KATA PENGANTAR
Assalamu’alaykum Warahmatullahi
Wabarakatuh
Alhamdulillahirabbil’alamin
banyak nikmat yang telah Allah berikan tapi sedikit sekali yang dapat kita
ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala
berkat, rahmat, taufik serta hidayahNya
yang tiada terkira besarnya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah
dengan pembahasan “Tafsir Pendidikan Sosial dalam Q.S Al-A’raf:199 dan
Al-Furqan: 63-68, 72-77”.
Dalam
penyusunannya, tentu saya memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena
itu saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Kamaluddin selaku dosen
pembimbing. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini dapat
menuntun pada langkah yang lebih baik lagi. Meskipun saya berharap isi dari
makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang.
Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar bisa
menjadi lebih baik lagi. Akhir kata saya berharap agar makalah ini bermanfaat
bagi semua pembaca.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Al-Qur’an sebagai sumber utama pengembangan konsep pendidikan Islam
dapat dibuktikan dengan nyata dan akurat. Berbagai aspek yang dibicarakan dalam
Al-Qur’an seperti masalah aqidah (ke-Tuhanan), rasul, manusia ,alam, akhirat,
dan akal, nafsu, ilmu pengetahuan, kerukunan hidup beragama dan masih banyak
lagi dalam bidang-bidang yang kajian materi kehidupan yang luas namun tertuju
pada pendidikan.
Namun tidak kalah pentingnya nilai
pendidikan terdapat dalam pendidikan sosial, bersosial pun seseorang harus
dapat memahami dan menempatkan sesuatunya dengan baik, dan tidak berlaku
sombong serta angkuh dan tidak menghargai sesamanya.
Dalam pendidikan sosial banyak yang
harus dipahami dan dimengerti untuk kelangsungan hidup yang baik
menuju kerukunan dan keridhan Allah SWT sebagaimana dalam firman-Nya:
يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ
وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُسَـٰرِعُونَ فِى
ٱلۡخَيۡرَٲتِ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ
Artinya:“ mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka
menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar dan bersegeralah kepada
(mengerjakan) berbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh”.
Maksud ayat diatas adalah ditujukan untuk orang yang bukan Islam, namun dapat diambil
pelajaran/pendidikan bagi seorang muslim. Dalam hidup ini bukan hanya orang Islam
yang wajib melakukan kebaikan namun para ahli kitab yang berpegang teguh pada
kebenaran, menegakkan keadilan, bersujud dimalam hari, mereka juga beriman
kepada Allah. Memerintahkan yang baik dan menjauhi yang buruk.
B.
Rumusan Masalah
1. Pendidikan sosial dalam Al Qur’an
surat Al – A’raf ayat 199;
2. Pendidikan sosial dalam Al Qur’an
surat Al – Furqan ayat 63 – 68 dan 72 – 77
C.
Fokus Pembahasan
Dalam pembahasan penulisan makalah
ini, kami selaku penulis memfokuskan pembahasan ini terutama
dalam ruang lingkup diri sendiri, untuk dapat memahami dan dapat mengembangkan
pendidikan sosial yang baik dan benar dalam panduan tafsir Al-Qur’an. Kemudian penulis memfokuskan untuk pembaca baik mahasiswa ataupun
pembaca yang lain untuk dapat mengerti bahwasaanya dalam Al-Qur’an menjelaskan
pendidikan sosial merupakan kajian pendidikan yang harus diketahui oleh kita
semua.
D. Tujuan Pembahasan
Adapun dalam penulisan makalah ini,
penulis bertujuan untuk memberikan referensi dan masukan, serta
pengetahuan yang akan bermanfaat nantinya bagi penulis dalam melaksananakan
kewajiban sebagai seorang pendidik maupun untuk menjelaskan bahwa pentingnya
pendidikan, baik dalam taraf sosial ataupun personal.
BAB II
PEMBAHASAN
Ayat-ayat Al-qur’an yang Berkaitan dengan Pendidikan
Sosial
1.
Q.S Al A’raf (7) ayat 199
Éè{ uqøÿyèø9$# óßDù&ur Å$óãèø9$$Î/ óÚÌôãr&ur Ç`tã úüÎ=Îg»pgø:$#
Artinya: “Jadilah
engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah
dari pada orang-orang yang bodoh”.
Dalam ayat
ini Allah SWT memerintahkan Rasul-Nya agar berpegang teguh pada prinsip umum
tentang moral dan hukum, beberapa diantaranya yaitu:
1) Sikap Pemaaf
Allah SWT
menyuruh Rasul-Nya agar beliau memaafkan perbuatan, tingkah laku dan akhlak
manusia dan janganlah beliau meminta dari manusia apa yang sangat sukar bagi
mereka sehingga lari dari agama. Sabda Rasulullah saw yang artinya
“Mudahkanlah, jangan kamu persulit.” (H.R Bukhari dan Muslim dari Abu Musa dan
Muaz). Termasuk prinsip agama, mudahkanlah, menjauhkan kesukaran dan segala
halnya dalam bidang budi pekerti manusia yang banyak dipengaruhi lingkungannya.
Bahkan banyak riwayat menyatakan bahwa yang dikehendaki pemaafan di sini ialah
pemaafan dalam bidang akhlak atau budi pekerti.
