BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Potensi diri merupakan
kemampuan, kekuatan, baik yang belum terwujud maupun yang telah terwujud, yang
dimiliki seseorang, tetapi belum sepenuhnya terlihat atau dipergunakan secara
maksimal.
Manusia menurut agama
islam adalah makhluk Allah yang berpotensi. Dalam al-Qur’an, ada
tiga kata yang menunjuk pada manusia, yang di gunakan
adalah basyar insan atau nas dan bani Adam.
Kata basyar diambil
dari akar kata yang berarti ‘penampakan
sesuatu dengan baik dan indah’.
Dari kata itu juga, muncul kata basyarah yang artinya
‘kulit’. Jadi, manusia disebut basyar karena kulitnya tampak
jelas dan berbeda dengan kulit binatang. Manusia dipilih
oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi. Alasan mengapa dipilih sebagai
khalifah karena manusia memiliki berbagai potensi.
B.
Rumusan Masalah
1.
Tafsir QS.ar- Rum : 30
2.
Tafsir QS.an-Nahl : 78
3.
Tafsir QS.al-A’raf : 72
4.
Tafsir QS. Al-Isra’ : 36
C.
Tujuan
1. Mengetahui
dan memahami Tafsir
QS.ar- Rum : 30
2.
Mengetahui dan memahami Tafsir QS.an-Nahl : 78
3.
Mengetahui dan memahami Tafsir QS.al-A’raf : 72
4.
Mengetahui dan memahami Tafsir QS. Al-Isra’ : 36
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Surat Ar Ruum ayat 30
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pkön=tæ 4 w @Ïö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 Ï9ºs ÚúïÏe$!$# ÞOÍhs)ø9$# ÆÅ3»s9ur usYò2r& Ĩ$¨Z9$# w tbqßJn=ôèt ÇÌÉÈ
Artinya:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama
Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut
fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus;
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Fitrah
Allah Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri
beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal
itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh
lingkungan.
(Maka hadapkanlah) hai Muhammad
(wajahmu dengan lurus kepada agama Allah) maksudnya cenderungkanlah dirimu
kepada agama Allah, yaitu dengan cara mengikhlaskan dirimu dan orang-orang yang
mengikutimu di dalam menjalankan agama-Nya (fitrah Allah) ciptaan-Nya (yang
telah menciptakan manusia menurut fitrah itu) yakni agama-Nya. Makna yang
dimaksud ialah, tetaplah atas fitrah atau agama Allah. (Tidak ada perubahan
pada fitrah Allah) pada agama-Nya. Maksudnya janganlah kalian menggantinya,
misalnya menyekutukan-Nya. (Itulah agama yang lurus) agama tauhid itulah agama
yang lurus (tetapi kebanyakan manusia) yakni orang-orang kafir Mekah (tidak
mengetahui) ketauhidan atau keesaan Allah.
Dari itu, luruskanlah wajahmu dan
menghadaplah kepada agama, jauh dari kesesatan mereka. Tetaplah pada fitrah
yang Allah telah ciptakan manusia atas fitrah itu. Yaitu fitrah bahwa mereka
dapat menerima tauhid dan tidak mengingkarinya. Fitrah itu tidak akan berubah.
Fitrah untuk menerima ajaran tauhid itu adalah agama yang lurus. Tetapi
orang-orang musyrik tidak mengetahui hakikat hal itu.
B.
Surat Al-A’raf ayat 72
çm»uZøpgUr'sù úïÏ%©!$#ur ¼çmyètB 7puH÷qtÎ/ $¨YÏiB $oY÷èsÜs%ur tÎ/#y tûïÏ%©!$# (#qç/¤2 $uZÏG»t$t«Î/ ( $tBur (#qçR%x. úüÏZÏB÷sãB ÇÐËÈ
Artinya :“Maka kami menyelamatkannya dan orang-orang
yang menyertainya disebabkan karena dari kami, dan kami binasakan sampai akhir
orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan mereka tidak pernah merupakan
orang-orang mukmin”.
Siksa
Allah yang dijanjikan itu akhirnya datang juga, dan karena kehadiran Nabi Hud
AS merupakan rahmat bagi yang menyambut beliau dan untuk menggambarkan betapa
anugerahkan dan perhatian Allah kepada kaum beriman, maka ayat ini terlebih
dahulu menegaskan bahwa maka ketika kehadiran ancaman itu disaksikan oleh semua
yang memnati, termasuk Nabi Hud AS. Kami menyelamatkannya yskni Nabi Hud AS dan
orang-orang beriman yang menyertainya. Penyelamatan itu semata-mata disebabkan
karena rahmat yang besar dari kami, dan kami binasakan sampai akhir orang-orang
yaitu kaum Nabi Hud AS yang mendustakan ayat-ayat kami dengan menyembah berhala
serta menolak utusan kami sehinga karena itu kami siksa mereka dan mereka tidak
pernah merupakan orang-orang mukmin dan tidak akan menerima kebenaran atau
dapat juga berarti kami jatuhkan siksa itu atas mereka ketika mereka dalam
keadaan membangkang perintah Allah dan tidak beriman.
Kata qatha’na
dabira / membinasakan sampai akhir dari segi harfiah berarti “kami memutus
belakang” dalam peperangan, pasukan merupakan satu kesatuan, tetapi dengan
kekalahan, mereka kocar kacir dan lari pontang panting. Biasanya yang terakhir
tidak lagi dipedulikan oleh yang menang, boleh jadi karena telah letih mengejar
atau karena menganggapnya tidak berbahaya lagi, sehingga ia dibiarkan saja.
Ayat ini bermaksud menggambarkan bahwa semua akan dibinasakan Allah walau yang
dibelakang dan yang lari pontang panting itu semua akan terkejar, tertangkap
dan tersiksa dan tidak satupun yang akan tersisa.Rujukan ke ayat 45 surah
al-an’am untuk memaham lebih jauh makna penggalan ayat ini.
Mendahulukan
menyebut penyelamatan nabi Hud as dan kaum beriman,baru kemudian menyebut
pembinasaan kaum kafir,walau sepintas terlihat pembinasaan itu seharusnya
disebut lebih dahulu,dapat juga dipahami sebagai bertujuan menyegerakan berita
gembira sebagaimana yang juga telah diutarakan ketika menafsirkan ayat 64
tentang penyelamatan nabi nuh as.
Dua kedurhakaan,yaitu
pendustaan dan syirik yang disebut ayat diatas,merupaka sebab utama dari
kebinasaan dan pemunahan kaum ‘ad.Ini merupakan sindiran yang mengandung
ancaman mendapatkan siksa serupa terhadap setiap kaum yang melakukan kedua
kedurhakaan itu.Memang di tempat lain Allah swt menegaskan bahwa Dia tidak akan
menyiksa umat Nabi Muhammad saw dengan siksaan serupa seperti yang dialami oleh
umat-umat terdahulu selama Nabi Muhammad masih berada ditengah mereka.Dan Allah
sekali-kali tidak akan mengazab mereka,sedang kamu berada diantara mereka.
(QS.Al-Anfal [8]:33).Siksa dimaksud adalah siksa pemunahan sedang keberadaan
beliau bukan hanya dalam arti fisik tetap dapat juga dipahami dalam keberadaan
ajarannya.
Thahir
Ibn Ansyur berpedapat bahwa pemunahan yang dialami kaum ‘ad itu merupakan salah
satu bentuk pembersihan jazirah arabia pada awal masa pembangunan peradabannya
serta penyiapan Allah swt untuk menjadikan daerah itu sebagai tempat
berpancarnya cahaya dakwah Islamiyah yang dibawa oleh nabi Muhammad saw.
C.
QS.An-Nahl ayat 78
ª!$#ur Nä3y_t÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& w cqßJn=÷ès? $\«øx© @yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur öNä3ª=yès9 crãä3ô±s? ÇÐÑÈ
Artinya: “dan Allah mengeluarkan kamu dari
perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.’’
Sayyid
Quthub menjadikan ayat ini sebagai paparan contoh sederhana dalam kehidupan
manusia yang tidak terjangkau olehnya yakni kelahiran padahal itu terjadi
setiap saat,siang dan malam.Persoalan ini adalah gaib yang dekat,tetapi sangat
jauh dan dalam untuk menjangkaunya.Memang boleh jadi manusia dapat melihat
tahap-tahap pertumbuhan janin,tetapi dia tidak mengetahui bagaimana hal tersebut
terjadi,karena rahasianya merupakan rahasia kehidupan.Demikian Sayyid Quthub
menghubungkan ayat ini dengan ayat lalu yang berbicara tentang kepemilikan
Allah terhadap gaib dan tentang kegaiban hari Kiamat.
Ayat ini
dapat dihubungkan dengan ayat lalu dengan menyatakan bahwa uraiannya merupakan
salah satu bukti kuasa Allah menghidupkan kembali siapa yang meninggal dunia
serta kebangkitan pada hari kiamat.Ayat ini menyatakan :Dan sebagaimana Allah
mengeluarkanmu berdasarkan kuasa dan ilmu-Nya dari perut ibu-ibu kamu sedang
tadinya kamu tidak wujud,maka demikian juga Dia dapat mengeluarkan kamu dari
perut bumi dan menghidupkan kamu kembali.Ketika Dia mengeluarkan kamu ddari
ibu-ibu kamu,kamu semua dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun yang ada di
sekeliling kamu dan Dia menjadikan bagi kamu
pendengaran,penglihatan-penglihatan dan aneka hati,sebagai bekal dan alat-alat
untuk meraih pengetahuan agar kamu bersyukur menggunakan alat-alat tersebut
sesuai dengan tujuan Allah menganugrahkannya kepada kamu.
Ayat diatas menggunakan kata ìôJ¡¡9$#
as-sam’ /pendengaran dengan bentuk tunggal dan menempatkannya sebelum
kata »|Áö/F{$#
al-absar/penglihatan-penglihatan yang berbentuk jamak serta oyÏ«øùF{$#
al-af’idah/aneka hati yang juga berbentuk jamak.
Kata al-af’idah adalah bentuk
jamak dari kata fu’ad yang penulis terjemahkan dengan aneka hati guna menunjuk
makna jamak itu.Kata ini dipahami oleh banyak ulama dalam arti akal.Makna ini
dapat diterima jika yang dimaksud dengannya adalah gabungan daya pikir dan daya
kalbu,yang menjadikan seseorang terikat sehingga tidak terjerumus dalam
kesalahan dan kedurhakaan.Dengan demikian tercakup dalam pengertiannya potensi
meraih ilham dan percikan cahaya ilahi.
Didahulukannya
kata pendengaran atas peglihatan,merupakan perurutan yang sungguh tepat,karena
memang ilmu kedokteran modern membuktikan bahwa indra pendengaran berfungsi
mendahului indra penglihatan.Ia mulai tumbuh pada diri seorang bayi pada
pekan-pekan pertama.Sedangkan indra penglihatan baru bermula pada bulan ketiga
dan menjadi sempurna menginjak bulan keenam.Adapun kemampuan akal dan mata hati
yang berfungsi membedakan yang baik dan buruk,maka ini berfungsi jauh sesudah
kedua indra tersebut di atas.Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perurutan
penyebutan indra-indra pada ayat di atas mencerminkan tahap perkembangan fungsi
indra-indra tersebut.
Selanjutnya
dipilihnya bentuk jamak untuk penglihatan dan hati,karena yang didengar selalu
saja sama,baik oleh seorang maupun banyak orang dan dari arah mana pun
datangnya suara.Iniberbeda dengan apa yang dilihat.Posisi tempat berpijak dan
arah pandang melahirkan perbedaan.Demikian juga hasil kerja akal dan hati.Hati
manusia sekali senang sekali susah,sekali benci sekali rindu,tingkat-tingkatnya
berbeda-beda walau objek yang dibenci dan dirindu sama.
Hasil
penalaran akal pun demikian.Dia dapat berbeda,boleh jadi ada yang sangat jitu
dan tepat,dan boleh jadi juga merupakan kesalahan fatal.Kepala sama
barambut,tetapi pikiran berbeda-beda.
Firman-Nya
di atas menunjuk kepada alat-alat pokok yang digunakan guna meraih
pengetahuan.Alat pokok pada objek bersifat material adalah mata dan telinga,sedangkan
pada objek yang bersifat immaterial adalah akal dan hati.
Dalam
pandangan al-Qur’an ada wujud yang tidak tampak betapapun tajamnya mata kepala
dan pikiran.Banyak hal yang tidak dapat terjangkau oleh indra bahkan akal manusia.Yang
dapat menangkapnya hanyalah hati,melalui wahyu,ilham,atau intuisi.Dari sini
pula sehingga al-Qur’an,di samping menuntun dan mengarahkan pendengaran dan
penglihatan,juga memerintahkan agar mengasah akal yakni daya pikir dan mengasuh
daya kalbu.
Akal
dalam arti daya pikir hanya mampu berfungsi dalam batas-batas tertentu.Ia tidak
mampu menuntun manusia keluar jangkauan alam fisika ini.Bidang operasinya
adalah bidang alam nyata,dan dalam bidang ini pun terkadang manusia teperdaya
oleh kesimpulan-kesimpulan akal,sehingga hasil penalaran akal tidak merupakan
jaminan bagi seluruh kebenaran yang didambakan.”Logika”adalah suatu ilmu yang
dirumuskan oleh Aristoteles yang bertujuan memelihara seseorang agar tidak
terjerumus ke dalam kesalahan berfikir.Namun ternyata,ilmu ini tidak mampu
memelihara perumusannya sendiri jangankan orang lain dari kesalahan-kesalahan
fatal dalam berfikir.Akal hanya ibarat kemampuan berenang.Memang kemampuan ini
dapat menyelamatkan seseorang dari kehanyutan ditengah kolam renang,atau sungai
dan juga laut yang deras gelombangnya.Tetapi tidak ditengah samudra luas yang
gelombangnya gulung menggulung.Jika gelombang sedemikian deras dan
besarnya,maka akan sama saja keadaan yang mampu berenang dan yang tidak
mampu;keduannya memerlukan pelampung.Alat untuk meraih pelampung itu adalah
kalbu.
Bukan
hanya agamawan yang berbicara tentang pentingnya kalbu untuk diasah dan diasuh.Ilmuwan
pun berbicara tentang peranan dan daya kalbu yang demikian besar.Intuisi,indra
keenam,itulah sebagian nama yang mereka perkenalkan.Agamawan menamainya ilham
atau hidayah.Allah menganugerahkannya kepada mereka yang mempersiapkan diri
untuk menerimanya dengan mengasah dan mengasuh kalbunya.
Alat-alat
yang dianugerahkan Allah itu masih belum digunakan oleh umat islam bahkan para
penuntut ilmu secara sempurna.Pelajar dan mahasiswa kita lebih banyak
menggunakan indra pendengar dari pada indra penglihat.Indra pendengar baru
digunakannya setengah-setengah.Akal tidak jarang diabaikan,dan kalbu hampir
selalu terbaikan termasuk dalam lembaga-lembaga Pendidikan Agama.Sungguh
ironis.
Firman-Nya
: la ta ‘lamuna syai’an/tidak mengetahui suatu apapun dijadikan oleh pakar
sebai bukti bahwa manusia lahir tanpa sedikit pun pengetahuan.Manusia,kata
mereka bagaikan kertas putih yang belum dibubuhi satu huruf pun.Pendapat ini
benar jika yang dimaksud dengan pengetahuan adalah pengetauan kasbiy yakni yang
diperoleh melalui upaya manusiawi.Tetapi ia meleset jika menafikan segala macam
pengetahuan,karena manusia lahir membawa fitrah kesucian yang melekat pada
dirinya sejak lahir,yakni fitrah yang menjadikannya”mengetahui”bahwa Allah Maha
Esa.Disamping itu,ia juga mengetahui
walau sekelumit tetntang wujud dirinya dan apa yang sedang
dialaminya.Bukankah hidup manusia ditandai oleh gerak,rasa dan tahu,minimal
mengetahui wujud diri.
D.
QS.Al-Isra’ ayat 36
wur ß#ø)s? $tB }§øs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ íOù=Ïæ 4 ¨bÎ) yìôJ¡¡9$# u|Çt7ø9$#ur y#xsàÿø9$#ur @ä. y7Í´¯»s9'ré& tb%x. çm÷Ytã Zwqä«ó¡tB
Artinya: “dan janganlah kamu mengikuti apa
yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
Tuntunan
di atas merupakan tuntunan universal.Nurani manusia,dimana dan kapan pun pasti
menilainya baik dan menilai lawannya merupakan sesuatu yang buruk,enggan
dterima oleh siapa pun.Karena itu dengan meggunakan bentuk tunggal agar
mencangkup setiap orang sebagaiman nilainilai di atas diakui oleh nurani setiap
orang,ayat ini memerintahkan:Lakukan apa yang telah Allah perintahkan diatas
dan hindari apa yang tidak sejalan dengannya dan janganlah engkau mengikuti
apa-apa yang tiada bagimu pengetahuan
tentangnya.Jangan berucap apa yang engkau tidak ketahui,jangan mengaku tahu apa
ayang engkau tidak tahu atau mengaku mendengar apa yang tidak engkau
dengar.Sesungguhnya pendengaran,penglihatan dan hati,yang merupakan alat-alat
pengetahuan semua itu yakni alat-alat itu masing-masing tentangnya akan
ditanyai tentang bagaimana pemiliknya menggunakannya atau pemiliknya akan
dituntut mempertanggung jawabkan bagaiman ia menggunakannya.
Dari
satu sisi tuntunan ayat ini mencegah sekian banyak keburukan,sepert
tuduhan,sangka buruk,kebohongan dan kesaksian palsu.Di sisi lain ia memberi
tuntunan untuk menggunakan pendengaran,penglihatan dan hati sebagai alat-alat
untuk meraih pengetahuan.Rujuklah ke QS.an-Nahl [16]:78 untuk memperoleh
informasi lebih banyak tentang ketiga alat pengetahuan yang disebut oleh ayat
di atas.
Ayat di
atas berbeda dengan QS.an-Nahl itu.Di sana kata yang menunjukpenglihatan jamak al-abshar,sedang di sini berbentuk
tunggal yakni al-bashar/penglihatan.Hal itu agaknya disebabkan karena penekanan
pada surah an-Nahl pada aneka nikmat Allah,antara lain aneka penglihatan yang
dapat draih manusia antara lain akibat posisinya yang berbeda-beda,sedangkan
ayat al-Isra’ini dikemukakan dalam konteks tanggung jawab,dan untukitu setiap
pandangan yang banyak akan dituntut pertanggung jawabannya.
Sayyid Quthub berkomentar bahwa
ayat ini dengan kalimat-kalimatnya yang sedemikian singkat telah menegakkan
suatu sistm yang sempurna bagi hati dan akal,mencangkup metode ilmiah yang baru
saja dikenal oleh umat manusia,bahkan ayat ini menambah sesuatu yang berkaitan
dengan hati manusia dan pengawasan Allah swt.Tambahan dan penekanan ini merupakan
keistimewaan Islam dibanding dengan metode-metode penggunaan nalar yang dikenal
selama ii dan yang sangat gersang itu.
Kehati-hatian dan upaya pembuktian
terhadap semua berita,semua fenomena,semua gerak,sebelum memutuskan itulah
ajakan ak-Qur’an,serta metode yang sangat teliti dari ajaran islam.Apabila akal
dan hati telah konsisten menerapkan metode ini,maka tidak akan ada tempat lagi
bagi waham dan khufarat dalam akidah,tidak ada juga wadah bagi dugaan dan
perkiraan dalam bidang ketetapan hukum dan interaksi,tidak juga hipotesa atau
perkiraan yang rapuh dalam bidang penelitian,eksperimen dan ilmu
pengetahuan.Amanah ‘ilmiyah yang didengungkan di abad modern ini,tidak lain
kecuali sebagian dari Amanah aqliyah dan qalbiyah yang dikumandangkan tanggung
jawabnya oleh al-Qur’an yang menyatakan bahwa manusia bertanggung jawabnya
kerja pendengaran,penglihatan dan hatinya,dan bertanggung jawab kepada Allah
swt yang menganugerahkannya pendengaran,mata dan hati.Demikian lebih kurang
Sayyid Quthub.
Ayat ini menegaskan bahwa manusia
pun akan dituntut mempertanggung jawabkan kerja al-fu’ad/hatinya.Para ulama
menggaris bawahi bahwa apa-apa yang tersirat dalam hati,bermacam-macam dan bertingkat-tingkat.Ada
yang dinamai hajis yaitu sesuatu yang terlintas dalam pikiran secara spontan
dan berakhir seketik.Selanjutnya khathir yakni yang terlintas sejenak kemudian
berhenti;tingkat ketiga apa yang dinamai hadits nafs,yakni bisikan-bsikan hati
yang dari saat ke saat muncul dan bergejolak.Peringkat yang lebih tinggi adalah
hamm,yaitu kehendak melakukan sesuatu sambil memikirkan cara-cara pencapaiannya
dan terakhir sebelum melangkah mewujudkan kegiatan adalah ‘azm,yakni kebulatan
tekad setelah rampungnya seluruh proses hamm dan dimulainya langkah awal bagi
pelaksanaan. Yang dituntut kelak adalah ‘azm itu,sedang semua yang ada dalam
hati dan belum mencapai tingkat ‘azm ditoleransi oleh Allah swt.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Beberapa
potensi manusia menurut agama islam yang diberikan oleh Allah SWT.:
1. Potensi
Akal
Manusia memiliki potensi akal yang dapat menyusun
konsep-konsep, mencipta, mengembangkan, dan mengemukakan gagasan. Dengan
potensi ini, manusia dapat melaksanakan tugas-tugasnya sebagai
pemimpin di muka bumi. Namun, factor subyektifitas manusia dapat mengarahkan
manusia pada kesalahan dan kebenaran.
2. Potensi
Ruh
Manusia memiliki ruh. Banyak mendapat para ahli tentang
ruh. Ada yang mengatakan bahwa ruh pada manusia adalah nyawa. Sementara
sebagian yang lain mengalami ruh pada manusia sebagai dukungan dan peneguhan
kekuatan batin. Soal ruh ini memang bukan urusan manusia karena manusia
memiliki sedikit ilmu pengetahuan. Bukankah urusan ruh menjadi urusan Tuhan.
3. Potensi
Qalbu
Qalbu disini
tidak dimaknai sebagai hati yang ada pada manusia. Qalbu lebih
mengarah pada aktifitas rasa yang bolak-balik. Sesekali senang, sesekali susah,
kadang setuju kadang menolak.
Qalbu berhubungan
dengan keimanan. Qalbu merupakan wadah dari rasa takut, cinta,
kasih sayang, dan keimanan. Karenaqalbu ibarat sebuah wadah, ia
berpotensi menjadi kotor atau tetap bersih.
4. Potensi
Fitrah
Manusia pada saat lahir memiliki potensi fitrah. Fitrah
disini tidak dimaknai melulu sebagai sesuatu yang suci. Fitrah disini adalah
bahwa sejak lahir fitrah manusia adalah membawa agama yang benar. Namun,
kondisi fitrah ini berpotensi tercampur dengan yang lain dalam proses
pembentukannya.
5. Potensi
Nafs
Dalam bahasa Indonesia, nafs diserap
menjadi nafsu berarti ‘dorongan kuat berbuat kurang baik’. Sementara nafs yang
ada pada manusia tidak hanya dorongan berbuat buruk, tetapi berpotensi berbuat
baik. Dengan kata lain, nafs ini berpotensi positif dan
negative.
Melekatnya nafs pada diri manusia
cenderung berpotensi positif. Namun, potensi negative daya tariknya
lebih kuat dari pada potensi positif. Oleh karena itu manusia diminta
menjaga kesuciannafsnya agar tidak kotor.
Sebagai manusia, fitrah kita cenderung mengarah kepada
hal-hal baik dan terpuji. Namun, karena manusia diberi akal,
nafsu dan syahwat. Bisa jadi kedua tipe akhlak tersebut ada pada diri kita.
Tetapi karena manusia memiliki hawa
nafsu, maka dari itulah derajat manusia
lebih tinggi daripada malaikat, syetan, bahkan semua makhluk ciptaan Allah.
DAFTAR PUSTAKA
Sihab, M. Quraish. 2002. Tafsir
Al Mishbah. Jakarta: Lentera Hati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar