BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bagi umat islam, ilmu pengetahuan berkaitan erat dengan
keyakinan terhadap al-Quran yang diwayuhkan serta pemahaman mengenai kehidupan
dan alam semesta yang diciptakan. Di dalam keduanya terdapat
ketentuan-ketentuan Allah yang bersifat absolut, dimana yang satu dinamakan
kebenaran Qur’ani (ayat Qur’aniyah). Dan ysng lsinya disebut kebenaran
kauni (ayat Kauniyyah). Kebenaran tersebut hanya dapat didekati oleh
manusia melalui proses pendidikan dengan
berbagai pendekatan dan dilakukan secara continue.
Al-Quran yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw, paling
tidak mengemban fungsi utama, yaitu sebagai hudan, (petunjuk), bayyinah
(penjelas) dan furqan (pembeda). Ketiga fungsi ini sangat relevan dan
mampu menjawab berbagai macam permasalahan sejak al-Quran diturunkan sampai masa
kini, bahkan mampu memberikan keyakinan bagi setiap orang yang bertanya
kepadanya, hal ini tergambar dengan ayat pertama dengan perintah “iqra”
(bacalah). Kata “iqra” ini mengandung berbagai ragam arti, antara lain,
menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti mengetahui ciri-cirinya
dan sebagainya, yang kesemuanya dapat dikembalikan kepada hakikat “menghimpun”.[1]
Di samping itu Al-Quran juga membawa setidak-tidaknya
tiga wawasan yang perlu dikaji dan di alami. Ketiga wawasan tersebut adalah
wawasan kesejahteraan (al-wa’y al-qashqash),wawasan keilmuan (al-awa’y
al-ilmi) dan wawasan kesejahteraan (al-wa’y al falah).
B.
Rumusan Masalah
1. Tafsir QS. Al-‘Alaq Ayat 1-5
2. Tafsir QS. at-Taubah ayat 122
3. Tafsir QS. Al-Mujadalah Ayat 11
BAB II
PEMBAHASAN
1.
QS. Al-‘Alaq
Ayat 1-5
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷èt ÇÎÈ
Artinya: bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan (1), Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah (2). Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah (3), yang
mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[2]
(4), Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5).
a. Penafsiran
ù&tø%$#
ÉOó$$Î/
y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ
“Bacalah! Dengan nama
Tuhanmu yang telah mencipta.”.
Dalam waktu pertama saja,
yaitu “bacalah”, telah terbuka kepentingan pertama di dalam perkembangan agama
ini selanjutnya. Nabi SAW disuruh membaca wahyu akan diturunkan kepada beliau
itu di atas nama Allah, Tuhan yang telah mencipta.
t,n=y{ z`»|¡SM}$#
ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ
“Menciptakan manusia dari
segumpal darah.”.
Yaitu peringkat yang kedua
sesudah nuthfah, yaitu segumpal air yang telah berpadu dari mani si laki-laki
dengan mani si perempuan, yang setelah 40 hari lamanya, air itu telah menjelma
jadi segumpal darah, dan dari segumpal darah itu kelak akan menjelma pula
setelah melalui 40 hari, menjadi segumpal daging (Mudhghah).
Nabi bukanlah seorang yang
pandai membaca. Beliau adalah ummi, yang boleh diartikan buta huruf, tidak
pandai menulis dan tidak pula pandai membaca yang tertulis. Tetapi Jibril mendesaknya
juga sampai tiga kali supaya dia membaca. Meskipun dia tidak pandai menulis,
namun ayat-ayat itu akan dibawa langsung oleh Jibril kepadanya, diajarkan,
sehingga dia dapat menghapalnya di luar kepala, dengan sebab itu akan dapatlah
dia membacanya. Tuhan Allah yang menciptakan semuanya. Rasul yang tak pandai
menulis dan membaca itu akan pandai kelak membaca ayat-ayat yang diturunkan
kepadanya. Sehingga bilamana wahyu-wahyu itu telah turun kelak, dia akan diberi
nama Al-Qur’an. Dan Al-Qur’an itu pun artinya ialah bacaan. Seakan-akan Tuhan
berfirman: “Bacalah, atas qudrat-Ku dan iradat-Ku.”
Syaikh Muhammad Abduh di
dalam Tafsir Juzu’ Ammanya menerangkan: “Yaitu Allah yang Maha Kuasa menjadikan
manusia daripada air mani, menjelma jadi darah segumpal, kemudian jadi manusia
penuh, niscaya kuasa pula menimbulkan kesanggupan membaca pada seseorang yang
selama ini dikenal ummi, tak pandai membaca dan menulis. Maka jika kita
selidiki isi Hadis yang menerangkan bahwa tiga kali Nabi disuruh membaca, tiga
kali pula beliau menjawab secara jujur bahwa beliau tidak pandai membaca, tiga
kali pula Jibril memeluknya keras-keras, buat meyakinkan baginya bahwa sejak
saat itu kesanggupan membaca itu sudah ada padanya, apatah lagi dia adalah
Al-Insan Al-Kamil, manusia sempurna. Banyak lagi yang akan dibacanya di
belakang hari. Yang penting harus diketahuinya ialah bahwa dasar segala yang
akan dibacanya itu kelak tidak lain ialah dengan nama Allah jua.”
ù&tø%$#
y7/uur
ãPtø.F{$# ÇÌÈ
“Bacalah! Dan Tuhan engkau
itu adalah Maha Mulia.”
Setelah di ayat yang
pertama beliau disuruh membaca di atas nama Allah yang menciptakan insan dari
segumpal darah, diteruskan lagi menyuruhnya membaca di atas nama Tuhan. Sedang
nama Tuhan yang selalu akan diambil jadi sandaran hidup itu ialah Allah Yang
Maha Mulia, Maha Dermawan, Maha Kasih dan Sayang kepada Makhluk-Nya.
Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ
“Dia yang mengajarkan
dengan qalam.”
Itulah keistimewaan Tuhan
itu lagi. Itulah kemuliaan-Nya yang tertinggi. Yaitu diajarkan-Nya kepada
manusia berbagai ilmu, dibuka-Nya berbagai rahasia, diserahkan-Nya berbagai kunci
untuk pembuka perbendaharaan Allah, yaitu dengan qalam. Dengan pena! Di samping
lidah untuk membaca, Tuhan pun mentakdirkan pula bahwa dengan pena ilmu
pengetahuan dapat dicatat. Pena adalah beku dan kaku, tidak hidup, namun yang
dituliskan oleh pena itu adalah berbagai hal yang dapat difahamkan oleh manusia.
zO¯=tæ z`»|¡SM}$#
$tB óOs9
÷Ls>÷èt
ÇÎÈ
“Mengajari manusia apa-apa yang dia tidak
tahu.”
Lebih dahulu Allah Ta’ala
mengajar manusia mempergunakan qalam. Sesudah dia pandai mempergunakan qalam
itu banyaklah ilmu pengetahuan diberikan oleh Allah kepadanya, sehingga dapat
pula dicatatnya ilmu yang baru didapatnya itu dengan qalam yang telah ada dalam
tangannya:
“Ilmu pengetahuan adalah
laksana binatang buruan dan penulisan adalah tali pengikat buruan itu. Oleh
sebab itu ikatlah buruanmu dengan tali yang teguh.”
Maka di dalam susunan
kelima ayat ini, sebagai ayat mula-mula turun kita menampak dengan kata-kata
singkat Tuhan telah menerangkan asal-usul kejadian seluruh manusia yang
semuanya sama, yaitu daripada segumpal darah, yang berasal dari segumpal mani.
Dan segumpal mani itu
berasal dari saringan halus makanan manusia yang diambil dari bumi. Yaitu dari
hormon, kalori, vitamin dan berbagai zat yang lain, yang semua diambil dari
bumi yang semuanya ada dalam sayuran, buah-buahan makanan pokok dan daging.
Kemudian itu manusia bertambah besar dan dewasa. Yang terpenting alat untuk
menghubungkan dirinya dengan manusia sekitarnya ialah kesanggupan berkata-kata
dengan lidah, sebagai sambungan dari apa yang terasa di dalam hatinya. Kemudian
bertambah juga kecerdasannya, maka diberikan pulalah kepandaian menulis.
2. QS. at-Taubah ayat 122
* $tBur c%x. tbqãZÏB÷sßJø9$# (#rãÏÿYuÏ9 Zp©ù!$2 4 wöqn=sù txÿtR `ÏB Èe@ä. 7ps%öÏù öNåk÷]ÏiB ×pxÿͬ!$sÛ (#qßg¤)xÿtGuÏj9 Îû Ç`Ïe$!$# (#râÉYãÏ9ur óOßgtBöqs% #sÎ) (#þqãèy_u öNÍkös9Î) óOßg¯=yès9 crâxøts ÇÊËËÈ
Artinya: “tidak sepatutnya bagi
mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari
tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam
pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya
apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga
dirinya.”
a. Penafsiran
kata-kata
Nafara : Berangkat
Perang
Laula : kata-kata
yang berarti anjuran dan dorongan melakukan sesuatu yang disebutkan sesudah
kata-kata tersebut, apabila hal itu terkjadi di masa yang akan datang. Tetapi laula
juga berarti kecaman atas meninggalkan perbuatan yang disebutkan sesudah
kata itu, apabila merupakan hal yang telah lewat. Apabilang hal yang dimaksud
merupakan perkara yang mungkin dialami, maka bisa juga laula, itu
berarti perintah mengerjakannya.
Al-Firqah : Kelompok
Besar.
Ath-Tha’ifah : Kelompok
Kecil.
Tafaqqaha : Berusaha
keras untuk mendalami dan memahami suatu perkara dengan susah payah untuk
memperolehnya.
Andzarahu :
Menakut-nakuti dia.
Hadzirahu : Berhati-hati
terhadapnya.
b. Penafsiran
Dengan susun kalimat Falaulaa,
yang berarti diangkat naiknya, maka Tuhan telah menganjurkan pembagian
tugas. Seluruh orang yang beriman diwajibkan berjihad dan diwajibkan pergi
berperang menurut kesanggupan masing-masing, baik secara ringan maupun berat.
Maka dengan ayat ini Tuhan pun menuntun, hendaklah jihad itu dibagi kepada jihad
bersenjata dan jihad memperdalam ilmu pengetahuan dan pengertian tentang agama.
Jika yang pergi ke medan perang itu bertarung nyawa dengan musuh, maka yang
tinggal digaris belakang memperdalam pengertian (Fiqh) tentang agama. Sebab
tidaklah pula kurang penting jihad yang mereka hadapi. Ilmu agama wajib
diperdalam. Dan tidak semua orang akan sanggup mempelajari seluruh agama itu
secara ilmiah. Ada pahlawan di medan perang dengan pedang di tangan dan ada
pula pahlawan digaris belakang merenung kitab. Keduanya penting dan keduanya
isi mengisi. Suatu hal yang terkandung dalam ayat ini yang musti kita
perhatikan yaitu alangkah baiknya keluar dari tiap-tiap golongan itu,
diantara mereka ada satu kelompok, supaya mereka memperdalam pengertian tentang
agama.
Jika dilihat
sepintas, seakan-akan ada perlawanan diantara ayat 42 yang menerangkan bahwa
kalau seruan peperangan (nafir) telah datang, hendaklah pergi berperang, biar
ringan atau berat, muda ataupun tua, bujang atau sugah berkeluarga dengan ayat
122 diatas. Sebab ayat 122 ini dijelaskan bahwa tidaklah baik jika orang yang
beriman itu turut semuanya. Padahal tidaklah kedua ayat ini bertentangan atau berlawanan dan tidak pula
terjadi nasikh-mansukh. Sebab di ayat
122 ini masih jelas diterangkan bahwa golongan-golongan itu
keluar apabila panggilan sudah datang. Mereka semuanya datang kepada Rasulullah
untuk mendaftarkan dirinya. Tetapi hendaklah dari golongan-golongan yang banyak
itu, yang di waktu itu datang berbondong kepada Rasulullah, ada satu kelompok (Thaifatun),
yang bersungguh-sungguh memperdalam pengetahuanya dalam hal agama.
Tegasnya adalah bahwa
semua golongan itu harus berjihad, turut berjuang. Tetapi Rasulullah kelak
membagi tugas mereka masing-masing. Ada yang berjihad ke garis muka dan ada
yang berjihad di garis belakang. Sebab itu maka kelompok kecil yang memperdalam
pengetahuanya tentang agama itu adalah sebagian daripada jihad juga.
Ayat ini adalah
tuntunan yang jelas sekali tentang pembagian pekerjaan di dalam melaksanakan
seruan perang. Alangkah baiknya keluar dari tiap golongan-golongan itu, yaitu
golongan kaum beriman yang besar bilanganya, yang berintikan penduduk kota
madinah dan kampung-kampung sekelilingnya. Dari golongan yang besar itu adakan
satu kelompok (cara sekarangnya suatu panitia), atau komisi atau satu dan
khusus, yang tidak terlepas dari ikatan golongan besar itu, dalam rangka
berperang. Tugas mereka adalah memperdalam pengertian, penyelidikan dalam
soal-soal keagamaan belaka.
Boleh dikatakan bahwa
selama zaman Rasulullah Saw masih hidup, keadaan selalu dalam keadaan perang.
Cara sekarangnya adalah selalu berevolusi. Musuh-musuh mengepung dari segala
penjuru. Maka ayat ini memberi tuntunan jangan lengah tentang nilai apa yang
sebenarnya diperjuangkan. Yang diperjuangkan adalah agama.
Zaman modern seperti
sekarang inipun telah membuktikan lebih dalam lagi kebenaran ayat 122 ini.
Zaman modern adalah zaman specialisasi, kejurusan dan kekhususan suatu ilmu.
Ilmu-ilmu agama islam sendiri mempunyai bidang-bidang khusus sendiri. Jarang
seorang ulama yang ahli dalam segala ilmu. Sebab itu maka pengertian terhadap
cabang-cabangnya wajiblah diperdalam.
Pada ujung ayat 122
intinya adalah kewajiban dari kelompok yang tertentu memperdalam faham agama
itu, yaitu supaya dengan pengetahuan mereka yang lebih dalam, mereka dapat
memberikan peringatan dan ancaman kepada kaum mereka sendiri apabila mereka
kembali pulang supaya kaum itu berhati-hati. Dengan adanya ujung ayat ini
nampaklah tugas yang berat dari ulama dalam islam.
c. Nilai pendidikan yang terkandung
Surat at-Taubah ayat
122 merupakan ayat yang menjelaskan tentang pentingnya menuntut ilmu agama.
Nilai pendidikan yang terkandung dalam ayat itu adalah sebagai berikut:
1) Kewajiban
mendalami agama dan kesiapan untuk mengajarkannya.
Maksudnya,
tidaklah patut bagi orang-orang mukmin, dan juga tidak dituntut supaya mereka
seluruhnya berangkat menyertai setiap utusan perang yang keluar menuju medan
perjuangan. Karena menuntut ilmu itu merupakan suatu kewajiban sehinnga
menuntut ilmu mempunyai derajat yang sangat tinggi. sehingga di sejajarkan
dengan orang yang perang dijalan Allah.
2) Hasil dari
pembelajaran itu tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi diharapkan mampu
untuk menyampaikan terhadap orang lain.
3. QS. Al-Mujadalah Ayat 11
$pkr'¯»t
tûïÏ%©!$#
(#þqãZtB#uä
#sÎ)
@Ï% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù
Ëx|¡øÿt
ª!$# öNä3s9 (
#sÎ)ur @Ï% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùöt ª!$#
tûïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$#
;M»y_uy 4
ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ×Î7yz
ÇÊÊÈ
Artinya:
“Hai orang-orang beriman
apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis",
Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila
dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan.”
a.
Asbab an-Nuzul
Ayat
Ibnu Abi Hatim
meriwayatkan dari Muqotil bahwa ayat ini turun pada hari jumat. Ketika itu, melihat
beberapa sahabat yang dulunya mengikuti perang badar dari kalangan muhajirin maupun anshor.[3]
diantaranya tsabit ibn qais mereka telah didahului orang dalam hal tempat
duduk. Lalu merekapun berdiri dihadapan rasulullah saw kemudian mereka
mengucapakan salam dan Rasullullah menjawab salam mereka, kemudian mereka
menyalami orang-orang dan orang-orang pun menjawab salam mereka. mereka berdiri
menunggu untuk diberi kelapangan, tetapi mereka tidak diberi kelapangan.
Rasullullah merasa berat hati kemudian beliau mengatakan kepada orang-orang
disekitar beliau ,”berdirilah engkau wahai fulan, berdirilah engkau wahai fulan”.
Merekapun tampak berat dan ketidak enakan beliau tampak oleh mereka. kemudian
orang-orang itu berkata, “demi Allah swt, dia tidak adil kepada mereka.
orang-orang itu telah mengambil tempat duduk mereka dan ingin berdekat dengan
Rasulullah saw tetapi dia menyuruh mereka berdiri dan menyuruh duduk
orang-orang yang datang terlambat.[4]
b.
Penafsiran
Ayat di atas merupakan tuntunan akhlak yang menyangkut
perbuatan dalam majlis untuk menjalin harmonisasi dalam satu majelis.Allah
berfirman: “ Hai orang-orang yang beriman, apa bila dikatakan kepada kamu”
oleh siapa pun: Berlapang-lapanglah[5]
Yaitu berupayalah dengan sungguh-sungguh walau dengan memaksakan diri untuk memberi tempat orang lain dalam
majlis-majlis yakni satu tempat, baik tempat duduk maupun bukan tempat
duduk, apabila diminta kepada kamu agar melakukan itu maka lapangkanlah
tempat untuk orang lain itu dengan suka
rela. Jika kamu melakukan hal tersebut, niscaya Allah akan melapangkan
segala sesuatu buat kamu dalam hidup ini. Dan apabila di katakan:”Berdirilah
kamu ketempat yang lain, atau untuk diduduk tempatmu buat orang yang lebih
wajar, atau bangkitlah melakukan sesuatu seperti untuk shalat dan berjihad, maka
berdiri dan bangkit-lah, Allah akan meninggikan orang- orang yang
beriman di antara kamu wahai yang memperkenankan tuntunan ini.dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat kemudian di dunia dan
di akhirat dan Allah terhadap apa-apa yang kamu kerjakan sekarang dan
masa akan datang Maha Mengetahui.[6]
Ada riwayat yang menyatakan bahwa ayat di atas turun
pada hari Jum’at. Ketika itu Rasul saw. berada di suatu tempat yang sempit, dan
telah menjadi kebiasaan beliau memberi tempat khusus buat para sahabat yang
terlibat dalam perang Badr, karena besarnya jasa mereka. Nah, ketika majlis
tengah berlangsung, beberapa orang di antara sahabat-sahabat tersebut hadir,
lalu mengucapkan salam kepada Nabi saw. Nabi pun menjawab, selanjutnya
mengucapkan salam kepada hadirin, yang juga dijawab, namun mereka tidak memberi
tempat. Para sahabat itu terus saja berdiri, maka Nabi saw. memerintahkan
kepada sahabat-sahabatnya yang lain-yang tidak terlibat dalam perang Badr untuk
mengambil tempat lain agar para sahabat yang berjasa itu duduk di dekat Nabi
saw. perintah Nabi itu, mengecilkan hati mereka yang disuruh berdiri, dan ini
digunakan oleh kaum munafikin untuk memecah belah dengan berkata “katanya
muhammad berlaku adil, tetapi ternyata tidak.” Nabi mendengar keritik itu
bersabda: “Allah merahmati siapa yang memberi kelapangan bagi saudaranya.” Kaum
beriman menyambut tuntunan Nabi dan ayat di atas pun turun mengukuhkan perintah
dan sabda Nabi itu.
Apa yang dilakukan Rasul saw. terhadap sahabat-sahabat
beliau yang memiliki jasa besar itu dikenal juga dalam pergaulan internasional
dewasa ini. Kita mengenal ada yang dinamai peraturan protokoler, di mana
penyandang kedudukan terhormat memiliki tempat-tempat terhormat di samping
kepala Negara karena memang penegasan al-Qur’an, bahwa:
“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk- selain
yang mempunyai udzur- dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan
harta mereka dan jiwa mereka atas orang-orang yang duduk, satu derajat. Kepada
masing-masing, Allah menjajnjikan pahala yang besar (Qs. An-Nisa :95 (baca juga
firmannya dalam Qs al-Hadid : 10)
c.
Penafsiran Kata
Kata tafassaḫû
dan ifsaḫû terambil dari kata fasaḫa yakni lapang. Sedang
kata unsyuzû terambil dari kata nûsyuz yankni tempat yang tinggi.
Perintah tersebut pada mulanya berarti beralih ketempat yang lebih tinggi.
Yang dimaksud di sini pindah ketempat lain untuk memberi kesempatan yang lebih
wajar duduk atau berada di tempat wajar pindah itu, atau bangkit melakukan
suatu aktifitas positif. Ada yang memahaminya berdirilah dari rumah Nabi,
jangan berlama-lama di sana, karena boleh jadi ada kepentingan Nabi saw. Yang
lain dari yang perlu segera dia hadapi.
Kata majȃlis adalah bentuk jamak dari kata majlis .
Pada mulanya berarti tempat duduk. Dalam konteks ayat ini adalah tempat
Nabi Muhammad saw. Membert tuntunan agama ketika itu. Tapi yang dimaksud di
sini adalah tempat keberadaan secara mutlak, baik tempat duduk, tempat
berdiri atau bahkan tempat berbaring. Karena tujuan perintah atau tuntunan ayat
ini adalah memberi tempat yang wajar serta mengalah kepada orang-orang
dihormati atau yang lemah. Seorang tua non-muslim sekalipun, jika anda-wahai
yang muda-duduk di bus, atau kereta, sedang dia tidak mendapat tempat duduk,
maka adalah wajar dan berdab jika anda berdiri untuk memberinya tempat duduk.
Ayat di atas tidak menyebut secara tegas bahwa Allah akan meninggikan derajat orang
berilmu. Tetapi menegaskan bahwa mereka memiliki derajat-derajat yakni
lebih tinggi sekedar beriman. Tidak disebutnya kata meninggikan itu,
sebagai isyarat bahwa sebenarnya ilmu yang didmilikinya itulah yang berperanan
besar dalam ketinggian derajat yang diperolehnya, bukan akibat dari faktor di
luar ilmu itu.
Tentu saja yang di maksud dengan alladzȋnaûtû
al-‘ilmu/yang diberi pengetahuan adalah mereka yang beriman dan menghiasi
diri mereka dengan pengetahuan. Ini berarti ayat di atas membagi kaum beriman
kepada dua kelompok besar, yang pertama sekedar beriman dan beramal shaleh, dan
yang kedua beriman dan beramal shaleh serta memiliki pengetahuan. Derajat
kelompok kedua ini menjadi lebih tinggi, bukan saja karena nilai ilmu yang
disandangnya, tetapi juga amal pengajarannya kepada pihak lain secara lisan,
atau tulisan maupun dengan keteladanan.
Ilmu yang di maksud ayat di atas bukan hanya ilmu
agama tetapi ilmu apapun yang bermanfaat. Dalam QS. 35: ayat 27-28. Allah
meguraikan sekian banyak mahluk Ilahi, dan fenomena alam, lalu ayat tersebut
ditutup dengan menyatakan bahwa: yang takut dan kagum kepada Allah dari
hamba-hambanya hanyalah ulama, ini menunjukkan bahwa ilmu dalam pandangan
al-Qur’an bukan hanya ilmu agama. Di sisi lain juga menujukkan bahwa ilmu
haruslah menghasilkan khasyyah yakni rasa takut dan kagum kepada Allah,
yang pada gilirannya mendorong yang berilmu untuk mengamalkan ilmunya serta
memanfaatkan untu kepentingan mahkluk, Rasul sering kali berdo’a “Allahuma
inni a’udzu bika min ‘ilm(in) la yanfa’ (Aku berlindungan kepada-Mu dari
ilmu yang tidak bermanfaat).”(khusus kamu) itu- sedekah. Yang demikian itu
adalah lebih baik bagi kamu dan lebih suci: jika kamu tidak memperoleh maka
sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang.”
Ayat di atas kembali berbicara tentang
pembicaraan rahasia, yang telah dibicarakan sejak ayat ke 7 sampai dengan ayat
10 lalu diselingi oleh tuntutan keberadaan dalam suatu majelis. Ayat diatas
kembali berbicara tentang hal tersebut sebagai penjabaran dari perintah
melakukan pembicaraan yang mengandung kebajikan dan ketakwaan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Di dalam QS. Al-‘Alaq ayat
1-5 yang mula turun ini telah jelas penilaian yang tertinggi kepada kepandaian
membaca dan menulis. Maka kalau kaum Muslimin tidak mendapat petunjuk ayat ini
dan tidak mereka perhatikan jalan-jalan buat maju, merobek segala selubung
pembungkus yang menutup penglihatan mereka selama ini terhadap ilmu
pengetahuan, atau merampalkan pintu yang selama ini terkunci sehingga mereka
terkurung dalam bilik gelap, sebab dikunci erat-erat oleh pemuka-pemuka mereka
sampai mereka meraba-raba dalam kegelapan bodoh, dan kalau ayat pembukaan wahyu
ini tidak menggetarkan hati mereka, maka tidaklah mereka akan bangun lagi
selama-lamanya.
Dim dalam QS. at-Taubah ayat 122 merupakan ayat yang
menjelaskan tentang pentingnya menuntut ilmu agama.
Di dalam Q.S.Al-Mujadalah ayat 11 memberikan gambaran tentang perintah
bagi setiap manusia untuk menjaga adab sopan santun dalam suatu majlis
pertemuan dan adab sopan santun terhadap Rasulullah Saw.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mustafa
Al-Maragi. 1992. Terjemah Tasir Al-Maragi Juz 10-11-12, Semarang: CV
Toha Putra
As-Suyuthi, Jalaludin. 2008. sebab turunnya ayat
alqur’an, depok: gema insane
Hamka. 1965. Al-
Azhar Juzu’ XI, Jakarta: Yayasan Nurul Islam
M. Quraish Shihab. 2002. TAFSIR AL-MISHBAH Pesan,
Kesan, dan keserasian Al-Qur’an Volume 5, Jakarta: Lentera Hati
[1] M.Quraish shihab,Membumikan Al-Qur’an.Mizan, Bandung, 1996,
hal, 67
[2] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.
[3] Jalaluddin as-suyuthi, sebab turunnya ayat alqur’an, (depok: gema
insane, 2008), hlm.554
[4] Ahmad musthofa al-maraghi, terjemah tafsir al maraghi 28,
(semarang: toha putra, 1993), hlm.23-24
[5] Berlapang-lapanglah kita dalam suatu pertemuan/majelis
dengan memberikan tempat kepada saudara-saudara kita
yang baru datang
[6] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan Kesan dan Keserasian
al-Qur’an, Volume XIV, Jakarta: Lentera Hati. 2006 . hlm., 77
Tidak ada komentar:
Posting Komentar