Demak.
Selain
Portugis, imperialis yang datang berikutnya adalah Spanyol, Inggris dan
Belanda. Kelak, setelah melalui peperangan dengan sesama Barat dan sekaligus
pribumi, Belanda tampil dominan di Nusantara.
Perlawanan
pribumi terhadap kolonial Belanda terjadi sejak awal kedatangan. Kedatangan
pertama yang dipimpin Cornelis de Houtman di Banten hanya sebentar disambut
ramah. Perilaku tidak sopan para tamu tersebut membuat marah pribumi dan muncul
perlawanan. Perilaku tersebut bukan diperbaiki tetapi bahkan dilaksanakan pula
di daerah lain, tentu saja kebencian dan perlawanan pula yang diterima.
Pada
awalnya rakyat Nusantara memilih perlawanan militer, hal tersebut masih
memungkinkan mengingat teknologi Barat dengan Nusantara masih boleh dibilang
berimbang. Tetapi imperialis memiliki cara yang dikenal dengan istilah “sistem
senjata sosial”, yaitu devide et impera (pecah belah dan jajah). Hal tersebut
memungkinkan mengingat Nusantara terbagi-bagi dalam beberapa negara sebagaimana
tersebut di atas. Pada waktu itu apa yang disebut “bangsa Indonesia” belum ada,
yang ada ialah bangsa Aceh, bangsa Jawa, bangsa Sunda, bangsa Bugis, bangsa
Papua, bangsa Ambon dan lain-lain. Dengan demikian sulit terbentuk front
terpadu melawan imperialis. Hal tersebut berlangsung hingga masuk abad ke-20.
Seiring
dengan banyak peperangan dan penaklukan, praktis peradaban tidak berkembang karena
sebagian besar potensi terkuras untuk perang. Banyak kaum intelektual yang
tewas, hilang, ditangkap atau diasingkan. Sekedar contoh akibat tersebut tadi,
pada awal abad ke-20 sekitar 90 persen rakyat buta huruf.
Singkat cerita, mayoritas rakyat
Indonesia nyaris gila menanti akhir tragedi kemanusiaan ini. Kapankah datang
kebangkitan kembali yang akan memulihkan capaian kemanusiaan yang pernah diraih
bangsa ini?
C.
Periode Pembenihan Renaissance
Masuk
abad ke-20 terasa muncul gejala kebangkitan Timur, padahal kebangkitan tersebut
telah dicoba pada abad ke-18. Di Arabia, Muhammad bin ’Abdul Wahhab mengobarkan
revolusi pemikiran agama berbentuk pemurnian pemahaman dan pengamalan Islam.
Gerakan ini dikenal dengan sebutan “Wahhabi”.
Abad
ke-19 tampil pula Jamaluddin al-Afghani mengobarkan revolusi pemikiran agama
berbentuk pembaharuan pemahaman dan pengamalan Islam. Tetapi yang mungkin lebih
spektakuler adalah kebangkitan Jepang yang dikenal dengan sebutan Restorasi
Meiji. Dengan cepat Jepang menyerap pengaruh Barat tanpa perlu kehilangan
kepribadian sendiri. Hasilnya, Jepang menang melawan imperialis Barat (yaitu
Rusia) pada Perang Rusia-Jepang (1904-1905).
Kemenangan tersebut bergema di
Barat dan di Timur. Sama-sama heran walau mungkin dari sudut pandang berbeda.
Bagi orang Barat, mitos keunggulan ras Barat seakan runtuh. Bagi orang Timur,
bangkit rasa percaya diri tampil di panggung dunia.
Indonesia
kena pengaruh tersebut. Benih-benih Renaissance Indonesia muncul juga dalam
bentuk reformasi dan revolusi pemikiran. Sebagai akibat dari kebangkitan Muslim
dari Ibnu ‘Abdul Wahhab dan al-Afghani, terbentuk organisasi Jamiyyatul Khair
pada 1901. Organisasi tersebut bergerak di bidang pendidikan. Mungkin terkesan
kurang spektakuler, tetapi menampilkan orang yang spektakuler dalam arti
intelek tentu harus melalui pendidikan. Dari situ akan tampil teknisi,
politisi, ekonom dan lain-lain. Dan itu terbukti kelak, beberapa aktivis
Jamiyyatul Khair menjadi aktivis parpol dan ormas semisal Partai Syarikat Islam
Indonesia (PSII) dan Muhammadiyyah. Jelas Jamiyyatul Khair menjadi tempat awal
belajar berorganisasi.
Walaupun organisasi tersebut
(Jamiyyatul Khair) dibentuk oleh orang Arab tetapi terbuka untuk orang lain,
tentunya Muslim (kelompok mayoritas di Nusantara). Ini jelas lebih luas
dibanding dengan Boedi Oetomo yang dibentuk pada 20 Mei 1908 sebagai akibat
pengaruh kemenangan Jepang. Boedi Oetomo membatasi keanggotaan pada suku Jawa
dan Madura, itupun yang elit. Anehnya, versi resmi sejarah nasional Indonesia
sekian lama menetapkan pembentukan Boedi Oetomo sebagai Kebangkitan Nasional.
Di mana letak nasionalnya kalau tertutup untuk suku selain Jawa-Madura dan
tertutup untuk selain elit? Jelas organisasi tersebut bercorak lokal, bukan
nasional. Bercorak elitis, bukan populis.
Ada
lagi yang juga memerlukan penelitian ulang. Serikat Dagang Islam, cikal bakal
PSII, menurut versi resmi dibentuk tahun 1911, tetapi versi lain menyebut 1905
yang berarti sebelum Boedi Oetomo dibentuk. Apakah tujuan menyusun sejarah
versi resmi adalah untuk memperkecil atau menutupi peran kaum Muslim melawan
imperialisme? Pada hemat penulis, sudah tiba waktunya untuk meneliti ulang
seluruh penulisan sejarah versi resmi tersebut, termasuk kapan terjadi
Kebangkitan Nasional.
Apa
yang disebut Kebangkitan Nasional –terlepas dari masalah waktu dan pelaku
pembentukannya– kelak akan menampilkan tiga kelompok utama yang mencoba menjadi
pendukung Renaissance Indonesia yang saling bersaing menentukan arahnya, yaitu
nasionalis, agamis dan komunis.
Benih-benih
Renaissance juga muncul karena kebijakan baru Belanda. Akibat kecaman kaum
humanis terhadap praktek penindasan dan penghisapan terhadap rakyat Hindia
Belanda –sebutan untuk Nusantara atau Indonesia ketika itu– pemerintah Belanda
menetapkan kebijakan yang disebut “eereschuld” atau “de etische politiek”.
Dasar pemikirannya adalah Belanda sangat berhutang budi kepada Hindia Belanda,
karena itu harus terwujud hubungan yang saling menguntungkan antara kedua belah
fihak.
Kebijakan
tersebut dimulai tahun 1901, berbagai perangkat dari Eropa datang ke Hindia
Belanda. Pembangunan jalur rel, jalur aspal, jembatan, waduk, sekolah, rumah
sakit dan sebagainya dilaksanakan. Berangsur-angsur anak-anak pribumi masuk
lembaga pendidikan. Kelak dari kaum terdidik akan tampil aktivis kemerdekaan,
suatu hal yang tak diharapkan rezim kolonial. Rezim ingin pribumi pandai
melayani Belanda, bukan pandai memimpin Hindia Belanda.
Tetapi
walau muncul resiko macam itu, suka tidak suka rezim harus melanjutkan
kebijakan balas budi tersebut jika tidak ingin menuai kecaman atau dicap
biadab. Pemikiran yang juga mungkin mendasari balas budi adalah “menjajah boleh
saja, tetapi yang manusiawi dong”. Karena itulah pemberian kemerdekaan tidak
termasuk di dalam kebijakan baru tersebut.
Yang
lebih siap menerima perubahan tersebut adalah para elit tradisional terutama di
Jawa semacam raden, bupati, kanjeng atau tumenggung. Dan Jawa adalah pusat
pemerintahan serta berpenduduk terbanyak di Hindia Belanda. Adapun kelompok
jelata semisal petani boleh dibilang tidak siap. Umumnya mereka cenderung
enggan ikut dalam arus perubahan tersebut demi “mendapat sesuatu” dari rezim
yang dinilai “asing” dan “kafir”, mengingat mereka cenderung berwawasan Islam
atau animisme disamping mereka secara teknis tidak terdidik. Para elit di Jawa
siap karena memiliki latar belakang status sosial “canggih”, sikap tradisional
yang renggang terhadap Islam dan sering bergaul dengan orang Barat sehingga
dekat dengan pengaruh Barat. Hal tersebut sesuai dengan pemikiran seorang orientalis
bernama Snouck Hurgronje bahwa pembaratan Hindia Belanda dapat dilaksanakan
jika didukung oleh para elit karena faktor tersebut di atas. Dengan demikian
tampil kelompok terpelajar arogan terhadap segala yang bercorak Islam atau
Timur. Tak heran dalam diri mereka sepi dari kepedulian terhadap nasib bangsa
yang notabene masih teguh memegang nilai-nilai tersebut di atas.
Sementara
itu, rakyat Indonesia sampai pada suatu pendapat bahwa perlawanan militer tidak
akan sukses, mengingat Belanda lebih dulu mengalami tahap kebangkitan berikut
di dunia Barat setelah Renaissance yaitu Aufklarung termasuk menikmati hasil
Revolusi Industri. Revolusi Industri menghasilkan kemajuan antara lain
teknologi militer. Karena itulah perlawanan politik menjadi pilihan, dan hal
tersebut perlu pendidikan. Karena itulah berangsur-angsur muncul lembaga
pendidikan swasta di samping milik pemerintah. Milik swasta tersebut diberi
dengan sebutan tidak enak wilde scholen (sekolah liar) oleh rezim kolonial.
Kelak sekolah swasta tersebut menjadi cikal bakal sekolah modern, dengan kata
lain turut mencerahkan pemikiran bangsa. Jamiyyatul Khair termasuk contohnya.
Lembaga
pendidikan milik Muhammadiyyah adalah contoh lain. Organisasi tersebut dibentuk
oleh KH Ahmad Dahlan (1868-1923) pada 18 November 1912. Dia berasal dari level
elit keraton Yogya dalam hal agama yang lazim disebut “kauman”, tetapi dia
dikenal sebagai sosok populis karena keberfihakan kepada rakyat. Dia
terpengaruh oleh gerakan pemurnian Ibnu ‘Abdul Wahhab dan pembaharuan
al-Afghani ketika berada di Makkah. Dia mencoba membawa kedua faham tersebut ke
Hindia Belanda.
Pada
awalnya dia masuk Boedi Oetomo tahun 1909, dia memperkenalkan faham kebangkitan
tersebut di dalamnya. Kemudian atas desakan beberapa orang yang telah mengenal
pemikirannya, dia membentuk organisasi sendiri.
Perkara
kebangkitan berbentuk gerakan pemurnian di Nusantara sesungguhnya telah ada
sebelum abad ke-20. Faham Wahhabi diperkirakan hadir sejak akhir abad ke-18 dan
kemudian terbentuk gerakan Paderi di Minangkabau. Sebagaimana di Arabia,
gerakan Paderi memilih cara revolusi yang berkembang menjadi Perang Paderi
(1821-1837). Walaupun gerakan tersebut secara organisasi dapat ditumpas oleh
kolonial dan anteknya, fahamnya hidup terus antara lain diwarisi Muhammadiyyah.
Perang Diponegoro (1825-1830) atau disebut Belanda Java Oorlog (Perang Jawa)
kemungkinan ada diilhami juga dari Arabia.
Tetapi
Muhammadiyyah tidak memilih revolusi, bahkan mencoba menjaga jarak dengan
politik. Fokusnya adalah pendidikan dan kesejahteraan sambil berda’wah melawan
pengaruh Barat dan jahiliyah lokal.
Sama
hal dengan gerakan-gerakan kebangkitan di manapun, pada awalnya Muhammadiyyah
mendapat hambatan dari fihak-fihak yang merasa nyaman dengan tatanan lama.
Muhammadiyyah mendapat hambatan dari pejabat, tokoh agama model lama, kelompok
agamis yang menolak faham modernis. Faham pemurniannya mengecam berbagai
praktek yang diyakini oleh orang shalih di Jawa sebagai praktek Islam
sesungguhnya seperti maulud, selamatan dan haul. Kehadiran Muhammadiyyah
dianggap mengancam kelestarian tradisi masyarakat sehingga menampilkan
kebencian oleh kelompok agamis di Jawa.
Walau
sempat mengalami kemunduran di Jawa, organisasi tersebut mendapat sambutan
simpatik di Minangkabau. Daerah tersebut telah mengenal pemurnian dan
pembaharuan sejak lama. Muhammadiyyah diperkenalkan ke Minangkabau oleh Haji
‘Abdul Malik Karim Amrullah alias Haji Rasul tahun 1925. Pada tahun 1938
Muhammadiyyah telah menyebar ke seluruh pulau utama Nusantara.
Layak
diketahui bahwa sebagaimana gerakan Renaissance Barat, gerakan Renaissance
Indonesia juga mendapat penindasan. Bedanya terletak pada pelaku penindasan, di
Barat pelakunya boleh dibilang bangsa sendiri, yaitu persekongkolan
gereja-negara. Tetapi di Indonesia lebih berat, pelaku penindasan bukan hanya
elit pribumi tetapi juga bangsa asing. Mereka bersekongkol melestarikan suasana
jahiliyah yang masih berlanjut hingga kini, walaupun kini secara fisik tidak
ada kehadiran kolonialis asing. Dengan kemajuan teknologi, hubungan masih terjalin.
Bahkan para antek imperialis mampu masuk ke pemerintahan Republik.
Seiring
pertambahan jumlah kaum intelek, bertambah pula organisasi. Awalnya berdasar
kedaerahan atau kesukuan semisal Jong Java (1918), Jong Pasoendan (1914),
Soematranen Bond (1918), Timorsch Verbond (1921) dan Kaoem Betawi (1923).
Organisasi berdasar konsep identitas se Indonesia belum mendapat pendukung
berarti.
Serikat
Dagang Islam berubah nama menjadi Syarikat Islam. Di bawah pimpinan ‘Umar Said
Tjokroaminoto (1882-1934) partai ini sempat meraih pengikut terbanyak untuk
ukuran Hindia Belanda. Walaupun Jawa tetap menjadi pusat kegiatannya,
organisasi tersebut menyebar ke luar Jawa.
Tjokroaminoto
sesungguhnya tidak berlatar belakang agamis. Dia pernah menerima pendidikan
kolonial di OSVIA (Opleiding School Voor Inlandse Ambtenaaren), yaitu sekolah
yang mengajar ilmu pemerintahan untuk pribumi. Dia bahkan sempat berdinas dalam
pemerintahan. Dia mengundurkan diri dari dinas pemerintahan mungkin karena
watak dasarnya yang populis, dia tak suka dengan para pejabat kolonial, pribumi
maupun asing. Dengan cepat dia menjadi tokoh terkenal dalam SI. Kecepatan SI
meraih banyak pengikut tidak terlepas dari kharisma Tjokroaminoto. Kadang dia
dianggap sebagai tokoh masa depan yang dinanti-nanti tampil mewujudkan adil dan
makmur dan menertibkan segala ketidakteraturan dunia. Sosok atau kepercayaan
demikian ada pada tiap kelompok masyarakat di dunia. Di Jawa dikenal sebagai
istilah “Ratu Adil”, bagi umat Islam dikenal sebutan “Imam Mahdi”, dan bagi
umat Yahudi-Nashrani disebut “Messias”.
Pada
awalnya SI tidak menentang rezim kolonial. Tetapi ketika meraih pengikut di
pedesaan, berkobar kekerasan. Rakyat menganggap SI sebagai wadah bela diri
terhadap tatanan kolonial yang dibenci itu. SI dianggap sebagai wadah
solidaritas kelompok terhadap Cina, elit pribumi, orang Indo dan orang Barat.
Kira-kira dengan urutan seperti itu. Di beberapa tempat SI menjadi pemerintahan
bayangan atau tandingan sehingga aparat harus menyesuaikan diri. Gerakan boikot
terhadap pedagang batik Cina di Surakarta dengan cepat menjadi tindak saling
menghina antara Cina dengan pribumi dan berkembang menjadi kekerasan di
sebagaian besar Jawa antara 1913-1914. SI lokal memegang peranan penting.
Kelompok
lain yang ingin ikut mencerahkan pemikiran bangsa ini adalah komunis, padahal
kelak terbukti bukan mencerahkan tapi menyesatkan. Komunisme dibawa masuk ke
Indonesia oleh HFJ. Sneevliet (1883-1942) tahun 1913. Pada 1914 dia membentuk
Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) di Surabaya. Pada awalnya
hampir seluruh anggotanya berkebangsaan Belanda, tetapi partai ini bertekad
meraih basis massa dari rakyat Indonesia.
ISDV
menempuh cara licik, tidak mau bersusah payah merangkul rakyat yang belum
berpartai untuk mendapat pengikut besar pertama. SI terpilih menjadi sasaran
penggembosan karena partai tersebut adalah yang terbesar di Hindia Belanda
ketika ISDV masih kecil. Inilah awal permusuhan antara kelompok agamis
–khususnya Islamiyah– dengan jahiliyah komunisme di Nusantara. Agaknya ISDV
menempuh strategi Iblis menggoda manusia. Mungkin tidak banyak tahu bahwa pada
awalnya Iblis adalah makhluk yang sangat agamis, menjadi makhluk kepercayaan
tuhan. Tetapi kemudian murtad karena kecewa dengan niat tuhan menciptakan
manusia. Singkat cerita, Iblis bertekad menyesatkan manusia. Hal tersebut mirip
dengan Sneevliet. Dia berlatar belakang agamis tetapi kemudian murtad menjadi
komunis dan mengajak orang murtad juga. Mungkin dia juga kecewa dengan agama.
Memang, komunisme dan beberapa faham sesat lain di Barat berasal usul dari rasa
kecewa terhadap agama atau tokoh agama. Kelompok yang pertama dimurtadkan
adalah para anggota SI, organisasi yang bercorak agamis.
Maka faham Iblis yang bernama
komunisme disusupkan ke SI, hasilnya luar biasa. Dengan cepat ISDV mendapat
banyak pengikut antara lain seorang tokoh SI cabang Semarang bernama Semaoen.
Pada 23 Mei 1920 ISDV berubah nama menjadi Partai Komunis Hindia dan Semaoen
terpilih menjadi ketua yang pertama. Dia berlatar belakang buruh kereta api dan
menjadi anggota SI cabang Surabaya. Pada 1916 dia pindah ke Semarang, tempat
Sneevliet aktif dalam Serikat Buruh Kereta Api dan Trem (Vereeniging Spoor en
Tramweeg-personeel). Semaoen bergabung dengan ISDV sekaligus masih anggota SI.
Kharisma Semaoen menghasilkan jumlah pengikut yang bertambah pesat bagi SI
cabang Semarang. SI cabang ini pernah menentang niat SI masuk Volksraad
(parlemen semu Hindia Belanda) dan menentang gigh kepemimpinan Centraal
Sjarikat Islam (CSI). Sikap tersebut mendapat dukungan kuat, memaksa
Tjokroaminoto mengecam “kapitalisme yang berdosa” yang jelas berarti mengecam
modal asing tetapi dengan cerdik menghindar dari sikap mengecam modal yang
dimiliki para haji dan ulama. Tapi perpecahan tetap tak terhindarkan.
SI
terpecah menjadi SI Putih dan SI Merah. Tahun 1921 Tjokroaminoto melaksanakan
disiplin partai sekaligus mengubah nama menjadi Partai Syarikat Islam (PSI).
Anggota SI tidak boleh merangkap anggota organisasi lain. Penggembosan terjadi,
SI Merah menjadi Partai Komunis Hindia dan tahun 1923 berubah nama menjadi
Partai Komunis Indonesia (PKI). SI Putih mempertegas corak Islamiyahnya. Kedua
organisasi tersebut berjalan sendiri-sendiri.
Dalam
beberapa hal komunis meniru cara yang lazim dilaksanakan kaum agamis, bahkan
sedikit banyak menggunakan agama untuk meraih pengikut. Hal tersebut dipilih
karena fakta yang tak dapat dibantah bahwa mayoritas rakyat masih menganggap
perkara ruhani sebagai hal penting. Fakta tersebut jauh hari telah disadari
oleh seorang tokoh PKI bernama Tan Malaka (1897-1949). Dia menentang
penggembosan SI karena melemahkan gerakan Renaisance terutama anti
imperialisme. Dia menolak anggapan Komintern (Komunis Internasional) yang telah
menuduh gerakan Pan Islam adalah bentuk imperialisme. Tan Malaka menegaskan
bahwa Pan Islam adalah gerakan anti imperialisme. Jauh-jauh hari dia menegaskan
bahwa kelompok agamis harus dirangkul, bukan dibenci.
Ketika
makin nyata perbedaan faham antara dia dengan rekan-rekan komunisnya, dia pilih
bentuk partai sendiri yaitu PARI (Partai Republik Indonesia) dan ketika
Revolusi 1945 dia membentuk Partai Murba.
Mungkin
dengan malu-malu komunis melaksanakan pendapat Tan Malaka tersebut dan agaknya
pendapat Tan Malaka benar. Maka muncul istilah aneh “Komunisme Islam” yang
menunjukkan bahwa komunis tidak sepenuhnya bertahan dengan dogma aslinya yang
menganggap “agama adalah candu”. Di Surakarta Haji Misbakh berceramah bahwa
Islam dan komunisme adalah sama. Ceramah tersebut meraih simpati dan kerusuhan
di pedesaan terjadi. Dia dikenal dengan sebutan “Haji Merah”. Di Banten sikap
komunis mungkin lebih aneh: fanatik agama.
Kebencian
terhadap imperialis dan anteknya, semangat yang dikobarkan oleh SI dan PKI
serta faktor lain menyebabkan Revolusi 1926, perlawanan militer yang boleh
dibilang sudah bercorak se Indonesia terhadap rezim kolonial dengan titik berat
di Banten dan Minangkabau. Tetapi nasib baik masih memihak rezim kolonial,
revolusi dapat ditumpas dengan relatif singkat.
Kelompok nasionalis adalah kelompok
utama berikutnya yang ingin ikut mencerahkan pemikiran bangsa. Kelompok ini
berfaham mencintai bangsa dan negeri se Nusantara, faham tersebut menganggap
bahwa faham kesukuan dan kedaerahan sempit ruang lingkupnya. Kelompok ini membentuk
beberapa partai tetapi yang sering dianggap dapat mewakilinya adalah Partai
Nasional Indonesia (PNI), partai ini dibentuk oleh Soekarno (1901-1970).
Mengawali kiprah politiknya di Jong Java, Soekarno kemudian mendapat bimbingan
dari Tjokroaminoto.
Soekarno
membentuk PNI ketika pengaruh Tjokroaminoto pudar, demikian pula PSI.
Penggembosan oleh PKI dan tekanan rezim kolonial terhadap aktivis kemerdekaan
pasca Revolusi 1926 adalah penyebabnya. Dengan demikian boleh dibilang bahwa
PNI yang mewakili kaum nasionalis mengambil alih kepemimpinan perlawanan
terhadap kolonial yang sebelumnya dipegang oleh kaum agamis dan komunis. Dan
untuk itu agaknya Soekarno siap mengambil resiko, resiko yang juga pernah
diambil kaum agamis dan nasionalis yaitu minimal adalah penangkapan dan
pengasingan.
