BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ibadah adalah tindakan untuk mematuhi perintah dan menjauhi larangan tuhan
(Allah) dengan kata lain ibadah ialah suatu orientasi dari kehidupan dan
orientasi tersebut hanya tertuju kepada tuhan (Allah) saja. Manusia diciptakan
oleh tuhan dan hanya berorientasikan kepada penciptanya yaitu (Allah), sang
pencipta yang menumbuhkan dan mengembangkan manusia, Dia yang memelihara,
menjaga dan mendidik manusia, Dia pula yang memberi petunjuk kepada manusia,
oleh karena itu hanya kepada Dia manusia menyembah.
Terkait dengan masalah ibadah, terdapat beberapa golongan hamba Allah yang
sama-sama mengaku sebagai seorang hamba yang taat beribadah. Mereka memiliki
berbagai pengertian yang berbeda dalam memahami apa hakikat dari ibadah.
Diantaranya ada golongan yang berpendapat bahwa ibadah itu adalah sikap taat
dan ketertundukan seorang hamba kepada sang Kholiqnya dalam rangka Ta'abbud
kepada-Nya. Akan tetapi mereka kurang memperhatikan hal-hal kecil diluar itu
yang terkait dengan ibadah sosial, pergaulan ataupun sikap toleransi dalam
sitiap situasi. Ada pula yang berpendapat bahwa dalam ibadah yang menjadi titik
tekan adalah bagaimana seorang hamba bersungguh-sungguh tatkala mengerjakan
sesuatu, dan sesuatu tersebut bernilai ibadah apabila ia tulus. Akan tetapi
mereka acapkali menyepelekan ibadah mahdhoh, seperti sholat, puasa dan
lain-lain.
Kemudian golongan yang terakhir adalah golongan yang dapat menserasikan
antara golongan yang pertama dan kedua, mereka dapat mensinergikan antara
ibadah mahdhoh dan ibadah ghoiru mahdhoh.Akhir-akhir ini marak para kaum yang
mengkaji masalah tersebut dan memunculkan kesimpulan yang aneh ke dalam
telingga kita, kemudian bagaimana sikap kita sebagai seorang terpelajar
menyikapinya? Oleh karena itu, Makalah ini akan membahas tafsir ayat-ayat
ibadah.
B. Rumusan Masalah
1.
Tafsir Surat Al-Baqarah
Ayat : 21
2.
Tafsir Surat Ar-Rum
Ayat : 30-31
3.
Tafsir Surat Thaha Ayat
: 14
C.
Tujuan
Untuk mengetahui dan memahami Tafsir Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat : 21, Surat Ar-Rum Ayat : 30-31, Surat Thaha Ayat : 14.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Tafsir Qur’an
Surat Al- Baqarah Ayat 21.
$pkr'¯»t â¨$¨Y9$# (#rßç6ôã$# ãNä3/u Ï%©!$# öNä3s)n=s{ tûïÏ%©!$#ur `ÏB öNä3Î=ö6s% öNä3ª=yès9 tbqà)Gs? ÇËÊÈ
Artinya : “Wahai manusia! Sembahlah Tuhan-mu yang telah
Menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”
1.
Tafsir Perkata
|
Hai manusia
|
يَاأَيُّهَا النَّاسُ
|
|
sembahlah Tuhanmu
|
اعْبُدُوا رَبَّكُمُ
|
|
yang telah menciptakanmu
|
الَّذِي خَلَقَكُمْ
|
|
dan orang-orang yang sebelummu
|
خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ
|
|
agar kamu bertakwa
|
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
|
2.
Pengertian
Secara Umum
Ayat ini merupakan seruan Allah
kepada semua manusia agar beribadah kepada Allah yang mengurus mereka dengan
nikmat-nikmat-Nya dan agar mereka takut kepada-Nya serta tidak menyelisihi
agama-Nya. Dialah yang mengadakan mereka yang sebelumnya tidak ada, Dia pula
yang mengadakan orang-orang sebelum mereka. Ayat "agar kamu bertakwa"
bisa maksudnya bahwa jika kita beribadah kepada Allah saja, berarti kita telah
menjaga diri dari kemurkaan dan siksa-Nya, bisa juga maksudnya bahwa jika kita
beribadah kepada Allah, kita dapat menjadi orang-orang yang bertakwa. Kedua
maksud tersebut adalah benar, oleh karena itu barangsiapa yang beribadah kepada
Allah Ta'ala secara sempurna maka ia tergolong sebagai orang-orang yang
bertakwa, dan jika tergolong orang-orang yang bertakwa, maka ia akan memperoleh
keselamatan dari azab Allah dan kemurkaan-Nya.
3.
Penjelasan
Larangan menyekutukan Allah
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ
Nabi SAW memulai dakwahnya dengan
anjuran penyembahan kepada Allah SWT . Hal ini dilakukan pula oleh para Nabi
lainnya seperti Firman Allah yang berbunyi dalam surat An-Nahl ayat 36 :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً
أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
Dan
sungguh, Kami telah Mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk
menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah thaghut.”
Dakwah
Rasulullah SAW pada mulanya di tujukan kepada bangsa Arab dan Yahudi yang
tinggal di Madinah dan Daerah sekitarnya. Sebenarnya , mereka itu beriman
kepada Allah , tetapi tidak menyembah-Nya.Terkadang mereka mengikutsertakan
selain Allah dalam hal penyembahan atau memang menyembah selain Allah .
الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ
Sesungguhnya Allah yang Maha Agung
dan memiliki sifat –sifat yang sebelumnya kamu ketahui telah menciptakan kalian
dari orang –orang sebelum kalian . Allah mengatur seluruh kepentingan mu ,
kemudian menganugrahkan sarana pengetahuan dan jalan menuju hidayah , karenanya
,sembahlah Alah semata ,jangan sekali
–kali kalian menyekutukan-Nya dengan seseorang atau makhluk-makhluknya .
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya Sembahlah
Allah sebagaimana mestinya. Karena menyembah Allah adalah cara yang semestinya
itulah yang mengatarkan kalian kepada taqwa . Dan merupakan harapan yang menuju
kesempurnaan.
Ayat ini adalah sebuah perintah bagi seluruh
manusia untuk menyembah Allah ta'ala. Karena Dialah yang telah menciptakan
manusia. Baik manusia terdahulu ataupun manusia yang akan datang.
Perintah menyembah atau beribadah dalam ayat ini memiliki makna yang luas,
tidak hanya penyembahan dalam arti ibadah mahdhah saja, melainkan ibdah dalam
arti luas. Ayat ini memiliki korelasi yang kuat dengan tujuan dari
diciptakannya jin dan manusia, yaitu untuk beribdah kepadaNya saja.
Dalam ayat ini juga terdapat kewajiban untuk beribadah
kepadaNya saja. Karena Alloh adalah Pencipta yang telah memberikan berbagai
kenikmatan dan menciptakan manusia dari ketiadaan, Dia juga telah menciptakan
umat-umat sebelum kita. Nikmat yang diberikannya berupa nikmat yang nyata dan
nikmat yang tidak nampak. Dan menjadikan bumi sebagai tempat tinggal dan tempat
berketurunan, bercocok tanam, berkebun, melakukan perjalanan dari satu tempat
ke tempat yang lainnya serta manfaat bumi lainnya. Dan Dia juga telah
menciptakan langit sebagai sebuah atap bangunan yang telah Dia letakan padanya
matahari, bulan dan bintang.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menyatakan
bahwa perintah dalam ayat ini bersifat umum untuk seluruh manusia. Sifat
perintahnya sendiri umum yaitu untuk beribadah dengan segala bentuk ibadah,
yaitu melaksanakan semua yang diperintahkanNya dan menjauhi yang dilarangNya
serta membenarkan kabar-kabarnya. Hal ini sebagaimana perintah Alloh ta'ala
dalam QS Adz-Dzariyat : 56. Allah ta'ala berfirman :
وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku.” QS Adz-Dzaariyat : 56.
Ayat ini menegaskan tentang tujuan diciptakannya jin
dan manusia di muka bumi ini, yaitu untuk beribadah kepadaNya.
4.
Asbabun Nuzul
Asbab An-Nuzul ayat tersebut
berkaitan dengan hadits : mengkabarkan kepadaku Sa'id ibn Muhammad ibn Ahmad
Az-Zahid, mengkhabarkan kepadaku Abu 'Ali ibn Ahmad Al-Faqih, mengkhabarkan
kepadaku Abu Turob Al-Quhustani, menceritkan kepadaku Abdurrahman ibn Bisr,
menceritakan kepadaku Rauh, menceritakan kepadaku Syu'bah, dari Sufyan
Al-Tsauri, dari Al-A'mas, dari Ibrahim, dari Alqomah berkata : "Setiap
ayat yang turun dan redaksinya memakai kata يَاأَيُّهَاالنَّاسُ maka ayat tersebut turun di Makkah
dan يَاأَيهاالذين أمنوا maka ayat tersebut turun di madinah.Yakni
bahwa يَاأَيُّهَاالنَّاسُ itu khitobnya kepada ahli Makkah dan
يَاأَيهاالذين أمنوا khitobnya kepada ahli Madinah, sedangkan ayat diatas khitobnya kepada
orang-orang musyrik Makkah. Dalam pemaknaan
lafadz النَّاسُ erdapat
perbedaan, ada dua qoul. Qoul pertama yaitu arti kata النَّاسُ ialah orang-orang kafir yang tidak menyembah Allah dan didukung
firman Allah surat Al Baqoroh ayat 23. qoul kedua berpendapat bahwa
lafadz النَّاسُ lebih bersifat umum yaitu berlaku untuk seluruh manusia, maka
khitobnya diperuntukkan untuk orang-orang yang beriman karena ia senantiasa
melaksanakan ibadah dan juga diperuntukkan bagi orang-orang kafir karena mereka
belum beribadah secara benar kepada Allah dan dengan ayat tersebut diharapkan
mereka segera mau beribadah kepada-Nya. Perintah beribadah dan menyembah Allah
saja yang difahamkan dari ayat ini, adalah perintah yang telah dihadapkan pula
oleh Allah SWT kepada seluruh manusia sejak zaman dahulu dengan perantara
rasul-rasul-Nya.
B.
Tafsir Qur’an
Surat Ar-Rum Ayat 30-31
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pkön=tæ 4 w @Ïö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 Ï9ºs ÚúïÏe$!$# ÞOÍhs)ø9$# ÆÅ3»s9ur usYò2r& Ĩ$¨Z9$# w tbqßJn=ôèt ÇÌÉÈ * tûüÎ6ÏYãB Ïmøs9Î) çnqà)¨?$#ur (#qßJÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# wur (#qçRqä3s? ÆÏB tûüÅ2Îô³ßJø9$# ÇÌÊÈ
Artinya:
(30)“Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan
Dia telah Menciptakan manusia menurut (fitrah) itu.Tidak ada perubahan pada
ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui”,[1]
(31)”dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah
shalat dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.”
1.
Tafsir Perkata
|
فَأَقِمْ وَجْهَكَ
|
(maka hadapkanlah wajahmu), yakni
jiwa dan perbuatanmu).
|
|
لِلدِّينِ حَنِيفاً
|
(kepada Agama [Allah] dengan
lurus) sebagai seorang Muslim. Ikhlaskanlah agama dan perbuatanmu karena
Allah Ta‘ala dan tetap teguhlah beragama Islam.
|
|
فِطْرَةَ اللَّهِ
|
([tetaplah pada] Fitrah Allah),
yakni Agama Allah
|
|
الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ
|
(yang telah menciptakan manusia
sesuai dengannya), yakni yang telah menciptakan manusia sesuai dengan fitrah
tersebut di dalam perut ibu mereka. Menurut yang lain, yang telah menciptakan
manusia sesuai dengan fitrah tersebut pada hari perjanjian (yaumul mitsaq)
|
|
لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ
|
(tidak ada perubahan pada Ciptaan
Allah), yakni pada Agama Allah Ta‘ala.
|
|
لَا يَعْلَمُونَ
|
(tidak mengetahui) bahwasanya
agama yang benar itu adalah agama Islam.
|
2.
Penjelasan
Allah Swt. berfirman: فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفاً (Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama Allah). Menurut
Mujahid, Ikrimah, al-Jazairi, Ibnu al-‘Athiyah, Abu al-Qasim al-Kalbi, dan
az-Zuhayli, kata ad-dîn bermakna dîn al-Islam. Penafsiran ini sangat tepat,
karena khithob ayat ini ditujukan kepada Rasulullah SAW., tentu agama yang
dimaksudkan adalah Islam. Adapun حَنِيف,
artinya cenderung pada jalan lurus dan meninggalkan kesesatan. Kata حَنِيف tersebut, merupakan hâl (keterangan) bagi
adh-dhamهr (kata ganti) dari kata اَلْوَجْه; bisa pula merupakan hal
bagi kata اَلدِّينِ.
Dengan demikian, perintah itu mengharuskan untuk menghadapkan wajah pada Din
Al-Islam dengan pandangan lurus; tidak
menoleh ke kiri atau ke kanan, dan tidak condong pada agama-agama lain yang
batil dan menyimpang. Perintah ini merupakan tamsil untuk menggambarkan sikap
penerimaan total terhadap agama ini, istiqamah didalamnya,teguh terhadapnya,
dan memandangnya amat penting. Selanjutnya Allah
Swt. berfirman: fithrah Allah فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا (tetaplah atas fitrah Allah yang
telah menciptakan manusia menurut fitrah itu). Secara bahasa, fithrah berarti
al-khilqah (naluri, pembawaan) dan Ath-Thabi’ah (tabiat, karakter) yang diciptakan Allah Swt.
Pada manusia. Menurut sebagian mufasir, kata fithrah Allâh berarti kecenderungan
dan kesediaan manusia terhadap agama yang haq. Sebab, fitrah manusia diciptakan
Allah Swt. untuk cenderung pada tauhid dan dîn al-Islâm sehingga manusia tidak
bisa menolak dan mengingkarinya.Sebagian mufassir lainnya seperti Mujahid,
Qatadah, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, dan Ibnu Syihab memaknainya dengan Islam dan
Tauhid. Ditafsirkannya fitrah dengan Islam karena untuk fitrah itulah manusia
diciptakan. Telah ditegaskan bahwa jin dan manusia diciptakan Allah Swt. untuk
beribadah kepada-Nya (QS Adz-Dzariyat: 56).
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur wÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka
beribadah kepada-Ku.
Jika dicermati, kedua makna tersebut
tampak saling melengkapi. Harus diingat, kata fithrah Allâh berkedudukan
sebagai maf’ul bih (obyek) dari fi‘il
(kata kerja) yang tersembunyi, yakni ilzamû (tetaplah) atau ittabi’u
(ikutilah). Itu berarti, manusia diperintahkan untuk mengikuti fitrah Allah
itu. Jika demikian, maka fitrah yang dimaksudkan tentu tidak cukup hanya
sebatas keyakinan fitri tentang Tuhan atau kecenderungan pada tauhid. Fitrah di
sini harus diartikan sebagai akidah tauhid atau dîn al-Islâm itu sendiri. Frasa
ini memperkuat perintah untuk mempertahankan penerimaan total terhadap Islam,
tidak condong pada agama batil lainnya, dan terus memelihara sikap istiqamah
terhadap dîn al-Islâm, dîn al-haq, yang diciptakan Allah Swt. untuk manusia.
Ini sama seperti firman-Nya :(QS Hud:112).
öNÉ)tGó$$sù !$yJx. |NöÏBé& `tBur z>$s? y7yètB wur (#öqtóôÜs? 4 ¼çm¯RÎ) $yJÎ/ cqè=yJ÷ès? ×ÅÁt/ ÇÊÊËÈ
Artinya : Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar),
sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat
bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat
terhadap apa yang kamu kerjakan.
Allah Swt. berfirman: La tabdila li
khalqillah (tidak ada perubahan atas fitrah Allah). Menurut Ibnu Abbas, Ibrahim
an-Nakha’i, Said bin Jubair, Mujahid, Ikrimah, Qatadah, adh-Dhahak, dan Ibnu
Zaid, li khalqillah maksudnya adalah li dinillah. Kata fithrah sepadan dengan
kata al-khilqah. Jika fitrah dalam ayat ini ditafsirkan sebagai Islam atau din
Allah , maka kata khalq Allah pun demikian, bisa dimaknai din Allah. Allah Swt.
memberitakan, tidak ada perubahan bagi agama yang diciptakan-Nya untuk manusia.
Jika Allah Swt. tidak mengubah agamanya, selayaknya manusia pun tidak mengubah
agama-Nya atau menggantikannya dengan agama lain. Oleh karena itu, menurut
sebagian mufassir, sekalipun berbentuk khabar nafî (berita yang menafikan),
kalimat ini memberikan makna thalab nahî (tuntutan untuk meninggalkan). Dengan
demikian, frasa tersebut dapat diartikan: Janganlah kamu mengubah ciptaan Allah
dan agamanya dengan kemusyrikan;janganlah mengubah fitrahmu yang asli dengan
mengikuti setan dan penyesatannya; dan kembalilah pada agama fitrah, yakni
agama Islam. Allah Swt. menutup ayat ini
dengan firman-Nya: ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا
يَعْلَمُونَ (Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui). Kata al-qayyum merupakan bentuk mubalaghah dari kataالْقَيِّمُ (lurus). Allah
Swt. menegaskan, perintah untuk mengikuti agama tauhid dan berpegang teguh pada
syariah dan fitrah yang sehat itu adalah agama yang lurus, tidak ada
kebengkokan dan penyimpangan di dalamnya.
C.
Tafsir Qur’an
Surat Thaha Ayat 14
ûÓÍ_¯RÎ) $tRr& ª!$# Iw tm»s9Î) HwÎ) O$tRr& ÎTôç6ôã$$sù ÉOÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# üÌò2Ï%Î! ÇÊÍÈ
Artinya : “Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan
selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku.”
1.
Tafsir Kata –Kata Sulit
|
فَاعْبُدْنِي
|
maka sembahlah Aku
|
|
لِذِكْرِي
|
Agar Kamu Mengingat Aku
|
2.
Penjelasan
Allah menjelaskan wahyu
penting yang di sampaikan kepada Musa.
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَاْ
Sesungguhnya kewajiban pertama yang
di bebankan kepada orang mukallaf ialah mengetahui , bahwa tiada Tuhan selain
Allah semata dan dia tidak mempunyai sekutu .
فَاعْبُدْنِي
Jika telah diakui bahwa Akulah Tuhan
yang Haq dan tidak ada sembahan selain Aku , maka beribadahlah hanya kepada-Ku
dan tunduklah kepada seluruh apa yang Aku bebeankan kepadamu .
وَأَقِمِ
الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Lakukanlah Sholat menurut aturan
yang telah aku perintahkan kepadamu dengan memenuhi rukun dan syaratnya , agar
di dalam sholat itu kamu mengingat Aku dan berdo’a kepada-Ku dengan do’a yang
tulus dan bersih tanpa dicampuri dengan
syirik dan tidak menghadapkan diri selain Aku.
Disebutkan secara khusus diantara
ibadah lainnya , karena ia mempunyai keutamaan atas yang lainnya . Di dalam
sholat seseorang mengingat dan sembahannya dan hati serta lisan sibuk dengan
itu . Oleh karena itu ,shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar.
Tirmidzi dan Ibnu Majjah dalam jama’ah yang lain mengeluarkan
riwayat dari Abu Hurairah , bahwa
Rasulullah SAW bersabda :
مَنْ نَسِىِ
صَلاَةًفَلْيُصَلِّهَااِذَاذَكَرَهَا،فَإاِنَّ اللهَ قَالَ اَقِمِ الصَّلاَةَ
لِذِكْرِي
“Barangsiapa lupa akan suatu sholat , maka hendaklah ia
mengerjakan shalat itu ketika mengingatnya ,karena sesungguhnya Allah berfirman
: Dirikanlah Shalat untuk mengingat Aku.”
Sudah jelas dan gamblang bagaimana Allah menjelaskan
kepada kita tentang cara menginggat Allah yaitu dengan sholat, maka janganlah
memutar balikkan fakta tentang sesatu yang sudah jelas adanya.
Sungguh merugi kalau kita tidak mau berterimakasih
kepada orang-orang yang telah berjasa kepada kita, Rasulullah SAW contohnya, ia
adalah seorang rasul yang telah menerima dan menyampaikan perintah beribadah
(baik berupa ibadah mahdhoh maupun ibadah ghoru mahdhoh) kepada kita semua
sedang beliau bisa mensinergikan antara keduanya.
Walaupun kita tahu bahwa Rasulullah sudah dijamin oleh
Allah, beliau melakukan ibadah mahdhoh maupunyang ghoiru mahdhoh, sedang kita
orang yang banyak dosa sudah berani mendakwakan diri sebagai orang yang benar
dan telah mengetahui hakikat.
Perlu kita camkan bahwa orang yang berusaha
mencari-cari dalih agar ia terlepas dari segala kewajiban, maka pada hakiaktnya
kita telah menodai Risalah yang dibawa oleh Rasulullah dan sekaligus kita
adalah termasuk orang yang tidak punya rasa terimakasih. Sungguh benar
dikatakan bahwa :
من لم يشكرالنّاس لايشكرالله “Barang siapa yang tidak mau bersyukur (berterimakasih) kepada manusia,
maka ia tidak mau barsyukur (brterimakasih) pula kepada Allah.”
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ibadah adalah suatu perintah dari Allah yang harus kita laksanakan
dengan jiwa dan hati yang tulus dan ikhlas. Ibadah kita, mengisyaratkan bahwa
kita sebagi seorang hamba membutuhkan terhadap rahmat, hidayah, taufiq maupun
pertolongan dari Allah SWT, akan tetapi perlu di ingat bahwa rasa kebutuhan
kita terhadap Allah tidak akan mengurangi rasa tulus ikhlas kita dalam beramal.
Terdapat dua jenis ibadah dalam diri manusia (ibadah mahdhoh dan
ibadah ghoiru mahdhoh) yang keduanya harus seimbang, jangan dipahami
setengah-setengah, karena keduanya adalah perintah yang diberikan Allah kepada
kita semuanya melalui rasulnya Muhammad SAW.
Tiap-tiap ibadah yang kita kerjakan hendaknya didorong oleh
keyakinan kepada kebesaran dan kekuasaan Allah serta timbul atas rasa syukur
dan hutang budi kita kepada-Nya, jika demikian maka ibadah akan menjauhkan diri
kita dari perbuatan yang tidak baik dan yang dilarang oleh Allah SWT.
Tetapi ibadah yang tidak didasari atas beberapa aspek diatas akan
terkesan hanya karena sebatas memelihara tradisi yang sudah turun temurun,
kendatipun memiliki rupa dan bentuk ibadah. Tak ada ubahnya dengan patung dan
gambar yaitu hanya sebagai simbol. Selanjutnya ibadah yang semacam itu, tidak
ada kesan dan buahnya kepada tabiat dan akhlak orang yang beribadah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Al Maraghi, Ahmad Musthafa. 1993. Terjemah Tafsir
Al-Maraghi 8. Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang
Departemen
agama RI.
2005. Al-Qur'an dan Terjemahan Al-Jumanatul 'Ali. Bandung: CV penerbit ART
Shihab,
M. Quraisy.
2002. Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati
Thalhah,
Hisyam.
2008. Mu'jizat Al-Qur'an dan Hadits. Bandung: Sapta Sentosa
[1] Fitrah Allah maksudnya ciptaan Allah. Manusia
Diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada
manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar