Sabtu, 09 Mei 2020

MAKALAH TAFSIR AL-QUR'AN - IBADAH - (Tafsir Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat: 21, Surat Ar-Rum Ayat: 30-31 & Surat Thaha Ayat: 14)


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Ibadah adalah tindakan untuk mematuhi perintah dan menjauhi larangan tuhan (Allah) dengan kata lain ibadah ialah suatu orientasi dari kehidupan dan orientasi tersebut hanya tertuju kepada tuhan (Allah) saja. Manusia diciptakan oleh tuhan dan hanya berorientasikan kepada penciptanya yaitu (Allah), sang pencipta yang menumbuhkan dan mengembangkan manusia, Dia yang memelihara, menjaga dan mendidik manusia, Dia pula yang memberi petunjuk kepada manusia, oleh karena itu hanya kepada Dia manusia menyembah.
Terkait dengan masalah ibadah, terdapat beberapa golongan hamba Allah yang sama-sama mengaku sebagai seorang hamba yang taat beribadah. Mereka memiliki berbagai pengertian yang berbeda dalam memahami apa hakikat dari ibadah. Diantaranya ada golongan yang berpendapat bahwa ibadah itu adalah sikap taat dan ketertundukan seorang hamba kepada sang Kholiqnya dalam rangka Ta'abbud kepada-Nya. Akan tetapi mereka kurang memperhatikan hal-hal kecil diluar itu yang terkait dengan ibadah sosial, pergaulan ataupun sikap toleransi dalam sitiap situasi. Ada pula yang berpendapat bahwa dalam ibadah yang menjadi titik tekan adalah bagaimana seorang hamba bersungguh-sungguh tatkala mengerjakan sesuatu, dan sesuatu tersebut bernilai ibadah apabila ia tulus. Akan tetapi mereka acapkali menyepelekan ibadah mahdhoh, seperti sholat, puasa dan lain-lain.
Kemudian golongan yang terakhir adalah golongan yang dapat menserasikan antara golongan yang pertama dan kedua, mereka dapat mensinergikan antara ibadah mahdhoh dan ibadah ghoiru mahdhoh.Akhir-akhir ini marak para kaum yang mengkaji masalah tersebut dan memunculkan kesimpulan yang aneh ke dalam telingga kita, kemudian bagaimana sikap kita sebagai seorang terpelajar menyikapinya? Oleh karena itu, Makalah ini akan membahas tafsir ayat-ayat ibadah.

B.     Rumusan Masalah
1.      Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat : 21
2.      Tafsir Surat Ar-Rum Ayat : 30-31
3.      Tafsir Surat Thaha Ayat : 14

C.     Tujuan
Untuk mengetahui dan memahami Tafsir Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat : 21, Surat Ar-Rum Ayat : 30-31, Surat Thaha Ayat : 14.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Tafsir Qur’an Surat Al- Baqarah Ayat 21.
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Y9$# (#rßç6ôã$# ãNä3­/u Ï%©!$# öNä3s)n=s{ tûïÏ%©!$#ur `ÏB öNä3Î=ö6s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? ÇËÊÈ  
Artinya : “Wahai manusia! Sembahlah Tuhan-mu yang telah Menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”

1.      Tafsir Perkata

Hai manusia
يَاأَيُّهَا النَّاسُ
sembahlah Tuhanmu
اعْبُدُوا رَبَّكُمُ
yang telah menciptakanmu
الَّذِي خَلَقَكُمْ
dan orang-orang yang sebelummu
خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ
agar kamu bertakwa
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


2.      Pengertian Secara Umum
Ayat ini merupakan seruan Allah kepada semua manusia agar beribadah kepada Allah yang mengurus mereka dengan nikmat-nikmat-Nya dan agar mereka takut kepada-Nya serta tidak menyelisihi agama-Nya. Dialah yang mengadakan mereka yang sebelumnya tidak ada, Dia pula yang mengadakan orang-orang sebelum mereka. Ayat "agar kamu bertakwa" bisa maksudnya bahwa jika kita beribadah kepada Allah saja, berarti kita telah menjaga diri dari kemurkaan dan siksa-Nya, bisa juga maksudnya bahwa jika kita beribadah kepada Allah, kita dapat menjadi orang-orang yang bertakwa. Kedua maksud tersebut adalah benar, oleh karena itu barangsiapa yang beribadah kepada Allah Ta'ala secara sempurna maka ia tergolong sebagai orang-orang yang bertakwa, dan jika tergolong orang-orang yang bertakwa, maka ia akan memperoleh keselamatan dari azab Allah dan kemurkaan-Nya.

3.      Penjelasan
Larangan  menyekutukan Allah
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ
Nabi SAW memulai dakwahnya dengan anjuran penyembahan kepada Allah SWT . Hal ini dilakukan pula oleh para Nabi lainnya seperti Firman Allah yang berbunyi dalam surat An-Nahl ayat 36 :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
Dan sungguh, Kami telah Mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah thaghut.”

Dakwah Rasulullah SAW pada mulanya di tujukan kepada bangsa Arab dan Yahudi yang tinggal di Madinah dan Daerah sekitarnya. Sebenarnya , mereka itu beriman kepada Allah , tetapi tidak menyembah-Nya.Terkadang mereka mengikutsertakan selain Allah dalam hal penyembahan atau memang menyembah selain Allah .
الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ
Sesungguhnya Allah yang Maha Agung dan memiliki sifat –sifat yang sebelumnya kamu ketahui telah menciptakan kalian dari orang –orang sebelum kalian . Allah mengatur seluruh kepentingan mu , kemudian menganugrahkan sarana pengetahuan dan jalan menuju hidayah , karenanya ,sembahlah  Alah semata ,jangan sekali –kali kalian menyekutukan-Nya dengan seseorang atau makhluk-makhluknya .
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya Sembahlah Allah sebagaimana mestinya. Karena menyembah Allah adalah cara yang semestinya itulah yang mengatarkan kalian kepada taqwa . Dan merupakan harapan yang menuju kesempurnaan.
Ayat  ini adalah sebuah perintah bagi seluruh manusia untuk menyembah Allah ta'ala. Karena Dialah yang telah menciptakan manusia. Baik  manusia terdahulu ataupun manusia yang akan datang. Perintah menyembah atau beribadah dalam ayat ini memiliki makna yang luas, tidak hanya penyembahan dalam arti ibadah mahdhah saja, melainkan ibdah dalam arti luas. Ayat ini memiliki korelasi yang kuat dengan tujuan dari diciptakannya jin dan manusia, yaitu untuk beribdah kepadaNya saja.
Dalam ayat ini juga terdapat kewajiban untuk beribadah kepadaNya saja. Karena Alloh adalah Pencipta yang telah memberikan berbagai kenikmatan dan menciptakan manusia dari ketiadaan, Dia juga telah menciptakan umat-umat sebelum kita. Nikmat yang diberikannya berupa nikmat yang nyata dan nikmat yang tidak nampak. Dan menjadikan bumi sebagai tempat tinggal dan tempat berketurunan, bercocok tanam, berkebun, melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lainnya serta manfaat bumi lainnya. Dan Dia juga telah menciptakan langit sebagai sebuah atap bangunan yang telah Dia letakan padanya matahari, bulan dan bintang. 
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menyatakan bahwa perintah dalam ayat ini bersifat umum untuk seluruh manusia. Sifat perintahnya sendiri umum yaitu untuk beribadah dengan segala bentuk ibadah, yaitu melaksanakan semua yang diperintahkanNya dan menjauhi yang dilarangNya serta membenarkan kabar-kabarnya. Hal ini sebagaimana perintah Alloh ta'ala dalam QS Adz-Dzariyat : 56. Allah ta'ala berfirman :
وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. QS Adz-Dzaariyat : 56.
Ayat ini menegaskan tentang tujuan diciptakannya jin dan manusia di muka bumi ini, yaitu untuk beribadah kepadaNya.

4.      Asbabun Nuzul
Asbab An-Nuzul ayat tersebut berkaitan dengan hadits : mengkabarkan kepadaku Sa'id ibn Muhammad ibn Ahmad Az-Zahid, mengkhabarkan kepadaku Abu 'Ali ibn Ahmad Al-Faqih, mengkhabarkan kepadaku Abu Turob Al-Quhustani, menceritkan kepadaku Abdurrahman ibn Bisr, menceritakan kepadaku Rauh, menceritakan kepadaku Syu'bah, dari Sufyan Al-Tsauri, dari Al-A'mas, dari Ibrahim, dari Alqomah berkata : "Setiap ayat yang turun dan redaksinya memakai kata   يَاأَيُّهَاالنَّاسُ maka ayat tersebut turun di Makkah dan يَاأَيهاالذين أمنوا  maka ayat tersebut turun di madinah.Yakni bahwa  يَاأَيُّهَاالنَّاسُ itu khitobnya kepada ahli Makkah dan يَاأَيهاالذين أمنوا  khitobnya kepada ahli Madinah, sedangkan ayat diatas khitobnya kepada orang-orang musyrik Makkah. Dalam pemaknaan lafadz  النَّاسُ  erdapat perbedaan, ada dua qoul. Qoul pertama yaitu arti kata  النَّاسُ ialah orang-orang kafir yang tidak menyembah Allah dan didukung firman Allah surat Al Baqoroh ayat 23. qoul kedua berpendapat bahwa lafadz النَّاسُ lebih bersifat umum yaitu berlaku untuk seluruh manusia, maka khitobnya diperuntukkan untuk orang-orang yang beriman karena ia senantiasa melaksanakan ibadah dan juga diperuntukkan bagi orang-orang kafir karena mereka belum beribadah secara benar kepada Allah dan dengan ayat tersebut diharapkan mereka segera mau beribadah kepada-Nya. Perintah beribadah dan menyembah Allah saja yang difahamkan dari ayat ini, adalah perintah yang telah dihadapkan pula oleh Allah SWT kepada seluruh manusia sejak zaman dahulu dengan perantara rasul-rasul-Nya.


B.     Tafsir Qur’an Surat Ar-Rum Ayat 30-31
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ   * tûüÎ6ÏYãB Ïmøs9Î) çnqà)¨?$#ur (#qßJŠÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# Ÿwur (#qçRqä3s? šÆÏB tûüÅ2ÎŽô³ßJø9$# ÇÌÊÈ  
Artinya: (30)Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah Menciptakan manusia menurut (fitrah) itu.Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”,[1] (31)”dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.”

1.      Tafsir Perkata
فَأَقِمْ وَجْهَكَ
(maka hadapkanlah wajahmu), yakni jiwa dan perbuatanmu).
لِلدِّينِ حَنِيفاً
(kepada Agama [Allah] dengan lurus) sebagai seorang Muslim. Ikhlaskanlah agama dan perbuatanmu karena Allah Ta‘ala dan tetap teguhlah beragama Islam.
فِطْرَةَ اللَّهِ
([tetaplah pada] Fitrah Allah), yakni Agama Allah
الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ
(yang telah menciptakan manusia sesuai dengannya), yakni yang telah menciptakan manusia sesuai dengan fitrah tersebut di dalam perut ibu mereka. Menurut yang lain, yang telah menciptakan manusia sesuai dengan fitrah tersebut pada hari perjanjian (yaumul mitsaq)
 لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ
(tidak ada perubahan pada Ciptaan Allah), yakni pada Agama Allah Ta‘ala.
 لَا يَعْلَمُونَ
(tidak mengetahui) bahwasanya agama yang benar itu adalah agama Islam.

2.      Penjelasan
Allah Swt. berfirman: فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفاً  (Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama Allah). Menurut Mujahid, Ikrimah, al-Jazairi, Ibnu al-‘Athiyah, Abu al-Qasim al-Kalbi, dan az-Zuhayli, kata ad-dîn bermakna dîn al-Islam. Penafsiran ini sangat tepat, karena khithob ayat ini ditujukan kepada Rasulullah SAW., tentu agama yang dimaksudkan adalah Islam. Adapun حَنِيف, artinya cenderung pada jalan lurus dan meninggalkan kesesatan. Kata حَنِيف  tersebut, merupakan hâl (keterangan) bagi adh-dhamهr (kata ganti) dari kata اَلْوَجْه; bisa pula merupakan hal bagi kata اَلدِّينِ. Dengan demikian, perintah itu mengharuskan untuk menghadapkan wajah pada Din Al-Islam  dengan pandangan lurus; tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, dan tidak condong pada agama-agama lain yang batil dan menyimpang. Perintah ini merupakan tamsil untuk menggambarkan sikap penerimaan total terhadap agama ini, istiqamah didalamnya,teguh terhadapnya, dan memandangnya amat penting. Selanjutnya Allah Swt. berfirman: fithrah Allah فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا  (tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu). Secara bahasa, fithrah berarti al-khilqah (naluri, pembawaan) dan Ath-Thabi’ah  (tabiat, karakter) yang diciptakan Allah Swt. Pada manusia. Menurut sebagian mufasir, kata fithrah Allâh berarti kecenderungan dan kesediaan manusia terhadap agama yang haq. Sebab, fitrah manusia diciptakan Allah Swt. untuk cenderung pada tauhid dan dîn al-Islâm sehingga manusia tidak bisa menolak dan mengingkarinya.Sebagian mufassir lainnya seperti Mujahid, Qatadah, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, dan Ibnu Syihab memaknainya dengan Islam dan Tauhid. Ditafsirkannya fitrah dengan Islam karena untuk fitrah itulah manusia diciptakan. Telah ditegaskan bahwa jin dan manusia diciptakan Allah Swt. untuk beribadah kepada-Nya (QS Adz-Dzariyat: 56).
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ  
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.
Jika dicermati, kedua makna tersebut tampak saling melengkapi. Harus diingat, kata fithrah Allâh berkedudukan sebagai maf’ul bih  (obyek) dari fi‘il (kata kerja) yang tersembunyi, yakni ilzamû (tetaplah) atau ittabi’u (ikutilah). Itu berarti, manusia diperintahkan untuk mengikuti fitrah Allah itu. Jika demikian, maka fitrah yang dimaksudkan tentu tidak cukup hanya sebatas keyakinan fitri tentang Tuhan atau kecenderungan pada tauhid. Fitrah di sini harus diartikan sebagai akidah tauhid atau dîn al-Islâm itu sendiri. Frasa ini memperkuat perintah untuk mempertahankan penerimaan total terhadap Islam, tidak condong pada agama batil lainnya, dan terus memelihara sikap istiqamah terhadap dîn al-Islâm, dîn al-haq, yang diciptakan Allah Swt. untuk manusia.
Ini sama seperti firman-Nya :(QS Hud:112).
öNÉ)tGó$$sù !$yJx. |NöÏBé& `tBur z>$s? y7yètB Ÿwur (#öqtóôÜs? 4 ¼çm¯RÎ) $yJÎ/ šcqè=yJ÷ès? ׎ÅÁt/ ÇÊÊËÈ  
Artinya : Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat terhadap apa yang kamu kerjakan.
Allah Swt. berfirman: La tabdila li khalqillah (tidak ada perubahan atas fitrah Allah). Menurut Ibnu Abbas, Ibrahim an-Nakha’i, Said bin Jubair, Mujahid, Ikrimah, Qatadah, adh-Dhahak, dan Ibnu Zaid, li khalqillah maksudnya adalah li dinillah. Kata fithrah sepadan dengan kata al-khilqah. Jika fitrah dalam ayat ini ditafsirkan sebagai Islam atau din Allah , maka kata khalq Allah pun demikian, bisa dimaknai din Allah. Allah Swt. memberitakan, tidak ada perubahan bagi agama yang diciptakan-Nya untuk manusia. Jika Allah Swt. tidak mengubah agamanya, selayaknya manusia pun tidak mengubah agama-Nya atau menggantikannya dengan agama lain. Oleh karena itu, menurut sebagian mufassir, sekalipun berbentuk khabar nafî (berita yang menafikan), kalimat ini memberikan makna thalab nahî (tuntutan untuk meninggalkan). Dengan demikian, frasa tersebut dapat diartikan: Janganlah kamu mengubah ciptaan Allah dan agamanya dengan kemusyrikan;janganlah mengubah fitrahmu yang asli dengan mengikuti setan dan penyesatannya; dan kembalilah pada agama fitrah, yakni agama Islam.  Allah Swt. menutup ayat ini dengan firman-Nya: ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ  (Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui). Kata al-qayyum merupakan bentuk mubalaghah dari kataالْقَيِّمُ  (lurus). Allah Swt. menegaskan, perintah untuk mengikuti agama tauhid dan berpegang teguh pada syariah dan fitrah yang sehat itu adalah agama yang lurus, tidak ada kebengkokan dan penyimpangan di dalamnya.


C.    Tafsir Qur’an Surat Thaha Ayat 14

ûÓÍ_¯RÎ) $tRr& ª!$# Iw tm»s9Î) HwÎ) O$tRr& ÎTôç6ôã$$sù ÉOÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# ü̍ò2Ï%Î! ÇÊÍÈ  
Artinya : Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku.”
1.      Tafsir Kata –Kata Sulit

فَاعْبُدْنِي
maka sembahlah Aku
لِذِكْرِي
Agar Kamu Mengingat Aku

2.      Penjelasan
Allah menjelaskan  wahyu penting yang di sampaikan kepada Musa.

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَاْ
Sesungguhnya kewajiban pertama yang di bebankan kepada orang mukallaf ialah mengetahui , bahwa tiada Tuhan selain Allah semata dan dia tidak mempunyai sekutu .
فَاعْبُدْنِي
Jika telah diakui bahwa Akulah Tuhan yang Haq dan tidak ada sembahan selain Aku , maka beribadahlah hanya kepada-Ku dan tunduklah kepada seluruh apa yang Aku bebeankan kepadamu .
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Lakukanlah Sholat menurut aturan yang telah aku perintahkan kepadamu dengan memenuhi rukun dan syaratnya , agar di dalam sholat itu kamu mengingat Aku dan berdo’a kepada-Ku dengan do’a yang tulus dan bersih tanpa  dicampuri dengan syirik dan tidak menghadapkan diri selain Aku.
Disebutkan secara khusus diantara ibadah lainnya , karena ia mempunyai keutamaan atas yang lainnya . Di dalam sholat seseorang mengingat dan sembahannya dan hati serta lisan sibuk dengan itu . Oleh karena itu ,shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar.
Tirmidzi dan Ibnu Majjah dalam jama’ah yang lain mengeluarkan riwayat dari  Abu Hurairah , bahwa Rasulullah SAW bersabda :
 مَنْ نَسِىِ صَلاَةًفَلْيُصَلِّهَااِذَاذَكَرَهَا،فَإاِنَّ اللهَ قَالَ اَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِي
“Barangsiapa lupa akan suatu sholat , maka hendaklah ia mengerjakan shalat itu ketika mengingatnya ,karena sesungguhnya Allah berfirman : Dirikanlah Shalat untuk mengingat Aku.”
Sudah jelas dan gamblang bagaimana Allah menjelaskan kepada kita tentang cara menginggat Allah yaitu dengan sholat, maka janganlah memutar balikkan fakta tentang sesatu yang sudah jelas adanya.
Sungguh merugi kalau kita tidak mau berterimakasih kepada orang-orang yang telah berjasa kepada kita, Rasulullah SAW contohnya, ia adalah seorang rasul yang telah menerima dan menyampaikan perintah beribadah (baik berupa ibadah mahdhoh maupun ibadah ghoru mahdhoh) kepada kita semua sedang beliau bisa mensinergikan antara keduanya.
Walaupun kita tahu bahwa Rasulullah sudah dijamin oleh Allah, beliau melakukan ibadah mahdhoh maupunyang ghoiru mahdhoh, sedang kita orang yang banyak dosa sudah berani mendakwakan diri sebagai orang yang benar dan telah mengetahui hakikat.
Perlu kita camkan bahwa orang yang berusaha mencari-cari dalih agar ia terlepas dari segala kewajiban, maka pada hakiaktnya kita telah menodai Risalah yang dibawa oleh Rasulullah dan sekaligus kita adalah termasuk orang yang tidak punya rasa terimakasih. Sungguh benar dikatakan bahwa :
من لم يشكرالنّاس لايشكرالله “Barang siapa yang tidak mau bersyukur (berterimakasih) kepada manusia, maka ia tidak mau barsyukur (brterimakasih) pula kepada Allah.”



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Ibadah adalah suatu perintah dari Allah yang harus kita laksanakan dengan jiwa dan hati yang tulus dan ikhlas. Ibadah kita, mengisyaratkan bahwa kita sebagi seorang hamba membutuhkan terhadap rahmat, hidayah, taufiq maupun pertolongan dari Allah SWT, akan tetapi perlu di ingat bahwa rasa kebutuhan kita terhadap Allah tidak akan mengurangi rasa tulus ikhlas kita dalam beramal.
Terdapat dua jenis ibadah dalam diri manusia (ibadah mahdhoh dan ibadah ghoiru mahdhoh) yang keduanya harus seimbang, jangan dipahami setengah-setengah, karena keduanya adalah perintah yang diberikan Allah kepada kita semuanya melalui rasulnya Muhammad SAW.
Tiap-tiap ibadah yang kita kerjakan hendaknya didorong oleh keyakinan kepada kebesaran dan kekuasaan Allah serta timbul atas rasa syukur dan hutang budi kita kepada-Nya, jika demikian maka ibadah akan menjauhkan diri kita dari perbuatan yang tidak baik dan yang dilarang oleh Allah SWT.
Tetapi ibadah yang tidak didasari atas beberapa aspek diatas akan terkesan hanya karena sebatas memelihara tradisi yang sudah turun temurun, kendatipun memiliki rupa dan bentuk ibadah. Tak ada ubahnya dengan patung dan gambar yaitu hanya sebagai simbol. Selanjutnya ibadah yang semacam itu, tidak ada kesan dan buahnya kepada tabiat dan akhlak orang yang beribadah tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Al Maraghi, Ahmad Musthafa. 1993. Terjemah Tafsir Al-Maraghi 8. Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang
Departemen agama RI. 2005. Al-Qur'an dan Terjemahan Al-Jumanatul 'Ali. Bandung: CV penerbit ART
Shihab, M. Quraisy. 2002. Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati
Thalhah, Hisyam. 2008. Mu'jizat Al-Qur'an dan Hadits. Bandung: Sapta Sentosa


[1] Fitrah Allah maksudnya ciptaan Allah. Manusia Diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LAPORAN KKL ( KULIAH KERJA LAPANGAN ) FAI UNIAT (Universitas Islam Attahiriyah)

https://drive.google.com/folderview?id=1QsYXAAC12ZFAC3ZtvdvvHF_AnsawW8n5