Berkata
Rasulullah sehubungan dengan ayat ini dalam hal yang artinya
"Apakah ini ya Jibril?" Jawab Jibril: "Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kamu agar memaafkan orang yang berbuat aniaya terhadapmu, memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepadamu dan menghubungkan silaturahim kepada orang yang memutuskannya." (HR Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim, dari Ibnu Umaimah dari bapaknya)
"Apakah ini ya Jibril?" Jawab Jibril: "Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kamu agar memaafkan orang yang berbuat aniaya terhadapmu, memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepadamu dan menghubungkan silaturahim kepada orang yang memutuskannya." (HR Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim, dari Ibnu Umaimah dari bapaknya)
Bagian terpenting dalam bersahabat
itu adalah: "terciptanya saling pengertian dan hubungan timbal balik yang
harmonis." Untuk itu Islam telah mengatur tata cara atau etika hubungan
timbal balik dalam pergaulan tersebut dengan beberapa prinsip, diantaranya:
a) Mengucapkan
salam kala menemui saudara sesama muslim
b) Bertutur
kata dengan penuh arti dan bijaksana
c) Berkasih
sayang dan saling menyantuni
d) Utamakan
memberi dan menyenangkan orang lain
e) Pemaaf
dan tidak suka mencari-cari kesalahan orang lain
f) Hilangkan
sifat pemarah dan emosional
2)
Menyuruh
manusia berbuat makruf
Makruf adalah kebiasaan yang baik
dan tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Dalam Al-Qur’an kata
"makruf" dipergunakan dalam hubungan hukum-hukum yang penting,
seperti dalam hukum pemerintahan, hukum perkawinan. Bagi kaum muslimin yang
pokok ialah berpegang teguh pada nas-nas yang kuat dari Al-Qur’an dan sunah.
Kemudian mengindahkan adat kebiasaan dan norma yang hidup dalam masyarakat selama
tidak bertentangan dengan nas agama secara jelas.
3)
Menjauhkan
diri dari orang-orang yang jahil
Orang
jahil ialah orang yang selalu bersikap kasar dan menimbulkan gangguan-gangguan
terhadap Nabi dan tidak dapat disadarkan. Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya
agar menghindarkan diri dari orang-orang jahil tidak melayani mereka dan tidak
membalas kekerasan mereka dengan kekerasan pula.
2.
Q.S Al-Furqaan (25) ayat 63
$t7Ïãur
Ç`»uH÷q§9$#
úïÏ%©!$#
tbqà±ôJt
n?tã
ÇÚöF{$#
$ZRöqyd
#sÎ)ur
ãNßgt6sÛ%s{
cqè=Îg»yfø9$#
(#qä9$s%
$VJ»n=y
Artinya: “Dan hamba-hamba
Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi
dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka
mengucapkan kata-kata yang baik”.
Ayat
ini menerangkan bagaimana sebaiknya seorang hamba yang bersikap baik, dan
memiliki sifat yang pertama: Apabila mereka berjalan di muka bumi, terlihat sikap
dan sifat kesederhanaan, jauh dari sifat kesombongan, langkahnya tetap dan
teratur tidak dibuat-buat karena hendak menarik perhatian orang dan menunjukkan
siapa dia. Rasulullah saw apabila ia berjalan maka langkahnya panjang-panjang
dan beliau adalah orang yang paling cepat jalannya melangkah dengan tegap dan
tenang.
Pada
ayat tersebut dengan jelas menyebutkan, bahwa ‘ibaadurrahman itu adalah mereka yang berjalan di muka bumi ini
dalam keadaan tawadhu’, dalam keadaan tunduk, dalam keadaan merasa bahwa
dirinya adalah makhluk yang sangat kecil, tak mempunyai kekayaan apapun, tak
memiliki ilmu apapun, walaupun orang lain memandang bahwa dirinya adalah orang
yang berilmu, orang yang kaya ataupun orang yang memegang jabatan tinggi. Tawadhu’ adalah sifat yang selalu
merendah, merupakan sifat yang sangat disukai oleh Allah.Jika orang yang
memiliki sifat ini adalah orang yang sangat disukai oleh Allah, maka orang yang
memiliki sifat takabbur adalah orang yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Di
dalam suatu hadits disebutkan, jika ada seseorang yang didalam dirinya terdapat
sifat sombong walaupun hanya sebesar biji zarrah (biji sawi), maka Allah akan
mengharamkan surga baginya.
Sifat
yang kedua
: Apabila ada orang yang mengucapkan kata-kata yang tidak pantas atau tidak
senonoh terhadap mereka, mereka tidak membalas dengan kata-kata yang tidak
senonoh bahkan dibalas dan dijawab mereka dengan ucapan yang baik yang
mengandung nasihat dan harapan semoga mereka diberi petunjuk oleh Allah Yang
Maha Pemurah dan Maha Pengasih Penyayang. Demikianlah sikap Rasulullah saw bila
ia diserang dan dihina dengan kata-kata yang kasar, beliau tetap berlapang dada
dan tetap menyantuni orang-orang yang tidak berbudi dan berakhlak itu.
Al
Hasan Basri berkata tentang sifat orang-orang mukmin.Mereka senantiasa lapang
hati tidak pernah mengucapkan kata-kata kasar.Bila kepada mereka diucapkan
kata-kata yang kurang sopan mereka tidak terpengaruh dan tidak membalas dengan
kata-kata yang tidak sopan pula. Setiap mukmin harus mencegah berlarut-larut
perselisihan dan permusuhan, salah satu cara yang paling tepat dan ampuh untuk
membasminya ialah membalas tindakan yang tidak baik dengan tindakan yang baik
sehingga orang yang melakukan tindakan yang tidak baik itu akan malu sendiri,
dan sadar bahwa mereka telah terlanjur melakukan sesuatu yang tidak wajar.
Sikap seperti ini dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya dalam Q.S. Fussilat :
34-35 yang berarti “Dan tidaklah sama
kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik,
maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah
telah menjadi teman yang sangat setia. Sidat-sifat yang baik itu tidak
dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan
melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Q.S.
Fussilat: 34-35).
3.
Q.S Al Furqaan (25) ayat 64
z`Ï%©!$#ur cqçGÎ6t óOÎgÎn/tÏ9 #Y¤fß $VJ»uÏ%ur
Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan
berdiri untuk Tuhan mereka. (Q.S. Al Furqaan: 64).
Pada
ayat ini dijelaskan tentang sifat yang ketiga : Apabila malam telah sunyi
sepi, manusia telah dibuaikan oleh tidur nyenyak, mereka mengerjakan shalat tahajjud dan berdiri menghadap
Tuhan Yang maha Esa, mereka tinggalkan kesenangan dan kenyamanan tidur, mereka
resapkan dengan sepenuh jiwa dan raga bagaimana nikmat dan tentramnya di kala
bermunajat dengan Tuhan. Mereka mengerjakan shalat tahajjud seperti yang dilakukan Rasulullah
saw karena dengan shalat di malam hari itu jiwa mereka menjadi suci dan bersih,
iman mereka bertambah-tambah, keyakinan menjadi kuat bahwa tiada Tuhan selain
Dia, rahmat dan kasih saying-Nya Maha Luas meliputi semua makhluk-Nya.
Disanalah mereka memohon dan berdoa dengan penuh khusyuk dan tawadhu agar
diampuni dosa dan kesalahan mereka dan dilimpahkan rahmat dan keridhaan-Nya.Setelah
melakukan shalat malam itu barulah mereka tidur dengan diliputi rasa bahagia
penuh tawakal dan takwa.
Ibnu
Abbas berkata : “Barang siapa yang melakukan shalat dua rakaat atau lebih
sesudah sholat Isya berarti dia telah shalat sepanjang malam.”. Dalam ayat lain
Allah menjelaskan pula sifat-sifat orang mukmin yang mengerjakan shalat malam,
yaitu pada Q.S Sajdah: 16 yang artinya “Lambung
mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan
rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami
berikan kepada mereka.” (Q.S. Sajdah:16)
Dan
firman-Nya dalam surat Az Zumar ayat 9 yang berarti “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang
yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut
kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?, Katakanlah: “Adakah
sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
(Q.S Az Zumar: 9).
4.
Q.S Al Furqaan (25) ayat 65 dan 66
úïÏ%©!$#ur tbqä9qà)t $uZ/u ô$ÎñÀ$# $¨Ytã z>#xtã tL©èygy_ ( cÎ) $ygt/#xtã tb%x. $·B#txî ÇÏÎÈ $yg¯RÎ) ôNuä!$y #vs)tGó¡ãB $YB$s)ãBur ÇÏÏÈ
Artinya: “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan
azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.
Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.”
(Q.S. Al Furqaan: 65-66)
Di
ayat ini dijelaskan mengenai sifat keempat yaitu: Mereka selalu
mengingat hari akhir dan hari berhisab. Mereka yakin bahwa semua amal perbuatan
manusia akan dipertanggungjawabkan di hari itu, yang baik diberi ganjaran
berlipat ganda, dan yang jahat akan dibalasi dengan balasan yang setimpal.
Dikala mereka bermunajat dengan Tuhan di malam hari tergambarlah dalam pikiran
mereka bagaimana dahsyatnya suasana di waktu itu seakan-akan mereka benar-benar
melihat bagaimana ganasnya api neraka yang selalu menanti para hamba Allah yang
durhaka dengan geram dan suara gemuruh untuk menjadi mangsa dan santapannya.
Dikala itu meneteslah air mata mereka dan mereka memohon dengan sungguh-sungguh
kepada Tuhan Agar mereka dibebaskan dari siksa api neraka yang ganas itu.
Orang-orang yang demikian kuat keyakinannya kepada hari akhirat tentulah dia
akan mempergunakan kesempatan hidup di dunia berbuat amal kebaikan
sebanyak-banyaknya dan tidak akan melakukan perbuatan jahat karena yakin
perbuatannya itu akan dibalas dengan siksaan yang pedih.
Betapapun
baiknya suatu peraturan yang dibuat oleh manusia dan betapa ketatnya pengawasan
dalam melaksanakannya, tetapi manusia yang tidak insaf dapat saja meloloskan
diri dari ikatan peraturan dan udang-undang itu. Tetapi manusia yang beriman
andai kata tidak ada peraturan dan undang-undang dia tidak akan melakukan suatu
kejahatanpun, karena dia sadar walaupun dia dapat bebas dari hukuman di dunia,
namun tidak akan dapat melepaskan diri dari azab di akhirat. Kesadaran dan
keinsafan inilah yang tertanam dengan kuat di hati setiap muslim yang mendapat
julukan “hamba Allah Yang Maha Penyayang”.
Seorang
muslim yang baik yang akan mendapatkan derajat yang tinggi di akhirat nanti
adalah mereka yang senantiasa ada di dalam dirinya itu rasa takut terhadap
siksaan Allah SWT. Dan karena rasa takut akan siksaan Allah itulah, maka mereka
akan menjadi orang yang senantiasa patuh terhadap perintah-Nya.
Setelah
ayat-ayat yang lalu menguraikan aktivitas i’bad ar;rahman pada malam dan siang
hari terhadap makhluk dan khaliq, ayat di atas menggambarkan sikap kejiwaan
mereka. Ayat yang menguraikan sifat ketiga hamba-hamba Allah SWTtu bagaikan
menyatakan: kendati akhlak mereka terhadap sesama makhluk emikian terpuji, dan
ibadah mereka kepada allah demikian tulus dan baik, namun mereka tetap
prihatin. Keprihatinan dan rasa takut mereka berdampingan dengan harapan dan
optimisme mereka. Ini ditandai dengan permohonan mereka yang diabadikan disini.
Ayat di atas menyatakan: dan di samping sifat yang disebut sebelum ini,
hamba-hamba Allah SWTtu juga adalah orang-orang yang selalu berkata karena
takutnya kepada Allah SWTtu juga adalah orang-orang yang selalu berkata karena
takutnya kepada allah: tuhan kami, jauhkanlah dari kami siksa neraka jahannam,
karena kami sadar bahwa dosa kami sangat banyak, dan ibadah kami tidak
sempurna. Srsungguhnya siksanya adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya ia
yakni neraka jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat menetap dan tempat
kediaman.
5. Q.S Al Furqaan (25) ayat 67
tûïÏ%©!$#ur !#sÎ) (#qà)xÿRr& öNs9 (#qèùÌó¡ç öNs9ur (#rçäIø)t tb%2ur ú÷üt/ Ï9ºs $YB#uqs%
Artinya: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak
berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di
tengah-tengah antara yang demikian.” (Q.S Al Furqaan: 67)
Setelah
menyebut hubungan hamba-hamba allah itu dengan makhluk dan khalik, kini
dilukiskan sifat mereka menyangkut harta benda. Ayat di atas menyatakan: dan
mereka juga adalah orang-orang yang apabila bernafkah yakni membelanjakan harta
mereka, baik untuk dirinya, maupun keluarga atau orang lain, mereka tidak
berlebih-lebihan, dan tidak pula kikir,
dan adalah ia yakni pembelanjaan pertengahan antara keduanya. Kata yusrifu
terambil dari kata sarf yaitu melampaui batas kewajaran sesuai dengan
kondisi yang bernafkah dan yang diberi nafkah. Walaupun anda kaya raya, anda
tercela jika member anak kecil melebihi kebutuhannya, namun anda tercela jika
member seorang dewasa yang butuh lagi dapat bekerja, sebanyak pemberian anda
kepada sang anak itu. Kata yaqturu adalah lawan dari yusrifu. Ia
adalah member kurang dari apa yang dapat ia berikan sesuai dengan keadaan
pemberi dan penerima. Ayat ini mengisyaratkan bahwa hamba-hamba allah itu
memiliki harta benda sehingga mereka bernafkah, dan bahwa harta itu mencukupi
keadaan mereka sehingga mereka dapat menyisihkan sedikit atau banyak dari harta
tersebut. Ini mengandung juiga isyarat bahwa mereka sukses dalam usaha mereka
meraih kebutuhan hidup, bukannnya orang-orang yang mengandalakan bantuan orang
lain. Ini akan semakin jelas-jika kita sependapat dengan ulama yang menegaskan
bahwa nafkah yang dimaksud disini adalah nafkah sunnah, bukan nafkah wajib.
Dengan alas an bahwa berlebihan dalam nafkah wajib tidaklah terlarang atau
tercela, sebagaimana sebaliknya, yakni walaupun sedikit sekali dari pengeluaran
harta yang bersifat harta adalah tercela.
Kata
qowaman qawaman berarti adil, moderat dan oertengahan. Melalui anjuran
ini, allah swt dan rasul mengantar manusia utnuk dapat memelihara hartanya,
tidak memboroskan sehingga habis, tetapi dalam saat yang sama tidak menahannya
sama sekali sehingga mengorbankan kepentingan pribadi, keluarga, atau siapa
yang butuh. Memelihara sesuatu yang baik-termasuk harta sehingga selalu
tersedia dan berkelanjutan, merupakan perintah agama. Moderasi pertengahan yang
dimaksud dengan ini adalah dalam kondisi normal dan umum. Tetapi bila situasi
menghendaki penafkahan seluruh harta, maka moderasi yang dimaksud tidak berlaku
sayyidina abu bakar ra menafkahkan seluruh hartanya dan sayyidina usman ra
menafkahkan setengah dari miliknya, pada saat mobilisasi umum dalam rangka
persiapan perang. Ini karena berjihad menuntut pengerahan semua kemampuan,
hingga tujuan tercapai. Denagn kata lain, moderasi itu, hendaknya dilihat dari
kondisi masinng-masing orang dan keluarga serta situasi yang dihadapi.
Kelima: Mereka dalam menafkahkan harta
tidak boros dan tidak pula kikir, tetapi tetap memelihara keseimbangan antara
kedua sifat yang buruk itu. Sifat boros pasti akan membawa kemusnahan harta
benda dan kerusakan masyarakat. Seseorang yang boros walaupun kebutuhan pribadi
dan keluarganya telah terpenuhi dengan hidup secara mewah, dia tetap akan
menghambur-hamburkan kekayaannya dengan cara yang lain yang merusak, seperti
main judi, main perempuan dan minum-minuman keras, dan lain sebagainya. Dengan
demikian dia merusak dirinya sendiri, dan merusak masyarakat sekelilingnya
padahal kekayaan yang dititipkan Allah kepadanya harus dipeliharanya
sebaik-baiknya sehingga dapat bermanfaat untuk dirinya dan untuk masyarakatnya.
Sifat kikir dan bakhilpun akan membawa kepada kerugian dan kerusakan, karena
seseorang yang bakhil selalu berusaha menumpuk kekayaan walaupun dia sendiri
hidup sebagai seorang miskin dan dia tidak mau mengeluarkan uangnya untuk
kepentingan masyarakatnya. Sedang untuk kepentingan dirinya dan keluarganya dia
merasa segan mengeluarkan uang apalagi untuk kepentingan orang lain. Dengan
demikian akan tertumpuklah kekayaan itu pada diri orang seorang atau beberapa
gelintir manusia yang serakah dan tamak. Orang yang seperti ini sifatnya
diancam Allah dengan api neraka sebagaimana tersebut dalam firman-Nya dalam
Q.S. Al-Humazah (1-4) yang artinya:
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi
pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa
hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia
benar-benar akan dilemparkan ke dalam Hutamah”
Demikianlah
sifat orang mukmin dalam bernafkah, dia tidak bersifat boros sehingga tidak
memikirkan hari esok dan tidak pula bersifat kikir sehingga menyiksa dirinya
sendiri karena hendak mengumpulkan kekayaan. Keseimbangan antara kedua macam
sifat yang tercela itulah yang selalu dipelihara dan dijaganya. Kalau dia
seorang kaya dia dapat membantu masyarakatnya sesuai dengan kekayaannya, dan
kalau dia miskin dia dapat menguasai dirinya dengan hidup secara sederhana.
Yazid bin Abi Habib berkata: Demikianlah sifat para sahabat Nabi Muhammad saw.
Mereka bukan makan untuk bermewah-mewah menikmati yang enak-enak, mereka
berpakaian bukan untuk bermegah-megah dengan keindahan. Tetapi mereka makan
sekadar untuk menutup rasa lapar dan untuk menguatkan jasmani karena hendak
beribadat melaksanakan perintah Tuhan. Mereka berpakaian sekadar untuk menutup
aurat dan memelihara tubuh mereka terhadap angin dan panas.
6.
Q.S Al Furqaan (25) ayat 68
tûïÏ%©!$#ur w cqããôt yìtB «!$# $·g»s9Î) tyz#uä wur tbqè=çFø)t }§øÿ¨Z9$# ÓÉL©9$# tP§ym ª!$# wÎ) Èd,ysø9$$Î/ wur cqçR÷t 4 `tBur ö@yèøÿt y7Ï9ºs t,ù=t $YB$rOr&
“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta
Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali
dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang
demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya)”
Keenam: Pada
ayat ini Allah menerangkan lagi sifat-sifat hamba Allah Yang Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang yaitu dia tidak menyembah selain Allah, tidak
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dia benar-benar menganut tauhid yang
murni. Bila dia beribadat, maka ibadahnya itu hanya semata-mata karena Allah,
bila dia berbuat kebaikan perbuatannya itu karena Allah bukan karena ria atau
ingin hendak dipuji orang. Bila dia berdoa benar-benar doanya langsung
dipanjatkan ke hadirat Allah tanpa menghubungkannya dengan makam atau kuburan
atau para wali. Karena dia yakin sepenuhnya bahwa yang sanggup mengabulkan
doanya hanya Allah semata. Mereka tidak melakukan pembunuhan terhadap siapapun
karena menyadari bahwa jiwa seseorang menjadi haknya sepenuhnya, dan tidak boleh
dibunuh kecuali dengan hak yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. seperti murtad
atau membunuh orang tanpa hak. Mereka tidak akan melakukan perbuatan zina
karena menyadari bahwa berzina itu termasuk dosa besar, suatu perbuatan yang
sangat terkutuk dan dimurkai Allah. Maka dengan memelihara kemurnian tauhid
yang menjadi dasar bagi akidah, seseorang akan bersih jiwanya, jernih
pikirannya tidak dapat diombang ambingkan oleh kepercayaan-kepercayaan yang
menyesatkan. Dengan menjauhi pembunuhan tanpa hak akan bersihlah dirinya dari
perbuatan zalim dan bersihlah masyarakat dari kekacauan dan hurn hara dan
dipeliharalah hak setiap warga masyarakat dengan baik sehingga masyarakat
benar-benar dapat menikmati keamanan dan ketenteraman. Dan dengan memelihara
dirinya dari perbuatan zina akan bersihlah dirinya dari kekotoran dan bersih
pula masyarakat dari keonaran dan kekacauan nasab yang menimbulkan berbagai
kesulitan dan ketidak stabilan. Sehubungan dengan ini Nabi saw bersabda:
"Berkata Ibnu Mas'ud bahwa aku bertanya kepada Rasulullah saw: Dosa apakah
yang paling besar? Rasulullah menjawab: "Dosa mempersekutukan Allah dengan
selain-Nya". Aku bertanya pula: "Dosa apakah lagi?" Rasulullah
menjawab: "Dosa membunuh anakmu karena takut (miskin) karena dia akan
makan bersamamu". Kemudian aka bertanya lagi: Dosa apakah lagi?"
Rasulullah menjawab?: "Dosa berzina dengan istri tetanggamu. Maka turunlah
ayat ini, memberitahukan sabda
Rasulullah saw itu.
Meskipun dalam hadis ini disebut
"membunuh anak sendiri dan berzina dengan istri tetangga" tetapi yang
dimaksud ialah membunuh siapa saja tanpa hak dan berzina dengan siapa saja
sesuai dengan ayat 63 ini. Kemudian Allah mengancam orang-orang yang melakukan
perbuatan dosa itu dengan ancaman yang amat keras, yaitu neraka di hari kiamat
sebagai balasan atas semua dosa yang telah mereka perbuat di dunia. Bahkan
Allah akan melipat gandakan azab bagi mereka karena dosa besar yang mereka
lalukan itu. Mereka akan dilemparkan ke neraka dan akan tetap di neraka itu
menerima siksaan penghinaan yang sangat menusuk perasaan mereka. Jadi di neraka
itu mereka bukan saja menderita siksaan jasmani dengan dibakar tubuh mereka dan
berbagai macam siksaan lainnya seperti minuman yang sangat panas membakar
kerongkongan dan usus mereka tetapi menderita pula siksaan batin, siksaan
rohani. karena selalu mendapat penghinaan dan selalu menyesal atas kesalahan
mereka se waktu di dunia dahulu. Kemudian Allah SWT juga memberitahukan bahwa zina adalah
seburuk buruk jalan, karena merupakan jalan kebinasaan, kehancuran dan kehinaan
di dunia, siksaan dan azab di akhirat.
7.
Q.S Al Furqaan (25) ayat 72-77
Ø
Q.S Al Furqaan (25) ayat 72
úïÏ%©!$#ur w crßygô±o ur9$# #sÎ)ur (#rsD Èqøó¯=9$$Î/ (#rsD $YB#tÅ2
“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu,
dan apabila mereka berteny dengan (orang-orang) yang mengerjakan
perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga
kehormatan dirinya.” (Q.S. Al Furqaan : 72).
Pada
ayat ini Allah menerangkan lagi diantara sifat hamba Allah yang Maha Pengasih,
yaitu sifat ketujuh yaitu orang-orang yang tidak mau dan tidak pernah
melakukan sumpah palsu dan apabila mereka lewat di hadapan orang-orang yang
suka beromongkosong dan mengucapkan kata-kata yang tidak karuan dan tidak ada
faedahnya sama sekali, mereka berlalu saja tanpa ikut bergabung dengan mereka,
karena mereka menyadari bahwa dia seorang mukmin tidak layak melayani
orang-orang yang menyia-nyiakan waktunya yang sangat berharga dengan omong
kosong itu.
Bersumpah
palsu sangat dilarang dalam agama Islam, karena di dalam bersumpah itu
seseorang telah berbuat dusti tidak menyatakan hakikat yang sebenarnya.Sebagai
seorang mukmin dia harus berdiri di pihak yang benar dan harus merasa
bertanggung jawab untuk menegakkan keadilan dan meberantas kelaliman. Allah
juga berfirman pada surat Al Qasas ayat 55 yang artinya: “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka
berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu
amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan
orang-orang jahil”. (Q.S Al Qasas: 55)
Ø
Q.S Al Furqaan ayat 73
úïÏ%©!$#ur #sÎ) (#rãÅe2è ÏM»t$t«Î/ óOÎgÎn/u óOs9 (#rÏs $ygøn=tæ $tJß¹ $ZR$uôJããur
”Dan orang-orang yang apabila
diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya
sebagai orang-orang yang tuli dan buta.” (Q.S. Al Furqaan: 73).
Pada
ayat ini Allah menerangkan lagi sifat hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih yang
kedelapan
yaitu mereka dapat menanggapi peringatan yang diberikan Allah bila mereka
mendengar peringatan itu. Hati mereka selalu terbuka untuk menerima nasihat dan
pelajaran, pikiran merekapun selalu merenungkan ayat-ayat Allah untuk dipahami
dan diamalkan, sehingga bertambahlah keimanan dan keyakinan mereka bahwa
ajaran-ajaran yang diberikan Allah kepada mereka benar-benar ajaran yang tinggi
nilai dan mutunya, ajaran yang benar yang tidak dapat dibantah lagi. Dengan
demikian apabila mereka sangat fanatik kepada ajaran itu, tidaklah mengherankan
karena mereka sangat meyakini kebaikan ajaran itu.Amatlah jauh perbedaan antara
mereka dengan kaum musyrikin yang fanatic pula kepada sembahan-sembahan
mereka.Tetapi fanatik mereka itu adalah fanatik mereka itu adalah fanatik buta
karena mereka tidak mau menerima kebenaran walaupun telah jelas dan nyata
sekali bahwa akidah yang mereka anut itu adalah salah, bertentangan dengan akal
yang sehat. Bagaimanapun kuat dan jelasnya alasan-alasan yang dikemukakan
kepada mereka tentang ketidak benaran paham yang mereka anut mereka tidak akan
mau menerimanya karena hati mereka telah tertutup dan mata mereka telah buta
untuk memikirkan mana yang benar dan mana yang salah.
Jadi,
orang yang termasuk katergori orang beriman yang mendapat gelar ‘ibaadurrahman itu adalah orang yang
senantiasa menerima nasehat-nasehat yang baik yang diberikan oleh orang lain,
orang yang senantiasa mendapatkan pengajaran dan pelajaran dari orang-orang
yang memberikan pelajaran yang baik.Termasuk di dalam hal ini adalah orang yang
senang mencari ilmu adalah orang yang senang menerima nasehat.
Ø
Q.S Al Furqaan ayat 74
tûïÏ%©!$#ur cqä9qà)t $oY/u ó=yd $oYs9 ô`ÏB $uZÅ_ºurør& $oYÏG»Íhèur no§è% &úãüôãr& $oYù=yèô_$#ur úüÉ)FßJù=Ï9 $·B$tBÎ)
“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami,
anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai
penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
(Q.S Al Furqaan: 74).
Sifat kesembilan yang
disebutkan dalam ayat ini yaitu : Diantara sifat-sifat mereka ialah mereka
selalu bermunajat dan memohon kepada Tuhan agar Dia menganugerahkan kepada
mereka keturunan yang baik-baik sehingga istri dan anak-anaknya itu benar-benar
menyenangkan hati dan menyejukkan perasaan mereka karena keluarga mereka
sendiri terdiri dari orang-orang yang saleh dan bertakwa kepada Tuhan. Dengan
demikian akan bertambah banyaklah di muka bumi ini hamba-hamba Allah Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang: Disamping itu mereka bermunajat kepada Tuhan agar
keturunannya (anak cucunya) disamping menjadi orang yang bertakwa seluruhnya
mereka hendaknya menjadi penyeru manusia kepada takwa menjadi pemimpin bagi
orang-orang yang bertakwa. Ini adalah cahaya iman yang telah memenuhi hati
mereka dan meneranginya dengan petunjuk dan hidayah sehingga mereka ingin
sekali supaya orang-orang yang bertakwa mendapat petunjuk kian lama bertambah
juga.
Keinginan
mereka agar anak cucu dan keturunan mereka menjadi pemimpin bagi orang-orang
yang bertakwa bukanlah sekali-kali karena ingin kedudukan yang tinggi atau
kekuasaan yang mutlak, tetapi mereka semata-mata karena keinginan yang tulus
ikhlas agar penduduk dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang beriman dan
bertakwa dan agar anak cucu mereka melanjutkan perjuangannya menegakkan keadilan
dan kebenaran, karena dengan demikian mereka sendiri walaupun telah mati tetapi
mereka tetap menerima pahala perjuangan anak cucu mereka sesuai dengan sabda
Rasulullah saw yang artinya: “Apabila seorang anak Adam telah mati, maka
putuslah segala pahala amalnya kecuali dari tiga macam: sedekah yang dapat
dimanfaatkan orang, ilmu pengetahuan yang tinggalkannya yang dapat diambil
manfaatnya sesudah matinya, anak yang saleh yang selalu mendoakannya”. (H.R
Muslim dari Abu Hurairah).Demikianlah Sembilan sifat yang dipunyai oleh
hamba-hamba Allah Yang Maha penyayang. Bila sifat-sifat itu telah dimiliki oleh
seseorang maka berhaklah mereka mendapat julukan demikian itu, dan orang-orang
yang mendapat julukan pasti akan disayang Allah dan di akhirat nanti akan
mendapat karunia dan rahmat yang sangat mulia dan besar.
Ø
Q.S Al Furqaan ayat 75-76
Í´¯»s9'ré& c÷rtøgä spsùöäóø9$# $yJÎ/ (#rçy9|¹ cöq¤)n=ãur $ygÏù Zp¨ÏtrB $¸J»n=yur ÇÐÎÈ úïÏ$Î#»yz $ygÏù 4 ôMoYÝ¡ym #vs)tGó¡ãB $YB$s)ãBur ÇÐÏÈ
“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang
tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan
penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.Mereka kekal di dalamnya.Syurga itu
sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.” (Q.S Al Furqaan: 75-76).
Pada
ayat ini Allah menerangkan ganjaran dan karunia yang akan diberikan-Nya kepada
“hamba-hamba Allah Yang Maha Pengayang itu”, hamba-hamba Allah yang mempunyai
sifat-sifat yang sempurna dan akhlak budi pekerti yang mulia berkat kesabaran
dan keuletan mereka dalam mematuhi segala perintah Allah, berkat kesabaran dan
keuletan mereka melawan hawa nafsu dan menjauhi segala larangan-Nya. Mereka
ditempatkan di tempat yang paling mulia dan tinggi dalam surga. Mereka disambut
oleh para para malaikat dengan salam sebagai penghormatan kepada mereka. Hal
ini tergambar dalam firman Allah dalam surat Ar Ra’d ayat 23-24 yang artinya: “Sedang malaikat-malaikat masuk ke
tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamaun’alaikum
bima sabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu? (Q.S. Ar Ra’d:
23-24).Kemudian Allah menerangkan bahwa karunia dan nikmat yang mereka
terima itu adalah karunia dan nikmat yang kekal abadi yang tiada
putus-putusnya.Tidak diragukan lagi bahwa tempat itu adalah sebaik-baik tempat
menetap dan sebaik-baik tempat kediaman.
Ø
Q.S Al Furqaan ayat 77
ö@è% $tB (#àst7÷èt ö/ä3Î/ În1u wöqs9 öNà2ät!$tãß ( ôs)sù óOçFö/¤x. t$öq|¡sù ãbqà6t $JB#tÏ9
“Katakanlah (kepada orang-prang musyik): ‘Tuhanku tidak
mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu
beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya?Karena itu
kelak (azab) pasti (menimpamu).”(Q.S. Al Furqaan: 77).
Pada ayat ini Allah memerintahkan
kepada Nabi Muhammad saw agar mengatakan kepada orang-orang kafir yang tidak
mau beriman dan selalu bersifat sombong dan takabur terhadap kaum Muslimin
bahwa mereka karena kekafiran, kesombongan dan keangkuhan mereka, Allah tidak
akan memperdulikan mereka sedikitpun karena mereka telah mempersekutukan-Nya
dan mendustakan Rasul-Nya. Maka mereka sekali-kali tidak akan mendapat karunia
yang diberikan kepada orang-orang yang beriman bahkan mereka akan mendapat
balasan yang setimpal yaitu neraka jahanam. Mereka akan dilemparkan ke dalamnya
dan mendapat siksaan yang tidak dapat digambarkan bagaimana hebat dan pedihnya
dan akan kekal abadi pula dalam neraka itu.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
1.
Dalam Q.S Al-A’raf ayat 199
secara umum menghimbau umat islam untuk salin memaafkan dan saling
menginngatkan dalam berbuat amar ma’ruf dan nahi munkar.
2.
Dalam Q.S Al-A’raf ayat 157
secara umum menjelaskan bahwa Rasulullah adalah rasul yang ummi, dan bukti kerasullannya
telah tertera di dalam kitab sebelumnya (Taurat dan Injil), dan sekali lagi
menghimbau umat islam agar senantiasa beramar ma’ruf dan nahi munkar, serta
mengikuti syariat Islam agar menghalalkan yang baik, dan mengharamkan yang
buruk.
3. Pada Surah Al-Furqan ayat 63-77 menggambarkan, bahwa ada
sifat-sifat yang dimiliki oleh
orang-orang yang beriman. Menurut Allah, orang-orang beriman yang memiliki
sifat-sifat tersebut memperoleh gelar ibadurrahman, yaitu hamba-hamba
Allah yang akan mendapatkan rahmat yang paling besar di sisi Allah SWT.
Rahmat-rahmat Allah yang paling besar tersebut yaitu kedudukan atau
derajat-derajat yang paling tinggi yang diperoleh oleh mereka di surga kelak.
4. Sifat-sifat yang dikemukakan di sini adalah sifat-sifat
yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman setelah menunaikan berbagai
kewajiban yang diwajibkan kepada mereka. Seperti yang termaktub pada Surah
al-Furqaan ayat 63-77, sifat-sifat yang dimaksud tersebut adalah (tawadhu’, selalu
mengucapkan ucapan-ucapan yang baik (al-kalamuth thayyib), tahajjud,
merasa takut akan siksa Allah SWT, sederhana (moderat) di dalam berinfaq,
menjauhkan diri dari sifat syirik, menjauhkan diri dari melakukan perbuatan
membunuh yang diharamkan oleh Allah SWT, menjauhkan diri dari perbuatan berzina,
menjauhkan diri dari bersaksi palsu, senang menerima nasehat yang baik,
senantiasa berdo’a dan bermunajjat kepada Allah).
B.
Saran
Hendaknya dalam perihal
perilaku seorang muslim dengan muslim lainnya saling memaafkan, amar ma’ruf
nahi munkar, dan senantiasa memelihara perilaku yang luhur seperti yan tertera
pada ayat Al-Qur’an pada makalah mengenai
pendidikan sosial ini.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Mirgani, Al-Imam Muhammad
‘Usman Abdullah.2009. Tajut Tafasir MAHKOTA TAFSIR JILID 1. Bandung:
Sinar Baru Algensindo.
Shihab,
Quraish.2002.Tafsir Al Mishbah volume 9.
Jakarta: Lentera Hati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar