Sabtu, 09 Mei 2020

MAKALAH TAFSIR AL-QUR'AN - POTENSI MANUSIA - (Tafsir QS.ar- Rum: 30, QS.an-Nahl: 78, QS.al-A’raf: 72, QS. Al-Isra’: 36)


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Potensi diri merupakan kemampuan, kekuatan, baik yang belum terwujud maupun yang telah terwujud, yang dimiliki seseorang, tetapi belum sepenuhnya terlihat atau dipergunakan secara maksimal.
Manusia menurut agama islam adalah makhluk Allah yang berpotensi.  Dalam al-Qur’an, ada tiga kata yang menunjuk pada manusia, yang  di gunakan adalah basyar insan atau nas dan bani Adam.
Kata basyar  diambil dari  akar  kata yang  berarti ‘penampakan sesuatu dengan baik dan  indah’. Dari  kata  itu juga, muncul kata basyarah yang artinya ‘kulit’. Jadi, manusia disebut basyar karena kulitnya tampak jelas  dan berbeda  dengan kulit binatang. Manusia dipilih oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi. Alasan mengapa dipilih sebagai khalifah karena manusia memiliki berbagai potensi.

B.     Rumusan Masalah
1.      Tafsir QS.ar- Rum : 30
2.      Tafsir QS.an-Nahl : 78
3.      Tafsir QS.al-A’raf : 72
4.      Tafsir QS. Al-Isra’ : 36

C.    Tujuan
1.      Mengetahui dan memahami Tafsir QS.ar- Rum : 30
2.      Mengetahui dan memahami Tafsir QS.an-Nahl : 78
3.      Mengetahui dan memahami Tafsir QS.al-A’raf : 72
4.      Mengetahui dan memahami Tafsir QS. Al-Isra’ : 36



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Surat Ar Ruum ayat 30
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ  
Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Fitrah Allah Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
(Maka hadapkanlah) hai Muhammad (wajahmu dengan lurus kepada agama Allah) maksudnya cenderungkanlah dirimu kepada agama Allah, yaitu dengan cara mengikhlaskan dirimu dan orang-orang yang mengikutimu di dalam menjalankan agama-Nya (fitrah Allah) ciptaan-Nya (yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu) yakni agama-Nya. Makna yang dimaksud ialah, tetaplah atas fitrah atau agama Allah. (Tidak ada perubahan pada fitrah Allah) pada agama-Nya. Maksudnya janganlah kalian menggantinya, misalnya menyekutukan-Nya. (Itulah agama yang lurus) agama tauhid itulah agama yang lurus (tetapi kebanyakan manusia) yakni orang-orang kafir Mekah (tidak mengetahui) ketauhidan atau keesaan Allah.
Dari itu, luruskanlah wajahmu dan menghadaplah kepada agama, jauh dari kesesatan mereka. Tetaplah pada fitrah yang Allah telah ciptakan manusia atas fitrah itu. Yaitu fitrah bahwa mereka dapat menerima tauhid dan tidak mengingkarinya. Fitrah itu tidak akan berubah. Fitrah untuk menerima ajaran tauhid itu adalah agama yang lurus. Tetapi orang-orang musyrik tidak mengetahui hakikat hal itu.


B.     Surat Al-A’raf ayat 72
çm»uZøpgUr'sù šúïÏ%©!$#ur ¼çmyètB 7puH÷qtÎ/ $¨YÏiB $oY÷èsÜs%ur tÎ/#yŠ tûïÏ%©!$# (#qç/¤Ÿ2 $uZÏG»tƒ$t«Î/ ( $tBur (#qçR%x. šúüÏZÏB÷sãB ÇÐËÈ  
Artinya :“Maka kami menyelamatkannya dan orang-orang yang menyertainya disebabkan karena dari kami, dan kami binasakan sampai akhir orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan mereka tidak pernah merupakan orang-orang mukmin”.
            Siksa Allah yang dijanjikan itu akhirnya datang juga, dan karena kehadiran Nabi Hud AS merupakan rahmat bagi yang menyambut beliau dan untuk menggambarkan betapa anugerahkan dan perhatian Allah kepada kaum beriman, maka ayat ini terlebih dahulu menegaskan bahwa maka ketika kehadiran ancaman itu disaksikan oleh semua yang memnati, termasuk Nabi Hud AS. Kami menyelamatkannya yskni Nabi Hud AS dan orang-orang beriman yang menyertainya. Penyelamatan itu semata-mata disebabkan karena rahmat yang besar dari kami, dan kami binasakan sampai akhir orang-orang yaitu kaum Nabi Hud AS yang mendustakan ayat-ayat kami dengan menyembah berhala serta menolak utusan kami sehinga karena itu kami siksa mereka dan mereka tidak pernah merupakan orang-orang mukmin dan tidak akan menerima kebenaran atau dapat juga berarti kami jatuhkan siksa itu atas mereka ketika mereka dalam keadaan membangkang perintah Allah dan tidak beriman.
            Kata qatha’na dabira / membinasakan sampai akhir dari segi harfiah berarti “kami memutus belakang” dalam peperangan, pasukan merupakan satu kesatuan, tetapi dengan kekalahan, mereka kocar kacir dan lari pontang panting. Biasanya yang terakhir tidak lagi dipedulikan oleh yang menang, boleh jadi karena telah letih mengejar atau karena menganggapnya tidak berbahaya lagi, sehingga ia dibiarkan saja. Ayat ini bermaksud menggambarkan bahwa semua akan dibinasakan Allah walau yang dibelakang dan yang lari pontang panting itu semua akan terkejar, tertangkap dan tersiksa dan tidak satupun yang akan tersisa.Rujukan ke ayat 45 surah al-an’am untuk memaham lebih jauh makna penggalan ayat ini.
            Mendahulukan menyebut penyelamatan nabi Hud as dan kaum beriman,baru kemudian menyebut pembinasaan kaum kafir,walau sepintas terlihat pembinasaan itu seharusnya disebut lebih dahulu,dapat juga dipahami sebagai bertujuan menyegerakan berita gembira sebagaimana yang juga telah diutarakan ketika menafsirkan ayat 64 tentang penyelamatan nabi nuh as.
            Dua kedurhakaan,yaitu pendustaan dan syirik yang disebut ayat diatas,merupaka sebab utama dari kebinasaan dan pemunahan kaum ‘ad.Ini merupakan sindiran yang mengandung ancaman mendapatkan siksa serupa terhadap setiap kaum yang melakukan kedua kedurhakaan itu.Memang di tempat lain Allah swt menegaskan bahwa Dia tidak akan menyiksa umat Nabi Muhammad saw dengan siksaan serupa seperti yang dialami oleh umat-umat terdahulu selama Nabi Muhammad masih berada ditengah mereka.Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka,sedang kamu berada diantara mereka. (QS.Al-Anfal [8]:33).Siksa dimaksud adalah siksa pemunahan sedang keberadaan beliau bukan hanya dalam arti fisik tetap dapat juga dipahami dalam keberadaan ajarannya.
            Thahir Ibn Ansyur berpedapat bahwa pemunahan yang dialami kaum ‘ad itu merupakan salah satu bentuk pembersihan jazirah arabia pada awal masa pembangunan peradabannya serta penyiapan Allah swt untuk menjadikan daerah itu sebagai tempat berpancarnya cahaya dakwah Islamiyah yang dibawa oleh nabi Muhammad saw.

C.    QS.An-Nahl ayat 78
ª!$#ur Nä3y_t÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& Ÿw šcqßJn=÷ès? $\«øx© Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur   öNä3ª=yès9 šcrãä3ô±s? ÇÐÑÈ  
Artinya: dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.’’
            Sayyid Quthub menjadikan ayat ini sebagai paparan contoh sederhana dalam kehidupan manusia yang tidak terjangkau olehnya yakni kelahiran padahal itu terjadi setiap saat,siang dan malam.Persoalan ini adalah gaib yang dekat,tetapi sangat jauh dan dalam untuk menjangkaunya.Memang boleh jadi manusia dapat melihat tahap-tahap pertumbuhan janin,tetapi dia tidak mengetahui bagaimana hal tersebut terjadi,karena rahasianya merupakan rahasia kehidupan.Demikian Sayyid Quthub menghubungkan ayat ini dengan ayat lalu yang berbicara tentang kepemilikan Allah terhadap gaib dan tentang kegaiban hari Kiamat.
            Ayat ini dapat dihubungkan dengan ayat lalu dengan menyatakan bahwa uraiannya merupakan salah satu bukti kuasa Allah menghidupkan kembali siapa yang meninggal dunia serta kebangkitan pada hari kiamat.Ayat ini menyatakan :Dan sebagaimana Allah mengeluarkanmu berdasarkan kuasa dan ilmu-Nya dari perut ibu-ibu kamu sedang tadinya kamu tidak wujud,maka demikian juga Dia dapat mengeluarkan kamu dari perut bumi dan menghidupkan kamu kembali.Ketika Dia mengeluarkan kamu ddari ibu-ibu kamu,kamu semua dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun yang ada di sekeliling kamu dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran,penglihatan-penglihatan dan aneka hati,sebagai bekal dan alat-alat untuk meraih pengetahuan agar kamu bersyukur menggunakan alat-alat tersebut sesuai dengan tujuan Allah menganugrahkannya kepada kamu.
Ayat diatas menggunakan kata ìôJ¡¡9$#  as-sam’ /pendengaran dengan bentuk tunggal dan menempatkannya sebelum kata  »|Áö/F{$#  al-absar/penglihatan-penglihatan yang berbentuk jamak serta  oyÏ«øùF{$#  al-af’idah/aneka hati yang juga berbentuk jamak.
Kata al-af’idah adalah bentuk jamak dari kata fu’ad yang penulis terjemahkan dengan aneka hati guna menunjuk makna jamak itu.Kata ini dipahami oleh banyak ulama dalam arti akal.Makna ini dapat diterima jika yang dimaksud dengannya adalah gabungan daya pikir dan daya kalbu,yang menjadikan seseorang terikat sehingga tidak terjerumus dalam kesalahan dan kedurhakaan.Dengan demikian tercakup dalam pengertiannya potensi meraih ilham dan percikan cahaya ilahi.
            Didahulukannya kata pendengaran atas peglihatan,merupakan perurutan yang sungguh tepat,karena memang ilmu kedokteran modern membuktikan bahwa indra pendengaran berfungsi mendahului indra penglihatan.Ia mulai tumbuh pada diri seorang bayi pada pekan-pekan pertama.Sedangkan indra penglihatan baru bermula pada bulan ketiga dan menjadi sempurna menginjak bulan keenam.Adapun kemampuan akal dan mata hati yang berfungsi membedakan yang baik dan buruk,maka ini berfungsi jauh sesudah kedua indra tersebut di atas.Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perurutan penyebutan indra-indra pada ayat di atas mencerminkan tahap perkembangan fungsi indra-indra tersebut.
            Selanjutnya dipilihnya bentuk jamak untuk penglihatan dan hati,karena yang didengar selalu saja sama,baik oleh seorang maupun banyak orang dan dari arah mana pun datangnya suara.Iniberbeda dengan apa yang dilihat.Posisi tempat berpijak dan arah pandang melahirkan perbedaan.Demikian juga hasil kerja akal dan hati.Hati manusia sekali senang sekali susah,sekali benci sekali rindu,tingkat-tingkatnya berbeda-beda walau objek yang dibenci dan dirindu sama.
            Hasil penalaran akal pun demikian.Dia dapat berbeda,boleh jadi ada yang sangat jitu dan tepat,dan boleh jadi juga merupakan kesalahan fatal.Kepala sama barambut,tetapi pikiran berbeda-beda.
            Firman-Nya di atas menunjuk kepada alat-alat pokok yang digunakan guna meraih pengetahuan.Alat pokok pada objek bersifat material adalah mata dan telinga,sedangkan pada objek yang bersifat immaterial adalah akal dan hati.
            Dalam pandangan al-Qur’an ada wujud yang tidak tampak betapapun tajamnya mata kepala dan pikiran.Banyak hal yang tidak dapat terjangkau oleh indra bahkan akal manusia.Yang dapat menangkapnya hanyalah hati,melalui wahyu,ilham,atau intuisi.Dari sini pula sehingga al-Qur’an,di samping menuntun dan mengarahkan pendengaran dan penglihatan,juga memerintahkan agar mengasah akal yakni daya pikir dan mengasuh daya kalbu.
            Akal dalam arti daya pikir hanya mampu berfungsi dalam batas-batas tertentu.Ia tidak mampu menuntun manusia keluar jangkauan alam fisika ini.Bidang operasinya adalah bidang alam nyata,dan dalam bidang ini pun terkadang manusia teperdaya oleh kesimpulan-kesimpulan akal,sehingga hasil penalaran akal tidak merupakan jaminan bagi seluruh kebenaran yang didambakan.”Logika”adalah suatu ilmu yang dirumuskan oleh Aristoteles yang bertujuan memelihara seseorang agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan berfikir.Namun ternyata,ilmu ini tidak mampu memelihara perumusannya sendiri jangankan orang lain dari kesalahan-kesalahan fatal dalam berfikir.Akal hanya ibarat kemampuan berenang.Memang kemampuan ini dapat menyelamatkan seseorang dari kehanyutan ditengah kolam renang,atau sungai dan juga laut yang deras gelombangnya.Tetapi tidak ditengah samudra luas yang gelombangnya gulung menggulung.Jika gelombang sedemikian deras dan besarnya,maka akan sama saja keadaan yang mampu berenang dan yang tidak mampu;keduannya memerlukan pelampung.Alat untuk meraih pelampung itu adalah kalbu.
            Bukan hanya agamawan yang berbicara tentang pentingnya kalbu untuk diasah dan diasuh.Ilmuwan pun berbicara tentang peranan dan daya kalbu yang demikian besar.Intuisi,indra keenam,itulah sebagian nama yang mereka perkenalkan.Agamawan menamainya ilham atau hidayah.Allah menganugerahkannya kepada mereka yang mempersiapkan diri untuk menerimanya dengan mengasah dan mengasuh kalbunya.
            Alat-alat yang dianugerahkan Allah itu masih belum digunakan oleh umat islam bahkan para penuntut ilmu secara sempurna.Pelajar dan mahasiswa kita lebih banyak menggunakan indra pendengar dari pada indra penglihat.Indra pendengar baru digunakannya setengah-setengah.Akal tidak jarang diabaikan,dan kalbu hampir selalu terbaikan termasuk dalam lembaga-lembaga Pendidikan Agama.Sungguh ironis.
            Firman-Nya : la ta ‘lamuna syai’an/tidak mengetahui suatu apapun dijadikan oleh pakar sebai bukti bahwa manusia lahir tanpa sedikit pun pengetahuan.Manusia,kata mereka bagaikan kertas putih yang belum dibubuhi satu huruf pun.Pendapat ini benar jika yang dimaksud dengan pengetahuan adalah pengetauan kasbiy yakni yang diperoleh melalui upaya manusiawi.Tetapi ia meleset jika menafikan segala macam pengetahuan,karena manusia lahir membawa fitrah kesucian yang melekat pada dirinya sejak lahir,yakni fitrah yang menjadikannya”mengetahui”bahwa Allah Maha Esa.Disamping itu,ia juga mengetahui  walau sekelumit tetntang wujud dirinya dan apa yang sedang dialaminya.Bukankah hidup manusia ditandai oleh gerak,rasa dan tahu,minimal mengetahui wujud diri.

D.    QS.Al-Isra’ ayat 36
Ÿwur ß#ø)s? $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ íOù=Ïæ 4 ¨bÎ) yìôJ¡¡9$# uŽ|Çt7ø9$#ur yŠ#xsàÿø9$#ur @ä. y7Í´¯»s9'ré& tb%x. çm÷Ytã Zwqä«ó¡tB
Artinya: “dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
            Tuntunan di atas merupakan tuntunan universal.Nurani manusia,dimana dan kapan pun pasti menilainya baik dan menilai lawannya merupakan sesuatu yang buruk,enggan dterima oleh siapa pun.Karena itu dengan meggunakan bentuk tunggal agar mencangkup setiap orang sebagaiman nilainilai di atas diakui oleh nurani setiap orang,ayat ini memerintahkan:Lakukan apa yang telah Allah perintahkan diatas dan hindari apa yang tidak sejalan dengannya dan janganlah engkau mengikuti apa-apa yang tiada bagimu  pengetahuan tentangnya.Jangan berucap apa yang engkau tidak ketahui,jangan mengaku tahu apa ayang engkau tidak tahu atau mengaku mendengar apa yang tidak engkau dengar.Sesungguhnya pendengaran,penglihatan dan hati,yang merupakan alat-alat pengetahuan semua itu yakni alat-alat itu masing-masing tentangnya akan ditanyai tentang bagaimana pemiliknya menggunakannya atau pemiliknya akan dituntut mempertanggung jawabkan bagaiman ia menggunakannya.
            Dari satu sisi tuntunan ayat ini mencegah sekian banyak keburukan,sepert tuduhan,sangka buruk,kebohongan dan kesaksian palsu.Di sisi lain ia memberi tuntunan untuk menggunakan pendengaran,penglihatan dan hati sebagai alat-alat untuk meraih pengetahuan.Rujuklah ke QS.an-Nahl [16]:78 untuk memperoleh informasi lebih banyak tentang ketiga alat pengetahuan yang disebut oleh ayat di atas.
            Ayat di atas berbeda dengan QS.an-Nahl itu.Di sana kata yang menunjukpenglihatan jamak al-abshar,sedang di sini berbentuk tunggal yakni al-bashar/penglihatan.Hal itu agaknya disebabkan karena penekanan pada surah an-Nahl pada aneka nikmat Allah,antara lain aneka penglihatan yang dapat draih manusia antara lain akibat posisinya yang berbeda-beda,sedangkan ayat al-Isra’ini dikemukakan dalam konteks tanggung jawab,dan untukitu setiap pandangan yang banyak akan dituntut pertanggung jawabannya.
Sayyid Quthub berkomentar bahwa ayat ini dengan kalimat-kalimatnya yang sedemikian singkat telah menegakkan suatu sistm yang sempurna bagi hati dan akal,mencangkup metode ilmiah yang baru saja dikenal oleh umat manusia,bahkan ayat ini menambah sesuatu yang berkaitan dengan hati manusia dan pengawasan Allah swt.Tambahan dan penekanan ini merupakan keistimewaan Islam dibanding dengan metode-metode penggunaan nalar yang dikenal selama ii dan yang sangat gersang itu.
Kehati-hatian dan upaya pembuktian terhadap semua berita,semua fenomena,semua gerak,sebelum memutuskan itulah ajakan ak-Qur’an,serta metode yang sangat teliti dari ajaran islam.Apabila akal dan hati telah konsisten menerapkan metode ini,maka tidak akan ada tempat lagi bagi waham dan khufarat dalam akidah,tidak ada juga wadah bagi dugaan dan perkiraan dalam bidang ketetapan hukum dan interaksi,tidak juga hipotesa atau perkiraan yang rapuh dalam bidang penelitian,eksperimen dan ilmu pengetahuan.Amanah ‘ilmiyah yang didengungkan di abad modern ini,tidak lain kecuali sebagian dari Amanah aqliyah dan qalbiyah yang dikumandangkan tanggung jawabnya oleh al-Qur’an yang menyatakan bahwa manusia bertanggung jawabnya kerja pendengaran,penglihatan dan hatinya,dan bertanggung jawab kepada Allah swt yang menganugerahkannya pendengaran,mata dan hati.Demikian lebih kurang Sayyid Quthub.
Ayat ini menegaskan bahwa manusia pun akan dituntut mempertanggung jawabkan kerja al-fu’ad/hatinya.Para ulama menggaris bawahi bahwa apa-apa yang tersirat dalam hati,bermacam-macam dan bertingkat-tingkat.Ada yang dinamai hajis yaitu sesuatu yang terlintas dalam pikiran secara spontan dan berakhir seketik.Selanjutnya khathir yakni yang terlintas sejenak kemudian berhenti;tingkat ketiga apa yang dinamai hadits nafs,yakni bisikan-bsikan hati yang dari saat ke saat muncul dan bergejolak.Peringkat yang lebih tinggi adalah hamm,yaitu kehendak melakukan sesuatu sambil memikirkan cara-cara pencapaiannya dan terakhir sebelum melangkah mewujudkan kegiatan adalah ‘azm,yakni kebulatan tekad setelah rampungnya seluruh proses hamm dan dimulainya langkah awal bagi pelaksanaan. Yang dituntut kelak adalah ‘azm itu,sedang semua yang ada dalam hati dan belum mencapai tingkat ‘azm ditoleransi oleh Allah swt.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Beberapa potensi manusia menurut agama islam yang diberikan oleh Allah SWT.:
1.   Potensi Akal
Manusia memiliki potensi akal yang dapat menyusun konsep-konsep, mencipta, mengembangkan, dan mengemukakan gagasan. Dengan potensi ini, manusia dapat melaksanakan  tugas-tugasnya sebagai pemimpin di muka bumi. Namun, factor subyektifitas manusia dapat mengarahkan manusia pada kesalahan dan kebenaran.
2.   Potensi Ruh
Manusia memiliki ruh. Banyak mendapat para ahli tentang ruh. Ada yang mengatakan bahwa ruh pada manusia adalah nyawa. Sementara sebagian yang lain mengalami ruh pada manusia sebagai dukungan dan peneguhan kekuatan batin. Soal ruh ini memang bukan urusan manusia karena manusia memiliki sedikit ilmu pengetahuan. Bukankah urusan ruh menjadi urusan Tuhan.
3.   Potensi Qalbu
Qalbu disini tidak dimaknai sebagai hati yang ada pada manusia.  Qalbu lebih mengarah pada aktifitas rasa yang bolak-balik. Sesekali senang, sesekali susah, kadang setuju kadang menolak.
Qalbu berhubungan dengan keimanan. Qalbu merupakan wadah dari rasa takut, cinta, kasih sayang, dan keimanan. Karenaqalbu ibarat sebuah wadah, ia berpotensi menjadi kotor atau tetap bersih.
4.      Potensi Fitrah
Manusia pada saat lahir memiliki potensi fitrah. Fitrah disini tidak dimaknai melulu sebagai sesuatu yang suci. Fitrah disini adalah bahwa sejak lahir fitrah manusia adalah membawa agama yang benar. Namun, kondisi fitrah ini berpotensi tercampur dengan yang lain dalam proses pembentukannya.
5.      Potensi Nafs
Dalam bahasa Indonesia, nafs diserap menjadi nafsu berarti ‘dorongan kuat berbuat kurang baik’. Sementara nafs yang ada pada manusia tidak hanya dorongan berbuat buruk, tetapi berpotensi berbuat baik. Dengan kata lain, nafs ini berpotensi positif dan negative.
Melekatnya nafs pada diri manusia cenderung berpotensi positif. Namun, potensi negative daya  tariknya lebih kuat dari pada potensi positif. Oleh karena itu manusia diminta menjaga  kesuciannafsnya agar tidak kotor.
Sebagai manusia, fitrah kita cenderung mengarah kepada hal-hal baik dan terpuji.   Namun, karena manusia diberi akal, nafsu dan syahwat. Bisa jadi kedua tipe akhlak tersebut ada pada diri kita. Tetapi karena manusia memiliki hawa nafsu,  maka  dari  itulah  derajat manusia lebih  tinggi  daripada  malaikat,  syetan,  bahkan  semua makhluk  ciptaan  Allah.



DAFTAR PUSTAKA
Sihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al Mishbah. Jakarta: Lentera Hati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LAPORAN KKL ( KULIAH KERJA LAPANGAN ) FAI UNIAT (Universitas Islam Attahiriyah)

https://drive.google.com/folderview?id=1QsYXAAC12ZFAC3ZtvdvvHF_AnsawW8n5