Sebelum
PNI tampil, sudah ada organisasi yang bercorak se Indonesia yaitu “Perhimpunan
Indonesia” yang merupakan himpunan beberapa organisasi yang bercorak kedaerahan
dan kesukuan. PI memiliki empat pokok pemikiran yaitu:
1.
Kesatuan nasional, rakyat se
Nusantara harus menempatkan persatuan di atas corak kesukuan dan kedaerahan
dalam meraih Indonesia yang merdeka dan satu. Jika persatuan terwujud, akan
sulit bagi imperialis melaksanakan siasat devide et impera dan akan terbentuk perlawanan
yang padu.
2.
Solidaritas, rakyat harus menyadari
bahwa ada persamaan nasib dari ujung ke ujung Nusantara. Tanpa mengingkari ada
perbedaan antar suku, sesungguhnya persamaannya lebih nyata dan hubungan antar
suku di Nusantara telah berlangsung lama. Rakyat harus menyadari bahwa ada
perbedaan yang lebih besar yaitu Nusantara dengan kolonialis Belanda semisal
bahasa, warna kulit, adat dan agama. Perbedaan antara “kita di sini” dengan
“mereka di sana” harus difahami dan ditegaskan sebagai kita adalah “Indonesia”
atau “Timur” dan mereka adalah “Belanda” atau “Barat”.
3.
Tidak kerja sama, bahwa gerakan
kemerdekaan harus menolak atau menjaga jarak dari segala bentuk kerja sama
dengan kolonial. Kemerdekaan yang ingin diraih harus berdasar dari usaha
sendiri dan bukan hadiah dari kolonial. Karena itu tidak perlu peduli dengan
segala kebijakan dari Volksraad.
4.
Swadaya, gerakan harus berdasar
pada kemampuan diri sendiri atau kepercayan pada diri sendiri. Perlu membentuk
suatu tatanan alternatif atau tandingan dengan tatanan kolonial. Gerakan tidak
berkenan dengan bentuk persekutuan dengan kolonial.
Usaha
mempersatukan rakyat se Nusantara mencapai puncak dengan peristiwa yang disebut
Soempah Pemoeda pada 28 Oktober 1928. Walaupun tidak dihadiri semua kelompok pergerakan
tetapi dapat dianggap mewakili se Nusantara. Sejak itu makin dimasyarakatkan
pemakaian istilah Indonesia untuk wilayah Nusantara dan bangsa pribumi yang
mukim di wilayah tersebut. Istilah Hindia Belanda dan inlander dihindari
sedapat mungkin. Hal tersebut boleh dibilang sebagai langkah maju menuju
Renaissance Indonesia. Mungkin boleh dibilang bahwa Sumpah Pemuda adalah hari
lahir bangsa Indonesia, adapun yang disebut Aceh, Minang, Jawa, Sunda, Betawi,
Madura, Bali, Dayak, Bugis, Minahasa, Papua, Ambon dan lain-lain tidak lagi
disebut bangsa tetapi suku.
D.
Periode Pertumbuhan Renaissance
Gerakan
Renaissance telah meraih kemajuan penting, melahirkan bangsa baru. Setelah
meraih persatuan, berlanjut ke tahap pembebasan sambil menjaga persatuan.
Proses pembebasan semakin mendekati tujuan tetapi semakin berat karena rakyat
harus menanggung beban suatu perang terbesar yang pernah diciptakan manusia,
yaitu Perang Dunia II (1 September 1939 – 2 September 1945). Perang yang
sesungguhnya bukan urusan rakyat Indonesia itu, namun harus ditanggung
akibatnya. Mengingat perang tersebut telanjur menyengsarakan rakyat, maka
sedapat mungkin harus diambil apa saja yang mungkin bermanfaat dari perang
tersebut. Apa saja peluang yang “disediakan” oleh perang?
Perang
tersebut bermula dari serbuan pasukan Jerman ke Polandia. Sesungguhnya Polandia
bukan negara besar, tetapi serbuan tersebut sanggup “membakar” dunia karena
proses “pemanasan” sejak usai Perang Dunia I (1914-1918) seperti Nazi meraih
kekuasaan di Jerman (1933) dan membangun angkatan perang, penaklukan Manchuria
oleh Jepang (1931), Italia mencaplok Ethiopia (1935-1936) dan Albania (1939),
Perang Cina-Jepang II (1937-1945), serta Jerman mencaplok Austria (1938) dan
Cekoslovakia (1939).
Perang
di Asia semula hanya terbatas di Cina, kemudian melebar ke sebagian
Asia-Pasifik setelah pasukan udara Jepang menyerang pangkalan AS di Pearl
Harbor pada 7 Desember 1941. Pasukan Jepang hanya perlu waktu sekitar tiga
bulan merebut Hindia Belanda.
Propaganda Jepang terbilang berani
yaitu “Asia untuk orang Asia”, karena semboyan tersebut jelas membenturkan atau
mempertentangkan Barat denganTimur mengingat sebagian besar dunia Timur dijajah
oleh orang Barat. Dengan demikian Jepang mengobarkan semangat anti Barat, semangat
yang sangat diperlukan untuk bangkit.
Jepang
berusaha membuktikan bahwa orang Barat bukan ras unggul, khususnya menjelaskan
bahwa orang Barat dapat dikalahkan. Walaupun kekejaman pendudukan Jepang juga
berlaku bagi sesama orang Timur, agaknya semboyan tersebut dapat diterima dan
kelak terbukti berguna bagi orang Timur termasuk Indonesia. Pencerahan
pemikiran yang pahit.
Selain
memberlakukan pengekangan yang lebih ketat dibanding Belanda, pendudukan Jepang
juga memberi peluang untuk meraih simpati. Orang Indonesia diberi beberapa
jabatan yang sebelumnya hanya untuk orang Barat, juga mendapat peluang lebih
besar mendapat latihan militer. Para aktivis Renaissance mencoba menyusupkan
propaganda anti Jepang ke dalam propaganda anti Barat pada setiap kesempatan.
Perang Jepang melawan imperialis Barat harus berada dalam lingkup meraih
kemerdekaan sendiri.
Semangat
anti Jepang tetap muncul tanpa propaganda apapun, perilaku orang Jepang yang
menindas menampilkan semangat itu. Perlawanan muncul antara lain di Aceh, Jawa
Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Irian
Barat. Walaupun perlawanan dapat ditumpas, minimal pada saat itu rakyat sadar
bahwa untuk hidup layak sebagai manusia haruslah merdeka. Imperialisme Barat
dan pendudukan Jepang jangan berlama-lama berlangsung. Bangsa Indonesia harus
memiliki negara sendiri, mengatur diri sendiri.
Perang
berubah arah menguntungkan Sekutu. Dengan banyak pertempuran dahsyat pasukan
Sekutu merebut beberapa tempat yang dianggap perlu. Keadaan tersebut memaksa
Perdana Menteri Kuniyaki Koiso memberi janji kemerdekaan kepada Indonesia.
Beberapa kebebasan diberikan lagi berangsur-angsur seiring gerak maju Sekutu.
Pembicaraan mengenai serba-serbi negara dilaksanakan dengan melibatkan para
tokoh kemerdekaan. Organisasi Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dibentuk
Jepang dan diisi oleh orang Indonesia.
Dalam
dua organisasi tersebut terjadi perdebatan sengit antara kelompok agamis
Islamiyah dengan kelompok nasionalis tentang dasar negara Indonesia merdeka.
Hasil dari perdebatan tersebut adalah dasar negara “Pancasila”.
Kemerdekaan
dari bangsa asing akhirnya diraih pada 17 Agustus 1945. Ini juga kemajuan
penting gerakan Renaissance, melahirkan negara baru. Tetapi kekecewaan agaknya
masih betah menyertai bangsa ini karena kelak terbukti bahwa rakyat masih harus
mengalami penindasan dari para elit bangsa sendiri. Selain itu kehadiran
kembali kolonialis Belanda untuk meraih bekas jajahannya tak lama setelah
proklamasi kemerdekaan merupakan suatu penderitaan tersendiri. Bangsa ini
dipaksa perang karena tidak punya pilihan, kolonialis mencoba kembali dengan
militer yang masih lebih unggul dibanding Indonesia. Agresi Militer pertama (21
Juli 1947 – 4 Agustus 1947) dan Agresi Militer kedua (19 Desember 1948 – 6
Januari 1949) kembali minta korban rakyat. Gerakan Renaissance nyaris
tertumpas.
Pendidikan
militer oleh Jepang dan ambil alih aset yang dikuasai Jepang memungkinkan
bangsa Indonesia melaksanakan perlawanan militer disamping perlawanan politik.
Perlawanan perioda 1945-1950 dikenal dengan Revolusi 1945 memaksa kolonial
Belanda melepas sebagian besar Hindia Belanda. Irian Barat masih dikuasai
hingga 1963.
Perlawanan
militer telah menampilkan angkatan perang yang relatif kuat tetapi juga kelak
menjadi penghambat Renaissance. Hal ini sangat nyata pada perioda Orde Baru.
Konon dengan berdasar pengalaman revolusi, militer mengembangkan suatu konsep
yang dikenal dengan konsep “Dwifungsi”. Konsep tersebut menyebut fungsi militer
tidak hanya sebagai kekuatan hankam tetapi juga sebagai kekuatan sospol. Dengan
konsep tersebut pengaruh militer merambah ke segala bidang antara lain beberapa
jabatan harus orang militer, militer –secara individu dan lembaga– terlibat
bisnis. Dan sebagai kekuatan hankam menumpas gerakan Renaissance, bahkan dengan
bantuan imperialis Barat.
Walaupun
secara politik dan militer imperialisme Barat boleh dibilang tamat riwayatnya,
tidak demikian halnya di bidang ekonomi dan norma. Kemajuan teknologi makin
membantu kelestarian hubungan antara biang dengan antek, kerja sama melawan
arus Renaissance semakin canggih.
Dalam
penulisan sejarah resmi, militer mencoba menampilkan citra sebagai pemeran
utama pembebas Republik dari ancaman kolonial. Sesungguhnya prestasi demikian
sangat dilebih-lebihkan. Revolusi 1945 tidak hanya dilaksanakan oleh tentara
pemerintah, ada banyak kelompok tentara swasta, dan tentara pemerintah sempat
mengalami perpecahan.
Revolusi
dengan perlawanan politik tidak kalah pentingnya, dan hal tersebut cenderung
ditutupi dalam versi sejarah resmi. Usaha diplomasi mengundang simpati
internasional terutama pendukung kuat Belanda yaitu AS. Belanda dipaksa untuk
mengakhiri petualangan kolonialnya di Indonesia dan menyelesaikan konflik
dengan perundingan.
Tetapi
AS tidak meninggalkan Belanda begitu saja. Walaupun kecil, Belanda tetap
dianggap bernilai bagi AS. Strategi AS adalah mencoba merangkul Indonesia dan
Belanda sekaligus untuk melawan komunis.
Jika
pada Perang Dunia II Indonesia harus menanggung beban perang antara Jepang
dengan imperialisme Barat, maka selama beberapa tahun Indonesia harus
menanggung beban Perang Dingin (1945-1991) yaitu antara blok kapitalis yang
dipimpin AS dengan blok komunis yang dipimpin US, dua faham yang sesungguhnya
berasal dari Barat. Pada hakikatnya Perang Dingin adalah perang antara dua
kekuatan imperialis Barat untuk menguasai dunia, tanpa kecuali Indonesia.
Tetapi sayang, rezim Soekarno membawa Indonesia terlibat Perang Dingin melawan
AS dan rezim Soeharto membawa Indonesia terlibat Perang Dingin melawan US,
terlepas dari bobot keterlibatan tersebut. Yang jelas, keterlibatan tersebut
menjauhkan Indonesia dari tujuan Renaissance akibat potensi bangsa yang
terkuras untuk perang tersebut atau tertindas demi kelestarian rezim tersebut.
Beberapa peristiwa semisal Tanjung Priok (1984), Lampung (1989) dan Aceh adalah
contohnya. Tidak jelas kapan potensi bangsa dapat terfokus penuh kepada tujuan
Renaissance.
Ada
satu hal yang perlu diketahui dari konflik yang membingungkan ini, ada gerakan
Renaissance yang bersikap tegas melawan dengan kekuatan sendiri walau dengan
resiko menciptakan banyak musuh yaitu Darul Islam (DI). Gerakan ini mencoba
mewujudkan Indonesia merdeka berdasar Islami, lazim disebut “Negara Islam
Indonesia” (NII). DI menolak keberfihakan kepada kekuatan non Muslim, kaum
Muslim harus membentuk kekuatan sendiri sebagaimana pernah terjadi pada masa
silam. DI mengambil contoh perioda Muhammad dan Khulafaur Rayidin (622-661) untuk
konsep negara idealnya. Namun sayang, gerakan tersebut dapat ditumpas oleh
imperialisme Barat dengan anteknya. Bahkan di antara antek tersebut terdapat
tokoh-tokoh Renaissance, kebencian mereka terhadap DI ternyata melebihi
kebencian terhadap imperialisme Barat. Ini sekaligus membuktikan bahwa gerakan
Renaissance sudah diisi –bahkan mungkin sejak awal– oleh berbagai niat yang
tidak murni, terlebih jika para aktivisnya menempati jabatan tertentu. Lupa
akan tujuan perjuangan, itulah tantangan yang mungkin paling berat bagi gerakan
Renaissance di Indonesia.
Rezim
Soekarno telah menumpas gerakan Renaissance yang dianggap tidak sesuai dengan
versinya semisal NII. Kebijakan tersebut dilanjutkan rezim Soeharto. Jumlah
partai diciutkan, Dwifungsi ABRI dilaksanakan, berbagai LSM dikekang,
perlawanan bersenjata ditumpas, praktek KKN dipelihara, yang dianggap oposan
disingkirkan, adalah beberapa contoh kebijakan yang memusuhi gerakan
Renaissance yang murni ingin membawa Indonesia meraih capaian kemanusiaan yang
telah lama lepas. Seperti Soekarno, Soeharto punya versi sendiri tentang
Renaissance.
Soeharto
meraih kekuasaan melalui pertumpahan darah hebat, mungkin sekitar 1.500.000
orang tewas akibat peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Sejak 1959 Soekarno
mencoba memperkokoh kekuasaannya melalui sistem yang dikenal dengan “Demokrasi
Terpimpin” yang prakteknya berarti kediktatoran. Partai Masyumi dan Partai
Sosialis Indonesia dibubarkan pada 1960 dengan dalih beberapa orangnya terlibat
pemberontakan PRRI-Permesta (1958-1961), pemberontakan daerah melawan pusat
karena daerah merasa dihisap dan diabaikan pusat. Selain itu pengaruh komunis
makin merajalela ditambah sebab-sebab lain. Setelah pemberontakan ditumpas,
beberapa tokoh masuk penjara.
Komunis
makin memantapkan pengaruhnya, mereka sukses mempengaruhi Soekarno menjadi
radikal. Setelah Irian Barat masuk Republik, Soekarno mengarahkan fokusnya ke
Malaysia, yang waktu itu dalam proses dekolonisasi. Dia menilai bahwa proses
tersebut terkesan masih mempertahankan kolonialisme. Muncul istilah “nekolim”
(neo kolonialisme dan imperialisme). Singkat cerita, konflik terjadi antara
Persemakmuran Inggris dengan Republik yang dikenal dengan “Konfrontasi”
(1963-1966). Potensi Republik banyak terkuras konflik ini. Yang paling gembira
dengan proyek ini praktis hanya komunis, TNI-AD kurang bergairah karena menilai
bahwa Inggris adalah kekuatan lama di Asia Tenggra yang menuju proses
“pelapukan”. Angkatan Darat lebih suka menyimak pada kekuatan-kekuatan yang
baru muncul. Mereka lebih cemas kepada komunis ketimbang Inggris.
Apa
yang dinamakan “Pemberontakan G30S PKI” memberi peluang kepada Soeharto –waktu
itu berpangkat mayor jenderal– untuk tampil ke panggung. Hal tersebut tidak
terlepas dari dukungan AS, Inggris dan Australia yang cemas dengan perkembangan
komunisme di Asia Tenggara. Terlebih AS, negara ini terlibat perang saudara
antara Vietnam Utara (komunis) dengan Vietnam Selatan (non komunis) yang
disebut “Perang Vietnam” (1964-1975). Perang tersebut juga merembet ke negara
tetangga yaitu Kamboja dan Laos, di kedua negara tersebut komunis juga berjuang
meraih kekuasaan.
Dengan
bantuan mereka, Soeharto menumpas pemberontakan tersebut dalam waktu relatif
singkat. Jelas hal tersebut menggembirakan imperialis kapitalis, mereka tidak
peduli dengan pelanggaran HAM yang terjadi. Yang banyak dibantai atau ditangkap
bukan hanya kaum komunis, tetapi orang yang dicurigai komunis. Rezim Soekarno
–yang dinilai sedikit banyak melindungi komunis– tumbang, rezim Soeharto
datang. Bagi gerakan Renaissance hal tersebut cuma tukar pelaku kezhaliman.
Indonesia cuma pindah kiblat dari imperialis komunis ke imperialis kapitalis.
Pada
hakikatnya Indonesia telah dan masih menjadi lahan permainan perebutan pengaruh
antara sesama kekuatan kontra Renaissance, tetapi jika menghadapi gerakan
Renaissance mereka satu suara. Setelah gerakan Renaissance dikalahkan, sesama
kontra Renaissance saling cekcok dan kompak lagi jika gerakan Renaissance
muncul. Dengan demikian Indonesia jahiliyah lestari hingga kini.
Timor
Timur adalah contoh di antara permainan tersebut di atas. Imperialis Barat
yaitu Portugis tiba di pulau itu tahun 1512. Kehadiran imperialis Barat lain
yaitu Belanda pada abad ke-17 memaksa Portugis berbagi rezeki di pulau
tersebut. Caranya? Ya, dengan membagi pulau Timor . Timor Timur dijajah
Portugis, Timor Barat dijajah Belanda. Bagi Indonesia, kedua kekuatan tersebut
sama jahatnya dalam arti sama-sama imperialis, yang berarti menghambat gerakan
Renaissance.
Perang
Pasifik menghadirkan kekuatan kontra Renaissance lain yaitu Jepang. Sebagaimana
wilayah Nusantara lain, Timor diduduki Jepang hingga 1945.
Usai Revolusi 1945 Timor Barat
masuk Republik dan Timor Timur kembali dikuasai Portugal. Ketika proses
dekolonisasi dilaksanakan di Timor Timur, terjadi kekacauan yang berkembang
menjadi perang saudara. Portugal tidak sanggup menentramkannya dan memilih
lari. Arus pengungsi membanjiri Indonesia.
Imperialis
kapitalis yaitu AS dan Australia khawatir jika Timor Timur dikuasai komunis
mengingat kelompok tersebut terbilang kuat. Mereka memberi restu tersembunyi
kepada Soeharto untuk mencaplok pulau tersebut. Singkat cerita, wilayah
tersebut “ditarik” ke Republik.
Pencaplokan tersebut tidak diakui
PBB, PBB menetapkan wilayah tersebut sebagai wilayah sengketa.
Untuk
meraih simpati, rezim Soeharto membangun daerah itu. Namun sekaligus tidak lupa
melanggar HAM. Kejahatan tersebut praktis sekian lama terjadi nyaris tanpa
hambatan. Ketika Perang Dingin usai dengan menampilkan imperialis kapitalis
sebagai pemenang, rezim kapitalis menganggap komunis bukan lagi ancaman berat.
Saat itu pula rezim Soeharto kurang memiliki arti penting lagi. Maka mulailah
pencaplokan Timor Timur disebut-sebut keabsahannya dengan dalih ada pelanggaran
HAM.
Rezim
Soeharto tamat tidak terlepas dari rekayasa imperialis Barat. “Habis manis
sepah dibuang” begitulah kira-kira nasib rezim tersebut. Revolusi 1998 terjadi
dan rezim tumbang. Dengan tekanan imperialis yang tepat saatnya yaitu ketika
Indonesia sedang bergolak, Timor Timur lepas pada tahun 1999 dan kemudian
menjadi negara sendiri dengan nama Republik Demokratik Timor Leste pada 2002.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pada
21 Mei 1998 rezim Soeharto tumbang setelah bertahan 32 tahun. Muncul istilah
“Orde Reformasi”, istilah “reformasi” jelas mengacu pada sejarah Renaissance di
Barat karena yang berjuang membawa Barat kembali meraih capaian kemanusiaan
–yang sekian lama terlepas– adalah aktivis reformis dan gerakan mereka kadang
disebut “reformasi”. Untuk kesekian kalinya rakyat terbuai harapan dan
kegembiraan karena pergantian rezim. Tetapi apakah pergantian tersebut membawa
keadaan lebih baik?
Beberapa
fakta menunjukkan bahwa untuk kesekian kali pula agaknya kekecewaan muncul.
Indonesia makin jahiliyah. Praktek KKN dan pelanggaran HAM masih berlanjut,
pengaruh imperialisme Barat tidak terhapus, orang makin rakus dengan jabatan
karena faham “jabatan adalah nikmat, bukan amanat” masih lestari, praktek hukum
jauh dari rasa keadilan dan berbagai kejahiliyahan lain.
Khusus
mengenai imperialisme Barat, mereka tidak berniat berhenti sekarang. Wilayah
luas, sumber daya kaya, letak strategis dan bangsa terbelakang menempatkan
Indonesia sebagai harta berharga yang tak boleh dilepas begitu saja. Imperialisme
dapat berubah bentuk dan dalih, jika tak dapat ditaklukan secara fisik,
dikuasai secara mental bolehlah.
Konflik
di Maluku pada Januari 1999 adalah contoh kasus pasca Soeharto di mana
imperialisme Barat bermain. Imperialis Barat hadir di Maluku tahun 1512. Maluku
adalah daerah yang termasuk banyak menghasilkan antek imperialis. Kolonial
Belanda banyak merekrut pribumi dari Maluku dan daerah lain menjadi tentara
kolonial yang lazim disebut “Koninklijke Nederlands Indische Leger” (KNIL).
Umumnya KNIL terdiri dari pribumi antek kolonial, orang Barat dan Indo
mengisinya dengan jabatan perwira. Ketika Revolusi 1945 usai sebagian mereka
menetap di Belanda, ada yang dapat berbaur dan melupakan daerah asalnya tapi
ada pula yang melanjutkan hasrat membentuk negara sendiri yaitu Republik Maluku
Selatan (RMS).
RMS
adalah negara yang diproklamirkan pada 25 April 1950 oleh Christiaan Robert
Steven Soumokil. Gerakan tersebut ditumpas oleh Republik dan Soumokil dapat
ditangkap, namun dilanjutkan oleh sekelompok orang Maluku di Belanda. Adapun
yang berada di Indonesia melanjutkan gerakan tersebut secara sembunyi-sembunyi
sambil menjalin hubungan dengan rekan di Belanda. Karena itu tak heran jika
nama RMS disebut lagi ketika konflik di Maluku berkobar. Selain itu ada nama
lain dari gerakan separatis tersebut yaitu Forum Kedaulatan Maluku. Konflik
boleh dibilang berakhir tahun 2002 setelah minta korban relatif besar mengingat
mereka dapat bantuan dari imperialis Barat.
Layak disayangkan, bahwa hal
tersebut praktis kurang disadari oleh bangsa ini. Perjuangan Renaissance
agaknya masih panjang dari tujuan.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar