Sabtu, 09 Mei 2020

MAKALAH TAFSIR AL-QUR'AN - PENDIDIKAN SOSIAL - (Tafsir Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat: 199, Al-Qur’an surat Al-Furqan ayat: 63-68 dan 72-77)


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillahirabbil’alamin banyak nikmat yang telah Allah berikan tapi sedikit sekali yang dapat kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik serta hidayahNya   yang tiada terkira besarnya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah dengan pembahasan “Tafsir Pendidikan Sosial dalam Q.S Al-A’raf:199 dan Al-Furqan: 63-68, 72-77”.
Dalam penyusunannya, tentu saya memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Kamaluddin selaku dosen pembimbing. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini dapat menuntun pada langkah yang lebih baik lagi. Meskipun saya berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar bisa menjadi lebih baik lagi. Akhir kata saya berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.















BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Al-Qur’an sebagai sumber utama pengembangan konsep pendidikan Islam dapat dibuktikan dengan nyata dan akurat. Berbagai aspek yang dibicarakan dalam Al-Qur’an seperti  masalah aqidah (ke-Tuhanan), rasul, manusia ,alam, akhirat, dan akal, nafsu, ilmu pengetahuan, kerukunan hidup beragama dan masih banyak lagi dalam bidang-bidang yang kajian materi kehidupan yang luas namun tertuju pada pendidikan.
Namun tidak kalah pentingnya nilai pendidikan terdapat dalam pendidikan sosial, bersosial pun seseorang harus dapat memahami dan menempatkan sesuatunya dengan baik, dan tidak berlaku sombong serta angkuh dan tidak menghargai sesamanya.
Dalam pendidikan sosial banyak yang harus dipahami dan dimengerti untuk kelangsungan hidup yang baik menuju kerukunan dan keridhan Allah SWT sebagaimana dalam firman-Nya:

يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلۡخَيۡرَٲتِ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ
Artinya:“ mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar dan bersegeralah kepada (mengerjakan) berbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.

Maksud ayat diatas adalah ditujukan untuk orang yang bukan Islam, namun dapat diambil pelajaran/pendidikan bagi seorang muslim. Dalam hidup ini bukan hanya orang Islam yang wajib melakukan kebaikan namun para ahli kitab yang berpegang teguh pada kebenaran, menegakkan keadilan, bersujud dimalam hari, mereka juga beriman kepada Allah. Memerintahkan yang baik dan menjauhi yang buruk.

B.     Rumusan Masalah
1.      Pendidikan sosial dalam Al Qur’an surat Al – A’raf ayat 199;
2.      Pendidikan sosial dalam Al Qur’an surat Al – Furqan ayat 63 – 68 dan 72 – 77

C.    Fokus Pembahasan
Dalam pembahasan penulisan makalah ini, kami selaku penulis memfokuskan pembahasan ini terutama dalam ruang lingkup diri sendiri, untuk dapat memahami dan dapat mengembangkan pendidikan sosial yang baik dan benar dalam panduan tafsir Al-Qur’an. Kemudian penulis memfokuskan untuk pembaca baik mahasiswa ataupun pembaca yang lain untuk dapat mengerti bahwasaanya dalam Al-Qur’an menjelaskan pendidikan sosial merupakan kajian pendidikan yang harus diketahui oleh  kita semua.

D.    Tujuan Pembahasan
Adapun dalam penulisan makalah ini, penulis  bertujuan untuk memberikan referensi dan masukan, serta pengetahuan yang akan bermanfaat nantinya bagi penulis dalam melaksananakan kewajiban sebagai seorang pendidik maupun untuk menjelaskan bahwa pentingnya pendidikan, baik dalam taraf sosial ataupun personal.



BAB II
PEMBAHASAN
Ayat-ayat Al-qur’an yang Berkaitan dengan Pendidikan Sosial

1.      Q.S Al A’raf (7) ayat 199
Éè{ uqøÿyèø9$# óßDù&ur Å$óãèø9$$Î/ óÚ̍ôãr&ur Ç`tã šúüÎ=Îg»pgø:$#
Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”.

Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan Rasul-Nya agar berpegang teguh pada prinsip umum tentang moral dan hukum, beberapa diantaranya yaitu:
1)      Sikap Pemaaf
Allah SWT menyuruh Rasul-Nya agar beliau memaafkan perbuatan, tingkah laku dan akhlak manusia dan janganlah beliau meminta dari manusia apa yang sangat sukar bagi mereka sehingga lari dari agama. Sabda Rasulullah saw yang artinya “Mudahkanlah, jangan kamu persulit.” (H.R Bukhari dan Muslim dari Abu Musa dan Muaz). Termasuk prinsip agama, mudahkanlah, menjauhkan kesukaran dan segala halnya dalam bidang budi pekerti manusia yang banyak dipengaruhi lingkungannya. Bahkan banyak riwayat menyatakan bahwa yang dikehendaki pemaafan di sini ialah pemaafan dalam bidang akhlak atau budi pekerti.
Berkata Rasulullah sehubungan dengan ayat ini dalam hal yang artinya
"Apakah ini ya Jibril?" Jawab Jibril: "Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kamu agar memaafkan orang yang berbuat aniaya terhadapmu, memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepadamu dan menghubungkan silaturahim kepada orang yang memutuskannya." (HR Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim, dari Ibnu Umaimah dari bapaknya)
Bagian terpenting dalam bersahabat itu adalah: "terciptanya saling pengertian dan hubungan timbal balik yang harmonis." Untuk itu Islam telah mengatur tata cara atau etika hubungan timbal balik dalam pergaulan tersebut dengan beberapa prinsip, diantaranya:
a)      Mengucapkan salam kala menemui saudara sesama muslim
b)      Bertutur kata dengan penuh arti dan bijaksana
c)      Berkasih sayang dan saling menyantuni
d)      Utamakan memberi dan menyenangkan orang lain
e)      Pemaaf dan tidak suka mencari-cari kesalahan orang lain
f)       Hilangkan sifat pemarah dan emosional

2)      Menyuruh manusia berbuat makruf
            Makruf adalah kebiasaan yang baik dan tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Dalam Al-Qur’an kata "makruf" dipergunakan dalam hubungan hukum-hukum yang penting, seperti dalam hukum pemerintahan, hukum perkawinan. Bagi kaum muslimin yang pokok ialah berpegang teguh pada nas-nas yang kuat dari Al-Qur’an dan sunah. Kemudian mengindahkan adat kebiasaan dan norma yang hidup dalam masyarakat selama tidak bertentangan dengan nas agama secara jelas.

3)      Menjauhkan diri dari orang-orang yang jahil
            Orang jahil ialah orang yang selalu bersikap kasar dan menimbulkan gangguan-gangguan terhadap Nabi dan tidak dapat disadarkan. Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menghindarkan diri dari orang-orang jahil tidak melayani mereka dan tidak membalas kekerasan mereka dengan kekerasan pula.

2.      Q.S Al-Furqaan (25) ayat 63
Š$t7Ïãur Ç`»uH÷q§9$# šúïÏ%©!$# tbqà±ôJtƒ n?tã ÇÚöF{$# $ZRöqyd #sŒÎ)ur ãNßgt6sÛ%s{ šcqè=Îg»yfø9$# (#qä9$s% $VJ»n=y    
Artinya: Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik”.
Ayat ini menerangkan bagaimana sebaiknya seorang hamba yang bersikap baik, dan memiliki sifat yang pertama: Apabila mereka berjalan di muka bumi, terlihat sikap dan sifat kesederhanaan, jauh dari sifat kesombongan, langkahnya tetap dan teratur tidak dibuat-buat karena hendak menarik perhatian orang dan menunjukkan siapa dia. Rasulullah saw apabila ia berjalan maka langkahnya panjang-panjang dan beliau adalah orang yang paling cepat jalannya melangkah dengan tegap dan tenang.
Pada ayat tersebut dengan jelas menyebutkan, bahwa ‘ibaadurrahman itu adalah mereka yang berjalan di muka bumi ini dalam keadaan tawadhu’, dalam keadaan tunduk, dalam keadaan merasa bahwa dirinya adalah makhluk yang sangat kecil, tak mempunyai kekayaan apapun, tak memiliki ilmu apapun, walaupun orang lain memandang bahwa dirinya adalah orang yang berilmu, orang yang kaya ataupun orang yang memegang jabatan tinggi. Tawadhu’ adalah sifat yang selalu merendah, merupakan sifat yang sangat disukai oleh Allah.Jika orang yang memiliki sifat ini adalah orang yang sangat disukai oleh Allah, maka orang yang memiliki sifat takabbur adalah orang yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Di dalam suatu hadits disebutkan, jika ada seseorang yang didalam dirinya terdapat sifat sombong walaupun hanya sebesar biji zarrah (biji sawi), maka Allah akan mengharamkan surga baginya.
Sifat yang kedua : Apabila ada orang yang mengucapkan kata-kata yang tidak pantas atau tidak senonoh terhadap mereka, mereka tidak membalas dengan kata-kata yang tidak senonoh bahkan dibalas dan dijawab mereka dengan ucapan yang baik yang mengandung nasihat dan harapan semoga mereka diberi petunjuk oleh Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih Penyayang. Demikianlah sikap Rasulullah saw bila ia diserang dan dihina dengan kata-kata yang kasar, beliau tetap berlapang dada dan tetap menyantuni orang-orang yang tidak berbudi dan berakhlak itu.
Al Hasan Basri berkata tentang sifat orang-orang mukmin.Mereka senantiasa lapang hati tidak pernah mengucapkan kata-kata kasar.Bila kepada mereka diucapkan kata-kata yang kurang sopan mereka tidak terpengaruh dan tidak membalas dengan kata-kata yang tidak sopan pula. Setiap mukmin harus mencegah berlarut-larut perselisihan dan permusuhan, salah satu cara yang paling tepat dan ampuh untuk membasminya ialah membalas tindakan yang tidak baik dengan tindakan yang baik sehingga orang yang melakukan tindakan yang tidak baik itu akan malu sendiri, dan sadar bahwa mereka telah terlanjur melakukan sesuatu yang tidak wajar. Sikap seperti ini dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya dalam Q.S. Fussilat : 34-35 yang berarti “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sidat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Q.S. Fussilat: 34-35).


3.      Q.S Al Furqaan (25) ayat 64
z`ƒÏ%©!$#ur šcqçGÎ6tƒ óOÎgÎn/tÏ9 #Y¤fß $VJ»uŠÏ%ur 
Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. (Q.S. Al Furqaan: 64).

Pada ayat ini dijelaskan tentang sifat yang ketiga : Apabila malam telah sunyi sepi, manusia telah dibuaikan oleh tidur nyenyak, mereka mengerjakan shalat tahajjud dan berdiri menghadap Tuhan Yang maha Esa, mereka tinggalkan kesenangan dan kenyamanan tidur, mereka resapkan dengan sepenuh jiwa dan raga bagaimana nikmat dan tentramnya di kala bermunajat dengan Tuhan. Mereka mengerjakan shalat  tahajjud seperti yang dilakukan Rasulullah saw karena dengan shalat di malam hari itu jiwa mereka menjadi suci dan bersih, iman mereka bertambah-tambah, keyakinan menjadi kuat bahwa tiada Tuhan selain Dia, rahmat dan kasih saying-Nya Maha Luas meliputi semua makhluk-Nya. Disanalah mereka memohon dan berdoa dengan penuh khusyuk dan tawadhu agar diampuni dosa dan kesalahan mereka dan dilimpahkan rahmat dan keridhaan-Nya.Setelah melakukan shalat malam itu barulah mereka tidur dengan diliputi rasa bahagia penuh tawakal dan takwa.
Ibnu Abbas berkata : “Barang siapa yang melakukan shalat dua rakaat atau lebih sesudah sholat Isya berarti dia telah shalat sepanjang malam.”. Dalam ayat lain Allah menjelaskan pula sifat-sifat orang mukmin yang mengerjakan shalat malam, yaitu pada Q.S Sajdah: 16 yang artinya “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (Q.S. Sajdah:16)
Dan firman-Nya dalam surat Az Zumar ayat 9 yang berarti “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?, Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Q.S Az Zumar: 9).

4.      Q.S Al Furqaan (25) ayat 65 dan 66
šúïÏ%©!$#ur tbqä9qà)tƒ $uZ­/u ô$ÎŽñÀ$# $¨Ytã z>#xtã tL©èygy_ ( žcÎ) $ygt/#xtã tb%x. $·B#txî ÇÏÎÈ   $yg¯RÎ) ôNuä!$y #vs)tGó¡ãB $YB$s)ãBur ÇÏÏÈ 
Artinya: “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” (Q.S. Al Furqaan: 65-66)

Di ayat ini dijelaskan mengenai sifat keempat yaitu: Mereka selalu mengingat hari akhir dan hari berhisab. Mereka yakin bahwa semua amal perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkan di hari itu, yang baik diberi ganjaran berlipat ganda, dan yang jahat akan dibalasi dengan balasan yang setimpal. Dikala mereka bermunajat dengan Tuhan di malam hari tergambarlah dalam pikiran mereka bagaimana dahsyatnya suasana di waktu itu seakan-akan mereka benar-benar melihat bagaimana ganasnya api neraka yang selalu menanti para hamba Allah yang durhaka dengan geram dan suara gemuruh untuk menjadi mangsa dan santapannya. Dikala itu meneteslah air mata mereka dan mereka memohon dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan Agar mereka dibebaskan dari siksa api neraka yang ganas itu. Orang-orang yang demikian kuat keyakinannya kepada hari akhirat tentulah dia akan mempergunakan kesempatan hidup di dunia berbuat amal kebaikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan melakukan perbuatan jahat karena yakin perbuatannya itu akan dibalas dengan siksaan yang pedih.
Betapapun baiknya suatu peraturan yang dibuat oleh manusia dan betapa ketatnya pengawasan dalam melaksanakannya, tetapi manusia yang tidak insaf dapat saja meloloskan diri dari ikatan peraturan dan udang-undang itu. Tetapi manusia yang beriman andai kata tidak ada peraturan dan undang-undang dia tidak akan melakukan suatu kejahatanpun, karena dia sadar walaupun dia dapat bebas dari hukuman di dunia, namun tidak akan dapat melepaskan diri dari azab di akhirat. Kesadaran dan keinsafan inilah yang tertanam dengan kuat di hati setiap muslim yang mendapat julukan “hamba Allah Yang Maha Penyayang”.
Seorang muslim yang baik yang akan mendapatkan derajat yang tinggi di akhirat nanti adalah mereka yang senantiasa ada di dalam dirinya itu rasa takut terhadap siksaan Allah SWT. Dan karena rasa takut akan siksaan Allah itulah, maka mereka akan menjadi orang yang senantiasa patuh terhadap perintah-Nya.
Setelah ayat-ayat yang lalu menguraikan aktivitas i’bad ar;rahman pada malam dan siang hari terhadap makhluk dan khaliq, ayat di atas menggambarkan sikap kejiwaan mereka. Ayat yang menguraikan sifat ketiga hamba-hamba Allah SWTtu bagaikan menyatakan: kendati akhlak mereka terhadap sesama makhluk emikian terpuji, dan ibadah mereka kepada allah demikian tulus dan baik, namun mereka tetap prihatin. Keprihatinan dan rasa takut mereka berdampingan dengan harapan dan optimisme mereka. Ini ditandai dengan permohonan mereka yang diabadikan disini. Ayat di atas menyatakan: dan di samping sifat yang disebut sebelum ini, hamba-hamba Allah SWTtu juga adalah orang-orang yang selalu berkata karena takutnya kepada Allah SWTtu juga adalah orang-orang yang selalu berkata karena takutnya kepada allah: tuhan kami, jauhkanlah dari kami siksa neraka jahannam, karena kami sadar bahwa dosa kami sangat banyak, dan ibadah kami tidak sempurna. Srsungguhnya siksanya adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya ia yakni neraka jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.


5.      Q.S Al Furqaan (25) ayat 67
tûïÏ%©!$#ur !#sŒÎ) (#qà)xÿRr& öNs9 (#qèù̍ó¡ç öNs9ur (#rçŽäIø)tƒ tb%Ÿ2ur šú÷üt/ šÏ9ºsŒ $YB#uqs%  
Artinya: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Q.S Al Furqaan: 67)

Setelah menyebut hubungan hamba-hamba allah itu dengan makhluk dan khalik, kini dilukiskan sifat mereka menyangkut harta benda. Ayat di atas menyatakan: dan mereka juga adalah orang-orang yang apabila bernafkah yakni membelanjakan harta mereka, baik untuk dirinya, maupun keluarga atau orang lain, mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak pula kikir,  dan adalah ia yakni pembelanjaan pertengahan antara keduanya. Kata yusrifu terambil dari kata sarf yaitu melampaui batas kewajaran sesuai dengan kondisi yang bernafkah dan yang diberi nafkah. Walaupun anda kaya raya, anda tercela jika member anak kecil melebihi kebutuhannya, namun anda tercela jika member seorang dewasa yang butuh lagi dapat bekerja, sebanyak pemberian anda kepada sang anak itu. Kata yaqturu adalah lawan dari yusrifu. Ia adalah member kurang dari apa yang dapat ia berikan sesuai dengan keadaan pemberi dan penerima. Ayat ini mengisyaratkan bahwa hamba-hamba allah itu memiliki harta benda sehingga mereka bernafkah, dan bahwa harta itu mencukupi keadaan mereka sehingga mereka dapat menyisihkan sedikit atau banyak dari harta tersebut. Ini mengandung juiga isyarat bahwa mereka sukses dalam usaha mereka meraih kebutuhan hidup, bukannnya orang-orang yang mengandalakan bantuan orang lain. Ini akan semakin jelas-jika kita sependapat dengan ulama yang menegaskan bahwa nafkah yang dimaksud disini adalah nafkah sunnah, bukan nafkah wajib. Dengan alas an bahwa berlebihan dalam nafkah wajib tidaklah terlarang atau tercela, sebagaimana sebaliknya, yakni walaupun sedikit sekali dari pengeluaran harta yang bersifat harta adalah tercela.
Kata qowaman qawaman berarti adil, moderat dan oertengahan. Melalui anjuran ini, allah swt dan rasul mengantar manusia utnuk dapat memelihara hartanya, tidak memboroskan sehingga habis, tetapi dalam saat yang sama tidak menahannya sama sekali sehingga mengorbankan kepentingan pribadi, keluarga, atau siapa yang butuh. Memelihara sesuatu yang baik-termasuk harta sehingga selalu tersedia dan berkelanjutan, merupakan perintah agama. Moderasi pertengahan yang dimaksud dengan ini adalah dalam kondisi normal dan umum. Tetapi bila situasi menghendaki penafkahan seluruh harta, maka moderasi yang dimaksud tidak berlaku sayyidina abu bakar ra menafkahkan seluruh hartanya dan sayyidina usman ra menafkahkan setengah dari miliknya, pada saat mobilisasi umum dalam rangka persiapan perang. Ini karena berjihad menuntut pengerahan semua kemampuan, hingga tujuan tercapai. Denagn kata lain, moderasi itu, hendaknya dilihat dari kondisi masinng-masing orang dan keluarga serta situasi yang dihadapi.
Kelima: Mereka dalam menafkahkan harta tidak boros dan tidak pula kikir, tetapi tetap memelihara keseimbangan antara kedua sifat yang buruk itu. Sifat boros pasti akan membawa kemusnahan harta benda dan kerusakan masyarakat. Seseorang yang boros walaupun kebutuhan pribadi dan keluarganya telah terpenuhi dengan hidup secara mewah, dia tetap akan menghambur-hamburkan kekayaannya dengan cara yang lain yang merusak, seperti main judi, main perempuan dan minum-minuman keras, dan lain sebagainya. Dengan demikian dia merusak dirinya sendiri, dan merusak masyarakat sekelilingnya padahal kekayaan yang dititipkan Allah kepadanya harus dipeliharanya sebaik-baiknya sehingga dapat bermanfaat untuk dirinya dan untuk masyarakatnya. Sifat kikir dan bakhilpun akan membawa kepada kerugian dan kerusakan, karena seseorang yang bakhil selalu berusaha menumpuk kekayaan walaupun dia sendiri hidup sebagai seorang miskin dan dia tidak mau mengeluarkan uangnya untuk kepentingan masyarakatnya. Sedang untuk kepentingan dirinya dan keluarganya dia merasa segan mengeluarkan uang apalagi untuk kepentingan orang lain. Dengan demikian akan tertumpuklah kekayaan itu pada diri orang seorang atau beberapa gelintir manusia yang serakah dan tamak. Orang yang seperti ini sifatnya diancam Allah dengan api neraka sebagaimana tersebut dalam firman-Nya dalam Q.S. Al-Humazah (1-4) yang artinya:

 “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Hutamah”

Demikianlah sifat orang mukmin dalam bernafkah, dia tidak bersifat boros sehingga tidak memikirkan hari esok dan tidak pula bersifat kikir sehingga menyiksa dirinya sendiri karena hendak mengumpulkan kekayaan. Keseimbangan antara kedua macam sifat yang tercela itulah yang selalu dipelihara dan dijaganya. Kalau dia seorang kaya dia dapat membantu masyarakatnya sesuai dengan kekayaannya, dan kalau dia miskin dia dapat menguasai dirinya dengan hidup secara sederhana. Yazid bin Abi Habib berkata: Demikianlah sifat para sahabat Nabi Muhammad saw. Mereka bukan makan untuk bermewah-mewah menikmati yang enak-enak, mereka berpakaian bukan untuk bermegah-megah dengan keindahan. Tetapi mereka makan sekadar untuk menutup rasa lapar dan untuk menguatkan jasmani karena hendak beribadat melaksanakan perintah Tuhan. Mereka berpakaian sekadar untuk menutup aurat dan memelihara tubuh mereka terhadap angin dan panas.

6.      Q.S Al Furqaan (25) ayat 68
tûïÏ%©!$#ur Ÿw šcqããôtƒ yìtB «!$# $·g»s9Î) tyz#uä Ÿwur tbqè=çFø)tƒ }§øÿ¨Z9$# ÓÉL©9$# tP§ym ª!$# žwÎ) Èd,ysø9$$Î/ Ÿwur šcqçR÷tƒ 4 `tBur ö@yèøÿtƒ y7Ï9ºsŒ t,ù=tƒ $YB$rOr&
“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya)”

              Keenam: Pada ayat ini Allah menerangkan lagi sifat-sifat hamba Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yaitu dia tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dia benar-benar menganut tauhid yang murni. Bila dia beribadat, maka ibadahnya itu hanya semata-mata karena Allah, bila dia berbuat kebaikan perbuatannya itu karena Allah bukan karena ria atau ingin hendak dipuji orang. Bila dia berdoa benar-benar doanya langsung dipanjatkan ke hadirat Allah tanpa menghubungkannya dengan makam atau kuburan atau para wali. Karena dia yakin sepenuhnya bahwa yang sanggup mengabulkan doanya hanya Allah semata. Mereka tidak melakukan pembunuhan terhadap siapapun karena menyadari bahwa jiwa seseorang menjadi haknya sepenuhnya, dan tidak boleh dibunuh kecuali dengan hak yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. seperti murtad atau membunuh orang tanpa hak. Mereka tidak akan melakukan perbuatan zina karena menyadari bahwa berzina itu termasuk dosa besar, suatu perbuatan yang sangat terkutuk dan dimurkai Allah. Maka dengan memelihara kemurnian tauhid yang menjadi dasar bagi akidah, seseorang akan bersih jiwanya, jernih pikirannya tidak dapat diombang ambingkan oleh kepercayaan-kepercayaan yang menyesatkan. Dengan menjauhi pembunuhan tanpa hak akan bersihlah dirinya dari perbuatan zalim dan bersihlah masyarakat dari kekacauan dan hurn hara dan dipeliharalah hak setiap warga masyarakat dengan baik sehingga masyarakat benar-benar dapat menikmati keamanan dan ketenteraman. Dan dengan memelihara dirinya dari perbuatan zina akan bersihlah dirinya dari kekotoran dan bersih pula masyarakat dari keonaran dan kekacauan nasab yang menimbulkan berbagai kesulitan dan ketidak stabilan. Sehubungan dengan ini Nabi saw bersabda: "Berkata Ibnu Mas'ud bahwa aku bertanya kepada Rasulullah saw: Dosa apakah yang paling besar? Rasulullah menjawab: "Dosa mempersekutukan Allah dengan selain-Nya". Aku bertanya pula: "Dosa apakah lagi?" Rasulullah menjawab: "Dosa membunuh anakmu karena takut (miskin) karena dia akan makan bersamamu". Kemudian aka bertanya lagi: Dosa apakah lagi?" Rasulullah menjawab?: "Dosa berzina dengan istri tetanggamu. Maka turunlah ayat ini,  memberitahukan sabda Rasulullah saw itu.
              Meskipun dalam hadis ini disebut "membunuh anak sendiri dan berzina dengan istri tetangga" tetapi yang dimaksud ialah membunuh siapa saja tanpa hak dan berzina dengan siapa saja sesuai dengan ayat 63 ini. Kemudian Allah mengancam orang-orang yang melakukan perbuatan dosa itu dengan ancaman yang amat keras, yaitu neraka di hari kiamat sebagai balasan atas semua dosa yang telah mereka perbuat di dunia. Bahkan Allah akan melipat gandakan azab bagi mereka karena dosa besar yang mereka lalukan itu. Mereka akan dilemparkan ke neraka dan akan tetap di neraka itu menerima siksaan penghinaan yang sangat menusuk perasaan mereka. Jadi di neraka itu mereka bukan saja menderita siksaan jasmani dengan dibakar tubuh mereka dan berbagai macam siksaan lainnya seperti minuman yang sangat panas membakar kerongkongan dan usus mereka tetapi menderita pula siksaan batin, siksaan rohani. karena selalu mendapat penghinaan dan selalu menyesal atas kesalahan mereka se waktu di dunia dahulu. Kemudian Allah SWT juga memberitahukan bahwa zina adalah seburuk buruk jalan, karena merupakan jalan kebinasaan, kehancuran dan kehinaan di dunia, siksaan dan azab di akhirat.

7.      Q.S Al Furqaan (25) ayat 72-77

Ø  Q.S Al Furqaan (25) ayat 72
šúïÏ%©!$#ur Ÿw šcrßygô±o ur9$# #sŒÎ)ur (#rsD Èqøó¯=9$$Î/ (#rsD $YB#tÅ2  
“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka berteny dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (Q.S. Al Furqaan : 72).

            Pada ayat ini Allah menerangkan lagi diantara sifat hamba Allah yang Maha Pengasih, yaitu sifat ketujuh yaitu orang-orang yang tidak mau dan tidak pernah melakukan sumpah palsu dan apabila mereka lewat di hadapan orang-orang yang suka beromongkosong dan mengucapkan kata-kata yang tidak karuan dan tidak ada faedahnya sama sekali, mereka berlalu saja tanpa ikut bergabung dengan mereka, karena mereka menyadari bahwa dia seorang mukmin tidak layak melayani orang-orang yang menyia-nyiakan waktunya yang sangat berharga dengan omong kosong itu.
            Bersumpah palsu sangat dilarang dalam agama Islam, karena di dalam bersumpah itu seseorang telah berbuat dusti tidak menyatakan hakikat yang sebenarnya.Sebagai seorang mukmin dia harus berdiri di pihak yang benar dan harus merasa bertanggung jawab untuk menegakkan keadilan dan meberantas kelaliman. Allah juga berfirman pada surat Al Qasas ayat 55 yang artinya: “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”. (Q.S Al Qasas: 55)

Ø  Q.S Al Furqaan ayat 73
šúïÏ%©!$#ur #sŒÎ) (#rãÅe2èŒ ÏM»tƒ$t«Î/ óOÎgÎn/u óOs9 (#rÏƒs $ygøŠn=tæ $tJß¹ $ZR$uŠôJããur  
”Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.” (Q.S. Al Furqaan: 73).
            Pada ayat ini Allah menerangkan lagi sifat hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih yang kedelapan yaitu mereka dapat menanggapi peringatan yang diberikan Allah bila mereka mendengar peringatan itu. Hati mereka selalu terbuka untuk menerima nasihat dan pelajaran, pikiran merekapun selalu merenungkan ayat-ayat Allah untuk dipahami dan diamalkan, sehingga bertambahlah keimanan dan keyakinan mereka bahwa ajaran-ajaran yang diberikan Allah kepada mereka benar-benar ajaran yang tinggi nilai dan mutunya, ajaran yang benar yang tidak dapat dibantah lagi. Dengan demikian apabila mereka sangat fanatik kepada ajaran itu, tidaklah mengherankan karena mereka sangat meyakini kebaikan ajaran itu.Amatlah jauh perbedaan antara mereka dengan kaum musyrikin yang fanatic pula kepada sembahan-sembahan mereka.Tetapi fanatik mereka itu adalah fanatik mereka itu adalah fanatik buta karena mereka tidak mau menerima kebenaran walaupun telah jelas dan nyata sekali bahwa akidah yang mereka anut itu adalah salah, bertentangan dengan akal yang sehat. Bagaimanapun kuat dan jelasnya alasan-alasan yang dikemukakan kepada mereka tentang ketidak benaran paham yang mereka anut mereka tidak akan mau menerimanya karena hati mereka telah tertutup dan mata mereka telah buta untuk memikirkan mana yang benar dan mana yang salah.
            Jadi, orang yang termasuk katergori orang beriman yang mendapat gelar ‘ibaadurrahman itu adalah orang yang senantiasa menerima nasehat-nasehat yang baik yang diberikan oleh orang lain, orang yang senantiasa mendapatkan pengajaran dan pelajaran dari orang-orang yang memberikan pelajaran yang baik.Termasuk di dalam hal ini adalah orang yang senang mencari ilmu adalah orang yang senang menerima nasehat.

Ø  Q.S Al Furqaan ayat 74
tûïÏ%©!$#ur šcqä9qà)tƒ $oY­/u ó=yd $oYs9 ô`ÏB $uZÅ_ºurør& $oYÏG»­ƒÍhèŒur no§è% &úãüôãr& $oYù=yèô_$#ur šúüÉ)­FßJù=Ï9 $·B$tBÎ)  
“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S Al Furqaan: 74).
            Sifat kesembilan yang disebutkan dalam ayat ini yaitu : Diantara sifat-sifat mereka ialah mereka selalu bermunajat dan memohon kepada Tuhan agar Dia menganugerahkan kepada mereka keturunan yang baik-baik sehingga istri dan anak-anaknya itu benar-benar menyenangkan hati dan menyejukkan perasaan mereka karena keluarga mereka sendiri terdiri dari orang-orang yang saleh dan bertakwa kepada Tuhan. Dengan demikian akan bertambah banyaklah di muka bumi ini hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: Disamping itu mereka bermunajat kepada Tuhan agar keturunannya (anak cucunya) disamping menjadi orang yang bertakwa seluruhnya mereka hendaknya menjadi penyeru manusia kepada takwa menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. Ini adalah cahaya iman yang telah memenuhi hati mereka dan meneranginya dengan petunjuk dan hidayah sehingga mereka ingin sekali supaya orang-orang yang bertakwa mendapat petunjuk kian lama bertambah juga.
            Keinginan mereka agar anak cucu dan keturunan mereka menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa bukanlah sekali-kali karena ingin kedudukan yang tinggi atau kekuasaan yang mutlak, tetapi mereka semata-mata karena keinginan yang tulus ikhlas agar penduduk dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang beriman dan bertakwa dan agar anak cucu mereka melanjutkan perjuangannya menegakkan keadilan dan kebenaran, karena dengan demikian mereka sendiri walaupun telah mati tetapi mereka tetap menerima pahala perjuangan anak cucu mereka sesuai dengan sabda Rasulullah saw yang artinya: “Apabila seorang anak Adam telah mati, maka putuslah segala pahala amalnya kecuali dari tiga macam: sedekah yang dapat dimanfaatkan orang, ilmu pengetahuan yang tinggalkannya yang dapat diambil manfaatnya sesudah matinya, anak yang saleh yang selalu mendoakannya”. (H.R Muslim dari Abu Hurairah).Demikianlah Sembilan sifat yang dipunyai oleh hamba-hamba Allah Yang Maha penyayang. Bila sifat-sifat itu telah dimiliki oleh seseorang maka berhaklah mereka mendapat julukan demikian itu, dan orang-orang yang mendapat julukan pasti akan disayang Allah dan di akhirat nanti akan mendapat karunia dan rahmat yang sangat mulia dan besar.

Ø  Q.S Al Furqaan ayat 75-76
šÍ´¯»s9'ré& šc÷rtøgä spsùöäóø9$# $yJÎ/ (#rçŽy9|¹ šcöq¤)n=ãƒur $ygŠÏù Zp¨ŠÏtrB $¸J»n=yur ÇÐÎÈ   šúïÏ$Î#»yz $ygŠÏù 4 ôMoYÝ¡ym #vs)tGó¡ãB $YB$s)ãBur ÇÐÏÈ 
“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.Mereka kekal di dalamnya.Syurga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.” (Q.S Al Furqaan: 75-76).
            Pada ayat ini Allah menerangkan ganjaran dan karunia yang akan diberikan-Nya kepada “hamba-hamba Allah Yang Maha Pengayang itu”, hamba-hamba Allah yang mempunyai sifat-sifat yang sempurna dan akhlak budi pekerti yang mulia berkat kesabaran dan keuletan mereka dalam mematuhi segala perintah Allah, berkat kesabaran dan keuletan mereka melawan hawa nafsu dan menjauhi segala larangan-Nya. Mereka ditempatkan di tempat yang paling mulia dan tinggi dalam surga. Mereka disambut oleh para para malaikat dengan salam sebagai penghormatan kepada mereka. Hal ini tergambar dalam firman Allah dalam surat Ar Ra’d ayat 23-24 yang artinya: “Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamaun’alaikum bima sabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu? (Q.S. Ar Ra’d: 23-24).Kemudian Allah menerangkan bahwa karunia dan nikmat yang mereka terima itu adalah karunia dan nikmat yang kekal abadi yang tiada putus-putusnya.Tidak diragukan lagi bahwa tempat itu adalah sebaik-baik tempat menetap dan sebaik-baik tempat kediaman.

Ø  Q.S Al Furqaan ayat 77
ö@è% $tB (#àst7÷ètƒ ö/ä3Î/ În1u Ÿwöqs9 öNà2ät!$tãߊ ( ôs)sù óOçFö/¤x. t$öq|¡sù ãbqà6tƒ $JB#tÏ9
“Katakanlah (kepada orang-prang musyik): ‘Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya?Karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu).”(Q.S. Al Furqaan: 77).

Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar mengatakan kepada orang-orang kafir yang tidak mau beriman dan selalu bersifat sombong dan takabur terhadap kaum Muslimin bahwa mereka karena kekafiran, kesombongan dan keangkuhan mereka, Allah tidak akan memperdulikan mereka sedikitpun karena mereka telah mempersekutukan-Nya dan mendustakan Rasul-Nya. Maka mereka sekali-kali tidak akan mendapat karunia yang diberikan kepada orang-orang yang beriman bahkan mereka akan mendapat balasan yang setimpal yaitu neraka jahanam. Mereka akan dilemparkan ke dalamnya dan mendapat siksaan yang tidak dapat digambarkan bagaimana hebat dan pedihnya dan akan kekal abadi pula dalam neraka itu.



BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
1.      Dalam Q.S Al-A’raf ayat 199 secara umum menghimbau umat islam untuk salin memaafkan dan saling menginngatkan dalam berbuat amar ma’ruf dan nahi munkar.
2.      Dalam Q.S Al-A’raf ayat 157 secara umum menjelaskan bahwa Rasulullah adalah rasul yang ummi, dan bukti kerasullannya telah tertera di dalam kitab sebelumnya (Taurat dan Injil), dan sekali lagi menghimbau umat islam agar senantiasa beramar ma’ruf dan nahi munkar, serta mengikuti syariat Islam agar menghalalkan yang baik, dan mengharamkan yang buruk.
3.      Pada Surah Al-Furqan ayat 63-77 menggambarkan, bahwa ada sifat-sifat  yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Menurut Allah, orang-orang beriman yang memiliki sifat-sifat tersebut memperoleh gelar ibadurrahman, yaitu hamba-hamba Allah yang akan mendapatkan rahmat yang paling besar di sisi Allah SWT. Rahmat-rahmat Allah yang paling besar tersebut yaitu kedudukan atau derajat-derajat yang paling tinggi yang diperoleh oleh mereka di surga kelak.
4.      Sifat-sifat yang dikemukakan di sini adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman setelah menunaikan berbagai kewajiban yang diwajibkan kepada mereka. Seperti yang termaktub pada Surah al-Furqaan ayat 63-77, sifat-sifat yang dimaksud tersebut adalah (tawadhu’, selalu mengucapkan ucapan-ucapan yang baik (al-kalamuth thayyib), tahajjud, merasa takut akan siksa Allah SWT, sederhana (moderat) di dalam berinfaq, menjauhkan diri dari sifat syirik, menjauhkan diri dari melakukan perbuatan membunuh yang diharamkan oleh Allah SWT, menjauhkan diri dari perbuatan berzina, menjauhkan diri dari bersaksi palsu, senang menerima nasehat yang baik, senantiasa berdo’a dan bermunajjat kepada Allah).

B.     Saran
Hendaknya dalam perihal perilaku seorang muslim dengan muslim lainnya saling memaafkan, amar ma’ruf nahi munkar, dan senantiasa memelihara perilaku yang luhur seperti yan tertera pada ayat Al-Qur’an pada makalah  mengenai pendidikan sosial ini.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Mirgani, Al-Imam Muhammad ‘Usman Abdullah.2009. Tajut Tafasir MAHKOTA TAFSIR JILID 1. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Shihab, Quraish.2002.Tafsir Al Mishbah volume 9. Jakarta: Lentera Hati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LAPORAN KKL ( KULIAH KERJA LAPANGAN ) FAI UNIAT (Universitas Islam Attahiriyah)

https://drive.google.com/folderview?id=1QsYXAAC12ZFAC3ZtvdvvHF_AnsawW8n5